Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek (liat)
. Pada suatu pameran di Jakarta, aku menemukan sebuah stand yang menampilkan produk batik asal Minang. Batik..?? apa ini jiplakan dari batik Jawa. Pertanyaan inilah kusampaikan pada petugas stand itu. Petugas itu bercerita bila ingin mengenal lebih jauh tentang batik asal Sumbar silahkan dating ke alamat home industrinya di daerah Sawasan – Kota Padang.
Kealamat rumah yang diceritakan oleh petugas itu aku dating menemui Ibu Wirda Hanim di rumahnya dibilangan Sawahan. Dinilah aku menjumpai pengusaha wanita itu, yang berusia lebih dari setengah abad. Aku mengamati segala aktivitasnya dan menanyakan beberapa kepadanya.
Ibu Wirda Hanim, kemudian bercerita, sebagai berikut :
Suatu hari pada 1993, Wirda Hanim yang sudah lama tinggal di Kota Padang mengikuti pesta adat di kampung asalnya, Kenagarian Sumani, Kabupaten Tanah Datar. Ia melihat beberapa pria dan wanita memakai selendang batik tanah liat yang dalam bahasa Minang disebut “batik tanah liek”. Meski selendang tersebut sudah usang dan robek di sana-sini karena lapuk, namun mereka masih memakainya sebagai bagian dari pakaian adat tradisional Minangkabau. Wirda melihat, mereka memakainya dengan sangat hati-hati, seperti menjaganya agar tidak robek. Setelah mencari informasi, barulah ia ketahui bahwa mereka melakukan hal seperti itu karena batik tanah liek sudah langka, sebab tak lagi dibuat orang sejak sekitar 70 tahun lalu. Continue reading ‘Wirda Hanim’








Recent Comments