20
Apr
10

Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)


Pengantar  oleh : Hifni. H. Nizhamul

Benar atau tidaknya kisah ini, tidak begitu penting. Cerita dari mulut ke mulut menghasilkan ” KABA”. Dalam  dialektika Minangkaba, maka  si Tukang Kaba, akan mengisahkan sesuatu apa yang ia ketahui – ia dengar dan kemudian ia pahami. Kemduian  Kisah  di nukilkan dalam bahasa serta kiasan yang tinggi.

Bertitik tolah dari perangkat hukum adat, yang menempatkan kaum wanita dimuliakan secara adat, maka Bundokanduang selalu menjadi tokoh dalam suatu peristiwa. Bundokanduang  menjadi figur dan di identifikasi sebagai pilar dan tiang utama dalam sistem sosial kemasayarakatan.

Dari berbagai versi tentang bundokanduang, baik dari Pagaruyung maupun dari Lunang, dapat kita simpulkan bahwa Bundokanduang itu ada disetiap ka Nagarian atau wilayah Minangkabau. Jika ada seorang wanita yang memiliki keunggulan – kharismatik – dimuliakan secara adat dalam satu kekerabatan atau didalam suatu trah tertentu, maka Bundokanduang itu tetap akan hidup  sebagai simbol dan orang yang berpengaruh sebagai kharisma wanita minangkabau.

Bundokanduang :

Pada serangkaian cerita Cinduamato, tersebutlah nama Bundo Kandung sebagai ibu dari Dang Tuangku. Akan halnya Bundo Kanduang yang seiring disebut ujud seorang perempuan dalam kerajaan Minangkabau. Barangkali ini merupakan sebuah ungkapan terhormat kepada seorang wanita.

Seperti tersebut dalam kisah Cindurmato, suatu kali cucu Raja Mauliwarman Dewa, datang ke Luhak nan Tuo, Tanah Datar. Mereka adalah tiga kakak beradik, yang tua Kambang Daro Marani (14 tahun), Indo dewa ( 12 tahun) dan yang bungsu Kambang Daro Bandari (10 tahun). Kunjungan mereka ini, disertai para dubalang dan inang pengasuh yang seluruhnya berjumlah 45 orang. Salah seorang yang terkenal dalam rombangan ini adalah Andiko Panjang Gombak (45 tahun), yang bertugas sebagai kepala rombongan dan sekaligus pengawal setia tiga kakak beradik tadi.

Melihat indahnya alam, bersahabatnya masyarakat, maka timbullah hasrat dari tiga kakak beradik ini, untuk menetap di ranah bundo. Keinginan itu disampaikan oleh Andiko Panjang Gombak di dalam pertemuan Limbago Alam di Balai Adat Datuak Bandaro Sungai Tarab. Pertemuan ini membawa arti penting terhadap gerak langkah perjalanan sejarah Minangkabau selanjutnya.

Musyawarah Limbago Alam yang dihadiri, oleh seluruh anggota perwakilannya di Sungai Tarab ini membuahkan tiga butir mufakat, yaitu:

Petama. Basa Tigo Balai dikembangkan menjadi Basa Ampek Balai terdiri dari, Datuak Bandaro dari Sungai Tarab sebagai Payung Panji Koto Piliang, Datuak Indomo dari Saru Aso sebagai Amban Purut Koto Piliang , Tuan Gadang dari Bhakti Sapuluah sebagai Harimau Campo Koto Piliang, dan Datuak Makhudum dari Sumaniak sebagai Pasak Kunci Koto Piliang.

Kedua. Limbago Alam menunjuk Andiko Panjang Gombak sebagai ketua kehormatannya.

Ketiga. Kambang Daro Marani, Indodewa dan Kambang Daro Bandari, sebagai anak kemanakan Limbago Alam, akan dibangunkan sebuah rumah gadang di Gudam Kambang Bungo (Pagaruyung).

Hasil mufakat Limbago Alam ini, disampaikan pula kepada Majilih Kerapatan Adat Alam Minangkabau pada pertemuannya di Medan Taduah Bukit Gombak. Semua anggota perwakilan Majilih menyetujui dan merestui keputusan Limbago Alam tersebut.

Setehun setelah tiga kakak beradik itu tinggal di Luak nan Tuo, rumah gadang atau istano yang dibangun di ranah Kambang Bungo, telah berdiri dengan megahnya. Seluruh bahan bangunannya, adalah sumbangan masyarakat Luhak nan Tigo. Di halamannya berderet pula tiga rangkiang dengan anggun. Perlengkapan rumah gadang seperti lapik baludu, kelambu suto, cawan dan pinggan, cibuk dan bermacam perhiasan mas dan intan dihadiahkan oleh dangsanak belahan diri yang bermukim di pesisir dan rantau.

Tujuh tahun kemudian, Andiko Panjang Gombak mendapat kecaman dari bebagai lapisan masyarakat Minangkabau. Saat itu Kambang Daro Marani yang sedang menginjak umur 21 tahun, dinikahi oleh Andiko Panajang Gombak secara diam-diam tanpa diumumkan secara adat kepada kalayak ramai. Sewaktu Kambang Daro Marani hamil tiga bulan, masyarakat melalui limbago-limbago adatnya menuduh Andiko melakukan perbuatan yang tidak senonoh yang melanggar adat.

Andiko membela diri. Dia mengatakan pernikahannya dilakukan di Bhakti Sapuluah, di istano Tuan Gadang secara resmi. Limbago adat tetap pada pendirian mereka: Andiko dianggap bersalah karena melakukan pernikahan tidak bersuluh matahari dan bergelanggang mata orang banyak, sebagaimana ditetapkan oleh adat. Sebelum hukuman dijatuhkan, Andiko menebus kesalahanya di lapangan Bukit Gombak dengan memotong sepuluh ekor kerbau untuk menjamu perwakilan Limbago Adat dan seluruh anak nagari yang berkenan hadir.

Pada saat itu secara tulus Andiko mengakui, bahwa dia telah berbuat sumbang karena melanggar aturan adat. Selanjutnya bersamaan dengan penyesalan Andiko, masyarakat Minangkabau pun memberikan maaf dengan tulus pula. Hasil pernikahan ini kemudian melahirkan Romandung yang bergelar Dang Tuanku.

Akan tetapi, empat belas bulan kemudian, Andiko Panjang Gombak kembali melakukan kesalahan yang sama. Dia secara diam-diam juga menikahi Kambang Daro Bandari, adik kandung Kambang Daro Marani. Limabago Adat dan rakyat kembali marah besar kepada Andiko. Panjang Gombak dinilai tidak lagi bertingkah laku sesuai alur dan patut. Pada masa itu, di Minangkabau sekalipun belum diliputi agama Islam, masyarakat sangat menentang jika seorang laki-laki mengawini dua perempuan kakak beradik yang masih sama-sama hidup. Masyarakat tidak lagi melihat Andiko Panjang Gombak sebagai seorang yang berpijak di bumi Ranah Minang, karena itu dia harus dibuang sepanjang adat.

Andiko kembali membela diri. Dia menjelaskan, bahwa perbuatannya tersebut disokong oleh Kambang Daro Marani demi melanjutkan keturunan di istano Pagaruyung. Dan Andiko juga meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan sudah seizin tetua adat di Darmasraya.

Akhirnya, Andiko kembali mengsisi adat. Kali ini di istano Pagaruyung jamuan makan seperti dulu dilangsungkan. Limbago Adat pun kembali memaafkan Andiko dengan perinsip: Salah kepda manusia minta maaf, salah kepada adat mengisinya. Akan tetapi, sehari setelah upacara adat itu selesai Indodewa, yang satu-satunya laki-laki dari tiga bersaudara, meninggalkan Pagaruyung menuju Darmasraya dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi. Namun, sebagaimana diceritakan, dari pernikahan inilah lahirnya Cidurmoto.
Setelah sama-sama melahirkan anak dari Andiko Panjang Gombak, Kambang Daro Marani berubah nama jadi Bundo Kanduang dan Kambang Daro Bandari jadi Bundo Kambang.

Lebih kurang 23 tahun kemudian, perang pun berkecamuk antara pasukan Imbang Jayo dari Sungai Ngiyang –sebuah kerajaan kecil di Selatan Minangkabau, dengan tentara Pagaruyung. Pertikaian yang tak kunjung berkesudahan ini, dipicu oleh api cemburu yang selalu membakar hati Imbang Jayo yang gagal mempersunting Puti Bungsu, tersebab gadis itu dilarikan oleh Cindurmato anak Raja Pagaruyung.

Ayah dari Imbang Jayo yang bernama Raja Tiang Bungkuk dari Kerajaan Sungai Ngiyang, juga mendukung dendam si anak. Pagaruyung pun akhirnya menuai badai.

Sesaat perang kelihatan seperti reda. Tibalah masanya, empat anggota Basa Ampek Balai, berlima dengan Tuan Gadang di Batipuah, duduk bersila di bagian tengah ruangan balairung, istano Pagaruyunag. Bundo Kanduang dan Bundo Kambang telah duduk pula bersimpuh dilantai anjung ujung utara. Di kiri kanan mereka duduk bersila Romandung dan Cindurmato. Cindurmato baru saja kembali dari Inderapura dua hari sebelumnya. Bersama Cindurmato ikut empat lusin pemuda Inderapura.

Dalam pertemuan itu, sembah kata belum kunjung bersilang. Mereka masih diam sambil menikmati sekapur sirih yang terkunyak dimulut masing-masing. Adanya pancaran haru dan kentaranya silang-siur kerut-merut di wajah Bundokanduang, membuat hati anggota Basa Ampek Balai ikut terenyuh. Tambah lagi sikap Bundo Kambang, Romandung dan Cindurmato yang muram, tidak seperti biasa, telah membuat suasana balairung itu bertambah suram.

Saat itu kepada Basa Ampek Balai, Bundo Kanduang mengatakan, bahwa dia akan pergi jauh dari Pagaruyung. Bila kelak rakyat Minangkabau mempertanyakan kemana mereka pergi, maka katakanlah, bahwa mereka suduah mengirap ke langit.

Mande Rubiah

Tersebut dalam satu versi sejarah, bahwa melihat gelagat Adityawarman yang ingin memerintah secara otoriter di Minangkabau, maka keluarga Raja Pagaryung memprotesnya secara keras.
Bentuk protes ini, adalah dengan mengirab (pindah total) dari daerah asal menuju sebuah persembunyian. Dalam versi sejarah ini, masyarakat Nagari Lunang, Pesisir Selatan, mengatakan, bahwa keluarga raja yang mengirab itu, adalah keluarga Mande Rubiah yang kini mempunyai istana khusus di daerah itu.

Pembenaran ke arah ini, diperkuat dengan beberapa bentuk peninggalan bersejarah. Seperti adanya benda-benda kerajaan yang tersimpan rapi di rumah Mande Rubiah hingga kini. Selain benda pusaka dari piring cawan hingga senjata perang itu, juga terdapat di sekitar rumah Mande Rubiah, perkuburan tua. Pada perkuburan itu konon, dimakamkan Bundo Kanduang dan anaknya Dang Tuangku beserta istrinya Puti Bungsu. Selain itu disekitar rumah Mande Rubiah juga terdapat, kuburan Cindua Mato, yang dikenal dalam legenda Minang sebagai seorang parewa yang ahli siasat perang.

Mungkin nama Dang Tuangku dan Cindua Mato serta Puti Bungsu tidak pernah ada dalam silsilah keturunan Raja Pagaruyung, seperti diakui oleh salah seorang pewaris Kerajaan Pagaruyung, Putri Reno Raudha Taib. Akan tetapi pembenaran yang dipakai versi ini, niat semula dari serumpun keluarga ini untuk mengirab, yaitu untuk menghilangkan sekalian jejak, supaya kemana mereka pergi tidak diketahui oleh Adityawarman orang yang tidak mereka sukai.

Dilihat dari kubur Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan Puti Bungsu yang ada di nagari Lunang, itu semuanya seperti kuburan orang Islam, membujur ke utara dan selatan menandakan menghadap kiblat.

Keadaan ini juga bisa dihubungkan dengan kebencian sekelompok keluarga kerajaan ini kepada Adityawarman karena mereka tidak seagama. Sebab dalam sejarah dikatakan, adityawarman adalah penganut Budha Mahayana, orang yang suka dengan kekerasan.

Perhitungan Tahun

Akan tetapi dalam sejarah dan Tambo Adat Minangkabau, disebutkan. Adityawarman berada di Pagaruyung sekitar 1339-1376. Anaknya, Ananggawarman yang masih beragama Budha memerintah (1376). Setelah itu barulah Sultan Bakilap Alam menjadi Raja Pagaruyung, sampai pada Sutan Usman, 1943 selaku (Kepala Kaum Keluarga Raja Pagaruyung).

Jika dilihat pula keterangan yang disampaikan oleh Barkat, seorang keluarga Mande Rubiah, hingga kini keberadaan Mande Rubiah di Lunang, baru keturunan ke tujuh. Jika keturunan keluarga ini berumu masing-masing 50 tahun, maka perhitungannya baru sampai pada tahun 1600-an. Dalam hal ini jelas ada perhitungan sejarah yang tercecer.

“Untuk menghimpun sejarah Minangkabau yang penuh dengan makna, ini jelas tugas bersama untuk mempertautkannya. Sebab, sejarah suatu bangsa bukanlah terletak pada pundak satu angkatan saja, tetapi terletak di setiap pundak angkatan yang datang silih berganti dan bertukar tiap sebentar. Tugas kita semualah untuk mencarinya,” kata Abdul Hamid, salah seorang pemuka adat dari Nagari Pariangan selaku nagari tertua di Minangkabau.
Akan halnya Mande Rubiah, kalaulah bukan karena dibuka jalan lintas Sumbar Bengkulu dan transmigrasi di Lunang, maka tabir sejarah Rumah Gadang Mande Rubiah tidak akan ditemukan. Salah satu bukti sejarah yang ada hubungannya dengan Pagaruyung itu baru diketahui masyarakat secara luas, baru pada tahun 1960-an. Sebelumnya, boleh dikatakan hanya masyarakat Nagari Lunang dan sekitarnya saja yang tahu kalau yang menghuni rumah gadang itu adalah keturunan Bundo Kanduang..

Siapa Bundo Kanduang kenapa dia sampai ke Lunang? Inilah sebuah pertanyaan yang hingga sekarang belum mendapat jawaban yang memuaskan sebagai acuan bagi generasi berikutnya.
Jika memang Bundo Kanduang itu identik dengan Mande Rubiah yang ada di Lunang ini kita harus membuktikan apa yang diwarisinya sekarang, apakah berasal dari Pagaruyung atau ada kesamaan dengan Pagaruyung. Semua itu masih perlu pembuktian.

( Sumber www.sumbarprov.go.id)

About these ads

18 Responses to “Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)”


  1. 1 botsosani
    Mei 18, 2010 pukul 8:38 am

    Saya pun berpendapat demikian. Meskipun ada beberapa perbedaan dalam penafsiran. Saya menganggap Dang Tuanku adalah Adityawarman, Cindur Mato adalah anak angkat Dara Jingga (Bundo Kanduang)yang pada waktu Era Adityawarman bertugas sebagai panglima perang. Usia Dang Tuanku dan Cindua Mato terpaut jauh. Dan usia Dang Tuanku dengan Puti Bungsu juga terpaut jauh. Menurut sejarah, Adityawarman diangkat menjadi raja Pagaruyung (waktu itu masih di Saruaso), pada saat umur 45 tahun, karena karir militernya yang mentok di Majapahit kalah oleh saudara seperguruannya Gajah Mada yang diangkat menajdi patih Majapahit. Adityawarman pun tewas karena oleh kudeta di Pagaruyung yang tidak menghendaki sistem feodal jawa diterapkan di Minangkabau.
    Setelah menikah dengan Puti Bungsu dan mempunyai putra Ananggawarman, terjadi pemberontakan di beberapa nagari di daerah Taluak Kuantan yang dipicu oleh Imbang Jayo yang masih dendam karena gagal mempersunting Puti Bungsu. Pemberontakan ini berlangsung cukup lama, dan puncanya ketika Imbang Jayo beserta sekutunya berhasil membunuh Adityawarman (menurut legenda Adityawarman terbunuh di Batu Pancar Matoari). Melihat posisi keluarga kerajaan yang terancam, Cindua Mato segera mengambil tindakan, ia segera mengungsikan Dara Jingga, Puti Bungsu, Puti Lenggogeni (istrinya yang sedang hamil ). Rombongan ini dikawal oleh 4 lusin pemuda dari Indo Puro. Adapun kemenakannya, Ananggawarman, tetap disembunyikan di Pagaruyung. Sebelum berangkat, Dara Jingga membungkus pakaian yang dikenakan Adityawarman ketika tewas terbunuh dan menyimpannya.
    Agar masyarakat Pagaruyung dan seluruh rantau yang masih setia dengan pagaruyung tidak panik, Cindua Mato meminta agar kepergian Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu dan Puti Lenggogeni sebagai kirab ke langit (sesuai kepercayaan tahyul masyarakat pada waktu itu).BUngo Kanduang kemudian memutar Gunung Merapi, menyisir Danau Singkarak, Terus ke Gunung Talang, melewati Sungai Pagu. Dari sungai pagu, Bundo Kanduang menerobos lebatnya Hutan membelah bukit, dan sampailah di Lunang. Dan dimulailah kehidupan disana. Kemudian baju Dang Tuanku di Kubur sebagaimana layaknya kuburan seorang Muslim.
    Sepeninggal Bundo Kanduang, Cindua Mato atas bantuan penghulu dan hulubalang di daerah Luhak dan Rantau Pasisia, berhasil menumpas pemberontakan Imbang Jayo. Pagaruyung kembali ditegakkan wibawanya.Selama kekosongan raja, Cindua Mato meminta para penghulu adat, Basa Ampek Bali, kedua Raa dari Rajo nan tigo untuk memegang sistem pemerintahan. Adapun Adityawarman fokus pada mendidik Ananggawarman dan keamanan / pertahanan Minangkabau.
    Setelah Dewasa, Ananggawarman dinobatkan sebagai raja Minangkabau. Dasar-dasar pemerintahan yang ditinggalkan mendiang ayahnya tetap dipakai, ditambah dasar-dasar Militer yang juga kuat. Setelah penobatan Ananggawarman menajdi raja, Cindua Mato kemudian menyusul Bundo Kanduang ke Indra Pura, dan terus ke Lunang. Sesampai disana, ia dapat Bundo Kanduang sudah sangat renta, anaknya pun juga sudah besar. Akhirnya Cindua Manto beserta Bundo Tercintanya dan keluarga menghabiskan akhir hayatnya disana.
    Ini hanya hipotesa saya. Mungkin agak sedikit fiksi, tapi saya rasa juga ada alasannya. Karena pada saat itu, negeri rantau Barat yang maju adalah Indra Pura dan Pariaman. Hubungan dengan Pariaman agak kurang baik karena pengaruh Pagaruyung tidak terlalu kuat disana, sedangkan Indrapura adalah wilayah rantau pasisie yang sangat loyal dengan Pagaruyung, sehingga Cindua Mato mempercayakan keluarga tercintanya disana.

  2. Mei 22, 2010 pukul 3:08 am

    wah… jadi tahu nih.. makasih ya????

  3. 3 amir bikersmagz
    Desember 24, 2010 pukul 9:44 am

    uda bot,,,
    Rayo 2010 patang ambo lah sampai di Tapan,,, dr situ Lunang,, hanya beberapa Km lagi,,
    pas carito ka kawan, dr Tapan,, ditanyo kok indak ka rumah gadang mande rubiah,, hehehe

  4. Juli 4, 2012 pukul 5:26 am

    maaf, sekedar meralat.

    sebenarnya Bundo Kandung itu bukan cucu Raja Tribuana Mauliwarmadewa, melainkan cucu dari Ananggawarman. nama asli Bundo Kanduang adalah Puti Panjang Rambut sama dengan nama mak tuonya. Ibu dari Puti Panjang Rambut adalah Puti Reno Bungsu alias Puti Silindung Bulan. Puti Silindung Bulan adalah adik kandung dari Puti Reno Panjang Rambut (I) dan Puti Reno Selaras Pinang Masak. Ketiga Puti tersebut adalah putri2 dari Ananggawarman dengan istrinya Puti Reno Dewi.

    ayah dari Bundo Kanduang adalah Dewang Pandan Putowano alias Tuanku Marajo Sati, adik dari Dewang Bonang Sutowano. Putowano dan Sutowano adalah anak mamak dari Puti Silindung Bulan.

    demikian. terimakasih

    • 5 ~padusi~
      Juli 6, 2012 pukul 9:06 am

      Sesuai dengan pendapat saya bahwa Bundokanduang ada disetiap Ka Nagarian. Silahkan saja anda Lubuk Gambir menafsirkan Bundokanduang menurut versi anda. Hanya saja mana yang lebih dikenal, mana yang menjadi terkenal, tergantung pada si Tukang Kaba. Karena zaman dahulu tidak pernah ada catatan sejarah..

  5. November 5, 2012 pukul 4:10 am

    Website bagus . .
    Salam dari Yogyakarta

  6. 8 indra_jambak
    November 5, 2012 pukul 8:45 am

    paniang den,ndak do yang jaleh carito sajarah nyo,yang iko lah-yang iko lah…,banyak ota kadai kopi se sadonyo….,lama2 minang ni ilang di telan sejarah yg ndak jelas juga…,segitu banyak keturunan minang yg kayo,apa gak da yg mau mendanai penelitian sejarah,kalau mmg gak da yg mau,memang pilik kariang urang minang ko,ta impik nak diateh,takuruang nak dilua…,sifat asli urang awak..

  7. Desember 24, 2012 pukul 1:42 pm

    Kalau dilanjutkan dengan carito rajo mudo nan salapan nan dilapeh dek bundo kanduang, sampai ka karajaan Limo Laras di Lipapuluh Kisaran dan kerajaan negeri Sembilan dinegeri jiran Malaysia, anda dan kita semua akan semakin ” binguang ” .

    Ado kawan nan barencana mabuek proporsal penelitian secara komprehensif pado setiap jejak langkah urang Minang Kabau, namun sepertinya patah pucuak, layu sebelum berkembang, ya seperti itu tadi, alun dikakok la dipaido, kok cameeh kahn memang urang awak jawaranya.

    Sayang sangat disayangkan, memang.

  8. Januari 1, 2013 pukul 1:24 pm

    salam, sanok, terjawab sebagian misteri dang tuanku sutan remendung yang tercatat di dalam silsilah turun temurun seluruh rakyat lebong suku VIII dan suku IX..sebagai kakek buyutnya pantaslah mengapa tak ada tertulis dalam silsilah raja2 pagaruyung rupanya memang sengaja ingin dihapus oleh mande rubiah sendiri…, silsilah yang tercatat turun temurun di dusun kami, dimulai dr rajo mudo gelar rajo megat sutan saktai (yg menurut cerita saudara kandung dari putri sipanjang rambut 2) yang menikah dengan putri gilang, adik rio bitang dipelabai, melahirkan anak putri senggang dan puti bungsu serta pangeran setio kelawang, silsilah dilanjujtkan :

    Rajo mudo (gelar rajo megat/raja jang pat petuloi renah sekalawi (sekrang lebong) + putri gilang = putri senggang, putri bungsu, p,setio kelawang

    Puti Bungsu menikah dg sepupunya + Dang Tuanku Sultan remendung 2 (putro si panjang rambut 2) = Sutan Sarduni gelar rio mawang), putri sariduni, saat dewasa sutan sarduni pergi ke renah sekalawi mencari kakeknya rajo mudo dan menggantikannya sebagai raja jang tiang pat ke 2 saat ini suku VIII dan suku IX baru sampai ke urutan silsilah yg ke 22 dan 23 (terhitung dari rajo mudo rajo megat)

    • Januari 1, 2013 pukul 1:27 pm

      dan keturunan sutan remendung menggunakan dua bahasa, melayu minang rejang (suku yang pada awalnya lebih dulu mendiami wilayah itu/pendatang dari serawak, cina, dan majapahit), rajo mudo gelar rajo megat sutan saktai perwakilan dari pagaruyung untuk renah sekalawi

  9. 12 amazon
    Maret 11, 2013 pukul 3:37 am

    KECEK URANG DAREK.. MODE IKO SEJARAHNYOOO…KECEK URANG PASISIA MODE KO SEJARARAH…ALUN ADO KESELASANYO YANG SABANAYO…. KABA KADAI KOPI…… BARU,,,,,

  10. 13 Chayank andi
    Maret 22, 2013 pukul 6:10 pm

    Sbab lari bndo kanduang ke nagari lunang adalah krna krajaan pagaruyuang dserang trus oleh krjaan imbang jayo dr jambi..krna dia dendam kpda dangtuanku krna tlah mlarikan tunangannya yaitu puti bungsu.nah itulah sbabnya bundo lari ke lunang.stlah tba d lunang maka bundo kanduang brubah mnjdi mande rubiah untk mghapus jejak.bhkan rumahnya mande rubiah jg d robah bntuknya.cerita ini dr sya dpt dr guru saya d pariaman.dan guru saya mndpat dr seorang pemuka adat lunang.

  11. April 10, 2013 pukul 3:56 am

    Attractive component to content. I simply stumbled upon your
    web site and in accession capital to assert that I get in fact
    loved account your blog posts. Any way I’ll be subscribing on your augment or even I fulfillment you get entry to constantly fast.

  12. 15 andiko
    Mei 12, 2013 pukul 7:34 am

    D Sabananyo lah jaleh asal muasal minangkabau, yaitu dari darek, yaitu pagaruyuang. Jdi bundo kanduang pai kalunang dan melanjutkan hdup dilunang dan bganti namo manjdi mande rubiah sampai akhr hayatnyo dan dkburkan dilunang.

    • 16 asrizal anduang
      Agustus 13, 2013 pukul 9:42 am

      Dengan keterangan sejarah minang diatas emang ada keraguan/kerancua sejarah yg asli .karna apa yg dituangkan slalu ado nan ditambah bumbu/dikurangi supaya yg medegar cerita ini senang.itu namanya pembodohan kaum sendiri(minangkabau ) maaf sebelumnya (kesalaha pada manusia minta maaf salah ka tuhan minta ampun) saya penah baca Artikel/Tambo minang jumlahnya 47 halaman dg bahasa arab melayu.cuma yg ada di indonesia cuma 10 halaman 2 da 1 di inggis 2 lokasi dan 31 hal 3 hal ada di belanda

  13. 17 Febian
    Oktober 1, 2013 pukul 4:56 pm

    salam saya dari bengkulu…. saya punya leluhur julukannya putri rambut mas… nama suaminya aminullah atau bergelar makhdum sakti… menurut leluhur saya di bengkulu selatan beliau datang dari kerajaan minang dan kabarnya anggota dari 4 baso…. kalo menurut sejarah yg kami pegang pada saat si Andiko Panjang Gombak dalam bahasa kami si panjang rambut (banyak julukannya kalo di bengkulu panjang janggut/panjang rambut/poyang bejebai) diusir dari minang dia pun pergi ke arah bengkulu… pada saat itu kawannya adalah makhdum leluhur saya tadi….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 553,890 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: