16
Jan
09

Korelasi Antara Motif Hias Songket dan Ukiran Kayu di Propinsi Sumatera Barat


MINARSIH, NIM. 27094009 – Mahasiswa Fakultas Senirupa ITB program Magister Seni Rupa Angkatan-1994

Studi Kasus Daerah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang” Songket dan Ukiran merupakan dua produk terkemuka yang direkayasa secara tradisional (turun temurun) oleh seniman pekria Sumatera Barat. Tidak ditemukan bukti tertulis tentang awal dimulainya kegiatan menyongket. Yang pasti, bahwa proses menyongket identik dengan bertenun. Dimulainya kegiatan bertenun hampir bersamaan dengan awal keberadaan manusia, telah ada semenjak manusia mengenal peradaban menutup bagian tubuh. Artinya, kegiatan ini bertujuan awal lebih kepada fungsi terpakai; yaitu melindungi tubuhnya dan fungsi keindahan berada pada posisi sampingan. Berbagai pengaruh luar yang mamsuk ke wilayah Sumatera Barat (terutama dilihat pada tenunan, serta ditambah dengan budaya tradisi setempat telah berakulturasi membentuk budaya tradisional yang dikenal dengan istilah songket (menyongket).


Latar-terbentuknya jenis budaya tradisional ukiran kayu (pada dinding rumah gadang) tidak jauh berbeda dengan proses menyongket yang telah dibicarakan di atas. Kalau pada tenunan awal pembuatannya untuk maksud melindungi tubuh dan kemudian beralih fungsi sebagai media yang bernilai estetis, pada ukiran fungsi estetisnya adalah menghiasi rumah.


Maksud dibuatnya sebuah hiasan tidak saja sekedar memperindah penampilan benda yang dihias. Namun, hiasanpun mampu dijadikan sebagai media komunikasi; yang menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada pengamat atau masyarakat di sekitarnya. Melalui motif hias yang ada pada songket dan ukiran kayu suatu rumah gadang dapat diketahui status keluarga pemilik/pemakai kedua jenis barang tersebut; bahwa pada dasarnya songket dan ukiran hanya dimiliki oleh pihak-pihak tertentu saja dan bukan untuk semarangan pakai. Jadi, fungsi dari kedua jenis produk ini bersifat sakral. Namun, akhir-akhir ini peranan benda yang disebutkan di atas telah bergeser kepada fungsi yang bersifat profan, yang bisa dimiliki oleh segala lapisan masyarakat dimana ia mampu untuk memperolehnya. Perkembangan fungsi ini dapat dilihat dari munculnya berbagai bentuk songket dan ukiran di Minangkabau selain dari pada struktur songket pada pakaian manusia dan struktur ukiran pada eksterior/interior rumah gadang.


Daerah-daerah pada awalnya dikenal sebagai pusat kerajinan songket dan ukiran adalah Pitalah, Pandai Sikek dan Sungayang untuk wilayah luhak (kabupaten) Tanah Datar; Koto Gadang untuk luhak Agam; Koto nan Ampek dan Kubang untuk wilayah luhak 50 Koto. Daerah yang sampai saat ini dinyatakan produktif dalam kegiatan menyongket serta sekaligus dijadikan sebagai daerah pemangku budaya tradisional ini adalah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang. Ketiga daerah di atas merupakan wilayan obyek disamping daerah lain sebagai pembanding perolehan data penelitian.
Beberapa hasil penelitian telah memberikan gambaran mengenai motif-motif yang ada dalam desain songket dan ukiran di suatu daerah. Gambaran yang dimaksudkan menunjukkan terdapatnya kesamaan dalam beberapa nama motif hias. Penelitian ini merupakan permasalahan yang memerlukan kajian lanjut dengan rumusan permasalahan tentang adanya hubungan antara motif hias songket dan ukiran, dan adanya faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan maupun perbedaan. Sejarah keberadaan manusia dengan peradaban akan hal kebutuhan untuk melindungi diri dari serangan/gangguan alam dan lingkungan menjadi titik tolak teori yang melahirkan hipotesa; bahwa sebahagian motif hias songket telah mempengaruhi ukiran.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif-kuantitatif yang mendeskripsikan (menggambarkan) kenyataan yang ada dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan hubungan antara motif hias songket dan motif hias ukiran rumah gadang di Sumatera Barat. Permasalahan dibatasi pada perbedaan dan kesamaan poin penamaan, struktur motif menurut penempatan dan perulangan posisi dan pola motif. Untuk melihat perkembangan dan pembuktian hipotesa, diperlukan bandingan antara motif hias produk lama dan baru di setiap jororng dan daerah penelitian.


Perkembangan budaya Minangkabau tidak terlepas dari sejarah masuknya pengaruh-pengaruh budaya luar yang telah ikut mempengaruhi adat dan seni kreasi para seniman pekria Minangkabau. Penyebaran, kedatangan dan kolonialisme bangsa lain memperlihatkan masing-masing pengaruhnya melalui wujud ornamentik seperti jenis tumbuhan, hewan, manusia dan geometris. Masuknya pengaruh Islam di alam ini adalah sangat dominan dan banyak sekali dijumpai pada motif hias tekstil; dengan bentuk motif yang bersifat geometris atau dominasi bentuk tanaman. Manusia dan binatang sebagai sumber obyek motif diolah menjadi sandi-sandi yang abstrak.


Dua kemungkinan fungsi motif hias songket dan ukiran adalah menghias /mempercantik menjadi indah dan memberikan/mengkomunikasikan makna atau simbol (social expression).


Asas perancangan atau pembuatan songket dan rumah gadang, terutama untuk motif hiasnya didasari oleh perpaduan estetika Islam dan Minangkabau yang ditunjang oleh beberapa unsur seperti ajaran dan pandangan hidup “alam takambang jadi guru”, pola pikir yang dirumuskan dalam “tigo tungku sajarangan”, prinsip adat “adat basandi syara, syarak basandi Kitabullah”. Seniman pekria mengambil alam sebagai sumber gagasan; diwujudkan dalam bentuk sandi visual sebagai pengejawantahan dari representasi objek, representasi abstrak dan simbol nonrepresentasi abstrak. Pengejawantahan bentuk didasari oleh adat dan agama. Hal ini terlihat dari usaha menghindari meniru bentuk bernyawa ciptaan Tuhan; yang bertentangan dengan ajaran Islam dan perbedaan adat di setiap daerah; yang memperlihatkan perbedaan karakter produk ukiran maupun songket.


Pola pikir tiga tungku sajarangan disalurkan melalui prinsip pengaturan alua dan patuik (penempatan dan penonjolan), raso jo pareso (keserasian dan keseimbangan) dan barih balabeh (kesatuan ide, garis dan bentuk). Pola pikir seperti ini terlihat jelas dalam proses mengukir dan menyongket. Pengaturan pola motif ukiran kayu disesuaikan dengan struktur dan ukuran bangunan (susunan kayu), sedangkan pengaturan pada songket adalah berdasarkan struktur benang dan ukuran bidang dasar (jumlah benang lungsi dan pakan). Dengan terlebih dahulu mengetahui ukuran panjang, lebar dan posisi susunan bahan; maka diaturlah pengulangan pola motifnya. Pengulangan pola terjadi karena pola pikir matematis yang terjadi akibat adanya ukuran bidang obyek. Struktur bangunan identik dengan struktur pakaian, tampak pula pada struktur motif hias yang berposisi horizontal-vertikal dan diagonal.


Songket dan Ukiran merupakan dua produk terkemuka yang direkayasa secara tradisional (turun temurun) oleh seniman pekria Sumatera Barat. Tidak ditemukan bukti tertulis tentang awal dimulainya kegiatan menyongket. Yang pasti, bahwa proses menyongket identik dengan bertenun. Dimulainya kegiatan bertenun hampir bersamaan dengan awal keberadaan manusia, telah ada semenjak manusia mengenal peradaban menutup bagian tubuh. Artinya, kegiatan ini bertujuan awal lebih kepada fungsi terpakai; yaitu melindungi tubuhnya dan fungsi keindahan berada pada posisi sampingan. Berbagai pengaruh luar yang mamsuk ke wilayah Sumatera Barat (terutama dilihat pada tenunan, serta ditambah dengan budaya tradisi setempat telah berakulturasi membentuk budaya tradisional yang dikenal dengan istilah songket (menyongket).Latar-terbentuknya jenis budaya tradisional ukiran kayu (pada dinding rumah gadang) tidak jauh berbeda dengan proses menyongket yang telah dibicarakan di atas. Kalau pada tenunan awal pembuatannya untuk maksud melindungi tubuh dan kemudian beralih fungsi sebagai media yang bernilai estetis, pada ukiran fungsi estetisnya adalah menghiasi rumah.Maksud dibuatnya sebuah hiasan tidak saja sekedar memperindah penampilan benda yang dihias. Namun, hiasanpun mampu dijadikan sebagai media komunikasi; yang menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada pengamat atau masyarakat di sekitarnya. Melalui motif hias yang ada pada songket dan ukiran kayu suatu rumah gadang dapat diketahui status keluarga pemilik/pemakai kedua jenis barang tersebut; bahwa pada dasarnya songket dan ukiran hanya dimiliki oleh pihak-pihak tertentu saja dan bukan untuk semarangan pakai. Jadi, fungsi dari kedua jenis produk ini bersifat sakral. Namun, akhir-akhir ini peranan benda yang disebutkan di atas telah bergeser kepada fungsi yang bersifat profan, yang bisa dimiliki oleh segala lapisan masyarakat dimana ia mampu untuk memperolehnya. Perkembangan fungsi ini dapat dilihat dari munculnya berbagai bentuk songket dan ukiran di Minangkabau selain dari pada struktur songket pada pakaian manusia dan struktur ukiran pada eksterior/interior rumah gadang.

Daerah-daerah pada awalnya dikenal sebagai pusat kerajinan songket dan ukiran adalah Pitalah, Pandai Sikek dan Sungayang untuk wilayah luhak (kabupaten) Tanah Datar; Koto Gadang untuk luhak Agam; Koto nan Ampek dan Kubang untuk wilayah luhak 50 Koto. Daerah yang sampai saat ini dinyatakan produktif dalam kegiatan menyongket serta sekaligus dijadikan sebagai daerah pemangku budaya tradisional ini adalah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang. Ketiga daerah di atas merupakan wilayan obyek disamping daerah lain sebagai pembanding perolehan data penelitian.Beberapa hasil penelitian telah memberikan gambaran mengenai motif-motif yang ada dalam desain songket dan ukiran di suatu daerah. Gambaran yang dimaksudkan menunjukkan terdapatnya kesamaan dalam beberapa nama motif hias.

Penelitian ini merupakan permasalahan yang memerlukan kajian lanjut dengan rumusan permasalahan tentang adanya hubungan antara motif hias songket dan ukiran, dan adanya faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan maupun perbedaan. Sejarah keberadaan manusia dengan peradaban akan hal kebutuhan untuk melindungi diri dari serangan/gangguan alam dan lingkungan menjadi titik tolak teori yang melahirkan hipotesa; bahwa sebahagian motif hias songket telah mempengaruhi ukiran.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif-kuantitatif yang mendeskripsikan (menggambarkan) kenyataan yang ada dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan hubungan antara motif hias songket dan motif hias ukiran rumah gadang di Sumatera Barat. Permasalahan dibatasi pada perbedaan dan kesamaan poin penamaan, struktur motif menurut penempatan dan perulangan posisi dan pola motif.

Untuk melihat perkembangan dan pembuktian hipotesa, diperlukan bandingan antara motif hias produk lama dan baru di setiap jororng dan daerah penelitian.Perkembangan budaya Minangkabau tidak terlepas dari sejarah masuknya pengaruh-pengaruh budaya luar yang telah ikut mempengaruhi adat dan seni kreasi para seniman pekria Minangkabau.

Penyebaran, kedatangan dan kolonialisme bangsa lain memperlihatkan masing-masing pengaruhnya melalui wujud ornamentik seperti jenis tumbuhan, hewan, manusia dan geometris. Masuknya pengaruh Islam di alam ini adalah sangat dominan dan banyak sekali dijumpai pada motif hias tekstil; dengan bentuk motif yang bersifat geometris atau dominasi bentuk tanaman. Manusia dan binatang sebagai sumber obyek motif diolah menjadi sandi-sandi yang abstrak.

Dua kemungkinan fungsi motif hias songket dan ukiran adalah menghias /mempercantik menjadi indah dan memberikan/mengkomunikasikan makna atau simbol (social expression). Asas perancangan atau pembuatan songket dan rumah gadang, terutama untuk motif hiasnya didasari oleh perpaduan estetika Islam dan Minangkabau yang ditunjang oleh beberapa unsur seperti ajaran dan pandangan hidup “”, pola pikir yang dirumuskan dalam “”, prinsip adat “, Seniman pekria mengambil alam sebagai sumber gagasan; diwujudkan dalam bentuk sandi visual sebagai pengejawantahan dari representasi objek, representasi abstrak dan simbol nonrepresentasi abstrak. Pengejawantahan bentuk didasari oleh adat dan agama. Hal ini terlihat dari usaha menghindari meniru bentuk bernyawa ciptaan Tuhan; yang bertentangan dengan ajaran Islam dan perbedaan adat di setiap daerah; yang memperlihatkan perbedaan karakter produk ukiran maupun songket.Pola pikir tiga tungku sajarangan disalurkan melalui prinsip pengaturan (penempatan dan penonjolan), (keserasian dan keseimbangan) (kesatuan ide, garis dan bentuk).

Pola pikir seperti ini terlihat jelas dalam proses mengukir dan menyongket. Pengaturan pola motif ukiran kayu disesuaikan dengan struktur dan ukuran bangunan (susunan kayu), sedangkan pengaturan pada songket adalah berdasarkan struktur benang dan ukuran bidang dasar (jumlah benang lungsi dan pakan). Dengan terlebih dahulu mengetahui ukuran panjang, lebar dan posisi susunan bahan; maka diaturlah pengulangan pola motifnya. Pengulangan pola terjadi karena pola pikir matematis yang terjadi akibat adanya ukuran bidang obyek. Struktur bangunan identik dengan struktur pakaian, tampak pula pada struktur motif hias yang berposisi horizontal-vertikal dan diagonal.


About these ads

4 Responses to “Korelasi Antara Motif Hias Songket dan Ukiran Kayu di Propinsi Sumatera Barat”


  1. 1 yusinos
    Juni 18, 2009 pukul 4:04 am

    I need shop or store address/contact who make wood carving in jakarta area

  2. 2 aan
    Agustus 9, 2009 pukul 4:35 am

    klo bicara yg jelas dong

  3. Februari 8, 2010 pukul 9:30 pm

    maaf dit boleh minta.. mentahan buat motif asli minang.. alur ataupun gambar2nya
    seperti motif2


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 517,289 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: