Archive for the 'E. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU' Category

12
Jul
11

‘ NAGARI MANICIKA’

Oleh : Hifni Hafida

Kasus pemberian gelar adat oleh KAN Padang telah hampir sebulan berlalu, namun tidak menyurutkan keingintahuan saya untuk mencari informasi tentang hal ini. Jujur saya punya kepentingan. Pertama karena adanya falsafah ABS – SBK yang kita jadikan pedoma dalam beradat dan berbudaya, Kedua, karena sebagai perempuan yang hanya bisa merambah-rambah rumput yang ada diseputar kaki, saya ingin tegaknya semangat  falsafah adat minang dibidang property ‘ jua indak makan bali – gadai indak makan sando ‘ – jangan sampai terkikis oleh kepentingan pihak tertentu.

Itulah ujung dari kekawatiran saya tentang kota ini. Tanah Pusaka Kaum – dikota itu hanya tinggal segelintir. Yang di Pasagadang – pusat saudagar minang zaman dahulu, yang di Alang Laweh – Subarang Padang – Parak gadang, Ranah, dll sudah punah karena dibagi-bagi oleh kaumnya. Hanya Simpang Anam yang masih berada dalam kedudukan ” ganggam nan bauntuak bagi kaum perempuan keturunan Puti Rakena Gading, dibawah kendali Mamak Kepala Warisnya yang masih bertahan. Dan di Simpang 6 itu pula terletak Kampuang Cino dan Kampuang Kaliang serta Kampuang Nieh…Lokasi keberadaan masyarakat heterogen itu.

Saya tak punya daya ketika ingin menyikapi pemberian gelar sasangko adat kepada dua orang pengusaha yang menguasai perekonomian ‘KOTA PADANG”. Dikota inilah berada sebuah ke NAGARIAN PADANG yang lebih tepat saya sebut sebagai ” Nagari MANICIKA ” , yang dihuni oleh warganya yang heterogen yang berasal dari : Malayu, Aceh, Nieh, China, Kaliang. Abaikan isitilah Nagari Manicika ini – jika di kaitkan dengan ke Nagarian Padang yang ingin saya hormati dan dikenal dengan Nagari nan Salapan Suku, Karena disini ada delapan orang Penghulu yang dikenal dengan nama Niniak Mamak nan Nan Salapan Suku. Lanjutkan membaca ‘‘ NAGARI MANICIKA’’

19
Agu
10

“Ba’ abu diateh tunggua”

Oleh : Drs. Yulius, Datuak Malako Nan Putiah.

Istilah ” bak abu diateh tunggua” ini, umum diketahui oleh setiap  orang Minangkabau yang sudah dewasa, yang diibaratkan perlakuan yang dialami seorang suami  dirumah istrinya yang lazim disebut Rang Sumando. Hal ini tidak berlaku bagi laki-laki minang dalam posisi lain, seperti posisinya dirumah orang tuanya. Ia tidak akan pernah disebut sebagai seorang lelaki “ bak abu diateh tunggua.

Peran lelaki Minang sudah jelas yaitu sebagai seorang bapak – sebagai seorang Mamak – dan sebagai Urang Sumando. Dalam kedudukan seperti ini, maka Ia akan menjalankan perannya masing-masing – kapan saatnya ia sebagai seorang Kepala Keluarga, – kapan saatnya sebagai Pemimpin Kaum dan Kapan pula sebagai seorang yang Tamu di keluarga besar Isterinya. Jika seorang laki-laki bisa menempati posisi yang diamanahkan oleh Agama – kemudian juga memenuhi tanggung jawab dalam Adat,  maka pastilah semua laki-laki itu tidak mengalami nasib seperti itu. Jadi sebenarnya, tidak bisa dikatakan bahwa semua laki-laki Minangkabau “ bak abu diateh tunggua”.

Sekarang apa yang dimaksud ‘ bak abu diateh tunggua’ itu…?? Mari kita pelajari istilah ini. Lanjutkan membaca ‘“Ba’ abu diateh tunggua”’

15
Feb
10

Adaptasi Seni Budaya China di Minangkabau

Oleh ; Hifni H. Nizhamul

Meskipun pengaruhnya tidak terlalu besar dalam peradaban etnis minangkabau, namun ternyata terdapat penggalan warisan budaya China di Minangkabau. Mari kita tengok sejauh mana ikhwal perjalanan seni dan budaya China itu dalam pengembaraannya pada budaya minangkabau ?

Dari pedalaman minangkabau, baik yang berpusat di Pagaruyung maupun Tanjuang Sungayang, belum ada pengaruh budaya asing yang singgah dipedalaman itu, selain perubahan pengaruh agama Hindu atau Budha dibawa oleh pengaruh hegemoni kerajaan Majapahit ke wilayah ini dalam setting sejarah Adityawarman sebagai Raja Pagaruyung.   Adat yang bergulir menjadi undang-undang yang wajib dipatuhi masyarakat, dalam menciptakan tatanan masyarakat serta hubungan antara masyarakat dalam Korong, jorong, dan nagari – nagari, dipimpin oleh Basa Ampek Balai.

Beberapa abad kemudian – pertumbuhan budaya dan kesenian sebagaimana yang kita kenal sekarang ini, berproses melalui asimilasi dan akulturasi.

Wilayah yang mudah berdaptasi melalui proses asimilasi dan akulturasi adalah wilayah pesisir pantai. Dalam pembagian luhak atau system pemerintahan di Minangkabau, wilayah pesisir pantai ini dikenal dengan sebutan “ Rantau “.

Sejauhmana pengaruh asing dalam peradaban etnis minangkabau ?. Mari kita coba uraikan – penggalan warisan budaya China di Minangkabau.  Sejauh manakah ikhwal perjalanan budaya itu dalam pengembangan budaya minangkabau ?

Kedatangan bangsa China dimulai dari pesisir pantai, berpusat di Kota-kota pesisir yaitu : Padang, Pariaman dan Painan. Di Kota Padang, sekitar abad ke-14, daerah ini cuma kampung nelayan yang tak terkenal, dan baru di akhir 1790-an menjadi pelabuhan yang banyak dikunjungi kapal pedagang dari Inggris, Perancis, Portugis, dan Cina.

1.   Pecinan - Kampuang Chino :

Kampung Cina – Pecinan kota Padang, terletak pada pusat kota lama Padang, tidak jauh dari pelabuhan “ MUARA”.

Sejak kapan kedatangan mereka ?. Keberadaan  masyarakat Tionghoa di kota Padang, tidak jauh berebeda dengan kedatangan orang China ke Indonesia. Pada saat berkuasa Kompeni Belanda di Negara kita, kl. Abad 15. Dimanapun ia berada, pada umunya ciri perantau China – selalu bermukim di dekat pasar, baik itu pasar tradisional yang memperdagangkan komoditas lokal maupun pasar pelabuhan yang memperdagangkan komoditas ekspor impor. Hal itu dilatar belakangi kegiatan orang Tionghoa banyak berhubungan dengan perdagangan. Untuk mempermudah aktifitas mereka dalam berdaganag, maka ia membangun suatu komunitas atau perkampungan. Dari sinilah kita mengenai istilah ” kampung Cina, Pecinan, dll

2.     Seni menyulam :

Seni menyulam di tangan padusi Minangkabau dikenal dua jenis, yaitu :   kapalo panitik dan suji caie (sulaman halus).

Pasca kedatangan orang Cina di Kota Padang, ditunjukkan dengan tampilnya Pelaminan Minang yang bernuansa singgasana kekaisaran Dinasti Tiongkok. Minangkabau mengolahnya menjadi sebuah Pelaminan  yang disesuaikan dengan falsafah kehidupan berumah tangga bagi pasangan penganten.

“ Baju Anak Daro berkualitas “ adi busana”, karena dijahit diatas kain sutera. Pada kain sutera itu ditempelkan atau bubuhkan benang emas, sebagai suatu seni menjahit sulaman yang tinggi, yang kita kenal dengan sebutan “ baju Bajahik”.  Sulaman itulah yang kenal dengan sebutan kapalo panitik dan suji caie itu.

Secara keseluruhan bahan bajunya, berupa kain sutera, benang emas dan benang sulam diimpor dari negara masing-masing, yaitu ; Benang emas berasal dari India, kain sutera berasal dari China termasuk benang suteranya. Umumnya, desain sulaman, berupa bunga – serangga – burung hong – naga, sangat terlihat jelas pada desain baju “ bajahik tradisional” kala dulu. Selendangnya pun  dibuat dengan desain yang sama dengan baju kurung berjahit itu, dari masa kemasa hingga sekarang tidak berubah. Demikian pula halnya, kita masih menemukan beberapa selendang “ bajahik “ , seperti halnya baju kurung.

Di Kota Padang lebih satu abad yang lalu, penjahit baju anak daro ini – dilakukan oleh wanita-wanita China itu. Saya masih menyimpan baju pengantin buatan perempuan Cina yang sudah berusia k.l 1 abad.

Sekarang ini – karena pengaruh zaman, perubahan dari waktu ke waktu tidak bisa dihindari, mengingat begitu banyaknya bahan-bahan baju yang sudah tidak memerlukan pekerjaan tangan lagi, karena sudah dikerjakan dengan menggunakan mesin.

3.      Baju Guntiang Cino :

Selama ini kita mengenal Baju Koko sebagai pakaian pria muslim. Di Minangkabau baju “ Koko” ini disebut baju “Guntiang Chino “ .  Ke Khasan  ” baju guntiang chino ” itu ialah pada potongan badan dan lengannya. Baju itu menjadi khas karena dijahit terawang, pada dadanya.

4.     Sunting Anak Daro :

Pakaian oranye pengantin Minangkabau pelaminan

Amatilah mahkota apa yang dijunjung oleh anak daro Minangkabau. Mirip sekali dengan mahkota Permaisuri dari kekaisaran  Tiongkok itu bukan.. ? Pendahulu kita – meniru mahkota sang permaisuri dari Tiongkok itu, menjadi “ sebuah sunting yang indak dan catik ini.  Sunting Anank Daro adalah produk asimilasi yang masuk menjadi bagian dari budaya minangkabau khususnya kota Padang dan kota Pesisir lainnya.

5. Pelaminan

Pelaminan Minang Sebenarnya sebuah pelamiman adalah seni dekorasi ruang. Bagi Minangkabau – pelaminan ini adalah symbol dari kedudukan raja dan ratu. Dahulu kala – terutama diwilayah pesisir pantai – hanya kaum bangsawan yang bisa duduk dipelaminan lengkap kala itu. Pelaminan tidak bisa dipakai untuk rakyat kebanyakan. Siapakah yang diperbolehkan memakai pelaminan itu  ?

a.  Jika di Pariaman, ialah para anak keluarga Sidi, Bagindo atau Sutan.

b.  Di kota Padang, ialah para anak keluarga Puti atau Sutan.

Sepasang pengantin yang dipersandingkan berdua – dapat diumpamakan sebagai raja ratu sehari, Pasangan ini dianggap memakai singgana golongan ningrat atau terpandang itu. Karena itulah, dikala dulunya –  pelaminan ini hanya dipakai pada orang –orang tertentu saja. Orang lain yang bukan keturunan Puti – atau berinduk bako “ Puti atau Siti, harus meminta izin lebih dahulu kepada Puti Puti itu. Bagi rakyat kebanyakan – namun memiliki kemampuan keuangan lebih – dapat menyewa atau membayar para Puti itu, sebagai pihak yang mendampingi anak daro disaat dipersandingkan. Jadi pada masa itu – secara tidak sadar telah terjadi komersialisasi pada budaya.

Pada masa dahulu itu, saya masih menyaksikan didepan pelaminan,  para puti puti itu duduk bersimpuh sambil mengunyah sirih mendampingi anak daro. Jika ada yang mempersoalkan tentang penggunaan pelaminan oleh seorang anak daro yang berasal dari kaum kebanyak, maka Puti Puti itu akan bersuara – bahwa ia meminjamkan “ pakaiannya pada anak daro yang duduk di pelaminan. Pelaminan yang berada dibawah penguasaan Puti – puti itulah yang menampilkan suasana singgasana kekaisaran Tiongkok. Apakah ini termasuk penjiplakan yang dilakukan oleh orang berbangsa kala dulunya atau adaptasi tata cara berbudaya china …??

Konon katanya, bagian-bagian dari pelamin itu tidak sekedar hiasan belaka, melainkan mengandung pemaknaan sebuah rumah tangga.

Di pesisir Minangkabau/Rantau, warna warna yang mendominasi warna pelaminan dilambangkan dalam 3 warna, yaitu ; hijau – merah dan kuning. Ketiganya dipersatukan dalam tigo sapilin untuk mengikat sebuah limpapeh . Limpapeh itu adalah tiang utama rumah tangga.

Arti warna itu ialah :

* Warna hijau , melambangkan raja muda,

* Warna kuning, sebenarnya raja,

* Warna merah, raja berani

Bagian-bagian dari pelaminan yang lambang kedudukan orang orang terpandang itu adalah :

  1. Banta Gadang, lambang kedudukan seseorang, untuk kalangan bangsawan   atau orang orang yang dihormati.
  2. Limpapeh, sebagai tiang yang kokoh pada sebuah rumah tangga yang berbalut dengan kain 3 warna sapilin.
  3. Tabir, sebagai pelindung yang menaungi suatu rumah tangga pengantin.
  4. Tirai ;

Jumlah lapisan tirai tergantung dari siapa yang akan duduk pada singgasana pelaminan itu. Bagi orang yang berpangkat raja, manti masing masing akan menggunakan  7 atau 3 lapisan tirai. Sedangkan bagi rakyat kebanyak hanya 1 lapis tirai saja.

Yang menarik dari lambang Tirai yang berlapis-lapis ini yang disebut “ Puti Manyibuak”. Puti Manyibuak ini, merupakan lambang dari kalangan wanita untuk mampu menjaga diri dari gangguan dan godaan pihak luar.

Seorang wanita baik ia seorang gadis, maupun yang sudah berkeluarga harus mampu menjaga harkat dan martabat dirinya sebagai seorang wanita. Ia melakukan upaya penyelidikan terlebih dahulu – siapa orang yang mendatangi rumahnya.

Disinilah melakukan pengintipan lebih dahulu ‘ yang disebut manyibuak .

5. Lidah lidah naga :

Di China, naga dipercaya sebagai dewa pelindung, yang akan memberikan rezeki, kekuatan,kesuburan, dan juga air, karena pada umumnya masyarakat China adalah masyarakat agraris. Lambang ini sangat sesuai dengan ciri khas masyarakat minangkabau yang mengandalkan kesuburan tanah pada air, serta mendatangkan rezeki pada masyarakatnya.

Bahkan dalam pengertian yang mulia, arti minangkabau adalah minang = air dan kerbau = kekuatan.

Karena itu, ketika Orang Cina yang merantau di pesisir Minangkabau dulunya, yaitu : Kota Padang, Pariaman memperkenalkan symbol symbol ini pada pelaminan.

6. Banta kopek ;

Bantal bantal kecil yang ditaruh pada hamparan pelaminan itu.

Demikian uraian dari penggalan budaya Cina yang diwariskan kepada masyarakat Minangkabau zaman dahulunya.

Dengan adanya pengaruh dari pihak luar, baik melalui adaptasi , asimilasi, akulturasi,  maka penggalan budaya ini akan semakin menipis dan bukan tidak mungkin akan habis ditelan zaman.

30
Jan
10

Baju Telok Blangah – Minangness “ Taluak Balango “

Ketika berkesempatan melakukan sholat jamak qasar dhuhur – asyar baru-baru ini disebuah Mesjid JamikSultan Johor di wilayah District Telok Blangah Singapura, saya terkesan dengan nama distrik Telok Blangah itu. Mesjid JamikSultan Johor itu adalah bekas balairung Temanggung Maharaja Abu Bakar, yang menjadi Temenggong Telok Belangah hingga 1868.

Selama ini saya mengenal  sebutan “ taluak balango “ sebagai nama pakaian resmi pria minang dalam perhelatan. Dalam suasana kebathinan ketika melaksanakan sholat di Mesjid JamikSultan Johor itu, sebagai rang minang saya ingin mencari tahu migrasi busana ini ke Minangkabau  dan menjadikan pakaian “Taluak balango” – sebagai pakaian resmi pria Minang seperti yang kita kenal sekarang ini. Lanjutkan membaca ‘Baju Telok Blangah – Minangness “ Taluak Balango “’

14
Okt
09

`tradisi malamang`

Oleh : Hifni H. Nizhamul

Malamang” – artinya memasak lemang.  Lemang adalah penganan yang berasal dari bahan ketan, kemudian  dimasukkan kedalam bambu yang sudah berlapis daun pisang muda.

Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Solok, Bukitinggi, Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan Painan. Entah siapa yang mengawali, ternyata lemang ini bisa juga kita temui di negara Semenanjung jenis penganan ini.

Di Ranah Minang – tradisi Malamang ini,  biasanya dilakukan secara bergotong royong, tidak  dilakukan oleh pribadi untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara bersama oleh sekelompok masyarakat atau kerabat. Praktek pelaksanaan tradisi malamang ini,  dilaksanakan untuk kepentingan tertentu, yaitu :  Beberapa hari menjelang  datangangnya bulan Ramadhan.

Pada hari kedua belas Rabi’ul Awam sebagai menu pada Acara Maulud Nabi,< Pada saat acara perhelatan /acara selamatan.

Lemang – lemang yang dibuat untuk kepentingan acara diatas,  dihidangkan kepada tamu (atau siapa saja) yang datang pada kegiatan itu. Lamang ini hanya sekedar  kudapan atau penganan belaka.

Ada yang menghidangkannya pada saat menerima tamu yang berkunjung untuk silaturahmi untuk menyambut datangnya Ramadhan sebagai event yang penting dalam acara saling bermaaf -maafan, termasuk pada saat Hari Raya. Bisa juga dihidangkan ketika sebuah keluarga mengundang warga untuk membaca doa selamat / perhelatan. Tingkat penghidangan lemang sebagi menu kudapan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu – seperti halnya rendang sebagai menu utama dalam ragam menu hidangan dan sekitarnya melaksanakan tradisi ” malamang” pada saat acara Maulud Nabi. Biasanya dilakukan pada hari kedua belas Rabiul Awal. Sementara itu, di sebagian masyarakat Minangkabau seperti di <strong>Solok,</strong> tradisi malamang juga dilaksanakan pada saat memperingati hari kematian. Utamanya pada peringatan empat belas hari kematian, empat puluh hari kematian atau seratus hari kematian. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan yang lain, yaitu untuk menjamu tamu.

Ketan yang sudah direndam dengan santan, dimasukkan kedalam bambu yang tahan pembakaran api.  Bersihkan daun pisang yang sudah dilayukan. Fungsi daun pisang sebagai lapisan dalam bambu seruas yang telah dipersiapkan, selanjutnya dimasukan beras ketan yang sudah diaduk dengan santan kental serta garam.

Bambu dibakar  dalam waktu tertentu,  hingga ketan yang ada didalam bambu itu akan masak itu. “Yang sulit itu, mematok takaran santan dengan garam serta beras ketan pada satu ruas bambu itu. Begitu pula dengan pengapiannya.   Takaran ketan yang dimasukkan kedalam bambu memerlukan keahlian dan ktrampilan, agar ketan itu tidak menjadi terlalu lembek atau malahan kekurangan santan.  Secara awam, dapat kita perkirakan dengan mengumpamakan memasak ketupat ketan, yang takarannya adalah 1/2 dari ruang atau ruas ketupat.

Meskipun lemang dihidangkan sebagai menu kudapan – bukan sebagai menu utama, namun lemang ini akan terasa nikmat bila ditemani tapai ketan hitam. Bahkan ada yang memakannya bersama rendang.

07
Sep
09

Baganyi…..

untitled-32ol

Written by Ali Nurdin

Kata baganyi diambil dari bahasa minang, mungkin kata lainnya adalah mamanggokmerajuk. Namun pengertiannya belum dapat saya jelaskan pada kesempatan ini, karena merupakan suatu sifat yang hampir dimiliki oleh setiap manusia. Contonya ; apabila seorang anak menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya, namun keinginan itu tidak dipenuhi, maka ia akan berupaya mencari perhatian dengan orang dengan bersikap ekspresif.

Baganyi bukan saja dilakukan oleh anak yang masih kecil, juga ada dilakukan oleh orang dewasa bahkan dalam kehidupan berumah tanggapun sering hal ini terjadi. Jika kita mau melihat apa yang terjadi ditengah keluarga kita sendiri ” ditukiakan pandangan dakek dilayangkan pandangan jauah” pada  ( Bapak dan ibu, keluarga kakak/ adik kita ) atau pada keluarga orang lain, mungkin kita pernah temui dan dengar adanya diantara mereka yang baganyi .

Secara umum pada masa lalu yang sering persoalan baganyi dalam sebuah keluarga itu terjadi pada pihak laki-laki (suami ). Kenapa ?

Lanjutkan membaca ‘Baganyi…..’

12
Jun
09

Filosofi Tari Piring Minang

Dok.MI/ADE IRWANSYAH

Permainan piring di tangan penari Solok, Minangkabau, adalah peragaan cara membina rumah tangga. Ingin tahu filosofinya?

Begini, menurut pemahaman penduduk Sumatra Barat, gerakan tari piring melambangkan kerja sama ketika warganya berada di sawah. Koreografi ini meniru cara petani bercocok tanam dan menunjukkan ungkapan rasa syukur mereka saat menuai hasil panen yang bakal menghidupi seisi rumah.

Piring di tangan mereka diisi makanan yang lezat untuk dipersembahkan kepada dewa. Tetapi sejak agama Islam masuk, tari piring mempersembahkan sesajennya kepada majelis keramaian dan raja-raja atau pembesar negeri.

Kini, tari piring juga dipakai sebagai bagian dalam pernikahan tradisional karena pengantin dianggap sebagai raja sehari yang layak mendapat penghormatan. Butuh kecakapan memegang piring dan mengatur mimik muka yang tepat saat menarikannya.

Lanjutkan membaca ‘Filosofi Tari Piring Minang’

29
Okt
08

Tradisi dan upacara dalam kehidupan manusia Minangkabau

I. TRADISI DAN UPACARA SEPANJANG KEHIDUPAN MANUSIA :

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam kehidupan manusia semenjak ia lahir – berjodoh hingga meninggalkan dunia yang fana ini berlaku kebiasaan dan tradisi yang telah memberi warna perlakuan peribadi dan masyarakatnya, di dalam berinteraksi sesama. Kemudian tradisi yang dipraktekkan dalam Nagari-nagari di Ranah Minang menjadi kebiasaan serta menjadi kekayaan amat berharga dalam khazanah budaya minangkabau.

Faktor penghayatan lahiriah dalam melaksanakan adat bersendi syariat, yang menjadikan adat minangkabau menyatu didalam ajaran Islam, sehingga menjadi sempurnalah kehidupan awal manusia minangkabau hingga akhir dari suatu kehidupan, dalam tatatanan adat bersendi syara’ syara’ bersedi kitabullah. Ajaran Islam akan lebih banyak berbicara didalam pola dan tingkah laku masyarakat dari daripada konsep-konsep yang bersifat teoritis. Kearah ini kompilasi syariat islam dalam khazanah budaya Minangkabau semestinya  mengarah.

Upacara-upacara yang dipraktekkan dalam tradisi di Minangkabau adalah

1. Upacara kehamilan ;

Ketika roh ditiupkan kedalam seorang ibu pada saat janin berusia 16 minggu, maka disaat inilah bebera kalangan masyarakat mengharapkan doa dari kerabatnya. Pengertian kerabat disini terdirin dari para ipar dan besan dari masing-masing pasangan isteri.

Seperti pada umumnya setiap hajad kebaikan – maka keluarga yang akan membangun kehidupan baru menjadi pasangan keluarga sakinah ma waddah wa rahmah memohon kepada Yang Maha Kuasa agar awal kehidupan janin membawa harapan yang dicita-citakan.


2. Upacara Karek Pusek (Kerat pusat) :

Sebetulnya tidak memerlukan upacara yang khusus pada saat dilakukan pemotongan tali pusat ini, karena merupakan upaya dari kalangan medis dalam memisahkan pusar bayi dengan placenta ibunya. Belum diketemukan upacara khusus untuk melakukan hal ini.


3. Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah) :

Sering upacara ini dilakukan dengan tradisi tertentu diantara para ipar – besan dan induk bako dari pihak si Bayi. Induk Bako – si Bayi akan memberikan sesuatu kepada sang bayi sebagai wujud kasih sayangnya atas kedatangan bayi itu dalam keluarga muda.

Umumnya Induk bako dan kerabatnya akan memberikan perhiasan berupa cincin bagi bayi laki-laki atau gelang bagi bayi perempuan serta pemberian lainnya.


4. Upacara Sunat Rasul :

Apabila seorang anak laki-laki telah cukup umur dan berkat dorongan kedua orang tuanya, maka seorang anak akan menjalani khitanan yang di Ranah Minang disebut “ Sunat Rasul.

Sunah rasul mengandung pengharapan dari kedua orang tuanya agar anak laki-lakinya itu menjadi anak yang dicita-citakan serta berbakti kepada kedua orang tua.

Saat ini telah menjadi trend baru di kalangan masyarakat, yang kemudian melahirkan tradisi baru dikalangan atas masyarakat minangkabau – melalui pennyelenggaraan upacara tertentu seperti perhelatan. Anak laki-laki yang sudah dikhitankan itu didudukkan di sebuah pelaminan seperti pengantin.

Sebenarnya ini bukanlah kebiasaan yang menjadi tradisi dalam masyarakat minangkabau namun keboleh jadian bahwa tradisi merupakan hasil asimilisai dari berbagai etnis yang hidup di Indonesia. Ssuatu saat akan menjadi tradisi pula dikalangan masyarakat minangkabau.


5. Masa  Mengaji di Surau dan upacara masa remaja laki-laki :

Surau mengandung tempat tinggal dan tempat pembelajaran bagi anak laki disaat ia remaja. Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-upacara semasa remaja ini adalah sbb:

1. Manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.

2. Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.

3. Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama.

4. Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat.

5. Baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan.

6. Mangaji halal jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.

7. Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.


6. Tamat Kaji (khatam Qur’an) :

Biasanya seseorang yang telah menamatkan kaji (khatam Qur’an), maka terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap kemampuan membaca itu dihadapan majelis Surau. Seorang akan mendengar kemampuan tajwit dan makhraj untuk meyakini bahwa seorang anak yang telah menamatkan AlQur’an itu, telah lulus didalam pengkhataman Al Qur’an nya.

Sebagai rasa syukur, maka para jemaah di Surau itu akan merayakan dalam bentuk pemberian doa selamat kepada si murid. Umumnya beberapa kekeluarga di Minangkabau secara kolektif dan bersama menyediakan penganan khas daerah setempat.


7. Melepas Pergi Merantau : dibahas pada mengapa “ orang minang pergi merantau”.


II. PERKAWINAN :

Menikah : dibahas secara rinci dalam kategori “ Adat Perkawinan

Pada umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam masalah nikah kawin sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam pelaksanaan nikah kawin dikatakan “nikah jo parampuan, kawin dengan kaluarga”. Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu perkawinan harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas kemauan muda-mudi saja. Dalam proses perkawinan acara yang dilakukan adalah sbb:

1. Pinang-maminang (pinang-meminang)

2. Mambuek janji (membuat janji)

3. Anta ameh (antar emas), timbang tando (timbang tando)

4. Nikah

5. Jampuik anta (jemput antar)

6. Manjalang, manjanguak kandang (mengunjungi, menjenguk kandang). Maksudnya keluarga laki-laki datang ke rumah calon istri anaknya

7. Baganyie (merajuk)

8. Bamadu (bermadu)

Dalam acara perkawinan setiap pertemuan antara keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki tidak ketinggalan pidato pasambahan secara adat.


III. KEMATIAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:

1. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)

2. Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)

3. Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)

4. Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)

5. Doa talakin panjang di kuburan

6. Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari.

Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.

27
Sep
08

“ RANTAU CHINA “

oleh : Hifni H.Nizhmul

Asal Usul Budaya Merantau :

Setiap tahun karena euphoria Hari Raya Idul Fitri, selalu membuat hati para perantau semakin didera rasa rindu yang mendalam. Saat ini mereka berada disegala penjuru dunia.

Budaya Merantau” sudah melekat pada orang Minang sejak lama, hampir berabad-abad yang lalu. Ada beberapa motivasi orang minang merantau, yaitu :

· Untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya sehingga memperoleh kemaslahatan bagi kampong halaman.

· Untuk tujuan berdagang mencari saudagar dalam rangka mencari nafakah bagi keluarganya dan juga keluarga besarnya. Ingatlah, peran pria minang sebagai ayah bagi anak-anaknya dan juga sebagai mamak bagi kemenakananya,

· Akhirnya mencari pangkat (pekerjaan/jabatan) (Navis, 1999).

Jadi kebiasaan merantau bertujuan untuk mencari kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga dan bukan karena sebab suatu celaan. Hal ini tercermin dari pepatah yang berbunyi : Jika hendak mulia – harus suka memberi, jika ingin ternama (terkenal) dirikan kemenangan, jika mau pandai rajin berguru, jika ingin kaya harus kuat berusaha”

“Merantau” mengandung banyak arti. Didalammnya terkandung falsafah hidup yang utuh dan hidup. Merantau mengandung tujuan yang pasti. Merantau diistilahkan pula “pai mancari”. Kadang kala ada yang berkata Dalam arti sem­pit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, bisa juga berarti mencari “kehidupan” dalam arti yang luas.

“Rantau”, diartikan juga sebagai perluasan wilayah. Sebut sajalah dalam pembagian Luhak. Wilayah pesisir ranah Minang disebut Rantau. Kepada “anak minangkabau” yang akan memulai “merantau”, dalam arti yang luas, dipesankan sebuah petuah dari orang tua-tua dan para ninik mamak yang kemudian dirangkaikan dengan sebuah pesan (falsafah hidup), “Ibu cari, dusanak cari, induak samang cari dahulu”.

Maksudnya ; jika dikampung halaman meninggalkan saudara dan bundokanduang, maka ditanah perantauan ia hendaknya harus mencari orang yang dituakannya. Hakekatnya ialah, pandai menghormati “orang-tua” dimana saja. Selanjutnya “dunsanak” diartikan sebagai “sahabat”, “ konco palangkin” karena kawan sama besar – sama sepergaulan, bahkan “sesama tempat tugas”, harus dianggap sebagai saudara sendiri”.

Tidak heran, jika perkumpulan anak-anak Minangkabau di perantauan, baik yang didaerah-daerah, maupun diluar negeri, suasana persaudaraannya lebih terasa akrab melebihi saudara kandung.

Lanjutkan membaca ‘“ RANTAU CHINA “’

25
Sep
08

Menyambut Hari Raya : manjalang mintuo

Bagi pasangan pengantin baru, selama masa bulan madu masih berlangsung atau diawal perkawinan, maka suatu tata cara yang tidak kalah pentingnya bagi mempererat tali silatuahmi kedua keluarga, dalam tata cara adat istiadat perkawinan di Minangkabau, ialah acara manjalang mintuo pada saat Hari Raya Iedhu Fitri. Beberapa nagari di Sumatera Barat, saat ini masih mempraktekkan khazanah budaya ini dengan berbagai macam istilah. Ada yang menyebut dengan istilah manjalang mintuo, mahanta nasi, mahanta nasi katunduakan, dll. Namun maksud dan tujuannya sama, yaitu kewajiban untuk mengisi adat pada saat menyambut hari raya Iedhul Fitri, yang dilakukan 1 hari sebelum Hari Raya, biasa pada saat sore hari atau menjalang malam takbiran. Lanjutkan membaca ‘Menyambut Hari Raya : manjalang mintuo’

08
Sep
08

Tradisi ~ Ma anta pabukoan ~


Oleh : Hifni hfd
Ciri khas masyarakat Minangkabau adalah Islam dan adat yang bersendikan syara – syara’ bersendi kitabullah. Maanta pabukoan sebuah tradisi yang sudah tidak jelas lagi batas antara kewajiban adat dengan budaya. Banyak kegiatan khazanah budaya di Minangkabu yang dilaksanakan dengan sangat islami dan minangkabau. Sebagai bagian dari keberagamaan dan keber adatan, maka – maanta pabukoan – ini hingga ini masih tetap ada. Ramadhan adalah bulan suci, yang dirindukan dan dinantikan kedatangannya oleh siapapun juga. Pada saat memasuki bulan ramadhan, masyarakat melaksanakan tradisi ” balimau ” yang mengandung makna tentang kesiapan mental seseorang dalam menjalani ibadah puasa dengan cara mensucikan diri dari segala hadas melalui mandi gadang (balimau) atau mandi junub. Pada masa bulan ramadhan itu, para keluarga akan melakukan amalan berupa pemberian anatar makanan kepada kaum kerabat yang dihormati oleh keluarganya.
Perhatikanlah masih ada wanita paruh baya dengan bungkusan besar yang dijunjungnya serta di tangan kanannya masih terjinjing sebuah rantang alumunium berjalan menuju kerumah mertua/kerabat suaminya. Bagi pasangan muda lebih-lebih pengantin baru, dengan raut wajah dan dandanan kebaya serta pakaian muslim berkunjung kerumah mertuanya dengan penuh kegembiraan. Lanjutkan membaca ‘Tradisi ~ Ma anta pabukoan ~’

02
Sep
08

“Bahondoh-Bararawai”, Tradisi yang Berpantun

Pengantar oleh : Hifni Hfd
Bahondoh bararawai adalah tradisi gotong royong padusi minang dalam melakukan pekerjaan besar didunia pertanian. Bahondoh artinya berbondong bondong, sedangkan bararawai adalah bersorak sorei dan bergembira ria. Simaklah artikel dibawah ini yang telah ditulis oleh Sdr. Nelson Alwi yang berdomisili di Kota Padang pada Harian Nasional Suara Karya, Sabtu, tanggal 23 Agustus 2008. Apa dan bagaimana kegiatan bahondoh – bararawai itu, kemudian diedit oleh ~padusi~ seperti artikel berikut ini. Selamat membaca Lanjutkan membaca ‘“Bahondoh-Bararawai”, Tradisi yang Berpantun’

21
Agu
08

Tradisi Balimau

oleh : Hifni Hfd

Balimau adalah satu kata yang mengandung satu kegiatan tradisi yang bernuansa religious di Minangkabu pada masa dahulu hingga sekarang. Biasanya tradisi ini dilakukan selang satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. BALIMAU dalam terminologi orang Minang adalah mandi menyucikan diri (mandi wajib, mandi junub) dengan limau (jeruk nipis), ditambah ramuan alami beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu, yang semuanya direndam dalam air suam-suam kuku. Lalu, dibarutkan (dioleskan) ke kepala. “Ramuan tradisional untuk balimau tersebut adalah warisan turun-temurun sejak dulunya, sejak puluhan tahun lalu bahkan konon sejak ratusan tahun lalu. Sungguhpun tradisi ini telah mulai hilang atau sengaja dihilangkan, karena ada kalangan alim ulama diranah minang sendiri , menganggap tradisi “ balimau “ sebagai perbuatan bid’ah, namun bagi kami apapun celaan terhadap tradisi ini, selayaknya “ Tradisi balimau” tetap dipelihara dan dilestarikan.
Lanjutkan membaca ‘Tradisi Balimau’

29
Apr
08

Pasambahan Penjemputan Pengantin Pria (dilangsungkan di atas rumah)

Percakapan yang sering dilakukan pada saat penyambutan kedatangan marahpulai sering dibawakan dengan bahasa yang sebenarnya tidak mudah dipahami. Akan tetapi karena menyangkut upacara dan prosesi adat, maka pihak keluarga anak daro dalam melakukan penyambutan akan diwakili oleh wakil yang terbiasa memimpin upacara adat. Ikutilah percakapan yang terjadi pada saat penerimaan kedatangan marahpulai. Lanjutkan membaca ‘Pasambahan Penjemputan Pengantin Pria (dilangsungkan di atas rumah)’




Pengunjung

  • 553,181 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2014
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: