Tidak banyak orang mengenal pejuang wanita dari Ranah Minang ini. Mungkin karena berjuang di wilayah lokal sehingga keharuman namanya tidak seperti KARTINI. Kartini memiliki keberuntungan – karena di polulerkan oleh Orang Belanda – yang menjadi teman curhat dalam tulisan – tulisan yang bernilai sastra. Kemudian surat -suratnya itu di populerkan dalam suatu thema yang berjudul : HABIS GELAP TERBITAH TERANG. Apa yang dikemukakan KARTINI sangat pas kala itu disaat Hindia Belanda sedang merealisasikan politik balas budi. Meskipun zaman berbeda dari dua orang wanita ini – namun memiliki kesamaan dalam semangat. Continue reading ‘`sitti manggopoh `’
Archive for the 'H. SOSOK PADUSI MINANG' Category
`sitti manggopoh `
Mengabdikan Hidup Pada Kesenian
Dalam pengabdian didunia gerak dan tari, lebih dari 50 tahun – Ibu yang hampir memasuki usia 3/4 abad ini sudah malang melintang dibidang seni. Ia memang pantas disebut sebagai seniwati Minangkabau. Melangkahkan kakinya ke Mancanegara membawa missi kesenian sejak tahun 19 62 silam, dan telah menjejakkan kaki di belahan dunia manapun hingga lebih dari 40 kali kunjungan. Jenis tarian yang dimunculkannya meliputi : tari pesambahan, tari indang, tari sewah, manggaro, pencak silat, dll. Continue reading ‘Syofyani Yusaf – Seniwati Minangkabau’
Etty Sunarti Nuay
Berkaca pada Minyak
Siapa bilang berada jauh di belantara hutan atau di tengah lautan, bisa membuat seseorang jauh dari Yang Mahakuasa? Justru sebaliknya, kebesaran Allah SWT semakin tampak dan Sang Khalik terasa makin dekat. Itulah yang dirasakan wanita geolog pertama Indonesia, Ir Etty Sunarti Nuay.
Begitu dinyatakan lulus sebagai sarjana dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 10 Juni 1973, sesuai bidang ilmunya, ia terjun ke dunia perminyakan. Selama lebih dari 25 tahun ia bekerja di perusahaan pertambangan milik Amerika Serikat, Hufco dan Vico.
“Hj. Rokayah diusulkan Pemerintah kabupaten Agam menerima Penghargaan Upakarti”
Hj Rokayah (76) perintis kemerdekaan RI, yang juga menjabat Ketua Panti Asuhan Aisyiah Balai Gurah, pengurus Bundo Kanduang serta perintis berdirinya usaha sulaman tradisional Ampek Angkek diusulkan Pemkab Agam untuk mendapatkan penghargaan Upakarti dari pemerintah pusat. Usulan itu dilatari pengabdiannya dan sumbangsihnya selama ini, serta kemampuannya mempertahankan industri rumah tangga, sulaman tangan khas Ampek Angkek. Sosok Hj Rokayah bersama kakaknya Hj Zaenad (82), dikenal sebagai tokoh sentral pengembangan industri sulaman tradisional di Sumbar, yang kini menjadi ikon Indonesia dalam promosi industri kerajinan tangan dan home industry. Continue reading ‘Sosok Hj Rokayah, Tokoh Tauladan Agam’
Rahmah el-Yunusiah
Sumber : A Long Journey…
Oleh Abdullah Ubaid Matraji. Jum`at pagi tanggal 20 Desember 1900 ia dilahirkan di Bukit Surungan Padang Panjang. Anak bungsu dari lima bersaudara ini adalah buah cinta pasangan Muhammad Yunus dan Rafi`ah. Latar belakang keluarganya, tak hanya taat bergama, tapi aktif dalam gerakan pembaharuan Islam di Sumatra Barat.
Ayahnya dikenal sebagai seorang hakim, ahli ilmu falak (astronomi) dan ulama besar pemimpin tarekat Naqsabandiyah. Dan kakaknya, Zaenuddin Labay, dikenal sebagai ulama besar sekaligus tokoh pembaharu sistem pendidikan Islam model surau di Padang. Continue reading ‘Rahmah el-Yunusiah’
Menjelang memasuki usia pensiun yang tidak berapa lama lagi, ada baiknya kita memperkenalkan padusi Minang yang bergelut didunia ilmu pertanian khususnya dibidang Ilmu Hama Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, IPB ini. Beliau adalah Professor Dr. Ir. Syafrida Manuwoto M.Sc, dilahirkan di kota Medan pada tanggal 15 Mei tahun 1944. Ia adalah putri ke 2 dari 7 bersaudara pasangan alm Nukman pensiunan perwira POLRI berpangkat Komisaris Besar Polisi, yang berasal dari kota Padang dengan almh Syamsiah, yang berasal dari kota Padangpanjang.
Dengan pengalamannya yang sedemikian banyaknya, dapatlah membuktikan kiprah padusi minang yang satu ini didunia ilmu pertanian dan pendidikan. Dua kali menjabat sebagai Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB 1998 – 2006), dan sebelum itu Ibu Syafrida menjabat pula selaku Kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB (1996 – 2002), ketika setelah ia mengakhiri dua kali masa jabatannya selaku Dekan Fakultas Pertanian IPB ( 1990 – 1997). Sebelum dipercaya untuk menjadi Dekan Fakultas Pertanian dan Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB, Ibu Syafrida Manuwoto ini memulai karirnya sebagai Dosen pada Fakultas Pertanian IPB semenjak tahun 1971 yang lalu. Kemudian secara berturut-turut ia menduduki posisi sebagai seorang ilmuan dan pendidik di lingkungan Fakultas tempat ia mengajar, yaitu ; Kepala Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian IPB (1987 – 1993), Pembantu Dekan Bidang Akademik, Fakultas Pertanian IPB (1987 – 1990). Continue reading ‘Professor Dr. Ir. Syafrida Manuwoto M.Sc,’
RUKMINI ZAINAL ABIDIN
Membawahkan lebih dari seribu karyawan yang bekerja di berbagai perusahaan farmasi miliknya, Rukmini tampak menonjol sebagai figur wanita pengusaha yang terampil dan cekatan. Juga ulet. Bukan saja kepada karyawannya, ia menerapkan disiplin terutama terhadap dirinya sendiri. Ia pun tidak mudah percaya kepada semua orang, termasuk dirinya sendiri. ”Saya selalu mengecek diri saya berkali-kali,” katanya. Continue reading ‘RUKMINI ZAINAL ABIDIN’
Mufidah Yusuf Kalla
Wanita bersuara lembut yang berusaha menjaga sikap untuk selalu tampil setenang mungkin, Mufidah Miad Saad, ini seorang ibu yang setia menopang karir suami, Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keberhasilan JK dalam dunia usaha dan dunia politik tak terlepas dari dukungan wanita Minangkabau kelahiran Sibolga 12 Februari 1943, ini.
Bak kata pepatah asam di gunung ikan di laut bertemu dalam kuali, itulah yang terjadi pada pasangan Muhammad Jusuf Kalla dan Mufidah. Sebagai khasnya orang Minang yang berjiwa perantau, begitulah jua keluarga Mufidah (ayah H Buya Mi’ad dan ibu Sitti Baheram serta sebelas orang anak saudara sekandung. Dari Sumatera Barat merantau ke Sibolga, umatera Utara hingga ke Sulawesi Selatan. Continue reading ‘Mufidah Yusuf Kalla’
ZAKIAH DARADJAT
Pandai, dengan nilai rata-rata 9, matematika malah 9,5, kemauan belajar Zakiah keras. Tiba di Yogyakarta setamat SMA, 1951, ia mendaftar di dua perguruan sekaligus. Keduanya lulus tes, baik di Fakultas Tarbiyah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), maupun di Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (FH UII). Keduanya ia masuki.
Saat duduk di tingkat III, Zakiah pulang ke desa kelahirannya, Koto Merapak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Mendengar ia memborong dua perguruan sekaligus, bekas guru SMP- nya menasihatinya agar memilih satu saja. ”Kamu jangan terlalu memaksa belajar, nanti sakit,” kata ibunya. Dosennya di PTAIN juga pernah mengatakan: kuliah bersamaan di dua tempat itu susah. Akhirnya, si sulung bersaudara 10 itu menurut. Continue reading ‘ZAKIAH DARADJAT’
Wirda Hanim
Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek (liat)
. Pada suatu pameran di Jakarta, aku menemukan sebuah stand yang menampilkan produk batik asal Minang. Batik..?? apa ini jiplakan dari batik Jawa. Pertanyaan inilah kusampaikan pada petugas stand itu. Petugas itu bercerita bila ingin mengenal lebih jauh tentang batik asal Sumbar silahkan dating ke alamat home industrinya di daerah Sawasan – Kota Padang.
Kealamat rumah yang diceritakan oleh petugas itu aku dating menemui Ibu Wirda Hanim di rumahnya dibilangan Sawahan. Dinilah aku menjumpai pengusaha wanita itu, yang berusia lebih dari setengah abad. Aku mengamati segala aktivitasnya dan menanyakan beberapa kepadanya.
Ibu Wirda Hanim, kemudian bercerita, sebagai berikut :
Suatu hari pada 1993, Wirda Hanim yang sudah lama tinggal di Kota Padang mengikuti pesta adat di kampung asalnya, Kenagarian Sumani, Kabupaten Tanah Datar. Ia melihat beberapa pria dan wanita memakai selendang batik tanah liat yang dalam bahasa Minang disebut “batik tanah liek”. Meski selendang tersebut sudah usang dan robek di sana-sini karena lapuk, namun mereka masih memakainya sebagai bagian dari pakaian adat tradisional Minangkabau. Wirda melihat, mereka memakainya dengan sangat hati-hati, seperti menjaganya agar tidak robek. Setelah mencari informasi, barulah ia ketahui bahwa mereka melakukan hal seperti itu karena batik tanah liek sudah langka, sebab tak lagi dibuat orang sejak sekitar 70 tahun lalu. Continue reading ‘Wirda Hanim’
Huriah Adam
Sumber : www.tamanismailmarzuki.com
Huriah Adam dilahirkan di Padang Panjang tanggal 6 Oktober 1936. Ayahnya Syeh Adam, B.B. Adalah seorang ulama yang mempunyai minat besar dan usaha yang nyata untuk mengembangkan kesenian didaerahnya. Kegiatan kesenian bahkan kemudian menjadi ciri dari keluarga Adam. Saudara-saudara Huriah Adam, yaitu Bustanil Arifin, Irsjad dan Achyar, Mengarahkan perhatian utamanya kebidang musik, sedangkan Huriah Adam sendiri bergerak paling banyak dibidang tari dan seni lukis.Bagi Huriah, ayahnya adalah seorang pembuka jalan bagi pengabdiannya kemudian kepada seni. Meskipun dia seorang guru agama, tidak dipaksanya sang anak menekuni agama saja, bahkan sebaliknya, dia melihat bakat seni yang besar pada Huriah, maka dilengkapilah madrasahnya dengan pentas dan alat-alat musik.Pada madrasah pimpinan ayahnya itulah Irsjad dinas di Padang Panjang dan Huriah berkembang melalui kegiatan tarinya semenjak ia duduk di sekolah rakyat. Kemudian ia mengikuti pula ruang-ruang pendidikan kesenian di Gedung Kebudayaan Sumatra di Padang Panjang, yang dipimpin oleh Angku Muhammad Sjafei, yaitu pendiri I.N.S. Kayutanam. Sejak itulah ia banyak menggali kekayaan tari Minang atas dasar gerak-gerak silat dan dengan bahan ini ia mengembangkan tari Minang, dengan menuangkannya kedalam komposisi-komposisinya.Kegiatan-kegiatan Pusat Kebudayaan di Padang Panjang itu dilakukannya antara lain tahun 1947 dan 1958. Ini diselingi dengan satu masa pendek, yaitu dalam tahun 1953, dalam waktu masa ia mengikuti beberapa pelajaran di ASRI Yogyakarta, setelah ia lulus SMP di Padang Panjang pada tahun 1951. Continue reading ‘Huriah Adam’
Rohana Kuddus
Truly Minangkabau Culture, Art and Style
Rohana Kuddus lahir di Koto Gadang, Bukit Tinggi pada tanggal 20 Desember 1884 dan meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972. Rohana Kuddus adalah anak pertama pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Rohana Kuddus adalah kakak tiri dari Sutan Syahrir.
Perjuangan Rohana Kuddus dalam memajukan kaum wanita sangatlah nyata, tidak seperti wanita lain yang hanya berani bicara dan menulis tentang persamaan hak wanita dan perluasan kesempatan bagi kaum wanita tetapi menyerah dan menjadi korban (kalau tidak bisa dibilang pelestari) tradisi dan adat yang ditentangnya itu. Rohana Kuddus harus pergi dari kampung halamannya ke Medan untuk meneruskan perjuangannya bagi kaum wanita karena banyaknya ketidaksetujuan orang sekampungnya akan tujuan perjuangannya. Continue reading ‘Rohana Kuddus’
Hajjah Rangkayo Rasuna Said
Rasuna Said setelah menamatkan Sekolah Dasar melanjutkan belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah sebagai satu-satunya santri perempuan . Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri di Padang Panjang dan bertemu dengan Rahmah El-Yunusiah.
Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, beliau sempat mengajar di Diniyah School Putri sebagai guru namun pada tahun 1930 Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah tapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said ingin memasukan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri tapi ditolak.
Rasuna Said mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr. H. Abdul Karim Amrullah yang mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berfikir yang nantinya banyak mempengaruhi padangan Rasuna Said.
Kontroversi poligami pernah ramai dan menjadi polemik di ranah Minang tahun 1930-an. Ini berakibat pada meningkatnya angka kawin cerai. Rasuna Said menganggap, kelakuan ini bagian dari pelecehan terhadap kaum wanita. Continue reading ‘Hajjah Rangkayo Rasuna Said’

















KOMENTAR