Archive for the 'f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN' Category

05
Nov
09

` kala bumiku bersujud `

oleh : Hifni H. Nizhamul

Tidak ada satu lembar daun pun yang jatuh dari pohonnya tanpa sepengetahuan Allah SWT, tidak ada suatu kejadian pun yang kebetulan. Semua sudah tertulis dialam Lauhul Mahfuz. Demikianlah kehidupan kita, tentang lahir, rezeki, jodoh dan akhir hayat kita. Segala yang ada dilangit dan segala yang ada dibumi – dunia, tempat kehidupan kita yang terwujud dalam wilayah, negeri dan ranah yang bukan buatan manusia semua berada didalam kekuasaan Allah Swt. Demikian pula jika tiba – tiba rumah dan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh runtuh karena goncangan akibat bencana Gempa dan Tsunami. Akhirnya kita hanya bisa merenung, apalah diri kita ini.

Kawan…, Lauhul Mahfuz itu ibaratnya Program yang Maha Canggih, sebuah Database yang sangat rumit, yang tidak mungkin terpikirkan oleh manusia. Bahkan sebuah LPND – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang memiliki peralatan yang super canggih tidak mampu memperediksi kedatangan gempa itu. Begitu pula seorang Teddy Bun yang ahli gempa di Indonesia ini. Continue reading ‘` kala bumiku bersujud `’

29
Oct
09

Motif Ukiran Minangkabau, Warisan dari Yunani Kuno

GreekGroup

oleh Zulfadli  (http://mozaikminang.wordpress.com)

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Warisan Ukiran dari Gandhara, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara kebudayaan hellenisme yang berkembang di Gandhara pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran bergaya hellas yang berkembang di Gandhara. Selain itu sistem pemerintahan yang berlaku di Minangkabau juga memiliki kemiripan dengan sistem ketatanegaraan Yunani kuno, yaitu berbentuk konfederasi nagari yang mirip dengan polis-polis.

Penemuan-penemuan tersebut membawa saya lebih lanjut untuk menelusuri kemiripan-kemiripan ini, utamanya tentang motif ukiran Minangkabau. Saya menelusuri informasi tentang motif-motif ukiran Yunani kuno dan menemukan satu jenis motif dengan kemiripan hampir 80% dengan motif Siriah Gadang yang ada dalam khazanah motif ukiran Minangkabau. Berikut adalah perbandingan kedua motif ukiran:

ancient-greek-architectur-7

(a) Ancient Greek Carving (Honeysuckle Carving)

Siriah Gadang

(b) Motif ukiran Minangkabau : Siriah Gadang

Siriah gadang siriah balingka
Kuniang sacoreng diatehnyo
Baaleh batadah tampan
Hulu adat kapalo baso
Pangka kato hulu bicaro
Panyingkok peti bunian
Pambukak biliak nan dalam

Susunan dari Pariangan
Buatan Parpatiah Nan Sabatang

Tidan nan turun dari ateh
Balingka jo mufakat balingka jo limbago
Jadi pusako alam nangko

Secara umum kita tidak dapat mengamati kemiripan geometris pada kedua motif ini, karena motif pertama (motif Yunani) lebih sederhana sedangkan motif kedua (motif Minangkabau) lebih kompleks. Namun terdapat unsur unsur khas dari motif Yunani yang selalu ada dalam setiap motif ukiran Minangkabau, yaitu

  • unsur sulur tanaman rambat (tanaman anggur)
  • unsur tunas daun/pucuk daun/daun muda yang belum berkembang (daun anggur)
  • unsur buah anggur

Berikut adalah gambar dari unsur-unsur tersebut dalam motif ukiran Yunani kuno yang saya ambil dari Honeysuckle Carving dan  Gandhara Scrolls:

GreekGroup

Sedangkan gambar dibawah ini adalah unsur-unsur yang sama yang ditemukan dalam motif ukiran Minangkabau (perhatian! tidak ditemukan unsur-unsur ini dalam ragam motif ukiran etnik-etnik lain di Nusantara. Diluar Yunani, unsur-unsur ini kerap ditemukan pada ukiran-ukiran di Gandhara namun hanya diwariskan secara turun-temurun di Minangkabau dan Turki bagian barat yang berbatasan dengan Yunani (contoh Istanbul).

MinangGroup

Motif Ukiran Minangkabau pada akhirnya berkembang sampai tahap yang sukup maju dan juga mengadopsi gaya-gaya ukiran lain seperti bentuk-bentuk geometris dari Cina dan Tibet, seperti tampak pada motif Aka Barayun dan Saluak Laka dibawah ini:

(a) Motif Aka Barayun

Aka Barayun

(b) Motif Saluak Laka

Saluak Laka_small

08
Oct
09

Ranah Bundo kanduang menangis

0038432pDesa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium

0040072p

0042338p

Banyak orang yang mengkaitkan peristiwa kejadian gempa dengan ayat yang terkandung dalam surah Al-Isra’ ayat 16 berbunyi : ” Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup ewah dinegeri itu agar mentaati Allah, tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan didalam negeri, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan hukum kami, kemudian kami binasakan sama sekali negeri itu.”

Apakah kita harus mengkaitkan setiap peristiwa gempa ditempat lain yang sama penyebabnya karena adanya pergerakan  pergerakan kulit bumi menuju keseimbangan baru. Bukankah menurut para ahli, gempa yang barusan terjadi ternyata belumlah gempa yang di ramalkan. Akan muncul pula gempa yang jauh lebih besar yaitu gempa caesar Mentawai. Bila patahan ini terjadi  akan mengeluarkan energi yang selama ini tersimpan cukup lama dan akan menimbulkan gempa 9 skala reighter.  Dan kalau ini terjadi akan meluluh lantakan bangunan yang sekarang masih tersisa. Masya Allah.

Dimanapun bencana yang terjadi, seperti yang terjadi di Aceh, Bantul/Jogyakarta,Tasikmalaya, dipastikan menimbulkan korban jiwa, benda, dll.

Yang menjadi perenungan kita bersama adalah benarkah ada korelasi antara peristiwa gempa dengan firman Allah yang terkandung dala surah 17 ayat 16 ini. Bagaimana dengan gempa yang terjadi pada waktu sebelumnya,  di wilayah lain. Apa perlu kita mengkaitkan dengan semua yang terkandung dalam firman tadi.

Menurut pendapat saya,  adanya firman Allah SWT ini , yang dikaitkan dengan peristiwa gempa itu. Marilah kita simpulkan bahwa, disinilah letak kekuasaan Allah pada semua CiptaanNya.  Bertawakalkah selalu kepadaNya. Setiap musibah merupakan ujian, teguran dan mungkin juga sebagai hukuman.   Sebab bencana yang sama juga akan terjadi dimanapun yang dikehendaki Allah.

Continue reading ‘Ranah Bundo kanduang menangis’

05
May
09

Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…

Oleh ; Hifni H. Nizhamul berdasarkan tulisan Doni Marlizon

0c77a487img_0086Banyak orang mengenal bahwa, pemangku alam minangkabau adalah Pagaruyuang.  Ada Tambo Pagaruyuang yang menguraikan silsilah kerajaan ini. Tidak banyak yang tahu, bahwa selain Pagaruyung  ada lagi beberapa kerajaan lainnya yang pernah ada  di Minangkabau, seperti kerajaan Koto Batu, kerajaan Bungo Setangkai, kerajaan Bukit Batupatah.

Dari berbagai sumber tentang keberadaan kerajaan tersebut, akan tetapi kekuasaannya tidak bertahan lama. Umumnya penyebab kerajaan itu tidak bertahan lama, antara lain :

Faktor Kepunahan dari keluarga kerajaan:

Sistem kekerabatan Minangkabau menganut system matrilineal, dengan pengambilan garis keturunan dari pihak Ibu. Anak bersuku ke Ibu juga ber sako ke mamak. Sako ini adalah warisan kepemimpinan dalam sistem kekerabatan yang diwariskan kepada kemenakan. Demikian pula halnya pada kepemimpinan  raja maupun penghulu. Kedudukan dan jabatan penghulu dan raja tidak diwarikan kepada anak melainkan kepada kemenakan. Sistem yang berlaku pada minangkabau lama demikian, akhirnya tidak dapat bertahan lama. Penyebab utamanya adalah karena  tidak ada orang yang dapat menggantikan kedudukan raja itu. Kemenakan yang akan menggantikan kedudukannya tidak ada.

Didalam catatan sejarah – pada masa zaman Adityawarman – ada satu keturunan anak sesudahnya, yang menggantikan kedudukannya sebagai Raja. Terjadi pola penyimpangan sistem matrilinial selama 70 tahun, tatkala Adityawarman menguasai Pagaruyung. Adityawarman terbunuh di KUBURAJO pada tahun 1375 dan anaknya di Pagaruyung tahun 1409. Kala itu masyarakat minangkabau tidak menginginkan sistem pemerintahan yang absolut dan tidak suka sistem pewarisan jatuh kepada anak.

Bagaimana dengan Pagaruyuang ? Saat ini kerajaan Pagaruyung adalah satu-satunya kerajaan yang masih bertahan diwilayah Sumbar.  Kemudian ada pula yang mempertanyakan bahwa kerajaan ini tidak memiliki suku sebagaimana suku -suku yang hidup di kalangan masyarakat Minangkabau, yang  hingga kini berjumlah k.l 60 suku. Lalu bagaimana dikatakan bahwa kerajaan pagaruyuang sebagai pemangku alam minang kabau ? Benarkah kerajaan ini sebagai pemangku adat alam minangkabau ?

Ternyata hingga saat ini, masih ada bentuk pemerintahaan kerajaan, seperti yang terdapat di Alam Surambi Sungai Pagu. Sistem pemerintahannya pun Unik seperti dapat di lihat pada uraian selengkapnya yang, kami kutip dari tulisan Doni Marlizon di; web site : Antara – Sumbar, pada Selasa, 17/03/2009 yang lalu.

Continue reading ‘Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…’

20
Apr
09

Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia

Resensi Oleh : SURYADI Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB|HARIAN KOMPAS

• Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” •

Penulis: Jeffrey Hadler •

Penerbit: Cornell University Press, Ithaca, London, 2008 •

Tebal: xii + 211 halaman.

Buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini.

Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan dari garis bapak. Ini berbeda dari temuan arkeologis dan sumber tradisi lisan kuno yang masyarakatnya kebanyakan menganut sistem matriarkat (nasab ibu) yang menempatkan kekuasaan di tangan kaum perempuan dan menarik hubungan keturunan dari garis ibu. Continue reading ‘Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia’

12
Apr
09

Feodalisme di Negeri Egaliter

Oleh Ivan Adilla Gelar Bagindo Sulaiman

Mengajar di Fakultas Sastra Universitas Andalas

41e853eegunung_merapi_jam_6_sore-800pxHarian Kompas edisi 29 Agustus 2006 menurunkan berita berjudul “SBY Akan Terima Gelar Adat”. Konon, gelar Yang Dipatuan Maharajo Pamuncak Sari Alam itu diberikan oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau; lembaga adat yang kelahirannya dibidani militer dan pada masa Orde Baru merupakan salah satu pendukung utama Golkar. Pemberian gelar adat untuk orang di luar Minangkabau bukanlah gejala baru. Di tahun 1950-an pernah ada rencana memberikan gelar adat Bundo Kandung kepada Fatmawati, yang saat itu menjadi Ibu Negara. Rencana itu batal setelah AA Navis berhasil meyakinkan pihak militer bahwa gelar yang berasal dari tokoh mitos itu tidak layak disandang oleh Ibu Negara.

Sejak beberapa tahun terakhir, gelar adat telah diberikan kepada Yusril Ihza Mahendra, Taufik Kiemas, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh, dan Anwar Nasution. Begitu pentingkah gelar adat bagi pejabat dan pengusaha negeri ini? Bagi lelaki Minangkabau, gelar adat adalah sebuah kemestian. Pepatah adat mereka mengatakan, ‘ketek banamo, gadang bagala’ (kecil punya nama, setelah dewasa diberi gelar). Setiap lelaki yang sudah menikah tentu diberi gelar adat, yang diumumkan dalam sebuah acara sederhana saat perhelatan kawin. Pemberian gelar itu merupakan pengakuan bahwa mereka kini telah menjadi lelaki dewasa, yang akan diikutsertakan dan diakui hak suaranya dalam musyawarah kaum. Gelar merupakan warisan, bukan hak milik individu. Begitu seseorang meninggal dunia, maka gelar itu harus dikembalikan kepada kaum sebagai pemiliknya. Seseorang tidak berhak mewariskan gelar itu pada orang lain tanpa persetujuan kaum.

Continue reading ‘Feodalisme di Negeri Egaliter’

19
Mar
09

Demokrasi Minang : Upaya Menggeser Mitos Menjadi Realitas

Oleh: Israr Iskandar


Pendahuluan

Dalam  pengetahuan antropologis, Minangkabau termasuk suku bangsa yang serumpun  dengan suku-suku bangsa Melayu lainnya di Nusantara. Hal itu bisa  dilihat  dari segi adanya beberapa kesamaan dalam rumpun bahasa, budaya,  ras,  dan  agama.  [1]  Namun dalam segi-segi tertentu, orang Minangkabau  memandang dirinya memiliki kekhususan atau berbeda dengan masyarakat suku bangsa lainnya. Salah satunya adalah dari aspek budaya politik yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Minang.

Sejak  lama,  Minangkabau  dikenal  sebagai  suku bangsa yang memiliki khazanah   budaya   yang   ekuivalen   dengan  nilai-nilai  demokrasi. Cendekiawan  non-Minang,  seperti  Nurcholish  Madjid  dan Abdurrahman Wahid,  pernah mengafirmasi adanya  demokrasi Minang . Faktor penyebab munculnya  persepsi  itu  adalah  realitas kondisi sosiologis-kultural Minangkabau,  model proses politik lokal yang berlangsung, serta peran  tokoh-tokoh   asal   Minang  dalam  proses  pembentukan  negara-bangsa Indonesia di masa lalu.

Jamak  diketahui,  demokrasi  adalah  konsep berasal dari Yunani kuno. Namun  sejak  Revolusi  Prancis  (1789),  demokrasi berkembang menjadi sebuah  konsep  modern dan kompleks. Sekalipun sebagai suatu perangkat yang   kompleks,  logika  yang  diekspresikan  oleh  demokrasi  modern mengandung  prinsip-prinsip  mendasar,  yaitu  adanya unsur kedaulatan rakyat,  pemerintahan  mayoritas,  perlindungan minoritas, kemerdekaan yang dijamin Undang-undang (UU), partisipasi warga, persamaan hak, dan sebagainya. [2] (Minogue dalam Kuper dan Kuper, 2000: 215).

Walaupun  dikaitkan dengan penyelenggaraan pemerintahan yang baik atau sistem  politik  yang  ideal dan bahkan nyaris  sempurna , akan tetapi demokrasi  sebenarnya  juga  terkait  dengan  gaya  hidup  serta  tata masyarakat  tertentu  yang  mengandung  unsur-unsur moral. Oleh karena itu,  demokrasi  juga  mengandung  nilai-nilai  (values) tertentu yang dianggap  baik  oleh  masyarakat.

Menurut  Henry  B  Mayo,  demokrasi mencakup  beberapa  norma atau nilai, yaitu: penyelesaian perselisihan secara  damai  dan  melembaga; terjadinya perubahan secara damai dalam suatu  masyarakat  yang sedang berubah; pergantian kepemimpinan secara teratur  (reguler);  pembatasan  pemakaian  kekerasan (paksaan) secara minimum; pengakuan dan penghormatan atas keanekaragaman; serta jaminan penegakan keadilan. [3] Demokrasi dalam Khazanah Budaya Lokal . Jika  merujuk pada pengertian demokrasi modern di atas, sebagai bagian dari kebudayaan Melayu, budaya Minangkabau nampaknya memiliki sejumlah nilai-nilai  yang  cocok  dan  sebanding dengan nilai-nilai demokrasi. Secara   kultural,  hal  itu  antara  lain  dapat  ditelusuri  melalui akar-akarnya  dalam  kearifan  tradisional  yang  berupa  ungkapan dan pepatah-petitih  lama,  baik  yang  terdapat  dalam tambo (kisah-kisah sejarah etnik Minangkabau) maupun masyarakat.

Continue reading ‘Demokrasi Minang : Upaya Menggeser Mitos Menjadi Realitas’

25
Jan
09

Minangkabau di tahun kabau……

Oleh : Hifni H. Nizhamul

1fbabbad2008-02-06-19-25-21-ws

Saya tersenyum tatkala mengetahui bahwa tahun baru imlek saat ini adalah Tahun Kerbau. Kerbau bagi urang minangkabu menyimpan mitos dan sekaligus misteri. Mengapa ? benarkah asal usul nama etnis minangkabau berasal dari suatu kemenangan dalam pertandingan aduan kerbau di Sijangat itu ?

Apa yang saya ketahui dari seekor kerbau ?

Menurut saya adalah semangat seekor kerbau dalam bekerja dan berusaha. Selain bekerja membajak sawah – kerbau juga dijadikan tenaga penggerak bagi sebuah pedati. Bahkah dapat digunakan sebagai tenaga penggerak di daerah pedesaan untuk keperluan teknologi yang sangat sederhana. Walau demikian – terkadang kerbau dianggap sebagai binatang bodoh – karena melalui cingurnya kerbau dikendalikan oleh sang majikannya. Bahkan matanya ditutup untuk mengelabui jam kerja hewan tambun ini. Namun ia tidak pernah mengeluh. Seandainya kerbau mengeluh – ia hanya melenguh. Suaranya tidaklah senyaring suara anjing atau seekor singa.

Lalu apa hubungannya minangkabau di Tahun Kerbau ?

Continue reading ‘Minangkabau di tahun kabau……’

24
Jan
09

CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU

Oleh  : Buya Mas’oed Abidin -

Ketua Dewan Dakwah Indonesia – Sumbar

rangkiangWilayah Minangkabau

Masyarakat Minangkabau adalah salah satu suku bangsa di antara puluhan suku bangsa yang membentuk bangsa Indonesia. Masyarakat Minangkabau hidup di sekitar wilayah Sumatera Bagian Tengah, atau yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan wilayah Minangkabau itu meliputi kawasan, “… dari Sikilang Aia Bangih sampai ka Taratak Aia Itam. Dari Sipisok-pisok pisau anyuik sampai ka Sialang Balantak basi. Dari Riak nan Badabua sampai ke Durian ditakiak (ditakuak) Rajo”, (artinya, dari Sikilang Air Bangis sampai ke Taratak Air Hitam, dari Sipisok-pisok Pisau Hanyut sampai ke Sialang Belantak Besi, dari Riak yang berdebur sampai ke Durian Ditekuk Raja).

Orang Minangkabau menamakan tumpah darahnya dengan Alam Minangkabau, yang secara geografis wilayahnya berpusat di selingkar Gunung Merapi, di Sumatera Barat. Wilayah itu meluas menjadi Luhak dan Rantau. Wilayah Luhak terletak di nagari-nagari yang berada di sekitar Gunung Merapi, sedangkan wilayah Rantau berada di luarnya, yaitu di sekitar wilayah pantai bagian Barat dan Timur Minangkabau.

Dalam Tambo dikisahkan bahwa Alam Minangkabau mempunyai tiga buah Luhak yang disebut dengan Luhak Nan Tigo (Luhak yang Tiga). Terbagi kepada Luhak Tanah Datar, Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh Kota. Dari Luhak tersebut, kemudian berkembang menjadi Luhak Kubang Tigobaleh, yang terletak di sekitar Gunung Talang, Kabupaten Solok sekarang.

Wilayah Rantau terletak di luar Luhak-luhak tadi. Semula rantau adalah tempat mencarikan hidup para penduduk, terutama dalam bidang perdagangan. Wilayah rantau, berubah menjadi tempat menetap turun temurun dari para perantau Minangkabau. Terjadilah pembauran dan pemesraan (asimilasi) antara nan datang mencengkam hinggap bersitumpu. Kemudian berkembang menjadi bagian dari pusat pemerintahan di Minangkabau dulu, yakni Kerajaan Pagaruyuang, yang mempunyai Basa Ampek Balai, berninik bermamak, berdatuk dan berpenghulu. Berlakukah pula di wilayah rantau itu, adat istiadat Minangkabau.

Continue reading ‘CILOTEH LAPAU ANTARA DIALEKTIKA DAN DINAMIKA MINANGKABAU’

16
Jan
09

Korelasi Antara Motif Hias Songket dan Ukiran Kayu di Propinsi Sumatera Barat

MINARSIH, NIM. 27094009 – Mahasiswa Fakultas Senirupa ITB program Magister Seni Rupa Angkatan-1994

Studi Kasus Daerah Pandai Sikek, Silungkang dan Kubang” Songket dan Ukiran merupakan dua produk terkemuka yang direkayasa secara tradisional (turun temurun) oleh seniman pekria Sumatera Barat. Tidak ditemukan bukti tertulis tentang awal dimulainya kegiatan menyongket. Yang pasti, bahwa proses menyongket identik dengan bertenun. Dimulainya kegiatan bertenun hampir bersamaan dengan awal keberadaan manusia, telah ada semenjak manusia mengenal peradaban menutup bagian tubuh. Artinya, kegiatan ini bertujuan awal lebih kepada fungsi terpakai; yaitu melindungi tubuhnya dan fungsi keindahan berada pada posisi sampingan. Berbagai pengaruh luar yang mamsuk ke wilayah Sumatera Barat (terutama dilihat pada tenunan, serta ditambah dengan budaya tradisi setempat telah berakulturasi membentuk budaya tradisional yang dikenal dengan istilah songket (menyongket).

Continue reading ‘Korelasi Antara Motif Hias Songket dan Ukiran Kayu di Propinsi Sumatera Barat’

10
Jan
09

~ Hari Bundokanduang ~

01
Dec
08

Kedudukan Perempuan Menurut Ajaran Islam

Ditulis oleh : Buya Mas’oed Abidin

 

PENDAHULUAN :

 

Perjalanan Perempuan :

 

Perempuan sering dipanggil dengan ‘wanita’ (bhs.Sans), berarti lawan dari jenis laki-laki, juga diartikan perempuan (lihat :KUBI).

 Ada pula yang memanggil wanita dengan sebutan perempuan.’ (dari bahasa kawi,), “empu” berarti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan (KUBI)yang lain. Bila istilah ini yang lebih mendekati kebenaran, saya lebih cen­derung memakai kata perempuan selain wanita. Karena di dalamnya tergambar banyak peran.

Di masa jahiliyah telah terjadi pelecehan gender, terbukti dengan kelahirannya di sambut kematian. Keberadaannya pada zaman jahiliyah sangat tidak diterima, ada paham bahwa wanita pembawa aib keluarga. Jabang-jabang bayi itu mesti dibunuh, begitu kesaksian Kitab suci tentang perangai orang-orang jahiliyah (lihat QS.16,an-Nahl :57-60). Hal yang sama juga didapati dimasa Fir’aun, perlakuan terhadap anak lelaki yang di lahirkan kaum Musa (keluarga ‘Imran) mesti dibunuh (mirip rasilalisme, atau ethnic cleansing).

Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat, artinya sama dengan ibu, saya artikan dengan “Ikutan Bagi Umat.” Annisa’ adalah tiang suatu negeri . Nabi saw menyebutkan, dunia ini indah dengan berbagai perhiasan (mata’un), namun perhiasan paling indah adalah isteri‑isteri yang saleh (yang dapat diartikan dengan perempuan atau ibu yang tetap pada perannya dan konsekwen dengan citranya) (Al Hadits). Tafsir Islam tentang kedudukan perempuan ini menjadi konsep utama yang mesti diyakini seorang Muslim.

Sejak dua millenium berlalu Alquranul Karim telah menetapkan perempuan pada derajat yang sama dengan jenis laki‑laki dengan penamaan azwajan atau pasangan hidup (lihat Q.S.16:72, 30:21, 42:11). Posisi ini jauh berbeda dengan masa sebelumnya, bahkan di daerah yang belum tersentuh konsep amalan ini, masih ada pertanyaan apakah makhluk perempuan tergolong jenis manusia yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki‑laki? Atau hanya sekedar benda yang boleh dipindah‑tangankan sewaktu‑waktu atau untuk diperjual‑belikan sebagai komoditi budak yang menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya?

Kata woman dalam bahasa Inggris berasal dari “womb man” samalah artinya dengan manusia berkantong, sebuah pemahaman klasik tentang makhluk setengah manusia yang mempunyai kantong dan tugasnya menjadi tempat tumbuh calon manusia. Ah “dia” kan hanya womb man atau manusia kantong (“manusia” yang hanya kantong tempat manusia).

Tetapi di dalam budaya Minangkabau yang kemudian berkembang menjadi “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah” menempatkan wanita pada posisi ‘orang rumah’, “induak bareh”, “amai paja”, dan “pemimpin” di masyarakatnya dengan sebutan “bundo kandung”, sebenarnya tersirat padanya kekokohan kedudukan perempuan Minangkabau pada posisi sentral. Di dalam budaya Minangkabau perempuan menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaumnya.

Namun, laki-laki dalam oposisi-biner perannya menjadi pelindung, pemelihara dan penjaga harta untuk ‘perempuan’-nya dan ‘anak turunan’-nya.

Maka generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya (laki-laki) dan bersuku ibunya (perempuan), suatu persenyawaan budaya yang sangat indah.

  Continue reading ‘Kedudukan Perempuan Menurut Ajaran Islam’

29
Oct
08

MENGAPA TIDAK ADA ‘KAMPUNG MINANG’?

10
Oct
08

Tiga Orang Datuk asal Minangkabau Penyebar Islam di Tanah Bugis (?)

Dirangkum oleh : Hifni H. Nizhamul

67dba26b_mg_9906Walaupun banyak yang sudah tahu, bahwasanya ada tiga orang datuk yang berasal dari Minangkabau itu – paling tidak berasal dari tanah Sumatera, yang mengislamkan wilayah-wilayah kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad 16, yaitu :

1. Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang.

2. Khatib Sulung Datuk Sulaiman dikenal Datuk Patimang.

3. Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk RiTiro. Akan tetapi penulis yakin masih banyak generasi muda minang yang belum mendapat informasi seputar jasa tiga orang datuk dari Minangkabau, yang menyebarkan agama islam di Sulawesi Selatan.

Continue reading ‘Tiga Orang Datuk asal Minangkabau Penyebar Islam di Tanah Bugis (?)’

25
Jun
08

~tanggapan atas tulisan ~ ” PRIA DAN WANITA MINANG SALING KOMPLEMENTER”

Pengantar oleh : hifni hfd

Mari kita memberi penghargaan yang setingi-tinggi kepada member cimbuak.net yang bernama samaran Ching pada tanggal 13 Juni 2008 atas tanggapannya dari sebuah tulisan yang berjudul ” PRIA DAN WANITA MINANG SALING KOMPLEMENTER”. Mengingat artikel tersebut bersumber dari tulisan di blog bundokanduang ini, maka kami memasukkannya sebagai artikel yang perlu dibaca untuk memperoleh obyektivitas dari suatu tulisan. Berikut ini tanggapan sdr. Ching atas tulisan ” PRIA DAN WANITA MINANG SALING KOMPLEMENTER” :
” mengutip dari apa yang disampaikan di atas tentang perempuan minangkabau, memang perempuan minang mempunyai kedudukan yang tidak terlalu dibeda-bedakan dengan laki-laki. Perempuan dan laki-laki minang seadanyalah saling melengkapi satu sama lainnya.Inilah yang seharusnya disadari oleh masyarakat minangkabau. Laki-laki dan perempuan mempunyai tanggungjawab masing-masing baik dalam rumah gadang maupun nagari, satu sama lain harus menunaikan tanggungjawab dan kewajiban masing-masing sebagaimana mestinya. Maka niscaya akan terciptalah keluarga dan selanjutnya masyarakat yang aman, damai, makmur, dan diberkahi oleh NYA… Continue reading ‘~tanggapan atas tulisan ~ ” PRIA DAN WANITA MINANG SALING KOMPLEMENTER”’

17
Jun
08

Pundi-pundi Naskah Minangkabau

Pengantar oleh : Hifni Hfd

Ketika Tambo dijadikan sebagai rujukan bagi sumber adat dan budaya minangkabau, etnis non minang menganggap tambo sebagai karya imajinasi nenek moyang minang kabau. Semua bersumber dari naskah yang mengandung teks nonkeagamaan, seperti undang-undang (Minangkabau), kaba, hikayat, syair, silsilah, dan surat pagang gadai. Padusi bukalah seseorang yang memiliki disiplin ilmu sejarah sehingga pembelaan terhadap anggapan bahwa adat minangkabau sebagai karya imajiner tidak maksimal dilakukan. “Karya imajiner bersifat ornamen mitologi”. Sungguhpun berupaya memberi argumentasi, namun argumentasi ini, belum cukup memberi pembenaran bagi kita bahwa dimanapun bermula suku bangsa didunia, selalu berawal dari ornament mitologi. “ Anda tidak perlu “confuse” (bingung) terhadap imajinasi-imajinasi yang diciptakan nenek moyang kami, demikian kataku. Karena pada masa zaman pra sejarah kehidupan masyarakat primitive selalu diliputi oleh mitos-mitos. Bahkan mitos dewa dewi serta tokoh-tokoh pewayangan, yang dilestarikan sebagai tokoh imajinasi dalam sastra Jawa, hidup dan berkembang sepanjang zaman.
Dari dialog yang terjadi, menurut hemat penulis, pernyataan sahabat non minang ini tidak bisa diabaikan, mengingat Minangkabau bukanlah suatu kerajaan namun suatu kelompok masyarakat hukum adat yang berpayung kebudayaan !! Minangkabau adalah subyek kebudayaan.
Dengan adanya tulisan sdri. Zuriati, Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang ini, mudahan dapat menjawab pertanyaan dan keraguan beberapa kalangan terhadap sumber adat dan budaya minangkabau. Pembaca dipersilahkan menyimak tulisannya pada halaman berikut. Continue reading ‘Pundi-pundi Naskah Minangkabau’

10
Jun
08

Pasambahan di Palanta Cimbuak

Oleh : Hifni hfd

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan dari orang non minang ” Apa urgensinya “Acara Pasambahan” yang “Sembah Menyembah” bagi kelangsungan adat dan budaya minang serta bagi orang minangnya sendiri? yang dilontarkan oleh de-alfiand – seorang anggota Cimbuak pada Forum Cimbuak,net, maka masuklah aku untuk duduk bersama anak saparanataun lainnya di ruang chatting, pada tanggal 7 Juni 2008 yang lalu.

Ketika itu jam menunjukkan pukul 21.00 weib, Ride-rangpasia mengingatkanku : “Uni.. jadi ikut pasambahan,, ndak? Uni pindah ke pasamabahan room, demikian sapanya.
Aku bingung, karena gagap teknologi. Kucoba kontak Pak erwin dan dari beliau menunjukkan cara masuk ke add roomnya. Sedikit kesalahan teknis akhirnya dengan tekun aku menyimak semua penuturan yang ada pada malam itu.

Continue reading ‘Pasambahan di Palanta Cimbuak’

30
May
08

Pria dan Wanita Minang Saling Komplementer

oleh : Hifni H. Nizhamul

Dalam Adat dan Budaya :

Artikel ini dibuka dengan suatu pepatah yang menunjukkan peran yang diemban oleh wanita minang, yang berbunyi :
Bundo kanduang
Limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pegangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek Jalo kumpulan tali
Hiasan dalam nagari

Sedangkan peran yang diberikan kepada Pria Minang, ditunjukkan pada pepatah yang berbunyi :
Tagak badunsanak mamaga dunsanak
Tagak basuku mamaga suku
Tagak ba kampuang mamaga kampuang
Tagak ba nagari mamaga nagari

Kedua pepatah ini tidak menunjukkan perbedaan, diskriminasi, apalagi dominasi wanita terhadap Pria sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan orang minang sendiri atau sebaliknya. Kedudukan Pria dan wanita didalam adat sama. Pria Minang merupakan komplemen terhadap wanita dalam pengertian bahwa hakekat dan spesifikasi Pria saling komplemen pula (mengisi) satu sama lain. Continue reading ‘Pria dan Wanita Minang Saling Komplementer’

30
May
08

PERSIAPAN SI SABAI MANJALANG PILKADA ~ sebagai jawaban bagi aktivis perempuan minang

Pengantar :

“Nah, ini satu lagi. Feminisme memang lahir dari beragam akar dan bentuk. Ada feminisme radikal, marxis, liberal, moderat, atau feminisme yang menyandarkan diri pada hermeunitika keagamaan. Jelas tidak bisa dikatakan bahwa feminisme lahir dari neo-lib. Banyak feminis yang anti-neolib (yakni feminis marxis), demikian pendapat Pengamat Sosial Politik – Indra Piliang. Beliau mengomentari berbagai macam pendapat tentang kemandulan aktivis perempuan – menyikapi moral kaum perempuan yang cenderung mengumbar aurat. Sementara mereka berteriak ketika persoalam gender mengemuka dipermukaan publik. Katakan seperti yang diduga oleh salah seorang anggota Milis Rantaunet yang masih belia yang bernama Anggun Gunawan – Mahasiswa S2 – Fakultas Filsafat UGM. Ia berpendapat seperti ini : ” Yang menjadi pertanyaan penulis adalah kenapa para aktivis perempuan tidak melihat ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak pernah kita dengar aktivis perempuan melakukan pengkutukan dan perlawanan terhadap kontes-kontes semacam ini (maksudnya kontes Miss Indonesia – Miss Word) dan tetap membiarkan produk pakaian kapitalis dan hedonis terus merasuk meninabobokan perempuan dalam jerat pamer kecantikan dan keindahan tubuh. Mengapa aktivis perempuan tidak melakukan perlawanan terhadap praktek-praktek prostitusi dan pacaran yang akan menjadikan perempuan sebagai pelampiasan seks para pria. Mengapa aktivis perempuan tidak menyerukan penutupan tempat-tempat hiburan yang menjadikan wanita sebagai daya tarik dan objek eksploitasi. Memang mereka tidak akan bersuara untuk itu. Karena mereka bukanlah aktivis perempuan sejati. Mereka hanya menginginkan kepopuleran bukan sebuah perbaikan yang signifikan. Mereka menyalahkan sistem, tapi tak melakukan upaya penyadaran yang serius terhadap perempuan akan harga diri dan martabat mereka. Atau jangan-jangan mereka adalah bagian dari kapitalis itu sendiri yang menjadikan agama sebagai musuh utama, karena agama telah menghambat laju kapitalis dalam meraih keuntungan. Karena agama membuat orang independen dan tidak terpengaruh oleh tendensi ekonomi yang itu sangat dibenci oleh kapitalis. Oleh karena itu, tidak salah kenapa saat seorang alim ulama kenamaan Indonesia melakukan poligami, mereka menyerukan untuk menolak dan mencela pelaku poligami. Sedangkan ketika kontes cantik-cantikan mereka diam seribu bahasa. Akhirnya kita akan mengetahui siapa mereka sebenarnya… Mereka hanyalah aktivis perempuan gadungan… sementara bagaimana aktivis feminisme di Minangkabau dalam imaginasi budaya Wisran Hadi dapat kita simak sebagai perbandingan dalam cerita pendek berikut ini. Continue reading ‘PERSIAPAN SI SABAI MANJALANG PILKADA ~ sebagai jawaban bagi aktivis perempuan minang’

24
Apr
08

Komentar atas artikel Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang

Ada satu artikel yang pernah terbit pada Rubrik, Harian Kompas, tanggal 6 Agustus 2001, dengan judul ” Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang”, yang uraiannya sebagai berikut :
” Dalam era otonomi daerah, Sumatera Barat sejak awal Januari 2001 kembali ke sistem pemerintahan nagari (institusi terendah dalam sistem pemerintahan, menggantikan desa), menyusul keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2000.
“Nagari dalam tradisi masyarakat Minangkabau merupakan identitas kultural yang menjadi lambang mikrokosmik sebuah tatanan makrokosmik lebih luas. Di dalam dirinya terkandung sistem yang memenuhi persyaratan embrional sebuah sistem negara. Nagari adalah negara dalam artian miniatur, dan merupakan republik kecil yang sifatnya self contained, otonom, dan mampu membenahi diri sendiri,” kata Drs Yulrizal Baharin, MSi, ahli pakar nagari. Continue reading ‘Komentar atas artikel Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang’




Blog Stats

  • 63,633 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Flickr Photos

Eid mubarak :)

Night - Red White and Blue!

Storm over the Thames

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory