Ditulis Oleh : Hifni Hfd
Setelah mengukur ego dengan melawan dunia orang (harga diri) maka individu diharuskan menjaga keseimbangan yang harmonis dengan memakai ukuran, yang disebut rasa dan periksa. Artinya rasa berdasarkan ukuran perasaan yang sama, sedangkan periksa adalah ukuran pemeriksaan yang senilai.
Rasa dapat diukur ketika rasa sakit dan rasa senang. Rasa sakit dapat kita ukur apabila kita kita sakit dicubit – maka orang lain pun akan sakit. Oleh karena itu janganlah menyakiti orang lain. Pepatah menyebutkan soal ini: sakit bagi kita sakit pula bagi orang lain. Senang dapat diukur dengan pepatah : enak bagi, kita suka bagi orang.
<a
Periksa akan memakai nilai : alur dan patut. Istilah sekarang – rasa dan periksa ini, adalah sesuai dengan sistem dan prosedur !. Bila sepanjang memenuhi sistem dan prosedur, maka pertimbangkan pula rasa kepantasan (kepatutan). Kepatutan ini dipertimbakan lagi dengan hati nurani.
Dalam sistem pemilihan pejabat negara menggunakan Uji kelayakan dan kepatutan (Fit and Proper test) tidak lain untuk menerapkan rasa dan periksa seorang pemimpin , sehingga ia dianggap mempunyai kemampuan bila telah melalui pengujian ini.
Bila seandainya raso jo pareso itu, tidak mungkin dilaksanakan, maka dapat memakai cara lain. Pepatah mengungkapkan , kita mendapat, orang tidak kehilangan“. Artinya, kita dapat berbuat sesuatu yang kita ingini, tetapi orang lain tidak merasa dirugikan. Tindakan ini bersifat pasif dibanding „Rasa dan Periksa” Apakah itu ? ialah „tenggang rasa”








0 Responses to “Rasa dan Periksa”