<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>~ RANAH BUNDO KANDUANG ~ &#187; A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU</title>
	<atom:link href="http://bundokanduang.wordpress.com/category/a-tambo-dan-sejarah-minangkabau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bundokanduang.wordpress.com</link>
	<description>Bundo Kanduang Minangkabau</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Dec 2009 06:35:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bundokanduang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/aaa77bb91a970b9fcb054239d36c96a8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>~ RANAH BUNDO KANDUANG ~ &#187; A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bundokanduang.wordpress.com/osd.xml" title="~ RANAH BUNDO KANDUANG ~" />
		<item>
		<title>` bundo kanduang nan mangirok ka langik `</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/12/09/bundo-kanduang-nan-mangirok-ka-langik/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/12/09/bundo-kanduang-nan-mangirok-ka-langik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 04:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[bundokanduang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=979</guid>
		<description><![CDATA[
Ditulis dan dianalisa oleh : Zulfadli
(http://tambominangkabau.wordpress.com
Dalam mencermati tambo, beberapa hal yang perlu kita cermati adalah karakter dari bahasa tambo itu dan karakter penulisnya sendiri. Ini mirip metodologinya memperlajari bahasa Arab untuk memahami ayat ayat alquran dan hadist. Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.
OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=979&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/12/copy-of-baju-para-gadis.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-980" title="Copy of baju para gadis" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/12/copy-of-baju-para-gadis.jpg?w=186&#038;h=224" alt="" width="186" height="224" /></a></strong></p>
<p><strong>Ditulis dan dianalisa oleh : Zulfadli</strong></p>
<p><strong>(http://tambominangkabau.wordpress.com</strong></p>
<p>Dalam mencermati tambo, beberapa hal yang perlu kita cermati adalah karakter dari bahasa tambo itu dan karakter penulisnya sendiri. Ini mirip metodologinya memperlajari bahasa Arab untuk memahami ayat ayat alquran dan hadist. Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.</p>
<p>OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang terbiasa menggunakan kiasan, perumpamaan dan analogi. Ini telah saya ulas pada <strong><em>frase</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>bugih lamo = kain lama = bekas istri = janda</em></strong>. Selain itu kalau Anda perhatikan di tambo, ada gelar-gelar seperti <strong><em>Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Mualim</em></strong> yang sebenarnya adalah manusia yang diibaratkan memiliki tingkah laku seperti hewan itu.<span id="more-979"></span></p>
<p>Untuk menterjemahkan kiasan, salah satu metode yang dipakai adalah mencari frase yang menggunkan kosakata yang sama dengan kalimat yang akan ditafsirkan. Kemungkinan perbedaan tafsiran pasti ada, namun tidaklah akan terlalu besar penyimpangan artinya.</p>
<p>OK,  sekarang saya cuplikkan dua buah kasus, seperti terurai dibawah ini :</p>
<p>1. “Sajak gunuang marapi sagadang talua itiak” (Sejak gunung marapi sebesar telur itik).</p>
<p>Ini maksudnya adalah gunung marapi yang terlihat masih jauh dari tengah laut (dari atas kapal), yang dilihat oleh para imigran pertama nenek moyang orang Minang yang diperkirakan datang dari sekitar India Selatan dan Langgapuri (Ceylon/Srilanka)</p>
<p>2. <strong>“Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu</strong><strong> mangirok kelangit</strong>” (Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu menghilang/terbang/moksa kelangit).</p>
<p>Kalimat ini ditemukan dalam Kaba Cindua Mato. Dalam konteks cerita itu diketahui bahwa pada saat itu Ranah Pagaruyung akan ditaklukkan oleh Tiang Bungkuak (Raja Sungai Ngiang), yang berada di rantau timur. Diperkirakan lokasinya di <strong>Jambi/Hilir sungai Batang Hari/Kerajaan Melayu Kuno</strong>). Pagaruyung cuma tinggal menunggu kalah saja karenatidak punya tentara. Bahkan sebelum negeri ditaklukkan,  Dang Tuanku telah menceritakan mimpinya bahwa dia sekeluarga tidak akan lama lagi ada didunia.</p>
<p>Kutipannya sebagai berikut :</p>
<p><em>“Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang </em></p>
<p><em>Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.”</em></p>
<p>Selain analisa diatas, juga dilihat dari konteks bahasa, maka kutipannya sebagai berikut :</p>
<p><em>“ </em><em>Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.</em></p>
<p>Bundo Kanduang sekeluarga moksa kelangit. Ini adalah kiasan dari meninggal dunia dalam konteks Buddha. Ingat, agama saat itu adalah Buddha.</p>
<p>Jadi terjemahannya, Keluarga Kerajaan Pagaruyung Tewas dalam penaklukan oleh Kerajaan Sungai Ngiang itu yang kala itu dipimpin Tiang Bungkuak.</p>
Posted in A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU Tagged: bundokanduang <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/979/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/979/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/979/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/979/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/979/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/979/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/979/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/979/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/979/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/979/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=979&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/12/09/bundo-kanduang-nan-mangirok-ka-langik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/12/copy-of-baju-para-gadis.jpg?w=250" medium="image">
			<media:title type="html">Copy of baju para gadis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan.</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/13/penganalisaan-sejarah-terpusat-dan-sejarah-tersebar-sebagai-upaya-merajut-sejarah-keminangkabauan/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/13/penganalisaan-sejarah-terpusat-dan-sejarah-tersebar-sebagai-upaya-merajut-sejarah-keminangkabauan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 08:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=971</guid>
		<description><![CDATA[Diedit dari penjelasan Zulfadli kepada ~ padusi ~

Kami berdua – Zulfadli dan Padusi &#8211; bukanlah berasal dari kalangan sejarawan, namun kami sangat peduli terhadap penulisan sejarah minangkabau. Dari bermacam Tambo yang tersedia dan pernah diterbitkan sebagai sumber sejarah minangkabau, oleh kaum cerdik cendekia di Minangkabau, ternyata kita memperoleh beragam Tambo yang isinya dan cara penyampaiannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=971&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Diedit dari penjelasan Zulfadli kepada ~ padusi ~</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-970" title="Copy of rumah 2" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/11/copy-of-rumah-2.jpg?w=214&#038;h=143" alt="Copy of rumah 2" width="214" height="143" /></p>
<p>Kami berdua – Zulfadli dan Padusi &#8211; bukanlah berasal dari kalangan sejarawan, namun kami sangat peduli terhadap penulisan sejarah minangkabau. Dari bermacam Tambo yang tersedia dan pernah diterbitkan sebagai sumber sejarah minangkabau, oleh kaum cerdik cendekia di Minangkabau, ternyata kita memperoleh beragam Tambo yang isinya dan cara penyampaiannya tidak sama. Bagi penulis,  penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan, yang dilakukan oleh Sdr. Zulfadli sangat layak untuk ditampilkan dalam blog bundokanduang ini.</p>
<p><strong>Analisa Sejarah Terpusat dan Analisa Sejarah Tersebar</strong><strong>, </strong>Merupakan Sub kajian dari sejarah politik mengenai cara pandang terhadap sumber sejarah. <em>S</em><em>ejarah</em><em>,</em> hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sedangkan <em>Politik</em> adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara/kerajaan. Disini Padusi ingin menegaskan, bahwa penulisan sejarah, riwayat dan asal usul suatu etnis dan bangsa – tidak dapat dihindari dari pengaruh politik masa itu.</p>
<p><span id="more-971"></span><br />
<strong>Analisa Sejarah Terpusat</strong><strong> </strong></p>
<p>Seperti kita ketahui bahwa menurut ilmu antrolpologi, migrasi bangsa yang selanjutnya mendiami kepulauan Indonesia, terbagi dalam dua kali eksodus: Yang pertama disebut migrasi kelompok Melayu Tua (deutro melayu), yang mendiami wilayah- wilayah pedalaman. Kelompok ini merupakan splendid isolation yang senang berkurung diwilayah pegunungan, menolak segala kontak dengan orang yang datang dari luar. Hal ini akan berbeda dengan kedatangan Melayu Muda (proto Malayan). Cari Info : Melayu muda dan kebudayaan apa yang dibuat.</p>
<p>Cara penganalisaan sejarah terpusat, diawali dengan menentukan sentral cerita dari suatu sumber berita yang akan dikaji. Misalnya : India Centris, Yunani-Kuno Centris, Tambo Centris, Alexander Agung Centris, Riau Centris, Jambi Centris, Kerinci Centris, Sriwijaya Centris, Majapahit Centris dan atau Melayu Centris).</p>
<p>Penganalisaan ini akan memusatkan setting cerita dan mengkompilasi sejarah dengan bukti-bukti yang bersesuaian dengan sentralnya,  misal :  Masa kejayaan dan sejarah majapahit dengan masa kejayaan dan sejarah kerajaan ssriwijaya. Dengan cara mencocok cocokkan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, itu maka kita dapat menemukan peristiwa apa saja yang terjadi pada masa itu. Bukan tidak mungkin karena sifat hegemoni dari masing- masing kerajaan, akan menampilkan perseteruan dan perebutan wilayah kala itu.</p>
<p>Dalam penelaahan sejarah Minangkabau, jika dipakai Majapahit Centris, maka kita akan menemukan tokoh Dara Jingga, Dara Petak, Adityawarman, Gadjah Mada, Dewa Tuhan Perpatih dan seterusnya.</p>
<p>Jika memakai Sriwijaya Centris kita akan menemukan Bukit Siguntang Mahameru, Dapunta Hyang, Sang Sapurbna.</p>
<p>Jika memakai Jambi Centris kita akan menemukan Tribhuana Mauli Marwadewa, Pinang Masak, demikian seterusnya.</p>
<p>Sama halnya dengan Tambo Centris – yang dianggap sebagai sejarah minangkabau kuno &#8211; kita akan bertemu dengan Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang.  Kekacauan akan terjadi jika kita mulai menghubungkan tokoh tokoh sentral yang disebut dalam Tambo itu, sehingga berupaya memaksakan sebuah konklusi tarikh, tokoh, ranji, silsilah dan kronologis, dan lain sebagainya. Contoh paling aktual adalah munculnya ranji tambo sbb: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau" target="_blank">http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau</a>. Kira-kira metode analisa sejarah terpusat ini akan mirip dengan metode <strong>utak atik gathuk</strong> yang biasa dipakai orang Jawa.</p>
<p><strong>Analisa Sejarah Tersebar</strong><strong></strong></p>
<p>Konsep kedua ini , berusaha keluar dari kerangkeng sentris-sentris diatas. Ide utamanya  adalah menginventarisir jejak-jejak sejarah yang bisa didapat dengan ilmu antropologi atau seni budaya. Banyak aspek yang bisa diteliti. Saudara Zulfadli yang bukan dari kalangan sejarah ini, mencoba menelaah kepada fokus masing-masing, diantaranya :</p>
<p>-                 System kekerabatan : system matrilineal, suku, masalah harta</p>
<p>-                 Konsep ketatanegaraan / keselarasan : Bodi chaniago koto piliang (yg mirip sparta-athena),</p>
<p>-                 Konsep kepemimpinan : datuk dan penghulu</p>
<p>-                 Hasil budaya : ukiran, silat minang, randai, dll. .</p>
<p>Mungkin banyak kesimpulan lain yang dapat ditelaah, kesimpulan sementara diatas dilakukan sebagai upaya mencari jejak-jejak dari masing-masing aspek yang diteliti oleh Sdr. Zulfadli dari dunia luar (diluar Minangkabau).</p>
<p>Sdr. Zulfadli menyatakan bahwa ; &#8220;ia tidak percaya dengan konsep turun dari Gunung Marapi&#8221;, namun ia tetap mempertanyakan,  kenapa koncep itu ada. Sama halnya soal percayanya ia terhadap keturunan Iskandar Zulkarnain dan akhirnya ia membuat pertanyaan kenapa ada  Iskandar Zulkarnain.</p>
<p>Baginya ia menebar pertanyaan-pertanyaan liar, dalam <strong>Penganalisaan</strong><strong> Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar </strong><strong>Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan itu .</strong></p>
<ul>
<li>Kenapa Gunung Marapi? Kenapa bukan Gunung Kerinci, Gunung Ledang, Bukit Siguntang, Gunung Mahameru atau Gunung Semeru</li>
<li>Apakah telong nan batali itu ameh urai? emas yang mengalir di sungai-sungai Sumatera Tengah)</li>
<li>Kenapa Harimau Campa? Kenapa bukan Laksamana ChengHo atau Shih Huang Ti</li>
<li>Kenapa Iskandar Zulkarnain? Kenapa bukan Darius Agung, Nero atau Plato</li>
<li>Kenapa Nagari? Kenapa bukan kerajaan</li>
<li>Kenapa Triumvirat (Rajo Tigo Selo)? Kenapa bukan raja diraja</li>
<li>Kenapa Matrilineal?</li>
</ul>
<p>Masing-masing pertanyaan berkembang menjadi penelitian-penelitian kecil yang melintasi zaman dan geografis, ia menghasilkan tarikh dan juga sebaran wilayah, dan setelah itu masing-masingnya kait-berkait secara otomatis.</p>
<p>Dari kisah yang tersebut dalam Tambo, kita mengenal :</p>
<ol>
<li>Unsur India, yaitu :  Cateri Bilang Pandai, Maharaja Diraja dan Indo Jalito.</li>
<li>Unsur Yunani, yaitu : Iskandar Zulkarnain.</li>
<li>Unsur Champa (Kamboja), yaitu : Harimau Champa</li>
</ol>
<p>Dari ketiga migrasi kebudayaan ini, unsur India dan Yunasi menghasilkan Hellenisme, Seni Budha Yunani, Kebudayaan Gandhara, Ukiran Gandhara, dll. Sementara pengaruh unsure  India dan Champa menghasilkan System kekerabatan Matrilineal. Pada system kemasyarakatan yang berasal dari pengaruh India dan Yunai menghasilkan sistem konfederasi di Minangkabau seperti yang hidup di Champa.</p>
<p><strong>Timbul pertanyaan kita bagaimana keberadaan dua orang Datuk Minangkabau itu menurut versi Tambo dan Sejarah ?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yang dapat kita simpulkan dari penelusuran tambo dan sejarah adalah :</p>
<p>1. Datuak Katumanggungan seorang anak raja (keturunan bangsawan dari kedua ibu dan bapaknya), sementara Datuak Parpatiah Nan Sabatang keturunan dari ibunya seorang bangsawan.</p>
<p>Siapakah yang menjadi orang tua dari kedua Datuk yang menletakkan sendi adat di Minangkabau itu ?</p>
<p>Dengan pola Analisa Sejarah Terpusat kita akan menemukan banyak sekali ragam pencocokan dengan centris-centris yang kita pilih, namun resikonya adalah benturan-benturan ketika menyusun konklusinya. Salah satu hasil konklusinya adalah mengkaitkan Majapahit Centris dengan Pagaruyung Centris.</p>
<p>2. Dalam penganalisaan Sejarah Tersebar, ditemukan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>a. Datuk Katumanggungan, adalah konseptor dan sekaligus pewaris dari sistem ketatanegaraan aristokratis yang mirip dengan konsepsi negara versi Sparta. Hal ini terinspirasi oleh nilai-nilai Hindu, cendrung kastaisme, suka dengan aturan-aturan yang tegas, setuju dengan konsep kerajaan.</p>
<p>b.  Datuk Parpatiah Nan Sabatang, adalah konseptor dan sekaligus pewaris dari sistem ketatanegaraan demokratis yang mirip dengan konsepsi negara versi Athena, terinspirasi dengan ajaran Buddha (lihat filosofi motif Daun Bodi dan Teratai), lebih egaliter, suka dengan filsofi-filosofi, setuju dengan konsep federasi.</p>
<p>c.    Indra Jalita melambangkan orang yang bangsawan sekaligus ilmuwan.</p>
<p>d.   Cateri Bilang Pandai berkasta ksatria dan berprofesi seniman ulung di bidang seni rupa (ukiran, pahatan, lukisan)</p>
<p>e.  Harimau Champa datang dari Champa yang juga menganut sistem nagari dan matrilineal.</p>
<p>Begitulah mozaik-mozaik yang ditemukan oleh Sdr. Zulfadli itu. Ia tidak terobsesi dengan siapa tokoh-tokoh ( yang disebutkan dalam tambo) secara nyata, karena akan menabrak fakta-fakta yang kita temui tentang atribut-atribut mereka.</p>
<p>Beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil untuk saat ini adalah:</p>
<ul>
<li>Nenek moyang Minangkabau berasal dari Tanah Basa India</li>
<li>Nenek moyang Minangkabau itu mengetahui tentang Iskandar Zulkarnain</li>
<li>Mereka membawa hasil <strong>S</strong><strong>eni </strong><strong>B</strong><strong>udaya </strong><strong>H</strong><strong>ellenisme</strong></li>
<li>Mereka berasal dari golongan yang berbeda-beda (Hindu, Buddha, dll)</li>
</ul>
<ul>
<li>Mereka terpelajar dan punya konsep ketatanegaraan yang dibawa ke      Minangkabau (dalam tambo disebut warisan Kitab Undang yang diwarisi oleh      Sultan Maharaja Diraja)</li>
<li>Mereka menganut System kekerabatan Matrilineal yang jejaknya bisa      ditemukan di <strong>Kerala, Karnataka (keduanya di India), Muangthai dan      Champa</strong>.</li>
<li>Dalam migrasi ke wilayah baru (Andalas) ,      mereka membawa orang yang setia dengan nama nama : Kambing Hutan, Kucing Siam dan Harimau Champa yang berasal dari 3 wilayah tadi)</li>
</ul>
<p>Kapankah migrasi pertama manusia yang kemudian di kenal Minangkabau itu ?. Kedatangan mereka ke tanah Andalas itu yang dikatakan sebagai telong nan batali itu ameh urai, tidak dapat di perkirakan. . Akan tetapi Sdr. Zulfadli dapat mempredidksi tentang rentang waktu untuk  kedatangan dan migrasi ke wilayah ini, yaitu antara di awal abad pertama Masehi hingga berdirinya kerajaan Kandis (Melayu Tua).</p>
<p>Sehubungan dengan pertanyaan atas literatur <strong>Koto Alang</strong>, yang menyebutkan bahwa Dua orang Datuk itu adalah warga Kerajaan Kandis dan Koto Alang, bagi Sdr Zulfadli cukup masuk akal secara tarikh, dan lebih logis ketimbang dikaitkan ke zaman Pamalayu, Singasari dan Majapahit.</p>
<p>Bagaimana jika ada yang berpendapat bahwa <strong>Adityawarman</strong> dianggap pendiri <strong>Pagaruyung</strong><strong> ?</strong></p>
<p>Masalah ini memang agak sedikit ganjil, jika dihubungkan dengan cerita Bundo Kanduang yang menjadi Raja Perempuan di Pagaruyung yang berkonflik dengan Negeri Sungai Ngiang.</p>
<p>Negeri Sungai Ngiang adalah Singingi di daerah Kuantan. Kerajaan Singingi ini masih sezaman dengan Kerajaan Kandis (sekitar abad 8 M).</p>
<p>Dalam kaba <strong>“ Cindua Mato” </strong>-  telah berdiri kelengkapan pemerintahan,  berupa <strong>Basa Ampek Balai</strong> yang anggotanya adalah beberapa unsur dari Langgam Nan Tujuah, artinya Lareh Koto Piliang telah berdiri. Padahal  <strong>Gajah Tongga Koto Piliang</strong>, mengaku telah ada sebelum Pagaruyung ada.</p>
<p>Kesimpulannya. Latar cerita Cindua Mato adalah konflik antar kerajaan hulu dan hilir Batang Kuantan (Inderagiri) yang sezaman dengan Kandis (abad 8 M).  Artinya Dua orang Datuk sebagai pendiri tatanan adat Minangkabau telah ada jauh sebelum masa konflik yang dikisahkan dalam kaba “ Cindua Mato “ itu.</p>
<p>Akhirnya benar atau tidaknya berdasarkan Penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan kita kembalikan kepada ahlinya. Dengan demikian upaya mengeliminir mythos mythos yang ada diseputar Tambo dapat dilakukan dengan merangkai mythos itu sebagai fakta sejarah Minangkabau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>29 Oktober 2009</p>
Posted in A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU Tagged: sejarah minangkabau <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=971&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/13/penganalisaan-sejarah-terpusat-dan-sejarah-tersebar-sebagai-upaya-merajut-sejarah-keminangkabauan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/11/copy-of-rumah-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Copy of rumah 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sistem pemerintahan minangkabau kuno</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/08/12/sistem-pemerintahan-minangkabau-tua/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/08/12/sistem-pemerintahan-minangkabau-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 02:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hifni H. Nizhamul

Sebagaimana diketahui bahwa pembagian sistem pemerintahan yang ditetapkan oleh dua orang datuk yang bernama Datuk Ketamnggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, terdiri dari dua kelarasan yang dikenal dengan sebutan Lareh nan Duo, yaitu : Bodi dan Chaniago. Koto dan Piliang.  Kemudian dalam perjalanannya muncul sistem kelarasan yang dikenal dengan kelarasan nan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=790&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh : Hifni H. Nizhamul</strong></p>
<p><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/08/balai-adat-kt-gadang.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1019" title="Balai adat kt gadang" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/08/balai-adat-kt-gadang.jpg?w=254&#038;h=174" alt="" width="254" height="174" /></a></p>
<p>Sebagaimana diketahui bahwa pembagian sistem pemerintahan yang ditetapkan oleh dua orang datuk yang bernama Datuk Ketamnggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang, terdiri dari dua kelarasan yang dikenal dengan sebutan Lareh nan Duo, yaitu :<strong> Bodi dan Chaniago. Koto dan Piliang</strong>.  Kemudian dalam perjalanannya muncul sistem kelarasan yang dikenal dengan <strong>kelarasan nan panjang. </strong></p>
<p>Menururut <strong>Drs, Mid Jamal</strong> dalam buku <strong>Menyigi Tambo Alam Minangkabau</strong>, bahwa &#8221; Lareh &#8221; atau Laras artinya &#8221; jatuh&#8221;. Lareh ini dikiaskan sebagai pola pikiran yang jatuh dan tercipta dari Dua orang Datuk itu. Dua orang datuk ini bersaudara seibu dan berlainan ayah. (<em> Simak tersendiri siapakah kedua orang datuk ini, yang mana kisah kedua orang ini terdapat dalam berbagai macam versi- pen).</em><strong><br />
</strong></p>
<p>Kami menganalogikan bahwa pembentukan sistem kelarasan ini tidak jauh berbeda dengan proses norma-norma sebagai yang kita kenal didalam teori ilmu hukum. Lareh tidak lain dari pemberlakukan tata aturan bermasyarakat. Tata aturan yang harus disepakati oleh masyarakat itu menciptakan kesejahteraan, keadilan kemakmuran bagai masyarakat.</p>
<p>Awal perkembangan masyarakat itu,  ada di Nagari Pariangan, sebagai <strong>negeri tertua</strong> pada masa kehidupan nenek moyang minangkabau, yang bernama &#8221; datuk Sri Maharaja diraja &#8221; (demikian penamaan yang diberikan kepadanya oleh si Tukang Kaba &#8211; pen). Kelompok masyarakat yang berasal dari Nagari Pariangan itu meluas hingga Padangpanjang. Kemudian kita kenal pula <strong>Luhak nan Tigo</strong>.</p>
<p>Mengapa dusun tua itu disebut &#8221; pariangan &#8221; &#8211; adalah perumpaan tempat pengembalian roh sesudah mati atau tempat asal mulanya Dapunta Hyang. Demikian menurut uraian <strong>Drs. Mid Djamal</strong> dalam buku <em>&#8221; menyigi Tambo Alam Minangkabau</em>. Berbeda halnya dengan <strong>Datuk Sangguno dirajo</strong>, yang menguraikan bahwa <em>&#8221; Nageri Pariangan &#8220;</em> ini adalah suatu negeri yang aman dan makmur dimana masyarakatnya bergembira dan ber &#8211; riang-riang.</p>
<p>Jika ditelisik pencitraan nenek moyang itu, maka semakin banyak isi tambo yang berbeda &#8211; beda satu sama lainnya.</p>
<p>Dimata penulis, hanya ada satu penamaan yang sama tentang pencipta dua kelarasan ini, yaitu<strong> Datuk Ketamanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang.</strong> Mengapa dua orang datuk ini menciptakan sistem kelarasan ini. Apa manfaatnya bagi masyarakat kala. Beberapa alasan yang dapat kita simpulkan adanya sistem kelarasan ini sebagai sistem kemasyarakatan, adalah :</p>
<p>1.      Tidak ada satu kesepakatan yang diproleh dari kedua orang datuk itu ketika menyelesaikan problema kemasyarakat dan suku &#8211; suku yang sudah mengalami perkembangan kala itu.</p>
<p>2.      Berangkat dari tambo yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau, maka <strong>Datuak Katemanggungan </strong>mengembangkan sistem hukum  (lareh) <em>Koto Piliang</em>, dan <strong>Datuak Prapatiah Nan Sabatang</strong> mengembangkan lareh <em>Bodi Caniago.</em></p>
<p><strong>Lareh Koto Piliang</strong> lebih bercirikan “<em><strong>aristokratis”,</strong></em> dimana kekuasaan tersusun pada strata-strata secara bertingkat dengan wewenangnya bersifat vertikal, sesuai dengan pepatahnya <em>manitiak dari ateh (menetes adri atas)</em>. Sementara <strong>Lareh Bodi Caniago</strong> bercirikan <strong>“demokratis”</strong> dimana kekuasaan tersusun berdasarkan prinsip egaliter dengan wewenang bersifat horizontal, sesuai dengan pepatahnya<em> mambusuik dari bumi (muncul dari bawah).</em></p>
<p><em> </em>Secara struktural, ajaran kedua Lareh ini lah yang akhirnya mempengaruhi (constrains) pola kehidupan sosial-politik masyarakat Minangkabau di kemudian hari. Perbedan-perbedaan sering menjadi pemicu  persaingan dan pertentangan diantara kedua datuak ini dalam memimpin Minangkabau pada waktu itu.</p>
<p>Sebagaiman di uraikan dalam buku yang ditulis oleh Dobbin, 1983 dan Djamaris, 1991, Ketika ayah dan ibu mereka <strong>(Cati Bilang Pandai dan Indo Jalito) </strong>meninggal dunia, terjadilah konflik di Limo Kaum. Masyarakat Minangkabau kuno kala itu terbelah dalam dua sistem kemasyarakatan dan disisi lain juga akhirnya membelah wilayah Minangkabau kedalam dua aliran tersebut, yang dikenal dengan istilah luhak (Batuah, 1966).  Secara struktural, dua lareh yang diciptakan duo datuak ini lah yang kemudian menjadi landasan dasar kehidupan sosial-politik masyarakat Minangkabau, sampai sekarang ini (Maarif, 1996).</p>
<p>Perbedaan antara dua lareh ini menimbulkan persaingan satu sama lain. Bahkan menurut Christine Dobbin, persaingan tersebut telah terjadi sejak dua <em>Datuak-Datuak Katamenggunga</em>n dan <em>Datuak Prapatiah nan Sabatang</em> — mencetuskan adat lareh itu sendiri. Dimana letak kedua Kelarasan itu.  Ini ditandai dengan persaingan antara desa <strong>Lima Kaum</strong> yang menganut adat l<strong>areh Bodi Caniago</strong> dengan <strong>desa Sungai Tarab</strong> yang menganut adat lareh <strong>Koto Piliang</strong>, yang digambarkan Dobbin sampai terjadi “perang batu” dan “perang bedil”.</p>
<p>Laras (lareh) adalah dasar pemerintahan menurut Minangkabau kuno. Kemudian menjadi sistem hukum adat yang berlaku diseluruh alam minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.</p>
<p>Beriku ini ada perbedaan antara kedua kelarasan itu, yaitu :</p>
<table style="height:912px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="715">
<tbody>
<tr style="text-align:center;">
<td width="51%">
<h2><strong>Bodi Caniago</strong></h2>
<h2><strong><br />
</strong></h2>
</td>
<td width="49%">
<h2><strong>Koto   Piliang</strong><strong> </strong></h2>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan   Sabatang</td>
<td width="49%" valign="top">Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Berdaulat   pada rakyat, diungkapkan:<br />
<em>putuih rundiangan dek sakato</em><br />
<em>rancak rundiangan disapakati </em><br />
<em>kato surang dibulek-i </em><br />
<em>kato basamo kato mufakat </em><br />
<em>saukua mako manjadi, sasuai   mako takanak </em><br />
<em>tuah dek sakato, mulonyo   rundiang dimufakati </em><br />
<em>di lahia lah samo nyato, di   batin buliah diliek-i</em></p>
<p><em><br />
</em></td>
<td width="49%" valign="top">Berpusat   pada pimpinan, diungkapkan:<br />
<em>nan babarih nan bapaek </em><br />
<em>nan baukua nan bacoreng </em><br />
<em>titiak dari ateh, turun dari   tanggo </em><br />
<em>tabujua lalu, tabalintang   patah</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Semboyannya <em>mambasuik   dari bumi</em></p>
<p><em><br />
</em></td>
<td width="49%" valign="top">Semboyannya <em>titiak   dari ateh</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Bersifat demokratis</td>
<td width="49%" valign="top">Bersifat otokratis</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan.</td>
<td width="49%" valign="top">Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal menerima apa yang telah ditetapkan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Penggantian gelar pusaka secara <em>hiduik bakarelaan</em>, artinya penghulu bisa   diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya.</td>
<td width="49%" valign="top">Penggantian gelar pusaka secara <em>mati batungkek budi</em>, artinya penghulu baru   bisa diganti jika sudah meninggal</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Pewarisan gelar disebut <em>gadang   bagilia</em>, artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada kaum mereka   walau bukan <em>saparuik</em>,   asalkan melalui musyawarah adat</td>
<td width="49%" valign="top">Pewarisan gelar disebut <em>patah   tumbuah hilang baganti</em>, artinya gelar penghulu harus tetap di   pihak mereka yang <em>saparuik</em> (sekeluarga).</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal</td>
<td width="49%" valign="top">Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan</td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Menurut   tambo, daerah kebesarannya:</p>
<p><strong>§ Tanjuang   Nan Ampek</strong></p>
<p>1. Tanjuang   Alam</p>
<p>2. Tanjuang   Sungayang</p>
<p>3. Tanjuang   Barulak</p>
<p>4. Tanjuang   Bingkuang</p>
<ul>
<li>§ Lubuak   Nan Tigo</li>
</ul>
<p>1. Lubuak   Sikarah</p>
<p>2. Lubuak   Simauang</p>
<p>3. Lubuak   Sipunai</p>
<p>Susunan   kebesaran ini dinamakan <strong><em>Lareh   Nan Bunta</em></strong>.</td>
<td width="49%" valign="top">Menurut   tambo, daerah kebesarannya:</p>
<p><strong>§ Langgam   Nan Tujuah</strong></p>
<p>1. Singkarak   – Saningbaka</p>
<p>2. Sulik   Aia – Tanjuang Balik</p>
<p>3. Padang Gantiang</p>
<p>4. Saruaso</p>
<p>5. Labutan   – Sungai Jambu</p>
<p>6. Batipuah</p>
<p>7. Simawang   – Bukik Kanduang</p>
<p>§ <strong>Basa   Ampek Balai</strong></p>
<p>1. Sungai   Tarab</p>
<p>2. Saruaso</p>
<p>3. Padang Gantiang</p>
<p>4. Sumaniak</p>
<p>Susunan   kebesaran ini dinamakan <strong><em>Lareh   Nan Panjang</em>.</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="51%" valign="top">Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut <em>pucuak  tagerai</em>.</td>
<td width="49%" valign="top">Penghulunya bertingkat-tingkat, disebut <em>pucuak bulek, urek tunggang</em>.</p>
<p>Tingkatannya adalah</p>
<p>panghulu pucuak,</p>
<p>panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU Tagged: hukum <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/790/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=790&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/08/12/sistem-pemerintahan-minangkabau-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/08/balai-adat-kt-gadang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Balai adat kt gadang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Migrasi adat perpatih ke negeri sembilan</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/26/migrasi-adat-perpatih-ke-negeri-sembilan/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/26/migrasi-adat-perpatih-ke-negeri-sembilan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 01:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[
oleh : Hifni H. Nizhamul
Negeri Sembilan pada asalnya didiami oleh orang-orang asli daripada suku kaum Sakai, Semang dan Jakun. Mereka hidup berpindah randah, memburu, mengutip hasil hutan dan ada yang mula bertani.
Pada permulaan abad ke-14 Masehi, orang-orang Sumatra dari Tanah Minangkabau hijrah ke Negeri Sembilan melalui Melaka. Mereka menempati wilayah Rembau. Orang Minangkabau ini kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=804&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h6><img src="http://www.ns.gov.my/Jabatan/muzium/images/stories/muzium_negri.jpg" alt="muzium_negri.jpg" hspace="6" align="center" /></h6>
<p style="text-align:left;"><strong>oleh : Hifni H. Nizhamul</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Negeri Sembilan</strong> pada asalnya didiami oleh orang-orang asli daripada suku kaum <strong>Sakai, Semang dan Jakun</strong>. Mereka hidup berpindah randah, memburu, mengutip hasil hutan dan ada yang mula bertani.</p>
<p style="text-align:left;">Pada permulaan abad ke-14 Masehi, orang-orang Sumatra dari <a title="Tanah Minangkabau" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Tanah_Minangkabau">Tanah Minangkabau</a> hijrah ke Negeri Sembilan melalui Melaka. Mereka menempati wilayah <a title="Rembau" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Rembau">Rembau</a>. Orang Minangkabau ini kemudian berhasil memikiat hati penduduk Asli wilayah rembau ini. Orang minangkabau ini membawa tata cara adat mereka, seperti adat perkawinan yang menganut sistem matrilini. Disini, pada akhirnya berlakulah perkawinan antara orang-orang Minangkabau ini dengan penduduk asli sesuai dengan tata cara adat minangkabau. Keturunan orang &#8211; orang minangkabau ini dikenal dengan suku <strong>Biduanda</strong>.<span id="more-804"></span></p>
<p style="text-align:left;">Dalam sistem kemasyarakatan kala itu, Suku <strong><a title="Biduanda (tidak wujud)" href="http://ms.wikipedia.org/w/index.php?title=Biduanda&amp;action=edit&amp;redlink=1">Biduanda</a> </strong>memakai  sistem  kekerabatan di Minangkabau. Apabila hendak memilih pemimpin/penghulu, mereka hanya akan memilih dari suku Biduan menurut tata cara yang sudah dikenalnya. Mengapa demikian ? Tidak lain, bahwa sistem kepemimpinan didalam masyarakat sudah jelas. Yaitu pewarisan harta pusaka jatuh kepada penguasaan perempuan, sedangkan <strong>&#8221; sako &#8220;</strong> jatuh kepada kemenakan laki-laki. Mereka menyebutnya adat perpatih.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Suku Biduanda </strong>mengakui, bahwa adat perpatih lebih mengedepankan kaum wanita daripada lelaki. Menurutnya, adat ini adalah adat yang terbaik di Negeri Melayu, karena adat ini  mencakupi berbagai  aspek. Keutamaan wanita di dalam adat pepatih  lkarena wanita mewarisi harta pusaka dan membawa darah keturunan. Berbeda dari kesultanan Melayu yang lain, harta dan darah keturunan di warisi oleh kaum lelaki. Menurut adat pepatih, karena wanita yang mengandung dan melahirkan anak,  maka wanitalah yang membawa darah keturunan kepada pewaris iaitu anaknya. Dari segi harta, hanya harta pusaka. Yaitu termasuk tanah dan rumah induk diwarisi oleh wanita. Maksudnya agar kaum wanita tidak terabaikan sekiranya diperlakukan tidak baik oleh suaminya.Namun demikian harta sepencarian adalah milik bersama lelaki dan wanita dan di bahagi mengikut hukum Islam.</p>
<p style="text-align:left;">Hasil positif daripada pengamalan adat pepatih ini, harta pusaka tidak tergadai kerana tidak boleh dijual. Harta tetap berada di dalam sebuah kampung. Biasanya didalam kampung itu terdiri dari,  sanak saudara mereka karena tanah pusaka diwariskan kepada keturunan hingga generasi sekarang. Dalam arti kata lain, di dalam sebuah wilayah, terdapat  keluarga dari satu keturunan.</p>
<p style="text-align:left;">Pepatah mereka berbunyi : <em>&#8221; Bulat air kerana pembentung, bulat manusia kerana muafakat.</em></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Suku Biduanda </strong>-  inilah kemudian menjadi penduduk asli Negeri Sembilan. Migrasi yang berkelanjutan dilakukan oleh orang-orang Minangkabau, umumnya berasal dari luhak-luhak  di Mingkabau. Migrasi pertama berasal dari Luhak Tanah Datar dan Limapuluh Koto.</p>
<p style="text-align:left;">Negeri Sembilan semula di bawah kekuasaan kerajaan Melayu Johor. Kemudian <strong>suku Biduanda </strong>- mendirikan kerajaan Negeri Sembilan, ketika melepaskan dri dari kerajaan Johor itu. Pembesar-pembesar Negeri Sembilan kala itu mengundang Penghulu dari Pagaruyung dan kemudian didudukkan sebagai Raja.</p>
<p style="text-align:left;">Ketibaan <a title="Raja Melewar" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Raja_Melewar"><em>(kedeatangan )</em> Raja Melewar</a> dari <a title="Pagar Ruyung" href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Pagar_Ruyung">Pagar Ruyung</a>, Minangkabau berawasal pada 1773. Ialah yang pertama melembagakan sebuah kerajaan di Negeri Sembilan. Uniknya dari pendirian kerajaan di di Negeri Sembilan ini adalah : bahwa semula ia  Penghulu dari Pagar Ruyung dan kemudian ia  dirajakan di Negeri Sembilan. Sebab itulah raja di Negeri Sembilan ini, tidak  bergelar Sultan tetapi memakai gelaran <strong>Yang DiPertuan atau Yamtuan</strong>.</p>
<p style="text-align:left;">Adat yang dipakai untuk mendirikan Kerajaan Negeri Sembilan adalah adat yang dikembangkan oleh Datuk Pepatih Nan Sebatang. Beliau juga merupakan penggasas bagi adat pepatih yang sangat terkenal di Minangkabau. Kelarasan yang dianut oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang ini adalah Kelarasan Bodi Chaniago.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Di Negeri Sembilan terdapat 12 (dua belas) suku-suku atau keluarga.</strong><strong></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Suku-suku tersebut seperti berikut:<br />
Suku Biduanda (dondo)<br />
Batu Hampar (Tompar)<br />
Paya Kumbuh (Payo Kumboh)<br />
Mungkal<br />
Tiga Nenek<br />
Seri Melenggang (Somolenggang)<br />
Seri Lemak (Solomak)<br />
Batu Belang<br />
Tanah Datar<br />
Anak Acheh<br />
Anak Melaka<br />
Tiga Batu</strong></p>
<p style="text-align:left;">Di edit dari Sumber :</p>
<p style="text-align:left;">http://ms.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Negeri_Sembilan</p>
<p style="text-align:left;">http://psbjelebu.blogspot.com/2005/06/asal-usul-adat-perpatih.html</p>
Posted in A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU Tagged: Sejarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/804/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=804&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/26/migrasi-adat-perpatih-ke-negeri-sembilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.ns.gov.my/Jabatan/muzium/images/stories/muzium_negri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">muzium_negri.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>` seputar Minangkabau kuno`</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 05:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundokandung</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=792</guid>
		<description><![CDATA[
I.     Minangkabau dalam sebuah mythos  :
1.    Ikhwal Nagari di Gunung Merapi :

 a.    Maharaja yang Bermahkota 
Versi lain dari Tambo menceritakan, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar Zulkarnain tiga bersaudara, ketika berada di dekat pulau Sailan (Srilangka) &#8211; mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai menyelam telah diperintahkan untuk mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=792&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-836" title="istana_pagaruyung_ps2" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/06/istana_pagaruyung_ps2.jpg?w=140&#038;h=93" alt="istana_pagaruyung_ps2" width="140" height="93" /></p>
<p><strong>I.     Minangkabau dalam sebuah mythos  :</strong></p>
<p><strong>1.    Ikhwal Nagari di Gunung Merapi :<br />
</strong></p>
<p><strong> a.    Maharaja yang Bermahkota </strong></p>
<p>Versi lain dari Tambo menceritakan, bahwa dalam pelayaran putera-putera <strong>Raja Iskandar Zulkarnai</strong>n tiga bersaudara, ketika berada di dekat pulau Sailan (Srilangka) &#8211; mahkota emas mereka jatuh ke dalam laut. Sekalian orang pandai menyelam telah diperintahkan untuk mengambil makhkota emas itu. Tetapi makhkota itu tidak berhasil diraih, karena mahkota itu dipalut oleh ular bidai di dasar laut.  <strong>Cati Bilang Pandai </strong>memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa.  Setelah mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan<strong> “camin taruih”</strong> dibuatlah tiruannya dengan sempurna. Setelah selesai,  tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan jangan dapat ditiru lagi. Ketika Sri Maharaja Diraja terbangun, mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah. Sri Maharaja Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum, kemudian berkuasa sampai ke Tanah Perancis dan Inggris. Sri Maharaja Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri Jepang.</p>
<p>Komentar ~ padusi ~ : entah darimana cerita dongeng ini adanya, nyatanya kami temui dalam tambo tambo minangkabau yang tersebar dalam penerbitan buku.</p>
<p><span id="more-792"></span><strong>b.  Galundi Nan Baselo</strong></p>
<p><strong>Sri Maharaja Diraja</strong> turun sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang lebat.  Mula-mula dibuatlah beberapa buah<strong> taratak.</strong> Kemudian diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang. Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun, dan <strong>Galundi Nan Baselo</strong> menjadi ramai.  Sri Maharaja Diraja menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung, kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah itu mengalir sebuah sungai bernama <strong>Batang Bengkawas</strong>. Karena sungai itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.  Beratus-ratus tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka, karena air telah menyusut pula.</p>
<p>Dalam tambo dikatakan <em>“Tatkalo bumi barambuang naiak, aia basintak turun”</em>.</p>
<p>- Keturunan Sri Maharaja Diraja dengan <strong>“Si Harimau Campa”</strong> yang bersumur ditumbuhi agam berangkat ke dataran tinggi yang kemudian bernama <strong>“Luhak Agam” (luhak = sumur). </strong>Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>- Keturunan<strong> “Kambing Hutan”</strong> membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang kemudian diberi nama<strong> “Luhak 50 Koto” (Payakumbuh)</strong> dari luhak yang banyak ditumbuhi kumbuh.  Keturunan “Anjing yang Mualim” ke Kubang Tigo Baleh (Solok).</p>
<p>- Keturunan<strong> “Kucing Siam” </strong>ke Candung-Lasi dan anak-anak raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap <strong>di Luhak Tanah Datar.</strong> Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar, membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan teratak, membangun dusun, koto dan kampung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> c. Kedatangan Sang Sapurba </strong></p>
<p>Tersebutlah kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan <em>“Datanglah ruso dari Lauik”</em>. Kabarnya dia sangat kaya bergelar <em>Raja Natan Sang Sita Sangkala </em>dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata berkilauan dan ratna mutu manikam.  Mula-mula ia datang dari tanah Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu <strong>Sang Nila Utama, Sang Maniaka;</strong> dua perempuan yaitu <strong>Cendera Dewi</strong> dan <strong>Bilal Daun.</strong></p>
<p>Pada satu hari <strong>Sang Sapurba</strong> ingin hendak berlayar menduduki Sungai Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo ialah<strong> Suri Dirajo</strong>, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk <strong>Galundi Nan Baselo</strong> dan di segenap daerah. Ia juga bergelar<strong> Sri Maharaja Diraja</strong>, gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.</p>
<p>Anak negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah dan gagah. Orang banyak menggelarinya <strong>“Rusa Emas”</strong>, karena mahkotanya yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba dijadikan semenda, dikawinkan dengan adiknya bernama<strong> Indo Julito</strong>.  Sang Sapurba beragama Hindu. Dia menyembah berhala. Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai sekarang masih bernama <strong>Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah Hiyang / Dewa)</strong>. Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu adalah tempat beriang-riang.<strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong> d. Raja yang Hanya Sebagai Lambang </strong></p>
<p><strong>Sang Sapurba</strong> lalu dirajakan dengan memangku gelar <strong>Sri Maharaja Diraja</strong> juga. Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap <strong>Suri Dirajo</strong> sebagai orang tua, sedangkan Sang Sapurba hanya sebagai lambang.  Untuk raja dengan permaisurinya dibuatkan istana<strong> “Balairung Panjang”</strong> tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari : <em>tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb</em>. Karena Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat yang baru di <strong>Batu Gadang</strong>. Seorang hulubalang yang diperintahkan melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu, sampai sekarang masih bernama <strong>&#8221; Padang Panjang</strong> &#8220;.  Lama kelamaan Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian <strong>Pariangan</strong> dengan <strong>Padang</strong> <strong>Panjang</strong> menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung Merapi di seluruh <strong>Batang Bengkawas,</strong> yaitu negeri <strong>Pariangan Padang Panjan</strong>g.</p>
<p>Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat “penghulu” dan bergelar “Datuk”. · <strong>Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo</strong> untuk Pariangan · <strong>Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang Panjang</strong>. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> e.      Sikati Muno</strong></p>
<p>Seorang orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu. Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang naga <strong>“Sikati Muno”</strong> yang keluar dari kawah Gunung Merapi. Rakyat sangat kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa naga itu tubuhnya besar dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan dan gadis-gadis dikorbankannya.</p>
<p>Keempat penghulu dari Pariangan-padang Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang kekacauan yang ditimbuklan oleh Sikati Muno. Untuk menjaga prestisenya sebagai seorang semenda, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno. Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Pedang Sang Sapurba sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris tersebut dinamakan<strong> “Keris Sikati Muno”</strong>, keris bertuah, tak diujung pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.  Sejak itu amanlah negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah ramai. Oleh sebab itu Sang Sapurba memerintahkan lagi mencari tanah-tanah baru.</p>
<p>Pada suatu hari raja sendiri pergi keluar, melihat-lihat daerah yang baik dijadikan negeri. Dia berangkat bersama-sama dengan pengiring-pengiringnya. Ia sampai pada suatu tempat mata air yang jernih keluar dari bawah pohon tarab. Sang Sapurba berpikir, tanah itu tentu akan subur sekali dan baik dijadikan negeri. Lalu diperintahkannyalah membuka tanah-tanah baru ditempat itu. Sampai sekarang tanah itu dinamakan <strong>Sungai Tarab</strong>. Kemudian hari jadi termasyhur, tempat kedudukan<strong> “Pamuncak Koto Piliang” Dt. Bandaharo</strong> di<strong> Sungai Tarab</strong>.</p>
<p>Selain itu raja menemui pula setangkai kembang teratai di daerah itu, kembang pujaan bagi orang-orang Hindu. Raja menyuruh mendirikan sebuah istana di tempat itu. Setelah istana itu siap, lalu  raja berpindah tahta dari Pariangan-Padang Panjang ke tempat yang baru itu. Tempat baru itu kemudian diberi nama negeri <strong>Bungo Satangkai</strong>. Negeri g kedua sesudah Nagari Pariangan di Padang Panjang.</p>
<p><strong><em>(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)</em></strong></p>
<p><strong>II. Minangkabau Kuno :</strong><strong> </strong></p>
<hr size="2" />Sulit bagi kita menyebutnya sebagai sebuah kerajaan pada masa Minangkabau kuno ini. Berpusat di Nagari Pariangan Padang Panjang &#8211; dapatlah dikatakan sebagai awal dari kehidupanan masyarakat minangkabu kuno. Dengan perkembangan Masyarakat kala itu, maka diciptakan oleh nenek moyang suatu tatanan kehidupan yang lebih beradat dan berbudaya. Sejak inilah diciptakan dan dikukuhkan aturan adat Minangkabau yang kita amalkan sampai sekarang. Walaupun telah kehidupan masyarakat berarlih seiring dengan perubahan masyarakat, namun pada kenyataanyaa adat dan budaya Minangkabau tetap terpakai. Sebuah pepatah menyebutkan adat minangkabau &#8221; Tidak lakang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan.Siapapun diantara putra-putri Minangkabau yang dengan sengaja melanggar aturan adat itu, akan tersisih kehidupannya dalam keluarga sendiri.</p>
<p>Dikisahkan bahwa pada  tahun 1127, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah dengan puti Indo Jelita, yakni adik kandung dari Datuk Suri Dirajo. Setelah 14 tahun menikah, ternyata belum juga mendapat keturunan. Maka atas sepakat dewan kerajaan, Sultan Sri Maharaja Diraja menikah lagi dengan Puti Cinto Dunia. Setelah dua tahun menikah dengan Puti Cinto Dunia, tidak ada juga tanda-tanda kehamilan Puti tersebut. Kemudian Sultan menikah lagi dengan Puti Sedayu. Atas rahmat Tuhan, <strong>tahun 1147</strong>, lahirlah <strong>Sultan Paduko Basa</strong> dari permaisuri Puti Indo Jelito, yang kemudian diangkat sebagai Raja Minangkabau, bergelar <strong>Datuk Ketemanggungan</strong>. Tahun itu juga lahir pula <strong>Warmandewa d</strong>ari Puti Cinto Dunia, yang kemudian bergelar <strong>Datuk Bandaharo Kayo</strong>. Tahun 1148, lahir lagi <strong>Reno Shida dari Puti Sedayu</strong>, yang kemudian bergelar <strong>Datuk Maharajo Basa</strong>. Dengan demikian telah 3 orang putra Raja, masing-masing dari tiga orang ibu.</p>
<p>Tahun 1149, Sultan Sri Maharaja Diraja mangkat dan waktu itu anak raja yang tertua masih berusia 2 tahun. Atas sepakat dewan kerajaan, I<strong>bu Suri Puti Indo Jelito</strong>, langsung memegang tampuk kerajaan Minangkabau sementara menunggu Sutan Paduko Basa menjadi dewasa. Tugas harian dilaksanakan oleh tiga pendamping raja yakni <strong>Datuk Suri Dirajo, Cetri Bilang Pandai dan Tantejo Gurano.</strong> Karena kasih sayang Datuk Suri Dirajo, maka  Puti Indo Jelito yang menjanda itu, lalu dinikahkan dengan <strong>Cetri Bilang Pandai</strong>. Dari perkawinannya itu melahirkan 5 orang anak :</p>
<ol>
<li><strong>Jatang Sutan Balun bergelar Datuk Perpatih Nan Sabatang (lahir 1152)</strong></li>
<li><strong>Kalap Dunia bergelar Datuk Suri Maharajo nan Banego-nego (lahir 1154)</strong></li>
<li>Puti Reno Judah lahir 1157, kemudian dibawa oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang ke Lima Kaum dimana anak dan kemenakannya kemudian diangkat menjadi penghulu.</li>
<li>Puti Jamilan lahir 1159, kemudian dibawa Datuk Ketemanggungan ke Sungai Tarab dan ke Bunga Setangkai untuk keturunannya nanti menjadi raja dan penghulu</li>
<li>Mambang Sutan lahir th 1161, setelah berumur 4 th bergelar Datuk Suri Dirajo menggantikan gelar mamaknya (abang dari Puti Indo Jelito)</li>
</ol>
<p><strong>Mambang Sutan</strong> merupakan kemenakan pertama di Minangkabau yang menerima gelar dari mamaknya. Tahun 1165 yakni sewaktu <strong>Sutan Paduko Basa </strong>telah berumur 18 tahun, beliau diangkat sebagai penghulu bergelar <strong>Datuk Ketumanggungan. S</strong>ekalipun menduduki tahta kerajaan Minangkabau, pengganti raja yang telah 16 tahun mengemban tugas dari ibunya Puti Indo Jelito. Selain itu, semua anak laki-laki Sultan Sri Maharaja Diraja dinobatkan pula menjadi penghulu.</p>
<p>Tahun 1174  &#8211; Minangkabau kuno  memperluas pengaruh dan pemberlakukan adatnya ke Sungai Tarab, Lima Kaum dan Padang Panjang. Masing-masing daerah diduduki oleh seorang penghulu &#8211; anak dari tiga orang istri Sultan Sri Maharaja Diraja.</p>
<p>LUHAK NAN TIGO :</p>
<p>Karena penduduk semakin berkembang dan kepadatan penduduk daerah Pariangan semakin terasa, maka tahun 1186-1192 diadakanlah perpindahan penduduk melalui pembagian Luhak Nan Tigo.</p>
<p><strong>KELARASAN : </strong></p>
<p>Pada masing-masing luhak dibentuk beberapa kelarasan. Pada kelarasan dibentuk pula beberapa Suku.</p>
<p><strong>SUKU : </strong></p>
<p>Adapun suku dalam daerah kerajaan Minangkabau diatur menurut garis keturunan ibu. Siapapun bapak dari seorang anak atau apapun pangkat bapaknya, namun suku anaknya menurut suku ibunya.</p>
<p>SISTEM KEKERABATAN :</p>
<p>Untuk mengukuhkan berdirinya suku, maka dibangunlah system kekerabatan dimana perempuan sebagai penerus garis keturunan atas dasar suku. Mereka memelihara harta. Harta pusaka dari kaum , diwariskan kepada keturunan perempuan. Aturan adat yang demikian disebut Matrilinial. Hanya dua daerah di dunia ini yang memakai aturan Matrilinial. Satu didaerah pedalaman Hindia, asal nenek moyangnya dahulu 2000 tahun sebelum masehi. Dan satu lagi berkembang di Sumbar.</p>
<p>Bagi perempuan harta pusaka bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk jaminan hidup keturunan suku. Pada tahun 1292, cicit dari Puti Jamilan, bernama <strong>Putri Dara Jingga </strong>yang pemangku Putri Mahkota, dinikahkan dengan <strong>Mahisa Anabrang, Panglima kerajaan Singhasari, keluarga dari Raja Kartanegara</strong>.</p>
<p>Sebelum menikah terlebih dahulu Mahisa di-islamkan. Tahun 1293 Puti Dara Jingga sedang hamil, pergi mengikuti suaminya pulang ke Singhasari yang dipanggil oleh raja Pertama Majapahit (Raden Wijaya). Putri Dara Jingga membawa adik seayah dengannya yaitu Puti Dara Petak untuk pengasuh anaknya yang akan lahir. Beberapa bulan dikerajaan Majapahi, Mahisa Anabrang &#8211; mengambil alih kerajaan Singhasari itu. Di sinilah Dara Jingga &#8211; melahirkan anaknya yang diberi nama Adityawarman.  Kemudian adik Dara Jingga yaitu  Dara Petak, menikah dengan (Raden Wijaya) &#8211; Raja Majapahit pertama . Puti Dara Petak berubah nama menjadi Diyan Sri Tribuaneswari. Walaupun telah menjadi istri Raja Majapahit, Puti Dara Petak tetap mengasuh Adityawarman di kerajaan Majapahit.</p>
<p>Karena Datuk Ketumanggungan telah sangat tua, maka tahun 1295, Dara Jingga dipanggil pulang ke Minangkabau untuk menjadi Raja di Minangkabau dengan panggilan Bundo Kanduang. Anak Bundo Kanduang yang bernama Adityawarman tetap tinggal dikerajaan Majapahit, karena Puti Dara Petak tidak mau melepasnya pulang, ingin terus mengasuh anak kakaknya.</p>
<p>Setelah Bunda Kandung menjadi Raja Minangkabau, Datuk Ketumanggungan mangkat dalam usia 149 tahun dan disusul oleh meninggalnya Datuk Perparih Nan Sebatang dalam usia 146 tahun. Si Kambang Bendahari (dayang-dayang utama dari Bunda Kandung) dinikahkan dengan Selamat Panjang Gobang (1292) yakni seorang diplomat utusan dari kerajaan Cina (khubilai Khan). Sebelum menikah terlebih dahulu Selamat Panjang Gombak di-Islamkan. Perkawinan itu melahirkan seorang anak bernama Cindur Mato th 1294. Cindur Mato diasuh ilmu perang oleh Mahisa Anabrangyang yang teringat akan anak kandungnya Adityawarman jauh di Majapahit. Selain itu Cindur Mato dididik ilmu silat pula oleh ayah kandungnya Selamat Panjang Gombak. Maka menjadilah Cindur Mato seorang pendekar yang tangguh dan Panglima kerajaan Minangkabau yang tiada tandingan dizamannya.  Adityawarman sendiri yang Putra Mahkota Kerajaan Minangkabau, dididik ilmu perang dan ilmu kerjaan oleh Majapahit. Adityawarman pernah menjadi Wirdamatri yang merupakan predikat setaraf dengan Mpu Nala dan Maha Patih. Karena itu Adityawarman salah seorang Tri Tunggal Kerajaan Majapahit. Setelah dewasa pulanglah Adityawarman menemui Bundo Kandung dan kawin dengan Puti Bungsu (anak mamaknya Rajo Mudo) dari Ranah Sikalawi-Taluk Kuantan, sebelum menikah Adityawarman yang menganut Budha, terlebih dahulu di-Islamkan. Pada tahun 1347 Adityawarman dinobatkan menjadi Raja Minangkabau bergelar Dang Tuanku (Sutan Rumandung). Pernikahan Adityawarman dengan Puti Bungsu melahirkan anak yang bernama Ananggawarman. Gahah Mada pernah marah kepada Adityawarman karena tidak mau takluk kepada Majapahit. Tapi Adityawarman tidak segan kepada Gajah Mada, karena mereka sependidikan. Gajah Mada mencoba menyerang Minangkabau pada th 1348, tapi gagal, malah Adityawarman pernah membantu Majapahit menaklukkan Bali. Sewaktu Minangkabau dibawah pimpinan Ananggawarman tahun 1375-1417, pertahanan kerajaan Minangkabau telah sangat kuat. Patih Wikrawardhana dikerajaan Majapahit, masih mencoba menyerang kerajaan Minangkabau tahun 1409, tapi tetap tidak berhasil. Itu merupakan serangan yang terakhir terhadap Minangkabau. Kalau dizaman Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang, kerajaan Minangkabau terkenal dengan aturan adat dan filsafahnya, maka dizaman Bundo Kanduang, Adityawarman dan Ananggawarman kerajaan Minangkabau terkenal dengan keahlian Cindur Mato sebagai panglima perangnya. Sesudah Ananggawarman tidak terdengar lagi kegiatan Raja Minangkabau, mungkin karena raja dan penghulunya tidak lagi membuat ubahan, baik untuk kerajaan, maupun untuk rakyat yang memang telah sempurna dibentuk oleh cerdik pandai terdahulu. Demikian sempurnanya aturan adat dikerjakan Minangkabau sangat pula membantu pelaksanaan aturan adat itu, karena adat Minangkabau disusun bersendi syarak (agama Islam) dan syarak bersendi Kitabullah.<em> </em><em> </em><em>(Sumber : Kerajaan Minangkabau – Jamilus Jamin)</em><strong> </strong><strong> </strong><strong> </strong><strong> </strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong>III.   Asal Usul Kata Minangkabau</strong></p>
<hr size="2" />Orang-orang Majapahit tidak ketinggalan mencoba kecerdasan dan kecerdikan orang-orang dari Gunung Merapi ini. Pada suatu hari mereka membawa seekor kerbau besar dan panjang tanduknya, kecil sedikit dari gajah.  Mereka ingin mengadakan pertandingan adu kerbau. Ajakan mereka itu diterima baik oleh kedua datuk yang tersohor kecerdikannya dimana-mana itu, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang. Taruhannya adalah seperti dulu-dulu juga, yakni kapal pendatang dengan segala isinya, dan taruhan datuk yang berdua itu ialah kerajaan mereka sendiri. Waktu tiba saatnya akan mengadu kerbau, setelah kerbau Majapahit dilepaskan di tengah gelanggang, orang banyak riuh bercampur cemas melihat bagaimana besarnya kerbau yang tidak ada tandingannya di Pulau Perca waktu itu. Dalam keadaan yang menegangkan itu, pihak orang-orang negeri itupun mengeluarkan kerbaunya pula. Dan alangkah herannya dan kecutnya hati orang banyak itu melihat mereka mengeluarkan seekor anak kerbau. Anak kerbau itu sedang erat menyusu, dan orang tidak tahu, bahwa anak kerbau itu telah bebearapa hari tidak doberi kesempatan mendekati induknya.  Ketika melihat kerbau besar di tengah gelanggang anak kerbau itu berlari-lari mendapatkannya yang dikria induknya dengan kehausan yang sangat hendak menyusu. Dimoncongnya terikat sebuah taji atau minang yang sangat tajam. Ia menyeruduk ke bawah perut kerbau besar itu, dan menyinduk-nyinduk hendak menyusu. Maka tembuslah perut kerbau Majapahit, lalu lari kesakitan dan mati kehabisan darah. Orang-orang Majapahit memprotes mengatakan orang-orang negeri itu curang. Kegaduhan pun terjadi dan hampir saja terjadi pertumpahan darah. Tetapi dengan wibawanya Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatih Nan Sabatang membawa orang-orang itu ke balai persidangan. Disanalah Dt. Parpatih Nan Sabatang menangkis tuduhan-tuduhan orang-orang Majapahit. Akhirnya orang-orang Majapahit pemgakui kealpaan mereka tidak mengemukakan persyaratan-persyaratan antara kedua belah pihak sebelum mengadakan pertandingan.  Sejak itu tempat mengadu kerbau itu sampai sekarang bernama Negeri Minangkabau. Dan kemudian hari setelah peristiwa kemenangan mengadu kerbau dengan Majapahit itu termasyhur kemana-mana, wilayah kekuasaan orang-orang yang bernenek moyang ke Gunung Merapi dikenal dengan Alam Minangkabau. Diceritakan pula kemudian rumah-rumah gadang diberi berginjong seperti tanduk kerbau sebagai lambang kemenangan. <em> </em><em> </em><em>(Sumber : Minangkabau Tanah Pusaka – Tambo Minangkabau)</em></p>
<p><strong>4. Hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan </strong><strong> </strong></p>
<hr size="2" />Datuk Perpatih nan Sebatang pada zaman dahulu konon kabarnya sudah pernah berlayar dan sampai ke Melaka serta singgah di Negeri Sembilan.<strong> </strong></p>
<h1>Negeri Sembilan sekarang</h1>
<p>Negeri Sembilan termasuk salah satu negara bagian yang menjadi negara Federasi Malaysia. Sebelah selatannya terletak Gubernemen Melaka sebelah ke timur dengan negara bagian Jojor, sebelah utara dengan Pahang dan sebelah barat dengan Selangor.  Dalam tahun 1970 negara bagian yang luasnya 2.580 mil persegi ini mempunyai penduduk lebih dari setengah juta jiwa dengan penduduk berkebangsaan Melayu lebih sedikit dari bangsa Cina. Mayoritas di Malaysia terdiri dari tiga rumpun bangsa : Melayu, Cina dan Keling. Penduduk bangsa Melayu yang kira-kira seperempat juta itu sebahagian besar masih mempunyai hubungan dengan daerah asalnya yaitu Minangkabau. Masih banyak adat istiadat Minangkabau yang masih belum hilang oleh mereka dan sebagian masih dipergunakan dalam tata cara hidupnya. Malahan beberapa keterangan dan adat-adat yang di Minangkabau sendiri sudah dilupakan pada mereka masih tetap sega</p>
Posted in A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU Tagged: Sejarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/792/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/792/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/792/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=792&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/06/12/silsilah-kerajaan-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b1175010d62a9433a0d0e857a24283c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/06/istana_pagaruyung_ps2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">istana_pagaruyung_ps2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sketsa perjalanan sejarah ~ Dapunta Hyang ~ nenek moyang minangkabau</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/05/15/silsilah-kerajaan-minangkabau-di-pariangan/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/05/15/silsilah-kerajaan-minangkabau-di-pariangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 04:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[

Dalam buku &#8221; Manyigi TAMBO Alam MINANGKABAU &#8221; sebagai studi perbandingan Sejarah yang dilakukan Drs. Md Jamal, maka menarik untuk ditampilkan bahwa beliau berusaha menyusun silsilah &#8221; kerajaan Minankabau di Pariangan &#8220;, dalam tahun demi tahun seperti yang terlihat pada image.
Demikianlah asal usul dan penyebaran nenek moyang minangkabau itu, berawal dari Dapunta Hyang yang menginjakkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=738&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-737" title="Sejarah Minangkabau" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/05/sejarah-minangkabau.jpg?w=655&#038;h=598" alt="Sejarah Minangkabau" width="655" height="598" /></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-741" title="Silsilah" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/05/silsilah1.jpg?w=191&#038;h=300" alt="Silsilah" width="191" height="300" /></p>
<p>Dalam buku &#8221; Manyigi TAMBO Alam MINANGKABAU &#8221; sebagai studi perbandingan Sejarah yang dilakukan Drs. Md Jamal, maka menarik untuk ditampilkan bahwa beliau berusaha menyusun silsilah &#8221; kerajaan Minankabau di Pariangan &#8220;, dalam tahun demi tahun seperti yang terlihat pada image.</p>
<p>Demikianlah asal usul dan penyebaran nenek moyang minangkabau itu, berawal dari Dapunta Hyang yang menginjakkan kakinya di Gunung Merapi. Oleh penduduk disebut &#8221; Sang Sapurba &#8221; ( = dia yang pertama atau dahulu). Mengenai hal ini ada sebuah pepatah (mamangan) yang tersebut, yaitu :</p>
<p><em>Dari mana titik pelita,</p>
<p>dari tangkung yang berapi,</p>
<p>Dari mana asal ninik kita,</p>
<p>dari puncak gunung Merapi</em></p>
<p><span id="more-738"></span></p>
<p>Pepatah adat ini, didalam &#8221; kitab Sejarah Melayu&#8221;, karangan Tun Sri Lanang (1621), diperjelas oleh Mr. Moh. Yamin 1951 : 138), bahwa pada suatu malam sebelum tahun 517 Masehi, ada dua orang wanita bernama Wan Empu dan Wan Malini memandang dari rumahnya diata Bukit Si Guntang, bahwa ada yang bernyala -nyala seperti api. Keeseokan harinya barulah kelihatan bahwa api itu adalah cahaya yang bersinar. Itulah yang disebut cahaya Swarna. Kemudian dikenal pula Swarnadwipa, yaitu julukan pulau emas untuk pulau Sumatera.</p>
Posted in A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/738/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=738&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/05/15/silsilah-kerajaan-minangkabau-di-pariangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/05/sejarah-minangkabau.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sejarah Minangkabau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/05/silsilah1.jpg?w=191" medium="image">
			<media:title type="html">Silsilah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uli Kozok : Penemu Naskah Undang-Undang Zaman Adityawarman</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/18/budaya-minangkabau-dalam-menyerap-kemajuan-dan-iptek/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/18/budaya-minangkabau-dalam-menyerap-kemajuan-dan-iptek/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 08:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : PadangKini.com,Jumat, 18 April 2008  
ULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini. Pendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=88&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sumber : PadangKini.com,Jumat, 18 April 2008  </p>
<p><img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/04/tokoh-uli-kozok.jpg?w=111&#038;h=143" alt="" width="111" height="143" class="alignnone size-medium wp-image-139" /><strong>ULI Kozok</strong>, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini. Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya, dunia tulis-baca orang Malayu diidentikkan dengan masuknya agama Islam di nusantara yang dimulai pada abad ke-14. &#8220;Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah&#8221; yang ditemukan Kozok merupakan naskah pertama yang menggunakan aksara Pasca-Palawa dan memiliki kata-kata tanpa ada satupun serapan ‘berbau&#8217; Islam. <span id="more-88"></span>&lt;a Berdasar uji radio karbon di Wellington, Inggris naskah ini diperkirakan dibuat pada zaman Kerajaan Adityawarman di Suruaso (Tanah Datar, Sumatera Barat) antara 1345 hingga 1377. Naskah ini dibuat di Kerajaan Dharmasraya yang waktu itu berada di bawah Kerajaan Malayu yang berpusat di Suruaso. Karena itu Kozok mengumumkan naskah tersebut sebagai naskah Malayu tertua di dunia yang pernah ditemukan. &#8220;Ada pakar sastra dan aksara menganggap tidak ada tradisi naskah Malayu sebelum kedatangan Islam, ada yang beranggapan Islam yang membawa tradisi itu ke Indonesia, dengan ditemukannya naskah ini teori itu runtuh,&#8221; kata Kozok yang bertemu Padangkini.com di Siguntur, Kabupaten Dharmasraya pengujung Desember 2007.Aksara Sumatera KunoPendapat kedua, seperti halnya Jawa, Sumatera sebenarnya juga memiliki aksara sendiri yang merupakan turunan dari aksara Palawa dari India Selatan atau aksara Pasca-Palawa. Selama ini aksara di sejumlah prasasti di Sumatera, seperti sejumlah prasasti-prasasti Adityawarman, disebut para ahli sebagai aksara Jawa-Kuno. Padahal, menurut Kozok, aksara itu berbeda. Seperti halnya di Jawa, di Sumatera juga berkembang aksara Pasca-Palawa dengan modifikasi sendiri dan berbeda dengan di jawa yang juga bisa disebut Aksara Sumatera-Kuno. Prasasti-prasasti peninggalan Adityawarman di Sumatera Barat, menurutnya, sebenarnya aksara Pasca-Palawa Sumatera-Kuno, termasuk yang digunakan pada Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah dengan perbedaan satu-dua huruf. Namun selama ini prasasti-prasasti itu disebut ahli yang umumnya berasal dari Jawa sebagai aksara Jawa-Kuno. &#8220;Mereka punya persepsi bahwa Sumatera itu masih primitif dan orang Jawa yang membawa peradaban, begitulah gambaran secara kasar yang ada dibenak mereka, karena mereka peneliti Jawa, sehingga ketika mereka datang ke Sumatera dan melihat aksaranya, menganggap aksara Sumatera pasti berasal dari Jawa, nah sekarang kita tahu bahwa kemungkinan aksara itu duluan ada di Sumatera daripada di Jawa,&#8221; katanya. Pendapat ketiga, kerajaan Malayu tua pada zaman Adityawarman telah memiliki undang-undang tertulis yang detail. Undang-undang ini dikirimkan kepada raja-raja di bawahnya. Selama ini belum pernah ada hasil penelitian yang menyebutkan Kerajaan Malayu Kuno memiliki undang-undang tertulis. Pendapat keempat, dengan ditemukannya &#8220;Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah&#8221; selangkah lagi terkuak informasi mengenai Kerajaan Dharmasraya, Adityawarman, dan Kerajaan Malayu yang beribukota di Suruaso (Tanah Datar). Naskah tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Malayu beribukota Suruaso yang dipimpin oleh Maharaja Diraja, di bawahnya Dharmasraya yang dipimpin Maharaja, dan di bawah Dharmasraya adalah Kerinci yang dipimpin Raja. &#8220;Meski begitu saya yakin kekuasaan Suruaso dan Dharmasraya terhadap Kerinci hanya secara ‘de jure&#8217; (hukum-red) dan bukan ‘de facto&#8217; (kekuasaan), sebab Kerinci waktu itu tetap memiliki kedaulatannya sendiri, hubungannya lebih kepada perekonomian karena Kerinci penghasil emas dan pertanian,&#8221; kata Kozok.Terkenang Kebaikan Bupati KerinciUli Kozok (nama lengkapnya Ulrich Kozok) lahir di Hildesheim, Niedersachsen, Jerman pada 26 Mei 1959. Lelaki berkebangsaan Jerman dan permanent resident di New Zealand dan USA ini, pernah menjadi dosen di Universitas Auckland pada 1994-2001. Kini sejak 2001 menjadi Assosiate Professor, Department of Hawaiian and Indo-Pacific Languages an Literatures di University of Hawai&#8217;I di Manoa, USA. Sebelum meneliti naskah kuno Kerinci, Kozok yang fasih bahasa Indonesia dan Batak ini bertahun-tahun mempelajari bahasa, budaya, dan sastra Batak. Bahkan lelaki yang kawin dengan dengan perempuan asal Batak Karo dan memiliki dua anak ini, meraih meraih gelar MA pada 1989 dan PhD pada 1994 dari University of Hamburg dengan tesis dan disertasi tentang bahasa Batak. Tiga bukunya dalam bahasa Indonesia tentang bahasa Batak pernah diterbitkan tiga penerbit di Indonesia pada 1999 dan 2005. Pengalaman di Kerinci menyimpan kenangan tersendiri bagi Kozok atas keramahan pejabat dan masyarakatnya. Seorang koleganya di Universitas Auckland memperkenalkan dengan seorang tokoh masyarakat Kerinci mantan anggota DPRD bernama Sutan Kari. Ketika pada 1999 Kozok berkunjung ke Kerinci dan dipertemukan dengan Bupati Fauzi Siin untuk tujuan penelitian aksara Kerinci, sang bupati mengatakan penelitian itu sangat penting dan membantunya sepenuh hati. &#8220;Ia menanyakan persiapan saya di Kerinci, di mana menginap dan bagaimana transportasinya karena mesti ke kampung-kampung, saya katakan belum saya pikirkan, lalu diambilnya kunci mobilnya di saku dan dilemparkan ke saya, ini mobilnya, katanya, Bupati juga membayar penginapan, saya sangat mendapat sambutan yang luar biasa,&#8221; kenang Kozok. Pada 2002 ia kembali ke Kerinci untuk melanjutkan penelitian terhadap naskah-naskah lama yang ditulis dalam aksara Kerinci. Ketika hendak pulang dari melihat naskah yang disimpan masyarakat di Sungai Penuh, ibu Kabupaten Kerinci, ia mengatakan kepada Sutan Kari selama di Kerinci tidak pernah melihat naskah dari kulit kayu yang umumnya di Batak. Sutan Kari mengatakan ada satu di Tanjung Tanah, sebuah desa di tepi Danau Kerinci. &#8220;Hari itu karena sudah sore, kami ke sana dan kebetulan yang menyimpan naskah itu seorang guru sekolah, walaupun melihat naskah itu harus ada syarat segala macam, dia turunkan dan diperlihatkan kepada saya, saya buat foto,&#8221; katanya. Naskah yang ditulis di kertas yang terbuat dari kayu daluang itu disimpan dalam periuk dari tanah yang juga mungkin usianya sudah ratusan tahun. Di dalam periuk itu masih ada kain dan baju yang sudah sangat kuno. Benda yang dijadikan pusaka itu dibalut dengan kain, dimasukkan dalam periuk, periuk disimpan dalam kardus dan ditaruh di loteng. Banyak yang Tak PercayaBermula dari situ, Kozok menelitinya. Kemudian mengirim email kepada beberapa kolega mengatakan kemungkinan naskah tersebut berasal dari abad ke-14. &#8220;Mereka semua menjawab; lupaklanlah, itu mustahil, tidak mungkin ada bahan yang bisa bertahan begitu lama, jadi mereka itu sangat tidak percaya, ada yang percaya tetapi kebanyakan tidak percaya,&#8221; katanya. Karena sangat yakin, Kozok kembali ke Kerinci selama Mei 2003, lalu meminta sedikit sampel kertas kulit kayu sebanyak tersebut untuk dikirim ke Rafter Radiocarbon Laboratory di Wellington. Lembaga ini kemudian memberitahukan bahwa umur naskah Tanjung Tanah lebih dari 600 tahun. &#8220;Sesuai data sejarah yang saya kumpulkan, saya sampai pada kesimpulan bahwa kemungkianan besar naskah itu berasal dari paruh kedua abad ke-14, dan hasil radiokarbon itu pas sekali, perkiraan saya tidak meleset, itu aksara kuno yang bentuknya masih mirip aksara Palawa dari India Selatan tapi sudah sangat Sumatera, aksara itu hampir sama yang digunakan di Minitujuh Aceh, sampai ke Lampung, aksara itu digunakan pada abad itu,&#8221; katanya. Sebenarnya naskah Tanjung Tanah pernah dicatat sebagai salah satu daftar naskah kuno Kerinci oleh Petrus Voorhoeve, pegawai bahasa Zaman Kolonial Belanda pada 1941 sebagai  Tambo Kerinci dan disimpan di perpustakaan Koninklijk Instituut voor de Taal, Land, en Volkenkunde (KILV) di Leiden, Belanda. Di perpustakaan itu ada foto naskah tersebut tapi kurang baik. Voorhoeve menuliskan laporan tentang naskah yang disebutnya sebagian beraksara rencong, dan halaman lainnya beraksara Jawa Kuno. Namun tidak sampai pada kesimpulan.Undang-Undang dari DharmasrayaTransliterasi dan terjemahan naskah 34 halaman itu dilakukan sejumlah ahli yang dikoordinasi oleh Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa). Ternyata naskah tersebut berisi undang-undang yang dibuat di Dharmasraya (sekarang tepatnya di tepi Sungai Batanghari di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat) yang diberikan kepada masyarakat Kerinci. Dharmasraya waktu itu adalah pusat Kerajaan Malayu beragama Hindu-Buddha di bawah pemerintahan tertinggi di Saruaso (Tanah Datar) dengan raja Adityawarman. Tulisan tentang naskah kuno ini telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia berjudul Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, Naskah Malayu yang Tertua (Yayasan Obor Indonesia: 2006). Edisi sebelumnya dalam bahasa Inggris The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript ( Cambridge: St Catharine&#8217;s College and the University Press: 2004). Uli Kozok pernah mengikutkan kopian Naskah Tanjung Tanah pada pameran di Singapura 18 Januari hingga 30 Juni 2007 dalam pameran bertajuk &#8220;Aksara: The Passage of Malay Scrips-Menjejaki Tulisan Melayu&#8221;. Sebelumnya di Malaysia Naskah Tanjung Tanah diseminarkan di University of Malaya, Kuala Lumpur dalam acara Tuanku Abdul Rahman Conference, 14-16 September 2004. Saat itu Uli Kozok menyerahkan buku Tanjung Tanah Code of Law terbitan Cambridge University kepada Perdana Menteri Malaysia. &#8220;Mereka (Bupati dan masyarakat Kerinci-red) sudah sangat baik budi kepada saya, dan sekarang&#8230; ya mudah-mudahan saya bisa membantu Kerinci sedikit, mempopulerkan daerahnya, sebagaimana orang Malayu bilang&#8230; untuk membalas budi, sekarang perhatian ilmuwan dari mancanegara sudah banyak terhadap Kerinci sebagai daerah ditemukan naskah malayu yang tertua,&#8221; katanya.***   </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=88&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/18/budaya-minangkabau-dalam-menyerap-kemajuan-dan-iptek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/04/tokoh-uli-kozok.jpg?w=111" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Histori Matriarkal</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/10/histori-matriarkal/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/10/histori-matriarkal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 07:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[matriarkal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hifni Hfd
I. Pengantar :
Matriarkal merupakan kesatuan social yang dibentuk karena pertalian darah yang berasal dari per-ibuan. Para kaum ibu tidak saja berperan dalam keluarga inti (intended family), akan tetapi mencakup pula perannya dalam keluarga dalam arti luas (extended family). Bentuk keluarga dalam arti luas inilah, kita menelaah bagaimana system matriarchal (matriarkal) ini di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=8&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Hifni Hfd</p>
<p><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/04/copy-of-my-brother-and-sister.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-82" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/04/copy-of-my-brother-and-sister.jpg?w=105&#038;h=124" alt="" width="105" height="124" /></a>I. Pengantar :<br />
Matriarkal merupakan kesatuan social yang dibentuk karena pertalian darah yang berasal dari per-ibuan. Para kaum ibu tidak saja berperan dalam keluarga inti (intended family), akan tetapi mencakup pula perannya dalam keluarga dalam arti luas (extended family). Bentuk keluarga dalam arti luas inilah, kita menelaah bagaimana system matriarchal (matriarkal) ini di Minang kabau dapat menjadi kekuatan padusi (perempuan &#8211; wanita ) minang dalam keluarganya.<br />
Sebelum kita mengupas rangkaian sejarah terbentuknya matriarkal dalam sistem kekerabatan di Minangkabau, maka lebih dahulu kita meninjau penentuan garis keturunan dan proses pertumbuhan system kekerabatan serta tambo sebagai sumber informasi adat dan budaya dalam penentuan garis keturunan matrilineal.</p>
<p><span id="more-8"></span>II. Tinjauan umum tentang penentuan garis keturunan :<br />
Masyarakat Matriarchaat (matriberawal dari suatu kesatuan masyarakat, yang mengalami tahap perkembangannya mengikuti kodrat alam. Tahap itu kemudian berkembang mengikuti karakter pada masyarakat primitive, yang bersifat nomaden, Secara bertahap membentuk pola dan prilaku masyarakatnya dalam suatu institusi social yang mengatur pemenuhan kebutuhan masyarakat. Secara rinci proses perkembangan masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat yang menganut garis matrinialinial, berawal dari uraian dibawah ini :</p>
<p>II. a. Kodrat Alam :<br />
Darimanakah bermulanya sesuatu makhluk di jagat raya ini, jika bukan berasal dari induk. Pada manusia dan hewan,induk merupakan asal dari kehidupan. Pada suatu tanaman disebut pokok tanaman. Banyak nama yang diberikan dan terkait dengan induk, yakni : indung, emak, inang, ibu, bundo, mande, amai, mbok, dsb.<br />
Diawal kehidupan manusia dikenal dengan sebutan indung &#8211; telur. Indung telur sebagai embrio (janin) yang diteteskan pada kandungan/rahim. Kandungan/rahim &#8211; sebagai tempat tumbuh kembangnya janin dan tempat menaruh hasil kasih sayang setiap makhluk yang akan diciptakan Tuhan Penguasa Alam Semesta. Dikandungan kasih sayang itu bermula suatu kehidupan dan dipelihara oleh yang mengandungnya. Dengan demikian menurut kodratnya, hubungan yang paling akrab diantara makhluk didunia ini adalah hubungan induk dan anak.</p>
<p>II.b. Masyarakat Primitif :<br />
Pada kesatuan masyarakat primitive, manurut ahli antropologi, menyimpulkan bahwa garis keturunan anggota masyarakatnya mengambil garis ibu. Mengapa demikian ? Karena kecendrungan masyarakat primitive &#8211; nomaden (berpindah-pindah tempat)- sehingga sang ibu lebih dituntut menjaga keturunannya dibanding seorang ayah. Konsentrasi menghadapi tantangan dan keganasan alam lebih diutamakan seorang ayah, bila dibanding menjaga anaknya. Sementara itu seorang ibu atas naluri dan kodratnya, memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dari ayah.<br />
Dalam perkembangan selanjutnya, sejalan dengan migrasi suku bangsa secara besar-besaran, yang berasal dari ras Melayu Mongoloid, yang terdiri dari Protomalayan, yang cendrung statis dalam kehidupannya, dan Neo Malayan, yang lebih dinamis, maka masyarakat primitive yang sudah menetap (settle), mulai memperhitungkan kebutuhan hidup dan mempertahankan harta bendanya. Pertentangan antar suku, peperangan dan gejolak yang terjadi pada masyarakat primitive mulai me-restruktur penentuan garis keturunan, yang berorinatasi pada budaya Patriarchaat. Hal ini semata-mata untuk unjuk kekuatan pada saat terjadi peperangan antara patriarchaat masyarakat primitive itu.<br />
Sungguhpun demikian, Sisa-sisa masyarakat yang tetap menjaga harmoni manusia dan alam masih banyak didunia ini, sehingga system kekeluargaan yang menganut garis matrilineal juga masih ada. Contohnya adalah masyarakat Mosuo di Cina, Kerala, Nair di India, Arawak, Aymara (Indian) dan Eskimo di Amerika, serta Tuareg di Afrika.</p>
<p>II. c. Pandangan Agama :</p>
<p>Islam sebagai agama yang dianut mayoritas suku bangsa di Indonesia, jelas menganbil garis keturunannya bernasabkan kepada seorang ayah. Namun demikian, bolehlah kita menengok sekilas pandangan agama tentang hal ini, dalam pengambilan garis keturunan, yaitu : &#8221; seorang anak yang lahir diluar nikah, maka sang anak bernasab kepada ibunya, walaupun kemudian anak tersebut telah berada dalam perkawinan yang sah.<br />
Demikian juga, kita tidak perlu mengupas lebih dalam, bila Nabi Isa binti Mariam juga bernasab kepada Mariam. Hal ini semata, untuk menunjukkan betapa kedudukan matrilineal dalam system perkawinan itu memang dimungkinkan. Akan tetapi pandangan ini semata bersifat sementara, sebelum status social seseorang belum kokoh.</p>
<p>II. d. Hukum Positif Indonesia :</p>
<p>Dalam hukum positif Indonesia, permasalahn yang terjadi dimasyarakat, yang berkaitan dengan hal-hal pribadi, diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Anak yang lahir diluar perkawinan dinamakan &#8220;anak alam&#8221; (natural kind), hanya mempunyai hubungan kekeluargaan dengan ibunya. Seorang anak yang lahir diluar perkawinan, dapat juga disangkal oleh ibu yang melahirkan. Akan tetapi, bila telah ada pengakuan, barulah terbit pertalian keluarga dengan akibat-akibat (hak mewari) antara anak dengan ibu yang mengakuinya. Pengakuan, tidak pula memperoleh kekuatan dalam pertalian kekeluargaan, karena masih diperlukan lagi suatu pengesahan. Pengesahan dapat dilakukan dengan cara dilakukanya perkawinan yang sah dari orang tua yang mengakuinya.</p>
<p>Dari uraian dapat diketahui bahwa disemua peristiwa kehidupan manusia, hal-hal yang manusiawi dan kodrat alam pasti terjadi. Sehingga sejak peradaban manusia, telah dilakukan penarikan garis keturunan dari pihak ibunya.<br />
III. Proses Pertumbuhan Sistem Matriarkal (matriarchal):<br />
Kata kunci Matriarkal adalah pertalian darah yang berasal dari per-ibuan. Selain itu terdapat pula pertalian darah yang berasal dari satu keturunan dari keluarga ayahnya (patriarchal) atau keluarga ibu dan keluarga ayahnya (bilateral). Semua sistem kekerabatan ini, berasal dari norma-norma yang hidup dan berlaku sebagai kekuatan pengikat garis keturunan itu.</p>
<p>Bagaimana norma-norma itu terbentuk ?</p>
<p>III. a. Norma-norma dalam masyarakat pada umumnya:<br />
Hubungan antara manusia didalam masyarakat primitive kemudian menjadi masyarakat moderen, bermula dari terciptanya norma-norma didalam masyarakat itu. Mula-mulanya norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja; namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sengaja. Norma-norma yang ada dalam masyarakat itu, ada yang mempunyai kekuatan yang mengikat ada pula yang tidak. Sehingga anggota masyarakat tidak berani melanggarkanya.<br />
Untuk membedakan kekuatan mengikat dari norma itu, dikenal 4 pengertian, yaitu :<br />
i. Cara, yaitu ; menunjuk pada suatu perbuatan yang dilakukan antar individu dalam msayarakat,<br />
ii. Kebiasaan ; perbuatan yang dilakukan ber-ulang-ulang dalam bentuk yang sama dan mempunyai kekuatan lebih dari cara. Kebiasaan diterima sebagai norma pengatur.<br />
iii. Tata kelakuan ; yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan, akan tetapi dilain pihak melarangnya. Tata kelakuan berfungsi sebagai pemberi batasan pada kelakuan individu, mengidentifikasi individu dengan kelompoknya, juga sebagai upaya menjaga solidaritas antara anggota masyarakatnya.<br />
iv. Adat ; yaitu tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasiny.a dengan pola-pola prikelakuan masyarakat. Anggota masyarakat yang melanggar adat-istiadat dapat dikenakan sanksi yang keras.<br />
Norma-norma diatas, setelah mengalami proses, pada akhirnya menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan ( social institution), yaitu proses yang dilewati oleh suatu norma-norma untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan.<br />
Lembaga kemasyarakatan adalah himpunan dari norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu pokok didalam kehidupan masyarakat. Norma-norma tersebut pada akhirnya mendarah daging dalam jiwa anggota masyarakat &#8211; tempat hidupnya lembaga tersebut.</p>
<p>III. b. Matriarkal sebagai norma kemasyarakatan :<br />
Tidak bisa dipungkiri bahwa penentuan garis keturunan terbentuk dari norma-norma yang dibuat tidak sengaja; namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sengaja. Sebelum menjadi norma kemasyarakatan, penentuan garis keturunan mengalami proses pelembagaan, yaitu apabila norma-norma itu dikenal, diakui, dihargai dan kemudian ditaati anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.<br />
Proses pelembagaan garis keturunan dapat terjadi karena pertalian darah yang berasal dari per-ibuan (Matriarkal) , bapak (Patriarkal) atau ayah dan ibu (bilateral). Dalam pertumbuhannya penentuan garis keturunan selalu tidak sama. Hal ini disebabkan tantangan alam dan kebutuhan hidup pada tiap-tiap suku bangsa berbeda-beda..<br />
Berdasarkan proses pelembagaan garis keturunan ini, khususnya matriarkal, diterima sebagai norma kemasayarakatan, apabila telah memenuhi tahapan dan persyaratan, yaitu :<br />
- norma itu sengaja dibuat oleh masyarakatnya ,<br />
- memiliki kekuatan sebagai norma adat.<br />
- menjalani proses pelembagaan sebagai norma yang dikenal, diakui dan dihargai kemudian ditaati anggota masyarakat.<br />
IV. Penutup :<br />
Dari uraian tersebut diatas, maka jelaslah bagi kita bahwa proses pertumbuhan system matriarkal hampir bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya system patriarchal. Masyarkat semakin berkembang sejalan ditinggalkannya prilaku masyarakat primitive. Pada masa pasca masyarakat primitive, anggota masyarakat sudah mengenal arti kebendaan. Bagaimana adat dan budaya suatu bangsa mempertahankan harta bendanya, baik melalui peperangan antar suku maupun mempertahankan harta dalam keluarga batihnya atau atau harta kelompok keluarga yang lebih luas (extended family).<br />
Di dalam Tambo secara khusus tidak menyebutkan tentang system matriarkal yang menjadi kekuatan dalam penarikan keturunan dari pertalian darah, namun dalam artikel berikutnya akan dibahas; sejak kapankah di Minangkabau, matriarkal dijadikan sebagai norma adat yang hidup turun temurun hingga saat kini.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=8&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/10/histori-matriarkal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/04/copy-of-my-brother-and-sister.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kaba dan Tambo Sebagai karya Spektakuler Dalam Pembentukan Adat dan Budaya Minangkabau</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/04/kaba-dan-tambo-sebagai-karya-spektakuler-dalam-pembentukan-adat-dan-budaya-minangkabau/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/04/kaba-dan-tambo-sebagai-karya-spektakuler-dalam-pembentukan-adat-dan-budaya-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 04:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/04/kaba-dan-tambo-sebagai-karya-spektakuler-dalam-pembentukan-adat-dan-budaya-minangkabau/</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Hifni Hfd


Minangkabau sering lebih dikenal sebagai sebuah bentuk kebudayaan dari pada bentuk negara atau suatu kerajaan yang pernah ada dalam sejarah. Hal ini mungkin karena dalam catatan sejarah (Indonesia, pen), yang dapat dijumpai hanyalah hal penggantian nama kerajaan yang menguasai wilayah itu. Tidak ada suatu catatan yang dapat memberi petunjuk tentang sistem pemerintahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=45&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh : Hifni Hfd</p>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://bp0.blogger.com/_SfQSWGisJeA/R8zS8a1dOII/AAAAAAAAAW0/DYSHiqzaRII/s1600-h/100_3470.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_SfQSWGisJeA/R8zS8a1dOII/AAAAAAAAAW0/DYSHiqzaRII/s200/100_3470.jpg" border="0" alt="" width="120" height="157" /></a></div>
<p><strong></strong></p>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong>Minangkabau sering lebih dikenal sebagai sebuah bentuk kebudayaan dari pada bentuk negara atau suatu kerajaan yang pernah ada dalam sejarah. Hal ini mungkin karena dalam catatan sejarah <strong>(Indonesia, pen</strong>), yang dapat dijumpai hanyalah hal penggantian nama kerajaan yang menguasai wilayah itu. Tidak ada suatu catatan yang dapat memberi petunjuk tentang sistem pemerintahan yang demokratis dengan masyarakatnya yang berstelsel matrilineal serta tidak ada catatan sejarah kelahiran sistem matrilineal ini sebagaimana yang dikenal orang seperti sekarang ini. <strong>(AA.Navis, Alam terkembang jadi guru , adat dan kebudayaan minangkabau, hal 1)</strong>. Untuk masa sekarang dimana masyarakat semakin kritis terhadap sumber informasi yang tersedia, seperti yang dikenal dalam <strong>Kaba</strong> dan <strong>Tambo</strong>, maka <strong>kaba atau tambo itu </strong>merupakan hasil pusaka turun temurun dalam adapt dan budaya minang, haruslah disikapi dengan cara melakukan suatu kajian ilmiah berdasarkan disiplin ilmu tertentu.</div>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;text-align:justify;">Sebelum melakukan kajian ilmiah berdasarkan disiplin iilmu tertentu, beberapa bentuk informasi yang menuntun kita dalam mengenal adat dan budaya Minangkabau adalah seperti yang terurai dibawah ini, yaitu;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-27pt;text-align:justify;"><span id="more-45"></span>a.<span> </span><strong>Hikayat</strong> ;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-27pt;text-align:justify;">adalah kisah atau cerita hasil dari buah <strong>pikiran imajinatif</strong> yang berisi nasehat dan tauladan yang baik. Hikayat pada mulanya beredar diwilayah pesisir bagian barat Minangkabau yang pada masa dahulu, yang sangat mudah dimasuki oleh pengaruh kebudayaan dari luar. Contoh ; berabad lamanya pesisir pantai barat Sumatera dikuasai kesultanan di Aceh. Melalui penguasaan wilayah oleh Kesultanan di Aceh inilah, hikayat dan syair diperkenalkan ke Minangkabau.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-indent:-27pt;text-align:justify;">Suatu hikayat, umumnya mengisahkan <em>raja-raja dan pangeran-pangerannya, para dewa dewi,</em> termasuk kehidupan rakyat yang hidup dalam lingkungan kerajaan itu. Suatu hikayat pastilah bukan kehidupan masyarakat minang kabau (kuno), karena hal ini tidak lazim dalam pola alam minang kabau dan menyimpang dari<span> </span>system social minangkabau sendiri. Mengapa demikian ? Karena gaya bahasa yang digunakan dalam hikayat, menggunakan syair. Hikayat sendiri tidak pula pernah menggunakan pantun.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">Banyak contoh dari cerita rakyat yang bersumber dari hikayat ini, kemudian berubah wujud seakan-akan menjadi <strong>,, kaba,,</strong> yang kemudian menjadi sumber informasi atau keterangan mengenai sesuatu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><em>Contoh : </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><em>hikayat Malin Kundang, yang berkisah tentang kedurhakaan seorang anak dan ketidak sabaran seorang ibu yang tega mengutuk anaknya, menjadi pelajaran bagi masyarakat tentang bakti seorang anak kepada orang tua serta doa seorang ibu yang senatiasa dipanjatkan bagi seorang anak yang pergi merantau. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">Begitu pula masih banyak contoh tentang edukasi yang disampaikan secara budaya seperti<em><span> </span>: hikayat Malin Deman, Anggun nan tongga, Gadih Ranti, dll </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;"><strong>b.<span> </span>Kaba</strong> atau kabar, adalah informasi atau keterangan menganai sesuatu kejadian.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;"><strong>Kaba</strong>; merupakan cerita khas Minang kabau, dengan bentuk bahasanya yang liris, ungkapan-ungkapan yang plastis dan penggunaan pantun yang cukup dominan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">Dilihat dari isi ceritanya, maka kaba dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu ;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><strong><em>- Kaba klasik,</em></strong><em> </em>yang diangkat dari cerita rakyat, oleh seorang tukang kaba, yang berisikan tentang cerita pelipur lara dan kadang bersifat senda gurau dalam lingkungan masyarakata, dan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><strong><em>- Kaba yang baru</em></strong>, berisi nasehat dan tauladan yang baik atau masalah-masalah social yang terjadi dalam masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">Kaba dapat juga berupa nasehat dalam bentuk petatah-petitih, yang berasal dari penghulu adat, dll.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">Jika ditinjau dari penciptaan “<strong>kaba “</strong>, maka terdapat dua periode penciptaan kaba pada masyarakat masa dahulu, yaitu ;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-.25in;">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>i.<span> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;kisah yang diambil <em>diluar minangkabau</em>, seperti hikayat yang diadopsi menjadi kaba, contoh kaba anggun nan tongga.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-.25in;">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>ii.<span> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;kaba yang mengisahkan asal usul Minangkabau.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;">Pada periode ini kaba berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi mengenai asal usul bahkan kritik sosial, tanpa mengurangi kekuatan yang terletak pada kalimat yang penuh<span> </span>perumpamaan, pribahasa dan kiasan yang plastis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<strong><span>c.<span> </span></span></strong>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<strong>Tambo ;</strong> berasal dari bahasa sanskerta, <strong>tambay</strong> atau tambe yang artinya : <strong><em>bermula</em>.</strong> Istilah zaman sekarang adalah <em>asal usul sesuatu.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-27pt;"><strong>Tambo</strong> merupakan kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau. Tambo <strong>bukan</strong> catatan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta yang akurat, tahun kejadian serta siapakah yang melakukan penemuan. Namun bila dikaitkan dengan suatu bukti keberadaan, maka bukti itu ada dan nyata. Tambo tidak memerlukan sistematika tertentu, sebagaimana halnya sejarah. Cara mengisahkannya disesuaikan dengan keperluan dan keadaan. Tambo bisa pula mengkisahkan sejarah bangsa lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;">Terdapat dua jenis tambo yang menjadi <em>tonggak adat dan budaya</em> minangkabau yang hidup hingga masa kini, yaitu :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-.25in;">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>i.<span> </span></span>&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;<strong>Tambo alam</strong>, yang mengisahkan asal usul nenek moyang, serta mengolah alam sebagai pilar dalam membangun sistem kemasyarakatan ,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-.25in;">&lt;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&gt;<span>ii</span><em><span>.<span> </span></span></em><strong>Tambo adat,</strong> pengajaran akal dan budi, yang dikisahkan bahwa segala sesuatu yang harus dipatuhi dalam pola prikelakuan yang normative, mencakup segala cara-cara atau pola berfikir, cara bertindak yang akhirnya membentuk struktur social masyarakat atau sistem kekuasaan minangkabau pada masa lalu dan berlaku sebagai <em>adat yang tidak lekang karena panas dan tidak basa karena hujan.. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em></em>Untuk ukuran masa sekarang, maka <strong>Tambo </strong>dapat dikatakan sebagai informasi budaya yang spektakuler. Bagi masyakakat minang, kisah asal usul suku bangsa minang yang dinukilkan dalam <strong>kaba maupun tambo</strong>, realitas dalam pertumbuhan adat dan budaya minangkabau kuno. Walaupun, sumber informasi yang ada tentang keminangkabauan itu, merupakan <strong>ornamen mitologi</strong>, yaitu mengkisahkan asal usul dan migrasi suku bangsa minang kabau secara fiksi (dongeng), namun ia tetap hidup hingga sekarang. Sebut saja pantun yang berbunyi, seperti ini :</p>
<p><em>Dimana mulanya terbit pelita</em><em><br />
</em><em>Dibalik tanglun nan berapi</em><br />
<em>Dimana mulanya ninik kita</em><br />
<em>Ialah di puncak gunung Merapi</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Bagaimana caranya kita mencari pembenaran, bahwa ternyata <strong>kaba</strong> dan t<strong>ambo</strong> itu merupakan <strong>realitas</strong> dalam pertumbuhan adat dan budaya Minangkabau untuk masa sekarang ? Bukankah sesuatu yang diceritakan, oleh si tukang kaba dahulu (minangkabau kuno), merupakan informasi yang tidak seragam, yang menimbulkan<span> </span>keragu-raguan ?.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Berpijak dari konsep<strong> antropologi</strong>, khususnya antroplogi sosial yang mempelajari prilaku dan hasil kerja manusia, seperti ; sistem politik dan ekonomi, struktur kekerabatan, tatacara perkawinan, kesenian dan kesusastraan, dll, maka <strong>kaba</strong> dan <strong>tambo</strong> dapat dijadikan <strong>referensi</strong> terhadap asal usul manusia, asal usul adat dan budaya minang kabau. ? Dengan demikian, maka benarlah <strong>tambo </strong>merupakan hasil kerja <em>imajinasi spektakuler</em> dari nenek moyang minang kabau, yang telah mengatur dan menetapkan falsafah hidupnya dengan <em>berguru kepada alam,<span> </span></em>kemudian <em>menetapkan pola kekuasaan <strong>(bukan pemerintahan, pen)</strong> yang demokratis, pemimpin nagari yang bersifat kolektif, system ekonomi, , undang-undang dan hukum, , lembaga perkawinan, harta dan pusaka, termasuk sastra dan permainan rakyat. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em></em>Jika dikatakan minang kabau sebagai subyek kebudayaan, maka <em>pertumbuhan adat yang tidak lekang oleh panas dan tidak basah karena hujan tadi,</em> memperkuat kesadaran masyarakat bahwa dalam mempertahankan adat dan budaya, semestinya tidak sebagai pelengkap saja, dalam hubungan antar manusia di kewilayahan Sumatera yang dahulu disebut <strong>“ pulau perca atau Andalas “</strong> pada umumnya, Sumatera Barat pada khususnya. namun tetap berpijak pada konsepsi <em>adat bersendi syara, dan syara, bersendi kitabullah. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Kembali pada uraian diatas, banyak mitologi dari kaba atau tambo yang mesti diuangkap sebagai fakta budaya. Terus terang penulis, mulai mempertanyakan nama “ suku bangsa kita – <strong>Minang kabau</strong>. Para ahli sejarah telah telah mengupas bahwa nama (suku bangsa) <strong>Minangkabau</strong> berasal dari “ <strong>Pinang</strong><strong> Khabu “</strong> sebagai <strong>country origin (tanah asal) – Ven der Tuuk. </strong>Demikian juga dalam <strong>menon khabu</strong>, yang artinya <strong>tanah mulia</strong> atau <strong>mau angka bahu</strong>, yang artinya <strong>yang memerintah, </strong>dalam kupasan para penulis sejarah, seperti DR. Hussein Nainar atau M. Rasyid Manggis bahkan buku Sumatera Tengah dari Jawatan Penerangan Sumatera Tengah sekalipun.<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;">Jika Tambo dianggap sebagai <strong>realitas</strong> dalam pertumbuhan adat dan budaya, maka selayaknya para ahli adat dan budaya minang mengenyampingkan informasi yang imajinasi menjadi informasi yang factual, sebagaimana yang diharapkan masyarakat minang , terutama yang hidup diperantauan. Termasuk masyarakat minang yang telah berasimilasi dengan suku bangsa lain.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=45&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/03/04/kaba-dan-tambo-sebagai-karya-spektakuler-dalam-pembentukan-adat-dan-budaya-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_SfQSWGisJeA/R8zS8a1dOII/AAAAAAAAAW0/DYSHiqzaRII/s200/100_3470.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kelarasan di Minangkabau</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2007/10/31/go-international-for-minangs-restaurant/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2007/10/31/go-international-for-minangs-restaurant/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 16:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[C. ADAT - UNDANG-UNDANG - HUKUM]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/2007/10/31/go-international-for-minangs-restaurant/</guid>
		<description><![CDATA[
Laras (lareh) adalah dasar pemerintahan menurut adat Minangkabau. Kelarasan adalah sistem pemerintahan menurut adat Minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.
&#160;
 





Bodi Caniago 


Koto   Piliang 




Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan   Sabatang


Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan




Berdaulat   pada rakyat, diungkapkan:
putuih rundiangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=31&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                               &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><img class="alignnone size-full wp-image-950" title="180px-Randai_Padang_Panjang" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2007/10/180px-randai_padang_panjang.jpg?w=180&#038;h=135" alt="180px-Randai_Padang_Panjang" width="180" height="135" /><br />
<span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Laras (lareh) adalah dasar pemerintahan menurut adat Minangkabau. Kelarasan adalah sistem pemerintahan menurut adat Minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.</span>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US"> </span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width:98.04%;margin-left:4.5pt;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="98%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#cccccc none repeat scroll 0 0;width:51%;padding:3.75pt;" width="51%">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9.35pt;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Bodi Caniago</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
</td>
<td style="background:#cccccc none repeat scroll 0 0;width:49%;padding:3.75pt;" width="49%">
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Koto   Piliang</span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan   Sabatang</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Berdaulat   pada rakyat, diungkapkan:<br />
<em><span style="font-family:&amp;">putuih rundiangan dek sakato</span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">rancak rundiangan disapakati </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">kato surang dibulek-i </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">kato basamo kato mufakat </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">saukua mako manjadi, sasuai   mako takanak </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">tuah dek sakato, mulonyo   rundiang dimufakati </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">di lahia lah samo nyato, di   batin buliah diliek-i</span></em></span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Berpusat   pada pimpinan, diungkapkan:<br />
<em><span style="font-family:&amp;">nan babarih nan bapaek </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">nan baukua nan bacoreng </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">titiak dari ateh, turun dari   tanggo </span></em><br />
<em><span style="font-family:&amp;">tabujua lalu, tabalintang   patah</span></em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Semboyannya <em><span style="font-family:&amp;">mambasuik   dari bumi</span></em></span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Semboyannya <em><span style="font-family:&amp;">titiak   dari ateh</span></em></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Bersifat demokratis</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Bersifat otokratis</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan   diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan   saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan.</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari   atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal   menerima apa yang telah ditetapkan.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Penggantian gelar pusaka secara <em><span style="font-family:&amp;">hiduik bakarelaan</span></em>, artinya penghulu bisa   diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Penggantian gelar pusaka secara <em><span style="font-family:&amp;">mati batungkek budi</span></em>, artinya penghulu baru   bisa diganti jika sudah meninggal</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Pewarisan gelar disebut <em><span style="font-family:&amp;">gadang   bagilia</span></em>, artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada kaum mereka   walau bukan <em><span style="font-family:&amp;">saparuik</span></em>,   asalkan melalui musyawarah adat</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Pewarisan gelar disebut <em><span style="font-family:&amp;">patah   tumbuah hilang baganti</span></em>, artinya gelar penghulu harus tetap di   pihak mereka yang <em><span style="font-family:&amp;">saparuik</span></em> (sekeluarga).</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Menurut   tambo, daerah kebesarannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">§<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Tanjuang   Nan Ampek</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">1.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Tanjuang   Alam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">2.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Tanjuang   Sungayang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">3.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Tanjuang   Barulak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">4.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Tanjuang   Bingkuang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">§<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Lubuak   Nan Tigo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">1.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Lubuak   Sikarah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">2.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Lubuak   Simauang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-21.25pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 30.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">3.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Lubuak   Sipunai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Susunan   kebesaran ini dinamakan <em><span style="font-family:&amp;">Lareh   Nan Bunta</span></em>.</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Menurut   tambo, daerah kebesarannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-14.15pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">§<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Langgam   Nan Tujuah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">1.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Singkarak   – Saningbaka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">2.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Sulik   Aia – Tanjuang Balik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">3.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Padang</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US"> Gantiang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">4.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Saruaso</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">5.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Labutan   – Sungai Jambu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">6.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Batipuah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">7.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Simawang   – Bukik Kanduang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-14.15pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US">§<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Basa   Ampek Balai</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-14.15pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">1.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Sungai   Tarab</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-14.15pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">2.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Saruaso</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-14.15pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">3.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Padang</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US"> Gantiang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-14.15pt;line-height:115%;margin:4pt 0 .0001pt 16.6pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">4.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Sumaniak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:4pt;line-height:115%;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Susunan   kebesaran ini dinamakan <em><span style="font-family:&amp;">Lareh   Nan Panjang</span></em>.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:51%;padding:3.75pt;" width="51%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt 9.35pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut <em><span style="font-family:&amp;">pucuak  tagerai</span></em>.</span></p>
</td>
<td style="width:49%;padding:3.75pt;" width="49%" valign="top">
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Penghulunya bertingkat-tingkat, disebut <em><span style="font-family:&amp;">pucuak bulek, urek tunggang</span></em>. </span></p>
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">Tingkatannya adalah </span></p>
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">panghulu pucuak, </span></p>
<p style="line-height:115%;margin:6pt 0 .0001pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&amp;" lang="EN-US">panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=31&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2007/10/31/go-international-for-minangs-restaurant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2007/10/180px-randai_padang_panjang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">180px-Randai_Padang_Panjang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>