Archive for the 'A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU' Category

08
Des
13

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Lanjutkan membaca ‘Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau’

30
Mei
11

Kerajaan Pagaruyung : Hegemoni Melampui Sekat-Sekat Kewilayahan

http://geosejarah.org/index.php?option=com_content&view=article&id=65:kerajaan-pagaruyung-hegemoni-melampaui-sekat-sekat-kewilayahan&catid=34:artikel&Itemid=59

Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau merupakan salah satu kerajaan yang pernah ada dalam khazanah sejarah Minangkabau. Kerajaan yang diperkirakan berdiri pada abad ke-14 di daerah darek Minangkabau, tepatnya berpusat di Pagaruyung, Batusangkar. Kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan sekitar abad ke-15 Masehi, semasa pemerintahan Adityawarman berkuasa (Amran, 1981 : 37 ; Kiram, dkk, 2003 : 11 dan Imran, 2002 : 20). Sebagai sebuah kerajaan besar dizamannya, Kerajaan Pagaruyung sendiri memiliki kerajaan kecil sebagai “wakil raja” untuk memerintah di daerah. Kerajaan-kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung dan langsung diberi otonomi khusus untuk mengurus kepentingan pemerintah dan ekonominya. Lanjutkan membaca ‘Kerajaan Pagaruyung : Hegemoni Melampui Sekat-Sekat Kewilayahan’

13
Des
10

” Kubuang Tigo Baleh “

Daerah Solok dalam Tambo Minangkabau dikenal dengan nama Kubuang Tigo Baleh yang merupakan bagian dari Luhak Tanah Datar. Daerah ini tidak berstatus “Rantau” (daerah yang membayar upeti), malah mempunyai Rantau dan Pesisirnya sendiri.

Daerah Rantaunya adalah Alam Surambi Sungai Pagu (Solok Selatan) dan pesisirnya adalah daerah Padang Luar Kota dan sebagian daerah Pesisir Selatan.

Dalam pepatah adat disebut, Aso Solok duo Salayo, ba-Padang ba-Aia Haji, Pauah Limo Pauah Sambilan, Lubuak Bagaluang Nan Duo Puluah.

Lanjutkan membaca ‘” Kubuang Tigo Baleh “’

20
Apr
10

Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)

Pengantar  oleh : Hifni. H. Nizhamul

Benar atau tidaknya kisah ini, tidak begitu penting. Cerita dari mulut ke mulut menghasilkan ” KABA”. Dalam  dialektika Minangkaba, maka  si Tukang Kaba, akan mengisahkan sesuatu apa yang ia ketahui – ia dengar dan kemudian ia pahami. Kemduian  Kisah  di nukilkan dalam bahasa serta kiasan yang tinggi.

Bertitik tolah dari perangkat hukum adat, yang menempatkan kaum wanita dimuliakan secara adat, maka Bundokanduang selalu menjadi tokoh dalam suatu peristiwa. Bundokanduang  menjadi figur dan di identifikasi sebagai pilar dan tiang utama dalam sistem sosial kemasayarakatan.

Dari berbagai versi tentang bundokanduang, baik dari Pagaruyung maupun dari Lunang, dapat kita simpulkan bahwa Bundokanduang itu ada disetiap ka Nagarian atau wilayah Minangkabau. Jika ada seorang wanita yang memiliki keunggulan – kharismatik – dimuliakan secara adat dalam satu kekerabatan atau didalam suatu trah tertentu, maka Bundokanduang itu tetap akan hidup  sebagai simbol dan orang yang berpengaruh sebagai kharisma wanita minangkabau.

Lanjutkan membaca ‘Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)’

19
Feb
10

Istilah Minangkabau di era Bit Informasi

pengantar ~ padusi ~

Artikel ini diambil dari Situs Nagari.or.id, berjudul asli ” Minangkabau sebagai Bit Informasi”. Sangat menarik untuk memahami istilah Minangkabau sesungguhnya. Bahwa istilah yang sebelumnya diriwayatkan oleh Tukang Kaba atau Tambo-tambo sebagai istilah yang berasal dari kemenangan masyarakat minang zaman dahulu dalam pertandingan aduan kerbau.  Di era sekarang ini, dimana manusia tidak bisa lagi diajak memhami sesuatu dengan hal yang berbau mithos dan mistik, maka pemahaman istilah minangkabau di era bit informasi sangat perlu disebar luaskan. Untuk memudahkan pemahaman generasi muda maka kami menyadurnya menjadi potongan-potongan artikel  dalam postingan blog ini.

sumber : http://nagari.or.id/?moda=minangkabau yang artikel aslinya tersebut sebagai berikut :

Penduduk yang bermukim di nagari Tanjuang Sungayang dan Nagari Minangkabau di dekat nagari Pagaruyuang di Luhak nan Tuo, Tanah Datar, menyebut sumber mata air artesis di tempat mereka dengan sebutan “minang”.
Minang memiliki beberapa pancuran untuk mengalirkan airnya, sedangkan sumur mata air yang lebih kecil disebut sebagai “luak”.  Kata ini sering diucapkan pula sebagai “luhak”. Sebutan luak atau luhak memiliki pengertian yang sama oleh seluruh penduduk di daerah lainnya di Sumatera Barat.

“Tiada kehidupan tanpa air”, inilah dalil yang berlaku untuk makhluk hidup. Sementara kata minang berasal dari kata ma-inang yang berarti memelihara atau ibu yang memelihara anaknya.

Lanjutkan membaca ‘Istilah Minangkabau di era Bit Informasi’

15
Feb
10

Kronologis terjadinya istilah Minangkabau

Kronologis terjadinya istilah Minangkabau dalam Perspektif masyarakat  Nagari Tanjuang

sumber : http://nagari.or.id/?moda=minangkabau

Tulisan akan memaparkan munculnya kesadaran “Orang” bahwa pada hakekatnya bumi ini adalah sawah yang tanahnya liat/keras dan memerlukan “Kerbau” sebagai alat bantu untuk mengolahnya serta “Minang” sebagai sumber kehidupan “Manusia”.

ini gambar peta 4  nagari binary

Keterangan gambar :
Empat nagari binary yang bertetangga dengan kerajaan/nagari Pagaruyuang. Sebelum kedatangan penjajah Belanda, keempat nagari ini berkelompok secara adat. Setelah perang Padri berakhir, Belanda menyatukannya dengan sebutan kelarasan Tanjuang.

Mn = Lokasi keberadaan minang, sumber aie nan janieh (mata air hexagonal).  Empat nagari binary yang bertetangga dengan kerajaan/nagari Pagarruyuang
1 = Nagari Tanjuang-Sungayang
2 = Nagari Talago-Sungaipatai
3 = Nagari Andaleh-Baruahbukik
4 = Nagari Sawahliek-Singkayan —> nagari inilah kemudian yang berganti nama menjadi Minangkabau

5 = Nagari Pagarruyuang
6 = Nagari Suruaso
7 = Nagari Kototangah
8 = Nagari Tanjuangbarulak

Lanjutkan membaca ‘Kronologis terjadinya istilah Minangkabau’

09
Des
09

` bundo kanduang nan mangirok ka langik `

Ditulis dan dianalisa oleh : Zulfadli

(http://tambominangkabau.wordpress.com

Dalam mencermati tambo, beberapa hal yang perlu kita cermati adalah karakter dari bahasa tambo itu dan karakter penulisnya sendiri. Ini mirip metodologinya memperlajari bahasa Arab untuk memahami ayat ayat alquran dan hadist. Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.

OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang terbiasa menggunakan kiasan, perumpamaan dan analogi. Ini telah saya ulas pada frase bugih lamo = kain lama = bekas istri = janda. Selain itu kalau Anda perhatikan di tambo, ada gelar-gelar seperti Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Mualim yang sebenarnya adalah manusia yang diibaratkan memiliki tingkah laku seperti hewan itu. Lanjutkan membaca ‘` bundo kanduang nan mangirok ka langik `’

13
Nov
09

Penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan.

Diedit dari penjelasan Zulfadli kepada ~ padusi ~

Copy of rumah 2

Kami berdua – Zulfadli dan Padusi – bukanlah berasal dari kalangan sejarawan, namun kami sangat peduli terhadap penulisan sejarah minangkabau. Dari bermacam Tambo yang tersedia dan pernah diterbitkan sebagai sumber sejarah minangkabau, oleh kaum cerdik cendekia di Minangkabau, ternyata kita memperoleh beragam Tambo yang isinya dan cara penyampaiannya tidak sama. Bagi penulis,  penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan, yang dilakukan oleh Sdr. Zulfadli sangat layak untuk ditampilkan dalam blog bundokanduang ini.

Analisa Sejarah Terpusat dan Analisa Sejarah Tersebar, Merupakan Sub kajian dari sejarah politik mengenai cara pandang terhadap sumber sejarah. Sejarah, hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sedangkan Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara/kerajaan. Disini Padusi ingin menegaskan, bahwa penulisan sejarah, riwayat dan asal usul suatu etnis dan bangsa – tidak dapat dihindari dari pengaruh politik masa itu.

Lanjutkan membaca ‘Penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan.’

12
Agu
09

Sistem pemerintahan minangkabau kuno

Oleh : Hifni H. Nizhamul

Sebagaimana diketahui bahwa pembagian sistem pemerintahan yang ditetapkan oleh dua orang datuk yang bernama Datuk Ketamnggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, terdiri dari dua kelarasan yang dikenal dengan sebutan Lareh nan Duo, yaitu : Bodi dan Chaniago. Koto dan Piliang.  Kemudian dalam perjalanannya muncul sistem kelarasan yang dikenal dengan kelarasan nan panjang.

Menururut Drs, Mid Jamal dalam buku Menyigi Tambo Alam Minangkabau, bahwa ” Lareh ” atau Laras artinya ” jatuh”. Lareh ini dikiaskan sebagai pola pikiran yang jatuh dan tercipta dari Dua orang Datuk itu. Dua orang datuk ini bersaudara seibu dan berlainan ayah. ( Simak tersendiri siapakah kedua orang datuk ini, yang mana kisah kedua orang ini terdapat dalam berbagai macam versi- pen).

Kami menganalogikan bahwa pembentukan sistem kelarasan ini tidak jauh berbeda dengan proses norma-norma sebagai yang kita kenal didalam teori ilmu hukum. Lareh tidak lain dari pemberlakukan tata aturan bermasyarakat. Tata aturan yang harus disepakati oleh masyarakat itu menciptakan kesejahteraan, keadilan kemakmuran bagai masyarakat.

Awal perkembangan masyarakat itu,  ada di Nagari Pariangan, sebagai negeri tertua pada masa kehidupan nenek moyang minangkabau, yang bernama ” datuk Sri Maharaja diraja ” (demikian penamaan yang diberikan kepadanya oleh si Tukang Kaba – pen). Kelompok masyarakat yang berasal dari Nagari Pariangan itu meluas hingga Padangpanjang. Kemudian kita kenal pula Luhak nan Tigo.

Mengapa dusun tua itu disebut ” pariangan ” – adalah perumpaan tempat pengembalian roh sesudah mati atau tempat asal mulanya Dapunta Hyang. Demikian menurut uraian Drs. Mid Djamal dalam buku ” menyigi Tambo Alam Minangkabau. Berbeda halnya dengan Datuk Sangguno dirajo, yang menguraikan bahwa ” Nageri Pariangan “ ini adalah suatu negeri yang aman dan makmur dimana masyarakatnya bergembira dan ber – riang-riang.

Jika ditelisik pencitraan nenek moyang itu, maka semakin banyak isi tambo yang berbeda – beda satu sama lainnya.

Dimata penulis, hanya ada satu penamaan yang sama tentang pencipta dua kelarasan ini, yaitu Datuk Ketamanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang. Mengapa dua orang datuk ini menciptakan sistem kelarasan ini. Apa manfaatnya bagi masyarakat kala. Beberapa alasan yang dapat kita simpulkan adanya sistem kelarasan ini sebagai sistem kemasyarakatan, adalah :

1.      Tidak ada satu kesepakatan yang diproleh dari kedua orang datuk itu ketika menyelesaikan problema kemasyarakat dan suku – suku yang sudah mengalami perkembangan kala itu.

2.      Berangkat dari tambo yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau, maka Datuak Katemanggungan mengembangkan sistem hukum  (lareh) Koto Piliang, dan Datuak Prapatiah Nan Sabatang mengembangkan lareh Bodi Caniago.

Lareh Koto Piliang lebih bercirikan “aristokratis”, dimana kekuasaan tersusun pada strata-strata secara bertingkat dengan wewenangnya bersifat vertikal, sesuai dengan pepatahnya manitiak dari ateh (menetes adri atas). Sementara Lareh Bodi Caniago bercirikan “demokratis” dimana kekuasaan tersusun berdasarkan prinsip egaliter dengan wewenang bersifat horizontal, sesuai dengan pepatahnya mambusuik dari bumi (muncul dari bawah).

Secara struktural, ajaran kedua Lareh ini lah yang akhirnya mempengaruhi (constrains) pola kehidupan sosial-politik masyarakat Minangkabau di kemudian hari. Perbedan-perbedaan sering menjadi pemicu  persaingan dan pertentangan diantara kedua datuak ini dalam memimpin Minangkabau pada waktu itu.

Sebagaiman di uraikan dalam buku yang ditulis oleh Dobbin, 1983 dan Djamaris, 1991, Ketika ayah dan ibu mereka (Cati Bilang Pandai dan Indo Jalito) meninggal dunia, terjadilah konflik di Limo Kaum. Masyarakat Minangkabau kuno kala itu terbelah dalam dua sistem kemasyarakatan dan disisi lain juga akhirnya membelah wilayah Minangkabau kedalam dua aliran tersebut, yang dikenal dengan istilah luhak (Batuah, 1966).  Secara struktural, dua lareh yang diciptakan duo datuak ini lah yang kemudian menjadi landasan dasar kehidupan sosial-politik masyarakat Minangkabau, sampai sekarang ini (Maarif, 1996).

Perbedaan antara dua lareh ini menimbulkan persaingan satu sama lain. Bahkan menurut Christine Dobbin, persaingan tersebut telah terjadi sejak dua Datuak-Datuak Katamenggungan dan Datuak Prapatiah nan Sabatang — mencetuskan adat lareh itu sendiri. Dimana letak kedua Kelarasan itu.  Ini ditandai dengan persaingan antara desa Lima Kaum yang menganut adat lareh Bodi Caniago dengan desa Sungai Tarab yang menganut adat lareh Koto Piliang, yang digambarkan Dobbin sampai terjadi “perang batu” dan “perang bedil”.

Laras (lareh) adalah dasar pemerintahan menurut Minangkabau kuno. Kemudian menjadi sistem hukum adat yang berlaku diseluruh alam minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.

Beriku ini ada perbedaan antara kedua kelarasan itu, yaitu :

Bodi Caniago


Koto Piliang

Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan
Berdaulat pada rakyat, diungkapkan:
putuih rundiangan dek sakato
rancak rundiangan disapakati
kato surang dibulek-i
kato basamo kato mufakat
saukua mako manjadi, sasuai mako takanak
tuah dek sakato, mulonyo rundiang dimufakati
di lahia lah samo nyato, di batin buliah diliek-i


Berpusat pada pimpinan, diungkapkan:
nan babarih nan bapaek
nan baukua nan bacoreng
titiak dari ateh, turun dari tanggo
tabujua lalu, tabalintang patah
Semboyannya mambasuik dari bumi


Semboyannya titiak dari ateh
Bersifat demokratis Bersifat otokratis
Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan. Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal menerima apa yang telah ditetapkan.
Penggantian gelar pusaka secara hiduik bakarelaan, artinya penghulu bisa diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya. Penggantian gelar pusaka secara mati batungkek budi, artinya penghulu baru bisa diganti jika sudah meninggal
Pewarisan gelar disebut gadang bagilia, artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada kaum mereka walau bukan saparuik, asalkan melalui musyawarah adat Pewarisan gelar disebut patah tumbuah hilang baganti, artinya gelar penghulu harus tetap di pihak mereka yang saparuik (sekeluarga).
Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan
Menurut tambo, daerah kebesarannya:

§ Tanjuang Nan Ampek

1. Tanjuang Alam

2. Tanjuang Sungayang

3. Tanjuang Barulak

4. Tanjuang Bingkuang

  • § Lubuak Nan Tigo

1. Lubuak Sikarah

2. Lubuak Simauang

3. Lubuak Sipunai

Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Bunta.

Menurut tambo, daerah kebesarannya:

§ Langgam Nan Tujuah

1. Singkarak – Saningbaka

2. Sulik Aia – Tanjuang Balik

3. Padang Gantiang

4. Saruaso

5. Labutan – Sungai Jambu

6. Batipuah

7. Simawang – Bukik Kanduang

§ Basa Ampek Balai

1. Sungai Tarab

2. Saruaso

3. Padang Gantiang

4. Sumaniak

Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Panjang.

Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut pucuak tagerai. Penghulunya bertingkat-tingkat, disebut pucuak bulek, urek tunggang.

Tingkatannya adalah

panghulu pucuak,

panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko.

10
Agu
09

` Sekilas adat perpatih di negeri sembilan `

oleh : Hifni Hafida

Adat Perpatih adalah simbol utama yang telah diidentifikasi dengan puak Melayu di Negeri Sembilan dan Minangkabau selama ratusan tahun. Bahkan sejak abad ke-15, adat ini dibawa dari ranah Minangkabau melalui migrasi yang dibawa oleh raja Melawar dari Pagaruyung di Minangkabau Sumatera Barat ke Negeri Sembilan. Raja Melawar ini dijemput oleh Datok-datok Penghulu Luak untuk memerintah Negeri Sembilan kala itu. Peristiwa ini terjadi ketika Negeri Sembilan memutuskan tali kekuasaan dari Kerajaan Johor – Malaysia. Satu angkatan diketuai bersama oleh Panglima Bandan dan Panglim Bandut yang diutus untuk berunding dengan Sultan Muningsyah . Dukungan dari Panglima ini diperlukan – untuk mengantisipasi datangnya ancaman dari Kerajaan Johor kala itu – yang tidak ingin melepaskan Negeri Sembilan sebagai wilayah kekuasaannya.

Raja Melawar merupakan Raja pertama yang memerintah   Negeri Sembilan. Nama Asal baginda adalah Sultan Mahmud yang telah di nobatkan di Penajis, Rembau pada tahun 1773 dengan  memamakai nama  ” Raja Melawar”,  sebelum berangkat ke Sri Menanti. Keberangkatan  Sultan Mahmud dari Pagaruyung – bukan tidak mendapat hambatan dari pihak Nagari Pagaruyung. Sebelum ia berangkat dan berjaya memerintah di Negeri Sembilan – baginda terpaksa terlebih dahulu berperang dan mengalahkan Raja Khatib ( seorang Putera Raja Paragarruyung).  Sebagaimana kita ketahui bahwa Raja Mahmud adalah seorang Penghulu di Negeri Pagaruyung itu.  Menurut rencana Raja Khatib yang akan diutus membuat persediaan keberangkatan selaku Raja Melawar yang telah mengistiharkan / menobatkan  dirinya sebagai Raja . Lanjutkan membaca ‘` Sekilas adat perpatih di negeri sembilan `’

12
Jun
09

` seputar Minangkabau kuno`

istana_pagaruyung_ps2

I.     Minangkabau dalam sebuah mythos  :

1.    Ikhwal Nagari di Gunung Merapi :

a.    Maharaja yang Bermahkota

Versi lain dari Tambo menceritakan, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, ketika berada di dekat pulau Sailan (Srilangka) – mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai menyelam telah diperintahkan untuk mengambil makhkota emas itu. Tetapi makhkota itu tidak berhasil diraih, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut.  Cati Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa.  Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan “camin taruih” dibuatlah tiruannya dengan sempurna. Setelah selesai,  tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi. Ketika Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah. Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum, kemudian berkuasa sampai ke Tanah Perancis dan Inggris. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.

Komentar ~ padusi ~ : entah darimana cerita dongeng ini adanya, nyatanya kami temui dalam tambo tambo minangkabau yang tersebar dalam penerbitan buku.

Lanjutkan membaca ‘` seputar Minangkabau kuno`’

25
Apr
08

Kaba dan Tambo Sebagai karya Spektakuler Bagi Terbentuknya Adat dan Budaya Minangkabau

oleh : Hifni Hafida

Penulis menggunakan istilah spektauler, tidak lain ingin menunjukkan keberhasilan sebuah kaba atau tambo dalam menginformasikan suatu peristiwa. Kaba atau Tambo lah, yang dijadikan rujukan bagi masyarakat zaman dahulu menyampaikan sesuatu informasi. Dalam perjalanan penulis merambah rimba informasi ini, maka ditemukan ada delapan tambo yang sudah diterbitkan oleh pegiat adat dan budaya minangkabau. Semua dalam rangka menyigi dan mengulas adat minangkabau.

Penulis sependapat dengan AA.Navis, penulis buku Alam terkembang jadi guru , adat dan kebudayaan minangkabau, bahwa, Minangkabau lebih dikenal sebagai sebuah bentuk kebudayaan dari pada bentuk negara atau suatu kerajaan yang pernah ada dalam sejarah. Hal ini mungkin karena dalam catatan sejarah (Indonesia, pen), yang dapat dijumpai hanyalah hal penggantian nama kerajaan yang menguasai wilayah itu. Tidak ada suatu catatan yang dapat memberi petunjuk tentang sistem pemerintahan yang demokratis dengan masyarakatnya yang berstelsel matrilineal serta tidak ada catatan sejarah kelahiran sistem matrilineal ini sebagaimana yang dikenal orang seperti sekarang ini. (AA.Navis, Alam terkembang jadi guru , adat dan kebudayaan minangkabau, hal 1).

Dalam kenyataan itulah, penulis mencoba menguraikan suatu pengertian tentang Histori Matriarkat dan Matriarkat dalam Adat dan Budaya di Minangkabau. Untuk masa sekarang dimana masyarakat semakin kritis terhadap sumber informasi yang tersedia, seperti yang dikenal dalam Kaba dan Tambo zaman dahulu, maka meskipun Kaba atau Tambo itu merupakan hasil pusaka turun temurun dalam adat dan budaya minangkabau, haruslah disikapi dengan cara melakukan suatu kajian ilmiah berdasarkan disiplin ilmu tertentu.
Sebelum melakukan kajian ilmiah berdasarkan disiplin iilmu tertentu, beberapa bentuk informasi yang memandu kita dalam mengenal adat dan budaya Minangkabau adalah seperti yang terurai dibawah ini, yaitu;

a. Hikayat ;
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang . (id.wikipedia.org/wiki/Hikayat).
Hikayat merupakan kisah atau cerita hasil dari buah pikiran imajinatif yang berisi nasehat dan tauladan yang baik. Hikayat termasuk karya sastra klasik, berbahasa melayu, yang dalam pengamatan penulis lebih ditujukan pada kehidupan perseorangan. Hikayat pada mulanya beredar diwilayah pesisir bagian barat Minangkabau yang pada masa dahulu, yang sangat mudah dimasuki oleh pengaruh kebudayaan dari luar. Inilah yang kita kenal dengan rabab pesisir.
Seperti diketahui, berabad lamanya pesisir pantai barat Sumatera dikuasai kesultanan di Aceh. Kesultanan tidak saja berkuasa dibidang perdagangan, juga menguasai sendi kehidupan rakyat. Bahkan Aceh dengan melakukan asimilasi terhadap tatasan social di pesisir minangkabau.
Contoh : pemakaian gelar Sidi, berasal dari Syaidd yaitu keturunan alim ulama, termasuk gelar lainnya seperti : Bagindo, Meurah, dll, yang menganut garis patrilinial.
Melalui penguasaan wilayah oleh Kesultanan di Aceh inilah, hikayat dan syair diperkenalkan ke Minangkabau. Hikayat mengkisah raja-raja dan pangeran-pangerannya, termasuk puteri-puteri, serta kehidupan rakyat yang hidup dalam lingkungan kerajaan itu.
Hikayat tidak lazim dalam falsafah alam minangkabau, karena menyimpang dari struktur sastra minangkabau.

Mengapa demikian ?
Karena gaya bahasa yang dipakai menggunakan syair dan tidak pernah menggunakan pantun. Yang dimaksud syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Syair berasal dari Arab. Ketika hikayat yang dibawa ke Minangkabau saat dikuasai kesultanan Aceh itu, maka hikayat menjadi populer pula di Minangkabau.

Hikayat Malin Kundang, misalnya, yang berkisah tentang kedurhakaan seorang anak, disaat menjadi perantau minang yang sukses. Hikayat ini, mengandung hikmah; tentang kewajiban dan bakti seorang anak kepada orang tua. Atau juga pelajaran bagi seorang perantau yang sudah sukses agar tidak melupakan jati dirinya sebagai seorang anak minangkabau. Atau juga doa seorang ibu dapat menjadi bekal bagi seorang anak yang pergi merantau.
Banyak contoh tentang edukasi yang disampaikan melalui, seperti : hikayat Malin Deman, Anggun nan tongga, Gadih Ranti, dll dalam suasana kerajaan – sesuatu yang tidak lazim bagi masyarakat egaliter minangkabau.

b. Kaba atau kabar,
adalah informasi atau keterangan menganai sesuatu kejadian.
Kaba; merupakan cerita khas Minangkabau, dengan bentuk bahasanya yang liris, ungkapan-ungkapan yang plastis dan penggunaan pantun yang cukup dominan.
Dilihat dari isi ceritanya, maka kaba dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu ;
- Kaba klasik, yang diangkat dari cerita rakyat, oleh seorang tukang kaba, yang berisikan tentang cerita pelipur lara dan kadang bersifat senda gurau dalam lingkungan masyarakat, dan
- Kaba yang baru, berisi nasehat dan tauladan yang baik atau masalah-masalah social yang terjadi dalam masyarakat.

Kaba dapat juga berupa nasehat dalam bentuk petatah-petitih, yang berasal dari penghulu adat, dll.
Jika ditinjau dari penciptaan “kaba “, maka terdapat dua periode penciptaan kaba pada masyarakat masa dahulu, yaitu ; kisah yang diambil diluar minangkabau, seperti hikayat yang diadopsi menjadi kaba, contoh kaba anggun nan tongga. Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan Tongga yang bernama asli “ Anggun Cik Tunggal “. dan kekasihnya Gondan Gondoriah serta pola merantau pria minangkabau telah berlangsung saat itu. Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan pertama kali tahun 1960 di Bukittinggi.

Pada periode ini kaba berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi mengenai asal usul bahkan kritik sosial, tanpa mengurangi kekuatan yang terletak pada kalimat yang penuh perumpamaan, pribahasa dan kiasan yang plastis.

c. Tambo ; berasal dari bahasa sanskerta, tambay atau tambe yang artinya : bermula. Istilah zaman sekarang adalah asal usul sesuatu.
Tambo merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo bukan catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah. Cara mengisahkannya disesuaikan dengan keperluan dan keadaan. Tambo bisa pula mengkisahkan sejarah bangsa lain.

Terdapat dua jenis tambo sebagai asal usul adat dan budaya minangkabau yang hidupmasih dikenal hingga masa kini, yaitu :
a. Tambo alam, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan. Tambo ini biasanya lebih terbuka, karena semua anggota masyarakat dapat mengetahui.
b. Tambo adat, pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan.
Ada pula Tambo adat ini, tidak sembarangan orang dapat mengetahuinya. Karena menyangkut privasi dari kalangan tertentu yang menyimpannya sebagai warisan atau pusaka keramat. Sehingga yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

Melalui artikel Anggun Gunawan di blognya tentang Sekilas Tentang Alam Minangkabau, penulis memperoleh data, yang berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, bahwa Tambo-tambo itu g banyak yanditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan, ada sebanyak 47 naskah. Masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10 naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.

Hanya saja penulis tidak bisa menyimpulkan, apakah tambo itu masuk kategori Tambo alam semata atau tambo adat.
Ada enam saduran cerita Tambo Minangkabau, yang sudah penulis miliki, yaitu:
(1) Curai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau ( Dirajo 1979 dan 1984)
(2) Mustika Adat Alam Minangkabau (Dirajo 1953 dan 1979)
(3) Tambo Minagkabau ( Batuah 1956)
(4) Manyigi Tambo Alam Minangkabau (Drs. Mid Jamal, 1985)
(5) Tambo dan Silsilah Adat Alam Minangkabau (Basa 1966)
(6) Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah (Mahmoed 1978)

Untuk ukuran masa sekarang, maka Tambo dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Penulis menyebutkan demikian, karena dari sinilah masyakakat minang, mengetahui kisah asal usul, terbentuknya adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan ornamen mitologi, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini :
Dimana mulanya terbit pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi.

Bagaimana caranya kita mencari pembenaran, bahwa ternyata Kaba dan Tambo itu merupakan realitas yang hidup sebagai informasi asal usul adat dan budaya Minangkabau untuk masa sekarang ?
Bukankah sesuatu yang diceritakan, oleh si tukang kaba dahulu (minangkabau kuno), merupakan informasi yang tidak seragam, yang menimbulkan keragu-raguan ?

Berpijak dari konsep antropologi, khususnya antroplogi sosial yang mempelajari prilaku dan hasil kerja manusia, seperti ; sistem politik dan ekonomi, struktur kekerabatan, tatacara perkawinan, kesenian dan kesusastraan, dll, maka Kaba dan Tambo dapat dijadikan referensi terhadap asal usul manusia, asal usul adat dan budaya minangkabau berserta tradisinya. Dengan demikian, maka benarlah tambo merupakan hasil kerja imajinasi spektakuler dari nenek moyang minangkabau, yang telah mengatur dan menetapkan falsafah hidupnya dengan berguru kepada alam. Kemudian menetapkan pola kekuasaan (bukan pemerintahan, pen) yang demokratis, pemimpin Nagari yang bersifat kolektif, system ekonomi, undang-undang dan hukum, lembaga perkawinan, harta dan pusaka, termasuk sastra dan permainan rakyat dalam undang – undang..
Jika dikatakan Minangkabau sebagai subyek kebudayaan, maka kehidupan adat yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk karena hujan tadi, memperkuat kesadaran masyarakat bahwa dalam mempertahankan adat dan budaya, semestinya tidak sebagai pelengkap saja.
Kembali pada uraian diatas, banyak mitologi dari Kaba atau Tambo yang bisa diuangkap sebagai fakta budaya. Terus terang penulis, mulai mempertanyakan nama “ suku bangsa kita – Minang kabau. Para ahli sejarah telah telah mengupas bahwa nama (suku bangsa) Minangkabau berasal dari “ Pinang Khabu “ sebagai country origin (tanah asal) – Ven der Tuuk. Demikian juga dalam “ menon khabu “, yang artinya tanah mulia atau mau angka bahu, yang artinya yang memerintah, dalam kupasan para penulis sejarah, seperti DR. Hussein Nainar atau M. Rasyid Manggis bahkan buku Sumatera Tengah dari Jawatan Penerangan Sumatera Tengah sekalipun.(AA. Navis. Alam takambang jadi guru, Adat dan kebudayaan minangkabau.)
Jika Tambo dianggap sebagai realitas kehidupan adat dan budaya, maka selayaknya para ahli adat dan budaya minang mengenyampingkan informasi yang imajinasi.
Demikian juga Manga radja Onggang Parlindungan, dalam lampiran tulisannya di Buku Tuank Rao, menyatakan bahwa nama Minangkabau sudah lebih dahulu ada dari kerajaan Singosari dan Majapahit. Info ini didapat dari laporan Resident Poortman, bahwa tentara Mesir /fatimiyah Dynasti, berhasil dipukul mundur di kampung Minangkabau, oleh tentara Darmasraya. Ini memberi petunjuk bahwa nama Minangkabau itu bukan karena menang kerbau. Melainkan adalah country origin dari nama suku bangsa Minangkabau itu sendiri.
Hemat penulis, jika ada tambo yang terkait dengan kisah menang kerbau hendak diubah menjadi informasi yang factual, sebagaimana yang ditulis oleh Datuk Soda dalam Situs Nagari.org yang berjudul asli “ Minangkabau sebagai Bit Informasi”. Sangat menarik untuk memahami istilah Minangkabau sesungguhnya. Bahwa istilah yang sebelumnya diriwayatkan oleh Tukang Kaba atau Tambo-tambo sebagai istilah yang berasal dari kemenangan masyarakat minang zaman dahulu dalam pertandingan aduan kerbau. Di era sekarang ini, dimana manusia tidak bisa lagi diajak memahami sesuatu dengan hal yang berbau mithos dan mistik, maka pemahaman istilah minangkabau di era bit informasi sangat perlu disebar luaskan.
Untuk memudahkan pemahaman generasi muda maka silahkan membaca artikel selengkapnya di :
sumber : http://nagari.or.id/?moda=minangkabau

Dengan demikian kita masyarakat minangkabau, lebih memiliki identitas cultural yang factual ketimbang mythos, terutama yang hidup diperantauan. Termasuk masyarakat minang yang telah berasimilasi dengan suku bangsa lain.

Puspiptek, Serpong, 4 maret 2008

18
Apr
08

Uli Kozok : Penemu Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah

Sumber : PadangKini.com,Jumat, 18 April 2008

ULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi –  ia melihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002. Ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini, yaitu :

* Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya, dunia tulis-baca orang Malayu baru dapat diidentifikasi dengan masuknya agama Islam di Nusantara yang dimulai pada abad ke-14.    “Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah”    yang ditemukan Kozok merupakan naskah pertama yang menggunakan aksara Pasca-Palawa dan memiliki kata-kata tanpa ada satupun serapan ‘berbau’ Islam. Lanjutkan membaca ‘Uli Kozok : Penemu Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah’

31
Okt
07

Kelarasan di Minangkabau

180px-Randai_Padang_Panjang
Laras (lareh) adalah dasar pemerintahan menurut adat Minangkabau. Kelarasan adalah sistem pemerintahan menurut adat Minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.

 

Bodi Caniago

Koto Piliang

Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang

Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan

Berdaulat pada rakyat, diungkapkan:
putuih rundiangan dek sakato
rancak rundiangan disapakati
kato surang dibulek-i
kato basamo kato mufakat
saukua mako manjadi, sasuai mako takanak
tuah dek sakato, mulonyo rundiang dimufakati
di lahia lah samo nyato, di batin buliah diliek-i

Berpusat pada pimpinan, diungkapkan:
nan babarih nan bapaek
nan baukua nan bacoreng
titiak dari ateh, turun dari tanggo
tabujua lalu, tabalintang patah

Semboyannya mambasuik dari bumi

Semboyannya titiak dari ateh

Bersifat demokratis

Bersifat otokratis

Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan.

Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal menerima apa yang telah ditetapkan.

Penggantian gelar pusaka secara hiduik bakarelaan, artinya penghulu bisa diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya

Penggantian gelar pusaka secara mati batungkek budi, artinya penghulu baru bisa diganti jika sudah meninggal

Pewarisan gelar disebut gadang bagilia, artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada kaum mereka walau bukan saparuik, asalkan melalui musyawarah adat

Pewarisan gelar disebut patah tumbuah hilang baganti, artinya gelar penghulu harus tetap di pihak mereka yang saparuik (sekeluarga).

Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal

Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan

Menurut tambo, daerah kebesarannya:

§ Tanjuang Nan Ampek

1. Tanjuang Alam

2. Tanjuang Sungayang

3. Tanjuang Barulak

4. Tanjuang Bingkuang

§ Lubuak Nan Tigo

1. Lubuak Sikarah

2. Lubuak Simauang

3. Lubuak Sipunai

Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Bunta.

Menurut tambo, daerah kebesarannya:

§ Langgam Nan Tujuah

1. Singkarak – Saningbaka

2. Sulik Aia – Tanjuang Balik

3. Padang Gantiang

4. Saruaso

5. Labutan – Sungai Jambu

6. Batipuah

7. Simawang – Bukik Kanduang

§ Basa Ampek Balai

1. Sungai Tarab

2. Saruaso

3. Padang Gantiang

4. Sumaniak

Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Panjang.

Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut pucuak tagerai.

Penghulunya bertingkat-tingkat, disebut pucuak bulek, urek tunggang.

Tingkatannya adalah

panghulu pucuak,

panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko.

28
Okt
07

Tambo Minangkabau oleh Dt. Sangguno Dirajo

Alam Minangkabau

Oleh Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo

Dewasa ini sangat minim sekali informasi mengenai adat yang kita dapati, seringkali kita mendengar Tambo alam Minangkabau, tapi kita tidak seperti apa isi tambo itu sebenaAmrnya. Begitu juga dengan adat Minangkabau seperti apa adat tersebut. Mulai dari tulisan ini kami dari admin akan memuat tulisan dari Ibrahim Dt. Sangguno Dirajo dalam bukunya Curaian Adat Minangkabau. Serta ucapan terimakasih kepada penerbit Kristal Multimedia Bukittinggi yang telah berkenan memberi ijin untuk menyadur isi buku tersebut.
Sedikit tentang penulis Ibrahim dilahirkan di sungayang Sumatera Barat pada tahun 1858. Pendidikan dimulai di Sekolah Government di Batusangkar, tamat tahun 1868. Pada tahun 1870 beliau menjadi juru tulis Tuanku Titah di Sungai Tarab. Tuangku ini ahli dibidang adat Minangkabau. Maka saat itu beliau tertarik dan memperdalam pengetahuan dibidang Adat Minangkabau sehingga beliau diangkat menjadi Penghulu Andiko pada tahun 1913 dengan gelar datuak Sangguno Dirajo.

Lanjutkan membaca ‘Tambo Minangkabau oleh Dt. Sangguno Dirajo’




Pengunjung

  • 552,115 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2014
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: