03
Dec
11

Peran Bako di Kampuang Kami

Oleh : Reni Sisriyanti

 

Betapa besar peran saudara Ayah atau Bako di kampuang kami. Bako , adalah sebutan untuk keluarga dari bapak.  Siapa yang  mengatakan mereka tidak ada perannya ?  Semenjak lahir sampai saat nanti kita dikuburkan – kita tidak akan luput dari peran bako ini. Berikut ini catatan saya mengenai peran bako itu :

1. Ketika  si Upiak/ Buyuang lahir, maka si Bako bergegas ke tempat bidan atau kerumah  si Menantu membawa Sop panas  atau kacang padi( dua menu menu utama yang biasa dibawa kerumah  ibu si anak ujung emas atau anak pisang di kampung kami).

2.  Ketika u si Upik/Buyung pulang dari rumah  bidan atau rumah bersalin, maka si Bako bergegas pula  datang menengok. Kali ini  mambawa kain panjang serta payuang. Bahkan ada yang menyelipkan uang didalam amplop kepada si Ibu sang bayi sebagai penambah biaya persalinan. Dengan bangga pula si Bako mangendong bayi kecil itu dengan  kain panjang, mambawa pulang ke  rumah si besan dengan rasa bahagia sang bako.

3. Ketika si  Buyung minta di khitan (du sunaik), maka si Bako baperan pula disini. Tatacaranya, jika rombongan bako belum datangdan  rombongan yang mambawa  salomak – telor – beras – maka si Buyuang belum bisa di khitan karena yang akan mendampingi si Buyung berkhitan adalah si bako dan ayah/bapaknya.

4. Waktu si Upik/Buyung sudah atau akan berjodoh, maka muncul lagi  peranan si bako ini. Jika si bako orang berpunya atau tidak berpunya tidak jadi masalah. Indak kayu janjang dikapiang – demikian daya dan upaya yang dilakukan bako, sehingga disediakanlah perlengkapam isi kamar untuk si anak pisang atau anak ujuang ameh tadi. Minimal adalah sesuatu sekedar pengisi kamar anak dara itu. Ada pula  yang sering  ditanyakan orang dikampuang adalah waktu selesai akad nikah di rumah atau mesjid  ( yang biasanya dilaksanakan hari Jumat), ialah ketika menerima kedatangan rombongan bako yang menarik seekor kambing ka rumah si anak pisang. Biasanya yang ini dilakukan oleh  rombongan pria. Ketika malam hari, maka rombongan kaum padusi dari bako datang ke rumah anak pisang – untuk menghadiri malam bainai. Malam bainai ini  bukan sekedar memasang inai belaka. Melainkan sebelum acara bainai, maka selain rombongan bako, kaum perempuan disekitar rumah anak dara bergotong royong manyiapkan segala sesuatu yang akan  dimasak esok  pagi, berupa bumbu , memarut kelapa, memeras santan. Bila sudah selesai bergotong royong, maka saat itulah rombongan si bako ini  naik ka rumah si anak pisang dan kaum perempuan lainnya melakukan pemasanganb inai. Menikamti makanan kecil,  wajik dan kue2 karing lainnya. Nah saat itulah  lah pintu kamar anak dara dibuka dan di pemerkan kepada kaum perempuan yang hadir pada saat malam bainai itu. Demikian pula peranan si Bako, sabalun menarimo undangan makan dari kerabat lain ka rumah mereka, undangan bako ini yang ditunggu dahulu.

6. Bagi pasangan penganten baru,  mereka tidak asal pergi begitu saja ke rumah bako. Mereka harus  mambawa kue gadang. Dalam tata cara berpalaian pun mereka tidak asal pakai baju. Marapulai mamakai jas dan  kain saruang songket dan si anak darao mamakai sunting kecil. Jika ke tempat karabat lain cukup pakai baju kurung saja. Marapulai pakai batik atau kemeja. Sebaliknya di rumah bako. Apa saja yang dikehendaki si anak pisang akan di sediakan. Sambi dikamu makan dirumah bako itu, pasangan ini di nasehati oleh si bako. Ketika pulang dari rumah bako ada lagi yang dibawa pulang. Biasanya masakan kesukaan si anak pisang itu atau sesuatu yang dapat mengganti barang bawaan si anak pisang.

6.  Ketika nanti  si anak pisang melahirkan anak ,  maka si bako akan datang lagi melihat bayi si anak pisang berupa telor dan ayam, ( apo lah arti bareh, talua jo ayam ko yo ) termasuk segala keperluan si bayi.

7 . Jika si anak pisang ini sudah  sampai pula pada umurnya, maka kewajiban si  bako pula membawa kainkafan. Bahkan jika kain kaffan ini terlambat datang, maka si mayit belum boleh dibungkus. Jika tidak ada bako di rumah itu, maka orang yang  sasuku dengab  bako akan menggantikan kewajiban membawa kain kaffan itu dengan mengatasnamakan si bako. Jika tidak ada yang sesuku maka bisa digantikan kerabat yang terdekat.

Demikianlah 7 peranan si bako secara garis besar dikampuang saya  dan masih banyak peranan-peranan yang lainnya dalam semua peristiwa kehidupan manusia.


1 Response to “Peran Bako di Kampuang Kami”


  1. 1 Evi
    December 18, 2011 at 3:32 am

    Lah, bako saya kok tidak melakukan hal seperti ini yah hehehe…Tapi yg ideal-ideal seperti ini emang wajib dituliskan agar tak punah begitu saja, sehingga generasi muda Minang tak tahu menahu mengenai ritual adat seperti ini


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 246,511 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

December 2011
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARSIP

Flickr Photos

32307_600x450

9234_134982763109_81361918109_2594998_7912745_n

4952_92167418109_81361918109_2020487_7291851_n

4952_91825968109_81361918109_2015754_2762819_n

45

1z6ufs

rumah gadang

sitinjau lauik

singkarak

simpang sariak

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.