13
Des
10

” Kubuang Tigo Baleh “


Daerah Solok dalam Tambo Minangkabau dikenal dengan nama Kubuang Tigo Baleh yang merupakan bagian dari Luhak Tanah Datar. Daerah ini tidak berstatus “Rantau” (daerah yang membayar upeti), malah mempunyai Rantau dan Pesisirnya sendiri.

Daerah Rantaunya adalah Alam Surambi Sungai Pagu (Solok Selatan) dan pesisirnya adalah daerah Padang Luar Kota dan sebagian daerah Pesisir Selatan.

Dalam pepatah adat disebut, Aso Solok duo Salayo, ba-Padang ba-Aia Haji, Pauah Limo Pauah Sambilan, Lubuak Bagaluang Nan Duo Puluah.

Dari naskah Tjuraian Asal Mula Negeri Solok dan Salajo, diperoleh keterangan bahwa nama Kubuang Tigo Baleh berasal dari datangnya 73 orang dari daerah Kubuang Agam ke daerah yang sekarang disebut Kabupaten dan Kota Solok.

Tiga belas orang di antaranya tinggal di Solok dan Selayo serta mendirikan Nagari – nagari  di sekitarnya, sedangkan 60 orang lainnya meneruskan perjalanan ke daerah Lembah Gumanti, Surian, dan Muara Labuh.

Ketiga belas orang ini menjadi asal nama Kubuang Tigo Baleh. Mereka pula yang mendirikan Nagari-nagari di sekeliling Nagari Solok dan Selayo. Kedua nagari ini disebut “Payung Sekaki” bagi nagari-nagari di sekitarnya.

Tiga belas Nagari yang menjadi inti daerah Kubuang Tigo Baleh, yang merupakan cikal bakal Kabupaten Solok, Nagari-nagari itu , adalah Solok, Selayo, Gantungciri, Panyakalan, Cupak, Muaropaneh, Talang, Saoklaweh, Guguak, Koto Anau, Bukiksileh, Dilam, dan Taruangtaruang.

Beberapa nagari lainnya yang merupakan pemekaran dari ketiga belas nagari yang disebut di atas adalah Tanjuangbingkuang, Kotobaru, Kotohilalang, Gauang, Bukiktandang, Kinari, Parambahan, Sungaijaniah, Limaulunggo, Batubajanjang, Kotolaweh (Kec. Lembangjaya), Batubanyak, Kampuang Batu Dalam, Pianggu, Indudur, Sungai Durian, Sungai Jambua, Guguak Sarai, Siaro-aro, Kotolaweh (Kec. IX Koto Sungai Lasi), dan Bukit Bais.

Nagari Guguak yang sekarang merupakan bagian dari Kecamatan Gunung Talang memekarkan diri menjadi tiga nagari, yaitu Kotogadang, kotogaek, dan Jawi-jawi.

Beberapa nagari lainnya kemudian juga bergabung ke dalam konfederasi Kubuang Tigo Baleh, yaitu, Batang Barus, Aia Batumbuak, Simpang Tanjuang Nan Ampek.

Nagari-nagari yang sekarang tergabung ke dalam Kecamatan Payung Sekaki ;  Danau Kembar, Lembah Gumanti, Pantai Cermin, Tigo Lurah, dan Hiliran Gumanti.

Dua kecamatan lainnya, Sungai Pagu dan Sangir yang sekarang menjadi Kabupaten Solok Selatan juga mempunyai kaitan dengan Kubuang Tigo Baleh karena sebagian penduduk berasal dari daerah ini.

Meskipun jumlah nagari yang tergabung di dalamnya sudah lebih dari tiga belas nagari, tetapi namanya tetap Kubuang Tigo Baleh.

Sementara itu nagari-nagari yang terletak di bagian utara Kabupaten Solok, yang tergabung dalam kecamatan X Koto Singkarak (beserta daerah pemekarannya Kecamatan Junjuang Siriah) dan Kecamatan X Koto Diateh tidak disebut dalam tambo ataupun data lainnya, sebagai bagian dari Kubuang Tigo Baleh.

Daerah Kubung Tigo Baleh memiliki balai adat yang dipergunakan bersama untuk berkonsultasi antara nagari – nagari di kawasan Kubuang Tigo Baleh. Balai adat ini terletak di Nagari Selayo dengan nama Balai Nan Panjang Kubuang Tigo Baleh.

Balai adat Selayo – merupakan pusat untuk mencari keadilan dalam hal sengketa adat. Dengan demikina menjadi milik Kubuang Tigo Baleh secara adat. Nagari Selayo sekaligus memiliki kehormatan sebagai tempat penyelesaian sengketa adat.  Apbila ada perkara adat yang tidak mampu diselesaikan oleh masing masing Nagari di Kubuang Tigo Baleh ini, maka akan diselesaikan di Kerapatan Adat Nagari Selayo.

Praktis, Selayo diasumsikan sebagai ‘bapak’-nya Kubung Tigo Baleh. Konsekuensinya,  Badai adat Selayo – sebagai lembaga – yang dianggap bertuah ini wajib “manyalasaikan nan kusuik, manjanihkan nan karuah” , ketika pada tingkatan Nagari-nagari diwilayah ini tidak mampu memutus suatu perkara.

Kisah Heroik Makam dt. Parpatih nan Sabatang

Sisi lain yang cukup melegenda di Nagari Selayo adalah keberadaan makam Dt. Parpatiah nan Sabatang yang terletak di Munggu Tanah, Jorong Batu Palano, Nagari Selayo dan Kayu Gadang yang konon dulu berasal dari tongkatnya Dt.Parpatih nan Sabatang yang ditancapkan di Aie Manjulua, di Bawah Jao.  Begitu juga dengan kuburan samaran Dt. Parpatih nan Sabatang berada di kawasan yang sama.

Seperti yang dikisahkan melalui suatu wawancara penulis (2001) dengan Djanatin Dt. Putiah semasa hidupnya (kini sudah almarhum), juga ditulis (almarhum) Soewardi Idris dalam bukunya Selayo (1992) yang didasarkan dari naskah Djanatin Dt.Putiah, seorang tokoh adat Nagari Selayo dan juga menjadi Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.

Naskah Djanatin Dt. Putiah, disarikan atas keterangan Alm. Muhammad Saat Dt. Rajo Timbua yang masa hidupnya adalah seorang tokokoh adat dan pejuang kemerdekaan dengan memperoleh penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan.

Konon ceritanya – sekembalinya Dt. Parpatih nan Sabatang dari Jawa membawa dua orang teman, masing-masing ahli pertanian bernama ” Tumangung ”  dan seorang lagi Pangeran Rajo Bantan.

Dt. Parpatih nan Sabatang menetap di kediaman Dt. Gadang (Penghulu Suku Kampai). Kemudian dia mengangkat dua orang pengawal, masing-masing Dt. Baniang Bapawik dan Dt.Baramban Duri Rukam, keduanya dari Suku Chaniago.

Dari Tanah jawa, Dt. Parpatih membawa sebuah tongkat. Tongkat dibawa dari tanah Jawa. Banyak orang menyebutnya sebagai tongkat kayu Jao. Sebelum menuju negeri Alahan Panjang, Dt. Parpatih nan Sabatng berhenti sesaat di Aie Manjulua yang persis diarea perbatasan antara Nagari Selayo dengan Nagari Solok.

Kepada para ninik mamak, Datuk Perpatih nan Sabatang berucap :

”Hai seluruh ninik mamak Nagari Solok dan Nagari Selayo. Dimana tanah dipijak, dirikanlah Nagari beserta adatnya. Tanah lupak jadikan sawah, tanah keras jadikan ladang, gurun tandas jadikan padang halauan (gembalaan).”

Setelah memberikan pitua, maka Dt. Parpatih nan sabatang menancapkan tongkatnya di perbatasan kedua nagari tersebut dan konon kabarnya hingga sekarang masyarakat Nagari Selayo pada umumnya menyakini bahwa pohon besar yang berdiameter lebih kurang 2 meter dan bertinggi sekitar 70 meter tersebut berasal dari tongkat Dt. Parpatih nan Sabatang. Sampai sekarang kawasan itu bernama BawahJao.

Suatu ketika Dt. Parpatih nan Sabatng terbaring sakit dikediaman Dt. Gadang, maka begiliranlah para ninik mamak di Kubuang Tigo Baleh menjenguk dan menunggui. Pada akhirnya, mujur tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, Tuhan maka berkehendak, akhirnya Dt. Parpatih nan Sabatang meningggal dunia.

Tersebarlah kabar kesentero wilayah Kubuang Tigo Baleh atas wafatnya Dt. Parpatih nan Sabatang hingga sampai ke daerah Silungkang.  Masyarakat Silungkang pun merasa memiliki sosok Dt. Parpatih nan Sabatang, berhasrat untuk membawa jenazah Dt. Parpatiah nan Sabatang ke negerinya. Masyarakat Selayo jelas berkeberatan jika jenazah dibawa oleh orang Silungkang ini.

Upaya yang dilakukan oleh Masyarakat Selayo ialah dengan mengarak jasad Dt.Parpatih nan Sabatang ke Munggu Tanah, arah barat pusat Nagari Selayo.

Kemudian masyarakat Nagari Solok,  mengusulkan untuk membuat kuburan samaran yang diisi dengan sebatang pohon pisang di atas sebuah munggu di tengah sawah – yang letaknya tidak jauh dari tempat tumbuhnya kayu Jao. Jelas sekali kuburan yang dibuat ini – hanyalah sebagai upaya mengakali dan menghalangi keinginan orang Silungkang, yang berkeinginan untuk mengambil jenazah Datuk Perpatih Nan Sabatang dari Negeri Selalyo.
Sesampainya rombongan masyarakat  Silungkang di negeri Selayo, maka disambutlah kedatangan rombongan ini oleh orang Nagari Solok dan Nagari Selayo dengan hidangan makanan.  Setelah itu Masyarakat Silungkang ditawari -  untuk melihat kuburan Dt. Parpatih nan Sabatang.

Disinyalir dari ide rencana kedua Orang nagari ( SOLOK dan SELAYO),  ini lahirlah sebuah pituah yang berbunyi :

“Aka Solok, Budi Selayo.”

Maksudnya ialah ide dan rencana datangnya  dari orang Solok – namun yang menyambut dengan keramah tamahan serta menyediakan dan melayani makan adalah orang Selayo. Orang Selayo dianggap memiliki budi yang baik.

Konon ceritanya, pihak Orang Silungkang ternyata tetap bersikeras untuk membawa jenazah Dt.Parpatih nan Sabatang ini  ke negerinya. Mereka berupaya menggali kuburan samaran Datuk Pertpatih  Nan Sebatang ini. Betapa terperanjatnya orang Silungkang melihat kenyataan, ketika kain kafan dibuka ternyata didalamnya hanya sebatang pohon pisang. Mereka berkeyakinan bahwa Dt. Parpatih nan sabatang – yang dipujanya ini adalah seorang yang keramat.  Sehingga akhirnya mereka tidak berniat untuk membawanya ke Negeri Silungkang.

Konon dari peristiwa ini lahir ungkapan ”angguak anggak geleang amuah, tunjuak luruih kaliankiang bakaik”. Maksudnya,  orang Selayo menunjukkan arah kuburan samaran – tetapi mereka membelakangi daerah munggu tanah tempat kuburan asli Dt. Parpatih nan Sabatang.

Dari cerita masyarakat sekitar yang kemudian menjadi melegenda, konon dulunya, makam Dt. Parpatih nan Sabtang menunjukkan gejala aneh yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Bila menjelang akan terjadinya musibah melanda Negeri sekitarnya, maka ada bunyi yang menggelegar atau manggaga, berasal dari makam tersebut.

Anehnya, bunyi gelegar itu terus berlanjut hingga terdengar di kuburan Parak Tingga, pekuburan Lubuk Kilangan dan poekuburan di Galanggang Tangah (semua dalam kenagaraian Selayo). Katanya, bunyi gelegar itu terdengar beberapa hari sebelum terjadinya bencana gempa maha dasyat tahun 1926. Banjir besar tahun 1927. Masuknya bala tentara Jepang pada tahun 1943 serta menjelang masuknya Sekutu ke Indonesia. Yang terakhir masyarakat setempat mendengar – saat saat menjelang meletusnya peristiwa G – 30 S/ PKI pada tahun 1965.

Dulunya -  makam Dt.Parpatih nan Sabatang dianggap keramat dan sering dijadikan tempat berkaul bagi masyarakat sekitarnya seperti saat turun ke sawah, menjelang panen, minta hujan, dan lainnya. Namun tradisi itu mulai hilang sejak berkembangnya ajaran Islam terutama disebarluaskan oleh Muhammadyah.

Makam itu kemduian direhab dengan model atap bagonjong pada tahun 1993 – berkat bantuan pemerintah dan swadaya masyarakat. Makam Datuk Perpantih Nan Sabatang ini – hingga kini terlihat sangat terawat yang dijaga oleh seorang juru kunci. Selain makam Dt. Parpatih nan Sabatang disampingya juga ada pusara kedua pembantunya yaitu Tumangguang dan Pangeran dari Bantan.

Pengakuan  Sebagai Makam Dt. Parpatih nan Sabatang

Seperti yang dituturkan oleh salah seorang petinggi adat Nagari Selayo ” Fajri Hamzah gelar Malin Batuah” yang notabene adalah mantan Kepala Desa Selayo Ateh era tahun 1990-an – menyebutkan bahwa, yang pernah berkunjung ke makam Dt. Parpatih nan Sabatang adalah Prof. Peggy R. Sanday dari Kalifornia (Amerika Serikat) didampingi oleh dua orang staf ahli adat dari Batusangkar.

“Diakui oleh kedua ahli adat dari Batusangkat tersebut bahwa memang di Selayo inilah dikuburkannya Dt. Parpatih nan Sabatang, lantaran di Limo Kaum tidak ditemui adanya makam Dt. Parpatih nan Sabatang,” ungkap Malin Batuah.

Diakui Malin Batuah, pernyataan itu didukung dari tulisan alm. Anas Navis dalam tulisannya berjudul “Makam Itu Makam Datuak Parpatih Nan Sabatang” yang dimuat diharian Singgalang (1/9/1991).

Kebenaran tulisan AA Navis itu berdasarkan kenyataan bahwa munculmy Makam Dt. Parpatih nan Sabatang dalam Tambo Minangkabau di Perpustakaan Nasional yang dipaparkan dalam beberapa bahasa.
Tulisan ini lebih kepada informasi semata, sejatinya kebenaran sesungguhnya tentang makam Dt.Parpatih nan Sabatang itu berada pada yang “ahli” nya.  Wallahu alam.

Sumber :
– Selayo (1992) karya (almarhum) Soewardi Idris
- Mengutip tulisan Witrianto

- Wawancara penulis artikel ini dengan Almarhum Djanatin Dt.Putiah (2001)
- Wawancara dengan Fajri Hamzah Malin Batuah

About these ads

12 Responses to “” Kubuang Tigo Baleh “”


  1. 1 ~padusi~
    Desember 17, 2010 pukul 8:46 am

    ALL Urang Minangkabau dimanapun berada,

    Ada info yang masuk akal seputar arti KUBUNG , sebagai berikut :

    1. KUBUNG adalah KUBU – Tapak – Situs, yang terdiri dari 13 Nagari yang mewakili 13 orang datuk yang hijrah dari Tanah datar dan menyebar serta membentuk 13 Nagari diseputar SOLOK.

    2. KUBUANG – tidak ada hubungannya dengan ku – buang – yang atinya membuang. Karena tidak ada penggunaan bahasa Minang atas penyebutan nama subyek ” AKU “.

    Mudahan penjelasan ini berguna bagi warga minangkabau.

  2. 2 Witrianto
    Januari 28, 2011 pukul 8:23 am

    terimakasih atas tulisannya. bagus

  3. 3 Buldiasman dt majo basa
    Februari 27, 2011 pukul 6:44 pm

    tolonglah tinjau ulang sejarah kubuang tigo baleh ini, jangan tergesa-gesa atau dipaksakan menulis yang tidak pasti. Ingat…! Nagari Gauang adalah Nagari inti Kubuang tigo baleh sebab Ibu Solok, Bapak Salayo, Kakak Gauang, Adiek Panyakalan. ini diibaratkan dalam suatu kepengurusan suatu organisasi yang ada Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara = Ibu, Bapak, Kakak dan Adik seperti yang disebutkan diatas tadi. Wassalam.

  4. 4 Junaidi St.Sinaro
    Agustus 4, 2011 pukul 2:30 pm

    Ass ww, sangat menarik perhatian saya tulisan tentang Kubuang 13, karena saya orang Agam sangat banyak manfaatnya buat saya begitu banyak yang harus kita gali dan kita publikasikan kepada generasi muda Minangkabau, terlepas mana yang benar dan yang mana kurang tepat menurut saya tentu ada nilai lebih dan jelas ada kekurangannya, namun yang paling pokok adalah Generasi muda sudah dibekali dengan sumber sejarah yang kebenaranya biarlah dia membuktikan nanti, dari pada sebuah cerita yang hanya tumbuh dan berkwmbang dari mulut kemulut, yang pasti dari waktu akan punah karena tidak sempat lagi bercerita dg generasi di bawahnya. Bagi yg punya sejarah tulislah sejarah adat di daerah kita masing2 agar kekayaan sejarah tidak pupus di makan masa, semoga

  5. 5 adrian
    Agustus 9, 2011 pukul 5:00 am

    kini sejara dari muncuang ka muncuang, dari lapau ka lapau lah banyak nan salah dari sa jangka jadi sa eto, sa eto jd sa dapo.bacarito ma nan kama untuangan urang nan bacarito, dima kaum nyo nan ka tapandan.lai ado tanbo jo awak nan bacarito tu, lai ado bukti sejarah nyo
    kini banyak urang nan di bawah lutuik nan cadiak-cadiak nak mancubo manuka sejarah
    cari lah sejarah ka koto ilalang tampek nagari rajo kubuang 13 sejarah nyo tuka dek urang cadiak nyo ndak bsa lo di tompang binguang ndak lo bisa d aja.ba iyo lah ka nagari pianggu di situ ado batang baringin nan paling gadang d nagari kubuang 13

  6. 6 Asnofaweri,AMK.Dt.Maliputi
    Oktober 14, 2011 pukul 1:37 am

    Tarimo kasi banyak ka angku2 niniak mamak nan lah mancurai papakan sajarah Kubuang 13..tapi,toloanglah tulisiek inok manuangkan.agak jauah malenceang dari sajarah lamo.Nagari GAUANG tak bisa angku2 tinggakan dari nagari inti Kubuang 13..kalau kito duduak baropok di Kubuang 13,iko akan menimbulkan banyak protes dari nagari2 inti lain kubuang 13..cubo lah samo2 kito tulisiek inok manuangkan bagi pamangku adat dan sajarah…
    wassalam

  7. Desember 8, 2011 pukul 9:35 am

    assalamu alaikum, Bu Evy

    ado perbedaan versi mengenai asa usua namo Kubuang 13.
    versi yang lain mangatokan bhw kato “Kubuang” ko barasa dari titah rajo : Ku Buang karena raja waktu itu adalah dari etnis Melayu di luar Minang, bukan orang Minangkabau luhak nan 3.

    tapi dalam tambo Sungai Pagu tidak ada disebutkan bhw ninik mereka berangkat bersama ninik 13, jadi tidak benar bahwa mereka berjumlah 73.

    siapa dan kapan ditulis buku curaian asal mula nagari solok dan salayo tsb? siapa penulisnya? soalnya dari buku inventarisasi 44 nagari di kabupaten solok, cerita “ku Buang” sama semunya pada nagari2 tsb.

    memang tidak tertutup kemungkinan bhw orang Kubuang Agam juga datang ke solok.
    tapi dari segi dialek juga sedikit berbeda antara dialek sungai pagu dengan dialek kubuang 13.

    makasih

  8. Desember 9, 2011 pukul 6:18 am

    Lubuk Gambir (Syafroni Malin Marajo)

    sptnya ada kerancuan disitu, buk, kok bisa dikatakan bhw salah satu rantau kubuang 13 adalah alam surambi sungai pagu?

    mengenai kata kubuang itu berasal dari “ku buang” itu mungkin2 saja buk, dan itu mengisyaratkan bhw adanya penguasa luar (non minang) saat ninik kubuang 13 beroposisi dengan mereka dan bisa jadi penguasa non minang inilah yang menyebabkan kelamnya sejarah tanah datar selama 200 thn.

    jebakannya disini adalah pada kata “kubuang”, di satu sisi memang di solok memang terdapat nama kecamatan “kubung”, dan di kampung saya, ada istilah “mansiang kubuang” artinya sejenis pandan yang tumbuah di rawa2… dan ada yg menyatakan bhw kubuang itu sejenis hewan langka…

    dan mgkn kebetulan pula ada nama daerah Kubuang di Agam, lalu orang mangaitkan asal muasal ke agam tp memang tidak tertutup kemungkinan bhw orang2 solok juga datang dari agam, dari segi bahasa/dialek hal itu masuk akal.

    ttg niniak 73, dalam tambo sungai pagu tidak ada keterangan bhw niniak 60-1 datang bersama niniak 13, tidak tersebut dlm tambo mereka, dan juga berbeda dari segi tradisi, orang sungai pagu membentuk pemerintahan sendiri dengan pola 4 raja, bukan rajo 3 selo..

    dari segi dialek juga berbeda antara sungai pagu dengan kubuang 13..

    satu hal lagi, tidak semua wilayah solok itu merupakan konfederasi kubuang 13..

    indikasi oposisi kubuang 13 thd raja di tanah data juga adalah keberadaan Dt Parpatiah NS di kubuang 13 yg menganut bodi caniago, selain itu ado info bhw yg bernama Dt Parpatiah NS juga menyingkir ke Sumpur Kudus karena menentang sikap kaum koto piliang..

    makasih

  9. 9 dafid
    Agustus 13, 2012 pukul 8:32 pm

    maaf tolong anda cek kembali soal mulai soal nagari”tua
    dilam itu dulunya bagian dari kinari jd bagai mana bisa dilam lebih dulu dari kinari?
    kalau bikin info konfirmasi dulu secara komplit
    sejarah bukan buah pikiran anda sendiri tp fakta masa lalu

  10. September 2, 2013 pukul 3:04 am

    Nagari gantuang ciri dan selayo satu rumpun tp koq bsa saling terjadi keributan. Dan dmn sebenar nya m$akam dt.perpatih nan sabatang it

  11. 11 bandaro taboe
    Maret 4, 2014 pukul 12:17 am

    mari kita padukan cerita ini dan mohon juga menggali sejarah solok lebih detail dan lebih banyak lagi, dan ada baiknya banyak bertanya dulu pada orang 2 yg mendirikan atau membuka lahan pertama di solok, jangan simber 2 atau tida orang saja, masih banyak penulis solok di era 90 an yg menulis berdasarkan situs, bisa saja dasar pemikiran ilmiahnya bahwa kubuang atau kubung 13, singkatnya kalau kubuang adalah titah raja, sekitar tahun berapakah itu? dan yg dibuang siapa saja??, asal buangnya dari negeri mana di minangkabau, trus jenis kelamin yg dibuang itu apakah laki2 saja? sebab ada keterkaitan nantinya berdirinya nagari sebanyak 13 itu dengan kecepatan populasi manusia dalam dekade tersebut smp sekarang masuk akal ngga, kemudian jangan lupa sebutkan kalau ada perempuan juga yg dibuang??, dan satu lagi saya juga mendapatkan informasi sebagai orang solok, bahwa dimasa penjajahan tersebut tercetuslah sebuah kiasan yg ditujuakn pada pihak belanda sebagai suatu upaya penyelamatan negeri solok katanya sementara nagari lain seperti agam sedang berkecamuk perang paderi kiasan tersebut adalah : aso solok, duo selayo tigo padang, ampek kompeni??? yg katanya juga melahirkan sebuah trik penipuan terhadap belanda yg dikenal dengan, angguak anggak, geleng amuah talunjuak luruih kalingkiang bakaik yg sebenrnya ini adalah trik datuak2 pada saat itu agar kaum adat di solok selamat dari adu domba belanda yg telah dilakukanya di negeri2 lain di minangkabau, terangkan juga ya pak datuak sambilan sebagai orang yg pertama membuka solok siapa saja?? dan ini juga berlaku di daerah kubuang 13 yg masing2 daerahnya punya datuak 9 orang juga…. dan yg lebih penting dari masing2 negeri kubuang 13 baik itu disolok selayo, guguak dst mereka punya balahan atau saudara yg sama gelar mereka dalam adat , bagaimana ini terjadi? kalau mengenai balai adat selayo , silahkan liat dulu pak giman bentuknya, masih ada kok balai adatnya ? rumah adatnya tidak punya tangga atau janjang , dan siapa saja yg masuk harus jonggkok sedikit kedalamya, ini berlaku disemua pemangku adat di kubuang 13, semua ada filosopinya pak, dalam kedudukan duduak samo randah tagak samo tinggi, dan gali lagi asal muasal datuak nan 9 sambilan yg didalamnya terdapat bodi caniago, dan koto piliang situsnya lengkap dibatusangkar, liat di 5 kaum, sungai tarab dan sungaiyang.. apakah solok dari agam?????? atau batusangkar??? kalau dari agam daerah apa, kalau batusangkar daerah apa??? semoga kita semua bisa menjadi orang yg mencari kebenaran atas asal muasal kaum dengan akal yg berlandaskan agama dan akhlak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 513,724 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Desember 2010
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: