oleh : Hifni hfd
I. Pengantar :
Sejak ka
pan masakan minang itu menjadi kekayaan budaya kuliner Minangkabau ? Bagaiman asal usulnya ? Siapa yang pertama membuatnya? Bila pertanyaan ini kita ajukan kepada orang tua-tua kita bahkan seorang ahli masak sekalipun, sebaiknya, simpan sajalah pertanyaan-pertanyaan itu, sebab kemungkinan besar tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti. Seandainyapun kita bertanya pada para ahli kuliner dikancah Nasional, seperti : Tuty Soenardi, Bondan Winarno, dan ibu Sisca (maklum tidak ada yang berasal dari etnis Minang), pasti mereka tidak tahu tidak tahu asal usul masakan minang yang bercita rasa tinggi itu. Bagaimana cara menelusuri sedemikian banyak jumlah makanan khas Minang ini. Namun, hasilnya nihil.
“Saya bertanya kepada induak – induak yang tinggal di daerah Padang Pariaman hingga Pesisir Selatan. Di Bukit Tinggi saya juga bertanya kepada amai-amai yang berjualan masakan di Los Lambuang. Merekapun tak ada yang bisa menjawab.
Namun mengingat menelusuri riwayat masakan Minang ini adalah penting, karena ia adalah kekayaan budaya kuliner etnis Minangkabau, maka selayaknya kita mencoba menelusuri dari hal- hal sebagai berikut ;
* asal usul nenek moyang minangkabau,
* karakter masyarakat primitive
* pengaruh asing pada alam Minangkabau
II. ASAL USUL MINANGKABAU DAN PENGARUH ASING DI MINANGKABAU :
Dalam sejarah Indonesia, maka Suku Minangkabau merupakan bagian dari kelompok Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari belahan daratan Asia kurang lebih 500 tahun sebelum masehi. Diperkirakan alur penyebaran nenek moyang dari kelompok melayu muda ini, bermula dari daratan Asia, menuju Thailand , kemudian masuk ke Malaysia Barat dan terus masuk menuju tempat-tempat di Nusantara. Nenek moyang suku Minangkabau. Dari Malaysia barat kemudian, bangsa ini masuk kearah Timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar hingga tiba di dataran tinggi yang disebut negeri Periangan, dilereng Gunung Merapi. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Tambo, sejalan dengan perkembangan penduduk dan kelompok masyarakat ketika itu, nenek moyang etnis Minangkabau mencari tempat pemukinan penduduk dan menemukan tiga lokasi untuk perluasan yang disebut Luhak nan Tigo (darek). Dari Luhak nan Tigo inilah suku Minang menyebar ke seluruh wilayah yang disebut alam Minangkabau.
Persentuhan bangsa yang telah mendiami alam minangkabau dengan bangsa yang berasal dari jazirah Arab, Persia dan India, telah berlangsung jauh sebelum munculnya agama islam. Wilayah minangkabau banyak dikunjungi, karena ketersedian hasil alam berupa ; rempah-rempah khususnya pala dan merica, kapur barus, emas, menyebabkan mereka ingin menguasai wilayah ini. Tidak kurang pula seperti ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Mojopahit, yang juga bermaksud untuk menguasai sumber-sumber hasil alam di wilayah ini.
Adat dan budaya semakin berkembang, selain berasal dari Luhak nan Tigo, kemudian menyebar kewilayah pesisir pantai pulau Sumatera. Wilayah rantau disebut Luhak rantau (luhak nan bungsu).
Kedatangan bangsa Arab, India, Persia terjadi ketika pantai barat Sumatera menjadi pelabuhan alternatif perdagangan selain Malaka. Demikian pula pesisir pantai jatuh ke tangan Portugis, ketika perairan Malaka dikuasai oleh bangsa ini. Interaksi masyarakat pesisir pantai, banyak terjadi dengan kedatangan pedagang pedagang ini.
Interaksi social, yaitu hubungan social yang dinamis, baik hubungan antar individu, antar individu dan masyarakat dan antar masyarakat sendiri. Pengaruh timbal balik diperbagai segi kehidupan manusia, melahirkan sesuatu hal yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidup manusia, termasuk dibidang kuliner.
Secara antropologi, setiap masakan menyebar seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada lokalisasi, proses industri yang disesuaikan dengan adapt dan budaya setempat.
III. Kekayaan budaya kuliner Minangkabau :
Tak terhingga kalimat untuk menggambarkan kekayaan yang dimiliki oleh alam Minangkabau. Memiliki adat dan budaya yang sedemikian kuat. Didukung oleh alam yang indah dan kaya raya dengan hasil alamnya, yang mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup manusianya. Masyarakatnyapun dinamis, namun telah memiliki pedoman hidup yang bersandar pada falsafah alam, dalam pola hubungan serasi antara manusia dan individu dengan alamnya, sehingg alam terkembang jadi guru.
Dibidang kuliner, masyarakat semulanya membutuhkan makanan untuk kekuatan tubuh, yang diperoleh dari bahan makanan yang mengandung karbo hidrat. Mereka menanam padi. Mereka memasak nasi. Kemudian mereka melengkapi dengan lauk pauk yang diperoleh dari binatang ternak yang dipelihara dan hidup di alam.
Resep dasar, yang dapat menyeimbangkan antara cita dan rasa masakan, diracik dengan menggunakan bumbu-bumbu yang mengandung khasiat tertentu.
Continue reading ‘Riwayat Masakan Minang’








Recent Comments