Archive for the 'F. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN' Category

08
Sep
11

NAGARI SEBAGAI UNIT KESATUAN KEAMANAN DAN PERTAHANAN

Oleh : Mochtar Naim

Dari empat fungsi utama Nagari yang terlembaga di Minangkabau dan Sumatera Barat sekarang ini, termasuk Nagari sebagai unit kesatuan Keamanan dan Pertahanan. Tiga yang lainnya adalah: (1) Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan di tingkat terendah seperti Desa di Jawa dalam konteks NKRI sekarang ini; (2) Nagari sebagai unit kesatuan Adat dan Sosial-Budaya; dan (3) Nagari sebagai unit kesatuan ekonomi.

Nagari sebagai unit kesatuan keamanan dan pengamanan serta pertahanan merupakan bahagian yang tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan dan dua yang lainnya. Sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan maka Nagari pun mengatur aspek keamanan dan pengamanan serta pertahanan secara otonom sesuai dengan sifat Nagari yang coraknya juga otonom seperti selama ini. Karenanya orang tidak akan menemukan ada perangkat kepolisian apalagi kemiliteran sebagai aparat dari Nagari di Nagari. Orang baru menemukan aparat kepolisian dan kemiliteran di Kecamatan dan Kabupaten dst ke atas. Hanya karena Nagari seperti juga Desa adalah bahagian dari wilayah Resor Kecamatan dan Kabupaten, maka Kepolisian di mana diperlukan akan turun ke Nagari seperti juga ke Desa yang sifatnya ad hoc dan insidental. Bantuan pada Kepolisian dimintakan kalau sudah tidak bisa ditangani langsung sendiri. Secara internal di Nagari urusan keamanan dan pertahanan dilakukan sendiri oleh Nagari sebagai bahagian dari sistem berNagari. Prinsip yang dipakai adalah: “Padi dikebat dengan daunnya.” Continue reading ‘NAGARI SEBAGAI UNIT KESATUAN KEAMANAN DAN PERTAHANAN’

25
Aug
11

Kepada Siapa Kita mesti berguru ?

Oleh : Hifni Hafida

Saya pernah berdiskusi dengan seorang pakar kebudayaan yang berasal dari Madura. Saya ingin mengetahui sejauh mana penanganan  masalah sosial di Minangkabau dengan 2 pilar agama dan adat, bila ditinjau dari kaca mata non etnis Minangkabau. Juga, apakah orang diluar Minang mengetahui kondisi ke KINIAN Minangkabau ??. Ternyata Dia mencermati bahwa etnis Minangkabu mengalami kemunduran dalam beragama, karena 2 pilar Islam yaitu Syariah dan Ilmu Tasawuf yang yang selalu diajarkan oleh ulama Minangkabau zaman dahulu sudah tidak ada penerusnya lagi. Continue reading ‘Kepada Siapa Kita mesti berguru ?’

21
Jul
11

Gelar Adat; Legitimasi bagi Keberadaan suatu Kaum

 Oleh : Puti Reno Raudha Thaib

Hak bamiliak
Harato bananpunyo
Badiri adaik diateh sako
Badiri sako diateh pusako
Badiri pusako diateh kaum

Ada gejala perubahan sikap dan pandangan sebagian orang Minangkabau terhadap gelar adat, memandang gelar adat itu sebagai status sosial kebangsawanan atau keningratan seseorang, seperti gelar-gelar di suku lain. Padahal, gelar adat bagi orang Minangkabau adalah fungsi sosial, yang mengemban amanah yang diberikan oleh kaum yang memberi gelar.

Hal ini jelas terlihat, banyak tokoh masyarakat yang sukses batagak gala, dengan upacara malewakan yang meriah. Tetapi sesudah itu, gelar tinggal gelar, bahkan tidak mau memakai gelar itu di belakang namanya.

Gelar menurut adat dan budaya Minangkabau merupakan kehormatan, kebesaran dan marwah suatu kaum. Merupakan legitimasi bagi keberadaan suatu kaum, yang bertautan dengan kepemilikan sako dan pusako kaum. Oleh karena itu, dalam pemberian gelar ada aturan yang sangat ketat. Continue reading ‘Gelar Adat; Legitimasi bagi Keberadaan suatu Kaum’

23
May
11

PEMAHAMAN JENDER DALAM BUDAYA MINANGKABAU

Oleh  : Puti Reno Raudha Thaib.

Pendahuluan

Kalaulah istilah jender itu secara luas dipahamkan sebagai kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, maka masyarakat Minangkabau sudah lama menerapkan kesetaraannya dengan idiom dan penafsiran tersendiri. Kalau kesetaraan secara umum

dimaksudkan; harus adanya pemisahan fungsi dan peranan laki-laki dengan fungsi dan perempuan, maka pemisahan demikian tidak ditemukan di dalam adat Minangkabau. Pemisahan perananan antara fungsi dan kedudukan laki-laki dengan peranan dan fungsi perempuan, tidak pernah secara tegas dinukilkan dalam aturan adat Minangkabau, yang seharusnya dapat ditelusuri melalui pepatahpetitih, mamang, ungkapan atau idiom-idiom budayanya. Peranan dan fungsi yang diberlakukan adat pada perempuan tetap dalam konteks hubungannya dengan kaumnya, keluarganya. Tak pernah perempuan dilihat sebagai seorang individu, sebagaimana pemahaman perempuan dalam pemikiran kesetaraan jender yang umum dikenal saat ini. Continue reading ‘PEMAHAMAN JENDER DALAM BUDAYA MINANGKABAU’

23
Feb
11

‘Istana Balun’

Untuk melestarikan adat dan budaya di Ranah Minang, tampaknya kita perlu mendukung upaya keluarga terhormat di Minangkabau dalam merawat rumah gadangnya  – yang saat ini semakin terkikis oleh perkembangan zaman.  Tidak banyak lagi keluarga – dalam kedudukan ‘ TRAH ” tertentu yang mampu mempertahankan kedudukan dan status sosialnya dimasa lalu untuk masa kini..

Mereka menyebut rumah ini ” ISTANA BALUN”. Istana yang berbentuk rumah gadang, atap bagonjong, ini terletak di Jorong Balun, kecamatan Koto Parik Gadang . Dinding luar berukiran yang didominasi warna merah hijau dan kuning. Perhatikanlah bangunan rumah gadang ini – tidak simeteris, sehingga bangunan Rumah gadang dengan anjung (tangga) yang menuju ruang dalam rumah terletak tidak tepat di tengah, tetapi berada agak lebih ke kiri bangunan. Itulah berbagai macam model rumah gadang yang ada di Ranah Bundokanduang.

Continue reading ‘‘Istana Balun’’

04
Feb
11

Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi

Tidak banyak yang mengenal Ulama besar Minangkabau yang menjabat sebagai Imam Besar Masjidil Haram. Nama lengkap ulama tersebut ialah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi. Beliau lahir di Koto Gadang, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Makkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M)

Saat ia berada di Makkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.. Banyak sekali murid Syeikh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi’i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti :
Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayahanda dari Buya Hamka;
Syeikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi;
Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi,
Syeikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang,
Syeikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi,
Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki,
Syeikh Khatib Ali Padang,
Syeikh Ibrahim Musa Parabek,
Syeikh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan
Syeikh Hasan Maksum, Medan.
Continue reading ‘Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi’

29
Oct
10

‘ Sengketa Tiada Putus “

oleh Jeff Hadler

Pengantar untuk Edisi Indonesia

Di Sumatra Barat pada pertengahan 1990-an sejarah bukanlah pokok penelitian yang populer. Diskursus pembangunan Soeharto melemahkan penelitian mendalam tentang masa lalu, dan sejarah resmi dipelintir agar sesuai dengan maksud tujuan negara. Disiplin-disiplin elite di universitas-universitas adalah sains, keinsinyuran, dan bidang-bidang yang diperkirakan akan menyumbang pada masa depan cerah suatu bangsa sedang membangun. Masa lalu itu memalukan, menghantui, dan berbahaya, disederhanakan dalam buku-buku teks ke dalam periode-periode kolonialisme suram, revolusi jaya, Orde Lama penindas, dan akhirnya Orde Baru pembebas. Orang-orang Indonesia cerdas membangun masa depan. Peneliti-peneliti asing adalah antropolog dan etnomusikolog. Sejarawan sangat jarang sehingga banyak orang terheran-heran ketika saya memberitahu mereka siapa saya sebenarnya: sejarawan. Antropolog? Continue reading ‘‘ Sengketa Tiada Putus “’

17
Sep
10

`ROBOHNYA SURAU KAMI (AA. NAVIS) `

Pengantar :

~ padusi ~ sengaja mempostingkan ‘ NOVEL ‘ ini berikut komentar yang tengah berlangsung di situs jejaring sosial Facebook…  Mudahan-mudah menjadi mata bathin kita melihat keadaan Ranah Minang, yang sudah lama ditelaah oleh para budayawan.

Episode 1 Continue reading ‘`ROBOHNYA SURAU KAMI (AA. NAVIS) `’

09
Aug
10

Benarkah Kekuasaan Wanita Minang = Menjajah Pria …?

Pengantar ~ padusi ~

Artikel ini diambil dari FORUM DISKUSI – Halaman Bundokanduang untuk penggemar Bundokanduang. Sangat bagus disimak untuk memahami apakah kemulian wanita minang yang diberikan adatnya menjadikan dirinya sebagai penjajah pria. Mudahan – mudahan adanya tanggapan dan komentar yang diberikan kepada artikel ini dapat memperjelas kedudukan wanita minang sesungguhnya.

oleh: Desni Intan Suri

Dunia Perempuan | Rabu, 02/12/2009 22:21 WIB Continue reading ‘Benarkah Kekuasaan Wanita Minang = Menjajah Pria …?’

05
Aug
10

Materialistik, Religius Culturalisme Minangkabau Dulu & Sekarang

Oleh : Armen Zulkarnain

domisili : di Kota Padang

Apabila kita melihat bentangan rel kereta api, maka terdapat 2 rel yang tidak akan bertemu satu sama lain, karena selalu sejajar hingga ke ujung rel itu akan berakhir. Begitu dahulunya untuk menggambarkan tatanan sosial masyarakat Minangkabau yang diajarkan dalam Surau-surau diperkampungan hingga akhir 1980-an. Continue reading ‘Materialistik, Religius Culturalisme Minangkabau Dulu & Sekarang’

31
Jul
10

Hak Perempuan Di Minangkabau Dan Posisi Mereka Menurut Pandangan Islam

Renungan kita bersama tentang “Kaum Perempuan” yang di Minangkabau di sebut “Bundo Kanduang” sesungguhnya memiliki posisi yang kuat.

Oleh : H. Mas’oed Abidin

Mukaddamah Perjalanan Perempuan

1. Perempuan sering disebut dengan panggilan ‘wanita’. Panggilan ini lazim dipakai di negeri kita. Seperti darma wanita, karya wanita, wanita karir, korp wanita, wanita Islam dsb. Kata-kata “wanita” (bhs.Sans), berarti lawan dari jenis laki-laki, juga diartikan perempuan (lihat :KUBI).[1] Continue reading ‘Hak Perempuan Di Minangkabau Dan Posisi Mereka Menurut Pandangan Islam’

12
Mar
10

Posisi Dan Peranan Bapak Sebagai Kepala Keluarga Dalam Masyarakat Hukum Adat Minangkabau

oleh H. Mas’oed Abidin

Mukadimah :

Landasan pokok adat budaya Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, bermakna ada landasan budaya yang kuat, bersendi kepada agama (syara’). Maka, dalam diri orang Minang menyatu kedua nilai hakiki, adat dan syarak. Setiap orang Minang dituntut memahami dan mengamalkan nilai-nilai budaya Minangkabau tersebut dengan mentaati ajaran-ajaran agama Islam.

Peng-amalan secara utuh terhadap adat, agama dan undang-undang, berpengaruh terhadap tatanan sosial masyarakat minang. Tanpa ketiganya, kekacauan, keserakahan, kekerasan dan kejahatan dengan mudah akan tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat.
Seorang Minangkabau mesti –  beradat, berbudi dan beragama Islam. Ketika konsep adat budaya Minangkabau yang religius ini diamalkan dengan sesungguhnya, maka “ranah Minang” adalah nagari aman, damai, sejahtera lahir dan batin.
Continue reading ‘Posisi Dan Peranan Bapak Sebagai Kepala Keluarga Dalam Masyarakat Hukum Adat Minangkabau’

10
Mar
10

Banyak Kejanggalan, Sejarah Adityawarman Diteliti Ulang

Khairul Ikhwan – detikNews
Medan – Sejarah sosok Adityawarman yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan Malayupura (Pagaruyung) di Sumatera Barat, diteliti ulang oleh Prof Uli Kozok dari University of Hawaii, Amerika Serikat. Sejauh ini penelitian tersebut menemukan banyak kejanggalan dari catatan sejarah yang sudah dituliskan.

Penelitian tersebut masih dilaksanakan Uli Kozok hingga sekarang. Beberapa kejanggalan yang sudah ditemukan, antara lain fakta bahwa Adityawarman bukanlah utusan Majapahit untuk wilayah Pulau Sumatera, dan kebenaran tentang lokasi makamnya juga diragukan.

“Catatan yang menyebutkan makam Adityawarman di Kubur Raja, itu tidak benar. Tidak ada daerah dengan nama seperti itu, yang ada hanya Kubu Raja, atau Kubu Rajo, yang menunjukkan itu merupakan lokasi kubu atau benteng pertahanan kerajaan, bukan lokasi pemakaman. Sedangkan makam Adityawarman tidak diketahui sejauh ini,” ujar Kozok di Universitas Negeri Medan (Unimed) Jl. Willem Iskandar, Medan, Selasa (9/3/2010).

Kozok yang berbicara dalam seminar Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatera, yang dilaksanakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed, lebih lanjut menyatakan, Adityawarman sebenarnya lahir dan dibesarkan di Pulau Sumatera bukan di Pulau Jawa dan bukan pula tinggal di Majapahit sebagaimana yang disampaikan sejarawan Slamet Muljana dalam Pemugaran Sejarah Persada Leluhur Majapahit (1983) yang menjadi referensi di Indonesia selama ini.

“Adityawarman bukanlah anak Dara Jingga, tapi keturunannya, mungkin keturunan kedua. Adityawarman lahir dan besar di Sumatera, lantas pada saat berumur 20-an tahun diundang ke Majapahit dalam rangka sahabatan Melayu – Majapahit, lantas diangkat menjadi menteri (wreddamantri) di Majapahit. Hal itu merupakan hal yang biasa saat itu,” kata Kozok, namun tidak memberikan contoh kasus pengangkatan serupa yang menunjukkan pengangkatan raja menjadi menteri di kerajaan lain sebagai suatu yang biasa.

Kozok juga menyatakan beberapa keterangan status Adityawarman sebagaimana tercatat kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tidak bisa dipercaya begitu saja dan perlu diteliti lebih mendalam. Sebab kitab tersebut banyak isinya yang hanya memuji-muji Majapahit dan memuji-muji raja.

Dalam seminar ini, tidak banyak bantahan yang muncul terhadap hasil awal penelitian Uli Kozok. Seminar di Unimed ini merupakan diseminasi awal penelitian tersebut, dan belum dilaksanakan di Sumatera Barat, yang merupakan menjadi daerah penelitian.

(rul/djo)

14
Jan
10

`Pendapat ADAT Minangkabau sesuai dengan Pendapat SYARAK Agama Islam `

Oleh : Buya Masoed Abidin

NILAI-NILAI KETUHANAN YANG MAHA ESA (KEYAKINAN TAUHID)

[“Si Amat mandi di luhak, parigi bapaga bilah, samo dipaga kaduonyo, adat basandi syarak, syarak basandi kitabbullah,  sanda manyanda kaduonyo.”]

[“Pangulu tagak di pintu adat, malin tagak di pintu syarak, manti tagak di pintu susah, dubalang tagak di pintu mati.”]

[“Indak dapek sarimpang padi, batuang dibalah ka paraku, indak dapek bakandak hati, kandak Allah nan balaku.”] Continue reading ‘`Pendapat ADAT Minangkabau sesuai dengan Pendapat SYARAK Agama Islam `’

23
Dec
09

` yunani kuno dan minangkabau ‘

Oleh Andrinof A Chaniago

Pengajar di Universitas Indonesia


Antara kehidupan Yunani Kuno dan Minangkabau, terdapat jarak waktu pemisah lebih dari duapuluh abad lamanya. Melihat pencapaian luar biasa dari bangsa Yunani Kuno, juga bukan hal yang setara untuk membandingkannya dengan Minangkabau yang hanyalah sebuah suku bangsa diantara duaratusan suku bangsa di Indonesia. Tetapi, jika melihat sejarah tokoh-tokoh pemikir terkemuka berikut warisan karya-karya pemikir dari kedua masyarakat  ini, kita akan menemukan sesuatu yang relevan untuk dibandingkan.

Sama dengan sikap hidup individu orang Minangkabau, masyarakat Yunani Kuno menyukai kehidupan yang bebas dan merdeka. Selain itu, keduanya dikenal dengan masyarakat yang haus akan pengetahuan.

Sebagian orang Yunani Kuno juga suka merantau. Namun, di sini mulai tampak perbedaan mereka dengan orang Minang. Orang-orang Yunani Kuno pergi merantau karena sebagian besar tanah mereka gersang dan tandus. Dengan demikian, motif orang-orang Yunani Kuno pergi merantau semata-mata untuk ekonomi. Semenara bagi orang Minang, merantau bukan semata-mata untuk tujuan ekonomi, melainkan juga untuk belajar hidup, sebagaimana bisa kita lihat dari beberapa pepatah Minang. Continue reading ‘` yunani kuno dan minangkabau ‘’

29
Oct
09

Motif Ukiran Minangkabau, Warisan dari Yunani Kuno

GreekGroup

oleh Zulfadli  (http://mozaikminang.wordpress.com)

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Warisan Ukiran dari Gandhara, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara kebudayaan hellenisme yang berkembang di Gandhara pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran bergaya hellas yang berkembang di Gandhara. Selain itu sistem pemerintahan yang berlaku di Minangkabau juga memiliki kemiripan dengan sistem ketatanegaraan Yunani kuno, yaitu berbentuk konfederasi nagari yang mirip dengan polis-polis.

Continue reading ‘Motif Ukiran Minangkabau, Warisan dari Yunani Kuno’

08
Oct
09

Ranah Bundo kanduang menangis

0038432pDesa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium

0040072p

0042338p

Banyak orang yang mengkaitkan peristiwa kejadian gempa dengan ayat yang terkandung dalam surah Al-Isra’ ayat 16 berbunyi : ” Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup ewah dinegeri itu agar mentaati Allah, tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan didalam negeri, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan hukum kami, kemudian kami binasakan sama sekali negeri itu.”

Apakah kita harus mengkaitkan setiap peristiwa gempa ditempat lain yang sama penyebabnya karena adanya pergerakan  pergerakan kulit bumi menuju keseimbangan baru. Bukankah menurut para ahli, gempa yang barusan terjadi ternyata belumlah gempa yang di ramalkan. Akan muncul pula gempa yang jauh lebih besar yaitu gempa caesar Mentawai. Bila patahan ini terjadi  akan mengeluarkan energi yang selama ini tersimpan cukup lama dan akan menimbulkan gempa 9 skala reighter.  Dan kalau ini terjadi akan meluluh lantakan bangunan yang sekarang masih tersisa. Masya Allah.

Dimanapun bencana yang terjadi, seperti yang terjadi di Aceh, Bantul/Jogyakarta,Tasikmalaya, dipastikan menimbulkan korban jiwa, benda, dll.

Yang menjadi perenungan kita bersama adalah benarkah ada korelasi antara peristiwa gempa dengan firman Allah yang terkandung dala surah 17 ayat 16 ini. Bagaimana dengan gempa yang terjadi pada waktu sebelumnya,  di wilayah lain. Apa perlu kita mengkaitkan dengan semua yang terkandung dalam firman tadi.

Menurut pendapat saya,  adanya firman Allah SWT ini , yang dikaitkan dengan peristiwa gempa itu. Marilah kita simpulkan bahwa, disinilah letak kekuasaan Allah pada semua CiptaanNya.  Bertawakalkah selalu kepadaNya. Setiap musibah merupakan ujian, teguran dan mungkin juga sebagai hukuman.   Sebab bencana yang sama juga akan terjadi dimanapun yang dikehendaki Allah.

Continue reading ‘Ranah Bundo kanduang menangis’

05
May
09

Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…

Oleh ; Hifni H. Nizhamul berdasarkan tulisan Doni Marlizon

0c77a487img_0086Banyak orang mengenal bahwa, pemangku alam minangkabau adalah Pagaruyuang.  Ada Tambo Pagaruyuang yang menguraikan silsilah kerajaan ini. Tidak banyak yang tahu, bahwa selain Pagaruyung  ada lagi beberapa kerajaan lainnya yang pernah ada  di Minangkabau, seperti kerajaan Koto Batu, kerajaan Bungo Setangkai, kerajaan Bukit Batupatah.

Dari berbagai sumber tentang keberadaan kerajaan tersebut, akan tetapi kekuasaannya tidak bertahan lama. Umumnya penyebab kerajaan itu tidak bertahan lama, antara lain :

Faktor Kepunahan dari keluarga kerajaan:

Sistem kekerabatan Minangkabau menganut system matrilineal, dengan pengambilan garis keturunan dari pihak Ibu. Anak bersuku ke Ibu juga ber sako ke mamak. Sako ini adalah warisan kepemimpinan dalam sistem kekerabatan yang diwariskan kepada kemenakan. Demikian pula halnya pada kepemimpinan  raja maupun penghulu. Kedudukan dan jabatan penghulu dan raja tidak diwarikan kepada anak melainkan kepada kemenakan. Sistem yang berlaku pada minangkabau lama demikian, akhirnya tidak dapat bertahan lama. Penyebab utamanya adalah karena  tidak ada orang yang dapat menggantikan kedudukan raja itu. Kemenakan yang akan menggantikan kedudukannya tidak ada.

Didalam catatan sejarah – pada masa zaman Adityawarman – ada satu keturunan anak sesudahnya, yang menggantikan kedudukannya sebagai Raja. Terjadi pola penyimpangan sistem matrilinial selama 70 tahun, tatkala Adityawarman menguasai Pagaruyung. Adityawarman terbunuh di KUBURAJO pada tahun 1375 dan anaknya di Pagaruyung tahun 1409. Kala itu masyarakat minangkabau tidak menginginkan sistem pemerintahan yang absolut dan tidak suka sistem pewarisan jatuh kepada anak.

Bagaimana dengan Pagaruyuang ? Saat ini kerajaan Pagaruyung adalah satu-satunya kerajaan yang masih bertahan diwilayah Sumbar.  Kemudian ada pula yang mempertanyakan bahwa kerajaan ini tidak memiliki suku sebagaimana suku -suku yang hidup di kalangan masyarakat Minangkabau, yang  hingga kini berjumlah k.l 60 suku. Lalu bagaimana dikatakan bahwa kerajaan pagaruyuang sebagai pemangku alam minang kabau ? Benarkah kerajaan ini sebagai pemangku adat alam minangkabau ?

Ternyata hingga saat ini, masih ada bentuk pemerintahaan kerajaan, seperti yang terdapat di Alam Surambi Sungai Pagu. Sistem pemerintahannya pun Unik seperti dapat di lihat pada uraian selengkapnya yang, kami kutip dari tulisan Doni Marlizon di; web site : Antara – Sumbar, pada Selasa, 17/03/2009 yang lalu.

Continue reading ‘Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…’

20
Apr
09

Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia

Resensi Oleh : SURYADI Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB|HARIAN KOMPAS

• Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” •

Penulis: Jeffrey Hadler •

Penerbit: Cornell University Press, Ithaca, London, 2008 •

Tebal: xii + 211 halaman.

Buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini.

Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan dari garis bapak. Ini berbeda dari temuan arkeologis dan sumber tradisi lisan kuno yang masyarakatnya kebanyakan menganut sistem matriarkat (nasab ibu) yang menempatkan kekuasaan di tangan kaum perempuan dan menarik hubungan keturunan dari garis ibu. Continue reading ‘Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia’

12
Apr
09

Feodalisme di Negeri Egaliter

Oleh Ivan Adilla Gelar Bagindo Sulaiman

Mengajar di Fakultas Sastra Universitas Andalas

41e853eegunung_merapi_jam_6_sore-800pxHarian Kompas edisi 29 Agustus 2006 menurunkan berita berjudul “SBY Akan Terima Gelar Adat”. Konon, gelar Yang Dipatuan Maharajo Pamuncak Sari Alam itu diberikan oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau; lembaga adat yang kelahirannya dibidani militer dan pada masa Orde Baru merupakan salah satu pendukung utama Golkar. Pemberian gelar adat untuk orang di luar Minangkabau bukanlah gejala baru. Di tahun 1950-an pernah ada rencana memberikan gelar adat Bundo Kandung kepada Fatmawati, yang saat itu menjadi Ibu Negara. Rencana itu batal setelah AA Navis berhasil meyakinkan pihak militer bahwa gelar yang berasal dari tokoh mitos itu tidak layak disandang oleh Ibu Negara.

Sejak beberapa tahun terakhir, gelar adat telah diberikan kepada Yusril Ihza Mahendra, Taufik Kiemas, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh, dan Anwar Nasution. Begitu pentingkah gelar adat bagi pejabat dan pengusaha negeri ini? Bagi lelaki Minangkabau, gelar adat adalah sebuah kemestian. Pepatah adat mereka mengatakan, ‘ketek banamo, gadang bagala’ (kecil punya nama, setelah dewasa diberi gelar). Setiap lelaki yang sudah menikah tentu diberi gelar adat, yang diumumkan dalam sebuah acara sederhana saat perhelatan kawin. Pemberian gelar itu merupakan pengakuan bahwa mereka kini telah menjadi lelaki dewasa, yang akan diikutsertakan dan diakui hak suaranya dalam musyawarah kaum. Gelar merupakan warisan, bukan hak milik individu. Begitu seseorang meninggal dunia, maka gelar itu harus dikembalikan kepada kaum sebagai pemiliknya. Seseorang tidak berhak mewariskan gelar itu pada orang lain tanpa persetujuan kaum.

Continue reading ‘Feodalisme di Negeri Egaliter’




Hifni H. Nizhamul

Pengunjung

  • 277,162 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

June 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

ARSIP

Flickr Photos

32307_600x450

9234_134982763109_81361918109_2594998_7912745_n

4952_92167418109_81361918109_2020487_7291851_n

4952_91825968109_81361918109_2015754_2762819_n

45

1z6ufs

rumah gadang

sitinjau lauik

singkarak

simpang sariak

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers