23
Des
09

` yunani kuno dan minangkabau ‘


Oleh Andrinof A Chaniago

Pengajar di Universitas Indonesia


Antara kehidupan Yunani Kuno dan Minangkabau, terdapat jarak waktu pemisah lebih dari duapuluh abad lamanya. Melihat pencapaian luar biasa dari bangsa Yunani Kuno, juga bukan hal yang setara untuk membandingkannya dengan Minangkabau yang hanyalah sebuah suku bangsa diantara duaratusan suku bangsa di Indonesia. Tetapi, jika melihat sejarah tokoh-tokoh pemikir terkemuka berikut warisan karya-karya pemikir dari kedua masyarakat  ini, kita akan menemukan sesuatu yang relevan untuk dibandingkan.

Sama dengan sikap hidup individu orang Minangkabau, masyarakat Yunani Kuno menyukai kehidupan yang bebas dan merdeka. Selain itu, keduanya dikenal dengan masyarakat yang haus akan pengetahuan.

Sebagian orang Yunani Kuno juga suka merantau. Namun, di sini mulai tampak perbedaan mereka dengan orang Minang. Orang-orang Yunani Kuno pergi merantau karena sebagian besar tanah mereka gersang dan tandus. Dengan demikian, motif orang-orang Yunani Kuno pergi merantau semata-mata untuk ekonomi. Semenara bagi orang Minang, merantau bukan semata-mata untuk tujuan ekonomi, melainkan juga untuk belajar hidup, sebagaimana bisa kita lihat dari beberapa pepatah Minang.

Tanah di wilayah fisik-geografis orang Minang adalah tanah yang subur, karena memiliki lahan lapisan vulkanik yang luas dan memiliki bukit-bukit yang ditumbuhi tanaman lebat yang membuat bukit-bukit itu sebagai ”prasarana” irigasi alami bagi lahan pertanian di dataran rendah. Dari sumber air yang berasal dari ruas pegunungan Bukit Barisan itu, bukan saja padi dan tanaman palawija yang tumbuh sehat, tetapi juga bermanfaat untuk membesarkan ternak hewan dan membudidayakan ikan air tawar. Bahkan, dengan sumber air yang datang dari pegunungan itu yang kemudian ditampung oleh Danau Maninjau dan Danau Singkarak, daerah ini menjadi tempat produksi listrik yang biaya produksinya hanya seperlima dari listrik yang diproduksi oleh sistem pembangkit batu bara ataupun gas. Selain itu, sejalan dengan watak ekspansionis modal, beberapa sumber air alami di Sumbar itupun menjadi sumber produksi air kemasan yang populer dengan nama air mineral.

Di jaman Orde Baru, para penguasa pemerintahan di Sumbar, yang sering sekali mengklaim bertindak untuk dan atas nama masyarakat penganut kebudayaan Minangkabau, secara terang-terangan mengingkari kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan tadi. Mereka dengan tanpa beban mengatakan, ”Daerah kita miskin. PAD kita kecil. Kita tidak punya minyak seperti Provinsi Riau atau deposit tambang lain seperti di Kalimantan atau Papua.” Ungkapan seperti ini tidak lain dimaksudkan untuk mengajak masyarakat mendukung Pemda meminta ”kemurahan hati” Pemerintah Pusat agar mengucurkan dana lebih besar untuk Sumbar. Karena itu pula, masyarakat Sumbar harus menunjukkan dukungan yang besar kepada Golkar yang ketika itu merupakan alat hegemoni kekuasaan Pemerintah Pusat.

Begitulah cara elite-elite politik Sumbar di jaman Orba memandang kekayaan alam Sumbar. Arti kekayaan alam pun dipersempit menjadi ketersediaan deposit tambang sambil menutup mata terhadap harta yang luar biasa nilai potensinya, seperti perbukitan, gunung-gunung, sungai-sungai, danau-danau dan pantai-pantai yang memberikan akses mudah untuk memanfaatkan sumber-sumber alam di atas dan di dalamnya. Padahal, pengukuran kekayaan harus dimulai dengan kemudahan mendapatkan barang-barang dan jasa kebutuhan pokok, mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan? Kalau di daerah-daerah lain masyarakatnya membutuhkan usaha yang panjang dan modal lebih besar untuk mendapatkannya, sementara di Sumbar secara rata-rata lebih mudah, bukankah berarti itu kekayaan Sumbar?

Merantau yang bukan semata-mata karena dorongan kelangkaan kekayaan lokal bagi masyarakat Sumbar tadi seharusnya menambah modal untuk membuat masyarakat yang menetap di Sumbar lebih makmur sejahtera dibanding rata-rata daerah di Indonesia. Dengan kesejahteraan itu pula Sumbar seharusnya berkembang sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan karena bisa menjadi sumber insentif bagi para tokoh intelektualnya untuk terus berkarya di tanah asalnya sendiri seperti yang terjadi pada kaum intelektual Yunani Kuno.

Tetapi, di sinilah letak perbedaan lain antara Minangkabau dan Yunani Kuno. Kaum pemikir Yunani Kuno tidak perlu pergi merantau untuk menghasilkan karya-karya ilmu pengetahuan mereka. Sementara calon-calon intelektual Minang, harus merantau untuk menjadi pemikir kelas nasional atau internasional, baik untuk mendapatkan sumber-sumber pengetahuan baru maupun untuk menjadikan ilmunya bisa digunakan oleh masyarakat. Akibatnya, di Minangkabau sendiri tidak pernah lahir temuan-temuan penting atau gagasan-gagasan filosofis yang besar. Sebaliknya, para pemikir Yunani Kuno cukup menyerap pengetahuan yang berasal dari Mesir Kuno dan Babylonia, yang dibawa para pedagang dari kedua negeri tersebut. Pengetahuan dari luar tersebut menjadi bahan untuk diolah dan dikembangkan lebih lanjut di tanah Yunani Kuno sendiri. Proses seperti itulah yang dilalui Anaximandros, Anaximenes, Phytagoras, Xenophanes, Anaxagoras, Gorcias, Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya. Proses seperti itulah pula yang membuat lahirnya beberapa pengetahuan baru di Yunani Kuno yang menjadi dasar pengembangan ilmu  dan peradaban Eropa, bahkan dunia.

Para pemikir Yunani Kuno tadi adalah peletak dasar nilai-nilai kearifan dan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi kehidupan nyata masyarakat dunia berabad-abad hingga kini. Dan, yang juga perlu dicatat, mereka bukan perantau yang menemukan nilai-nilai peradaban dan hukum-hukum ilmu pengetahuan di luar negeri leluhurnya, melainkan manusia-manusia yang membangkitkan masyarakat dan membangun monumen-monumen peradaban di negeri mereka sendiri yang gersang itu, sebelum karya-karya mereka itu menyebar pengaruhnya ke berbagai negeri luar. Pertanyaan yang muncul dalam melihat ”proses menjadi” para pemikir Minang adalah, dengan karakter yang sama-sama suka berpikir dan suka hidup merdeka serta sama-sama haus pengetahuan dengan masyarakat Yunani Kuno, mengapa masyarakat Minang tidak melahirkan sebagian tokoh-tokoh intelektualnya di tanahnya sendiri?

Jawaban valid atas pertanyaan di atas tentu tidak mudah disodorkan secepatnya. Tetapi, melihat potret saat ini dan kondisi sebelumnya, jangan-jangan jawaban itu kita temukan bersamaan dengan perbedaan berikutnya antara masyarakat Yunani Kuno dan Minangkabau. Masyarakat Yunani Kuno memberikan penghormatan yang tinggi kepada para pemikir dengan menempatkan mereka hanya sedikit di bawah dewa-dewa mereka. Karya-karya mereka dan ucapan-ucapan mereka begitu didengar oleh masyarakat. Sementara, di Minangkabau, bisa jadi para pemikir kurang dihormati dibanding para penguasa, politisi dan pengusaha, terlebih dengan mereka yang menyandang dua status dari dari tiga status itu sekaligus. Setidak-tidaknya suasana ini terasa sejak Orde Baru hingga sekarang, dimana sumber kebenaran lebih banyak dipercayakan kepada penguasa, politisi dan pengusaha, sebagaimana tampak dalam perlakukan-perlakuan yang diberikan pada acara seremonial, di media massa maupun di tempat-tempat umum. Mudah-mudahan jawaban sementara saya ini keliru. Mohon maaf lahir dan bathin.***

About these ads

6 Responses to “` yunani kuno dan minangkabau ‘”


  1. 1 ~padusi~
    Desember 23, 2009 pukul 7:52 am

    Tulisan ini sudah lama di buat oleh Sdr. Andrinof Chaniago, sseorang pengamat politik dan pengajar dari Universita Indonesia. Memang ada beberapa persamaan dalam pembentukan suatu pemikiran dan gagasan, antara masyarakat Yunani kuno dengan Minangkabau, yang bersumber dari kebutuhan masyarakat sekitarnya, sehingga menciptakan aturan dan tatanan kehidupan yang diperuntukkan bagi masyarakat kala itu. Pemikiran kaum Yunani kuno ini – tersebar luas melalui proses peradaban, yang tumbuh dan berkembang karena munculnya hegemoni bangsa-bangsa didunia, a.l Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Prancis. Untuk meruntuhkan hegemoni yang tidak sesuai dengan keadilan dan kesamaan kedudukan bangsa – bangsa terjajah maka, hasil pemikiran filosof Yunani ini dianggap cukup mampu mengurangi kekuasaan bangsa-bangsa penjajahn

    Gagasan-gagasan filosofis yang besar yang tersusun menjadi Aturan Adat di Minangkabau diciptakan oleh tokoh legendaris dua orang datuk di Minangkabau, yaitu Datuk ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan sabatang. Hal ini merupakan salah satu bukti pemikiran besar yang hidup hingga kini di bahkan beremigrasi ke Negeri tetangga, yaitu Negeri Sembilan – Malaysia, yang dikenal dengan adat prapatihnya.

    Pada skala nasional, Ingat falsafah ” dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung ” telah pula menjadi falsafah bagi urbanisasi penduduk pulau jawa ke luar jawa,

    Jika dikatakan bahwa Masyarakat Yunani Kuno memberikan penghormatan yang tinggi kepada para pemikir dengan menempatkan mereka hanya sedikit di bawah dewa-dewa mereka, sehingga karya-karya mereka dan ucapan-ucapan mereka begitu didengar oleh masyarakat. Di Minangkabau, kaum pemikir adat yang diwariskan kepada tokoh adat sesudahnya juga bersumber pada kebenaran.

    Wassalam ~padusi~

    Wassalam,

  2. Desember 27, 2009 pukul 11:38 am

    Berarti Urang Minang ini hebat-hebat ya, Bu….
    Tapi kenapa sekarang Urang Minang sudah jarang terdengar di papan atas ya…?

    Wassalam
    Malin Marajo

  3. 3 ~padusi~
    Desember 29, 2009 pukul 6:23 am

    Orang Minang itu hebat karena pemikirannya. Ia mampu mencari terobosan dan tantangan. Ia maju sendiri-sendiri dan selalu ingin menjadi lokomotif. Ketika gerbong itu telah sampai pada tujuannya, maka berhenti pulah tugasnya. Pada generasi Pra kemerdekaan – orang minanglah yang di butuhkan, karena ia memiliki konsep dan keberanian. Pada saat itulah muncul tokoh nasional ketika Indonesia akan bangkit.

  4. Januari 7, 2010 pukul 6:40 am

    Orang Minang akan tumbuh dan berkembang di masyarakat yang jujur dan terbuka tentu saja yang menghargai ilmu pengetahuan, namun agak sulit untuk eksis jika tatanan kehidupan penuh intrik, hipokrit dan menghalalkan segala cara, apalagi kalau hegemoni kekuasaan di jalankan dengan palu godam kekuatan militer yang memberangus perbedaan pendapat,oleh karena itu pada awal awal kemerdekaan mereka eksis karena orang orang yang muncul pada saat itu benar benar masih murni perjuangannya untuk membela kemerdekaan dari penjajahan belanda, sehingga manusia indonesia yang cerdas, berpengetahuan dan berjuang tanpa pamrih akan didudukan sebagai pemimpin tanpa reserve oleh masyarakat indonesia khususnya dan dunia ada umumnya, namun setelah kemerdekaan maka kepentingan politik golongan dan penguasaan sumber kekayaan ekonomi menjadi konsideran utama oleh para potisi terutama pada era Suharto, maka orang orang waras terpinggirkan,termasuk tokoh tokoh pemikir dan politisi idealis dari minang seperti M.Hatta atau M. Nasir,dengan berbagai cara mereka dimarginalkan sehingga pikiran mereka tidak sampai ke masyarakat yang telah diberangus hak suaranya untuk kritis terhadap penguasa,dan yang lebih menyedihkan lagi adalah orang minang menjadi inferior dengan kekalahan PRRI oleh tentara pusat, dan belakangan ternyata terbukti sebagai gerakan koreksi terhadap kediktatoran Sukarno, namun lihat sekarang pada era keterbukaan ini bermunculan tunas tunas yang mengguncang dunia perpolitikan Indonesia dengan kecerdasan, keberanian dan sifat utama memperjuangkan kebenaran bermunculan dari manusia minang baik minang perantauan maupun dari ranah minang sendiri, mereka dapat mengguncang jagat perpolitikan karena kemampuan individu mereka dengan segala kelebihan yang mereka punyai, itupun masih berusaha untuk dijegal dan di kriminalisasikan seperti Chandra M Hamzah atau Rizal Ramli.
    Cuma memang yang disayangkan adalah perkembangan di ranah minang sendiri tidak memberikan peluang bagi orang orang cerdas dan idealis untuk dapat mengendalikan pemerintahan dalam rangka membangun kejayaan minang kabau sehingga tokoh muda seperti Indra Jaya Piliang tidak terpilih menjadi wakil rakyat karena kurang gizi dan pelicin untuk membeli suara rakyat yang sudah berorientasi kepentingan sesaat dengan money poliknya maka yang berduitlah yang mereka pilih …. sungguh sangat disayangkan manusia minang menjadi begitu pragmatis dan berorientasi jangka pendek, tidak berpikir bagaimana kampung halaman dalam jangka panjang akan maju dan berjaya jika di kendalikan oleh orang orang cerdas dan berakhlak mulia….

  5. 5 zamra
    Januari 8, 2010 pukul 4:00 am

    Begitulah cara elite-elite politik Sumbar di jaman Orba memandang kekayaan alam Sumbar. Arti kekayaan alam pun dipersempit menjadi ketersediaan deposit tambang sambil menutup mata terhadap harta yang luar biasa nilai potensinya, seperti perbukitan, gunung-gunung, sungai-sungai, danau-danau dan pantai-pantai yang memberikan akses mudah untuk memanfaatkan sumber-sumber alam di atas dan di dalamnya. Padahal, pengukuran kekayaan harus dimulai dengan kemudahan mendapatkan barang-barang dan jasa kebutuhan pokok, mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan? Kalau di daerah-daerah lain masyarakatnya membutuhkan usaha yang panjang dan modal lebih besar untuk mendapatkannya, sementara di Sumbar secara rata-rata lebih mudah, bukankah berarti itu kekayaan Sumbar?

    maaf……..ada arti tidak tertulis dari elite2 politik jaman orba tersebut yg harus disyukuri pak. memang daerah sumbar merupakan derah yang subur dan makmur dengan kekayaan alam. namun tidak terlepas dari letaknya yang juga rawan dengan bencana bukan….?
    seandainya SDA tersebut diekploitasi dan dimamfaatkan, tahu apa yang akan terjadi?
    coth kecil saja di abtu sangkar sekarang ini ada sebuah bukit yang memiliki kandunagn emas yang banyak sampai sekarang belum di jamah..tau apa alasannya…?
    tak lebih dari lingkungan…orang minang menjaga daerahnya agar tidak rusak parah sepeeti daerah lain..
    kl tidak menimbangb hal tersebut….mungkit barisan yang melalui sumbar sudah menjadi lapangan datar yang luas dari dulu….itu!!!

    jadikan rantau berhujankan emas sekarang ne…jagalah ranah minangkabau selagi bisa.!!!

  6. 6 ra
    Juli 15, 2011 pukul 9:07 am

    Bundo wak share dan wak kutip yoo..
    “merantau bukan semata-mata untuk tujuan ekonomi, melainkan juga untuk belajar hidup”..
    tarimo kasiii.. :)


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 596,187 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: