<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>~ RANAH BUNDO KANDUANG ~</title>
	<atom:link href="http://bundokanduang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bundokanduang.wordpress.com</link>
	<description>Bundo Kanduang Minangkabau</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Nov 2009 08:39:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bundokanduang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/aaa77bb91a970b9fcb054239d36c96a8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>~ RANAH BUNDO KANDUANG ~</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan.</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/13/penganalisaan-sejarah-terpusat-dan-sejarah-tersebar-sebagai-upaya-merajut-sejarah-keminangkabauan/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/13/penganalisaan-sejarah-terpusat-dan-sejarah-tersebar-sebagai-upaya-merajut-sejarah-keminangkabauan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 08:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[a. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=971</guid>
		<description><![CDATA[Diedit dari penjelasan Zulfadli kepada ~ padusi ~

Kami berdua – Zulfadli dan Padusi &#8211; bukanlah berasal dari kalangan sejarawan, namun kami sangat peduli terhadap penulisan sejarah minangkabau. Dari bermacam Tambo yang tersedia dan pernah diterbitkan sebagai sumber sejarah minangkabau, oleh kaum cerdik cendekia di Minangkabau, ternyata kita memperoleh beragam Tambo yang isinya dan cara penyampaiannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=971&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Diedit dari penjelasan Zulfadli kepada ~ padusi ~</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-970" title="Copy of rumah 2" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/11/copy-of-rumah-2.jpg?w=214&#038;h=143" alt="Copy of rumah 2" width="214" height="143" /></p>
<p>Kami berdua – Zulfadli dan Padusi &#8211; bukanlah berasal dari kalangan sejarawan, namun kami sangat peduli terhadap penulisan sejarah minangkabau. Dari bermacam Tambo yang tersedia dan pernah diterbitkan sebagai sumber sejarah minangkabau, oleh kaum cerdik cendekia di Minangkabau, ternyata kita memperoleh beragam Tambo yang isinya dan cara penyampaiannya tidak sama. Bagi penulis,  penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan, yang dilakukan oleh Sdr. Zulfadli sangat layak untuk ditampilkan dalam blog bundokanduang ini.</p>
<p><strong>Analisa Sejarah Terpusat dan Analisa Sejarah Tersebar</strong><strong>, </strong>Merupakan Sub kajian dari sejarah politik mengenai cara pandang terhadap sumber sejarah. <em>S</em><em>ejarah</em><em>,</em> hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sedangkan <em>Politik</em> adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara/kerajaan. Disini Padusi ingin menegaskan, bahwa penulisan sejarah, riwayat dan asal usul suatu etnis dan bangsa – tidak dapat dihindari dari pengaruh politik masa itu.</p>
<p><span id="more-971"></span><br />
<strong>Analisa Sejarah Terpusat</strong><strong> </strong></p>
<p>Seperti kita ketahui bahwa menurut ilmu antrolpologi, migrasi bangsa yang selanjutnya mendiami kepulauan Indonesia, terbagi dalam dua kali eksodus: Yang pertama disebut migrasi kelompok Melayu Tua (deutro melayu), yang mendiami wilayah- wilayah pedalaman. Kelompok ini merupakan splendid isolation yang senang berkurung diwilayah pegunungan, menolak segala kontak dengan orang yang datang dari luar. Hal ini akan berbeda dengan kedatangan Melayu Muda (proto Malayan). Cari Info : Melayu muda dan kebudayaan apa yang dibuat.</p>
<p>Cara penganalisaan sejarah terpusat, diawali dengan menentukan sentral cerita dari suatu sumber berita yang akan dikaji. Misalnya : India Centris, Yunani-Kuno Centris, Tambo Centris, Alexander Agung Centris, Riau Centris, Jambi Centris, Kerinci Centris, Sriwijaya Centris, Majapahit Centris dan atau Melayu Centris).</p>
<p>Penganalisaan ini akan memusatkan setting cerita dan mengkompilasi sejarah dengan bukti-bukti yang bersesuaian dengan sentralnya,  misal :  Masa kejayaan dan sejarah majapahit dengan masa kejayaan dan sejarah kerajaan ssriwijaya. Dengan cara mencocok cocokkan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, itu maka kita dapat menemukan peristiwa apa saja yang terjadi pada masa itu. Bukan tidak mungkin karena sifat hegemoni dari masing- masing kerajaan, akan menampilkan perseteruan dan perebutan wilayah kala itu.</p>
<p>Dalam penelaahan sejarah Minangkabau, jika dipakai Majapahit Centris, maka kita akan menemukan tokoh Dara Jingga, Dara Petak, Adityawarman, Gadjah Mada, Dewa Tuhan Perpatih dan seterusnya.</p>
<p>Jika memakai Sriwijaya Centris kita akan menemukan Bukit Siguntang Mahameru, Dapunta Hyang, Sang Sapurbna.</p>
<p>Jika memakai Jambi Centris kita akan menemukan Tribhuana Mauli Marwadewa, Pinang Masak, demikian seterusnya.</p>
<p>Sama halnya dengan Tambo Centris – yang dianggap sebagai sejarah minangkabau kuno &#8211; kita akan bertemu dengan Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang.  Kekacauan akan terjadi jika kita mulai menghubungkan tokoh tokoh sentral yang disebut dalam Tambo itu, sehingga berupaya memaksakan sebuah konklusi tarikh, tokoh, ranji, silsilah dan kronologis, dan lain sebagainya. Contoh paling aktual adalah munculnya ranji tambo sbb: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau" target="_blank">http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau</a>. Kira-kira metode analisa sejarah terpusat ini akan mirip dengan metode <strong>utak atik gathuk</strong> yang biasa dipakai orang Jawa.</p>
<p><strong>Analisa Sejarah Tersebar</strong><strong></strong></p>
<p>Konsep kedua ini , berusaha keluar dari kerangkeng sentris-sentris diatas. Ide utamanya  adalah menginventarisir jejak-jejak sejarah yang bisa didapat dengan ilmu antropologi atau seni budaya. Banyak aspek yang bisa diteliti. Saudara Zulfadli yang bukan dari kalangan sejarah ini, mencoba menelaah kepada fokus masing-masing, diantaranya :</p>
<p>-                 System kekerabatan : system matrilineal, suku, masalah harta</p>
<p>-                 Konsep ketatanegaraan / keselarasan : Bodi chaniago koto piliang (yg mirip sparta-athena),</p>
<p>-                 Konsep kepemimpinan : datuk dan penghulu</p>
<p>-                 Hasil budaya : ukiran, silat minang, randai, dll. .</p>
<p>Mungkin banyak kesimpulan lain yang dapat ditelaah, kesimpulan sementara diatas dilakukan sebagai upaya mencari jejak-jejak dari masing-masing aspek yang diteliti oleh Sdr. Zulfadli dari dunia luar (diluar Minangkabau).</p>
<p>Sdr. Zulfadli menyatakan bahwa ; &#8220;ia tidak percaya dengan konsep turun dari Gunung Marapi&#8221;, namun ia tetap mempertanyakan,  kenapa koncep itu ada. Sama halnya soal percayanya ia terhadap keturunan Iskandar Zulkarnain dan akhirnya ia membuat pertanyaan kenapa ada  Iskandar Zulkarnain.</p>
<p>Baginya ia menebar pertanyaan-pertanyaan liar, dalam <strong>Penganalisaan</strong><strong> Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar </strong><strong>Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan itu .</strong></p>
<ul>
<li>Kenapa Gunung Marapi? Kenapa bukan Gunung Kerinci, Gunung Ledang, Bukit Siguntang, Gunung Mahameru atau Gunung Semeru</li>
<li>Apakah telong nan batali itu ameh urai? emas yang mengalir di sungai-sungai Sumatera Tengah)</li>
<li>Kenapa Harimau Campa? Kenapa bukan Laksamana ChengHo atau Shih Huang Ti</li>
<li>Kenapa Iskandar Zulkarnain? Kenapa bukan Darius Agung, Nero atau Plato</li>
<li>Kenapa Nagari? Kenapa bukan kerajaan</li>
<li>Kenapa Triumvirat (Rajo Tigo Selo)? Kenapa bukan raja diraja</li>
<li>Kenapa Matrilineal?</li>
</ul>
<p>Masing-masing pertanyaan berkembang menjadi penelitian-penelitian kecil yang melintasi zaman dan geografis, ia menghasilkan tarikh dan juga sebaran wilayah, dan setelah itu masing-masingnya kait-berkait secara otomatis.</p>
<p>Dari kisah yang tersebut dalam Tambo, kita mengenal :</p>
<ol>
<li>Unsur India, yaitu :  Cateri Bilang Pandai, Maharaja Diraja dan Indo Jalito.</li>
<li>Unsur Yunani, yaitu : Iskandar Zulkarnain.</li>
<li>Unsur Champa (Kamboja), yaitu : Harimau Champa</li>
</ol>
<p>Dari ketiga migrasi kebudayaan ini, unsur India dan Yunasi menghasilkan Hellenisme, Seni Budha Yunani, Kebudayaan Gandhara, Ukiran Gandhara, dll. Sementara pengaruh unsure  India dan Champa menghasilkan System kekerabatan Matrilineal. Pada system kemasyarakatan yang berasal dari pengaruh India dan Yunai menghasilkan sistem konfederasi di Minangkabau seperti yang hidup di Champa.</p>
<p><strong>Timbul pertanyaan kita bagaimana keberadaan dua orang Datuk Minangkabau itu menurut versi Tambo dan Sejarah ?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yang dapat kita simpulkan dari penelusuran tambo dan sejarah adalah :</p>
<p>1. Datuak Katumanggungan seorang anak raja (keturunan bangsawan dari kedua ibu dan bapaknya), sementara Datuak Parpatiah Nan Sabatang keturunan dari ibunya seorang bangsawan.</p>
<p>Siapakah yang menjadi orang tua dari kedua Datuk yang menletakkan sendi adat di Minangkabau itu ?</p>
<p>Dengan pola Analisa Sejarah Terpusat kita akan menemukan banyak sekali ragam pencocokan dengan centris-centris yang kita pilih, namun resikonya adalah benturan-benturan ketika menyusun konklusinya. Salah satu hasil konklusinya adalah mengkaitkan Majapahit Centris dengan Pagaruyung Centris.</p>
<p>2. Dalam penganalisaan Sejarah Tersebar, ditemukan hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>a. Datuk Katumanggungan, adalah konseptor dan sekaligus pewaris dari sistem ketatanegaraan aristokratis yang mirip dengan konsepsi negara versi Sparta. Hal ini terinspirasi oleh nilai-nilai Hindu, cendrung kastaisme, suka dengan aturan-aturan yang tegas, setuju dengan konsep kerajaan.</p>
<p>b.  Datuk Parpatiah Nan Sabatang, adalah konseptor dan sekaligus pewaris dari sistem ketatanegaraan demokratis yang mirip dengan konsepsi negara versi Athena, terinspirasi dengan ajaran Buddha (lihat filosofi motif Daun Bodi dan Teratai), lebih egaliter, suka dengan filsofi-filosofi, setuju dengan konsep federasi.</p>
<p>c.    Indra Jalita melambangkan orang yang bangsawan sekaligus ilmuwan.</p>
<p>d.   Cateri Bilang Pandai berkasta ksatria dan berprofesi seniman ulung di bidang seni rupa (ukiran, pahatan, lukisan)</p>
<p>e.  Harimau Champa datang dari Champa yang juga menganut sistem nagari dan matrilineal.</p>
<p>Begitulah mozaik-mozaik yang ditemukan oleh Sdr. Zulfadli itu. Ia tidak terobsesi dengan siapa tokoh-tokoh ( yang disebutkan dalam tambo) secara nyata, karena akan menabrak fakta-fakta yang kita temui tentang atribut-atribut mereka.</p>
<p>Beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil untuk saat ini adalah:</p>
<ul>
<li>Nenek moyang Minangkabau berasal dari Tanah Basa India</li>
<li>Nenek moyang Minangkabau itu mengetahui tentang Iskandar Zulkarnain</li>
<li>Mereka membawa hasil <strong>S</strong><strong>eni </strong><strong>B</strong><strong>udaya </strong><strong>H</strong><strong>ellenisme</strong></li>
<li>Mereka berasal dari golongan yang berbeda-beda (Hindu, Buddha, dll)</li>
</ul>
<ul>
<li>Mereka terpelajar dan punya konsep ketatanegaraan yang dibawa ke      Minangkabau (dalam tambo disebut warisan Kitab Undang yang diwarisi oleh      Sultan Maharaja Diraja)</li>
<li>Mereka menganut System kekerabatan Matrilineal yang jejaknya bisa      ditemukan di <strong>Kerala, Karnataka (keduanya di India), Muangthai dan      Champa</strong>.</li>
<li>Dalam migrasi ke wilayah baru (Andalas) ,      mereka membawa orang yang setia dengan nama nama : Kambing Hutan, Kucing Siam dan Harimau Champa yang berasal dari 3 wilayah tadi)</li>
</ul>
<p>Kapankah migrasi pertama manusia yang kemudian di kenal Minangkabau itu ?. Kedatangan mereka ke tanah Andalas itu yang dikatakan sebagai telong nan batali itu ameh urai, tidak dapat di perkirakan. . Akan tetapi Sdr. Zulfadli dapat mempredidksi tentang rentang waktu untuk  kedatangan dan migrasi ke wilayah ini, yaitu antara di awal abad pertama Masehi hingga berdirinya kerajaan Kandis (Melayu Tua).</p>
<p>Sehubungan dengan pertanyaan atas literatur <strong>Koto Alang</strong>, yang menyebutkan bahwa Dua orang Datuk itu adalah warga Kerajaan Kandis dan Koto Alang, bagi Sdr Zulfadli cukup masuk akal secara tarikh, dan lebih logis ketimbang dikaitkan ke zaman Pamalayu, Singasari dan Majapahit.</p>
<p>Bagaimana jika ada yang berpendapat bahwa <strong>Adityawarman</strong> dianggap pendiri <strong>Pagaruyung</strong><strong> ?</strong></p>
<p>Masalah ini memang agak sedikit ganjil, jika dihubungkan dengan cerita Bundo Kanduang yang menjadi Raja Perempuan di Pagaruyung yang berkonflik dengan Negeri Sungai Ngiang.</p>
<p>Negeri Sungai Ngiang adalah Singingi di daerah Kuantan. Kerajaan Singingi ini masih sezaman dengan Kerajaan Kandis (sekitar abad 8 M).</p>
<p>Dalam kaba <strong>“ Cindua Mato” </strong>-  telah berdiri kelengkapan pemerintahan,  berupa <strong>Basa Ampek Balai</strong> yang anggotanya adalah beberapa unsur dari Langgam Nan Tujuah, artinya Lareh Koto Piliang telah berdiri. Padahal  <strong>Gajah Tongga Koto Piliang</strong>, mengaku telah ada sebelum Pagaruyung ada.</p>
<p>Kesimpulannya. Latar cerita Cindua Mato adalah konflik antar kerajaan hulu dan hilir Batang Kuantan (Inderagiri) yang sezaman dengan Kandis (abad 8 M).  Artinya Dua orang Datuk sebagai pendiri tatanan adat Minangkabau telah ada jauh sebelum masa konflik yang dikisahkan dalam kaba “ Cindua Mato “ itu.</p>
<p>Akhirnya benar atau tidaknya berdasarkan Penganalisaan Sejarah Terpusat dan Sejarah Tersebar Sebagai Upaya Merajut Sejarah Keminangkabauan kita kembalikan kepada ahlinya. Dengan demikian upaya mengeliminir mythos mythos yang ada diseputar Tambo dapat dilakukan dengan merangkai mythos itu sebagai fakta sejarah Minangkabau.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>29 Oktober 2009</p>
Posted in a. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU Tagged: sejarah minangkabau <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/971/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/971/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=971&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/13/penganalisaan-sejarah-terpusat-dan-sejarah-tersebar-sebagai-upaya-merajut-sejarah-keminangkabauan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/11/copy-of-rumah-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Copy of rumah 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>` kala bumiku bersujud `</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/05/kala-bumiku-bersujud/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/05/kala-bumiku-bersujud/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 04:35:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN]]></category>
		<category><![CDATA[rohaniah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=953</guid>
		<description><![CDATA[
  

oleh : Hifni H. Nizhamul
Tidak ada satu lembar daun pun yang jatuh dari pohonnya tanpa sepengetahuan Allah SWT, tidak ada suatu kejadian pun yang kebetulan. Semua sudah tertulis dialam Lauhul Mahfuz. Demikianlah kehidupan kita, tentang lahir, rezeki, jodoh dan akhir hayat kita. Segala yang ada dilangit dan segala yang ada dibumi – dunia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=953&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><dl>
<dt> <a title="Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium" href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium.jpg"><img title="Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium.jpg?w=192&amp;h=100&#038;h=128" alt="" width="192" height="128" /></a> </dt>
</dl>
<p>oleh : Hifni H. Nizhamul</p>
<p>Tidak ada satu lembar daun pun yang jatuh dari pohonnya tanpa sepengetahuan Allah SWT, tidak ada suatu kejadian pun yang kebetulan. Semua sudah tertulis dialam <strong>Lauhul </strong><strong>Mahfu</strong><strong>z.</strong> Demikianlah kehidupan kita, tentang lahir, rezeki, jodoh dan akhir hayat kita. Segala yang ada dilangit dan segala yang ada dibumi – dunia, tempat kehidupan kita yang terwujud dalam wilayah, negeri dan ranah yang bukan buatan manusia semua berada didalam kekuasaan Allah Swt. Demikian pula jika tiba – tiba rumah dan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh runtuh karena goncangan akibat bencana Gempa dan Tsunami. Akhirnya kita hanya bisa merenung, apalah diri kita ini.</p>
<p><em>Kawan…</em><em>, Lauhul Mahfuz</em> itu ibaratnya Program yang Maha Canggih, sebuah Database yang sangat rumit, yang tidak mungkin terpikirkan oleh manusia. Bahkan<strong> </strong>sebuah LPND – <strong>Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika</strong> yang memiliki peralatan yang super canggih tidak mampu memperediksi kedatangan gempa itu. Begitu pula seorang Teddy Bun yang ahli gempa di Indonesia ini.<span id="more-953"></span></p>
<p>Lama saya merenung, ketika saya dihadapkan pada arti dalam <strong>Surah 17 ayat 16</strong> dikaitkan dengan peristiwa/waktu terjadinya gempa. <em>Face book, group milist,</em> semua menyebutkan bahwa arti surah itu adalah suatu kebenaran. Bukannya saya tidak meyakini, Al Quran dengan segala isinya, namun kegundahan hati ini tidak dapat mengikis kegundahan hati antara kebenaran secara dogma dan kebenaran secara fakta atas bencana yang ada di Ranah Minang. Saya tidak ingin  mendustakan isi Al quran yang tersimpan dalam <em>Lauhul Mahfuz</em> itu. Saya teringat kepada seorang Uztad, yang memberikan pencerahan kepada saya, ada upaya pihak kafir ingin mendustakan tanda tanda yang terdapat dalam Al Quran, namun  bagi saya tetaplah  tidak mudah menyimpulkan bahwa apa yang sudah tertulis didalam surah itu merupakan impikasi dari <strong>Surah 17: 16.</strong> Meskipun setiap kejadian tidak akan hilang lenyap dari pengetahuan Allah bahwa  sesuatu dari sehalus-halus atau seringan-ringan yang ada di bumi atau di langit, dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan tidak ada yang lebih besar, melainkan semuanya tertulis di dalam Kitab yang terang nyata (<em>Lauh Mahfuz). (Surah 10:61)</em></p>
<p>Alhamdulillah saya mendapat pencerahan dari <strong>Buya HMA</strong> di facebook, yang dapat meringankan pikiran saya bahwa kata beliau : “ <em>Rangkayo Evy, tidak bisa kita menyimpulkan suatu peristiwa pada suatu hitungan jam dengan apa yang tersebut didalam Al Quran itu. Yang menjadi takdir  kita adalah keberadaan bumi kita </em><em>di pertemuan lempengan yang rawan bencana</em><em> “.</em> Kalimat ini yang masih terngiang-ngiang dibenak saya dan menyejukkan hati.</p>
<p>Gunung dan bukit, Rumah dan bagunan bertingkat amblas dan bersujud atas kehendak Allah SWT. Tidak ada yang mampu mencegahnya. Tidak ada yang menduga akibat yang ditimbulkan. Rakyat berlari kian kemari – seraya bertakbir <strong>“ Allahu Akbar “</strong> dengan wajah ketakutan. Berulang – ulang sebuah TV swasta mentayangkan tangis pilu, anak anak yang ketakutan atas pengalaman trauma ini. Sayapun menangis. Saya turut ketakutan jika merasakan peristiwa itu.</p>
<p>Orang yang sedang menaiki kendaraan pada saat periswtiwa itu, seakan naik kuda komedi putar sambil ajrutan ajrutan. “ <strong>Allahu Akbar… Asytagfirullah….,</strong> Tanah merekah, seakan ada kerbau dibawah tanah yang bangkit berdiri atau seekor naga bangun dari tidurnya. Pada saat kejadian, ada yang berpelukan karena bumi gunjang ganjing. Ada yang berlarian kian kemari. Ada yang rumahnya terbakar karena lari meninggalkan masakan disaat api sedang menyala. Ada yang tengah mandi sore, tertimpa plafond. Pusat perbelanjaan dimakan api karena korsleting listrik. Lebih lebih yang mengenaskan mereka yang tertimpa bangunan bertingkat seperti di Hotel Ambacang, Gedung Bimbingan Belajar, Kampus perguruan tinggi.. Demikian pula, ada acara perhelatan – yang memilukan hati ketika para tamunya dihantam longsoran bukit. Tinggalah pengantin wanitanya (anak daro) duduk termenung  di Pelaminan sementra pengantin prianya wafat karena dihatam reruntuhan bangunan). Jutaan mata rakyat Indonesia dan bahkan seluruh dunia terkesima menyaksikan gempa yang maha dahsyat ini. Akhirnya kitapun menyatu dalam keharuan yang tiada tara. Sanak dari rantau berdatangan menggalang bantuan. Ada datang dengan cinta ke lokasi bencana.</p>
<p>Akhirnya, yang terucap dalam bathin ini, ada apa dengan ranahku. Seperti halnya dengan peristiwa tsunami di Aceh – yang secara subyektif orang menuding bahwa negeri Serambi Kota Mekkah itu – telah terkontaminasi dengan masalah moralitas. Akankah Ranah Minangku ini akan dituding seperti kejadian tsunami di Aceh itu. Apalagi dikatakan bahwa Ranah Minang adalah bagaikan Serambi Kota Madinah pula…Entahlah…</p>
<p>Saya melihat – pada pasca gempa itu, Hati ini semakin miris, ketika para padusi/bundokanduang – berlarian berebut makanan. Begitu kaum lelakinya. Anak-anak jadi pengemis dijalan-jalan yang dilalui oleh kaum perantau yang datang membagikan makanan.  Disinilah kinerja aparat Pemda setempat teruji dan dinilai oleh pihak lain. Bahkan saya terusik atas pernyataan Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1. Ia menyimpulkan bahwa wanita minang tidak kompak dalam memberikan bantuan penanganan bencana ini. Tidak seperti yang dilakukan oleh perempuan di Jawa ketika adanya bencana gempa di Bantul – Jogyakarta. Apakah itu ? Tidak lain, atas peniliannya terhadap upaya pendirian dapur umum di lokasi bencana. Saya mencoba melakukan pembelaan, bahwa kearifan budaya setempat tidak dapat disamakan ditempat lain. Apalagi kejadian gempa di Sumbar ini, berada di pusat pemerintahannya.  Bagi saya,  jika mengukur kekompakan wanita minang pada suatu peristiwa bencana ini, sungguh dangkal penilaian Ibu Menteri itu,</p>
<p>Beberapa saat setelah peristiwa itu, jangankan gunung, bukit, rumah dan gedung-gedung yang telah bersujud kepada Allah, sepantasnya jualah saya turut bersujud kepada Allah. Bukankah bersujud di hadapan Allah SWT termasuk ibadah yang paling mulia sekaligus sebagai sarana paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.</p>
<p>Ketika mengikuti ceramah Abu Sangkan dalam <em>“pelatihan Sholat Khusuk di tempat Sholat Center – Jati Bening Bekasi,</em> ia menjelaskan bahwa manfaat lain dari banyak bersujud adalah ampunan dan derajat yang tinggi di Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, <em>“Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu.’” </em>(HR. Muslim dari Tsauban Abu Abdullah). Itulah kemuliaan dari perbuatan bersujud karena Allah SWT.</p>
<p>Nah bagaimana dengan Ranah Minangku…??. Saya tidak akan menuding dirimu yang senantiasa tersanjung oleh pamor adat dan budayanya yang bernilai tinggi, Saya tidak akan menudingmu ketika engkau bereforia dengan kejayaan masa lalumu. Saya akan mendukungmu ketika para bundokanduang menjadi limpapeh rumah nan gadang, bukan karena mempertahankan harta bendamu, melainkan ketika membedung, memeluk, dan mendekap anak-anakmu menjadi manusia minangkabau yang berkualitas dan bernilai. Wahai ninik mamak nan gadang basa batuah – nan dianjuang sarato disanjuang dek anak kamanakan. <em>“ Janlah bahampok juo dek pitih sarimih jo ciek piah “.</em> Janganlah sampai kami urang rantau <em>“ kanai kicuah jo ota gadang”</em> sahinggo kami dikatokan alah mampicayoi rukun anam kini alah manjadi tujuah. Apakah itu sanak ? karena dikatakan rukun yang ketujuh adalah, karena kita mempercayai – <strong>ota gadang</strong> – yang diperbicangkan di lapau lapau di Ranah kita. Begitulah oleh oleh yang selalu saya terima ketika pulang kampong sebelum bencana itu datang.</p>
<p>Sudahlah.. mudahan semua keburukan akan berlalu. Marilah kita bersujud bersama wahai Ranah Minanku, seraya berucap : <em>“ Maha suci Tuhanku.. Yang Maha Tinggi. </em></p>
<p>Dan setelah itu kita duduk berdoa seraya berucap <em>: “ Ya Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, cukupkan aku, berilah aku rezeki, angkatlah derajatku, berilah aku hidayah dan sehatkanlah badanku….</em></p>
<p>Dan setelah itu, marilah kita bangkit dengan mata menatap kedepan, sambil berharap akan datangnya sinar yang lebih terang dari ufuk barat – ketika sang mentari muncul dari permukaan kali pagi hari.</p>
<p>Bagaimana cara kita bangkit ? tentunya melalui motivasi dan konsolidasi yang digagas oleh sanak dari rantau yang tak putus-putus datang dengan penuh cinta ke Ranah Minang itu, yang dapat kita laksanakan. Marilah kita doakan agar minangkabau bangkit kembali. Semoga….</p>
Posted in f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN Tagged: rohaniah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/953/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/953/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/953/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=953&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/11/05/kala-bumiku-bersujud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium.jpg?w=150&#38;h=100" medium="image">
			<media:title type="html">Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Motif Ukiran Minangkabau, Warisan dari Yunani Kuno</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/29/motif-ukiran-minangkabau-warisan-dari-yunani-kuno/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/29/motif-ukiran-minangkabau-warisan-dari-yunani-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 05:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN]]></category>
		<category><![CDATA[seni ukir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=946</guid>
		<description><![CDATA[
oleh Zulfadli  (http://mozaikminang.wordpress.com)

Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Warisan Ukiran dari Gandhara, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara kebudayaan hellenisme yang berkembang di Gandhara pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara motif ukiran Minangkabau dengan motif ukiran bergaya hellas yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=946&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img title="GreekGroup" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/greekgroup.gif?w=340&amp;h=182&#038;h=182" alt="GreekGroup" width="340" height="182" /></p>
<p><strong><em>oleh Zulfadli  (http://mozaikminang.wordpress.com)<br />
</em></strong></p>
<p>Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul <a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/warisan-ukiran-dari-gandhara/" target="_blank">Warisan Ukiran dari Gandhara</a>, saya telah menyajikan sebuah hipotesa tentang keterkaitan antara <a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/20/kebudayaan-hellenisme-dari-lembah-sungai-indus-ke-minangkabau/" target="_blank">kebudayaan hellenisme</a> yang berkembang di <a rel="nofollow" href="http://pakistaniat.com/2008/08/01/hellenistic-and-parthian-gandhara/" target="_blank">Gandhara</a> pada sekitar awal abad Masehi dengan kebudayaan yang berkembang di Minangkabau. Objek yang menjadi aspek penelitian saya diantaranya adalah kesamaan antara <a rel="nofollow" href="http://zulfikri.orgfree.com/ukiran01.html" target="_blank">motif ukiran Minangkabau</a> dengan motif ukiran bergaya hellas yang berkembang di Gandhara. Selain itu <a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/sistem-kelarasan-madzhab-ketatanegaraan-minangkabau/" target="_blank">sistem pemerintahan</a> yang berlaku di Minangkabau juga memiliki kemiripan dengan <a rel="nofollow" href="http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=109&amp;fname=sej105_05.htm" target="_blank">sistem ketatanegaraan Yunani kuno</a>, yaitu berbentuk konfederasi nagari yang mirip dengan polis-polis.</p>
<p>Penemuan-penemuan tersebut membawa saya lebih lanjut untuk menelusuri kemiripan-kemiripan ini, utamanya tentang motif ukiran Minangkabau. Saya menelusuri informasi tentang <a rel="nofollow" href="http://karenswhimsy.com/ancient-greek-architecture.shtm" target="_blank">motif-motif ukiran Yunani kuno</a> dan menemukan satu jenis motif dengan kemiripan hampir 80% dengan motif Siriah Gadang yang ada dalam khazanah motif ukiran Minangkabau. Berikut adalah perbandingan kedua motif ukiran:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/ancient-greek-architectur-7.jpg" target="_blank"><img title="ancient-greek-architectur-7" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/ancient-greek-architectur-7.jpg?w=500&amp;h=184&#038;h=184" alt="ancient-greek-architectur-7" width="500" height="184" /></a><em><br />
</em></p>
<p><em>(a) Ancient Greek Carving (Honeysuckle Carving)</em></p>
<p><em><a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/siriah-gadang.jpg" target="_blank"><img title="Siriah Gadang" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/siriah-gadang.jpg?w=491&amp;h=161&#038;h=161" alt="Siriah Gadang" width="491" height="161" /></a><br />
</em></p>
<p><em>(b) Motif ukiran Minangkabau : Siriah Gadang</em></p>
<p><em>Siriah gadang siriah balingka<br />
Kuniang sacoreng diatehnyo<br />
Baaleh batadah tampan<br />
Hulu adat kapalo baso<br />
Pangka kato hulu bicaro<br />
Panyingkok peti bunian<br />
Pambukak biliak nan dalam<br />
</em><em><br />
<strong>Susunan dari Pariangan<br />
Buatan Parpatiah Nan Sabatang</strong><br />
Tidan nan turun dari ateh<br />
Balingka jo mufakat balingka jo limbago<br />
Jadi pusako alam nangko</em></p>
<p>Secara umum kita tidak dapat mengamati kemiripan geometris pada kedua motif ini, karena motif pertama (motif Yunani) lebih sederhana sedangkan motif kedua (motif Minangkabau) lebih kompleks. Namun terdapat unsur unsur khas dari motif Yunani yang selalu ada dalam setiap motif ukiran Minangkabau, yaitu</p>
<ul>
<li>unsur sulur tanaman rambat (tanaman anggur)</li>
<li>unsur tunas daun/pucuk daun/daun muda yang belum berkembang (daun anggur)</li>
<li>unsur buah anggur</li>
</ul>
<p>Berikut adalah gambar dari unsur-unsur tersebut dalam motif ukiran Yunani kuno yang saya ambil dari <em>Honeysuckle Carving dan  Gandhara Scrolls:</em></p>
<p><img title="GreekGroup" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/greekgroup.gif?w=340&amp;h=182&#038;h=182" alt="GreekGroup" width="340" height="182" /></p>
<p>Sedangkan gambar dibawah ini adalah unsur-unsur yang sama yang ditemukan dalam motif ukiran Minangkabau (perhatian! tidak ditemukan unsur-unsur ini dalam ragam motif ukiran etnik-etnik lain di Nusantara. Diluar Yunani, unsur-unsur ini kerap ditemukan pada ukiran-ukiran di Gandhara namun hanya diwariskan secara turun-temurun di Minangkabau dan Turki bagian barat yang berbatasan dengan Yunani (contoh Istanbul).</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/minanggroup.gif" target="_blank"><img title="MinangGroup" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/minanggroup.gif?w=500&amp;h=151&#038;h=151" alt="MinangGroup" width="500" height="151" /></a></p>
<p>Motif Ukiran Minangkabau pada akhirnya berkembang sampai tahap yang sukup maju dan juga mengadopsi gaya-gaya ukiran lain seperti bentuk-bentuk geometris dari Cina dan Tibet, seperti tampak pada motif Aka Barayun dan Saluak Laka dibawah ini:</p>
<p><em>(a) Motif Aka Barayun</em></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/aka-barayun.gif" target="_blank"><img title="Aka Barayun" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/aka-barayun.gif" alt="Aka Barayun" /></a></p>
<p><em>(b) Motif Saluak Laka</em></p>
<p><em><a rel="nofollow" href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/saluak-laka_small.gif" target="_blank"><img title="Saluak Laka_small" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/saluak-laka_small.gif" alt="Saluak Laka_small" /></a></em></p>
Posted in f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN Tagged: seni ukir <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/946/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/946/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/946/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/946/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/946/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/946/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/946/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/946/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/946/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/946/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=946&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/29/motif-ukiran-minangkabau-warisan-dari-yunani-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/greekgroup.gif?w=340&#38;h=182" medium="image">
			<media:title type="html">GreekGroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/ancient-greek-architectur-7.jpg?w=500&#38;h=184" medium="image">
			<media:title type="html">ancient-greek-architectur-7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/siriah-gadang.jpg?w=491&#38;h=161" medium="image">
			<media:title type="html">Siriah Gadang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/greekgroup.gif?w=340&#38;h=182" medium="image">
			<media:title type="html">GreekGroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/minanggroup.gif?w=500&#38;h=151" medium="image">
			<media:title type="html">MinangGroup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/aka-barayun.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Aka Barayun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/saluak-laka_small.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Saluak Laka_small</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>`tradisi malamang `</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/14/tradisi-malamang/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/14/tradisi-malamang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 06:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[e. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[kudapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hifni H. Nizhamul

&#8221; Malamang&#8221; &#8211; artinya memasak lemang.  Lemang adalah penganan yang berasal dari bahan ketan, kemudian  dimasukkan kedalam bambu yang sudah berlapis daun pisang muda.
Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Solok, Bukitinggi, Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=914&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Hifni H. Nizhamul</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-918" title="malamang" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/malamang1.jpg?w=298&#038;h=225" alt="malamang" width="298" height="225" /></p>
<p style="text-align:left;">&#8221; Malamang&#8221; &#8211; artinya memasak lemang.  Lemang adalah penganan yang berasal dari bahan ketan, kemudian  dimasukkan kedalam bambu yang sudah berlapis daun pisang muda.</p>
<p style="text-align:left;">Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau baik di daerah darek (darat), seperti Solok, Bukitinggi, Payakumbuh, maupun di daerah pesisir pantai ; Padang, Pariaman dan Painan. Entah siapa yang mengawali, ternyata lemang ini bisa juga kita temui di negara Semenanjung jenis penganan ini.</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-914"></span></p>
<p style="text-align:left;">Di Ranah Minang &#8211; tradisi Malamang ini,  biasanya dilakukan secara bergotong royong, tidak  dilakukan oleh pribadi untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari kebiasaan yang dilakukan secara bersama oleh sekelompok masyarakat atau kerabat. Praktek pelaksanaan tradisi malamang ini,  dilaksanakan untuk kepentingan tertentu, yaitu :</p>
<p style="text-align:left;">*  Beberapa hari menjelang  datangangnya bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:left;">* Pada hari kedua belas Rabi&#8217;ul Awam sebagai menu pada Acara Maulud Nabi,</p>
<p style="text-align:left;">* Pada saat acara perhelatan /acara selamatan.</p>
<p style="text-align:left;">Lemang &#8211; lemang yang dibuat untuk kepentingan acara diatas,  dihidangkan kepada tamu (atau siapa saja) yang datang pada kegiatan itu. Lamang ini hanya sekedar  kudapan atau penganan belaka.</p>
<p style="text-align:left;">Ada yang menghidangkannya pada saat menerima tamu yang berkunjung untuk silaturahmi untuk menyambut datangnya Ramadhan sebagai event yang penting dalam acara saling bermaaf -maafan, termasuk pada saat Hari Raya. Bisa juga dihidangkan ketika sebuah keluarga mengundang warga untuk membaca doa selamat / perhelatan. Tingkat penghidangan lemang sebagi menu kudapan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu &#8211; seperti halnya rendang sebagai menu utama dalam ragam menu hidangan.</p>
<p style="text-align:left;">Wilayah <strong>Pariaman</strong> dan sekitarnya melaksanakan tradisi &#8221; malamang&#8221; pada saat acara Maulud Nabi. Biasanya dilakukan pada hari kedua belas Rabiul Awal. Sementara itu, di sebagian masyarakat Minangkabau seperti di <strong>Solok,</strong> tradisi malamang juga dilaksanakan pada saat memperingati hari kematian. Utamanya pada peringatan empat belas hari kematian, empat puluh hari kematian atau seratus hari kematian. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan yang lain, yaitu untuk menjamu tamu</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.west-sumatra.com/index.php?option=com_ybggal&amp;Itemid=27&amp;pdisp=latest&amp;picid=5167"><img src="http://www.west-sumatra.com/ybggalthumb/1061/aeed613bMalammang.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Cara memasaknya :</strong></p>
<p style="text-align:left;">Ketan yang sudah direndam dengan santan, dimasukkan kedalam bambu yang tahan pembakaran api.  Bersihkan daun pisang yang sudah dilayukan. Fungsi daun pisang sebagai lapisan dalam bambu seruas yang telah dipersiapkan, selanjutnya dimasukan beras ketan yang sudah diaduk dengan santan kental serta garam.</p>
<p style="text-align:left;">Bambu dibakar  dalam waktu tertentu,  hingga ketan yang ada didalam bambu itu akan masak itu. &#8220;Yang sulit itu, mematok takaran santan dengan garam serta beras ketan pada satu ruas bambu itu. Begitu pula dengan pengapiannya.   Takaran ketan yang dimasukkan kedalam bambu memerlukan keahlian dan ktrampilan, agar ketan itu tidak menjadi terlalu lembek atau malahan kekurangan santan.  Secara awam, dapat kita perkirakan dengan mengumpamakan memasak ketupat ketan, yang takarannya adalah 1/2 dari ruang atau ruas ketupat.</p>
<p style="text-align:left;">Meskipun lemang dihidangkan sebagai menu kudapan &#8211; bukan sebagai menu utama, namun lemang ini akan terasa nikmat bila ditemani tapai ketan hitam. Bahkan ada yang memakannya bersama rendang.</p>
Posted in e. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU Tagged: kudapan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/914/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=914&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/14/tradisi-malamang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/malamang1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">malamang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.west-sumatra.com/ybggalthumb/1061/aeed613bMalammang.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kearifan lokal Wanita Minangkabau</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/13/kearifan-lokal-wanita-minangkabau/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/13/kearifan-lokal-wanita-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 07:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[h. SUARA PADUSI]]></category>
		<category><![CDATA[tata kelakuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Hifni H. Nizhamul
Diantara lima besar suku bangsa terbesar di Indonesia yang tumbuh di alam NKRI, seperti Jawa, Minangkabau, Batak, Bugis, Madura, maka Minangkabau jelas tetap diperhitungkan sebagai suku bangsa yang unik, egaliter dan demokrasi yang ditegakkan secara konsisten. Kehidupan masyarakatnya jauh dari paham paham feodalisme. Masyarakatnya tumbuh dalam kondisi masyarakat  yang selalu ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=908&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>oleh : Hifni H. Nizhamul</strong></p>
<p><strong><img title="DSC00229" src="../files/2009/10/dsc00229.jpg" alt="DSC00229" width="266" height="199" />D</strong>iantara lima besar suku bangsa terbesar di Indonesia yang tumbuh di alam NKRI, seperti Jawa, Minangkabau, Batak, Bugis, Madura, maka Minangkabau jelas tetap diperhitungkan sebagai suku bangsa yang unik, egaliter dan demokrasi yang ditegakkan secara konsisten. Kehidupan masyarakatnya jauh dari paham paham feodalisme. Masyarakatnya tumbuh dalam kondisi masyarakat  yang selalu ingin berubah menuju arah perbaikan. Akan tetapi masih ada sistem sosial kemasyarakatan yang tetap belum terkikis habis, yaitu <strong>sistem matriarkatnya dan masalah harta pusaka. </strong></p>
<p>Walau mengalami berbagai benturan—dari dalam masyarakat Minang sendiri maupun dari luar, yang ingin menegakkan <em>Adat bersendi syara&#8217; dan syara&#8217; bersendi kitabullah</em> sejak dicanangkan pada <em>pasca Perang Paderi </em>sampai sekarang—namun ternyata sistem matriarkat Minangkabau menunjukkan resistensi dan relatif bertahan.</p>
<p>Mengapa sistem matriarkat dan Islam dapat hidup berdampingan di Ranah Minang? Padahal keduanya mengatur tata aturan yang saling bertolak belakang.</p>
<p><span id="more-908"></span></p>
<p>Didalam pengambilan garis keturunan &#8211; Islam menetapkan <em>Nasab Ayah</em> sebagai penarikan garis keturunan, sementara pada sistem matrilinial &#8211; adat menetapkan <em>Ibu </em>sebagai penarikan garis keturunan.</p>
<p>Begitu kuatnya kedudukan sistem matrilinial, maka solusi yang dilakukan oleh masyarakat minangkabau baik yang ada ranah maupun yang ada di Rantau adalah : melaksanakan sistem matrilinial dengan pola ABS &#8211; SBK, yaitu : <em>seorang anak bernasab kepada ayah dan bersuku ke ibu.</em> Dengan demikian kedudukan wanita didalam keluarganya tidak tegeser oleh batasan agama.</p>
<p>Didalam kancah nasional, ketika wanita Indonesia diberi kesempatan untuk berkiprah sehingga dapat menduduki posisi posisi puncak dalam suatu lembaga, namun belum ada wanita minang yang mencapai posisi itu. Sementara adat dan budayanya juga telah  mengedepankan posisi dan peran wanita minang sebagaimana yang diposisikan dalam peran sebagai bundokanduang. Apa yang menyebabkan demikian ?</p>
<p>Berbicara mengenai rumah dan keluarga, tentu terkait erat dengan kaum wanita. Dahulu pada <strong>Pasca Perang Paderi, </strong>dicoba  menerapkan <em>konsep Islam ‘murni’ di Ranah Minang</em>. Kedudukan wanita Minang dalam keluarga yang sudah lama diatur menurut sistem matriarkat yang melegitimasi garis keturunan melalui kuasa ibu (wanita), pada mulanya sedikit tergoncang.</p>
<p>Akan tetapi mengingat &#8211; wanita/perempuan/ibu &#8211; yang digambarkan sebagai b<em>undokanduang &#8211; sebagai limpapeh (limpapeh/tiang) rumah nan gadang ( rumah tangga), ternyata </em>tidak dapat tergeser begitu saja, hanya oleh karena semata adanya penerapan islam murni tadi. Mengapa demikian ? Diakrenakan  peran sosial wanita minang lebih mengutamakan untuk kepentingan keluarga / rumah tangga, termasuk keluarga besarnya  sebagaimana ia memposisikan dirinya. Bukan  bagi kepentingan masyarakat luar.</p>
<p>Secara  gamblang, kita memang   tidak melihat peran kemasyarakatan  wanita minang didalam kancah Nasional melebihi kemampuan kodrati wanita.  Katakanlah menjadi kepada Lembaga, Kepala Daerah, dan bahka menjadi orang nomor satu dijajaran keamanan negara. Namun demikian, bukan berarti wanita minangkabau  <strong>tidak memiliki nyali </strong>sebagai pemimpin seperti yang selalu dipertanyakan oleh kalangan pria minang sendiri. Melainkan karena kesadaran harkat ( kemampuan kodrati) dan martabat (harga diri) wanita minang yang tidak ingin menuntut kesetaraan gender melebihi  keseimbangan hidupnya sebagai wanita yang dimuliakan oleh adat dan budayanya termasuk kaum pria minang sendiri.</p>
<p>Dari sisi kuunggulan atau mungkin juga kelemahannya, dapat dikatakan bahwa wanita minangkabau terlena dengan sanjungan dan penghormatan adat dan budaya yang diberikan kepadanya.</p>
<p>Demi menghargai sikap hidup dan pandangan adat dan budaya bagi wanita minangkabau didalam menjalani peran sosialnya, marilah kita jadikan sikap dan pandangan hidup ini sebagai kearifan lokal wanita Minangkabau.</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan kearifan lokal itu ? <em>Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat </em><em>“local wisdom” atau </em>pengetahuan setempat<em> “local knowledge”atau </em> kecerdasan setempat <em>“local genious”</em>. <em>&#8220;Kearifan lokal adalah sikap dan pandangan hidup serta berbagai polakehidupan yang diwujudkan dalam aktivitas keseharian yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka didalam masyarakat. </em></p>
<p>Kearifan lokal wanita minangkabau diwujudkan dalam kesetaraan gender yang tidak melebihi batasan  kodratinya. Misalnya ia tidak akan menjadi kuli bangunan seperti yang dilakukan oleh wanita Bali. Menjadi buruh angkat seperti yang dilakukan oleh wanita Jawa. Meskipun di Minangkabau memiliki prinsip &#8221; tulang salapan karek &#8220;, yang akan memberdayakan depalan potong anggota tangan dan kakinya dalam ia bekerja dan berusaha. Tentunya kita tidak ingin kearifan lokal wanita minangkabau akan persis sama di lain tempat. Kearifan lokal dilain tempat dalam kebiasaan yang berbeda tidak bisa disamakan persepsinya untuk berbagai persoalan dan setiap aktivitas.</p>
<p>Saya terusik oleh penyataan <strong>Menteri Kesehatan RI</strong>, ketika ia menyimpulkan cara penanganan tanggap darurat musibah Gempa Sumbar. <span id="profile_status"><span id="status_text"><strong>Menkes</strong> berpendapat bahwa cara wanita minangkabau dalam menghadapi bencana berbeda dg wanita jawa atau sunda. Dia mensinyalir bahwa wanita di jawa/sunda lebih kompak. Contohnya ketika kerjasama membuat dapur umum dalam mengantisipasi musibah gempa. </span></span>Sementara wanita minang bekerja sendiri sendiri. Untuk kepentingan tanggap darurat, memang kehadiran dapur umum seperti yang ada di Bantul dan Jogya, memang cukup efektif. Tentunya situasi yang diceritakan oleh Menkes itu, tidak bisa mengeneralisir pola dan tatanan wanita minangkabau, yang sikap acuh, tidak bisa kerjasama, dan tidak saling tolong menolong.</p>
<p>Dahulu dalam menjalani aktivitas sosial kemasyarakatan, wanita minangkabau sudah terbiasa dengan pekerjaan yang disebut <strong>Alek Randam. </strong>Kegiatan alek randam adalah situasi  kegiatan yang bersifat imbauan. Sesama mereka saling mengundang &#8211; sesama mereka saling berkerja sama, yang diawali dengan pemberitahuan tentang adanya kegiatan yang hendak dilaksanakan. Demikian pula ketika terjadi musibah/kemalangan. Wujud dari kerja berhamburan terlihat dari kedatangan mereka pergi melayat dengan membawa beberapa liter beras yang dikemas dalam sebuah tempat yang khusus.</p>
<p>Kegiatan alek randam, meliputi kegiatan persiapan hingga kegiatan pelaksanaan. Situasi ini mungkin terjadi karena adanya berita gembira dan suka cita yang harus disyukuri bersama diantara kalangan wanita itu sendiri. Kegiatan itu meliputi ; kegiatan memasak, membuat kueh dan lain-lain.</p>
<p>Kehadiran organisasi Bundokanduang,  lebih banyak difungsikan sebagai mitra  perpanjangan tangan pemerintah untuk pemberdayaan kekuataan masyarakat dibawah kendali pemerintah daerah. Nyatanya ketika musibah datang menimpa Sumbar pada 30 september 2009, kita tidak mendengar &#8211; atau mungkin lenyap peran kelembagaannya.</p>
<p>Barangkali inilah yang ditengarai oleh Ibu Menkes, ketika ia membuat kesimpulan yang agak dangkal untuk menilai ketidak kompakan wanita minangkabau dalam menangani bencana. Sebagai seorang Birokrat tentu ia menilai dari sisi kelembagaan. Akan tetapi dalam penilaian yang obyektif, maka kita menyimpulkan bahwa kepedulian sosial wanita minangkabau memang lebih ditujukan kedalam keluarga ketimbang didalam masyarakat. Ke arifan lokal yang demikian ini bukan berarti bahwa wanita minangkabau itu tidak kompak, tidak peduli terhadap lingkungan tetangganya melainkan situasi yang cheos, tidak bisa mengeneralisir suatu penilaian.</p>
<p>Mudah-mudahan kita dapat membangkitkan kembali semua nilai-nilai atau kearifan-kearifan yang ada dalam masyarakat adat yang selama ini telah mengalami kehancuran dan untuk mewujudkan hal itu semua tak lepas dari partisipasi seluruh elemen yang terkait.***</p>
Posted in h. SUARA PADUSI Tagged: tata kelakuan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/908/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/908/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/908/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=908&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/13/kearifan-lokal-wanita-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2009/10/dsc00229.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00229</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ranah Bundo kanduang menangis</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 06:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[


Banyak orang yang mengkaitkan peristiwa kejadian gempa dengan ayat yang terkandung dalam surah Al-Isra&#8217; ayat 16 berbunyi : &#8221; Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup ewah dinegeri itu agar mentaati Allah, tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan didalam negeri, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan hukum kami, kemudian kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=891&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br />
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/0038432p/' title='0038432p'><img width="150" height="113" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0038432p.jpg?w=150&#038;h=113" class="attachment-thumbnail" alt="" title="0038432p" /></a>
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/0040072p/' title='0040072p'><img width="150" height="113" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0040072p.jpg?w=150&#038;h=113" class="attachment-thumbnail" alt="" title="0040072p" /></a>
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/0042338p/' title='0042338p'><img width="150" height="113" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0042338p.jpg?w=150&#038;h=113" class="attachment-thumbnail" alt="" title="0042338p" /></a>
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium/' title='Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium'><img width="150" height="100" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium.jpg?w=150&#038;h=100" class="attachment-thumbnail" alt="" title="Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium" /></a>
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/bundo-menangis/' title='bundo menangis'><img width="150" height="92" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/bundo-menangis.jpg?w=150&#038;h=92" class="attachment-thumbnail" alt="" title="bundo menangis" /></a>
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/anak-daro-bersedih/' title='anak daro bersedih'><img width="150" height="106" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/anak-daro-bersedih.jpg?w=150&#038;h=106" class="attachment-thumbnail" alt="" title="anak daro bersedih" /></a>
<a href='http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/bebek/' title='bebek'><img width="150" height="101" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/bebek.jpg?w=150&#038;h=101" class="attachment-thumbnail" alt="" title="bebek" /></a>

<p><img class="alignnone size-full wp-image-894" title="0038432p" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0038432p.jpg?w=200&#038;h=152" alt="0038432p" width="200" height="152" /><img class="alignnone size-full wp-image-898" title="Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium.jpg?w=228&#038;h=152" alt="Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium" width="228" height="152" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-895" title="0040072p" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0040072p.jpg?w=200&#038;h=152" alt="0040072p" width="200" height="152" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-896" title="0042338p" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0042338p.jpg?w=200&#038;h=151" alt="0042338p" width="200" height="151" /></p>
<p>Banyak orang yang mengkaitkan peristiwa kejadian gempa dengan ayat yang terkandung dalam surah Al-Isra&#8217; ayat 16 berbunyi : <em>&#8221; Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup ewah dinegeri itu agar mentaati Allah, tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan didalam negeri, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan hukum kami, kemudian kami binasakan sama sekali negeri itu.&#8221;</em></p>
<p>Apakah kita harus  mengkaitkan setiap peristiwa gempa ditempat lain yang sama penyebabnya karena adanya pergerakan  pergerakan kulit bumi menuju keseimbangan baru. Bukankah menurut para ahli, gempa yang barusan terjadi ternyata belumlah gempa yang di ramalkan. Akan muncul pula gempa yang jauh lebih besar yaitu gempa  caesar Mentawai. Bila patahan ini terjadi  akan mengeluarkan energi yang selama ini tersimpan cukup lama dan akan menimbulkan gempa 9 skala reighter.  Dan kalau ini terjadi akan meluluh lantakan bangunan yang sekarang masih tersisa. <strong>Masya Allah.</strong></p>
<p>Dimanapun bencana yang terjadi, seperti yang terjadi di Aceh, Bantul/Jogyakarta,Tasikmalaya, dipastikan menimbulkan  korban  jiwa, benda, dll.</p>
<p>Yang menjadi perenungan kita bersama adalah benarkah ada korelasi antara peristiwa gempa dengan firman Allah yang terkandung dala surah 17 ayat 16 ini. Bagaimana dengan gempa yang terjadi pada waktu sebelumnya,  di wilayah lain. Apa perlu kita mengkaitkan dengan semua yang terkandung dalam firman tadi.</p>
<p>Menurut pendapat saya,  adanya firman Allah SWT ini , yang dikaitkan dengan peristiwa gempa itu. Marilah kita simpulkan bahwa, disinilah letak kekuasaan Allah pada semua CiptaanNya.  Bertawakalkah selalu kepadaNya. Setiap musibah merupakan ujian, teguran dan mungkin juga sebagai hukuman.   Sebab bencana yang sama juga akan terjadi dimanapun yang dikehendaki Allah.</p>
<p><span id="more-891"></span></p>
<p>Berdasarkan pernyataan ini, maka bukan berarti kita ingin membiarkan noda noda yang mungkin telah mencemari keanggunan adat dan budaya di Ranah Minang. Yang ternyata telah terkontaminasi dan merusak tatanan kehidupan adat dan budaya yang bernilai tinggi itu.</p>
<p>Bila kita menengok alam minangkabau yang  indah permai, adalah karena kehendak  Allah jua yang menempatkan manusianya  memiliki kecerdasan, kreatif dan mampu memberdayakan potensi dirinya.  Serendah apapun kemampuannya, pasti bermanfaat bagi orang lain, seperti bunyi pepatahnya yang menyatakan :<em> &#8221; nan buto pamhambuih suluah, nan lumpuah panumbuak lasuang&#8221;.</em> <em>Nan buto bisa bakarajo samo jo nan lumpuah. Nan buto mandukuang nan lumpuah dan nan lumpuah manunjuakkan jalan pado nan buto untuk bajalan basamo samo. Mancari hiduik jo tulangnyo nan salapan karek. </em> <em>Karajo elok baimbauan dan karajo buruak dek musibah bahambauan.</em></p>
<p>Barangkali inilah yang akan menjadi obat penawar dikala kita mengalami musibah seperti yang terjadi di ranah miang ini. Ranah bundokanduang, memiliki alam yang subur &#8211; indah dan permai.  Manusianya memiliki tatanan kehidupan adat dan budaya yang bernilai tinggi. Norma  adat dan budaya yang diciptakan ninik moyang minangkabau masa dahulu, menjadikan masyarakat di wilayah itu memiliki keunikan tersendiri dalam pelaksanaan sistem kekerabatan dan sistem kemasyarakatan. Inilah yang akan tersisa dan mesti dipertahankan oleh siapapun jua&#8230;</p>
Posted in f. ARTIKEL KEMINANGKABAUAN Tagged: umum <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/891/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=891&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/08/ranah-bundo-kanduang-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0038432p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">0038432p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/desa-jawi2-pariaman-_terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Desa-Jawi2-Pariaman-_Terdpt-77-kk_kondisi-desa-rusak-parah-2_medium</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0040072p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">0040072p</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/0042338p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">0042338p</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koleksi batik minangkabau &#8221; batik tanah liek&#8221;.</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/06/koleksi-batik-minangkabau-batik-tanah-liek/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/06/koleksi-batik-minangkabau-batik-tanah-liek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 13:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[i. RAGAM BUSANA WANITA MINANG]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=872</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai bangsa indonesia, kita bangga dengan dikukuhkannya &#8221; batik&#8221; sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia. Dimanakah letak keindahan batik itu ? Dan apa yang menyebabkan kita bangsa Indonesia memperjuangkannya sebagai karya cipta bangsa ?.Sesungguhnya apa yang menyebabkan kita harus memperjuangkannya sebagai warisan budaya ? Selain ada batik dari Jawa, Madura, Kalimantas dan di Sumatera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=872&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebagai bangsa indonesia, kita bangga dengan dikukuhkannya &#8221; batik&#8221; sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia. Dimanakah letak keindahan batik itu ? Dan apa yang menyebabkan kita bangsa Indonesia memperjuangkannya sebagai karya cipta bangsa ?.Sesungguhnya apa yang menyebabkan kita harus memperjuangkannya sebagai warisan budaya ? Selain ada batik dari Jawa, Madura, Kalimantas dan di Sumatera ada batik Jambi dan Bengkulu, maka pada halaman ini kami perkenalkan koleksi motif  batik dari minangkabau, yang dikenal dengan &#8220;batik tanah liek &#8220;.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-875" title="PIC_3243" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3243.jpg?w=298&#038;h=223" alt="PIC_3243" width="298" height="223" /><img class="alignnone size-full wp-image-876" title="PIC_3244" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3244.jpg?w=297&#038;h=223" alt="PIC_3244" width="297" height="223" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-871" title="PIC_3241" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3241.jpg?w=300&#038;h=239" alt="PIC_3241" width="300" height="239" /><img class="alignnone size-full wp-image-873" title="PIC_3242" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3242.jpg?w=293&#038;h=237" alt="PIC_3242" width="293" height="237" /><img class="alignnone size-full wp-image-881" title="Foto(1401)" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto1401.jpg?w=300&#038;h=223" alt="Foto(1401)" width="300" height="223" /><img class="alignnone size-full wp-image-883" title="Foto(1402)" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto14021.jpg?w=293&#038;h=220" alt="Foto(1402)" width="293" height="220" /><img class="alignnone size-full wp-image-884" title="Foto(1403)" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto1403.jpg?w=296&#038;h=221" alt="Foto(1403)" width="296" height="221" /><img class="alignnone size-full wp-image-885" title="Foto(1404)" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto1404.jpg?w=295&#038;h=218" alt="Foto(1404)" width="295" height="218" /></p>
Posted in i. RAGAM BUSANA WANITA MINANG Tagged: batik <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/872/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/872/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/872/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=872&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/10/06/koleksi-batik-minangkabau-batik-tanah-liek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3243.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PIC_3243</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3244.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PIC_3244</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3241.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PIC_3241</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/pic_3242.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PIC_3242</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto1401.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(1401)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto14021.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(1402)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto1403.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(1403)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/10/foto1404.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto(1404)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Baganyi&#8230;..</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/09/07/baganyi/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/09/07/baganyi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 03:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[e. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[tata kelakuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[
Written by Ali Nurdin
Kata baganyi diambil dari bahasa minang, mungkin kata lainnya adalah mamanggok, merajuk. Namun pengertiannya belum dapat saya jelaskan pada kesempatan ini, karena merupakan suatu sifat yang hampir dimiliki oleh setiap manusia. Contonya ; apabila seorang anak menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya, namun keinginan itu tidak dipenuhi, maka ia akan berupaya mencari perhatian dengan orang dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=864&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-865" title="untitled-32ol" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/09/untitled-32ol.jpg?w=92&#038;h=140" alt="untitled-32ol" width="92" height="140" /></p>
<p>Written by Ali Nurdin</p>
<p>Kata <a href="void(0)">baganyi</a> diambil dari bahasa minang, mungkin kata lainnya adalah <strong>ma<em>manggok</em>, <em>merajuk</em></strong>. Namun pengertiannya belum dapat saya jelaskan pada kesempatan ini, karena merupakan suatu sifat yang hampir dimiliki oleh setiap manusia. Contonya ; apabila seorang anak menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya, namun keinginan itu tidak dipenuhi, maka ia akan berupaya mencari perhatian dengan orang dengan bersikap ekspresif.</p>
<p><strong><em>Baganyi</em></strong> bukan saja dilakukan oleh anak yang masih kecil, juga ada dilakukan oleh orang dewasa bahkan dalam kehidupan berumah tanggapun sering hal ini terjadi. Jika kita mau melihat apa yang terjadi ditengah keluarga kita sendiri &#8220; <em>ditukiakan pandangan dakek dilayangkan pandangan jauah&#8221; </em>pada  ( Bapak dan ibu, keluarga kakak/ adik kita ) atau pada keluarga orang lain, mungkin kita pernah temui dan dengar adanya diantara mereka yang baganyi .</p>
<p>Secara umum pada masa lalu yang sering persoalan baganyi dalam sebuah keluarga itu terjadi pada pihak laki-laki (suami ). Kenapa ?</p>
<p><span id="more-864"></span></p>
<p>Saya pernah tanya kepada salah seorang tua dikampung. Mengapa harus seorang suami/bapak yang melakukan baganyi ini. Apakah sudah tidak tercapai komunikasi dalam suatu rumah tangga/keluarga, sehingga sikap ini yang terpaksa dilakukannya.</p>
<p>Seorang tua itu menjawab :  &#8221; Sacara umum kito laki laki diminangkabau dalam barumahtanggo harus bisa menjago martabatnya agar ia tidak mendapat malu. Jika seorang suami belum mampu membangun rumah tangga sendiri, berarti ia hanya menumpang di rumah mertuanya ( orang tua perempuan). Istilah yang disimpulkan oleh kaum lelaki minang sendiri, yaitu : <em>menjadi abu diateh tunggua</em>. Walaupun ia adalah urang sumando yang ditatiang ba&#8217; manatiang minyak didulang.</p>
<p>Kenyataan yang terjadi,  seandainya sang suami itu tidak mampu membangun rumah tangga sendiri karena sang isteri harus menetap dirumah orangtuanya/rumah gadang, maka sikap baganyi  sering kita temui, baik sejak zaman dahulu maupun hingga keluarga minang modren sekarang ini.</p>
<p>Baganyi itu dilakukank, apabika mendapati para suami yang meninggalkan rumah isterinya dan memilih menginap di mesjid/ suarau. .</p>
<p>Bahkan banyak suatu keluarga muda yang membangun rumah sendiri akan tetapi tetap barado ditanah pusako isterinya. Jika perkawinan itu berjalan harmonis, tentu tidak menjadi masalah. Akan tetapi apabila terjadi masalah maka peristiwa rajuk merajuk atau memanggok ini &#8211; menjadi hal yang lumrah.</p>
<p>Ketidak harmonisan ditunjukkan bahwa sang suami, ketika ia  tidak pulang ke rumah dalam kurun waktu yang cukup lama. Jika hal ini dibiarkan tanpa ada suatu penyelesaian, maka berakibat bubarnya ikatan perkawinan.</p>
<p>Meskipun sikap baganyie &#8211; mamanggok &#8211; merajuk, suatu proses unjuk rasa dari sang suami kepada isteri dan keluarga, tentu ada beberapa yang perlu diingat oleh para suami/ rang sumando sebagai berikut :</p>
<p>1.  hendaknya sikap merjauk ini tidak diketahui oleh sang mertua atau kerabat isteri laninnya yang menginterpreatsi adanya pertengkaran.</p>
<p>2.  Merajuk merupakan sikap yang ditunjukkan untuk mengindari KDRT &#8211; perbuatan kasar kepada sang isteri.</p>
<p>3.  Hindari pertengkaran didepan anak-anak</p>
<p><strong>Kemana laki-laki ( suami ) pergi jika baganyi ?</strong></p>
<p>Pada masa dahulu, pihak suami/ bapak  yang baganyi atau merajuk pergi keluar dari rumah tangga dengan cara pergi menginap ke mesjid / surau dikampung orang tuanya. Disini ia bergabung dengan para pemuda remaja lainnya dan termasuk di surau itu. Surau tidak saja sebagai rumah ibadah, melainkan sangat banyak fungsinya :  untuk tempat belajar agama dan adat bagi para generasi muda juga berfungsi untuk orang baganyi dan duda.</p>
<p><strong><em>Trik untuk jemput suami yang baganyi.</em></strong></p>
<p>Setiap ada penyakit pasti ada obatnya mungkin itulah kata yang tepat bagi wanita yang ditinggal suami yang sedang baganyi.</p>
<p>dalam artikel ini, saya kisahkah bagaimana cara mengakhiri sikap baganyi yang dilakukan oleh seorang suami pada zaman dahulu.</p>
<p><em>&#8221; Pada suatu kali ada seorang perempuan datang menemui Tuanku ( buya ) pada sebuah surau. Dengan wajah yang agak kusut wanita setengah baya ini datang menemui tuanku yang sedang asyik mengajar anak didiknya. Setelah selesai mengajar lantas sang guru menyuruh wanita ini masuk setelah seblum itu disuruh ambil air wudhuk terlebih dahulu sebagaimana biasa yang dipelakukan kepada siapa yang datang bertanya khusus kepadanya.</em></p>
<p><em>Tanpa menunggu lama,  Tuanku ( buya ) lansung bertanya kepada wanita yang tengah berada dihadapannya itu :</em></p>
<p><strong><em>Tuanku :</em></strong><em> Apa tujuan ibuk datang kamari ?</em></p>
<p><strong><em>Wanita : </em></strong><em>Minta tolong tuanku</em></p>
<p><strong><em>Tuanku :</em></strong><em> apa kira-kira yang bisa saya bantu</em></p>
<p><em>Dengan agak setengah tergegap wanita ini menceritakan prihal tentang dirinya</em></p>
<p><strong><em>Wanita : </em></strong><em>Tolong awak tuanku tunjuak-an jalan </em><a href="void(0)"><em>baa</em></a><em> caronyo ayah anak awak alah 2 minggu indak pulang, wak cubo </em><a href="void(0)"><em>japuik</em></a><em> dek anak samo adik awak, alun juo namuah pulang nyolai baa caronyo lai tuanku.</em></p>
<p><strong><em>Tuanku : </em></strong><em>Sambil menggiling rokok daun nifahnya tuanku ini lansung menjawab, dan betanya kepada wanita itu. Lai tuluih dari hati ibuk untuak manjapuiknyo pulang baliak ? dan Lai kadirubah apo nan manjadi panyabauk suami ibuk baganyi/indak pulang ? katigo lai ndak ado niat jahat dihati ibuk kapado suami jikok </em><a href="void(0)"><em>inyo</em></a><em> babaliak pulang ?</em></p>
<p><strong><em>Wanita : </em></strong><em>Lai tuanku</em></p>
<p><strong><em>Tuanku :</em></strong><em> </em><a href="void(0)"><em>dima</em></a><em> </em><a href="void(0)"><em>lalok</em></a><em> suami ibuk tu kini, apo lai tau ibuk</em></p>
<p><strong><em>Wanita : </em></strong><em>Lai tuanku, kecek anak dan adiak awak disurau dikampuangnyo</em></p>
<p><strong><em>Tuanku : </em></strong><em>kok katigo syarat tu alah bisa ibuk panuhi InsyaAllah suami ibuk bisa baliak pulang karumah ibuk, tapi harus ibuk sendiri nan manjapuiknyo.</em></p>
<p><strong><em>Wanita :</em></strong><em> jadi tuanku</em></p>
<p><strong><em>Tuanku :</em></strong><em> Dangakan elok-elok </em><a href="void(0)"><em>ambo</em></a><em> </em><a href="void(0)"><em>agiah</em></a><em> tahu caronyo, besok hari kamis malam ibuk kiro-kiro jam 11.00 malam mandi dan pakai sampo nan paliang rancak dan harum. Setelah itu cari kawan padusi atau adiak ibu untuk kakawan kasitu, sudah mandi ibuk pakai pakaian agak rancak nan alah diagiah minyak harum ( parfum ), kok bisa sampai tibo ibuk disurau tampeknyo lalok tu muko dan rambut ibuk masih agak lambok. Satibo disitu ibuk lansung bangunkan dia dengan memegang tangannya dan bisikan apa yang mau ibuk bilang kepadanya sambil menggeserkan muka dan rambut ibuk yang masih basah itu, setidak tidaknya bisik ibuk kepadanya ;</em></p>
<p><em>&#8221; Uda marilah pulang lalok dirumah. Lakukanlah berulang-ulang kali n sampai ia benar sudah bangun dan berdiri dan sesudah itu terserah ibuk&#8230;. Insyaallah makbul&#8230;..</em></p>
<p>Cerita pendek diatas terjadi masa lalu. Mungkin saat ini sudah banyak trik lain yang lebih menarik, namun setidak tidaknya dapat sebagai pelajaran dan perbandingan bagi kita dimasa akan datang. Semoga ada manfaatnya&#8230; mohon maaf jika disana sini ada kekurangan .</p>
<p>Artikel diedit dari  Cimbuak.net. Wednesday, 30 January 2008</p>
Posted in e. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU Tagged: tata kelakuan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/864/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/864/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/864/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=864&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/09/07/baganyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2009/09/untitled-32ol.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">untitled-32ol</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Harato Pusako Tinggi</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/21/tentang-harato-pusako-tinggi/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/21/tentang-harato-pusako-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 04:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[b. ADAT MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[harta pusaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Written by Azmi Dt.Bagindo
Perbedaan pendapat tentang harta pusako ini sebenarnya  telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Beliau mengarang sebuah kitab berjudul : Ad Doi’ al Masmu’ fil Raddi ‘ala Tawarisi al ‘ikwati wa Awadi al Akawati ma’a Wujud al usuli wa al Furu’i, yang artinya : Dakwah yang didengar Tentang Penolakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=823&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Written by Azmi Dt.Bagindo</p>
<p><img title="Azmi Dt Bagindo" src="http://palantaminang.files.wordpress.com/2009/07/azmi-dt-bagindo1.jpg?w=150&amp;h=112&#038;h=112" alt="Azmi Dt Bagindo" width="150" height="112" />Perbedaan pendapat tentang harta pusako ini sebenarnya  telah terjadi sejak dari Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawy. Beliau mengarang sebuah kitab berjudul : <strong>Ad Doi’ al Masmu’ fil Raddi ‘ala Tawarisi al ‘ikwati wa Awadi al Akawati ma’a Wujud al usuli wa al Furu’i,</strong> yang artinya : <em>Dakwah yang didengar Tentang Penolakan Atas Pewarisan Pewarisan Saudara dan anak Saudara Disamping Ada Orang Tua dan Anak</em>. Kitab itu di Tulis di Mekah pada akhir abat ke XIX. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 275).  Namun, beliau berbeda pendpat  dengan murid beliau seperti <strong>Syekh Dr.H.Abd.Karim Amrullah.</strong></p>
<p><strong><span id="more-823"></span><br />
</strong></p>
<p>Murid beliau <strong>Syekh Rasul ( H.Abdul Karim Amrullah ) &#8211; </strong>ulama yang belakangan  ini melihat harta pusaka dalam bentuk yang sudah terpisah dari harta pencarian. Beliau berpendapat bahwa harta pusaka itu,  sama keadaannya dengan harta wakaf atau harta musabalah yang pernah diperlakukan oleh <strong>Umar ibn Kattab </strong>atas harta yang didapatnya di Khaybar,  yang telah dibekukan tasarrufnya dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penyamaan harta pusaka dengan harta wakaf tersebut walaupun ada masih ada perbedaannya, adalah untuk menyatakan bahwa harta tersebut tidak dapat diwariskan. Karena tidak dapat diwariskan, maka terhindarlah harta tersebut dari kelompok harta yang harus diwarisklan menurut hukum Faraid; artinya tidak salah,  kalau padanya tidak berlaku hukum Faraid.<!--more--></p>
<p>Pendapat beliau ini di ikuti oleh ulama lain di antaranya <strong>Syekh Sulaiman ar Rasuli. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 278)</strong></p>
<p>Kemudian  Buya Hamka berpendapat tentang harta pusaka  sebagai berikut :</p>
<p><em>- Yang pertama, </em>“Bahwa Islam masuk ke Minangkabau tidak mengganggu susunan adat Minangkabau dengan pusaka tinggi. Begitu hebat perperangan Paderi, hendak merubah daki-daki adat jahiliyah di Minangkabau, namun <strong>Haji Miskin, Haji A.Rachman Piobang, Tuanku Lintau, </strong>tidaklah menyinggung atau ingin merombak susunan harta pusaka tinggi itu. Bahkan pahlawan <strong>Paderi radikal, Tuanku nan Renceh </strong>-n yang sampai membunuh Mak Uncu-nya (adik perempuan ibunya) karena tidak mau mengerjakan sembahyang &#8211; bukanlah karena -  bahwa beliau menyinggung-nyinggung susunan adat Itu. Kuburan <strong>Tuanku Nan Renceh </strong>di Kamang terdapat di dalam Tanah Pusako Tinggi”. (IDAM hlm 102 )</p>
<p><span> </span></p>
<p><em>- Yang kedua , </em> “  Ayah saya <strong>DR. Syekh Abdulkarim Amrullah &#8211; b</strong>erfatwa bahwa harta pusaka tinggi adalah sebagai waqaf juga, atau sebagai harta musaballah yang pernah dilakukan<strong> Umar bin Khatab.</strong> Pada hartanya sendiri di Khaibar, boleh diambil isinya,  tetapi tidak boleh di Tasharruf kan tanahnya. Beliau mengemukan kaidah usul yang terkenal yaitu;<em> Al Adatu Muhak Kamatu, wal ‘Urfu Qa-Dhin</em> Artinya Adat adalah diperkokok, dan Uruf ( tradisi) adalah berlaku”. (IDAM hlm 103)</p>
<p>- <em>Yang ke tiga, </em> Satu hal yang tidak disinggung-singgung, sebab telah begitu keadaan yang telah didapati sejak semula, yaitu harta pusaka yang turun menurut jalan keibuan. Adat dan Syarak di Minangkabau bukanlah seperti air dengan minyak, melainkan berpadu satu,<em> sebagai air dengan minyak dalam susu</em>. Sebab Islam bukanlah tempel-tempelan dalam adat Minangkabau, tetapi satu susunan Islam yang dibuat menurut pandangan hidup orang Minangkabau. (Hamka, Ayahku hlm. 9)</p>
<p>- <em>Yang ke empat, </em>“Pusaka Tinggi” inilah dijual tidak dimakan bali di gadai tidak dimakan sando (sandra). “Inilah Tiang Agung Minangkabau” selama ini. Jarang kejadian pusako tinggi menjadi pusako rendah, entah kalau adat tidak berdiri lagi pada suku yang menguasainya (Hamka, dalam Naim, 1968:29)</p>
<p><strong>Keputusan Seminar</strong></p>
<p>I.        Keputusan pada<strong> Seminar atau Musyawaratan Alim Ulama, Niniak mamak dan cadiak pandai Minangkabau pada tanggal 4 s/d 5 Mei 1952 di Bukittinggi </strong>maka Seminanr menetapkan :</p>
<p>1. Terhadap “Harta Pencarian” berlaku hukum Faraidh, sedangkan terhadap “Harta Pusaka” berlaku hukum adat.</p>
<p>2. Berhubung I.K.A.H.I. Sumbar ikut serta mengambil keputusan dalam seminar ini, maka Seminar menyerukan kepada seluruh Hakim-hakim di Sumbar dan Riau supaya memperhatikan ketetapan Seminar ini ( Naim 1968 : 241)</p>
<p>II.      Kemudian pada <strong>Seminar Hukum Adat Minangkabau tahun 1968 di Padang,</strong> yang di hadiri oleh para cendikiawan dan para ulama Minagkabau, ditetapkan bahwa terhadap harta pencaharian berlaku hukum faraidh, dan terhadap harta pusaka tinggi berlaku hukum adat.</p>
<p>Selanjutnya, tentang hukum waris diputuskan sebagai berikut :</p>
<p>a. Harta pusaka di Minangkabau merupakan <strong>harta badan hukum</strong> yang diurus dan diwakili oleh <strong>Mamak Kepala Waris </strong>di luar dan di dalam peradilan.</p>
<p>b. Anak kemenakan dan mamak kepala waris yang termasuk ke dalam badan hukum itu masing-masingnya bukanlah pemilik dari harta badan hukum tersebut. (Naim, 1968:243).</p>
<p>Kemudian <strong>Dr.Amir Syarifuddin</strong> berpendapat, bahwa pewarisan menurut adat bukanlah berarti peralihan harta dari pewaris kepada ahli waris, tetapi <em>peralihan peranan atas pengurusan harta pusaka itu</em>. Dengan demikian terlihat adanya perbedaan dalam system. Perbedaan tersebut akan lebih nyata dalam keterangan di bawah ini.</p>
<p><strong>Pertama: </strong></p>
<p>harta pusaka melekat pada rumah tempat keluarga itu tinggal dan merupakan dana tetap bagi kehidupan keluarga yang tinggal di rumah itu. <em>Harta itu dikuasai oleh perempuan tertua di rumah</em><strong> i</strong>tu dan hasilnya dipergunakan untuk manfaat seisi rumah. <em>Pengawasan penggunaan harta itu berada di tangan mamak rumah</em>. Bila mamak rumah mati, maka peranan pengawasan beralih kepada kemenakan yang laki-laki. Bila perempuan tertua dirumah itu mati, maka peranan penguasaan dan pengurusan beralih kepada perempuan yang lebih muda. Dalam hal ini tidak ada peralihan harta.</p>
<p>Penerusan peranan dalam system kewarisan adat, adalah ibarat silih bergantinya kepengurusan suatu badan atau yayasan yang mengelola suatu bentuk harta. Kematian pengurus itu tidak membawa pengaruh apa – apa terhadap status harta, karena yang mati hanya sekedar pengurus.</p>
<p>Hal tersebut di atas berbeda sama sekali dengan bentuk pewarisan dalam hukum Islam. Dalam Hukum Islam pewarisan berarti peralihan hak milik dari yang mati kepada yang masih hidup. Yang beralih adalah harta. Dalam bentuk harta yang bergerak, harta itu berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain. Sedangkan dalam bentuk harta yang tidak bergerak, yang beralih dalam status pemilikan atas harta tersebut.</p>
<p><strong>Kedua</strong></p>
<p>yang merupakan ciri khas dari harta pusaka ialah bahwa harta itu bukan milik perorangan dan bukan milik siapa -siapa secara pasti. Yang memiliki harta itu ialah nenek moyang yang mula-mula <strong>memperoleh harta itu secara mencancang melatah. </strong>Harta itu ditujukan untuk dana bersama bagi anak cucunya dalam bentuk yang tidak terbagi-bagi.  Setiap anggota dalam kaum dapat memanfaatkannya tetapi tidak dapat memilikinya. ( DR Amir Syarifuddin Pelaksanaan Hukum Pewarisan Islam Dalam Adat Minangkabau 269-270)</p>
<p>Maka dengan demikianlah, jelaslah bahwa telah ada kesepakatan para alim ulama, niniak mamak, dan cadiak pandai tentang <strong>status harta pusaka itu sebagai warih bajawek, pusako batolong dari niniak turun kemamak dari mamak turun kekemanakan. </strong>Dan kemudian diturunkan pula kebawah menurut jalur Ibu dalam kaum atau suku yang bersangkutan. I<em>ndak buliah dihilang dilanyokkan, kok dibubuik layua dianjak mati, dijua indak dimakan bali di gadai indak dimakan sando.</em></p>
<p>Kemudian seperti sering saya kemukakan, bahawa harta pusaka itu adalah sebagai bukti, “asal usul” bahwa seseorang itu dapat dikatakan keturunan Minang ( Etnis Minangkabau) apabila mempunyai harta pusaka tiunggi. Dalam adat dikatokan,<em> “nan ba pandam ba pakuburan nan ba sasok bajarami, kok dakek dapek di kakok, kok jauah dapek di antakan”.</em> Seseorang nan indak punyo atau indak lai mempunyai harta pusaka, berarti indak lai basasok bajarami, tidak ba pandam ba pukuburan, maka orang atau keluarga yang telah habis harta pusakanya tidaklah lagi lengkap Minangnyo. <em>Indak lai baurek tunggang, indak bapucuak bulek, atau dengan kato lain kateh indak bapucuak kabawah indak baurek orang tersebut dapat juga dikatakan “punah” punah dalam hal harta pusaka menurut aturan adat, jika dia meninggal dia dikatakan mati ayam mati tunggau. Malah ada pendapat para ahli adat, mangatokan bahwa apabila satu kaum sudah abih harato pusakonya, mako indak paralu lai ma angkek seorang panghulu, karena adat itu berdiri di ates pusako, cancang balandasan lompek basitumpu.</em></p>
<p>Harta pusaka itu adalah sebagai alat permersatu dalam jurai, kaum, dan bagi masyarakat Minang pada umum, sekaligus untuk mengetahui, nan sa asa sakaturunan menurut jalur adat.</p>
<p>Harta tersebut juga sebagai harta cadangan, jika ada dunsanak kemanakan yang kehidupannya agak susah di perantauan boleh babaliak kakampung uruihlah harata itu. Oleh karenanya dapat kita bayangkan jika harta pusaka di Minangkabau</p>
<p>di perjual belikan, maka masyarakat Minangkabau akan sama nasibnya dengan masyarakat daerah-daerah lain, akan tersingkir dari nagari asalnya sendiri</p>
<p>Harta itu adalah amanah, yang boleh hanyo diambil asilnya dan tidah untuak dimiliki, maka harta itu jangan sampai ilang atau lenyap ditangan kita. Karena harta itu bukanlah milik pribadi, tetapi adalah milik bersama, maka bersama-sama pula memeliharanya.</p>
<p>Namun, demikian jika ada yang berpendapat dengan mengatakan bahwa harta pusaka itu haram, itu adalah haknya. Tetapi bagaimana dengan pendapat para ulama Minangkabau diatas, apa itu tidak boleh di katakan sebagai “IJMAK” para ulama Minangkabau?</p>
<p>Dan selanjutnya, jika pendapat tersebut sudah sangat di yakini bahwa harta pusaka tersebut adalah haram menurut Agama. Mulailah terlabih dahulu dari diri sendiri, atas harta pusako nan saparuik, nan sakaum atau sapayung sapasukuan dan nan sanagari. Adat kan salingka nagari, pusako salingka kaum, tidak ada yang akan melarang, jika nan berhak telah sepakat untuk membuat apa saja atas harta pusaka tersebut. Dan kepada yang masih meyakini atas pendapat para uluma Minangkabau tersebut diatas, tentu juga itu merupakan hak, tidak ada pulah yang boleh memaksa kan kehendak. Ini tentu bukan berarti Taklid buta, kerana kita yakin para ulama Minang tersebut tentu telah melalui penelitian atau ITIHAT pula.</p>
<p>Demikianlah pendapat yang saya  sampaikan. Saya  mohon maaf  jika  ado nan kurang pada tempatnya.</p>
<p>Wasalam,</p>
<p>Azmi Dt.Bagindo</p>
Posted in b. ADAT MINANGKABAU Tagged: harta pusaka <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/823/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=823&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/21/tentang-harato-pusako-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaminang.files.wordpress.com/2009/07/azmi-dt-bagindo1.jpg?w=150&#38;h=112" medium="image">
			<media:title type="html">Azmi Dt Bagindo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat seorang mamak kepada kemenakan</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/14/nasehat-seorang-mamak-kepada-kemenakan/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/14/nasehat-seorang-mamak-kepada-kemenakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 08:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[c. FALSAFAH MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[tata kelakuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[
ANAK DIPANGKU-KAMANAKAN DIBIMBIANG ( HJDM – 001 / VII / 2009 )
Niniak mamak nan gadang basa-batuah,
Alim Ulama Tuangku nan kiramat ,  sarato Bundo Kanduang nan arih bijaksano,
Kok mudo indak diimbaukan namo ,  kok gadang indak disabuikkan tuah , jo salam sajo ambo muliakan .
Assalamualaikum w.w.
Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang , baitu pitaruah niniak kito. Molah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=818&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><img title="Musik salung" src="../files/2009/07/musik-salung.jpg" alt="Musik salung" width="187" height="140" /></strong></p>
<p><span style="font-weight:bold;line-height:19px;text-align:center;">ANAK DIPANGKU-KAMANAKAN DIBIMBIANG </span><span style="font-weight:bold;line-height:19px;text-align:center;">(<span style="line-height:1.2em;outline-style:none;"> </span>HJDM – 001 / VII / 2009<span style="line-height:1.2em;outline-style:none;"> </span>)</span></p>
<p>Niniak mamak nan gadang basa-batuah,</p>
<p>Alim Ulama Tuangku nan kiramat ,  sarato Bundo Kanduang nan arih bijaksano,</p>
<p>Kok mudo indak diimbaukan namo ,  kok gadang indak disabuikkan tuah , jo salam sajo ambo muliakan .</p>
<p>Assalamualaikum w.w.</p>
<p>Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang , baitu pitaruah niniak kito. Molah kita taruihkan &#8221; mambangkik batang tarandam &#8220;  , mangaji-ngaji ajaran Adat ,  Mudah-mudahan baguno untuak anak kamanakan kito nan mudo-mudo, isuak .  Amien&#8230;&#8230;</p>
<p><span id="more-818"></span></p>
<p>Indak ado gadiang nan tak ratak , manusia basipaik khilaf , kok sasek ambo bakato, kok lupo ambo dalam alua jo patuik , tolong bilai dima nan senteng , tolong tukuak dima nan kurang.</p>
<p>Dalam ba gotong royong &#8220;mambangkik batang tarandam&#8221;, marilah kito karajokan pulo apo nan dapek dikarajokan sacaro baketek-ketek  atau kok nak bagadang alah dikarajoan dek  urang gadang-gadang.</p>
<p>Nan paralu diawak kini dalam rangka &#8220;mambangkik batang nan tarandam&#8221;  sahari-hari , misalnyo mampalajari ;</p>
<p>- Apo kawajiban Mamak taradok Kamanakan ,</p>
<p>- Baa hubungan Mamak jo Kamanakan, manurut ajaran Adat di Minangkabau nan biaso disabuik urang system kekerabatan Matrilinial tu .</p>
<p>Saciek nan jadi  padoman hubungan mamak jo kamanakan iyolah pepatah nan babunyi  pantun; <em></em></p>
<p><em>Kaluak paku , kacang balimbiang</em></p>
<p><em>Tampuruang lenggang-lenggangkan</em></p>
<p><em>Dibao urang ka Suruaso .</em></p>
<p><em>Anak dipangku kamanakan dibimbiang</em></p>
<p><em>Urang kampuang patenggangkan</em></p>
<p><em>Jago Adat jan binaso .</em></p>
<p>Pantun iko barisi 3 pokok ajaran atau doktrin nan diwarihkan  dek niniak moyang kito dari generasi ka generasi sampai ka kito kini nangko, yaitu   :</p>
<ol>
<li>Anak dipangku , kamanakan dibimbiang, iyolah realisasi dari duo fungsi nan diemban oleh satiok laki-laki di Minagkabau .</li>
<li>Urang kampuang dipatenggangkan,iyolah kawajiban social ditangah-tangah masyarakat. <em>Hablunmminannas manuruik hukum Syarak nyo .</em></li>
<li>Jago adat  jan binaso, maksudnyo kewajiban satiok urang Minangkabau memaliharo nilai-nilai Adat dan budaya Minangkabau .</li>
</ol>
<p>Cupak salingka Batuang, Adat Salingka Nagari. Lain lubuak lain ikannyo, lain padang lain bilalang, namun ikannyo itu juo . Baitu kato urang tuo-tuo , tantang parbedaan-parbedaan nan ado antaro Nagari-nagari di Minangkabau .</p>
<p>Manuruik pitaruah dari urang tuo-tuo, laki-laki di Minangkabau mamikua duo baban barek sakali gus yaitu :</p>
<p>* Sabagai Urang Sumando ( apak paja ) dirumah anak,</p>
<p>* Sabagai Mamak Rumah dirumah urang gaek.</p>
<p>Kaduonyo disabuik &#8211; fungsi ganda lelaki di Minangkabau. Sabagai Rang Sumando/kapalo Keluarga, lelaki minang ikuik mamangku anak, artinyo saratuih parsen anak manjadi tanggungan bapakny. Makan minun, sekolah, dan kabutuhan hiduiknyo &#8211; hinggo kaki anak iko sampai ndak buliah manyingguang tanah ( ikolah perumpaan mamangku anak). Sekalipun anak dipangku tantu ado batehnyo, yatiu katiko si anak alah pandai bajalan surang &#8211; lah tumbuah gadang, ikolah saatnyo malapehnyo pai bajalan.</p>
<p>Sasudah pandai bajalan &#8211; lah tamaik pulo sakolahnya &#8211; lah manjadi urang &#8211; sampailah anak ko mampu barumah tango .</p>
<p>Pabilo kamanakan dibimbiang ? Kamanakan dibimbiang , sampai kaliang kubua , baitu pitaruah urang tuo-tuo kito. Aratinyo -  kamanakan bajalan jo kakinyo surang &#8211; si Mamak mambimbiang jo ujuang jari. Mambimbiang anak lai indak  indak sabarek mamangku anak, tapi sampai mati -  si Mamak punyo kawajiban mambimbiang Kamanakannyo. Tarutamo masaalah Adat dalam kahidupan ba Nagari, dalam panguasaan dan pangurusan harato Pusako Tinggi.</p>
<p>Zaman saisuak,  urang bakarajo jo tanago nan dinamoan &#8221; tulang nan ampek karek&#8221;. Jadi tugas mamak mambimbiang kamanakan jo tanago sarato ilimu dan pangalaman nan ado .</p>
<p>Manuruik ajaran nan kito tarimo , supayo baban utamo mamangku anak indak taganggu , mako untuak mambimbiang kamanakan tu , hari nan 7 dibagi duo ,  5 hari mancari nafkah untuak anak-bini dan 2 hari untuak mambantu/mambimbiang kamanakan Karano kamanakan tu biasonyo banyak , mako mambagi hari nan 2 tu , tantu disasuaikan jo kaparaluan kamanakan , dan biasonyo mamak pun bukan cuma surang , ado baduo atau batigo bahkkan labiah dari tigo urang , jadi dapek dipikua basamo untuak itu diatur dan diarahkan oleh para ibu-ibu nan basangkutan supayo hasienyo samparono dan marato.</p>
<p>Urang Sumando pun basanang hati  manarimo . Di siko lah fungsi Mamak Tunganai Rumah atau Mamak Kapalo Warih sarato Bundo Kanduang pamacik kunci nan arek, pamegang puro nan taguah , pusek jalo kumpulan ikan , akan dirasokan guno jo manfaatnyo ba mamak dan bakamanakan manuruik ajaran Adat Minangkabau .</p>
<p>Hari Juma’at adolah hari bakhti Mamak untuak Kamanakan. Sasudah makan pagi dirumah bini, si Mamak akan pulang kakampung  mandenyo -  manjalani sawah nan laweh, mandaki bukik manurun lurah, mamareso padi disawah , maliek tanaman di ladang, kok ado paga nan rarak, kok ado padi nan masak , kok ado tanaman nan dirusak binatang lia , untuak disampaikan ka Kamanakan dirumahnyo . Si Mamak basumbayang Jum’at di kampong ibunyo, sasudah sumbayang Mamak pulang karumah Ibunyo atau karumah kamanakannyo ,  manyampaikan saran jo nasihat , kok ado nan basangketo laki-bini nan paralu dipaeloki , kok ado baban nan kadipikua basamo , kok ado taranak atau tanaman nan kamarugi .  Sasudah langkok makan jo minum , mamintak ampun ka pado Ayah sarato Bundo, Mamak malangkah kumbali kakampuang bini , malanjuikkan karajo baban utamo , Rang Sumando dirumah anak , wajib manafkahi laie jo bathin , baitu kato pusako</p>
<p>Kok tibo hari nan baiak kutiko nan elok, Kamanakan bujang dipadah urang , datanglah inyo karumah Mamak , manyambah mamintak ampun kapado Mamak sarato Etek , mamintak  izin barumah tanggo kakampuang urang . Mamak mamikua tangguang jawab ateh namo dan kahormatan kaum jan sampai Kamanakan , babuek nan ka marugikan urang lain  atau mamalukan kaumnyo sandiri . Mamak wajib macegah poligami , mamak wajib mamparsiapkan Kamanakan nyo untuk manjadi Urang Sumando nan baiak dan tapuji yaitu Rang Sumando Niniak Mamak . Mamak menjalehkan pantangan dan larangan bagi seorang Rang Sumando antaro lain , sifat-sifat buruak dan hino ; Rang Sumando Kacang Miang, Rang Sumando Langau Hijau dan Rang Sumando Lapiak Buruak . Itu untuak Kamanakan nan laki-laki , baa pulo untuak Kamanakan nan Padusi , itu kawajiban para Bundo Kanduang , Mamak Rumah Cuma manunjukan dan mamastikan satu tumpak Sawah Pangasingan , bagi panganten baru sabagai modal partamu barumah tango dari  Pusako Tinggi .</p>
<p>Masaalah Mamak alah kito tinjau sacaro ringkas dan sadarhana, kini mari kito tinjau pulo hak dan kawajiban Kamanakan manuruik ajaran Adat Minangkabau nan kini kito usahokan dalam mambangkik batang tarandam . Manuruik ajaran Adat jo system matrilineal kekerabatan banyak macam dan tingkeknyo , ; Kamanakan nan batali darah, Kamanakan nan batali Adat dan Kamanakan nan batali Budi . Untuak itu kawajiban Mamak sacaro materi dan harato pusako sahinggo Kamanakan nan batali darah , salabiahnyo disasuaikan jo kabutuhan dan kamampuan si Mamak nan kamambantu .</p>
<p>Daulu Mamak mambantu Kamanakan jo tanago tulang nan ampek karek, tapi kini mamak lah manarimo gaji bulanan , mahetong pitih dikotak satiok hari , tingganyo jauah dikota-kota gadang , jaman moderen lah maubah caro-caro kahidupan masyarakat Minangkabau, Bank-bank tabungan lah ado kaganti Lumbuang padi nan lah tirih , internet lah dapek mampadakekan jarak nan jauah , satiok waktu Mamak jo Kamanakan dapek basuo . Lah masonyo kito mamikiekan konsep Pusako Tinggi dizaman moderen nan bak kini , untuak itu kito pulangkan kapado nan pandai para itelektual Minangkabau .</p>
<p>Alhamdulillah untuak itu niniak moyang kito lah maninggakan pitunjuak nan baguno di sagalo jaman . “ Sakali aie gadang – sakali tapian barubah …dst “  Kok nak bakisa tagak bakisalah ditanah nan sabingkah , kok bakisa duduak bakisalah di lapiak nan sahalai “ Allqur’an dan Sunnah Rasulullah pamaganyo . Tujuan hiduik tak lain adolah kasampurnaan hiduik didunie, dan kasampurkaan hiduik di akhirat . Tuntuik lah ilimu sampai kaujuang dunia, nan diranah Minang tatap akan baguno . Insyaallah .</p>
<p>Sahinggo iko lah daulu , kok dirantang namuah panjang, diambiak sakiro kapaguno, kudian kito sambuang pulo , ……..  insyallah .</p>
<p><strong>Wassalam dan maaf dari :</strong></p>
<p><strong>H.J. Inyiak Malako Nan Putiah  ( Inyiak Lako ) ,</strong></p>
<p><strong>Asal dari Baso , 73 thn,  Suku Malayu ,</strong></p>
<p><strong>Sawangan Permai  C-2 . No. 16 ,  Depok. </strong></p>
<p><strong>HP. 0815 1455 5517 .</strong></p>
Posted in c. FALSAFAH MINANGKABAU Tagged: tata kelakuan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/818/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/818/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/818/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=818&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/14/nasehat-seorang-mamak-kepada-kemenakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2009/07/musik-salung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Musik salung</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>