<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>~ RANAH BUNDO KANDUANG ~ &#187; budaya perkawinan</title>
	<atom:link href="http://bundokanduang.wordpress.com/tag/budaya-perkawinan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bundokanduang.wordpress.com</link>
	<description>Bundo Kanduang Minangkabau</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Dec 2009 06:35:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bundokanduang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/aaa77bb91a970b9fcb054239d36c96a8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>~ RANAH BUNDO KANDUANG ~ &#187; budaya perkawinan</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bundokanduang.wordpress.com/osd.xml" title="~ RANAH BUNDO KANDUANG ~" />
		<item>
		<title>Proses Mencari Jodoh</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/proses-mencari-jodoh-2/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/proses-mencari-jodoh-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 03:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[budaya perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Lembaga perkawinan memerlukan penyesuaian banyak hal. Lembaga perkawinan membentuk kehidupan social baru, yaitu hubungan antara pribadi dengan pribadi lain, antara keluarga dengan keluarga lain, antara kerabat dengan kerabat lain. Latar belakang antara kedua keluarga bisa sangat berbeda, baik cara, kebiasaan, tatacara adat dan budaya,  dll. Karena itu syarat utama yang harus dipenuhi dalam perkawinan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=150&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-164" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/dsc00229.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /><em>Lembaga perkawinan memerlukan penyesuaian banyak hal. Lembaga perkawinan membentuk kehidupan social baru, yaitu hubungan antara pribadi dengan pribadi lain, antara keluarga dengan keluarga lain, antara kerabat dengan kerabat lain. Latar belakang antara kedua keluarga bisa sangat berbeda, baik cara, kebiasaan, tatacara adat dan budaya,  dll. Karena itu syarat utama yang harus dipenuhi dalam perkawinan, kesediaan dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari masing-masing pihak. Pengenalan dan pendekatan untuk dapat mengenal watak masing-masing pribadi dan keluarganya penting sekali untuk memperoleh keserasian atau keharmonisan dalam pergaulan antara keluarga kelak kemudian.<br />
Perkawinan juga menuntut suatu tanggungjawab, antaranya menyangkut nafkah lahir dan batin, jaminan hidup dan tanggungjawab pendidikan anak-anak yang akan dilahirkan. Di Minangkabau membawa konsekwensi, yaitu ketentuan adat, maupun ketentuan agama dalam mengatur hidup dan kehidupan masyarakat Minang, tidak dapat diabaikan begitu saja dalam pelaksanaan perkawinan. Kedua aturan itu harus dipelajari, dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya menurut tatacara perkawinan yang berlaku di Minangkabau. Mengabaikan ketentuan adat maupun ketentuan agama Islam dalam penyelenggaraan perkawinan, akan membawa konsekwensi yang pahit bagi kelanjutan anak keturunan.</em><em> <span id="more-150"></span><br />
<strong>Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam suatu lembaga perkawinan di ranah Minang,</strong> adalah </em><em><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/6ae9386d-1927-4f13-9d7d-79c172adc85f.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-165 alignleft" style="float:left;" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/6ae9386d-1927-4f13-9d7d-79c172adc85f.jpg?w=130&#038;h=130" alt="" width="130" height="130" /></a></em><em>sebagai berikut :<br />
a.   Kedua calon pasangan  harus beragama Islam.<br />
b.	Kedua calon pasangan tidak seibu, tidak senenek, tidak sekaum dan tidak sesuku yang sama, kecuali pesukuan itu berasal dari nagari atau luhak yang lain.<br />
c.	Kedua calon pasangan tidak melakukan  larangan perkawinan (perkawinan sumbang),<br />
d.	Pria yang akan menjadi mempelai harus sudah mempunyai sumber penghasilan untuk dapat menjamin kehidupan keluarganya. </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Berbagai cara dan upaya untuk mendapat calon menantu, dilakukan oleh pihak keluarga wanita di Minangkabau, antara lain sebagaimana digambarkan sebagai berikut :</em></p>
<p style="text-align:left;"><em><img class="alignnone size-medium wp-image-177 alignleft" style="float:left;" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/92158da0soni41.jpg?w=140&#038;h=92" alt="" width="140" height="92" /><strong>1.  Penjajakan – Manyalangkan mato &#8211; Maresek : </strong><br />
Kegiatan ini merupakan proses awal dalam mendapat jodoh bagi seorang anak wanita.  Di Ranah Minang kegiatan ini dilakukan ketika dari pihak keluarga wanita merasa memiliki kesiapan untuk mengantarkan anaknya ke jenjang perkawinan. Mereka berupaya memperoleh menantu yang baik, berdasarkan persyaratan yang diklasifikasi antara lain, karena  ;<br />
·	pendidikan,<br />
·	kekayaan,<br />
·	status keturunan,<br />
·	karena rupa dan wajah, namun ini tidak terlalu dipertimbangkan kecuali pihak yang dijajaki mengalami cacad tubuh.</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Kegiatan menjajaki berawal dari mendengar, melihat kemudian menanyakan calon yang akan diminta itu kepada keluarganya. Rangkaian kegiatan ini dikenal dengan berbagai macam istilah. Ada yang menyebut maresek, ada yang mengatakan marisiak, ada juga yang menyebut marosok sesuai dengan dialek daerah masing-masing. Semuanya itu bermakna sama, yaitu melakukan penjajakan pertama. Maresek artinya memegang sesuatu secara abstrak atau  nyata.<br />
Siapa yang harus melakukan penjajakan ini ? Apakah pihak keluarga wanita, atau pihak keluarga yang laki-laki ?.<br />
Pada tahapan penjajakan,  baik wanita maupun laki-laki sama-sama memiliki peluang untuk dijajaki atau diresek. Karena kegiatan ini belum merupakan suatu kesepakatan yang akan mengikat kedua belah pihak dalam suatu tata cara perkawinan.<br />
Pada tahapan ini ada pepatah yang berbunyi, yaitu ; Sia marunduak sia bungkuak &#8211; Sia malompek sia patah, Artinya siapa yang lebih berkehendak tentulah dia yang harus melakukannya.</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Untuk kasus-kasus yang semacam ini, tentang siapa yang harus terlebih dahulu melakukan penjajakan, tidaklah merupakan masalah. Seringkali resek-maresek ini tidak selesai satu kali, tapi bisa berlanjut dalam beberapa kali perundingan. Biasanya wanita-wanita yang sudah berpengalaman untuk urusan-urusan semacam itu diutus terlebih dahulu, untuk menanyakan kesediaan bakal calon pasangan. Tujuannya adalah mengajuk-ajuk , membujuk bakal calon yang akan dituju,  apakah sudah berniat untuk berumah tangga. Jika pihak keluarga laki-laki  memberikan respon yang baik, maka segera mereka menyampaikan kepada keluarga wanita dan tentunya pihak keluarga wanita segera menindak lanjuti kearah yang sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku.<br />
Urusan resek maresek ini tidak hanya berlaku dalam tradisi lama, tetapi juga berlaku sampai sekarang, baik bagi keluarga yang masih berada di Ranah Minang, maupun bagi mereka yang sudah bermukim dirantau-rantau. Jika semuanya telah bersepakat untuk saling menjodohkan anak kemenakan masing-masing dan segala persyaratan yang  disetujui oleh kedua pihak, maka barulah langkah selanjutnya ditentukan untuk mengadakan pertemuan secara lebih resmi oleh keluarga kedua belah pihak. Acara inilah yang disebut pinang maminang.</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>2. Pinang maminang :</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Pinang maminang, berasal dari cara dan tata kelakuan masyarakat dalam mengajukan sesuatu permintaan kepada bakal calon pasangan hidup. Berawal dari kata “ pinang” yang dibawa beserta sirih dalam cerana pada saat berkunjung ketempat kediaman bakal calon pasangan. Kebiasaan ini kemudian berkembang secara dalama formal dalam mencari jodoh sebagaimana yang kita kenal dengan pinang meminang.<br />
Di Ranah Minang kebiasaan mengajukan pinang meminang, lazimnya diprakarsai oleh kerabat wanita. Proses pinang meminang merupakan hasil – manyalangkan mato &#8211; maresek,  setelah diperoleh informasi seputar bakal calon pasangan. Proses pinang meminang antar kedua pihak keluarga, dilakukan pula beberapa kali pertemuan, untuk merekam keinginan-keinginan pihak keluarga lelaki atas hal-hal yang menjadi persyaratan yang harus di-isi oleh pihak wanita, agar ketika kesesuaian dalam perjodohan ini tidak mendapat gangguan atau kekecewaan kelak dikemudian hari.<br />
Isi, artinya mengisi sesuatu yang diminta dan diinginkan oleh pihak keluarga laki-laki. Misalnya didaerah rantau atau pesisir Padang Pariaman berlaku ketentuan yang akan diisi adalah uang jemputan, uang dapur, biaya pendidikan dll. </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Yang harus diperhatikan ! bahwa pada awal pinang meminang ini, sungguhpun segala kesepakatan masih bersifat rahasia, hendaknya keinginan pihak lelaki harus diketahui secara terbuka oleh keluarga inti pihak wanita yang terdiri dari; orang tua maupun ninik mamak pihak wanita.<br />
Sesuai dengan sistem matrilineal yang berlaku di Minangkabau, maka yang melakukan peminangan ini adalah pihak keluarga wanita. Wakil keluarga pihak wanita akan berulang kali datang kepada pihak keluarga laki-laki sampai ia memperoleh jawan apakah peminangannya diterima atau tidak.<br />
Acara meminang, bisa saja terjadi karena  sudah direkayasa oleh kedua keluarga sebelumnya.  Jika tidak, maka acara ini akan berlangsung berkali-kali sebelum urutan ketentuan diatas dapat dilaksanakan. Karena pihak keluarga pria pasti tidak dapat langsung memberikan jawaban pada pertemuan pertama. Orang tuanya atau ninik mamak si pria, akan meminta waktu terlebih dahulu untuk memperembukkan lamaran itu dengan keluarga-keluarganya yang patut-patut lainnya. Paling-paling pada pertemuan tersebut, pihak keluarga pemuda menentukan waktu kapan mereka memberikan jawaban atas pinangan itu.<br />
Pada acara maminang yang berlangsung dikota-kota besar, umumnya sudah dibuat dengan skenario yang praktis berdasarkan persetujuan kedua keluarga, sehingga urutan-urutan seperti yang dicantumkan diatas dapat dilaksanakan secara simultan dan diselesaikan dalam satu kali pertemuan. </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>3.	Melamar :</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Pada hari yang telah ditentukan, pihak keluarga anak gadis yang akan dijodohkan itu dengan dipimpin oleh Ninik mamaknya, datang bersama-sama kerumah keluarga calon pemuda yang dituju. Lazimnya untuk acara pertemuan resmi pertama ini, diikuti oleh ibu dan ayah si gadis dan diiringkan oleh beberapa orang wanita yang patut-patut dari keluarganya. Dan biasanya rombongan yang datang juga telah membawa seorang juru bicara yang mahir berbasa-basi dan fasih berkata-kata, jika sekiranya Ninik Mamak yang akan melamar itu, bukan orang ahli untuk itu.<br />
Kegiatan melamar dengan pinang meminang berbeda tipis. Kegiatan pinang meminang merupakan hasil tindak lanjut dari kegiatan manyalangkan mato, maresek – menjajaki. Apabila kegiatan pinang meminang, memperoleh hasil yang diharapkan, maka pihak keluarga wanita akan mendatangkan kerabat intinya, yang terdiri dari ninik mamak dan kerabat terdekat, untuk meminta secara resmi kepada ninik mamak pihak laki-laki, bahwa anak/kemenakanya  akan dijodohkan dengan anak kemenakannnya. Permintaan secara resmi inilah yang disebut melamar<br />
Kegiatan melamar berlangsung benar-benar resmi, disertai kalimat yang melodius dan berirama pantun yang disebut petatah petitih. Wakil Ninik Mamak pihak wanita akan memperkenalkan kesantunan dan kebaikan anak gadisnya yang dapat menjadi pasangan yang serasi bagi anak laki-laki yang dilamar itu. Tidak lupa pula wakil keluarga itu akan memperkenalkan keadaan keluarga asal usul, status social dari segenap masing-masing pihak. Martabat kedua keluarga diunjukkan pada kegiatan melamar ini, semata ingin menunjukkan agar masing-masing pihak saling menjaga dan saling menghormati diantara keluarga kelak dikemudian hari. </em></p>
<p style="text-align:left;"><em> Untuk menghindarkan hal-hal yang dapat menjadi penghalang bagi kelancaran pertemuan kedua keluarga untuk pertama kali ini, lazimnya pada saat marisiak sebelumnya, telah membicarakan dan mencari kesepakatan dengan keluarga pihak pria mengenai materi apa saja yang akan dibicarakan pada acara melamar itu. Apakah setelah acara melamar telah dilaksanakan,  lalu langsung dilakukan acara batuka tando atau batimbang tando ? </em></p>
<p style="text-align:left;"><em> Buah tangan atau Barang-barang yang Dibawa<br />
Apa saja yang dibawa oleh pihak keluarga wanita ketika akan melakukan lamaran secara resmi  ?  (saat ini belum disebut calon mempelai – pen) ? </em></p>
<p style="text-align:left;"><em> Barang-barang yang dibawa waktu maminang, yang utama adalah sirih pinang lengkap. Apakah disusun dalam carano atau dibawa dengan kampia, tidak menjadi soal. Yang penting sirih lengkap harus ada.<br />
Disebut tidak beradat dalam suatu acara, jika tidak ada sirih yang diketengahkan. Daun sirih yang akan dikunyah menimbulkan dua rasa dilidah, yaitu pahit dan manis, terkandung simbol-simbol tentang harapan dan kearifan manusia akan kekurangan-kekurangan mereka. </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Selama pertemuan itu, bisa saja terjadi kekhilafan-kekhilafan baik dalam tindak-tanduk maupun dalam perkataan. Dengan menyuguhkan sirih di awal pertemuan, maka segala yang janggal itu tidak akan jadi gunjingan.<br />
Sebagaimana dalam pasambahan siriah disebutkan : </em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Kok Siriah lah kami makan<br />
Manih lah lakek diujuang lidah<br />
Pahik lah luluih karakuangan<br />
Jika sirih sudah kami makan<br />
Yang manis lekat di ujung lidah<br />
Yang pahit lolos ke kerongkongan</em></p>
<p style="text-align:left;">Artinya, para tamu atau tuan rumah tidak lagi mengingat-ingat segala yang jelek, hanya yang manis saja pada pertemuan itu yang akan melekat dalam kenangannya.<br />
Jadi dapat disimpulkan bahwa pihak keluarga wanita yang datang melamar, akan membawa barang bawaan yang disebut “buah tangan”, yang terdiri dari :<br />
a.	sirih pinang dalam cerana atau dibawa dengan kampia tidak menjadi soal,<br />
b.	sesisir pisang atau rangkaian buah,<br />
c.	kueh besar atau cake bunga,<br />
d.	penganan khas minang lainnya.</p>
<p style="text-align:left;">Bagi pihak yang dilamar atau pihak keluarga laki-laki, maka selayaknya menyambut kedatangan tamunya dengan menghidangkan makanan yang disesuaikan dengan waktu kedatangan si tamu, apakah siang hari, sore atau malam.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>4.	Batimbang tando :</strong></p>
<p style="text-align:left;">Pada saat pelamaran telah dilakukan, tidak otomatis rencana perhelatan digaungkan. Kedua pihak kerabat, lazimnya terlebih dahulu melakukan acara “ batimbang tando “, suatu acara pertukaran tanda ikatan bahwa kedua pihak keluarga telah berjanji akan menjodohkan anak kemenakan mereka dalam ikatan perkawinan disuatu saat kelak.<br />
Jika disepakati sebelumnya bahwa pada acara maminang tersebut sekaligus  dilangsungkan acara bertukar tanda atau batimbang tando, maka benda yang akan dipertukarkan sebagai tanda itu, turut serta dibawa oleh pihak yang melamar. Benda itu diletakkan pada wadah yang disebut dulang atau nampan. Batuka tando (bertukar tanda), dilakukan bila kedua belah pihak keluarga telah bersepakat untuk saling menjodohkan anak kemenakannya dan saling memberikan benda sebagai tanda ikatan sesuai dengan hukum perikatan menurut adat Minangkabau yang berbunyi :</p>
<p style="text-align:left;">Batampuaklah…buliah dijinjiang atau Batali lah… buliah diirik.</p>
<p style="text-align:left;">Artinya kalau tanda telah dipertukarkan dalam satu acara resmi oleh keluarga kedua belah pihak, maka bukan saja antar sepasang calon mempelai tersebut telah ada keterikatan menuju lembaga perkawinan menurut adat Minangkabau, hal ini juga merupakan pengesahan kepada masyarakat hukum adat disekitarnya bahwa sepasang calon mempelai itu telah bertunangan. Juga, kedua belah keluarga pun telah terikat untuk saling mengisi adat dan terikat untuk tidak dapat memutuskan secara sepihak perjanjian yang telah mereka sepakati itu.</p>
<p style="text-align:left;">Benda apa yang dapat dijadikan sebagai tanda – batimbang tando ?<br />
Benda yang dijadikan pertukaran tanda itu tidaklah sama pada semua Nagari. Tanda itu, bisa berbentuk cincin emas, kain balapak, atau keris pusaka. Umumnya pihak wanita memberi perhiasan emas dan pihak laki-laki memberi keris pusaka.<br />
Apakah pemberian tanda benda pusaka ini merupakan kemestian yang harus dilakukan oleh keluarga calon mempelai ?<br />
Sungguhpun yang dipertukarkan lazimnya adalah benda-benda pusaka, seperti keris, atau kain adat yang mengandung nilai sejarah bagi keluarga, namun sesungguhnya, bukan dinilai dari kebaruan dan kemahalan harganya, tetapi justru karena sejarahnya itu yang sangat berarti dan tidak dapat dinilai dengan uang.<br />
Umpamanya sebuah kain balapak yang telah berumur puluhan tahun yang pernah diwariskan oleh nenek si gadis sebelum meninggal, atau kain adat yang pernah dipakai oleh ibu si gadis pada perkawinannya puluhan tahun yang lalu. Karena nilai-nilai sejarahnya inilah maka barang-barang yang dijadikan tanda itu menjadi sangat berharga bagi keluarga yang bersangkutan. Nanti setelah akad nikah dilangsungkan, maka masing-masing tanda ini harus mengembalikan lagi dalam suatu acara resmi oleh kedua belah pihak.<br />
Andaikan pertunangan ini putus, maka pihak yang memutuskan akan mengembalikan tanda yang diterima dulu, sedangkan pihak lainnya tidak berkewajiban mengembalikan tanda yang diterimanya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>5.	Baretong  (Musyawarah pra perhelatan): </strong></p>
<p style="text-align:left;">Baretong, arti harfiahnya berhitung. Namun dalam pelaksanaan bukanlah pekerjaan menghitung-hitung, melainkan memusyawarahkan tata cara yang akan dilaksanakan nanti dalam pra perhelatan, perhelatan dan setelah perhelatan. Apa saja yang dimusyawarahkan oleh kedua belah pihak calon pasangan pengantin, semata-mata untuk memperjelas hak dan kewajiban kedua keluarga calon mempelai dalam pelaksanaan sebelum, pada saat dan sesudah upacara perkawinan diselenggarakan. Kegiatan itu antara lain :</p>
<p style="text-align:left;">·	Pra pernikahan, yaitu kesepakatan dalam :<br />
-	menentukan hari (manakuak hari) kapan akad nikah dan resepsi perkawinan dilaksnakan atau<br />
-	 persyaratan apa yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak pada saat pelaksanaan pernikahan. (lihat sub title mengenai Persyaratan dalam Pra Pernikahan).</p>
<p style="text-align:left;">·	Pelaksanaan akad nikah dan perhelatan (resepsi) , yaitu rangkaian prosesi dan acara antara lain :<br />
-	prosesi penjemputan mempelai,<br />
-	prosesi menjelang (manjalang),<br />
-	dll</p>
<p style="text-align:left;"><strong>* Setelah akad nikah dan perhelatan.</strong></p>
<p style="text-align:left;">Dalam adat perkawinan Minang, pihak yang mempersiapkan segala sesuatu tentang acara dan upacara serta persyaratan yang harus dipenuhi kepada pihak calon mempelai pria, semua dirundingkan lebih dahulu oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dalam kegiatan baretong ini.<br />
Disinilah peran ninik mamak, induak bako dipertaruhkan demi menegakkan martabat keluarga besar calon mempelai wanita. Bahkan betapa besar peran yang harus dan semestinya dilakukan bagaikankan pepatah yang mengatakan bahwa ;</p>
<p style="text-align:left;">Tak ada kayu jenjang dikeping<br />
Tak ada air talang dipancung<br />
Tak ada beras atahnya dikisik<br />
Tak ada emas bungkal diasah.</p>
<p style="text-align:left;">Disinilah harta pusaka dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pelaksanaan hajad yang besar ini. Pada  pelaksanaan perkawinan eksogami,  ini tersedia rumah gadang dan harta pusaka yang khusus diperuntukkan hal ini, yaitu :<br />
Gadih gadang nak balaki…</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Perkampungan :</strong><br />
Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya. Demikian pula di daerah Pariaman dan sekitarnya, selain kegiatan baretong dikenal pula “ perkampungan “.<br />
Perkampungan adalah suatu tata cara adat yang berlaku didalam keluarga calon mempelai wanita, bagaimana upaya menanggung biaya penyelenggaraan pesta perkawinan. Untuk memenuhi dan mengisi persyaratan adat perkawinan, maka biaya yang diperlukan sangat tinggi. Biaya ini pasti tidak dapat ditanggulangi oleh keluarga inti belaka, seperti ayah dan ibu calon mempelai wanita. Disinilah peran ninik mamak, induak bako dan urang Sumando, untuk ikut menanggung beban biaya perhelatan. Semua serba terbuka dan jelas, agar tidak terjadi kekisruhan menyangkut biaya perhelatan itu.<br />
Perkampungan merupakan wujud kegotong royongan budaya alam minang kabau, seperti pepatah yang mengatakan ; Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Semua beban biaya diperhitungkan, yaitu ;<br />
-	biaya untuk kebutuhan mempelai wanita,<br />
-	perlengkapan mempelai pria – yang akan menjadi urang sumando baru kelak,<br />
-	biaya penyelenggaraan akad nikah dan kenduri, dan<br />
-	termasuk pula persyaratan dalam pra pernikahan yang wajib dipenuhi oleh mempelai wanita.</p>
<p style="text-align:left;">Biaya yang terkumpul dalam perkampungan ini, merupakan modal bagi si empunya hajad nantinya dalam melaksanakan perhelatan dan kenduri.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/150/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/150/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=150&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/proses-mencari-jodoh-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/dsc00229.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/6ae9386d-1927-4f13-9d7d-79c172adc85f.jpg?w=130" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/92158da0soni41.jpg?w=140" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Meminta Izin – Doa restu (Ma &#8211; anta Siriah)</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/meminta-izin-%e2%80%93-doa-restu-ma-anta-siriah/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/meminta-izin-%e2%80%93-doa-restu-ma-anta-siriah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 02:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[E. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[budaya perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hifni Hafida
Meminta izin untuk memperoleh doa restu, wajib dilakukan calon pengantin pria (CPP) kepada para ninik mamaknya. Seorang pemuda di Minangkabau – menempuh hidup berkeluarga bagaikan berangkat pergi merantau. Ia akan menjadi tamu abadi didalam keluarga besar isterinya kelak. Karena itu ia mesti mendapat bimbingan adat dari orang tua-tua dan para sesepuh dikeluarga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=148&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-medium wp-image-189 alignleft" style="float:left;" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100px-remajapria.jpg?w=100&#038;h=120" alt="" width="100" height="120" />Oleh : Hifni Hafida</p>
<p>Meminta izin untuk memperoleh doa restu, wajib dilakukan calon pengantin pria (CPP) kepada para ninik mamaknya. Seorang pemuda di Minangkabau – menempuh hidup berkeluarga bagaikan berangkat pergi merantau. Ia akan menjadi tamu abadi didalam keluarga besar isterinya kelak. Karena itu ia mesti mendapat bimbingan adat dari orang tua-tua dan para sesepuh dikeluarga besarnya. Bagi seorang pemuda telah ditentukan jodoh dan hari perkawinannya, maka kewajiban yang pertama menurut adat yang harus dilakukan sebelum ia melepas masa bujang ialah; memberi tahu dan mohon doa restu kepada ninik-mamaknya, saudara-saudara ayahnya; kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan kepada orang-orang tua lainnya yang dihormati dalam keluarganya itu. Acara ini pada beberapa daerah di ranah Minang disebut minta izin atau meminta doa restu.<br />
Bagi calon pengantin wanita (CPW), tidak ada kewajiban untuk meminta restu kepada ninik mamaknya, karena sebagai wanita – ia adalah pengikat hubungan antara keluarga didalam perkawinan eksogami itu. Segala sesuatu yang harus dipenuhi dalam tata cara adat dan budaya telah dilaksanakan oleh kaum keluarganya. Seandainya ia telah memperoleh jodoh hasil dari manyalangkan mato – maresek, maka akan ada wakil dari wanita yang telah berkeluarga yang akan menyampaikan kepada ninik mamak didalam kaumnya.</p>
<p><span id="more-148"></span></p>
<p><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_2665.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-190" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_2665.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Bagi seorang pemuda, ketika proses mencari jodoh yang berwujud pinang meminang, pelamaran dan bertimbang tando dsb, hampir semua anggota kaum telah mengetahui bahwa ia telah memperoleh jodohnya, namun sebagai seorang pemuda yang akan menikah, Ia adalah bagaikan seorang yang akan pergi merantau. Ia dibekali dengan petuah dan nasehat dari para orang-orang tua yang ada dikeluarganya. Selain itu sesungguhnya meminta izin atau doa restu ini, sekaligus merupakan penyampaikan undangan kepada para orang-orang tua, ninik mamak dan isteri ninik mamaknya.</p>
<p><strong>Tata caranya :</strong></p>
<p>Bila telah ada penentuan hari dan tanggal perkawinan, calon pengantin pria dengan membawa seorang kawan (biasanya teman dekatnya yang telah atau baru berkeluarga) pergi mendatangi langsung rumah para isteri ninik mamaknya atau dari keluarga-keluarga yang patut dihormatinya. Ia menyampaikan bahwa jika diizinkan Allah, ia akan melaksanakan akad nikah. Kemudian menjelaskan segala rencana perhelatan yang akan diadakan oleh orang tuanya. Lalu minta izin (mohon doa) restu dan jika perlu minta nasehat dan petunjuk yang diperlukan dalam rencana perkawinan itu.<br />
Dalam kesempatan ini, calon pengantin pria wajib menyampaikan suatu ajakan atau memohon kehadiran anggota rumah yang dkunjunginya serta seluruh keluarganya pada hari-hari perhelatan tersebut. Biasanya keluarga-keluarga yang didatangi tidaklah melepas pulang begitu saja si calon pengantin pria itu yang sengaja datang minta izin, namun ia akan memberi nasehat yang diperlukan bahwa menanyakan apa saja yang diperlukan oleh si CPP.<br />
Hasil dari meminta doa restu ini, maka semakin jelas dan yakin bagi pihak yang dikunjungi itu, bahwa ia telah dihormati oleh anak kemenakannya. Pihak isteri mamak (dipanggil “ mintuo” ), merasa terpanggil untuk ikut memikul beban sebagaimana pepatah yang mengatakan “ ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, dengan memberikan bingkisan-bingkisan yang berguna bagi orang yang akan pesta, sesuai dengan kemampuannya. Contoh ; gula pasir, baju untuk si calon pengantin pria, dll.<br />
Di berbagai tempat isitilah ma &#8211; anta siriah atau menghantar sirih, disesuaikan dengan cara dan kebiasaan setempat si calon pengantin. Namun maksud dan tujuannya sama, yaitu pengajuan izin dan mohon doa restu. Tugas ini dilaksanakan beberapa hari atau paling lambat dua hari sebelum akad nikah dilangsungkan.</p>
<p><strong>Tata Busananya </strong><br />
Untuk melaksanakan acara ini, CPP diharuskan untuk mengenakan busana khusus. Ada dua pilihan untuk itu yang lazim berlaku sampai sekarang dibeberapa daerah di Sumatera Barat, yaitu :<br />
1. Mengenakan celana batik dengan baju gunting cina berkopiah hitam dan menyandang kain sarung palekat (atau sarung Bugis).</p>
<p>2. Mengenakan celana batik dengan kemeja putih yang diluarnya dilapisi dengan jas, kerah kemeja keluar menjepit leher jas. Tetap memakai kopiah dengan kain sarung pelekat yang disandang di bahu atau dilingkarkan di leher.</p>
<p>Dahulu si CPP diharuskan untuk membawa “salapah” (semacam tempat untuk rokok daun nipah dengan tembakaunya). Tetapi sekarang anak-anak muda telah menukarnya dengan rokok biasa. Sebab tujuan membawa barang tersebut hanyalah sebagai suguhan pertama sebelum membuka kata.<br />
Berbeda pengertian mengantar sirih bagi keluarga CPW, yang tujuannya untuk menyampaikan maksud tertentu pada keluarga pria, maka seperangkat daun sirih lengkap telah dibubuhi kapur sirih, pinang yang telah tersusun rapi baik diletakkan diatas carano maupun didalam kampia (tas yang terbuat dari daun pandan). Sebelum menyampaikan maksud kedatangan, maka sirih ini terlebih dahulu disuguhkan kepada orang yang didatangi.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/148/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/148/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=148&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/meminta-izin-%e2%80%93-doa-restu-ma-anta-siriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100px-remajapria.jpg?w=100" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_2665.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/acara-babako-%e2%80%93babaki/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/acara-babako-%e2%80%93babaki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 02:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[E. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[budaya perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hifni Hafida
Meskipun sekarang ini acara memandikan CPW/anak daro tidak dilakukan lagi, namun beberapa nagari di Sumbar, acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. CPW/anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=147&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-medium wp-image-191 alignleft" style="float:left;" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/4-pic_58981.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />Oleh : Hifni Hafida</p>
<p>Meskipun sekarang ini acara memandikan CPW/anak daro tidak dilakukan lagi, namun beberapa nagari di Sumbar, acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. CPW/anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian wanita-wanita tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pegantin itu.</p>
<p><span id="more-147"></span></p>
<p>Dikota-kota besar, seperti di Jakarta, upacara memandikan calon anak daro juga lazim diselenggarakan. Akan tetapi demi efisiensi waktu dan pertimbangan-pertimbangan lain, acara memandikan calon anak daro digabungkan pelaksanaan dengan upacara memasang inai. Acara memandikan calon anak daro, dilaksanakan secara simulasi tanpa mengguyur si calon anak daro, namun cukup dengan cara memercikkan air yang berisi haruman tujuh kembang itu di beberapa tempat ditubuhnya dengan disertai doa selamat dari pihak yang memercikkan air ke tubuh si CPW/calon anak daro <img class="alignnone size-medium wp-image-192" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5894.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />.</p>
<p><strong>Tata cara acara memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro :</strong></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-193" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/acara-mandi-cpw.jpg?w=286&#038;h=300" alt="" width="286" height="300" />Jika acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolis atau simulasi belaka, maka sediakanlah satu ruangan khusus untuk menempatkan sebuah kursi dengan payung kuning terkembang didekatnya.<br />
Pada sat ba`da Magrib, ketika seluruh anggota kerabat telah hadir, maka si CPW/calon anak daro yang telah didandani dengan menggunakan busana khusus, dibawa keluar dari kamarnya, diapit para gadis yang juga menggunakan pakaian adat. Ketika Islam menjadi pegangan didalam pelaksanaan hukum adat, maka pada acara ba inai dan mandi-mandi dilaksanakan dengan warna yang Islami. Yaitu, ketika si calon anak daro keluar dari kamarnya, ia akan disambut oleh kelompok kesenian yang mendendangkan salawat Nabi hingga si calon anak daro ini duduk di kursi yang telah disediakan. Seorang dari anggota keluarga yang laki-laki, biasanya adik atau kakak dari si calon anak daro berdiri dibelakangnya memegang payung kuning.<br />
Mengapa demikian ? tidak lain bahwa saudara laki-laki si calon pengantin suatu saat kelak akan menjadi mamak dikeluarga itu kelak nanti, utamanya bagi anak-anak yang akan dilahirkan oleh calon anak daro itu. Saudara laki merupakan tungganai rumah yang bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kehormatan saudara-saudaranya dan kemenakan-kemenakannya yang wanita.<br />
Setelah itu dua wanita saudara-saudara ibunya berdiri mengapit dikiri kanan si calon anak daro, sambil memegang kain simpai.<br />
Ini maknanya : menurut sistem kekerabatan matrilinial, saudara-saudara ibu yang wanita adalah pewaris pusako yang berkedudukan sama dengan ibu anak daro. Karena itu dia juga berkewajiban untuk melindungi anak daro dari segala aib yang bisa menimbulkan gunjingan yang dapat merusak integritas kaum seperinduan.</p>
<p>Walaupun acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolik, kecuali ayah kandungnya, maka orang-orang yang diminta untuk memandikan dengan cara memercikkan air haruman tujuh macam bunga kepada calon pengantin wanita ini hanya ditentukan untuk wanita-wanita tua dari keluarga terdekat anak daro dan dari pihak bakonya. Jumlahnya harus ganjil. Umpamanya lima, tujuh atau sembilan orang. Dan yang terakhir melakukannya adalah ayah ibunya. Jumlah ganjilnya ini ditetapkan sesuai dengan keyakinan atas kekuasaan Tuhan dalam peristiwa alam, atau karena angka-angka ganjil selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sakral. Seperti ; sembahyang lima waktu, langit berlapis tujuh, sorga yang paling diidamkan oleh seorang Muslim juga sorga ketujuh. Tawaf keliling Ka’bah dan Sa’i pulang balik antara Safa dan Marwa dilaksanakan juga tujuh kali.</p>
<p><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5916.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-203" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5916.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Di Minangkabau upacara adat memandikan anak daro dan malam bainai, diselenggarakan dengan berbgai macam cara. Pada beberapa kenagarian, selain calon anak daro dimandikan dengan disiram dengan air yang berisi racikan tujuh kembang, ada pula yang melakukan dengan cara ;<br />
- tubuh calon anak dibaluti dengan tujuh lapis kain basahan yang berbeda-beda warnanya. Satu persatu orang tua menyiramkan air kembang tujuh rupa tubuh calon anak daro. Setiap calon anak daro diguyur dengan air kembang maka satu balutan kain dibuka dari tubuhnya dan demikian seterusnya.<br />
- Jika acara mandi-mandi ini dilaksanakan secara simbolik, maka air haruman tujuh bunga itu dipercikkan ketubuh calon anak daro dengan mempergunakan daun sitawa sidingin. Tumbukan daun ini dikampung-kampung sering dipakai diluar maupun diminum, ia berkhasiat untuk menurunkan panas badan. Karena itu disebut daun sitawa sidingin.<br />
Acara memandikan calon anak daro ini diakhiri oleh guyuran dan siraman dari kedua ibu bapaknya.</p>
<p>Setelah acara memandikan itu selesai, maka kedua orang tuanya itu akan langsung membimbing puterinya melangkah menuju ke pelaminan ditempat mana acara bainai akan dilangsungkan. Perjalanan ini akan ditempuh melewati kain hamparan kuning yang terbentang dari kursi tempat mandi-mandi ke tempat pelaminan.</p>
<p>Rangkaian upacara memandikan calon anak daro, karena mengandung nilai simbolik yang sangat berarti, maka hendak si calon anak daro dengan disaksikan semua hadirin, menjalani prosesi secara serius. Memandikan calon anak daro hingga memasangkan inai pada kuku jari, adalah napak tilas dari awal kehidupannya hingga ia berangkat menuju mahligai rumah tangga. Bagi orang tua-tua dikalangan calon anak daro itu, maka prosesi ini adalah suatu wujud keikhlasan untuk melepas sang anak menuju rumah tangga yang harmonis. Setelah sekian tahun ia membesarkan dan membimbing puterinya dengan penuh kehormatan dan kasih sayang, maka malam itu adalah kesempatan terakhir ia dapat melakukan tugasnya sebagai ibu bapa, karena besok setelah akad nikah maka yang membimbingnya lagi adalah suaminya. <a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5879.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-195" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5879.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
Hamparan kain kuning setelah diinjak dan ditempuh oleh calon anak daro, segera digulung oleh saudara kali-lakinya yang tadi waktu acara mandi-mandi memegang payung kuning. Menggulungan kain kuning itu, mengandung pula harapan-harapan, agar calon anak daro itu, melakukan perkawinan satu kali itu saja seumur hidupnya. Jika perkwinannya berulang nanti, hanya karena maut yang memisahkan mereka.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-194" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5907.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" />Jika kita simpulkan maka hakikat upacara adat perkawinan pada zaman kini mempunyai tujuan sebagai berikut :<br />
1. Untuk mengungkapkan kasih sayang keluarga kepada sang dara yang akan meninggalkan masa remajanya,<br />
2. Untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin yang segera akan membina kehidupan baru berumahtangga,<br />
3. Untuk menyucikan diri calon pengantin lahir dan batin sebelum ia melaksanakan acara yang sakral, yaitu akad nikah,<br />
4. Untuk membuat anak gadis kelihatan lebih cantik, segar dan cemerlang selama ia berdandan sebagai anak daro dalam perhelatan-perhelatannya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/147/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/147/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=147&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/05/05/acara-babako-%e2%80%93babaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/4-pic_58981.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5894.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/acara-mandi-cpw.jpg?w=286" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5916.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5879.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5907.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Acara Malam Bainai</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/30/penyambutan-di-rumah-anak-daro/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/30/penyambutan-di-rumah-anak-daro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 05:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[budaya perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[~ malam bainai ~
Sebuah lagu minang terkenal berjudul malam bainai, melukiskan betapa meriahnya suatu upacara perkawinan di Minangkabau. Secara harfiah “bainai “ artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=145&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>~ malam bainai ~</strong><br />
<img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/1-pic_5893.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-180" />Sebuah lagu minang terkenal berjudul malam bainai, melukiskan betapa meriahnya suatu upacara perkawinan di Minangkabau. Secara harfiah “bainai “ artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku. Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan pada malam hari sebelum keesokan paginya CPW/calon anak daro melangsungkan akad nikah.<br />
Mengapa acara memasang inai pada kuku-kuku tangan calon anak daro menjadi acara yang berarti dalam upacara adat ? <span id="more-145"></span><img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/2-pic_5897.jpg?w=210&#038;h=300" alt="" width="210" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-181" />Kegiatan suatu keluarga ketika mengawinkan anak gadisnya  untuk pertama kali di Minangkabau, bukan saja dianggap sebagai suatu yang sangat sacral, tetapi juga kesempatan bagi semua keluarga dan tetangga untuk saling menunjukkan partisipasi dan kasih sayangnya kepada keluarga yang akan berhelat (baralek). Karena itulah, pada malam hari sebelum akad nikah dilangsungkan semua keluarga dan tetangga terdekat tentu akan berkumpul di rumah yang punya hajat. Sesuai dengan keakraban masyarakat agraris mereka akan ikut membantu menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, baik dalam persiapan di dapur maupun dalam menghias ruangan-ruangan dalam rumah.<br />
Pada acara malam bainai itu diselenggarakan, seluruh kerabat dan handai tolan dari orang tua calon anak daro, diberikan kesempatan untuk memberikan doa restunya untuk melepas dara yang akan melangsungkan pernikahan pada keesokan harinya. </p>
<p><img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/inai.jpg?w=300&#038;h=244" alt="" width="300" height="244" class="alignnone size-medium wp-image-182" />Riwayat acara bainai :<br />
Pada mulanya memasang inai tidak saja upaya menampilkan kecantikan pada bagian dari anggota tangan anak daro, namun juga menurut kepercayaan kat zaman dahulu, kegiatan memerahkan kuku-kuku jari calon anak daro  ini juga mengandung arti magis. Ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan untuk melindungi si calon anak daro dari kemungkinan ada manusia yang iri dengan si calon anak daro. Kuku-kuku yang telah diberi pewarna  merah yang berarti juga selama ia berada dalam kesibukan menghadapi berbagai macam perhelatan perkawinannya itu ia akan tetap terlindung dari segala mara bahaya. Setelah selesai melakukan pesta-pesta, warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.<br />
Saat kini, kepercayaan kuno yang tak sesuai dengan tauhid Islam ini, sudah ditinggalkan. Sekarang memasang inai, merupakan bagian dari perawatan dan upaya menampilkan asesoris kecantikan anak daro, dan tidak lebih dari itu. Memerahkan kuku jari, tidak memiliki kekuatan menolak mara bahaya apa pun, karena perlindungan diri dari pengaruh jahat yang mengancam si anak daro, berada pada kekuasan Allah SWT.<br />
<strong><br />
Busana pada  Malam Bainai</strong><br />
<img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5906.jpg?w=234&#038;h=300" alt="" width="234" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-183" />Karena pada acara malam bainai seringkali digabungkan dengan upacara memandikan si anak daro, maka  anak daro mengenakan busana khusus yang disebut baju tokah dan bersunting rendah. Tokah adalah semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada sehingga bagian-bagian bahu dan lengan nampak terbuka. Agar suasana upacara adat perkawinan ini menjadi meriah, maka para hadir terutama kaum wanita, akan mengenakan baju kurung – khas minangkabau. Sedangkan kaum pria menggunkan baju teluk belanga.<br />
Dalam acara ini hadir pula teman-teman calon anak daro yang sengaja diberi berpakaian adat Minang untuk lebih menyemarakkan suasana.  </p>
<p><strong>Tata cara Bainai </strong><br />
<img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/3-pic_5892.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-184" />Jika acara memandikan calon anak daro hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, maka acara melekatkan tumbuhan inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita Minang ini dapat dilakukan oleh siapa  saja, termasuk para tamu yang dihormati malam itu, termasuk oleh keluarga calon besan.<br />
Di beberapa kenagarian di Ranah Minang, acara bainai ini juga dapat dilakukan bersamaan dengan mengikutsertakan calon pengantin pria. Namun kedua calon pengantin (anak daro dan marapulai) tidak dipersandingkan. Jika akan dipersandingkan juga, maka posisi duduk calon pengantin pria (CPP), tidak di sebelah kanan, tetapi di sebelah kiri calon pengantin wanita (CPW). Kuku jari yang diinai sama juga dengan acara mandi-mandi, harus ganjil jumlahnya. Paling banyak sembilan.<br />
<img src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/4-pic_5898.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-185" />Pada kesempatan upacara memasang inai ini, setiap orang tua yang diminta untuk melekatkan inai ke jari calon anak memberikan nasehat secara berbisik ke telinga calon anak daro. Bisikan-bisikan itu bisa berlangsung lama, bisa sangat singkat.  Nasehat-nasehat yang sangat rahasia mengenai kehidupan berumahtangga, atau bisa juga hanya sekedar gurau agar si calon anak daro tidak cemberut saja dihadapan orang ramai. Pelaksanaan acara akan dipimpin oleh seorang pemandu yang mampu menhidupkan acara ba – inai.<br />
Di  daerah Pariaman wanita yang memandu acara disebut uci-uci, untuk daerah nagari lain, pemandu acara mungkin dilakukan oleh amai – amai atau mande-mande sesuai dengan kebiasaan setempat. Seringkali juga pada malam bainai ini acara dimeriahkan dengan menampilkan kesenian-kesenian tradisional Minang.<br />
Di wilayah pesisir meliputi Painan, Padang – Pariaman hingga Lubuk Basung,  hiburan yang ditampilkan ialah musik gamat dengan irama musik Melayu serta disertai joget Melayu Deli. Semua acara ini mengundang tamu agar  secara spontan tegak menari bersama. Dengan menggunkan selendang-selendang, penari wanita akan mengajak kaum pria agar menari melayu secara bersama. </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=145&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/30/penyambutan-di-rumah-anak-daro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/1-pic_5893.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/2-pic_5897.jpg?w=210" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/inai.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_5906.jpg?w=234" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/3-pic_5892.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/4-pic_5898.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pasambahan Penjemputan Pengantin Pria (dilangsungkan di atas rumah)</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/29/pasambahan-manjapuik-marapulai-dilangsungkan-di-atas-rumah/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/29/pasambahan-manjapuik-marapulai-dilangsungkan-di-atas-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 07:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[E. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[budaya perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Percakapan yang sering dilakukan pada saat penyambutan kedatangan marahpulai sering dibawakan dengan bahasa yang sebenarnya tidak mudah dipahami. Akan tetapi karena menyangkut upacara dan prosesi adat, maka pihak keluarga anak daro dalam melakukan penyambutan akan diwakili oleh wakil yang terbiasa memimpin upacara adat. Ikutilah percakapan yang terjadi pada saat penerimaan kedatangan marahpulai.

Sutan Parmato : (juru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=140&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_6188.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-204" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_6188.jpg?w=300&#038;h=217" alt="" width="300" height="217" /></a><img class="alignnone size-medium wp-image-186" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/persembahan-dirumah-anak-daro.jpg?w=264&#038;h=219" alt="" width="264" height="219" />Percakapan yang sering dilakukan pada saat penyambutan kedatangan marahpulai sering dibawakan dengan bahasa yang sebenarnya tidak mudah dipahami. Akan tetapi karena menyangkut upacara dan prosesi adat, maka pihak keluarga anak daro dalam melakukan penyambutan akan diwakili oleh wakil yang terbiasa memimpin upacara adat. Ikutilah percakapan yang terjadi pada saat penerimaan kedatangan marahpulai.<span id="more-140"></span><br />
<a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/picture-239.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-205" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/picture-239.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><strong>Sutan Parmato</strong> : (juru bicara pihak keluarga anak daro berdiri sambil mengangkat sembah).	:	<em>&#8221; Ma angku Sutan Sinaro ? Sambah tibo ka haribaan angku !</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> : (juru bicara pihak keluarga marapulai berdiri juga sambil mengangkat sembah).	:<em> &#8221; Manitahlah angku Sutan Permato.</em></p>
<p><strong>Sutan Parmato</strong> :	&#8220;<em> Sungguahpun angku surang &#8211; tampek ambo manibokan sambah &#8211; nan sarapeknyolah niniak mamak nan gadang basa batuah &#8211; alim ulama cadiak pandai &#8211; suluah bendang dalam nagari langkok jo Bundo Kanduang &#8211; amban puro limpapaeh rumah nan gadang &#8211; sarato nan mudo-mudo &#8211; nan capek kakiringan tangan &#8211; parik paga dalam nagari Ketek indak disabuik namo &#8211; Gadang indak diimbaukan gala &#8211; nak jo sambah sajo kasadonyo &#8211; kami muliaka</em>n…(Kembali mengangkat Sembah dan melanjutkan lagi kata-katanya).</p>
<p><em>&#8221; Apo nan manjadi isi pasambahan &#8211; iolah tantangan kami alek nan tibo &#8211; Nan sabondong lalu &#8211; satampuah suruik &#8211; sasuai jo janji nan dikarang &#8211; sarato padan nan lah diukue &#8211; iolah tibo kami disiko &#8211; Kok datang alah basambuik &#8211; kok tibo alah basonsong &#8211; lah dibao naiak kateh rumah &#8211; kok duduaklah bakambangkan lapiak &#8211; alah kami balapeh angah.Baa nan sakarang kini nangko &#8211; Kok dirantang namuah panjang &#8211; Elok dipunta naknyo singkek &#8211; Batanyo kami ka sipangka &#8211; Kok ado nan taraso diati &#8211; nan ta ilan dimato &#8211; alahko buliah dikatangahkan ?</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> :<em> &#8220; 	Alah sampai di angku Parmato ?</em></p>
<p><strong>Sutan Parmato</strong> : 	&#8220;<em>Alah, Sutan!</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> :<em> &#8221; Apo nan manjadi panitahan dek angku Sutan Parmato tadi &#8211; alah dalam adaik dalam pusako &#8211; alah taracak diundang alah tasungkuik di limbago &#8211; Ibaraik urang batukang &#8211; alah dibarih makan pahek &#8211; alah dirasuak manjariau &#8211; Tapi samatang pun baitu &#8211; iyo juo bak pangaja urang tuo-tuo kito &#8211; Jikok babiduak banakodo &#8211; Jikok bajalan banan tuo &#8211; Nak ambo elo kato jo mupakaik &#8211; mancari rundiang nan saangguak &#8211; Basaba malah angku mananti !</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> :	&#8220;<em> yo ambo nanti malah</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro : </strong> (menunjukkan sembah kepada ninik mamak rumah : Dt. Batuah)</p>
<p><em>&#8221; Ma angku Datuak Batuah? sambah tibo kaharibaan angku datuak !</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> :	<em>&#8221; Tantangan rundiang alek nan tibo indaklah raso kadiulang &#8211; Kok bisiak lah kadangaran &#8211; kok imbau lah samo kalampauan &#8211; Baa di kito kini nangko &#8211; kok kato alun bajawek &#8211; kok gayuang alun basambuik &#8211; iyo nak mintak sipaik bakeh angku Datuak &#8211; Baa po dikito pambarinyo ? Baa nyo kalau angku datuk menyampaikan&#8221;. </em></p>
<p><strong>Dt. Batuah </strong>:<em> &#8221; Apo nan manjadi panitahan dek Sutan tadi &#8211; iyolah kato sabananyo &#8211; adaik tanyo iyo bajawek &#8211; adaik gayuang iyo basambuik &#8211; Tantang jawek bakeh si alek &#8211; jalan nan pasa kito turuik &#8211; labuah nan golong kito tampuah &#8211; Jikok batanyo lapeh arak jikok barundiang sudah makan &#8211; Pulang maklum bakeh Sutan !</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro	:</strong> <em>&#8221; Baa nyo kalau angku Datuak nan manyampaikan…?</em></p>
<p><strong>Datuak Batuah</strong> :<em> &#8220; 	Karano Sutan nan manabang &#8211; eloklah Sutan juo nan manutuah!</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro </strong>: 	&#8221; <em>Jadi malah angku.</em> (Lalu menunjukkan sembah kembali kepada St. Parmato)</p>
<p><em>&#8221; Ma angku Sutan Parmato? Maaf dimintak sapuluah jari &#8211; karano lah rasah angku tagak mananti &#8211; maklumlah bajalan indak sadang salangkah &#8211; jalan babelok bakeh lalu &#8211; Baa nan kini nanko &#8211; manjawek tanyo angku tadi &#8211; lah kami cari rundiang nan saangguak &#8211; sarato kato nan sagumam &#8211; kok bulek lah buliah digolongkan &#8211; picaklah buliah dilayangkan &#8211; iyo jalan nan pasa juo nan batampuah &#8211; labuah nan golong juo kito turuik &#8211; Jikok batanyo lapeh arak &#8211; jikok barundiang sudah makan &#8211; Sakitu sambah bakeh Sutan!</em></p>
<p><strong>Sutan Parmato </strong>:	&#8220;<em> Kalau baitu putusan kato &#8211; tingga dikami manjalani &#8211; Bismillahkan lah diangku disitu &#8211; nak kami turuikkan pulo di siko !</em></p>
<p>(Acara “sambah Manyambah” terhenti sejenak untuk menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah. Setelah acara santap hidangan selesai dilaksanakan, maka acara samabah menyembah kembali berlanjut yang tujuan adalah undur pamit kepada Tuan rumah.</p>
<p>Selaku Pembawa acara &#8211;  Sutan Parmato kembali mengangkat sembah.</p>
<p><strong>Sutan Parmato</strong> :<em> &#8221; Ma angku Sutan Sinaro ? Sambah tibo kaharibaan angku…!</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> :	&#8220;<em> Manitahlah angku Sutan Parmato</em>.</p>
<p><strong>Sutan Parmato	:</strong><em> &#8221; Kok makan iyolah sampai kanan kanyang &#8211; Kok minum iyolah tibo dinan sajuak &#8211; Manjapuik kato nan tingga &#8211; Maulang rundiang nan tadi &#8211; Kok ado nan tailan dimato &#8211; nan takano di ati &#8211; alah koh kini buliah kami katangahkan…?</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> :	<em>&#8221; Katangahkanlah angku Sutan Parmato</em>&#8220;.</p>
<p><strong>Sutan Parmato</strong> : <em>&#8221; Kok makan iyolah tibo dinan sajuak &#8211; Manjapuik kato nan tingga &#8211; Maulang rundiang nan tadi &#8211; Kok ado nan tailan dimato &#8211; nan takano di ati &#8211; alah koh kini buliah kami katangahkan…?</em></p>
<p><strong>Sutan Sinaro</strong> : <em>&#8220; 	Dahalu bakapa rang ka Makah &#8211; kini lah tabang jo pasawek &#8211; Dahulu kato baistinah &#8211; kiniko kato basicapek &#8211; Disabuik sajo nan paralu &#8211; Iyolah tantangan kami nangko &#8211; nan sabondong lalu satampuah suruik &#8211; namonyo urang tasarayo &#8211; tasuruah dek angku…</em>(sebutkan nama, suku dan kampung ayah calon pengantin wanita) &#8211; &#8221; <em>Datang kamari basamo-samo &#8211; untuak manjapuik marapulai &#8211; calon rang sumando jo minantu kami nan banamo…. &#8230;. </em>(sebutkan nama calon pengantin pria) <em>anak dari ….</em>&#8230;&#8230;. (sebutkan nama ayahnya serta suku dan kampungnya)</p>
<p><em>&#8221; Kok datang kami datang batadaik &#8211; ditingkek janjang &#8211; ditampiak bandua &#8211; langkok jo siriah bacarano &#8211; Kok japuik kami japuik tabao &#8211; sarato jo urang nan kamairingkan…!</em></p>
<p><em>&#8221; Awak baralek yo baabih ari &#8211; tapi pangulu yo baukatu -</em></p>
<p><em> &#8221; Karano itu pintak indak kabaulang &#8211; kandak indak kamanduo &#8211; Tarimolah baju pambaokan kami &#8211; nak mintak dipakaikan kapado rang sumando kami…!</em></p>
<p>Demikianlah,  percakapan kedua belah pihak, akan terputus sementara sambil mempersilakan para tamu makan atau minum segelas air dan mencicipi kue-kue yang telah disediakan. Setelah selesai acara santap atau makan kue-kue kecil ini, barulah juru bicara pihak rombongan yang datang kembali mengangkat sembah, mengulangi kembali pertanyaan yang tertunda tadi.</p>
<p>Setelah jurubicara tuan rumah menyatakan bahwa rundingan sudah bisa dilanjutkan, maka barulah jurubicara pihak kelaurga marah pulai secara terperinci mengemukakan maksud kedatangan rombongan melalui alur persembahannya.</p>
<p>Pokok-pokok isinya persembanhan harus memenuhi ketentuan-ketentuan adat menjemput marapulai sbb :<br />
1.     Menyatakan bahwa mereka itu merupakan utusan resmi mewakili pihak keluarga calon pengantin wanita.<br />
2.    	Bahwa mereka datang secara adat. Maningkek janjang manapiak bandua dengan membawa sirih dalam carano.<br />
3.    	Bahwa tujuan mereka adalah untuk menjemput marapulai (sebutkan namanya dan nama orang tuanya dengan jelas).<br />
4.    	Menegaskan bahwa jemput itu jemput terbawa, sekalian dengan keluarga yang akan mengiringkan.</p>
<p>Kalimat-kalimat dalam alur persembahan bisa bervariasi panjang dengan menyebut dan membeberkan kembali sejarah kelahiran seorang anak sampai dewasa dan sampai berumah tangga atau mengulang-ulang tambo sejarah ninik moyang orang Minang mulai dari puncak Gunung Merapi sampai ke laut yang sedidih dsb. Tetapi itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan inti maksud kedatangan rombongan, kecuali hanya untuk memamerkan keahlian si tukang sembah.</p>
<p>Sedangkan yang pokok menurut adat untuk disebut adalah yang berhubungan dengan empat ketentuan di atas. Setelah keempat maksud itu disampaikan, dan diterima oleh jurubicara tuan rumah maka barulah seperangkat pakaian yang dibawa oleh rombongan penjemput diserahkan kepada tuan rumah untuk bisa segera dipakaikan kepada marapulai. Sambil menunggu marapulai berpakaian, barulah dilanjutkan lagi acara dengan alur persembahan menanyakan gelar marapulai. Setelah selesai acara sambah-manyambah ini, dan setelah selesai marapulai didandani dan dikenakan busana yang dibawa oleh keluarga anak daro, maka sebelum rombongan termasuk rombongan keluarga yang laki-laki berangkat bersama-sama menuju rumah kediaman anak daro, haruslah marapulai memohon doa restu terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya dan kepada keluarga-keluarganya yang tua-tua dan yang pantas untuk dihormati dalam kaumnya.</p>
<p>Oleh karena anak laki-laki di dalam kekerabatan Minang kalau sudah beristeri biasanya akan tinggal di rumah isterinya, maka sering juga anak laki-laki yang akan kawin itu disebut akan menjadi “anak orang lain”. Sehingga peristiwa permohonan doa restu ketika akan berangkat nikah,  seringkali menjadi sangat mengharukan, dimana yang dilepas dan yang melepas saling bertangis-tangisan. Lazimnya dalam acara menjemput marapulai ini, pihak keluarga anak daro juga membawa dua orang wanita muda yang baru berumah tangga untuk dijadikan pasumandan yang mengiringkan dan mengapit marapulai mulai turun rumahnya sampai disandingkan di pelaminan setelah akad nikah. Pasumandan ini juga didandani dengan baju kurung khusus dan kepalanya dihiasi dengan sunting rendah.</p>
<p>(Sumber : Tata Cara Pelaksanaan Adat Minangkabau)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/140/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/140/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=140&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/29/pasambahan-manjapuik-marapulai-dilangsungkan-di-atas-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_6188.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/persembahan-dirumah-anak-daro.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/picture-239.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penyambutan Di Rumah Pengantin wanita</title>
		<link>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/26/tata-cara-perkawinan-diminangkabau/</link>
		<comments>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/26/tata-cara-perkawinan-diminangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 12:01:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~padusi~</dc:creator>
				<category><![CDATA[E. BUDAYA DAN TRADISI MINANGKABAU]]></category>
		<category><![CDATA[budaya perkawinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bundokanduang.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Penyambutan marapulai dirumah anak daro :
Setelah marahpulai dijemput oleh pihak keluarga anak daro, maka tibalah saat nya marahpulai dinanti-nanti dengan uapacara kebesaran. Seperti kita tahu, bahwa pelaksanaan akad nikah dapat dilaksanakan di rumah,dimesjid atau di gedung pertemuan.Di semua tempat pelaksanaan akad nikah itu akan disertai dengan upacara penyambutan calon mempelai pria secara khidmat sesuai dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=138&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Penyambutan marapulai dirumah anak daro :</strong></p>
<p><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100_3668.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-206" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100_3668.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_8103.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-207" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_8103.jpg?w=300&#038;h=228" alt="" width="300" height="228" /></a><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-208" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning.jpg?w=257&#038;h=300" alt="" width="257" height="300" /></a><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-209" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning1.jpg?w=257&#038;h=300" alt="" width="257" height="300" /></a><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-210" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning2.jpg?w=257&#038;h=300" alt="" width="257" height="300" /></a><a href="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100_3702.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-211" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100_3702.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Setelah marahpulai dijemput oleh pihak keluarga anak daro, maka tibalah saat nya marahpulai dinanti-nanti dengan uapacara kebesaran. Seperti kita tahu, bahwa pelaksanaan akad nikah dapat dilaksanakan di rumah,dimesjid atau di gedung pertemuan.Di semua tempat pelaksanaan akad nikah itu akan disertai dengan upacara penyambutan calon mempelai pria secara khidmat sesuai dengan upacara adat di nagari setempat. Bila akad nikah dilangsungkan dirumah calon mempelai wanita, maka acara penyambutan kedatangan calon mempelai pria dengan rombongannya di rumah calon pengantin wanita dilaksanakan menurut prosesi tertentu pula<br />
Jika di tanah Jawa akan menampilkan janur kuning, maka yang menonjol dalam penyelenggraan acara baralek gadang, si yang empunya hajad akan menampilkan ke-khasan dan symbol Minangkabau berupa umbul-umbul atau bendera yang disebut marawa-marawa ala Minangkabau disepanjang jalan tempat perhelatan. Selain itu dipersiapkan pula permainan musik tradisional (talempong dan gandang tabuik) untuk memeriahkan suasana.<span id="more-138"></span></p>
<p>Pada mulanya penyambutan mempelai peria (marahpulai) dengan payung kehormatan, diperuntukkan bagi mempelai pria yang berbangsa seperti yang terjadi di wilayah Padang –Pariaman, yang memiliki gelar tertentu, seperti Sidi, Bagindo, Sutan. Sekarang ini penyambutan marahpula dengan payung kuning dapat dilakukan kepada oleh kalangan siapa saja tanpa memperhatikan kedudukan dan status social marapulai. Akhirnya payung kuning menjadi satu rangkaian dalam prosesi penyambutan marahpulai..<br />
Demikian pula dengan penyambutan menurut adat kebesaran dengan tari-tarian adat, seperti; barisan galombang adat yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat untuk membuka jalan, dan dara-dara berpakaian adat yang akan menyuguhkan sirih secara bersilang dari pihak tuan rumah kepada pihak ninik mamak marapulai beserta rombongannya.</p>
<p><strong>Tata cara penyambutan :</strong></p>
<p>Secara garis besar ada empat tata cara menurut adat istiadat Minang yang dapat dilakukan oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dalam menyambut kedatangan marahpulai, yang dilangsungkan pada empat titik tempat yang berbeda di halaman rumah anak daro, yaitu :<br />
<strong><br />
Pertama;</strong><br />
Memayungi segera calon mempelai pria dengan payung kuning tepat pada waktu kedatangannya pada titik yang telah ditentukan di jalan raya di depan rumah atau jikalau rombongan datang dengan mobil, pada titik tempat marapulai turun dari mobilnya dan akan melanjua kan perjalanan menuju rumah anak daro dalam arak-arakan berjalan kaki.</p>
<p><strong>Kedua;</strong><br />
Menyambut kedatangan marahpulai dan rombongan dengan tari gelombang sebagai tarian adat, yang disebut parik paga dalam nagari. Berbagai ragam penyambutan yang dilakukan oleh pihak keluarga anak daro (CPW), yaitu ;<br />
· penghormatan pertama melalui penjagaan kiri kanan jalan yang akan dilewati oleh rombongan.<br />
· Pada titik pertengahan jalan, kedua barisan gelombang ini akan bertemu dengan pimpinannya masing-masing, dan akan melakukan sedikit gerak persilatan.<br />
Contoh tata cara perkawinan seperti ini, mengambil prosesi yang dilakukan di kampung-kampung di ranah minang pada masa dahulu.<br />
Alkisah, dahulunya jika seorang pemuda akan menuju ke rumah calon isterinya yang berada dikampung lain, harus dikawal oleh kawan-kawan sepersilatannya. Sementara itu di Kampung calon isterinya itu terdapat pula para pemuda yang selalu siap siaga menjaga keamanan kampung. Tidak jarang antara kedua kelompok pemuda ini sering terjadi kesalah pahaman sehingga mereka saling menunjukkan ketrampilan dan kelihaian mereka dalam bersilat. Karena itulah kiasan dari tarian gelombang itu, merupakan gambaran yang sering terjadi pada masa lalu dan diwujudkan dengan ada acara persilatan seperti yang terjadi pada masa kini.<br />
Ketika, pertarungan silat itu terjadi, maka persilatan dihentikan, ketika salah seorang ninik mamak dari tuan rumah datang melerai mereka dengan carano adat yang sudah berisi sirih pinang. Rangkaian tarian selanjutnya disambut dengan barisan dara-dara yang menggambar peran Bundokanduang sebagai limpapeh rumah dan gadang, menyonsong tamu dan mempersembahkan sirih lengkap dalam carano adat bertutup dalamak ( kain bludru bertabur kaca bersulam benang emas), dan secara timbal balik melakukan gerakan tertentu menyilang antara yang datang dan yang menanti.<br />
<strong><br />
Ketiga;</strong><br />
Pada saat itulah dilakukan penghormatan antara kedua belah pihak dengan cara sembah-menyembah antar wakil rombongan selaku juru bicara dengan juru bicara pihak tuan rumah, yang dilakukan bertepatan di depan pintu masuk rumah anak daro (CPW). Sembah menyembah dari pihak Tuan Rumah adalah sebagai sapaan kehormatan atas kedatangan marahpulai dan rombongan ke rumah mereka.<br />
<strong><br />
Keempat;</strong><br />
Sesampai di pintu rumah, marahpulai disambut dengan tebaran beras kuning sambil menyampaikan kalimat yang melodius tentang ucapan selamat datang Marahpulai dan rombongannya. Pihak tuan rumah telah mempersiapkan pula perangkat penyambutan, yaitu naik manapiak bandua dan maningkek janjang, dengan cara ; mencuci kaki calon menantunya dengan menuangkan sedikit air di ujung sepatu marahpulai. Setelah pencucian kaki secara simbolik ini, maka marahpulai akan menapak masuk ke dalam rumah anak daro, melalui hamparan kain jajakan putih yang dibentangka, antara pintu sampai masuk rumah hingga tempat upacara akad nikah akan dilangsungkan.<br />
Pencucian kaki dan berjalan diatas kain putih ini merupakan perlambang dari harapan-harapan tentang kebersihan dan kesucian hati si calon menantu itu dalam melaksanakan niatnya untuk mengawini calon isterinya. Sering juga disebut acara ini mengandung harapan, agar si marahpulai (CPP), akan membawa segala yang suci dan bersih ke atas rumah anak daro dan meninggalkan segala yang buruk dan kotor sejak dari halaman.<br />
Jumlah pemuda-pemuda yang terlibat dalam penyambutan dengan tari gelombang serta gadis-gadis yang menyampiakan persembahan sirih adat, tergantung kepada besar kecilnya pesta yang diadakan. Namun lazimnya, jumlah penari ada tujuh orang untuk tiap kelompok, yang terdiri dari :<br />
- tujuh orang penari gelombang dari pihak yang menanti, dan<br />
- tujuh orang dari pihak yang datang<br />
- tujuh orang gadis-gadis yang membawa sirih adata, dan<br />
- tujuh orang untuk pihak rombongan yang datang.</p>
<p>Mengingat efisiensi biaya dan tenaga, upacara penyambutan marahpulai dengan tarian gelombang dilakukan secara sepihak saja oleh keluarga anak daro. Artinya barisan gelombang dan dara-dara limpapeh pembawa sirih hanya disiapkan dipihak keluarga calon pengantin wanita saja.</p>
<p><strong>Busana dalam penyambutan marahpulai :</strong><br />
Pilihan Busana pria dalam penyambutan marahpulai, adalah sebagai berikut :<br />
a. Jas, kemeja, kain sarung, sendal dan kopiah hitam.<br />
b. Jas engku damang, celana panjang dan sampirannya kain songket ringan.<br />
c. Kemeja dan pantalon biasa, dilehernya dikalungkan kain plakat yang kedua ujungnya terjuntai ke dada. Sedangkan kepala harus memakai kopiah.<br />
d. Kaum ibu dan bundokanduang yang ada di rumah anak daro, dapat menggunakan ragam busana apa saja. Sebagaimana kita ketahui di Sumatera Barat terdapat 17 model pakaian adat, yang selalu ditampilkan disetiap upacara adat resmi.<br />
e. Para pemuda penari gelombang, menggunakan baju silat biasa dengan celana galembong tapak itiak berkain samping dipinggang dan destar dikepala.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-157" src="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/sangmarapulaitelahtiba.jpg?w=146&#038;h=300" alt="" width="146" height="300" /> Gadis-gadis (padusi) limpapeh rumah nan gadang yang membawa sirih, mengenakan baju kurung dalam berbagai variasi menurut daerah masing-masing. Hiasan kepala bisa berupa tingkuluak tanduak atau hiasan kepala yang ringan seperti sunting rendah atau sunting ringan lainnya yang beraneka ragam bentuknya sesuai pakaian resmi dengan asal nagari.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bundokanduang.wordpress.com/138/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bundokanduang.wordpress.com/138/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bundokanduang.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bundokanduang.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bundokanduang.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bundokanduang.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bundokanduang.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bundokanduang.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bundokanduang.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bundokanduang.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bundokanduang.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bundokanduang.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bundokanduang.wordpress.com&blog=2975088&post=138&subd=bundokanduang&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bundokanduang.wordpress.com/2008/04/26/tata-cara-perkawinan-diminangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86c0068252c2e47baad6d3c1992a88a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">~padusi~</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100_3668.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/pic_8103.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning.jpg?w=257" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning1.jpg?w=257" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/payung-kuning2.jpg?w=257" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/100_3702.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://bundokanduang.files.wordpress.com/2008/05/sangmarapulaitelahtiba.jpg?w=146" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>