<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: ` seputar Minangkabau kuno`</title>
	<atom:link href="http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/</link>
	<description>Bundo Kanduang Minangkabau</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Dec 2009 07:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Sutan Maharajo Dirajo dan Mitos Puti Bidodari dari Sarugo &#171; Paco Paco</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comment-348</link>
		<dc:creator>Sutan Maharajo Dirajo dan Mitos Puti Bidodari dari Sarugo &#171; Paco Paco</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 10:40:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792#comment-348</guid>
		<description>[...] http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/ [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] <a href="http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/" rel="nofollow">http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Migrasi Awal dari Daratan Asia (Tanah Basa) &#171; Paco Paco</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comment-347</link>
		<dc:creator>Migrasi Awal dari Daratan Asia (Tanah Basa) &#171; Paco Paco</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 10:34:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792#comment-347</guid>
		<description>[...] http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/ [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] <a href="http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/" rel="nofollow">http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rang guci</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comment-341</link>
		<dc:creator>rang guci</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 07:06:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792#comment-341</guid>
		<description>Ada bukti tertulis?
bukti otentik?
harus ada pembuktian kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada bukti tertulis?<br />
bukti otentik?<br />
harus ada pembuktian kan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ~padusi~</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comment-316</link>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 00:09:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792#comment-316</guid>
		<description>Sanak Jodi dan Sanak Sukardiman,

Tulisan ini diambil dari postingan Milist RantauNet. Tidak semua bisa dimasukkan dalam posting blog. 
Dari milist itu kami bersepakat bahwa :
Memang perlu perhatian secara khusus dari sejarawan dan ahli-ahli terkait tentang hal ini. 
Seperti misalnya istilah &quot;Raja Minangkabau&quot; belum pernah ada, sampai Belanda sendiri menamakan hal tersebut. 
Dalam perjanjian penyerahan kedaulatan 1820 itu Belanda (untuk pertama kali) menuliskan &quot;Kerajaan Minangkabau&quot;. 

Namun ketiga Tuanku dari Saruaso itu tidak menempatkan dirinya sebagai &quot;Raja Minangkabau&quot;. 
Tnetu kita dapat memeriksa berbagai catatan tentang hal ini, atau juga bisa jauh ke belakang. 

Kita selayaknya memang menyarankan kepada segala pihak untuk membaca dulu buku &quot;Perang Paderi&quot; karya M. Radjab; karena dari untaian sejarah yang diungkapkan dapat terlihat dengan jelas kedudukan, peran, dan situasi Kerajaan Pagaruyung masa awalnya wabil khusus sebesar apa peran Tuanku Saruaso dalam perlawanannya kepada Belanda.
Buku karangan M. Radjab cukup hati-hati menggambarkan peristiwa itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sanak Jodi dan Sanak Sukardiman,</p>
<p>Tulisan ini diambil dari postingan Milist RantauNet. Tidak semua bisa dimasukkan dalam posting blog.<br />
Dari milist itu kami bersepakat bahwa :<br />
Memang perlu perhatian secara khusus dari sejarawan dan ahli-ahli terkait tentang hal ini.<br />
Seperti misalnya istilah &#8220;Raja Minangkabau&#8221; belum pernah ada, sampai Belanda sendiri menamakan hal tersebut.<br />
Dalam perjanjian penyerahan kedaulatan 1820 itu Belanda (untuk pertama kali) menuliskan &#8220;Kerajaan Minangkabau&#8221;. </p>
<p>Namun ketiga Tuanku dari Saruaso itu tidak menempatkan dirinya sebagai &#8220;Raja Minangkabau&#8221;.<br />
Tnetu kita dapat memeriksa berbagai catatan tentang hal ini, atau juga bisa jauh ke belakang. </p>
<p>Kita selayaknya memang menyarankan kepada segala pihak untuk membaca dulu buku &#8220;Perang Paderi&#8221; karya M. Radjab; karena dari untaian sejarah yang diungkapkan dapat terlihat dengan jelas kedudukan, peran, dan situasi Kerajaan Pagaruyung masa awalnya wabil khusus sebesar apa peran Tuanku Saruaso dalam perlawanannya kepada Belanda.<br />
Buku karangan M. Radjab cukup hati-hati menggambarkan peristiwa itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ir. Sukardiman</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comment-314</link>
		<dc:creator>Ir. Sukardiman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 00:59:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792#comment-314</guid>
		<description>Kelihatannya ada banyak versi yang diungkapkan tentang silsilah kerajaan minangkabau, dari berbagai seminar,tambo, ota di lapau dan sumber sumber lainnya, namun alangkah baiknya Jurusan Sejarah Universitas Andalas atau pemerintah daerah sumatra barat membentuk team ahli untuk meneliti secara komprihensif dan terukur dalam menelaah tentang kerajaan di minangkabau ini, salah satunya kerajaan indropuro di pesisir selatan belum ada yang meneliti secara detail, jangan jangan malah peneliti asing lagi yang akan melakukannya, padahal sejarah indonesiapun ahlinya adalah orang minang seperti taufik ismail dari UI, kenapa untuk minangkabau research tidak ada diteliti seperti halanya sejarah majapahit atau mataram, saya berharap sekali untuk hal ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kelihatannya ada banyak versi yang diungkapkan tentang silsilah kerajaan minangkabau, dari berbagai seminar,tambo, ota di lapau dan sumber sumber lainnya, namun alangkah baiknya Jurusan Sejarah Universitas Andalas atau pemerintah daerah sumatra barat membentuk team ahli untuk meneliti secara komprihensif dan terukur dalam menelaah tentang kerajaan di minangkabau ini, salah satunya kerajaan indropuro di pesisir selatan belum ada yang meneliti secara detail, jangan jangan malah peneliti asing lagi yang akan melakukannya, padahal sejarah indonesiapun ahlinya adalah orang minang seperti taufik ismail dari UI, kenapa untuk minangkabau research tidak ada diteliti seperti halanya sejarah majapahit atau mataram, saya berharap sekali untuk hal ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jodi</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comment-313</link>
		<dc:creator>Jodi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 04:33:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792#comment-313</guid>
		<description>Dalam tulisan diatas  &quot;Silsilah Kerajaan Minangkabau &quot; yang di copykan oleh  &quot;Arman Bahar Piliang Malin Bandaro&quot;  saya cuplik sedikit :

Kerajaan Minangkabau Tua yang belum bernama Minangkabau ini bertahan ratusan tahun sepanjang umur Datuak Maharajo Dirajo yang diyakini sebagai manusia Setengah Dewa yang dianugrahi umur ratusan tahun, setelah beliau mangkat pemerintahan dilanjutkan oleh Datuak Suri Dirajo Penghulu kepercayaannya.

Salah seorang Janda Datuak Maharajo Dirajo yang bergelar Puti Indo Julito dikawini oleh Cati Bilang Pandai orang kepercayaan almarhum yang kemudian memboyong keluarga beserta anak2nya Jatang Sutan Balun, Puti Jamilan, Sutan Sakalap Dunia, Puti Reno Sudah dan Mambang Sutan ke Dusun Tuo Limo Kaum, selanjutnya setelah mereka dewasa Datuak Suri Dirajo bermufakat bersama Cati Bilang Pandai untuk mengangkat :
Sutan Paduko Basa dengan gelar Datuak Katumangguangan dan
Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta 
Sutan Sakalap Dunia dengan gelar Datuak Surimarajo Nan Ba-nego2 

Sementara dari tulisan  &quot;Dua Orang Datuk menurut Sejarah dan Tambo  Oleh : Hifni H. Nizhamul
menuliskan :
Sedangkan Dara Jingga, diperistri oleh seorang kerabat Istana. Dara Jingga kembali ke Darmasyraya dalam keadaan hamil. Di Darmasyraya inilah ia melahirkan anak laki-laki yang kemudian dikenal dengan nama “ ADITYAWARMAN”. Ada dugaan yang menghamili Dara Jingga adalah Raden Wijaya, yang setelah lahir bernama “ Adityawarman”.
Kemudian Dara Jingga menikah dengan Wiswarupakumara, seorang pejabat tinggi Majapahit di Darmasyraya. Mungkin dari perkawinannya yang kedua ini, Dara Jingga melahirkan seorang putera lagi yang kemudian bernama Prapatih..
Didalam Tambo dikatakan Datuk Ketemanggungan adalah anak raja. Ketika ibunya menikah lagi dengan Cati Bilang Pandai , lahirlah adik seibunya yang bernama Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dengan demikian dapat diduga bahwa :

Adityawarman adalah Datuk Ketemanggungan, 
Prapatih adalah Datuk Perpatih Nan Sabatang, sedangkan 
Wiswarupakumara adalah Cati Bilang Pandai.

Asmaniar Z. Idris, mengemukakan, bahwa Dara Jingga seperti yang dikisahkan dalam sejarah – mempunyai nama lain dalam Tambo, yaitu Bundokanduang. Dang Tuanku dan Cindurmato ialah Adityawarman dan Prapatih. Perbedaannya adalah dalam Tambo dikisahkan bahwa Dang Tuanku dan Cindur Mato adalah bersaudara satu ayah dengan dua ibu. (lihat “ kerajaan Minangkabau Pagaruyung dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau tahun 1970 di Batusangkar, Asmaniar Z. Idris)

Dari kedua cuplikan tulisan diatas terdapat beberapa perbedaan yang mendasar, karena menyagkut sislsilah dan keturunan masyarakat minang....? jangan sampai menyesatkan dan menimbulkan persepsi lain bagi pembaca sekalipun ini ada di dunia maya.

apakah anda atau siapapun yang lebih paham dapat menjelaskan siapa itu :
Datuk Ketemanggungan ( Raden Wijaya kah, Adityawarman kah, Sutan Paduko Basa kah, Dang Tuanku kah )
Datuk Perpatih Nan Sabatang (Prapatih kah, Jatang Sutan Balun kah, Cindurmato kah ) 
Dara Jingga...., Puti Indo Julito..., Bundo kanduang...,

Juga pernyataan dari tulisan  Sdr. Hifni:
1. &quot; Dugaan yang menghamili&quot; Dara Jingga adalah Raden Wijaya, yang setelah lahir bernama “ Adityawarman”.
2.&quot; Mungkin dari perkawinannya yang kedua ini, Dara Jingga melahirkan seorang putera lagi yang kemudian bernama Prapatih.

Saya berharap ada yang dapat menjelaskan ini agar mendekati kebenaran dapat diterima umum khususnya masyarakat minang kabau.
Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam tulisan diatas  &#8220;Silsilah Kerajaan Minangkabau &#8221; yang di copykan oleh  &#8220;Arman Bahar Piliang Malin Bandaro&#8221;  saya cuplik sedikit :</p>
<p>Kerajaan Minangkabau Tua yang belum bernama Minangkabau ini bertahan ratusan tahun sepanjang umur Datuak Maharajo Dirajo yang diyakini sebagai manusia Setengah Dewa yang dianugrahi umur ratusan tahun, setelah beliau mangkat pemerintahan dilanjutkan oleh Datuak Suri Dirajo Penghulu kepercayaannya.</p>
<p>Salah seorang Janda Datuak Maharajo Dirajo yang bergelar Puti Indo Julito dikawini oleh Cati Bilang Pandai orang kepercayaan almarhum yang kemudian memboyong keluarga beserta anak2nya Jatang Sutan Balun, Puti Jamilan, Sutan Sakalap Dunia, Puti Reno Sudah dan Mambang Sutan ke Dusun Tuo Limo Kaum, selanjutnya setelah mereka dewasa Datuak Suri Dirajo bermufakat bersama Cati Bilang Pandai untuk mengangkat :<br />
Sutan Paduko Basa dengan gelar Datuak Katumangguangan dan<br />
Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta<br />
Sutan Sakalap Dunia dengan gelar Datuak Surimarajo Nan Ba-nego2 </p>
<p>Sementara dari tulisan  &#8220;Dua Orang Datuk menurut Sejarah dan Tambo  Oleh : Hifni H. Nizhamul<br />
menuliskan :<br />
Sedangkan Dara Jingga, diperistri oleh seorang kerabat Istana. Dara Jingga kembali ke Darmasyraya dalam keadaan hamil. Di Darmasyraya inilah ia melahirkan anak laki-laki yang kemudian dikenal dengan nama “ ADITYAWARMAN”. Ada dugaan yang menghamili Dara Jingga adalah Raden Wijaya, yang setelah lahir bernama “ Adityawarman”.<br />
Kemudian Dara Jingga menikah dengan Wiswarupakumara, seorang pejabat tinggi Majapahit di Darmasyraya. Mungkin dari perkawinannya yang kedua ini, Dara Jingga melahirkan seorang putera lagi yang kemudian bernama Prapatih..<br />
Didalam Tambo dikatakan Datuk Ketemanggungan adalah anak raja. Ketika ibunya menikah lagi dengan Cati Bilang Pandai , lahirlah adik seibunya yang bernama Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dengan demikian dapat diduga bahwa :</p>
<p>Adityawarman adalah Datuk Ketemanggungan,<br />
Prapatih adalah Datuk Perpatih Nan Sabatang, sedangkan<br />
Wiswarupakumara adalah Cati Bilang Pandai.</p>
<p>Asmaniar Z. Idris, mengemukakan, bahwa Dara Jingga seperti yang dikisahkan dalam sejarah – mempunyai nama lain dalam Tambo, yaitu Bundokanduang. Dang Tuanku dan Cindurmato ialah Adityawarman dan Prapatih. Perbedaannya adalah dalam Tambo dikisahkan bahwa Dang Tuanku dan Cindur Mato adalah bersaudara satu ayah dengan dua ibu. (lihat “ kerajaan Minangkabau Pagaruyung dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau tahun 1970 di Batusangkar, Asmaniar Z. Idris)</p>
<p>Dari kedua cuplikan tulisan diatas terdapat beberapa perbedaan yang mendasar, karena menyagkut sislsilah dan keturunan masyarakat minang&#8230;.? jangan sampai menyesatkan dan menimbulkan persepsi lain bagi pembaca sekalipun ini ada di dunia maya.</p>
<p>apakah anda atau siapapun yang lebih paham dapat menjelaskan siapa itu :<br />
Datuk Ketemanggungan ( Raden Wijaya kah, Adityawarman kah, Sutan Paduko Basa kah, Dang Tuanku kah )<br />
Datuk Perpatih Nan Sabatang (Prapatih kah, Jatang Sutan Balun kah, Cindurmato kah )<br />
Dara Jingga&#8230;., Puti Indo Julito&#8230;, Bundo kanduang&#8230;,</p>
<p>Juga pernyataan dari tulisan  Sdr. Hifni:<br />
1. &#8221; Dugaan yang menghamili&#8221; Dara Jingga adalah Raden Wijaya, yang setelah lahir bernama “ Adityawarman”.<br />
2.&#8221; Mungkin dari perkawinannya yang kedua ini, Dara Jingga melahirkan seorang putera lagi yang kemudian bernama Prapatih.</p>
<p>Saya berharap ada yang dapat menjelaskan ini agar mendekati kebenaran dapat diterima umum khususnya masyarakat minang kabau.<br />
Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
