Archive for the 'C. ADAT – UNDANG-UNDANG – HUKUM' Category

12
Jul
11

Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA

Menyikapi pemberian gelar sasangko adat pada orang yang bukan pada tempatnya, ternyata para Niniak Mamak yang tergabung dalam “Forum Komunikasi Adat dan Kebudayaan Minangkabau” (FKAKM) Jakarta, yang sekarang telah berganti nama menjadi “Lembaga Adat Kebudayaan Minangkabau” (LAKM) Jakarta, telah melakukan kesepakatan sebagaimana yang tersebut dibawah ini.

Mudah-mudahan dapat di jadikan sebagai bahan dalam hal menyikapi apa yang terjadi pada saat ini, yaitu permberian Gelar oleh Niniak Mamak KAN Nan Salapan Suku di Nagari Padang kepada yang tidak berhak atau bukan pada tempatnya, yang  jelas-jelas bertentangan dengan perinsip “Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS_SBK) Syarak Mangato Adat Mamakai.

Kesepakatan itu adalah sebagai berikut Lanjutkan membaca ‘Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA’

20
Mei
11

Pohon Keluarga Minangkabau

Oleh : Hifni Hafida

Dalam masyarakat  Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem kekerabatan yang membentuk struktur masyarakat suku bangsa, yaitu :

a.  Sistem kekerabatan  Matrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ibu, seperti di Minangkabau,

b. Sistem kekerabatan  Patrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ayah,  seperti di Tapanuli, Sumatera Utara, atau Batak,

c.  Berdasarkan Parental, yaitu melalui garis keturunan IBU dan AYAH (kedua-duanya), seperti di Jawa.

Pembagian struktur kemasyarakatan demikian berdasarkan tinjauan territorial dan geneakolog yang dilakukan oleh para peneliti dalam lingkup telaahan antrolopologis  dan budaya. Faktor genekolog membahasnya dari sisi pertalian darah keturunan. Sementara secara teritori mengamati dari sisi kesamaan dalam berprilaku. Orang Minangkabau merasa bersaudara karena terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis Ibu atau Perempuan. Tidak demikian bagi etnis lain, yang mengikatkan tali kekeluarga hanya pada keluarga batih semata. Lanjutkan membaca ‘Pohon Keluarga Minangkabau’

18
Apr
11

“BAGAIMANA PEMBAGIAN PUSAKA TINGGI, SUDAH SESUAIKAH DENGAN SYARIAT ISLAM DI MINANGKABAU?”

Oleh : DR. Mochtar Naim

Di Minangkabau dikenal ada tiga macam harta, yaitu :

* harta pusaka tinggi,

* harta pusaka renda,  dan

* harta milik pribadi, atau harta pencaharian.

Harta Pusaka Tinggi,   biasanya selalu berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, perkolaman, persawahan, perladangan, perkampungan, perhutanan, dsb, bersalin secara kolektif-alami turun temurun menurut garis ibu (matrilineal), menurut jalur kaum, suku ataupun nagari, dan tidak dibagi.

Fungsinya adalah sebagai harta waqaf  : harta waqaf kaum, suku ataupun nagari. Jadi harta pusaka tinggi yang fungsinya sebagai harta waqaf tidak dimakan bagi. Kalau dibagi justeru salah.

Harta pusaka rendah, tadinya adalah harta milik pribadi, berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, persawahan, perladangan, dsb., yang dihibahkan untuk menjadi harta kaum, suku ataupun nagari, untuk tujuan kesejahteraan kolektif, dan tidak dibagi menurut jalur hukum faraidh.

Harta milik pribadi, apapun bentuknya, dan didapatkan dari hasil jerih payah pencaharian oleh seseorang, ketika meninggalnya, dibagi menurut hukum Faraidh.

Bertentangankah ketentuan adat ini dengan syariat Islam?

Jawabnya: Tidak!    Sebab kalau di-ubah,  maka harta pusaka tinggi dibagi secara hukum faraidh, justeru salah dan bersalahan!

Yang dibagi itu adalah harta milik si mayit! ( almarhum/almarhumah). Dan si almarhum  itu, ketika hidupnya, punya tanggung jawab sosial untuk membagi-bagikan harta yang ditinggalkannya itu untuk tujuan sosial secara faraidh.

Mengenai harta pusaka rendah, masih ada lorong untuk bisa berbagi pendapat. Coba angkatkan dalam forum seperti ini.

Jadi baik harta pusaka tinggi, rendah, maupun pencaharian, semua bertujuan sosial.

Dan ini semua sudah ditetapkan oleh Pertemuan para Ninik Mamak, Alim Ulama dan cerdik pandai Minangkabau di Bukittinggi, kalau tidak salah tahun 1956, di mana juga hadir Inyiak H Agus Salim, Syekh Jamil Jambek, Syekh Sulaiman Ar Rasuli Canduang, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Buya Hamka, Dt Palimo Kayo, dsb.

Dari segi ini, belum lagi ada konstitusi dan undang2 dari negara manapun di dunia ini yang mengatur tentang harta kekayaan, Islam telah lebih dahulu mengatur sistem kesejahteraan sosial, yang dimulai dari diri pribadi, keluarga, nagari dan negara, dalam bentuk hukum faraidh, di mana juga dikenal yang namanya harta hibah dan waqaf.

Tegasnya, harta pusaka tinggi adalah milik kaum, suku ataupun nagari yang dimiliki secara kolektif dan berfungsi sebagai harta wakaf. Harta wakaf secara hukum faraidh tidak boleh dibagi. Karena harta pusaka tinggi yang adalah harta bersama kaum/suku/nagari bukanlah milik dari si mayit yang baru meninggal, untuk kemudian lalu dibagi-bagi, tapi harta bersama yang berfungsi sebagai waqaf yang sifatnya sosial itu.

Masalah terkait yang perlu diangkatkan adalah: masalah tanah ulayat.

Dalam Seminar Kebudayaan Minangkabau kemarin,  sudah disepakati untuk dikembalikan kepada kaum/suku/nagari pemilikannya, tetapi yang pengoperasiannya bisa dilanjutkan oleh perusahaan swasta ataupun negara yang sudah mengelolakannya dengan rakyat dalam lingkup kaum/suku/nagari itu berhak mendapatkan bagi hasil yang sepadan dengan nilai tanah itu.

Keterangan :

Tulisan ini ~ padusi ~ kutip dari milist RantauNet yang ditulis oleh DR. Mochtar Naim, berdasarkan pertanyaan Sdr.  NUZIRMAN ST NURDIN. Mudahan-mudahan memberi manfaat bagi kita semua, untuk mengetahui sejauh mana perkembangan harta pusaka, dalam kehidupan masyarakat minangkabau sekarang ini.

03
Agu
10

Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso

Oleh : Ekadj. Dt. Endang Pahlawan

rumah basandi batu,  adat basandi alua jo patuik. mamakai anggo jo tanggo  sarato raso jo pareso

Norma adat dibentuk oleh Tungku Tigo sajarangan : alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso.

Norma ini mengkristal di dalam adat Minangkabau, dan digunakan dalam berbagai pertimbangan adat.

Ketiga hal ini merupakan Tungku bagi proses masaknya adat, sedangkan apinya adalah para pemangku adat. Setiap penghulu adat hendaknya memahami dan menguasai ketiga norma tersebut, sehingga kepemimpinan adat yang dimilikinya dapat menanak rasa keadilan dan kesejahteraan terhadap kaum yang dipimpinnya. Sedangkan bagi anak Minangkabau pada umumnya, pemahaman terhadap alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso berguna untuk menumbuhkan jatidiri dan memahami batasan-batasan hidup dalam bermasyarakat. Pasar jalan karono dilalui. Lanjutkan membaca ‘Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso’

09
Mar
10

Kedudukan kaum Laki-laki dalam Sistem Matrilinial di Minangkabau

Oleh : Drs. Yulius NP – Inyiak Lako

kedudukan sebenarnya seorang pria di Minangkabau ? Secara ringkas ada tulisan ini dibuat oleh Pangarang Buku ” Mambangkik Batang Nan Tarandam Adat Budaya Minangkabau yang bernama ” Yulius  Inyiak Malako Nan Putiah ” . Beliau berkenan memberikan tulisan – sebagai sumbangsih beliau kepada Steering Committe Kongres Kebudayaan Minangkabau Kelima.

Setiap laki-laki di Minangkabau mengemban dua fungsi dan kedudukan, yaitu :

1.  Sebagai MAMAK dirumah orang tuanya .
2.  Sebagai RANG SUMANDO dirumah istrinya .

1.      Laki-laki sebagai MAMAK

a.      Dalam struktur kepemimpinan Suku, setiap laki-laki secara selektif bisa menduduki Pangulu Pucuk Suku, Pangulu Andiko atau Pangulu Kepala Waris. Bagi yang tidak terpilih jadi Pangulu bertugas sebagai, Tungganai, Ulama atau Dubalang .

b.      Dalam rumah tangga orang tuanya – Kaum Laki-laki berkedudukan sebagai Mamak Rumah. sebagai Mamak Rumah dia bertugas :

1). Membimbing/memberi pelajaran dan contoh/tauladan bagi semua kemenakannya laki-laki maupun perempuan tentang adat istiadat hidup bermasyarakat .
2). Mengawasi dan melin dungi seluruh kemenakan nya laki-laki maupun perempuan dari segala hal yang mungkin merugikan atau memalukan kaumnya .
3).  Memberikan bantuan ekonomis untuk semua kemenakannya dalam bentuk materi atau tenaga dua pertujuh dari pengaha silannya.

Merealisasikan falsafah  ” Anak dipangku , kamanakan dibimbiang “, dengan cara yaitu ; pada jumlah 7 Hari, ia dapat membagi waktu, yaitu : Lima ( 5 )  hari untuk memangku anaknya. Menunjuk ajari anak dengan ajaran dan pituah menurut tuntunan Agama Islam. Kemudian 2 hari dipergunakan untuk membimbing kemenakan. Bagaimana bentuk bimbingan itu – bagaikan seorang pendidik kepada muridnya. Bimbingan  yang diberikan sesuai dengan moral dan etika agama dan budaya.

4).  Melindungi dan mengatur pengelolaan dan penggarapan harta pusaka tinggi, sawah atau ladang , dan mengawasi penggunaan hasil bumi dari pusaka tinggi .
5).  Mewakili kaumnya dalam Rapat/gotong royong Nagari .

2. Laki-laki sebagai RANG SUMANDO .
a.   Sehari-hari dia dalam kedudukan yang dihormati, nama kecilnya tidak boleh dipanggil, harus dipanggil dengat gelar pusakanya.

b.   Rang Sumando bertanggung jawab penuh atas nafkah untuk istri dan anak2nya

c.   Semua rapat atau pertemuan para Mamak Rumah harus setahu dia, dan dia yang menyiapkan rumah serta keberlangsungan acara.  Apabila penyelenggaraan rapat tersebut terkait dengan penyelesaian masalah kaum di keluarga istrinya, maka Urang Sumando diperboleh hadir dan tidak hadir . Sebagaimana pedomana adat yang menyatakan : ” Pai jo mupakat – tingga jo rundingan ) .

d.   Apabila KAUM di keluarga isterinya berkehendak mengangkat anaknya menjadi Panghulu, maka harus atas persetujuan RANG SUMANDO ini – sebagai ayah/bapaknya. Begitu pula jika anaknya akan melangsungkan perkawinan, meskipun dalam pelaksanaan acara perhelatan – seorang MAMAK dapat ikut campur/membatalkan –  apabila dikawatirkan akan merugikan, atau memalukan kaumnya, maka ayah/bapak tetap dimintakan pendapatnya.

Peran Rang Sumando – yang bisa berdiri tegak diatas keluarga isteri dan menjadi tempat bertanya dan menyelesaikan yang kusut disebut oleh orang Minangkabau urang Sumando yang demikian RANG SUMANDO NINIAK MAMAK.

Bagi golongan Rang Sumando Kacang Miang atau Rang Sumando Langau Hujau dan Rang Sumando Lapiek Buruk - karena tidak mampu menjalankan perannya, maka tidak akan pernah diajak diajak berunding oleh keluarga isterinya.

Demikian suwarih nan ambo jawek, mudah2an dapat melengkapi draft materi KKMP .

Wassalam dari :
Inyiak Lako, L-74, DEPOK .
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

31
Jan
10

Hukum Adat di Minangkabau

Oleh : Mas’oed Abidin Za Jabbar
Adapun hukum adat itu ada dua belas perkara yaitu:

1. Basasok bajarami
2. Bapandan bapakuburan
3. Basuri batuladan
4. Jiko jauah buliah ditunjuakkan
5. Kalau hampia buliah dikakokkan
6. Batampek bakadudukan
7. Babarih babalabek
8. Ado bailia bamudiak
9. Baulu bamuaro
10. Ba-alua bapatuik
11. Batando babaiti
12. Basaksi bakatarangan
Lanjutkan membaca ‘Hukum Adat di Minangkabau’

31
Jan
10

MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM

OLEH : H. MAS’OED ABIDIN

الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. أَمَّا بَعْدُ.

PERNIKAHAN WARISAN INDAH SUNNAH RASULULLAH

Sabda Rasulullah SAW, “an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku” (al Hadist). Dengan menikah, dua orang yang sebelumnya masih asing, mengikat diri dalam satu aqad atau perjanjian nikah dan ijab-kabul dihadapan wali, saksi dan qadhi (penghulu),
untuk saling perhatian, kasih sayang, kepedulian, simpati, ketulusan, dan cinta (mahabbah).
Lanjutkan membaca ‘MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM’




Pengunjung

  • 596,452 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Oktober 2014
S S R K J S M
« Agu    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: