17
Apr
15

Bid’ah versi ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Oleh : Marni Malay

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio

“Panakiak pisau sirauik ambiak galah batang lintabuang, salodang ambiak ka niru,Nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru.”

Inilah redaksi lengkap dari falsafah alam takambang jadi guru,yang artinya, air yang setitik rela (ihklas) diterima laksana sebanyak air lautan, tanah yang sekepal (segenggaman tangan) rela diterima laksana sebesar gunung dan alam semesta raya ini dijadikan guru (tempat belajar dan atau pemberi pelajaran).

Falsafah alam takambang jadi guruadalah, “ filsafat hukum alam” dan atau, “ filsafat hukum kodrat”, yang merupakan pandangan hidup (way of life) orang Minangkabau, salah satu suku bangsa rumpun Melayu Nusantara, atau yang sering juga disebut dengan suku bangsa Melayu Minangkabau, yang telah bermukim di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnyaatau juga yang lebih dikenal dengan sebutan,” Ranah Minang”, sejak kira-kira2500-2000 tahun lalu atau antara abat ke 5 -1 SM. Mereka meyakini bahwa falasafah tersebut disamping sebagai pandangan hidup mereka, juga merupakan, “ norma dasar” atau sumber dari segala sumber hukum (Grundnorm) terbentuknya Hukum Adat Minangkabau yang telah diwarisi secara turun-menurun dari nenek moyangnya. Dapat dikatakan kedudukan falsafah tersebut dalam hukum adat Minangkabau tak obahnya seperti falsafah Pancasila di Negara Indonesia.

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio, syarak mangato adat mamakai, artinya jalankan agama sesuai yang dikatakan Alquran dan Sunnah Rasul, tak boleh dilebih-lebihkan, tak boleh dikurangi, tak boleh menghalalkan yang haram, atau sebaliknya, kerjakan perintah –  tinggalkan larangan. Yang tidak dilarang jangan diharamkan pula. Subhanallah !
(ko pandapek ambo, tasarah sanak memahaminya – pen).

Contoh;
Harta warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal pembagiannya adalah menurut Alquran. Akan tetapi kalau anak laki-laki tak mengambil bagian dari harta warisan orang tuanya, itu tidaklah dilarang, tak ada perintah agama yang melarangnya.Bagi laki-laki minang, anak dipangku kemanakan di bimbiang, makanya tidak mau, dan bahkan malu mengambil harta orang tua.

Selanjutnya, dalam hal Harta Pusaka Tinggi, semua anak cucu keturunan datuak A misalnya berhak atas harta itu, dan dahulu kala mereka mengamanatkan; ” di jua tak makan bali – digadai tak makan sando. Kabau tagak kubangan tingga. Maka apakah haram atau dilarang melaksanakan amanat nenek moyang ?    Subhanallah !

Demikian pula dalam hal adat istiadat; lain padang lain hilalang. tak ada ayat yang menyatakan ritual adat itu haram, malahan justru ayat mengukuhkannya.  seperti : …kujadikan manusia berbangsa bangsa supaya mereka saling mengenal……dstnya.
Nah kalau budaya timur memulyakan hari kelahiran Rasullulah meskipun tak ada hadist atau ayat al Quran yang menyuruhnya ataupun melarangnya, dengan dasar apa pula kita bisa mencapnya sebagai bid’ ah ?

Bahwa sebenarnyalah adat istiadat harus relevan dengan Al Quran.
Contoh ; dahulu orang Arab akan langsung tahu kalau di Makkah, ada orang yang pakai sarung dan kopiah berarti dia orang Indonesia. Pakaian itu diperkenalkan secara tidak sengaja oleh Buya HAMKA. Beliau berkeliling keseantero dunia, selalu berpakaian demikian.
Nah,  terbukti justru adat telah membuat orang Arab atau dunia tahu secara gamblang suku bangsa seseorang. Seperti juga misalnya pakaian orang India. Coba kalau dulu Buya HAMKA ikut-ikutan berpakaian gamis ala bangsa Arab, tentulah sampai sekarang orang Arab tidak akan gamblang mengenali orang Indonesia. Lagi pula apa yang dipakai Rasullulah, dipakai pula oleh orang Arab seluruhnya. Jadi pakaian Rasull termasuk pakaian kebudayaan Arab, apakah dianggap sunnah juga ?
Ada yang mengatakan sama saya,  berpakaian seperti Nabi atau orang Arab termasuk sunnah ?

Falsafah alam takambang jadi guru, suatu bukti kecerdasan nenek moyang orang Minang, bahwa andai kata dibolehkan menjual harta pusaka tinggi, maka suatu hari kelak etnis Minangkabau, kelak kemungkinan akan tersingkir dari kampung halamannya ! Mereka hanya tinggal nama saja, bahkan bisa jadi akan jadi jongos dikampungnya sendiri ! Masya Allah.
Dalam pepatah minang dikatakan ; jalan lah di aliah urang lalu, cupak dituka orang panggaleh.
Artinya : jalan hidup ( pedoman) orang Minang sudah diambil alih orang lain dan menggantinya dengan tata cara  pedagang.
Fakta ini telah banyak terjadi pada suku bangsa lain yang membolehkan menjual tanah. Mereka hampir tak punya tanah lagi sebagai tempat berpijak ditanah sendiri.
Mereka bagaijan tikus mati dilumbung padi. Kaya tapi kelaparan (- editor)

Allah berfirman dalam Al Quran agar manusia berfikir, memperhatikan kejadian langit dan bumi serta alam semesta, sebagaimana yg dilakukan oleh Ibrahim dahulu.
Nah,  ini pula yang dilakukan oleh nenek moyang orang Minang dengan; ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Bahwa pengetahuan yang dipetik dari berguru kepada alam semesta, telah memberikan keyakinan kepada nenek moyang orang Minangkabau, bahwa semua rahasia penciptaan alam semesta tersimpan dalam sifat-sifat makhluk dan benda di jagat raya ini, dimana berlaku hukum alam, seperti ;
“ api panas dan membakar, air membasahi dan menyuburkan, kayu berpokok, berdahan dan berbuah, lautan berombak, gunung berkabut, ayam berkokok, kambing mengembek, harimau mengaum dan sebagainya.”

Bahwa hukum alam itu, misalnya; api membakar, air membasahi dan seterusnya, merupakan kodrat yang berlaku universal. Secara logika dan kasat mata kebenarannya tidak terbantahkan. Berdasarkan pandangan hidup yang demikian itu, nenek moyang orang Minang telah menyusun dan membentuk Hukum Adat Minangkabau, yaitu norma-norma hukum atau aturan-aturan hukum tidak tertulis, yang mengatur kehidupan orang Minang, dari hal yang sekecil-kecilnya sampai ke yang lebih luas; politik, ekonomi, hukum, sosial dan sebagainya.

Allah berfirman, tentang kejadian dan keberadaan nyamuk, yang secara logika sulit untuk dipahami untuk apa dia diciptakan. Keyakinan kita orang Islam apapun yang dijadikan Allah pasti ada guna dan maksudnya.

Falsafah alam takambang jadi guru ternyata lebih dahulu telah menjawab ayat itu (sebelum masuknya Islam) dengan pepatah ; nan bungkuak paambuih lasuang, nan buto palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam…dstnya….,
Subhanallah !

Sahabat,

Maka marilah kita jalankan agama kita, sebagai integritas atau jati diri kita , dengan benar.
” Malabihan ancak-ancak, mangurangi sio-sio, 
Maksudnya, jangan mudah terpengaruh oleh hasutan dan tipu daya yang bertentangan dengan Al Qquran dan hadist yang sekarang marak adanya di dunia maya, hati-hatilah !

18
Mar
15

Suku Mosuo dari Tiongkok

Budaya matrilineal (garis keturunan menurut ibu) tidak hanya dianut oleh Suku Minangkabau. Suku Mosuo di Provinsi Yunnan, Tiongkok juga punya budaya yang sama. Di suku ini, keluarga dipimpin oleh seorang perempuan dan mengambil garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu..

Suku Mosuo, hidup di derah ketinggian sekitar 2600 meter di atas laut, dan berada sekitar Danau Lugu.

Tiga orang dari Suku Mosuo di antaranya Cao Jiang Ping, Gewa Aping, dan Tociz pernah datang pada acara “Matrilineal Seminar,”  dalam rangkaian acara Festival Bundokanduang, di Perpustakaan Induk Universitas Andalas Padang, tanggal 6 Juni tahun 2014 yang

MS Cao Jiang Ping, melalui juru bicara Suwagito Lawer mengatakan, Suku Mosuo memiliki banyak kesamaan dengan Minangkabau. Selain menghormati perempuan dan menjadikannya sebagai seorang pemimpin, juga terdapat persamaan dalam tempat tinggal.

Suku Mosuo tinggal dalam satu rumah terdiri dari 2-3 generasi, bahkan ada yang mencapai 4-5 generasi, dengan jumlah anggota 20-30 orang. Hampir sama dengan penghuni rumah gadang. Bedanya, Suku Mosuo tidak mengenal pasangan suami istri tinggal bersama di suatu rumah tertentu. Di sana, sepasang suami istri hanya bertemu malam hari saja, setelah siang mereka kembali ke rumah masing-masing. Tetapi hal tersebut tidak menimbulkan masalah, karena hubungan suami istri didasari cinta.

“Semua keluarga tinggal satu rumah, dengan demikian tidak ada orangtua yang terlantar,” ujarnya.

Dia menambahkan, Suku Mosuo dipimpin oleh seorang perempuan (nenek atau orang yang dituakan) dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Meski dipimpin perempuan semua anggota keluarga tetap menghormatinya.

Saat ini jumlah anggota Suku Mosuo sekitar 40 000 orang dan hidup secara bersama dengan mata pencarian hampir sama dengan suku lain di Yunnan. Bedanya, daerah mereka dijadikan tempat wisata budaya, maka kesempatan tersebut dijadikan sebagai sumber penghasilan.

“Perempuan Suku Mosuo sangat tangguh dan bisa menjadi pemimpin. Semua harta diatur oleh perempuan,” ujarnya.

Dia mengaku, belum mengetahui, bahwa ada budaya yang sama, seperti yang mereka praktekkan. Setelah mendapat undangan dari Indonesia, mereka merasa penasaran tentang suku Minangkabau.

Perjalanan panjang mereka dari Pinggir Danau Lugu, harus menempuh jalan darat selama lima jam menuju Lincau, dan tiga jam menuju Kuanco menggunakan jalur darat, lalu lima jam menggunakan pesawat menuju Jakarta, lalu ke Ranah Minang.

Rasa penasaran tersebut terobati setelah melihat banyak kesamaan antara adat Minang dengan Suku Mosuo, hanya saja suku tersebut tidak memiliki harta bersama. Sementara harta milik keluarga di urus oleh wanita.

“Mungkin beberapa ratus tahun lalu kita bersaudara,” ujarnya.

Dia menambahkan, suku menganut kepercayaan Daba. Setiap keturunan menganut agama tersebut. Pewarisan agama dilakukan secara lisan, dari generasi ke generasi. Suku Mosuo tidak menutup diri dengan suku lain. Bahkan memboleh kawin dengan agama dan suku lain. Sesuai aturan berlaku di sukunya.

“Meski minoritas kami tidak pernah berperang dengan suku lain,” tuturnya.

Menurutnya, selain menjunjung tinggi peranan perempuan, peran mamak seperti di Minangkabau juga diaplikasikan di Suku Mosuo. Meski demikian, dirinya mengaku tengah berupaya mencegah pengaruh budaya luar.
Beberapa penyebab luntur budaya Mouso adalah, ada wanita Mosuo yang merantau, kemudian sistem patrilineal.

“Karena memiliki banyak kesamaan, saya mengharapkan ada hubungan lanjutan antra Minangkabau dengan Suku Mouso, dan saling berbagi info,” ujarnya. (Penulis : Andika Adi Saputra/Ed1)

08
Agu
14

Ratik Tagak, tradisi di Nagari Pariangan

* Ratik Tagak, Ritual Agama dari Nama Tuhan Hingga Pingsan

Ratusan laki-laki, anak-anak hingga lanjut usia, bersama-sama menunduk, lalu bangkit sembari berteriak, “Allahu, Allahu, Allahu…”. Lalu, sebelum berakhir, tiba-tiba massa mengerumuni seorang pemuda yang tak sadarkan diri, tapi di mulutnya masih berucap Allahu tanpa henti.

Begitulah tradisi ritual ‘Ratik Tagak’ di Nagari Pariangan, Tanah Datar yang dilaksanakan di Pandam Pakuburan Jorong Sikaladi. Pemuka masyarakat dan Lansia setempat berdiri di tempat yang lebih tinggi. Seorang ustazd memandu dengan alat pengeras suara, lalu mereka mulai menggerakkan badannya ke kiri, ke kanan dan merunduk sambil mengucapkan kalimat Allahu.

Aksi itu diikuti oleh warga yang hadir, di tempat yang permukaannnya lebih rendah dari kelompok pemuka masyarakat dan Lansia tadi. Peserta di bagian bawah ini pada umumnya anak-anak dan pemuda. Dengan semangat mereka bergandengan tangan dan menggenggam kedua telapak tanggannya. Kemudian mereka rukuk, tegak, rukuk, begitu seterusnya sampai kelelahan. Gerakan mereka itu seperti menyembah sesuatu dengan diiringi lafaz nama tuhan.

Sesekali berhenti, lalu dilanjutkan lagi, hingga kalimat suci yang disebut telah sampai jumlahnya. Ketika berakhir itulah ada yang tak sadarkan diri. Itu disebut ‘Malalu’.

Pemuda yang ‘Malalu’ tersebut rebah di tanah, tapi dia masih melakukan gerakan seperti yang dilakukan saat berdiri. Bibirnya pucat pasi, di tubuhnya keringat berkucuran. Untuk menyadarkannya, dibantu dengan mengipas hingga dia kembali normal.

Ratik adalah amalan umat Islam di Ranah Minang dengan menyebut nama Allah secara bersama. Disebut Ratik Tagak karena dilakukan sambil tagak (berdiri).

Menurut keterangan Wali Nagari Pariangan April Katik Saidi, tradisi ini turun temurun. Bahkan, dia dan masyarakat setempat tidak tahu kapan mula dari tradisi ini dimulai. Masyarakat setempat sudah menemukan dan menerima tradisi itu dari orang-orang terdahulu.

Acara Ratik Tgak diikuti oleh semua masyarakat Pariangan. Mereka menyebut kegiatan ini sebagai hari raya. Perayaan setelah puasa enam hari pascalebaran Idul Fitri.

“Jadi masyarakat kita di sini ada puasa enam hari setelah idul fitri. Ratik Tagak adalah hari raya untuk puasa enam tersebut,” kata April Katik Saidi kepada ranahberita.com usai acara. April menyebut pelaksanaan agenda tahunan tersebut, selalu di hari Kamis.

Dalam Ratik Tagak, menurut April, peserta menyebut kalimat-kalimat suci, seperti Laillahaillallah dan Allahu. Jumlahnya masing-masing 33 kali kemudian ditambah dengan doa dan kalimat suci lainnya.

Tidak sekedar berdoa dan Ratik Tagak, tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan silaturrahmi antar masyarakat. Usai ritual agama dilakukan, masyarakat makan bersama di lokasi terbuka.

Makanan dibawa oleh kaum ibu dengan ‘tuduang saji’. April mengatakan, ada sekitar 600 tuduang saji berisikan berbagai jenis makanan, mulai dari nasi sampai bua-buahan.

Selain masyarakat yang ada di kampung halaman, ratik tagak juga diikuti oleh perantau. Untuk memeriahkannya, di sepanjang jalan menuju lokasi acara, dipasang marawa. Warga yang hadir terlihat berpakaian rapi, apalagi ‘bundo kanduang’. Mereka sengaja berdandan untuk datang ke lokasi, mulai dari anak gadis sampai nenek-nenek. (Arjuna/Ed5)

Sumber : http://ranahberita.com

08
Des
13

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Lanjutkan membaca ‘Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau’

07
Nov
13

Alam takambang jadi guru

Kali ini saya tidak mengupas filosofi alam takambang jadi guru. Melalinkan sesuatu yang disimbolkan dalam karya seni. Saya mengambilnya dari halaman ‘ UKIRAN MINANGKABAU “. Paparannya seperti tertera dibawah ini.

Alam Takambang Jadi Guru

By ZODIO MEKER

 

Ukiran tradisional Minangkabau, motifnya diambilkan dari keadaan alam sekitarnya (flora dan fauna), dan adapula diantaranya yang mengambil motif bentuk makanan seperti saik galamai, belah ketupat, dan ampiang taserak. Pepatah menyebutkan:

 

Panakiak pisau sirauik, _________Penukik pisau siraut,

ambiak galah batang lintabuang, __ambil galah batang lintabung,

salodang ambiak ka niru, ________salodang ambil untuk nyiru,

satitiak jadikan lauik, ___________setitik jadikan laut,

nan sakapa jadikan gunuang, ____yang sekepal jadikan gunung,

alam takambang jadikan guru  ___alam takambang jadikan guru.

 

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistis atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan (distilasi) sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang dekoratif sehingga kadang-kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya.

 

Hal tersebut terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realistis. Hal ini masih dapat dilihat pada hiasan ukiran yang terdapat pada menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotifkan ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir tradisional Minangkabau motif-motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.

 

 

Pada motif ukir Minangkabau terdapat galuang/ relung dan ragam. Galuang/ relung yaitu berupa lingkaran yang sambung-bersambung sehingga membentuk relung kearah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, dan sapieh (serpih). 

04
Sep
13

harapanku kepada bumi minang

Oleh  Ust. Abu Sangkan

Ketika sepulang dari Darmasraya Sumatera Barat, hampir sampai di Indarung sekitar 15 km,  ada Truk melintang dan menghalangi jalan di depan kami. disebabkan ban nya meletus tertusuk besi beton, sehingga arus lalu lintas dari dua arah tertutup total.

Sambil menunggu perbaikan selama berjam-jam, rombongan mampir dulu di warung kopi untuk menghangatkan badan dari udara pegunungan.  Aku bilang kepada bu linda (isteri ustad,pen) : ”  pasti ada rahasia Allah yg sangat besar buat kita Nduk. Nggak mungkin Allah merencanakan macet selama ini kalau hanya disuruh beli kerupuk dan kopi ke tukang warung ini.

“  Coba kamu perhatikan, berapa KM panjang antrian mobil dari dua arah, padahal tempat kita menginap tinggal 15 km lagi.

“ Allah tiba-tiba mentakdirkan ban truk itu pecah.

Kita semua kumpul di warung ini. Terdiri  Pak Rizaldi, pak wid, pak Adi, pak daus, pak marzen dan mas udik. Kami mengobrol perkembangan shalat khusyu’ doeloe dan sekarang di bumi Minang !!.

Dulu SC Padang pernah menjadi percontohan dakwah shalat khusyu’ di indonesia. Karena mampu menembus ke pelosok desa terpencil, daerah transmigrasi.<br />Waktu itu kita bangga SC Padang sudah punya mobil operasional tertulis Shalat Center Sumatra Barat.

Minangkabau pernah jaya. Tetapi setelah ditinggal oleh para tokohnya yang mulai sangat sibuk, shalat khusyu semakin lenyap di bumi minang, Setelah itu muncul peristiwa gempa, sehingga semakin hilang shalat khusyu’ di bumi minang secara manajemen, meskipun secara pribadi masih masyarakatnya masih aktif.
Lanjutkan membaca ‘harapanku kepada bumi minang’

26
Jul
13

Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem

ImageAdat Minangkabau bersifat Supra System, akan menjelaskan konsep kepemilikan harta pusaka di Minangkabau sebagaimana tergambar dalam  istilah “ jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando ”, yang ditetapkan  dalam pengaturan tanah ulayat demi mempertahankan pusaka tinggi masyarakat hukum adat. Berangkat dari pemikiran demikian, saya mempertanyakan apakah pengaturan harta ini sama dengan sistem yang dianut oleh negara-negara sosialis ?

PERDA No. 6 Tahun 2008 (Sumbar), menyatakan bahwa tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adat Minangkabau  “ jua indak makan bali, gadai ndak makan sando ”. Tanah ulayat meliputi tanah ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat rajo, dan mungkin tanah-tanah yang berstatus ganggam nan bauntuak bagi kalangan padusi/perempuan di ranah Minangkabau

Mengamati perlindungan tanah ulayat di Sumatera Barat, semula saya bertanya, apakah tidak akan menyebabkan semakin sulitnya investor untuk menanamkan modalnya? Setiap pulang kampung, saya tidak melihat gerak pembangunan yang memadai di ranah Minang. Namun demikian, saya mendukung konsep jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando, sebagai pengikat sistem kepemilikan tanah yang kokoh dan bertujuan untuk melindungi warganya. Artinya, meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi jika digadaikan─jaminan. Tanah tidak berada dalam genggaman pemberi gadai.  Inilah konsep pertanahan yang paling ilahiah, karena tidak menimbulkan keserakahan bagi pihak-pihak yang ingin menguasai tanah dengan dalih yang bertentangan dengan aturan adat.  Disinilah keunggulan adat Minangkabau itu demi mempertahankan property keluarga, kaum, suku dan Nagari.

Dengan merujuk pada pendapat Ali Syariati (sosiolog Iran), saat kami mendiskusikannya di milist RantauNet,   Datuk Endang Pahlawan berupaya menjelaskan tentang situasi dan hubungan sosial yang terkait dengan perlindungan masyarakat. Datuk Endang Pahlawan mengutip buku Ali Syariati “ Tugas Cendekiawan Muslim”  yang diterjemahkan oleh Amien Rais, ada dua  profesi tertua di dunia yaitu bertani dan berburu, yang dapat disimplifikasi menjadi reproduksi dan ekstraksi. Di Minangkabau ada istilah manaruko (mengambil apa yang disediakan oleh alam) dan meramu (mengolah untuk mendapatkan hasil).  Lanjutkan membaca ‘Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem’




Pengunjung

  • 674,444 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2015
S S R K J S M
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: