05
Nov
09

` kala bumiku bersujud `

oleh : Hifni H. Nizhamul

Tidak ada satu lembar daun pun yang jatuh dari pohonnya tanpa sepengetahuan Allah SWT, tidak ada suatu kejadian pun yang kebetulan. Semua sudah tertulis dialam Lauhul Mahfuz. Demikianlah kehidupan kita, tentang lahir, rezeki, jodoh dan akhir hayat kita. Segala yang ada dilangit dan segala yang ada dibumi – dunia, tempat kehidupan kita yang terwujud dalam wilayah, negeri dan ranah yang bukan buatan manusia semua berada didalam kekuasaan Allah Swt. Demikian pula jika tiba – tiba rumah dan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh runtuh karena goncangan akibat bencana Gempa dan Tsunami. Akhirnya kita hanya bisa merenung, apalah diri kita ini.

Kawan…, Lauhul Mahfuz itu ibaratnya Program yang Maha Canggih, sebuah Database yang sangat rumit, yang tidak mungkin terpikirkan oleh manusia. Bahkan sebuah LPND – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang memiliki peralatan yang super canggih tidak mampu memperediksi kedatangan gempa itu. Begitu pula seorang Teddy Bun yang ahli gempa di Indonesia ini.

Lama saya merenung, ketika saya dihadapkan pada arti dalam Surah 17 ayat 16 dikaitkan dengan peristiwa/waktu terjadinya gempa. Face book, group milist, semua menyebutkan bahwa arti surah itu adalah suatu kebenaran. Bukannya saya tidak meyakini, Al Quran dengan segala isinya, namun kegundahan hati ini tidak dapat mengikis kegundahan hati antara kebenaran secara dogma dan kebenaran secara fakta atas bencana yang ada di Ranah Minang. Saya tidak ingin  mendustakan isi Al quran yang tersimpan dalam Lauhul Mahfuz itu. Saya teringat kepada seorang Uztad, yang memberikan pencerahan kepada saya, ada upaya pihak kafir ingin mendustakan tanda tanda yang terdapat dalam Al Quran, namun  bagi saya tetaplah  tidak mudah menyimpulkan bahwa apa yang sudah tertulis didalam surah itu merupakan impikasi dari Surah 17: 16. Meskipun setiap kejadian tidak akan hilang lenyap dari pengetahuan Allah bahwa  sesuatu dari sehalus-halus atau seringan-ringan yang ada di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan tidak ada yang lebih besar, melainkan semuanya tertulis di dalam Kitab yang terang nyata (Lauh Mahfuz). (Surah 10:61)

Alhamdulillah saya mendapat pencerahan dari Buya HMA di facebook, yang dapat meringankan pikiran saya bahwa kata beliau : “ Rangkayo Evy, tidak bisa kita menyimpulkan suatu peristiwa pada suatu hitungan jam dengan apa yang tersebut didalam Al Quran itu. Yang menjadi takdir  kita adalah keberadaan bumi kita di pertemuan lempengan yang rawan bencana “. Kalimat ini yang masih terngiang-ngiang dibenak saya dan menyejukkan hati.

Gunung dan bukit, Rumah dan bagunan bertingkat amblas dan bersujud atas kehendak Allah SWT. Tidak ada yang mampu mencegahnya. Tidak ada yang menduga akibat yang ditimbulkan. Rakyat berlari kian kemari – seraya bertakbir “ Allahu Akbar “ dengan wajah ketakutan. Berulang – ulang sebuah TV swasta mentayangkan tangis pilu, anak anak yang ketakutan atas pengalaman trauma ini. Sayapun menangis. Saya turut ketakutan jika merasakan peristiwa itu.

Orang yang sedang menaiki kendaraan pada saat periswtiwa itu, seakan naik kuda komedi putar sambil ajrutan ajrutan. “ Allahu Akbar… Asytagfirullah…., Tanah merekah, seakan ada kerbau dibawah tanah yang bangkit berdiri atau seekor naga bangun dari tidurnya. Pada saat kejadian, ada yang berpelukan karena bumi gunjang ganjing. Ada yang berlarian kian kemari. Ada yang rumahnya terbakar karena lari meninggalkan masakan disaat api sedang menyala. Ada yang tengah mandi sore, tertimpa plafond. Pusat perbelanjaan dimakan api karena korsleting listrik. Lebih lebih yang mengenaskan mereka yang tertimpa bangunan bertingkat seperti di Hotel Ambacang, Gedung Bimbingan Belajar, Kampus perguruan tinggi.. Demikian pula, ada acara perhelatan – yang memilukan hati ketika para tamunya dihantam longsoran bukit. Tinggalah pengantin wanitanya (anak daro) duduk termenung  di Pelaminan sementra pengantin prianya wafat karena dihatam reruntuhan bangunan). Jutaan mata rakyat Indonesia dan bahkan seluruh dunia terkesima menyaksikan gempa yang maha dahsyat ini. Akhirnya kitapun menyatu dalam keharuan yang tiada tara. Sanak dari rantau berdatangan menggalang bantuan. Ada datang dengan cinta ke lokasi bencana.

Akhirnya, yang terucap dalam bathin ini, ada apa dengan ranahku. Seperti halnya dengan peristiwa tsunami di Aceh – yang secara subyektif orang menuding bahwa negeri Serambi Kota Mekkah itu – telah terkontaminasi dengan masalah moralitas. Akankah Ranah Minangku ini akan dituding seperti kejadian tsunami di Aceh itu. Apalagi dikatakan bahwa Ranah Minang adalah bagaikan Serambi Kota Madinah pula…Entahlah…

Saya melihat – pada pasca gempa itu, Hati ini semakin miris, ketika para padusi/bundokanduang – berlarian berebut makanan. Begitu kaum lelakinya. Anak-anak jadi pengemis dijalan-jalan yang dilalui oleh kaum perantau yang datang membagikan makanan.  Disinilah kinerja aparat Pemda setempat teruji dan dinilai oleh pihak lain. Bahkan saya terusik atas pernyataan Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1. Ia menyimpulkan bahwa wanita minang tidak kompak dalam memberikan bantuan penanganan bencana ini. Tidak seperti yang dilakukan oleh perempuan di Jawa ketika adanya bencana gempa di Bantul – Jogyakarta. Apakah itu ? Tidak lain, atas peniliannya terhadap upaya pendirian dapur umum di lokasi bencana. Saya mencoba melakukan pembelaan, bahwa kearifan budaya setempat tidak dapat disamakan ditempat lain. Apalagi kejadian gempa di Sumbar ini, berada di pusat pemerintahannya.  Bagi saya,  jika mengukur kekompakan wanita minang pada suatu peristiwa bencana ini, sungguh dangkal penilaian Ibu Menteri itu,

Beberapa saat setelah peristiwa itu, jangankan gunung, bukit, rumah dan gedung-gedung yang telah bersujud kepada Allah, sepantasnya jualah saya turut bersujud kepada Allah. Bukankah bersujud di hadapan Allah SWT termasuk ibadah yang paling mulia sekaligus sebagai sarana paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ketika mengikuti ceramah Abu Sangkan dalam “pelatihan Sholat Khusuk di tempat Sholat Center – Jati Bening Bekasi, ia menjelaskan bahwa manfaat lain dari banyak bersujud adalah ampunan dan derajat yang tinggi di Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu.’” (HR. Muslim dari Tsauban Abu Abdullah). Itulah kemuliaan dari perbuatan bersujud karena Allah SWT.

Nah bagaimana dengan Ranah Minangku…??. Saya tidak akan menuding dirimu yang senantiasa tersanjung oleh pamor adat dan budayanya yang bernilai tinggi, Saya tidak akan menudingmu ketika engkau bereforia dengan kejayaan masa lalumu. Saya akan mendukungmu ketika para bundokanduang menjadi limpapeh rumah nan gadang, bukan karena mempertahankan harta bendamu, melainkan ketika membedung, memeluk, dan mendekap anak-anakmu menjadi manusia minangkabau yang berkualitas dan bernilai. Wahai ninik mamak nan gadang basa batuah – nan dianjuang sarato disanjuang dek anak kamanakan. “ Janlah bahampok juo dek pitih sarimih jo ciek piah “. Janganlah sampai kami urang rantau “ kanai kicuah jo ota gadang” sahinggo kami dikatokan alah mampicayoi rukun anam kini alah manjadi tujuah. Apakah itu sanak ? karena dikatakan rukun yang ketujuh adalah, karena kita mempercayai – ota gadang – yang diperbicangkan di lapau lapau di Ranah kita. Begitulah oleh oleh yang selalu saya terima ketika pulang kampong sebelum bencana itu datang.

Sudahlah.. mudahan semua keburukan akan berlalu. Marilah kita bersujud bersama wahai Ranah Minanku, seraya berucap : “ Maha suci Tuhanku.. Yang Maha Tinggi.

Dan setelah itu kita duduk berdoa seraya berucap : “ Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, cukupkan aku, berilah aku rezeki, angkatlah derajatku, berilah aku hidayah dan sehatkanlah badanku….

Dan setelah itu, marilah kita bangkit dengan mata menatap kedepan, sambil berharap akan datangnya sinar yang lebih terang dari ufuk barat – ketika sang mentari muncul dari permukaan kali pagi hari.

Bagaimana cara kita bangkit ? tentunya melalui motivasi dan konsolidasi yang digagas oleh sanak dari rantau yang tak putus-putus datang dengan penuh cinta ke Ranah Minang itu, yang dapat kita laksanakan. Marilah kita doakan agar minangkabau bangkit kembali. Semoga….


0 Responses to “` kala bumiku bersujud `”



  1. No Comments Yet

Hifni H. Nizhamul

Pengunjung

  • 68,142 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ARSIP

Flickr Photos

Day Three Hundred Fifty Three

Dead D70s

Christmas!

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory