Archive for the 'C. ADAT – UNDANG-UNDANG – HUKUM' Category

12
Jul
11

Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA

Menyikapi pemberian gelar sasangko adat pada orang yang bukan pada tempatnya, ternyata para Niniak Mamak yang tergabung dalam “Forum Komunikasi Adat dan Kebudayaan Minangkabau” (FKAKM) Jakarta, yang sekarang telah berganti nama menjadi “Lembaga Adat Kebudayaan Minangkabau” (LAKM) Jakarta, telah melakukan kesepakatan sebagaimana yang tersebut dibawah ini.

Mudah-mudahan dapat di jadikan sebagai bahan dalam hal menyikapi apa yang terjadi pada saat ini, yaitu permberian Gelar oleh Niniak Mamak KAN Nan Salapan Suku di Nagari Padang kepada yang tidak berhak atau bukan pada tempatnya, yang  jelas-jelas bertentangan dengan perinsip “Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS_SBK) Syarak Mangato Adat Mamakai.

Kesepakatan itu adalah sebagai berikut Continue reading ‘Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA’

20
Mei
11

Pohon Keluarga Minangkabau

Oleh : Hifni Hafida

Dalam masyarakat  Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem kekerabatan yang membentuk struktur masyarakat suku bangsa, yaitu :

a.  Sistem kekerabatan  Matrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ibu, seperti di Minangkabau,

b. Sistem kekerabatan  Patrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ayah,  seperti di Tapanuli, Sumatera Utara, atau Batak,

c.  Berdasarkan Parental, yaitu melalui garis keturunan IBU dan AYAH (kedua-duanya), seperti di Jawa.

Pembagian struktur kemasyarakatan demikian berdasarkan tinjauan territorial dan geneakolog yang dilakukan oleh para peneliti dalam lingkup telaahan antrolopologis  dan budaya. Faktor genekolog membahasnya dari sisi pertalian darah keturunan. Sementara secara teritori mengamati dari sisi kesamaan dalam berprilaku. Orang Minangkabau merasa bersaudara karena terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis Ibu atau Perempuan. Tidak demikian bagi etnis lain, yang mengikatkan tali kekeluarga hanya pada keluarga batih semata. Continue reading ‘Pohon Keluarga Minangkabau’

18
Apr
11

“BAGAIMANA PEMBAGIAN PUSAKA TINGGI, SUDAH SESUAIKAH DENGAN SYARIAT ISLAM DI MINANGKABAU?”

Oleh : DR. Mochtar Naim

Di Minangkabau dikenal ada tiga macam harta, yaitu :

* harta pusaka tinggi,

* harta pusaka renda,  dan

* harta milik pribadi, atau harta pencaharian.

Harta Pusaka Tinggi,   biasanya selalu berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, perkolaman, persawahan, perladangan, perkampungan, perhutanan, dsb, bersalin secara kolektif-alami turun temurun menurut garis ibu (matrilineal), menurut jalur kaum, suku ataupun nagari, dan tidak dibagi.

Fungsinya adalah sebagai harta waqaf  : harta waqaf kaum, suku ataupun nagari. Jadi harta pusaka tinggi yang fungsinya sebagai harta waqaf tidak dimakan bagi. Kalau dibagi justeru salah.

Harta pusaka rendah, tadinya adalah harta milik pribadi, berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, persawahan, perladangan, dsb., yang dihibahkan untuk menjadi harta kaum, suku ataupun nagari, untuk tujuan kesejahteraan kolektif, dan tidak dibagi menurut jalur hukum faraidh.

Harta milik pribadi, apapun bentuknya, dan didapatkan dari hasil jerih payah pencaharian oleh seseorang, ketika meninggalnya, dibagi menurut hukum Faraidh.

Bertentangankah ketentuan adat ini dengan syariat Islam?

Jawabnya: Tidak!    Sebab kalau di-ubah,  maka harta pusaka tinggi dibagi secara hukum faraidh, justeru salah dan bersalahan!

Yang dibagi itu adalah harta milik si mayit! ( almarhum/almarhumah). Dan si almarhum  itu, ketika hidupnya, punya tanggung jawab sosial untuk membagi-bagikan harta yang ditinggalkannya itu untuk tujuan sosial secara faraidh.

Mengenai harta pusaka rendah, masih ada lorong untuk bisa berbagi pendapat. Coba angkatkan dalam forum seperti ini.

Jadi baik harta pusaka tinggi, rendah, maupun pencaharian, semua bertujuan sosial.

Dan ini semua sudah ditetapkan oleh Pertemuan para Ninik Mamak, Alim Ulama dan cerdik pandai Minangkabau di Bukittinggi, kalau tidak salah tahun 1956, di mana juga hadir Inyiak H Agus Salim, Syekh Jamil Jambek, Syekh Sulaiman Ar Rasuli Canduang, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Buya Hamka, Dt Palimo Kayo, dsb.

Dari segi ini, belum lagi ada konstitusi dan undang2 dari negara manapun di dunia ini yang mengatur tentang harta kekayaan, Islam telah lebih dahulu mengatur sistem kesejahteraan sosial, yang dimulai dari diri pribadi, keluarga, nagari dan negara, dalam bentuk hukum faraidh, di mana juga dikenal yang namanya harta hibah dan waqaf.

Tegasnya, harta pusaka tinggi adalah milik kaum, suku ataupun nagari yang dimiliki secara kolektif dan berfungsi sebagai harta wakaf. Harta wakaf secara hukum faraidh tidak boleh dibagi. Karena harta pusaka tinggi yang adalah harta bersama kaum/suku/nagari bukanlah milik dari si mayit yang baru meninggal, untuk kemudian lalu dibagi-bagi, tapi harta bersama yang berfungsi sebagai waqaf yang sifatnya sosial itu.

Masalah terkait yang perlu diangkatkan adalah: masalah tanah ulayat.

Dalam Seminar Kebudayaan Minangkabau kemarin,  sudah disepakati untuk dikembalikan kepada kaum/suku/nagari pemilikannya, tetapi yang pengoperasiannya bisa dilanjutkan oleh perusahaan swasta ataupun negara yang sudah mengelolakannya dengan rakyat dalam lingkup kaum/suku/nagari itu berhak mendapatkan bagi hasil yang sepadan dengan nilai tanah itu.

Keterangan :

Tulisan ini ~ padusi ~ kutip dari milist RantauNet yang ditulis oleh DR. Mochtar Naim, berdasarkan pertanyaan Sdr.  NUZIRMAN ST NURDIN. Mudahan-mudahan memberi manfaat bagi kita semua, untuk mengetahui sejauh mana perkembangan harta pusaka, dalam kehidupan masyarakat minangkabau sekarang ini.

03
Agu
10

Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso

Oleh : Ekadj. Dt. Endang Pahlawan

rumah basandi batu,  adat basandi alua jo patuik. mamakai anggo jo tanggo  sarato raso jo pareso

Norma adat dibentuk oleh Tungku Tigo sajarangan : alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso.

Norma ini mengkristal di dalam adat Minangkabau, dan digunakan dalam berbagai pertimbangan adat.

Ketiga hal ini merupakan Tungku bagi proses masaknya adat, sedangkan apinya adalah para pemangku adat. Setiap penghulu adat hendaknya memahami dan menguasai ketiga norma tersebut, sehingga kepemimpinan adat yang dimilikinya dapat menanak rasa keadilan dan kesejahteraan terhadap kaum yang dipimpinnya. Sedangkan bagi anak Minangkabau pada umumnya, pemahaman terhadap alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso berguna untuk menumbuhkan jatidiri dan memahami batasan-batasan hidup dalam bermasyarakat. Pasar jalan karono dilalui. Continue reading ‘Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso’

09
Mar
10

Kedudukan kaum Laki-laki dalam Sistem Matrilinial di Minangkabau

Oleh : Drs. Yulius NP – Inyiak Lako

kedudukan sebenarnya seorang pria di Minangkabau ? Secara ringkas ada tulisan ini dibuat oleh Pangarang Buku ” Mambangkik Batang Nan Tarandam Adat Budaya Minangkabau yang bernama ” Yulius  Inyiak Malako Nan Putiah ” . Beliau berkenan memberikan tulisan – sebagai sumbangsih beliau kepada Steering Committe Kongres Kebudayaan Minangkabau Kelima.

Setiap laki-laki di Minangkabau mengemban dua fungsi dan kedudukan, yaitu :

1.  Sebagai MAMAK dirumah orang tuanya .
2.  Sebagai RANG SUMANDO dirumah istrinya .

1.      Laki-laki sebagai MAMAK

a.      Dalam struktur kepemimpinan Suku, setiap laki-laki secara selektif bisa menduduki Pangulu Pucuk Suku, Pangulu Andiko atau Pangulu Kepala Waris. Bagi yang tidak terpilih jadi Pangulu bertugas sebagai, Tungganai, Ulama atau Dubalang .

b.      Dalam rumah tangga orang tuanya – Kaum Laki-laki berkedudukan sebagai Mamak Rumah. sebagai Mamak Rumah dia bertugas :

1). Membimbing/memberi pelajaran dan contoh/tauladan bagi semua kemenakannya laki-laki maupun perempuan tentang adat istiadat hidup bermasyarakat .
2). Mengawasi dan melin dungi seluruh kemenakan nya laki-laki maupun perempuan dari segala hal yang mungkin merugikan atau memalukan kaumnya .
3).  Memberikan bantuan ekonomis untuk semua kemenakannya dalam bentuk materi atau tenaga dua pertujuh dari pengaha silannya.

Merealisasikan falsafah  ” Anak dipangku , kamanakan dibimbiang “, dengan cara yaitu ; pada jumlah 7 Hari, ia dapat membagi waktu, yaitu : Lima ( 5 )  hari untuk memangku anaknya. Menunjuk ajari anak dengan ajaran dan pituah menurut tuntunan Agama Islam. Kemudian 2 hari dipergunakan untuk membimbing kemenakan. Bagaimana bentuk bimbingan itu – bagaikan seorang pendidik kepada muridnya. Bimbingan  yang diberikan sesuai dengan moral dan etika agama dan budaya.

4).  Melindungi dan mengatur pengelolaan dan penggarapan harta pusaka tinggi, sawah atau ladang , dan mengawasi penggunaan hasil bumi dari pusaka tinggi .
5).  Mewakili kaumnya dalam Rapat/gotong royong Nagari .

2. Laki-laki sebagai RANG SUMANDO .
a.   Sehari-hari dia dalam kedudukan yang dihormati, nama kecilnya tidak boleh dipanggil, harus dipanggil dengat gelar pusakanya.

b.   Rang Sumando bertanggung jawab penuh atas nafkah untuk istri dan anak2nya

c.   Semua rapat atau pertemuan para Mamak Rumah harus setahu dia, dan dia yang menyiapkan rumah serta keberlangsungan acara.  Apabila penyelenggaraan rapat tersebut terkait dengan penyelesaian masalah kaum di keluarga istrinya, maka Urang Sumando diperboleh hadir dan tidak hadir . Sebagaimana pedomana adat yang menyatakan : ” Pai jo mupakat – tingga jo rundingan ) .

d.   Apabila KAUM di keluarga isterinya berkehendak mengangkat anaknya menjadi Panghulu, maka harus atas persetujuan RANG SUMANDO ini – sebagai ayah/bapaknya. Begitu pula jika anaknya akan melangsungkan perkawinan, meskipun dalam pelaksanaan acara perhelatan – seorang MAMAK dapat ikut campur/membatalkan –  apabila dikawatirkan akan merugikan, atau memalukan kaumnya, maka ayah/bapak tetap dimintakan pendapatnya.

Peran Rang Sumando – yang bisa berdiri tegak diatas keluarga isteri dan menjadi tempat bertanya dan menyelesaikan yang kusut disebut oleh orang Minangkabau urang Sumando yang demikian RANG SUMANDO NINIAK MAMAK.

Bagi golongan Rang Sumando Kacang Miang atau Rang Sumando Langau Hujau dan Rang Sumando Lapiek Buruk - karena tidak mampu menjalankan perannya, maka tidak akan pernah diajak diajak berunding oleh keluarga isterinya.

Demikian suwarih nan ambo jawek, mudah2an dapat melengkapi draft materi KKMP .

Wassalam dari :
Inyiak Lako, L-74, DEPOK .
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

31
Jan
10

Hukum Adat di Minangkabau

Oleh : Mas’oed Abidin Za Jabbar
Adapun hukum adat itu ada dua belas perkara yaitu:

1. Basasok bajarami
2. Bapandan bapakuburan
3. Basuri batuladan
4. Jiko jauah buliah ditunjuakkan
5. Kalau hampia buliah dikakokkan
6. Batampek bakadudukan
7. Babarih babalabek
8. Ado bailia bamudiak
9. Baulu bamuaro
10. Ba-alua bapatuik
11. Batando babaiti
12. Basaksi bakatarangan
Continue reading ‘Hukum Adat di Minangkabau’

31
Jan
10

MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. أَمَّا بَعْدُ.

PERNIKAHAN WARISAN INDAH SUNNAH RASULULLAH

Sabda Rasulullah SAW, “an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku” (al Hadist). Dengan menikah, dua orang yang sebelumnya masih asing, mengikat diri dalam satu aqad atau perjanjian nikah dan ijab-kabul dihadapan wali, saksi dan qadhi (penghulu),
untuk saling perhatian, kasih sayang, kepedulian, simpati, ketulusan, dan cinta (mahabbah).
Continue reading ‘MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM’

21
Jul
09

Tentang Harato Pusako Tinggi

Written by Azmi Dt.Bagindo

Azmi Dt BagindoPerbedaan pendapat tentang harta pusako ini sebenarnya telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Beliau mengarang sebuah kitab berjudul : Ad Doi’ al Masmu’ fil Raddi ‘ala Tawarisi al ‘ikwati wa Awadi al Akawati ma’a Wujud al usuli wa al Furu’i, yang artinya : Dakwah yang didengar Tentang Penolakan Atas Pewarisan Pewarisan Saudara dan anak Saudara Disamping Ada Orang Tua dan Anak. Kitab itu di Tulis di Mekah pada akhir abat ke XIX. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 275).  Namun, beliau berbeda pendpat dengan murid beliau seperti Syekh Dr.H.Abd.Karim Amrullah.

Continue reading ‘Tentang Harato Pusako Tinggi’

01
Apr
09

Ranji ABS – SBK : `Adat Bersendi Syara’ –Syara’ Bersendi Kitabullah`

Oleh : Hifni H. Nizhamul

Apakah yang dimaksud Ranji ? Ranji menguraikan silsilah keturunan dari atas, baik dari  ayah maupun ibu. Jika ia semata mengambil silsilah ayah semata maka disebut silsilah patrilinia. Bila ditarik dari garis ibu – disebut garis matrilinial.

Berkenaan dengan penegakkan ABS – SBK, barangkali Ranji ABS – SBK ini wajib diketahui oleh para generasi muda minangkabau. Tidak saja generasi muda – barangkali para orang tua yang besar di Rantau akan bertanya seputar ranji ini  – apa manfaatnya dan seberapa pentingkah sebuah ranji dalam system kekerabatan di minangkabau berdasarkan Adat Bersendi Syara’ – Syara’ Bersendi Kitabullah. Continue reading ‘Ranji ABS – SBK : `Adat Bersendi Syara’ –Syara’ Bersendi Kitabullah`’

16
Jun
08

Struktur Masyarakat Minangkabau

Pangantar :

Sebagaima diketahui, bahwa masyarakat Minangkabau, bersifat homogenitas. Akan tetapi dalam Struktur kemasyakatannya, mereka berkelompok dalam lapisan, yang berawal dari keluarga inti dirumah gadang kemudian menjadi lapisan terluar yang disebut rantau . Uraian berikut, mengenai srtuktur masyarakat minangkabau diuraikan Oleh Drs, Syahrir As, dalam Buletin Sungai Pua No 46 – April 1994 dan disadur oleh sdr. Dewis Natra. Padusi turut memasukkan dalam blog ini sebagai wujud memasyarakatkan adat dan budaya minang. Semoga bermanfaat. Continue reading ‘Struktur Masyarakat Minangkabau’

22
Mei
08

SISTEM KEKELUARGA MATRILINIAL

Pengantar :
Artikel ini dikutip dari tulisan Buya H.Mas’oed Abidin, – yang ditulisnya di blog beliau, semoga dapat menjadi referensi bagi siapanpun yang ingin memahami eksistensi wanita dalam adat dan budaya minang serta kedudukan pria sebagai pemegang kendali kaum. Kaum adalah sekelompok masyarakat hukum adat yang seketurunan ibu hingga nenek dari nenek dalam garis lencang keatas. Wanita adalah penerus garis keturunan dan pria adalah penjaganya. Sehingga tidak ada yang perlu dikawatirkan terhadap timbulnya benturan antara adat dan agama, yang keduanya menjadi sendi kehidupan masyarakat Minang kabau. Untuk lebih memudahkan pemahaman dalam mengenal secara mendalam apa yang menjadi landasan ” Sistem kekeluargaan matrilineal “, itu maka kami memilahnya menjadi beberapa bagian pokok tanpa mengurangi isi dan kandungan Buya Mas`oud tersebut. Semoga artikel yang dirilis ini bermanfaar bagi kita yang selalu melestarikan adat dan budaya minang sepanjang masa. Sesuai dengan pepatah minang yang berbunyi ; adat yang indak lakang dek paneh dan indak lapuak dek hujan. Continue reading ‘SISTEM KEKELUARGA MATRILINIAL’

15
Mei
08

~Pengaturan Harta Pusaka~

Harta pusaka yang dalam terminologi Minangkabau disebut harato jo pusako. Harato adalah sesuatu milik kaum yang tampak dan ujud secara material seperti sawah, ladang, rumah gadang, ternak dan sebagainya. Pusako adalah sesuatu milik kaum yang diwarisi turun temurun baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu di Minangkabau dikenal pula dua kata kembar yang artinya sangat jauh berbeda; sako dan pusako. Continue reading ‘~Pengaturan Harta Pusaka~’

15
Mei
08

~Peranan Laki-laki Minang Dalam Sistem Matrilineal~

Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian dan pembagian harta pusaka. Perempuan sebagai pemilik harta pusaka dapat mempergunakan semua hasilnya untuk keperluan keluarga besarnya, meliputi ; anak dan kemenakan, anak pisang, dll sesuai dengan maksud dan tujuan pemanfaatan harta pusaka. Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan. Tugas dan fungsi seorang laki-laki di Minangkabau masing-masing memiliki peran yang disesuaikan dengan usia dan pengamalan. Tengoklah pada uraian berikut ini, yang dapat diklasifikasi sebagai berikut, yaitu :
a. Peran laki-laki Minang sebagai kemenakan,
b. peran laki-laki Minang sebagai Mamak,
c. Peran laki-laki Minang sebagai Penghulu.
Selain itu bagaimana hubungan seorang kemenakan dengan seorang Mamak dapat dilihat pada hubungannya yang sangat khas. Continue reading ‘~Peranan Laki-laki Minang Dalam Sistem Matrilineal~’

15
Mei
08

~Peranan Laki-laki Diluar Kaum~

Selain berperan di dalam kaum sebagai kemanakan, mamak atau penghulu, seorang anak lelaki setelah dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam kaum isterinya. Artinya di sini, dia sebagai duta pihak kaumnya di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya. Satu sama lain harus menjaga kesimbangan dalam berbagai hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak. Continue reading ‘~Peranan Laki-laki Diluar Kaum~’

15
Mei
08

~ Kaum dan Pasukuan ~

KAUM DAN PESUKUAN
Orang Minangkabau yang berasal dari satu keturunan dalam garis matrilineal merupakan anggota kaum dari keturunan tersebut. Di dalam sebuah kaum, unit terkecil disebut samande.Yang berasal dari satu ibu (mande). Unit yang lebih luas dari samande disebut saparuik. Maksudnya berasal dari nenek yang sama. Kemudian saniniak maksudnya adalah keturunan nenek dari nenek. Yang lebih luas dari itu lagi disebut sakaum. Kemudian dalam bentuknya yang lebih luas, disebut sasuku.Maksudnya, berasal dari keturunan yang sama sejak dari nenek moyangnya. Suku artinya seperempat atau kaki.
Jadi, pengertian sasuku dalam sebuah nagari adalah seperempat dari penduduk nagari tersebut. Karena, dalam sebuah nagari harus ada empat suku besar. Padamulanya suku-suku itu terdiri dari Koto, Piliang, Bodi dan Caniago. Dalam perkembangannya, karena bertambahnya populasi masyarakat setiap suku, suku-suku itupun dimekarkan. Continue reading ‘~ Kaum dan Pasukuan ~’

09
Apr
08

` Malakok `

Ditulis oleh : Azmi Dt.Bagindo pada Cimbuak.net, Rabu, 02 April 2008

malakokMalakok di minangkabau adalah proses bergabungnya seseorang dengan adat minangkabau, sehingga orang tersebut bisa disebut orang minang.”Malakok”, ado tiga kelompok anggota masyarkat atau pendatang yang berasal dari luar adat nan salingka nagari atau dari luar Minangkabau yang dapat di lakokkan atau dimasukkan kedalam sebuah suku yang ada di nagari-nagari di Minangkabau, seperti Urang Samando, anak ujung ameh atau anak pusako, dan para pendatang baik sebagai pegawai atau pedagang yang tinggal dalam waktu lama di Minangkabau. Continue reading ‘` Malakok `’

02
Apr
08

Tentang Harta Pusaka Tinggi.

Ditulis oleh Azmi Dt.Bagindo di Cimbuak.net tanggal 28 Maret 2008

Perbedaan pandapek tentang harato pusako ko sabananyo telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy, malah beliau mengarang sebuah kitab berjudul : Ad Doi’ al Masmu’ fil Raddi ‘ala Tawarisi al ‘ikwati wa Awadi al Akawati ma’ a Wujud al usuli wa al Furu’i, yang artinya : Dakwah yang didengar Tentang Penolakan Atas Pewarisan Pewarisan Saudara dan anak Saudara Disamping Ada Orang Tua dan Anak. Kitab itu di Tulis di Mekah pada akhir abat ke XIX. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 275 ) Namun, beliau beda pendapat dengan murid beliau seperti Syekh Dr.H.Abd.Karim Amrullah. Murid beliau Syekh Rasul ( H.Abdul Karim Amrullah ) ulama yang belakangan ini melihat harta pusaka dalam bentuk yang sudah terpisah dari harta pencarian. Beliau berpendapat bahwa harta pusaka itu sama keadaannya dengan harta wakaf atau harta musabalah yang pernah diperlkukan oleh Umar ibn Kattab atas harta yang didapatnya di Khaybar yang telah dibekukan tasarrufnya dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penyamaan harta pusaka dengan harta wakaf tersebut walaupun ada masih ada perbedaannya, adalah untuk menyatakan bahwa harta tersebut tidak dapat diwariskan. Karena tidak dapat diwariskan, maka terindarlah harta tersebut dari kelompok harta yang harus diwarisklan menurut hukum Faraid; artinya tidak salah kalau padanya tidak berlaku hukum Faraid. Pendapat beliau ini di ikuti oleh ulama lain di antaranya Syekh Sulaiman ar Rasuli. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 278). Continue reading ‘Tentang Harta Pusaka Tinggi.’

31
Okt
07

Kelarasan di Minangkabau

180px-Randai_Padang_Panjang
Laras (lareh) adalah dasar pemerintahan menurut adat Minangkabau. Kelarasan adalah sistem pemerintahan menurut adat Minangkabau. Ada dua kelarasan di Minangkabau, yaitu Kelarasan Bodi Caniago dan Kelarasan Koto Piliang.

 

Bodi Caniago

Koto Piliang

Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang

Dikembangkan dan dipimpin oleh Datuak Katumangguangan

Berdaulat pada rakyat, diungkapkan:
putuih rundiangan dek sakato
rancak rundiangan disapakati
kato surang dibulek-i
kato basamo kato mufakat
saukua mako manjadi, sasuai mako takanak
tuah dek sakato, mulonyo rundiang dimufakati
di lahia lah samo nyato, di batin buliah diliek-i

Berpusat pada pimpinan, diungkapkan:
nan babarih nan bapaek
nan baukua nan bacoreng
titiak dari ateh, turun dari tanggo
tabujua lalu, tabalintang patah

Semboyannya mambasuik dari bumi

Semboyannya titiak dari ateh

Bersifat demokratis

Bersifat otokratis

Pengambilan keputusan mengutamakan kata mufakat. Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, bukan hanya berasal dari pimpinan saja, akan tetapi masyarakatnya ikut dilibatkan.

Pengambilan keputusan berpedoman pada kebijaksanaan dari atas. Segala bentuk keputusan datangnya dari atas. Masyarakat tinggal menerima apa yang telah ditetapkan.

Penggantian gelar pusaka secara hiduik bakarelaan, artinya penghulu bisa diganti jika sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya

Penggantian gelar pusaka secara mati batungkek budi, artinya penghulu baru bisa diganti jika sudah meninggal

Pewarisan gelar disebut gadang bagilia, artinya gelar penghulu boleh digilirkan pada kaum mereka walau bukan saparuik, asalkan melalui musyawarah adat

Pewarisan gelar disebut patah tumbuah hilang baganti, artinya gelar penghulu harus tetap di pihak mereka yang saparuik (sekeluarga).

Rumah gadang lantainya rata saja dari ujung sampai pangkal

Rumah gadang mempunyai anjung pada lantai kiri dan kanan

Menurut tambo, daerah kebesarannya:

§ Tanjuang Nan Ampek

1. Tanjuang Alam

2. Tanjuang Sungayang

3. Tanjuang Barulak

4. Tanjuang Bingkuang

§ Lubuak Nan Tigo

1. Lubuak Sikarah

2. Lubuak Simauang

3. Lubuak Sipunai

Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Bunta.

Menurut tambo, daerah kebesarannya:

§ Langgam Nan Tujuah

1. Singkarak – Saningbaka

2. Sulik Aia – Tanjuang Balik

3. Padang Gantiang

4. Saruaso

5. Labutan – Sungai Jambu

6. Batipuah

7. Simawang – Bukik Kanduang

§ Basa Ampek Balai

1. Sungai Tarab

2. Saruaso

3. Padang Gantiang

4. Sumaniak

Susunan kebesaran ini dinamakan Lareh Nan Panjang.

Kekuasaan penghulu sama di nagari, disebut pucuak tagerai.

Penghulunya bertingkat-tingkat, disebut pucuak bulek, urek tunggang.

Tingkatannya adalah

panghulu pucuak,

panghulu kaampek suku, dan panghulu andiko.

30
Okt
07

Adat Minangkabau

37d39feexws21Orang Minangkabau terkenal dengan adatnya yang kuat. Adat sangat penting dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu dalam petatah Minangkabau diungkapkan, hiduik di kanduang adat. Maka, ada empat tingkatan adat di Minangkabau.


1.  Adat Nan Sabana Adat

Adat nan sabana adat adalah kenyataan yang berlaku tetap di alam, tidak pernah berubah oleh keadaan tempat dan waktu. Kenyataan itu mengandung nilai-nilai, norma, dan hukum. Di dalam ungkapan Minangkabau dinyatakan sebagai adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati[i] atau adat babuhua mati.[ii] Adat nan sabana adat bersumber dari alam.

Pada hakikatnya, adat ini ialah kelaziman yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Maka, adat Minangkabau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu melahirkan konsep dasar pelaksanaan adat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, yakni adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dan syarak mangato, adat mamakai.[iii] Dari konsep itu lahir pulalah falsafah dasar orang Minangkabau yakni alam takambang jadi guru.[iv]

Adat nan sabana adat menempati kedudukan tertinggi dari empat jenis adat di Minangkabau, sebagai landasan utama dari norma, hukum, dan aturan-aturan masyarakat Minangkabau. Semua hukum adat, ketentuan adat, norma kemasyarakatan, dan peraturan-peraturan yang berlaku di Minangkabau bersumber dari adat nan sabana adat.


2.  Adat Nan Diadatkan

Adat nan diadatkan adalah adat buatan yang dirancang, dan disusun oleh nenek moyang orang Minangkabau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aturan yang berupa adat nan diadatkan disampaikan dalam petatah dan petitih, mamangan, pantun, dan ungkapan bahasa yang berkias hikmah.

Orang Minangkabau mempercayai dua orang tokoh sebagai perancang, perencana, dan penyusun adat nan diadatkan, yaitu Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan.

Inti dari adat nan diadatkan yang dirancang Datuak Parpatiah Nan Sabatang ialah demokrasi, berdaulat kepada rakyat, dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Sedangkan adat yang disusun Datuak Katumangguangan intinya melaksanakan pemerintahan yang berdaulat ke atas, otokrasi namun tidak sewenang-wenang. Sepintas, kedua konsep adat itu berlawanan. Namun dalam pelaksanaannya kedua konsep itu bertemu, membaur, dan saling mengisi. Gabungan keduanya melahirkan demokrasi yang khas di Minangkabau. Diungkapkan dalam ajaran Minangkabau sebagai berikut:

Bajanjang naiak, batanggo turun.
Naiak dari janjang nan di bawah, turun dari tanggo nan di ateh.
Titiak dari langik, tabasuik dari bumi.[v]

Penggabungan kedua sistem ini ibarat hubungan legislatif dan eksekutif di sistem pemerintahan saat ini.

3.  Adat Nan Taradat

Adat nan taradat adalah ketentuan adat yang disusun di nagari untuk melaksanakan adat nan sabana adat dan adat nan diadatkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan nagarinya. Adat ini disusun oleh para tokoh dan pemuka masyarakat nagari melalui musyawarah dan mufakat. Dari pengertian itu lahirlah istilah adat salingka nagari.

Adat nan taradat disebut juga adat babuhua sentak, artinya dapat diperbaiki, diubah, dan diganti. Fungsi utamanya sebagai peraturan pelaksanaan dari adat Minangkabau. Contoh penerapannya antara lain dalam upacara batagak pangulu, turun mandi, sunat rasul, dan perkawinan, yang selalu dipagari oleh ketentuan agama, di mana syarak mangato adaik mamakaikan.

4.  Adat Istiadat

Adat istiadat merupakan aturan adat yang dibuat dengan mufakat niniak mamak dalam suatu nagari. Peraturan ini menampung segala kemauan anak nagari yang sesuai menurut alua jo patuik, patuik jo mungkin. Aspirasi yang disalurkan ke dalam adat istiadat ialah aspirasi yang sesuai dengan adat jo limbago, manuruik barih jo balabeh, manuruik ukuran cupak jo gantang, manuruik alua jo patuik.

Ada dua proses terbentuknya adat istiadat. Pertama, berdasarkan usul dari anak nagari, anak kemenakan, dan masyarakat setempat. Kedua, berdasarkan fenomena atau gejala yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Ini diungkapkan dalam kato pusako:

Tumbuah bak padi digaro, tumbuah bak bijo disiang.
Elok dipakai, buruak dibuang.
Elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan.[vi]

Adat istiadat umumnya tampak dalam bentuk kesenangan anak nagari seperti kesenian, langgam dan tari, dan olahraga.


[i] adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan, diasak indak layua, dibubuik indak mati, atau adat yang tidak lekang oleh panas, tidak lapuk karena hujan, di pindahkan tidak layur, dicabut tidak akan mati, artinya adat tersebut hidup terus sesuai dengan keperluan manusia, dan adat itu dapat dilaksanakan oleh orang Minangkabau walaupun di tanah perantauannya sendiri.

[ii] Adat berbuhul mati, adalah adat sebenar adat yang datangnya dari Allah Khaliqul Alam, sesuai dengan fiotrah manusia.

[iii] Maknanya, yang ditetapkan oleh syari’at agama Islam, semestinya dipakaikan oleh adat di ranah Minangkabau

[iv] Alam terkembang jadi guru telah menjadi filosofi adat di Minangkabau sejak pertama. Dari melihat alam sesungguhnya kita dapat mengenal kekuasaan Allah Khaliqul Alam ini.

[v] Berjenjang naik bertangga turun, ada aturan yang mesti dilalui. Naik dimulai dari jenjang yang di bawah, terjaga keteraturan, dan turun dari tangga yang di atas, artinya ada kaedah yang mesti dijaga baik. Secara hokum alam titik dari langit, yakni aturan syarak itu dating dari wahyu, dan aturan adat tabusek dari bumi, menjadi perilaku masyarakat mulai dari lapisan paling bawah

[vi] Tumbuah bak padi digaro, tumbuah bak bijo disiang. Elok dipakai, buruak dibuang. Elok dipakai jo mufakat, buruak dibuang jo rundiangan Tumbuh bagaikan padi yang di pelihara di sawah, tumbuh bagaikan bijo (tampang) yang di jaga dan dipupuk disiangi. Maka adat itu akan berkembang dengan baik. Dalam perkembangan zaman maka adat itu berperinsip kepada mana yang elok dapat di pakai, mana yang buruk dapat dibuang. Akan tetapi menetapkan elok itu mesti dengan mufakat, mengahadirkan kebiasaan istiadat dan bimbingan agama Islam juga. Mana yang tudak baik, dapat dibuang melalui perundingan.




Pengunjung

  • 513,558 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2014
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: