Archive for the 'e. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU' Category

14
Oct
09

`tradisi malamang `

Oleh : Hifni H. Nizhamul

malamang

” Malamang” – artinya memasak lemang.  Lemang adalah penganan yang berasal dari bahan ketan, kemudian dimasukkan kedalam bambu yang sudah berlapis daun pisang muda.

Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Solok, Bukitinggi, Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan Painan. Entah siapa yang mengawali, ternyata lemang ini bisa juga kita temui di negara Semenanjung jenis penganan ini.

Continue reading ‘`tradisi malamang `’

07
Sep
09

Baganyi…..

untitled-32ol

Written by Ali Nurdin

Kata baganyi diambil dari bahasa minang, mungkin kata lainnya adalah mamanggokmerajuk. Namun pengertiannya belum dapat saya jelaskan pada kesempatan ini, karena merupakan suatu sifat yang hampir dimiliki oleh setiap manusia. Contonya ; apabila seorang anak menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya, namun keinginan itu tidak dipenuhi, maka ia akan berupaya mencari perhatian dengan orang dengan bersikap ekspresif.

Baganyi bukan saja dilakukan oleh anak yang masih kecil, juga ada dilakukan oleh orang dewasa bahkan dalam kehidupan berumah tanggapun sering hal ini terjadi. Jika kita mau melihat apa yang terjadi ditengah keluarga kita sendiri “ ditukiakan pandangan dakek dilayangkan pandangan jauah” pada  ( Bapak dan ibu, keluarga kakak/ adik kita ) atau pada keluarga orang lain, mungkin kita pernah temui dan dengar adanya diantara mereka yang baganyi .

Secara umum pada masa lalu yang sering persoalan baganyi dalam sebuah keluarga itu terjadi pada pihak laki-laki (suami ). Kenapa ?

Continue reading ‘Baganyi…..’

12
Jun
09

Filosofi Tari Piring Minang

Sumber : http://www.mediaindonesia.com
Dok.MI/ADE IRWANSYAH

Permainan piring di tangan penari Solok, Minangkabau, adalah peragaan cara membina rumah tangga. Ingin tahu filosofinya?

Begini, menurut pemahaman penduduk Sumatra Barat, gerakan tari piring melambangkan kerja sama ketika warganya berada di sawah. Koreografi ini meniru cara petani bercocok tanam dan menunjukkan ungkapan rasa syukur mereka saat menuai hasil panen yang bakal menghidupi seisi rumah.

Piring di tangan mereka diisi makanan yang lezat untuk dipersembahkan kepada dewa. Tetapi sejak agama Islam masuk, tari piring mempersembahkan sesajennya kepada majelis keramaian dan raja-raja atau pembesar negeri.

Kini, tari piring juga dipakai sebagai bagian dalam pernikahan tradisional karena pengantin dianggap sebagai raja sehari yang layak mendapat penghormatan. Butuh kecakapan memegang piring dan mengatur mimik muka yang tepat saat menarikannya.

Continue reading ‘Filosofi Tari Piring Minang’

07
Apr
09

Riwayat Tradisi Uang Jemputan

Pengantar :

Karena sudah menjadi polemik di kalangan masyarakat minangkabau seputar tradisi uang jemputan,  maka ~ padusi ~ mencoba meluruskan  tradisi itu dalam suatu kebiasaan masyarakat yang lebih elegant, dengan mengangkat suatu pandangan seorang pria Minangkabau yang berasal dari Pariaman tentang asal usul tradisi ini. Padusi mengedit pandangan beliau dari sebuah milis orang minangkabau menjadi sebuah artikel yang berjudul ” Riwayat Tradisi Uang Jemputan.

Meskipun demikian,  mengingat praktek tradisi ini tidak semua berlaku di  wilayah Ranah Minangkabau, maka sebagai tradisi, pemberian uang jemputan itu – tetaplah dikatakan sebagai bukan adat. Untuk lebih jelasnya pahamilah pemikiran penulisnya.

Riwayat Tradisi Uang Jemputan

Oleh : Arman Bahar Malin Bandaro

Bedakah masing-masing UANG JEMPUTAN – UANG HILANG ? Umumnya masyarakat yang awam tentang kedua istilah ini menyamakan saja antara “Uang Jemputan ” dengan “Uang Hilang”. Padahal tidak semua orang Pariaman mengerti tentang masalah ini. Di milist RantauNet justru Mak Syamsir Alam yang bukan “Ughang Piaman” lah yang telah menjelaskan dengan tepat dan lugas bahwa tradisi uang jemputan yang hangat di diskusikan di milist itu sebenarnya malah bukan pada lingkup uang jemputan tetapi sebenarnya adalah masuk kedalam ranah “Uang Hilang” dan “Uang Dapua” atau “Uang Asok” . Uang ini benar benar hilang atau tidak akan dikembalikan kepada fihak keluarga anak daro.

Pada awalnya uang jemputan ini berlaku bagi calon menantu yang hanya bergelar Sutan, Bagindo dan Sidi dimana ketiga gelar ini diwariskan menurut nasab atau garis keturunan ayah atau patriachat.

Dengan demikian di Pariaman berlaku 2 macam gelar, yaitu

- yang satu gelar dari ayah

- yang satu lagi gelar dari mamak,

hanya saja gelar dari Mamak, terpakai adalah gelar Datuak dan gelar Malin saja, misalnya dapat kita contohkan pada seorang tokoh minang yang berasal dari Pariaman, yaitu Bapak Harun Zein (Mantan Mentri Agraria dan Gubernur Sumbar). Beliau mendapat gelar Sidi dari ayahnya dan mendapat gelar Datuak Sinaro dari Ninik Mamaknya. Sehingga lengkaplah nama beliau berikut gelarnya Prof. Drs. Sidi Harun Alrasyid Zein Datuak Sinaro (dari persukuan Piliang) .

Lantas siapakah mereka pemegang gelar yang 3 itu?

· Gelar Sutan dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada petinggi atau bangsawan Istano Pagaruyuang yang ditugaskan sebagai wakil raja di Rantau Pasisia Piaman Laweh. Ingat konsep luhak ba-panghulu – Rantau ba Rajo, seperti :

- Rajo Nan Tongga di Kampuang Gadang Pariaman,

- Rajo Rangkayo Basa 2×11 6 Lingkuang di Pakandangan,

- Rajo Sutan Sailan VII Koto Sungai Sariak di Ampalu,

- Rajo Rangkayo Ganto Suaro Kampuang Dalam,

- Rajo Tiku di Tiku dll

· Gelar Bagindo dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada para Petinggi Aceh yang bertugas didaerah Pariaman. Ingatlah bahwa wilayah Pariaman – Tiku pernah dikuasai oleh kerajaan Aceh dizaman kejayaan Sultan Iskandar Muda.

· Gelar Sidi diberikan kepada mereka2 yang bernasab kepada kaum ulama (syayyid), yaitu penyebar agama Islam didaerah Pariaman

Continue reading ‘Riwayat Tradisi Uang Jemputan’

01
Apr
09

Mengapa urang minang senang berdagang ?

18dec59cdua-sahabatoleh : Hifni H. Nizhamul

Mengapa “ urang minang” senang berdagang ? Jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada komunitas bangsa Cina, maka jawaban mereka pasti berbeda dengan jawaban urang minang.
Mengapa ? motivasi “urang minang” berdagang karena ingin melawan dunia orang – suatu tema yang mengandung amanat untuk hidup bersaing terus menerus mencapai kemuliaan, kenamaan, kepintaran dan kekayaan.

Bagi bangsa Cina, lintasan yang dilaluinya dalam merambah dunia melebihi lintasan yang dilakukan oleh perantau Minang. Dibelahan dunia manapun kita menemukan bangsa Cina berprofesi sebagai pedagang.Bahkan secara khusus, mereka membuat dan memproduksi keperluan pernak-pernik yang bercirikan khas Negara-negara didunia untuk keperluan turis, suku cadang, dan material lainnya, yang diproduksi dari negaranya.
Filosofi bangsa Cina dalam berdagang pasti berbeda dengan “ urang minang”. Orang Minang berpolakan prinsip bagi hasil pada system anak semang dan induk semang. Sementara bangsa china menganut pola berjenjang.

Continue reading ‘Mengapa urang minang senang berdagang ?’

14
Jan
09

Tradisi Uang Jemputan Bukanlah Adat di Minangkabau……

Oleh : Hifni H.Nizhamul

b785c74auntitled-1

Pada awalnya, pemberian uang jemputan dari pihak keluarga perempuan kepada pihak laki-laki (calon menantu atau sumando), dilakukan terhadap calon menantu dari lingkungan sosial masyarakat – yang dianggap terhormat, misalnya: gelar keturunan. Yaitu Sidi, Bagindo, dan Sutan. Setelah itu berlanjut menjadi persyaratan dalam proses peminangan atau tercapainya kesepakatan untuk menjodohkan seorang anak perempuan dengan lelaki pilihannya. Pemberian uang jemputan ini lagi – lagi dipersyaratkan oleh pihak keluarga laki-laki.
Uang jemputan itu, berbeda-beda besaran nilainya, bisa juga berupa non-uang seperti mobil, rumah, atau lainnya.

Dahulu laki-laki yang bergelar Sidi – di daerah Pariaman – akan menerima uang jemputan lebih tinggi dibanding yang lain. Sekarang, yang menjadi ukuran adalah para kaum terpelajar, berpendidikan, dan memiliki profesi tertentu, sebagai dokter, sarjana teknik, sarjana ekonomi serta kaum professional lainnya akan menjadi orang-orang jemputan.

Continue reading ‘Tradisi Uang Jemputan Bukanlah Adat di Minangkabau……’

29
Oct
08

Tradisi dan upacara dalam kehidupan manusia Minangkabau

I. TRADISI DAN UPACARA SEPANJANG KEHIDUPAN MANUSIA :

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam kehidupan manusia semenjak ia lahir – berjodoh hingga meninggalkan dunia yang fana ini berlaku kebiasaan dan tradisi yang telah memberi warna perlakuan peribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Kemudian tradisi yang dipraktekkan dalam Nagari-nagari di Ranah Minang menjadi kebiasaan serta menjadi kekayaan amat berharga dalam khazanah budaya minangkabau.

Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, yang menjadikan adat minangkabau menyatu didalam ajaran Islam, sehingga menjadi sempurnalah kehidupan awal manusia minangkabau hingga akhir dari suatu kehidupan, dalam tatatanan adat bersendi syara’ syara’ bersedi kitabullah. Ajaran Islam akan lebih banyak berbicara didalam pola dan tingkah laku masyarakat dari daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi syariat islam dalam khazanah budaya Minangkabau semestinya  mengarah.

Upacara-upacara yang dipraktekkan dalam tradisi di Minangkabau adalah

1. Upacara kehamilan ;

Ketika roh ditiupkan kedalam seorang ibu pada saat janin berusia 16 minggu, maka disaat inilah bebera kalangan masyarakat mengharapkan doa dari kerabatnya. Pengertian kerabat disini terdirin dari para ipar dan besan dari masing-masing pasangan isteri.

Seperti pada umumnya setiap hajad kebaikan – maka keluarga yang akan membangun kehidupan baru menjadi pasangan keluarga sakinah ma waddah wa rahmah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar awal kehidupan janin membawa harapan yang dicita-citakan.


2. Upacara Karek Pusek (Kerat pusat) :

Sebetulnya tidak memerlukan upacara yang khusus pada saat dilakukan pemotongan tali pusat ini, karena merupakan upaya dari kalangan medis dalam memisahkan pusar bayi dengan placenta ibunya. Belum diketemukan upacara khusus untuk melakukan hal ini.


3. Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah) :

Sering upacara ini dilakukan dengan tradisi tertentu diantara para ipar – besan dan induk bako dari pihak si Bayi. Induk Bako – si Bayi akan memberikan sesuatu kepada sang bayi sebagai wujud kasih sayangnya atas kedatangan bayi itu dalam keluarga muda.

Umumnya Induk bako dan kerabatnya akan memberikan perhiasan berupa cincin bagi bayi laki-laki atau gelang bagi bayi perempuan serta pemberian lainnya.


4. Upacara Sunat Rasul :

Apabila seorang anak laki-laki telah cukup umur dan berkat dorongan kedua orang tuanya, maka seorang anak akan menjalani khitanan yang di Ranah Minang disebut “ Sunat Rasul.

Sunah rasul mengandung pengharapan dari kedua orang tuanya agar anak laki-lakinya itu menjadi anak yang dicita-citakan serta berbakti kepada kedua orang tua.

Saat ini telah menjadi trend baru di kalangan masyarakat, yang kemudian melahirkan tradisi baru dikalangan atas masyarakat minangkabau – melalui pennyelenggaraan upacara tertentu seperti perhelatan. Anak laki-laki yang sudah dikhitankan itu didudukkan di sebuah pelaminan seperti pengantin.

Sebenarnya ini bukanlah kebiasaan yang menjadi tradisi dalam masyarakat minangkabau namun keboleh jadian bahwa tradisi merupakan hasil asimilisai dari berbagai etnis yang hidup di Indonesia. Ssuatu saat akan menjadi tradisi pula dikalangan masyarakat minangkabau.


5. Masa  Mengaji di Surau dan upacara masa remaja laki-laki :

Surau mengandung tempat tinggal dan tempat pembelajaran bagi anak laki disaat ia remaja. Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-upacara semasa remaja ini adalah sbb:

1. Manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.

2. Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.

3. Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama.

4. Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat.

5. Baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan.

6. Mangaji halal jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.

7. Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.


6. Tamat Kaji (khatam Qur’an) :

Biasanya seseorang yang telah menamatkan kaji (khatam Qur’an), maka terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap kemampuan membaca itu dihadapan majelis Surau. Seorang akan mendengar kemampuan tajwit dan makhraj untuk meyakini bahwa seorang anak yang telah menamatkan AlQur’an itu, telah lulus didalam pengkhataman Al Qur’an nya.

Sebagai rasa syukur, maka para jemaah di Surau itu akan merayakan dalam bentuk pemberian doa selamat kepada si murid. Umumnya beberapa kekeluarga di Minangkabau secara kolektif dan bersama menyediakan penganan khas daerah setempat.


7. Melepas Pergi Merantau : dibahas pada mengapa “ orang minang pergi merantau”.


II. PERKAWINAN :

Menikah : dibahas secara rinci dalam kategori “ Adat Perkawinan

Pada umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam masalah nikah kawin sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam pelaksanaan nikah kawin dikatakan “nikah jo parampuan, kawin dengan kaluarga”. Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu perkawinan harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas kemauan muda-mudi saja. Dalam proses perkawinan acara yang dilakukan adalah sbb:

1. Pinang-maminang (pinang-meminang)

2. Mambuek janji (membuat janji)

3. Anta ameh (antar emas), timbang tando (timbang tando)

4. Nikah

5. Jampuik anta (jemput antar)

6. Manjalang, manjanguak kandang (mengunjungi, menjenguk kandang). Maksudnya keluarga laki-laki datang ke rumah calon istri anaknya

7. Baganyie (merajuk)

8. Bamadu (bermadu)

Dalam acara perkawinan setiap pertemuan antara keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki tidak ketinggalan pidato pasambahan secara adat.


III. KEMATIAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:

1. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)

2. Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)

3. Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)

4. Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)

5. Doa talakin panjang di kuburan

6. Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari.

Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.

27
Sep
08

“ RANTAU CHINA “

oleh : Hifni H.Nizhmul

Asal Usul Budaya Merantau :

Setiap tahun karena euphoria Hari Raya Idul Fitri, selalu membuat hati para perantau semakin didera rasa rindu yang mendalam. Saat ini mereka berada disegala penjuru dunia.

Budaya Merantau” sudah melekat pada orang Minang sejak lama, hampir berabad-abad yang lalu. Ada beberapa motivasi orang minang merantau, yaitu :

· Untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sehingga memperoleh kemaslahatan bagi kampong halaman.

· Untuk tujuan berdagang mencari saudagar dalam rangka mencari nafakah bagi keluarganya dan juga keluarga besarnya. Ingatlah, peran pria minang sebagai ayah bagi anak-anaknya dan juga sebagai mamak bagi kemenakananya,

· Akhirnya mencari pangkat (pekerjaan/jabatan) (Navis, 1999).

Jadi kebiasaan merantau bertujuan untuk mencari kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga dan bukan karena sebab suatu celaan. Hal ini tercermin dari pepatah yang berbunyi : Jika hendak mulia – harus suka memberi, jika ingin ternama (terkenal) dirikan kemenangan, jika mau pandai rajin berguru, jika ingin kaya harus kuat berusaha”

“Merantau” mengandung banyak arti. Didalammnya terkandung falsafah hidup yang utuh dan hidup. Merantau mengandung tujuan yang pasti. Merantau diistilahkan pula “pai mancari”. Kadang kala ada yang berkata Dalam arti sem­pit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, bisa juga berarti mencari “kehidupan” dalam arti yang luas.

“Rantau”, diartikan juga sebagai perluasan wilayah. Sebut sajalah dalam pembagian Luhak. Wilayah pesisir ranah Minang disebut Rantau. Kepada “anak minangkabau” yang akan memulai “merantau”, dalam arti yang luas, dipesankan sebuah petuah dari orang tua-tua dan para ninik mamak yang kemudian dirangkaikan dengan sebuah pesan (falsafah hidup), “Ibu cari, dusanak cari, induak samang cari dahulu”.

Maksudnya ; jika dikampung halaman meninggalkan saudara dan bundokanduang, maka ditanah perantauan ia hendaknya harus mencari orang yang dituakannya. Hakekatnya ialah, pandai menghormati “orang-tua” dimana saja. Selanjutnya “dunsanak” diartikan sebagai “sahabat”, “ konco palangkin” karena kawan sama besar – sama sepergaulan, bahkan “sesama tempat tugas”, harus dianggap sebagai saudara sendiri”.

Tidak heran, jika perkumpulan anak-anak Minangkabau di perantauan, baik yang didaerah-daerah, maupun diluar negeri, suasana persaudaraannya lebih terasa akrab melebihi saudara kandung.

Continue reading ‘“ RANTAU CHINA “’

25
Sep
08

Menyambut Hari Raya : manjalang mintuo

Bagi pasangan pengantin baru, selama masa bulan madu masih berlangsung atau diawal perkawinan, maka suatu tata cara yang tidak kalah pentingnya bagi mempererat tali silatuahmi kedua keluarga, dalam tata cara adat istiadat perkawinan di Minangkabau, ialah acara manjalang mintuo pada saat Hari Raya Iedhu Fitri. Beberapa nagari di Sumatera Barat, saat ini masih mempraktekkan khazanah budaya ini dengan berbagai macam istilah. Ada yang menyebut dengan istilah manjalang mintuo, mahanta nasi, mahanta nasi katunduakan, dll. Namun maksud dan tujuannya sama, yaitu kewajiban untuk mengisi adat pada saat menyambut hari raya Iedhul Fitri, yang dilakukan 1 hari sebelum Hari Raya, biasa pada saat sore hari atau menjalang malam takbiran. Continue reading ‘Menyambut Hari Raya : manjalang mintuo’

08
Sep
08

Tradisi ~ Ma anta pabukoan ~


Oleh : Hifni hfd
Ciri khas masyarakat Minangkabau adalah Islam dan adat yang bersendikan syara – syara’ bersendi kitabullah. Maanta pabukoan sebuah tradisi yang sudah tidak jelas lagi batas antara kewajiban adat dengan budaya. Banyak kegiatan khazanah budaya di Minangkabu yang dilaksanakan dengan sangat islami dan minangkabau. Sebagai bagian dari keberagamaan dan keber adatan, maka – maanta pabukoan – ini hingga ini masih tetap ada. Ramadhan adalah bulan suci, yang dirindukan dan dinantikan kedatangannya oleh siapapun juga. Pada saat memasuki bulan ramadhan, masyarakat melaksanakan tradisi ” balimau ” yang mengandung makna tentang kesiapan mental seseorang dalam menjalani ibadah puasa dengan cara mensucikan diri dari segala hadas melalui mandi gadang (balimau) atau mandi junub. Pada masa bulan ramadhan itu, para keluarga akan melakukan amalan berupa pemberian anatar makanan kepada kaum kerabat yang dihormati oleh keluarganya.
Perhatikanlah masih ada wanita paruh baya dengan bungkusan besar yang dijunjungnya serta di tangan kanannya masih terjinjing sebuah rantang alumunium berjalan menuju kerumah mertua/kerabat suaminya. Bagi pasangan muda lebih-lebih pengantin baru, dengan raut wajah dan dandanan kebaya serta pakaian muslim berkunjung kerumah mertuanya dengan penuh kegembiraan. Continue reading ‘Tradisi ~ Ma anta pabukoan ~’

02
Sep
08

“Bahondoh-Bararawai”, Tradisi yang Berpantun

Pengantar oleh : Hifni Hfd
Bahondoh bararawai adalah tradisi gotong royong padusi minang dalam melakukan pekerjaan besar didunia pertanian. Bahondoh artinya berbondong bondong, sedangkan bararawai adalah bersorak sorei dan bergembira ria. Simaklah artikel dibawah ini yang telah ditulis oleh Sdr. Nelson Alwi yang berdomisili di Kota Padang pada Harian Nasional Suara Karya, Sabtu, tanggal 23 Agustus 2008. Apa dan bagaimana kegiatan bahondoh – bararawai itu, kemudian diedit oleh ~padusi~ seperti artikel berikut ini. Selamat membaca Continue reading ‘“Bahondoh-Bararawai”, Tradisi yang Berpantun’

21
Aug
08

Tradisi Balimau

oleh : Hifni Hfd

Balimau adalah satu kata yang mengandung satu kegiatan tradisi yang bernuansa religious di Minangkabu pada masa dahulu hingga sekarang. Biasanya tradisi ini dilakukan selang satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. BALIMAU dalam terminologi orang Minang adalah mandi menyucikan diri (mandi wajib, mandi junub) dengan limau (jeruk nipis), ditambah ramuan alami beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu, yang semuanya direndam dalam air suam-suam kuku. Lalu, dibarutkan (dioleskan) ke kepala. “Ramuan tradisional untuk balimau tersebut adalah warisan turun-temurun sejak dulunya, sejak puluhan tahun lalu bahkan konon sejak ratusan tahun lalu. Sungguhpun tradisi ini telah mulai hilang atau sengaja dihilangkan, karena ada kalangan alim ulama diranah minang sendiri , menganggap tradisi “ balimau “ sebagai perbuatan bid’ah, namun bagi kami apapun celaan terhadap tradisi ini, selayaknya “ Tradisi balimau” tetap dipelihara dan dilestarikan.
Continue reading ‘Tradisi Balimau’

05
May
08

Meminta Izin – Doa restu (Ma – anta Siriah)

Oleh : Hifni Hafida

Meminta izin untuk memperoleh doa restu, wajib dilakukan calon pengantin pria (CPP) kepada para ninik mamaknya. Seorang pemuda di Minangkabau – menempuh hidup berkeluarga bagaikan berangkat pergi merantau. Ia akan menjadi tamu abadi didalam keluarga besar isterinya kelak. Karena itu ia mesti mendapat bimbingan adat dari orang tua-tua dan para sesepuh dikeluarga besarnya. Bagi seorang pemuda telah ditentukan jodoh dan hari perkawinannya, maka kewajiban yang pertama menurut adat yang harus dilakukan sebelum ia melepas masa bujang ialah; memberi tahu dan mohon doa restu kepada ninik-mamaknya, saudara-saudara ayahnya; kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan kepada orang-orang tua lainnya yang dihormati dalam keluarganya itu. Acara ini pada beberapa daerah di ranah Minang disebut minta izin atau meminta doa restu.
Bagi calon pengantin wanita (CPW), tidak ada kewajiban untuk meminta restu kepada ninik mamaknya, karena sebagai wanita – ia adalah pengikat hubungan antara keluarga didalam perkawinan eksogami itu. Segala sesuatu yang harus dipenuhi dalam tata cara adat dan budaya telah dilaksanakan oleh kaum keluarganya. Seandainya ia telah memperoleh jodoh hasil dari manyalangkan mato – maresek, maka akan ada wakil dari wanita yang telah berkeluarga yang akan menyampaikan kepada ninik mamak didalam kaumnya.

Continue reading ‘Meminta Izin – Doa restu (Ma – anta Siriah)’

05
May
08

Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro

Oleh : Hifni Hafida

Meskipun sekarang ini acara memandikan CPW/anak daro tidak dilakukan lagi, namun beberapa nagari di Sumbar, acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. CPW/anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian wanita-wanita tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pegantin itu.

Continue reading ‘Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro’

05
May
08

Acara Babako –Babaki

Acara babako, adalah tradisi yang mencerminkan kehidupan bergotong royong pada masyarakat Minangkabau, dimana kerabat ayah CPW memberikan barang antaran untuk CPW, yang terdiri seperangakat kebutuhan wanita yang disusun dalam baki baki sesuai dengan jumlah barang yang akan diantara tadi.
Penyelenggaraan acara perkawinan menurut adat di Minangkabau melibatkan seluruh anggota kerabat baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Sungguhpun kewijiban utama penyelenggaraan acara itu berada di tangan para ninik mamak pengantin wanita, namun juga melibatkan kerabat dari pihak ayah. Biasanya jika ada hajad untuk menyelenggarakan perkawinan, maka ibu dari Calon Pengantin Wanita (CPW), akan memberi tahukan pihak saudara suaminya (bako dari CPW), tentang gadisnya telah beroleh jodoh. Selanjutnya ia akan menyampaikan urutan acara dan upacara pra pernikahan, upacara akad nikah. Ia mengundang pihak “induk bako/bako” ( ibu mertuanya – bila masih ada dan saudara suaminya) atau iparnya untuk ikut melepas anaknya menuju jenjang pelaminan. Bagi periparan dan pebesanan sesama Minangkabau, maka dengan sendirinya undangan ini dipahami sebagai permintaan bantuan atau sumbangan bagi anak gadisnya yang akan melakukan pernikahan itu. Ada suatu kiasan yang menyatakan “ sabalun bakilek alah bakalam”, yang artinya bahwa pihak yang diajak berunding dengan sendiri telah mengetahui maksud dan tujuan pembicaraan itu Continue reading ‘Acara Babako –Babaki’

30
Apr
08

Menjemput Pengantin Pria

~ Manjampuik marahpulai ~

Acara yang paling pokok dalam perkawinan menurut adat istiadat mempersandingkan anak dara dan marapulai di pelaminan dengan disaksikan oleh para tamu yang hadir. Untuk itulah pihak anak dara akan mengirim utusan untuk menjemput marahpulai dalam upacara resmi.
Telah sembah menyembah dilakukuan antara keluarga marah pulai dan anak daro, rombongan penjemput dipersilahkan naik kerumah Marahpulai. Keluarga marahpulai mulai memeriksa semua perlengkapan pakaian yang dibawa oleh keluarga anak daro itu.

Menjemput calon pengantin pria / marahpulai, merupakan prosesi yang paling penting dari seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat istiadat Minangkabau. Pada masa dahulu, keluarga anak daro menjemput marahpulai yang dilakukan oleh beberapa orang laki-laki saja, kemudian si marahpulai dibawa ke mesjid-mesjid dan melafazkan ijab kabulnya disana dan diterima oleh ayah si anak daro dan disaksikan oleh beberapa pihak keluarga yang lain.
Setelah selesai upacara akad nikah, marahpulai pulang kerumahnya dulu dan barulah kemudian keluarga anak daro menjemput marahpulai ke rumah orang tuanya untuk dipersandingkan di rumah anak daro. Sekarang ini untuk efisiensi waktu, seperti yang dilakukan di kota-kota besar, upacara akad nikah dilangsungkan di rumah anak daro dan setelah upacara ijab kabul berlangsung, maka kedua pengantin itu kemudian dipersandingkan di pelaminan. Continue reading ‘Menjemput Pengantin Pria’

29
Apr
08

Pasambahan Penjemputan Pengantin Pria (dilangsungkan di atas rumah)

Percakapan yang sering dilakukan pada saat penyambutan kedatangan marahpulai sering dibawakan dengan bahasa yang sebenarnya tidak mudah dipahami. Akan tetapi karena menyangkut upacara dan prosesi adat, maka pihak keluarga anak daro dalam melakukan penyambutan akan diwakili oleh wakil yang terbiasa memimpin upacara adat. Ikutilah percakapan yang terjadi pada saat penerimaan kedatangan marahpulai. Continue reading ‘Pasambahan Penjemputan Pengantin Pria (dilangsungkan di atas rumah)’

26
Apr
08

Penyambutan Di Rumah Pengantin wanita

Penyambutan marapulai dirumah anak daro :

Setelah marahpulai dijemput oleh pihak keluarga anak daro, maka tibalah saat nya marahpulai dinanti-nanti dengan uapacara kebesaran. Seperti kita tahu, bahwa pelaksanaan akad nikah dapat dilaksanakan di rumah,dimesjid atau di gedung pertemuan.Di semua tempat pelaksanaan akad nikah itu akan disertai dengan upacara penyambutan calon mempelai pria secara khidmat sesuai dengan upacara adat di nagari setempat. Bila akad nikah dilangsungkan dirumah calon mempelai wanita, maka acara penyambutan kedatangan calon mempelai pria dengan rombongannya di rumah calon pengantin wanita dilaksanakan menurut prosesi tertentu pula
Jika di tanah Jawa akan menampilkan janur kuning, maka yang menonjol dalam penyelenggraan acara baralek gadang, si yang empunya hajad akan menampilkan ke-khasan dan symbol Minangkabau berupa umbul-umbul atau bendera yang disebut marawa-marawa ala Minangkabau disepanjang jalan tempat perhelatan. Selain itu dipersiapkan pula permainan musik tradisional (talempong dan gandang tabuik) untuk memeriahkan suasana. Continue reading ‘Penyambutan Di Rumah Pengantin wanita’

26
Apr
08

Berkunjung kerumah mertua – mengantarkan nasi

Manjalang ka rumah Mintuo – Mahanta Nasi :

Sesudah upacara akad nikah, dilanjutkan dengan mempersandingkan kedua pengantin di pelaminan di rumah kediaman anak dara. Setelah mengikuti prosesi adat serta melakukan rangkaian acara sesudah akad nikah, suatu acara yang tidak kalah pentingnya dalam suatu perhelatan besar (baralek gadang), dalam tata cara adat istiadat perkawinan di Minangkabau, ialah acara manjalang mintuo. . Acara ini mungkin bisa disamakan dengan acara “ngunduh mantu” yang berlaku menurut adat Jawa. Acara ini yang pelaksanaan dan undangannya dilakukan oleh pihak keluarga marahpulai. Continue reading ‘Berkunjung kerumah mertua – mengantarkan nasi’

19
Mar
08

Pasan Bundo

Oleh A. B. Dt. Majo Indo

nan sakapa alah diambiak urang
Nan sapinjik tingga diawak
Walau dibalun sabalun kuku
Jikok dikambang saleba alam
Walau sagadang bijo labu
Bumi jo langik ado didalam

Latiak latiak tabang ka pinang
Singgah manyasok bungo rayo
Aie satitik dalam pinang
Sinan bamain ikan rayo Continue reading ‘Pasan Bundo’




Blog Stats

  • 63,633 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Flickr Photos

Eid mubarak :)

Night - Red White and Blue!

Storm over the Thames

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory