16
Mar
17

Riwayat Masakan Minang

Oleh : Evy Djamaludin

Hasil gambar untuk gambar Rumah adat minang

Sejak kapan masakan minang itu menjadi kekayaan budaya kuliner Minangkabau ? Bagaiman asal usulnya ? Siapa yang pertama membuatnya? Bila pertanyaan ini kita ajukan kepada orang tua-tua kita bahkan seorang ahli masak sekalipun, sebaiknya, simpan sajalah pertanyaan-pertanyaan itu, sebab kemungkinan besar tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti. Seandainyapun kita bertanya pada para ahli kuliner dikancah Nasional, seperti : Tuty Soenardi, Bondan Winarno, dan ibu Sisca (maklum tidak ada yang berasal dari etnis Minang), pasti mereka tidak tahu asal usul masakan minang yang bercita rasa tinggi itu. Bagaimana cara menelusuri sedemikian banyak jumlah makanan khas Minang ini. Namun, hasilnya nihil.

Hasil gambar untuk los lambuang di Bukittinggi

Saya bertanya kepada kaum ibu yang tinggal di daerah Padang Pariaman hingga Pesisir Selatan. Di Bukit Tinggi saya juga bertanya kepada amai-amai yang berjualan masakan di Los Lambuang. Merekapun tak ada yang bisa menjawab. Menelusuri riwayat masakan Minang ini adalah penting, karena ia adalah kekayaan budaya kuliner etnis Minangkabau, maka selayaknya kita mencoba menelusuri dari hal-hal sebagai berikut ;
* asal usul nenek moyang minangkabau
* karakter masyarakat primitive
* pengaruh asing pada alam Minangkabau

II. Asal Usul Minangkabau dan Pengaruh Asing di Minangkabau :

Hasil gambar untuk gambar Rumah adat minang

Dalam sejarah Indonesia, maka Suku Minangkabau merupakan bagian dari kelompok Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari belahan daratan Asia kurang lebih 500 tahun sebelum masehi. Diperkirakan alur penyebaran nenek moyang dari kelompok melayu muda ini, bermula dari daratan Asia, menuju Thailand , kemudian masuk ke Malaysia Barat dan terus masuk menuju tempat-tempat di Nusantara. Nenek moyang suku Minangkabau. Dari Malaysia barat kemudian, bangsa ini masuk kearah Timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar hingga tiba di dataran tinggi yang disebut negeri Periangan, dilereng Gunung Merapi. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Tambo, sejalan dengan perkembangan penduduk dan kelompok masyarakat ketika itu, nenek moyang etnis Minangkabau mencari tempat pemukinan penduduk dan menemukan tiga lokasi untuk perluasan yang disebut Luhak nan Tigo (darek).

Dari Luhak nan Tigo inilah suku Minang menyebar ke seluruh wilayah yang disebut alam Minangkabau.
Persentuhan bangsa yang telah mendiami alam minangkabau dengan bangsa yang berasal dari jazirah Arab, Persia dan India, telah berlangsung jauh sebelum munculnya agama islam. Wilayah minangkabau banyak dikunjungi, karena ketersedian hasil alam berupa ; rempah-rempah khususnya pala dan merica, kapur barus, emas, menyebabkan mereka ingin menguasai wilayah ini. Tidak kurang pula seperti ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Mojopahit, yang juga bermaksud untuk menguasai sumber-sumber hasil alam di wilayah ini.

Lanjutkan membaca ‘Riwayat Masakan Minang’

11
Des
15

12 budaya Larangan bagi perempuan Minang

Pengantar :

12  budaya larangan penting diketahui oleh semua kaum perempuan Minangkabau. Sebagaimana yg tertera dalam tulisan berikut ini. Adanya budaya larangan ini tidak akan melekat bila tidak disosialisasikan kepada Masyarakat.
Dalam upaya itu, kami menulis ulang artikel ini yg kami cuplik secara utuh  dari Sumbar.go.id 
———
Minangkabau adalah etnis yang unik, sebagai etnis/suku yang memegang paham matrilineal, Minangkabau meletakkan perempuan dalam posisi yang sangat istimewa. Di alam Minangkabau, perempuan amat sangat dihormati. Perempuan memiliki tempat dan hak suara di dalam kaum. Pendapatnya didengar, pertimbangannya diperlukan. Perempuan benar-benar mempunyai nilai. Jika kita larikan ke falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullahpenghormatan Minangkabau terhadap perempuan selaras dengan penghormatan syarak/agama Islam terhadap mereka, sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam kitabullah (Al-Qur’an).

Keistimewaan yang diberikan kepada perempuan Minangkabau itu tentu harus diikuti dengan serangkaian usaha untuk menjaganya. Sebab, sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang terjaga dan dipelihara sebaik mungkin. Oleh karena itu, para pendahulu menetapkan aturan atau pendidikan terhadap anak-anak perempuan agar tetap menjaga keistimewaan mereka. Nuansa pendidikan itu disebut dengan sumbang, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sumbang ini terdiri dari 12 poin yang bisa kita bahasakan sebagai 12 budaya terlarang bagi perempuan Minangkabau. Budaya dalam konteks ini berarti kebiasaan yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan Minang demi menjaga warisan budaya dari para pendahulunya.

Sumbang Duduak

Duduk yang sopan bagi perempuan Minang adalah bersimpuh, bukan bersila macam laki-laki, apalagi mencangkung atau menegakkan lutut. Ketika duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha. Jika berboncengan jangan mengangkang.

Sumbang Tagak

Perempuan dilarang berdiri di depan pintu atau di tangga. Jangan berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti. Sumbang berdiri dengan laki-laki yang bukan muhrim.

Sumbang Jalan

Ketika berjalan, perempuan Minang harus berkawan, paling kurang dengan anak kecil. Jangan berjalan tergesa-gesa apalagi mendongkak-dongkak. Jika berjalan dengan laki-laki berjalanlah di belakang. Jangan menghalagi jalan ketika bersama dengan teman sebaya.

Sumbang Kato

Berkatalah dengan lemah lembut, berkatalah sedikit-sedikit agar paham maksudnya, jangan serupa murai batu atau serupa air terjun. Jangan menyela atau memotong perkataan orang, dengarkanlah dulu hingga selesai. Berkata-katalah yang baik.

Sumbang Caliak

Kurang tertib seorang perempuan Minang ketika suka menantang pandangan lawan jenis, alihkanlah pandangan pada yang lain atau menunduk dan melihat ke bawah. Dilarang sering melihat jam ketika ada tamu. Jangan suka mematut diri sendiri.

Sumbang Makan

Jangan makan sambil berdiri, nyampang makan dengan tangan genggamlah nasi dengan ujung jari, bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut lebar-lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat dalam bertambah (batambuah).

Sumbang Pakai

Jangan mengenakan baju yang sempit dan jarang. Tidak boleh yang menampakkan rahasia tubuh apalagi yang tersimbah atas dan bawah. Gunakanlah baju yang longgar, serasikan dengan warna kulit dan kondisi yang tepat, agar rancak dipandang mata.

Sumbang Karajo

Kerjaan perempuan Minang adalah yang ringan serta tidak rumit. Pekerjaan sulit serahkanlah pada kaum laki-laki. Jika kerja di kantor yang rancak adalah menjadi guru.

Sumbang Tanyo

Jangan bertanya macam menguji. Bertanyalah dengan lemah lembut. Simak lebih dahulu baik-baik dan bertanyalah jelas-jelas.

Sumbang Jawek

Ketika menjawab, jawablah dengan baik, jangan jawab asal pertanyaan, jawablah sekadar yang perlu dijawab tinggalkan yang tidak perlu.

Sumbang Bagaua

Jangan bergaul dengan laki-laki jika hanya diri sendiri yang perempuan. Jangan bergaul dengan anak kecil apalagi ketika ikut permainan mereka. Peliharalah lidah dalam bergaul. Ikhlaslah dalam menolong agar senang teman dengan kita.

Sumbang Kurenah

Tidak baik berbisik-bisik saat tengah bersama. Jangan menutup hidung di keramaian. Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak. Jika bercanda, secukupnya saja dan diagak-agak, agar tidak tersinggung orang yang mendengar. Jagalah kepercayaan orang lain, jangan seperti musang yang berbulu ayam.

Keistimewaan tentu harus dijaga dengan usaha yang ekstra. Bagai berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Perempuan Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang dicontohkan itu. Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh. Sebab, ketika perempuan Minang bisa menjaga semua itu. Ketika perempuan Minang mampu menjaga diri dari 12 sumbang yang telah dijelaskan di atas, dari situlah kecantikan sejati akan memancar dan kecantikan itu sampai kapanpun takkan pernah pudar.

17
Apr
15

Bid’ah versi ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Oleh : Marni Malay

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio

“Panakiak pisau sirauik ambiak galah batang lintabuang, salodang ambiak ka niru,Nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru.”

Inilah redaksi lengkap dari falsafah alam takambang jadi guru,yang artinya, air yang setitik rela (ihklas) diterima laksana sebanyak air lautan, tanah yang sekepal (segenggaman tangan) rela diterima laksana sebesar gunung dan alam semesta raya ini dijadikan guru (tempat belajar dan atau pemberi pelajaran).

Falsafah alam takambang jadi guruadalah, “ filsafat hukum alam” dan atau, “ filsafat hukum kodrat”, yang merupakan pandangan hidup (way of life) orang Minangkabau, salah satu suku bangsa rumpun Melayu Nusantara, atau yang sering juga disebut dengan suku bangsa Melayu Minangkabau, yang telah bermukim di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnyaatau juga yang lebih dikenal dengan sebutan,” Ranah Minang”, sejak kira-kira2500-2000 tahun lalu atau antara abat ke 5 -1 SM. Mereka meyakini bahwa falasafah tersebut disamping sebagai pandangan hidup mereka, juga merupakan, “ norma dasar” atau sumber dari segala sumber hukum (Grundnorm) terbentuknya Hukum Adat Minangkabau yang telah diwarisi secara turun-menurun dari nenek moyangnya. Dapat dikatakan kedudukan falsafah tersebut dalam hukum adat Minangkabau tak obahnya seperti falsafah Pancasila di Negara Indonesia.

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio, syarak mangato adat mamakai, artinya jalankan agama sesuai yang dikatakan Alquran dan Sunnah Rasul, tak boleh dilebih-lebihkan, tak boleh dikurangi, tak boleh menghalalkan yang haram, atau sebaliknya, kerjakan perintah –  tinggalkan larangan. Yang tidak dilarang jangan diharamkan pula. Subhanallah !
(ko pandapek ambo, tasarah sanak memahaminya – pen).

Contoh;
Harta warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal pembagiannya adalah menurut Alquran. Akan tetapi kalau anak laki-laki tak mengambil bagian dari harta warisan orang tuanya, itu tidaklah dilarang, tak ada perintah agama yang melarangnya.Bagi laki-laki minang, anak dipangku kemanakan di bimbiang, makanya tidak mau, dan bahkan malu mengambil harta orang tua.

Selanjutnya, dalam hal Harta Pusaka Tinggi, semua anak cucu keturunan datuak A misalnya berhak atas harta itu, dan dahulu kala mereka mengamanatkan; ” di jua tak makan bali – digadai tak makan sando. Kabau tagak kubangan tingga. Maka apakah haram atau dilarang melaksanakan amanat nenek moyang ?    Subhanallah !

Demikian pula dalam hal adat istiadat; lain padang lain hilalang. tak ada ayat yang menyatakan ritual adat itu haram, malahan justru ayat mengukuhkannya.  seperti : …kujadikan manusia berbangsa bangsa supaya mereka saling mengenal……dstnya.
Nah kalau budaya timur memulyakan hari kelahiran Rasullulah meskipun tak ada hadist atau ayat al Quran yang menyuruhnya ataupun melarangnya, dengan dasar apa pula kita bisa mencapnya sebagai bid’ ah ?

Bahwa sebenarnyalah adat istiadat harus relevan dengan Al Quran.
Contoh ; dahulu orang Arab akan langsung tahu kalau di Makkah, ada orang yang pakai sarung dan kopiah berarti dia orang Indonesia. Pakaian itu diperkenalkan secara tidak sengaja oleh Buya HAMKA. Beliau berkeliling keseantero dunia, selalu berpakaian demikian.
Nah,  terbukti justru adat telah membuat orang Arab atau dunia tahu secara gamblang suku bangsa seseorang. Seperti juga misalnya pakaian orang India. Coba kalau dulu Buya HAMKA ikut-ikutan berpakaian gamis ala bangsa Arab, tentulah sampai sekarang orang Arab tidak akan gamblang mengenali orang Indonesia. Lagi pula apa yang dipakai Rasullulah, dipakai pula oleh orang Arab seluruhnya. Jadi pakaian Rasull termasuk pakaian kebudayaan Arab, apakah dianggap sunnah juga ?
Ada yang mengatakan sama saya,  berpakaian seperti Nabi atau orang Arab termasuk sunnah ?

Falsafah alam takambang jadi guru, suatu bukti kecerdasan nenek moyang orang Minang, bahwa andai kata dibolehkan menjual harta pusaka tinggi, maka suatu hari kelak etnis Minangkabau, kelak kemungkinan akan tersingkir dari kampung halamannya ! Mereka hanya tinggal nama saja, bahkan bisa jadi akan jadi jongos dikampungnya sendiri ! Masya Allah.
Dalam pepatah minang dikatakan ; jalan lah di aliah urang lalu, cupak dituka orang panggaleh.
Artinya : jalan hidup ( pedoman) orang Minang sudah diambil alih orang lain dan menggantinya dengan tata cara  pedagang.
Fakta ini telah banyak terjadi pada suku bangsa lain yang membolehkan menjual tanah. Mereka hampir tak punya tanah lagi sebagai tempat berpijak ditanah sendiri.
Mereka bagaijan tikus mati dilumbung padi. Kaya tapi kelaparan (- editor)

Allah berfirman dalam Al Quran agar manusia berfikir, memperhatikan kejadian langit dan bumi serta alam semesta, sebagaimana yg dilakukan oleh Ibrahim dahulu.
Nah,  ini pula yang dilakukan oleh nenek moyang orang Minang dengan; ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Bahwa pengetahuan yang dipetik dari berguru kepada alam semesta, telah memberikan keyakinan kepada nenek moyang orang Minangkabau, bahwa semua rahasia penciptaan alam semesta tersimpan dalam sifat-sifat makhluk dan benda di jagat raya ini, dimana berlaku hukum alam, seperti ;
“ api panas dan membakar, air membasahi dan menyuburkan, kayu berpokok, berdahan dan berbuah, lautan berombak, gunung berkabut, ayam berkokok, kambing mengembek, harimau mengaum dan sebagainya.”

Bahwa hukum alam itu, misalnya; api membakar, air membasahi dan seterusnya, merupakan kodrat yang berlaku universal. Secara logika dan kasat mata kebenarannya tidak terbantahkan. Berdasarkan pandangan hidup yang demikian itu, nenek moyang orang Minang telah menyusun dan membentuk Hukum Adat Minangkabau, yaitu norma-norma hukum atau aturan-aturan hukum tidak tertulis, yang mengatur kehidupan orang Minang, dari hal yang sekecil-kecilnya sampai ke yang lebih luas; politik, ekonomi, hukum, sosial dan sebagainya.

Allah berfirman, tentang kejadian dan keberadaan nyamuk, yang secara logika sulit untuk dipahami untuk apa dia diciptakan. Keyakinan kita orang Islam apapun yang dijadikan Allah pasti ada guna dan maksudnya.

Falsafah alam takambang jadi guru ternyata lebih dahulu telah menjawab ayat itu (sebelum masuknya Islam) dengan pepatah ; nan bungkuak paambuih lasuang, nan buto palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam…dstnya….,
Subhanallah !

Sahabat,

Maka marilah kita jalankan agama kita, sebagai integritas atau jati diri kita , dengan benar.
” Malabihan ancak-ancak, mangurangi sio-sio, 
Maksudnya, jangan mudah terpengaruh oleh hasutan dan tipu daya yang bertentangan dengan Al Qquran dan hadist yang sekarang marak adanya di dunia maya, hati-hatilah !

18
Mar
15

Suku Mosuo dari Tiongkok

Budaya matrilineal (garis keturunan menurut ibu) tidak hanya dianut oleh Suku Minangkabau. Suku Mosuo di Provinsi Yunnan, Tiongkok juga punya budaya yang sama. Di suku ini, keluarga dipimpin oleh seorang perempuan dan mengambil garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu..

Suku Mosuo, hidup di derah ketinggian sekitar 2600 meter di atas laut, dan berada sekitar Danau Lugu.

Tiga orang dari Suku Mosuo di antaranya Cao Jiang Ping, Gewa Aping, dan Tociz pernah datang pada acara “Matrilineal Seminar,”  dalam rangkaian acara Festival Bundokanduang, di Perpustakaan Induk Universitas Andalas Padang, tanggal 6 Juni tahun 2014 yang

MS Cao Jiang Ping, melalui juru bicara Suwagito Lawer mengatakan, Suku Mosuo memiliki banyak kesamaan dengan Minangkabau. Selain menghormati perempuan dan menjadikannya sebagai seorang pemimpin, juga terdapat persamaan dalam tempat tinggal.

Suku Mosuo tinggal dalam satu rumah terdiri dari 2-3 generasi, bahkan ada yang mencapai 4-5 generasi, dengan jumlah anggota 20-30 orang. Hampir sama dengan penghuni rumah gadang. Bedanya, Suku Mosuo tidak mengenal pasangan suami istri tinggal bersama di suatu rumah tertentu. Di sana, sepasang suami istri hanya bertemu malam hari saja, setelah siang mereka kembali ke rumah masing-masing. Tetapi hal tersebut tidak menimbulkan masalah, karena hubungan suami istri didasari cinta.

“Semua keluarga tinggal satu rumah, dengan demikian tidak ada orangtua yang terlantar,” ujarnya.

Dia menambahkan, Suku Mosuo dipimpin oleh seorang perempuan (nenek atau orang yang dituakan) dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Meski dipimpin perempuan semua anggota keluarga tetap menghormatinya.

Saat ini jumlah anggota Suku Mosuo sekitar 40 000 orang dan hidup secara bersama dengan mata pencarian hampir sama dengan suku lain di Yunnan. Bedanya, daerah mereka dijadikan tempat wisata budaya, maka kesempatan tersebut dijadikan sebagai sumber penghasilan.

“Perempuan Suku Mosuo sangat tangguh dan bisa menjadi pemimpin. Semua harta diatur oleh perempuan,” ujarnya.

Dia mengaku, belum mengetahui, bahwa ada budaya yang sama, seperti yang mereka praktekkan. Setelah mendapat undangan dari Indonesia, mereka merasa penasaran tentang suku Minangkabau.

Perjalanan panjang mereka dari Pinggir Danau Lugu, harus menempuh jalan darat selama lima jam menuju Lincau, dan tiga jam menuju Kuanco menggunakan jalur darat, lalu lima jam menggunakan pesawat menuju Jakarta, lalu ke Ranah Minang.

Rasa penasaran tersebut terobati setelah melihat banyak kesamaan antara adat Minang dengan Suku Mosuo, hanya saja suku tersebut tidak memiliki harta bersama. Sementara harta milik keluarga di urus oleh wanita.

“Mungkin beberapa ratus tahun lalu kita bersaudara,” ujarnya.

Dia menambahkan, suku menganut kepercayaan Daba. Setiap keturunan menganut agama tersebut. Pewarisan agama dilakukan secara lisan, dari generasi ke generasi. Suku Mosuo tidak menutup diri dengan suku lain. Bahkan memboleh kawin dengan agama dan suku lain. Sesuai aturan berlaku di sukunya.

“Meski minoritas kami tidak pernah berperang dengan suku lain,” tuturnya.

Menurutnya, selain menjunjung tinggi peranan perempuan, peran mamak seperti di Minangkabau juga diaplikasikan di Suku Mosuo. Meski demikian, dirinya mengaku tengah berupaya mencegah pengaruh budaya luar.
Beberapa penyebab luntur budaya Mouso adalah, ada wanita Mosuo yang merantau, kemudian sistem patrilineal.

“Karena memiliki banyak kesamaan, saya mengharapkan ada hubungan lanjutan antra Minangkabau dengan Suku Mouso, dan saling berbagi info,” ujarnya. (Penulis : Andika Adi Saputra/Ed1)

08
Agu
14

Ratik Tagak, tradisi di Nagari Pariangan

* Ratik Tagak, Ritual Agama dari Nama Tuhan Hingga Pingsan

Ratusan laki-laki, anak-anak hingga lanjut usia, bersama-sama menunduk, lalu bangkit sembari berteriak, “Allahu, Allahu, Allahu…”. Lalu, sebelum berakhir, tiba-tiba massa mengerumuni seorang pemuda yang tak sadarkan diri, tapi di mulutnya masih berucap Allahu tanpa henti.

Begitulah tradisi ritual ‘Ratik Tagak’ di Nagari Pariangan, Tanah Datar yang dilaksanakan di Pandam Pakuburan Jorong Sikaladi. Pemuka masyarakat dan Lansia setempat berdiri di tempat yang lebih tinggi. Seorang ustazd memandu dengan alat pengeras suara, lalu mereka mulai menggerakkan badannya ke kiri, ke kanan dan merunduk sambil mengucapkan kalimat Allahu.

Aksi itu diikuti oleh warga yang hadir, di tempat yang permukaannnya lebih rendah dari kelompok pemuka masyarakat dan Lansia tadi. Peserta di bagian bawah ini pada umumnya anak-anak dan pemuda. Dengan semangat mereka bergandengan tangan dan menggenggam kedua telapak tanggannya. Kemudian mereka rukuk, tegak, rukuk, begitu seterusnya sampai kelelahan. Gerakan mereka itu seperti menyembah sesuatu dengan diiringi lafaz nama tuhan.

Sesekali berhenti, lalu dilanjutkan lagi, hingga kalimat suci yang disebut telah sampai jumlahnya. Ketika berakhir itulah ada yang tak sadarkan diri. Itu disebut ‘Malalu’.

Pemuda yang ‘Malalu’ tersebut rebah di tanah, tapi dia masih melakukan gerakan seperti yang dilakukan saat berdiri. Bibirnya pucat pasi, di tubuhnya keringat berkucuran. Untuk menyadarkannya, dibantu dengan mengipas hingga dia kembali normal.

Ratik adalah amalan umat Islam di Ranah Minang dengan menyebut nama Allah secara bersama. Disebut Ratik Tagak karena dilakukan sambil tagak (berdiri).

Menurut keterangan Wali Nagari Pariangan April Katik Saidi, tradisi ini turun temurun. Bahkan, dia dan masyarakat setempat tidak tahu kapan mula dari tradisi ini dimulai. Masyarakat setempat sudah menemukan dan menerima tradisi itu dari orang-orang terdahulu.

Acara Ratik Tgak diikuti oleh semua masyarakat Pariangan. Mereka menyebut kegiatan ini sebagai hari raya. Perayaan setelah puasa enam hari pascalebaran Idul Fitri.

“Jadi masyarakat kita di sini ada puasa enam hari setelah idul fitri. Ratik Tagak adalah hari raya untuk puasa enam tersebut,” kata April Katik Saidi kepada ranahberita.com usai acara. April menyebut pelaksanaan agenda tahunan tersebut, selalu di hari Kamis.

Dalam Ratik Tagak, menurut April, peserta menyebut kalimat-kalimat suci, seperti Laillahaillallah dan Allahu. Jumlahnya masing-masing 33 kali kemudian ditambah dengan doa dan kalimat suci lainnya.

Tidak sekedar berdoa dan Ratik Tagak, tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan silaturrahmi antar masyarakat. Usai ritual agama dilakukan, masyarakat makan bersama di lokasi terbuka.

Makanan dibawa oleh kaum ibu dengan ‘tuduang saji’. April mengatakan, ada sekitar 600 tuduang saji berisikan berbagai jenis makanan, mulai dari nasi sampai bua-buahan.

Selain masyarakat yang ada di kampung halaman, ratik tagak juga diikuti oleh perantau. Untuk memeriahkannya, di sepanjang jalan menuju lokasi acara, dipasang marawa. Warga yang hadir terlihat berpakaian rapi, apalagi ‘bundo kanduang’. Mereka sengaja berdandan untuk datang ke lokasi, mulai dari anak gadis sampai nenek-nenek. (Arjuna/Ed5)

Sumber : http://ranahberita.com

08
Des
13

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Lanjutkan membaca ‘Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau’

07
Nov
13

Alam takambang jadi guru

Kali ini saya tidak mengupas filosofi alam takambang jadi guru. Melalinkan sesuatu yang disimbolkan dalam karya seni. Saya mengambilnya dari halaman ‘ UKIRAN MINANGKABAU “. Paparannya seperti tertera dibawah ini.

Alam Takambang Jadi Guru

By ZODIO MEKER

 

Ukiran tradisional Minangkabau, motifnya diambilkan dari keadaan alam sekitarnya (flora dan fauna), dan adapula diantaranya yang mengambil motif bentuk makanan seperti saik galamai, belah ketupat, dan ampiang taserak. Pepatah menyebutkan:

 

Panakiak pisau sirauik, _________Penukik pisau siraut,

ambiak galah batang lintabuang, __ambil galah batang lintabung,

salodang ambiak ka niru, ________salodang ambil untuk nyiru,

satitiak jadikan lauik, ___________setitik jadikan laut,

nan sakapa jadikan gunuang, ____yang sekepal jadikan gunung,

alam takambang jadikan guru  ___alam takambang jadikan guru.

 

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistis atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan (distilasi) sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang dekoratif sehingga kadang-kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya.

 

Hal tersebut terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realistis. Hal ini masih dapat dilihat pada hiasan ukiran yang terdapat pada menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotifkan ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir tradisional Minangkabau motif-motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.

 

 

Pada motif ukir Minangkabau terdapat galuang/ relung dan ragam. Galuang/ relung yaitu berupa lingkaran yang sambung-bersambung sehingga membentuk relung kearah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, dan sapieh (serpih). 

04
Sep
13

harapanku kepada bumi minang

Oleh  Ust. Abu Sangkan

Ketika sepulang dari Darmasraya Sumatera Barat, hampir sampai di Indarung sekitar 15 km,  ada Truk melintang dan menghalangi jalan di depan kami. disebabkan ban nya meletus tertusuk besi beton, sehingga arus lalu lintas dari dua arah tertutup total.

Sambil menunggu perbaikan selama berjam-jam, rombongan mampir dulu di warung kopi untuk menghangatkan badan dari udara pegunungan.  Aku bilang kepada bu linda (isteri ustad,pen) : ”  pasti ada rahasia Allah yg sangat besar buat kita Nduk. Nggak mungkin Allah merencanakan macet selama ini kalau hanya disuruh beli kerupuk dan kopi ke tukang warung ini.

“  Coba kamu perhatikan, berapa KM panjang antrian mobil dari dua arah, padahal tempat kita menginap tinggal 15 km lagi.

“ Allah tiba-tiba mentakdirkan ban truk itu pecah.

Kita semua kumpul di warung ini. Terdiri  Pak Rizaldi, pak wid, pak Adi, pak daus, pak marzen dan mas udik. Kami mengobrol perkembangan shalat khusyu’ doeloe dan sekarang di bumi Minang !!.

Dulu SC Padang pernah menjadi percontohan dakwah shalat khusyu’ di indonesia. Karena mampu menembus ke pelosok desa terpencil, daerah transmigrasi.<br />Waktu itu kita bangga SC Padang sudah punya mobil operasional tertulis Shalat Center Sumatra Barat.

Minangkabau pernah jaya. Tetapi setelah ditinggal oleh para tokohnya yang mulai sangat sibuk, shalat khusyu semakin lenyap di bumi minang, Setelah itu muncul peristiwa gempa, sehingga semakin hilang shalat khusyu’ di bumi minang secara manajemen, meskipun secara pribadi masih masyarakatnya masih aktif.
Lanjutkan membaca ‘harapanku kepada bumi minang’

26
Jul
13

Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem

ImageAdat Minangkabau bersifat Supra System, akan menjelaskan konsep kepemilikan harta pusaka di Minangkabau sebagaimana tergambar dalam  istilah “ jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando ”, yang ditetapkan  dalam pengaturan tanah ulayat demi mempertahankan pusaka tinggi masyarakat hukum adat. Berangkat dari pemikiran demikian, saya mempertanyakan apakah pengaturan harta ini sama dengan sistem yang dianut oleh negara-negara sosialis ?

PERDA No. 6 Tahun 2008 (Sumbar), menyatakan bahwa tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adat Minangkabau  “ jua indak makan bali, gadai ndak makan sando ”. Tanah ulayat meliputi tanah ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat rajo, dan mungkin tanah-tanah yang berstatus ganggam nan bauntuak bagi kalangan padusi/perempuan di ranah Minangkabau

Mengamati perlindungan tanah ulayat di Sumatera Barat, semula saya bertanya, apakah tidak akan menyebabkan semakin sulitnya investor untuk menanamkan modalnya? Setiap pulang kampung, saya tidak melihat gerak pembangunan yang memadai di ranah Minang. Namun demikian, saya mendukung konsep jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando, sebagai pengikat sistem kepemilikan tanah yang kokoh dan bertujuan untuk melindungi warganya. Artinya, meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi jika digadaikan─jaminan. Tanah tidak berada dalam genggaman pemberi gadai.  Inilah konsep pertanahan yang paling ilahiah, karena tidak menimbulkan keserakahan bagi pihak-pihak yang ingin menguasai tanah dengan dalih yang bertentangan dengan aturan adat.  Disinilah keunggulan adat Minangkabau itu demi mempertahankan property keluarga, kaum, suku dan Nagari.

Dengan merujuk pada pendapat Ali Syariati (sosiolog Iran), saat kami mendiskusikannya di milist RantauNet,   Datuk Endang Pahlawan berupaya menjelaskan tentang situasi dan hubungan sosial yang terkait dengan perlindungan masyarakat. Datuk Endang Pahlawan mengutip buku Ali Syariati “ Tugas Cendekiawan Muslim”  yang diterjemahkan oleh Amien Rais, ada dua  profesi tertua di dunia yaitu bertani dan berburu, yang dapat disimplifikasi menjadi reproduksi dan ekstraksi. Di Minangkabau ada istilah manaruko (mengambil apa yang disediakan oleh alam) dan meramu (mengolah untuk mendapatkan hasil).  Lanjutkan membaca ‘Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem’

03
Des
11

Peran Bako di Kampuang Kami

Oleh : Reni Sisriyanti

 

Betapa besar peran saudara Ayah atau Bako di kampuang kami. Bako , adalah sebutan untuk keluarga dari bapak.  Siapa yang  mengatakan mereka tidak ada perannya ?  Semenjak lahir sampai saat nanti kita dikuburkan – kita tidak akan luput dari peran bako ini. Berikut ini catatan saya mengenai peran bako itu : Lanjutkan membaca ‘Peran Bako di Kampuang Kami’

30
Nov
11

~ Padusi ~ perempuan yang mendayung biduk ke hulu.

 

“Berhentilah Anda  mangayuh biduk ke hilir”. Cobalah sekali-kali mendayung biduk ke hulu air”

Demikian kalimat yang menginspirasi buku ini, yang mencoba mengungkap asal-mula tatanan adat Minang sebagai alam kultural khususnya dari perspektif adat matrilineal. Atas dasar ini pula saya hendak membincang sebuah masalah perihal dunia perempuan, dari sisi naluriah seorang perempuan pula. Masalah tersebut adalah wacana polemis tentang peran sentral kaum perempuan di Minangkabau, Sumatera Barat. Sebagai perempuan yang terlahir di ranah Minang, saya ingin merespon klaim dari segelintir orang yang  mengatakan bahwa adat Minangkabau itu jahiliah adanya?

Kenapa adat Minangkabau memuliakan perempuan? Apa yang diharapkan warga Minangkabau terhadap kaum perempuannya? Bagaimana perempuan Minang menyikapi perubahan zaman?

Selain kebanggaan, buku ini juga banyak mengungkap kerisauan. Sebab, telah muncul sejumlah gejala bahwa Rumah Gadang yang menjadi simbol utama adat Minang yang menjadi kebanggaan orang Minang sedang mengalami ketirisan.

 

Penulis      : Hifni Hafida

Penerbit : Pustaka Padusi.

No ISBN : 978-602-1936-0-3

Buku dapat dipesan melalui Ibu Lina  : telp (021) 70564488, hp : 081291222806,  Fac : 021-7564302

Harga untuk Rp 50.000,- belum termasuk ongkos kirim.

22
Nov
11

“ KAUM MATRILINEAL “

oleh    : Hendri Anas 

 

I. Nasab.

Nasab secara etimologi berarti al qorobah (kerabat), kerabat dinamakan nasab dikarenakan antara dua kata tersebut ada hubungan dan keterkaitan. Ibnus Sikit berkata,”Nasab itu dari sisi ayah dan juga ibu.” Sementara sebagian ahli bahasa mengatakan,”Nasab itu khusus pada ayah, artinya seseorang dinasabkan kepada ayahnya saja dan tidak dinasabkan kepada ibu kecuali pada kondisi-kondisi exceptional.

Sedangkan nasab menurut terminologi, setelah dilakukan banyak penelitian pada berbagai referensi dari madzhab-madzhab fiqih yang empat maka tidak ditemukan tentang definisi terminologi (syar’i) terhadap nasab. Kebanyakan fuqoha mencukupkan makna nasab secara umum yang digunakan pada definisi etimologinya, yaitu bermakna al qorobah baina syakhshoin (kekerabatan diantara dua orang) tanpa memberikan definisi terminologinya.

Makna inilah yang digunakan untuk melegitimasi keberadaan nasab terhadap seorang tertentu atau tidak ada nasab baginya. Diantara berbagai definisi secara umum tersebut ada definisi dari al Baquri yaitu ia nasab adalah al qorobah (Kerabat) yang artinya rahim. Lafazh ini mencakup setiap orang yang ada kekerabatan diantara kamu dengan orang tersebut, baik dekat maupun jauh, dari jalur ayah atau ibu.”

Lanjutkan membaca ‘“ KAUM MATRILINEAL “’

11
Okt
11

` Rendang Padang `

IRWAN PRAYITNO

Gubernur Sumatera Barat

Sekali lagi tentang rendang, warisan ibunda kita. Salam hormat untuk beliau yang telah memberi kita masakan terlezat dan diakui dunia. Dari dapur para ibu kita itulah, Sumatra Barat mengguncang dunia. Luar biasa.
Adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat Minang karena Rendang Padang dijadikan sebagai makanan terlezat di dunia versi CNNgo.com. Harian Singgalang kemudian menurunkan liputan berseri soal rendang tersebut. Ini sebuah apresiasi atas kekayaan kuliner Ranah Minang. Tentu kebanggaan dan apresiasi tersebut harus ditindaklanjuti dalam bentuk berbagai kebijakan dan program agar kebanggaan tersebut tetap terasa bagi masyarakat Minang di seluruh dunia.
Rendang Padang merupakan warisan tradisi kuliner di Sumbar walaupun masing-masing daerah memiliki sentuhan serta cita rasa tersendiri jika diamati secara detil. Rendang Padang sudah menjadi makanan orang Indonesia sehingga tidak hanya orang Minang saja yang bisa membuatnya tapi juga orang di Malaysia atau Singapura.
Dengan nama Rendang yang telah dinilai sebagai makanan terlezat tentu kita selaku “produsen” mengharapkan tidak akan mengecewakan konsumen penikmat Rendang Padang.
Karena itu kami mengimbau kepada masyarakat yang membuat ” Rendang Padang ” untuk dijual ke publik melalui restoran/rumah makan di seluruh Indonesia dan dunia maupun dijual melalui catering dan juga yang dijual untuk kepentingan umum lainnya. Seyogyanya mereka betul-betul komitmen dan konsisten dalam membuat Rendang Padang sehingga rasanya tidak mengecewakan konsumen sesuai harapan peserta polling dan pengunjung CNNgo.com, pemirsa CNN dan juga masyarakat dunia.
Sebagai contoh, memasak Rendang Padang memakan waktu lebih kurang 4 jam, lalu sebagian orang ingin praktis dan cepat maka dimasaklah dengan tidak mengikuti kaidah waktu dan ketentuan yang sudah ada. Akibatnya rasanya kurang enak dan bentuknya kurang bagus.
Rendang Padang menjadi terkenal di dunia karena memang kelezatan santan kelapa yang dimasak dari mulai warnanya putih kemudian berubah kuning kemudian coklat hingga kehitaman sehingga menimbulkan aroma yang lezat tiada bandingnya.
Rasa dan aroma inilah yang merupakan khas Rendang Padang.
Penulis menyebut Rendang Padang untuk membedakan dengan rendang yang lain, termasuk yang dari Malaysia. Penyebutan ini telah lazim di Indonesia. Untuk skala dunia penyebutan ini juga bermakna sebagai benteng kekayaan kuliner Indonesia. Rendang Padang inilah yang diakui pemirsa CNN sebagai makanan terlezat di dunia meskipun tertulis hanya “Rendang dari Indonesia.” Para ahli kuliner juga menyebut Rendang Padang sebagai cara untuk menjaga orisinalitasnya.
Rendang Padang juga bisa disebut sebagai makanan khas Indonesia karena Rendang Padang sudah dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia. Sekaligus merupakan produk asli dari Indonesia yaitu Sumatra Barat. Tidak ada orang Indonesia yang tidak kenal dengan Rendang Padang, selain karena adanya restoran/rumah makan padang di berbagai wilayah yang menyebabkan kepopulerannya juga karena sudah dibuat oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.
Kami melihat peluang besar, khususnya bagi masyarakat Minang, untuk membuka peluang usaha dan juga masyarakat dunia.
Ini perlu dijadikan momentum besar agar Rendang Padang bisa menjadi produk industri besar yang siap diekspor karena mampu bertahan sekian bulan dibanding makanan negara lain di dunia. (*)

08
Sep
11

NAGARI SEBAGAI UNIT KESATUAN KEAMANAN DAN PERTAHANAN

Oleh : Mochtar Naim

Dari empat fungsi utama Nagari yang terlembaga di Minangkabau dan Sumatera Barat sekarang ini, termasuk Nagari sebagai unit kesatuan Keamanan dan Pertahanan. Tiga yang lainnya adalah: (1) Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan di tingkat terendah seperti Desa di Jawa dalam konteks NKRI sekarang ini; (2) Nagari sebagai unit kesatuan Adat dan Sosial-Budaya; dan (3) Nagari sebagai unit kesatuan ekonomi.

Nagari sebagai unit kesatuan keamanan dan pengamanan serta pertahanan merupakan bahagian yang tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan dan dua yang lainnya. Sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan maka Nagari pun mengatur aspek keamanan dan pengamanan serta pertahanan secara otonom sesuai dengan sifat Nagari yang coraknya juga otonom seperti selama ini. Karenanya orang tidak akan menemukan ada perangkat kepolisian apalagi kemiliteran sebagai aparat dari Nagari di Nagari. Orang baru menemukan aparat kepolisian dan kemiliteran di Kecamatan dan Kabupaten dst ke atas. Hanya karena Nagari seperti juga Desa adalah bahagian dari wilayah Resor Kecamatan dan Kabupaten, maka Kepolisian di mana diperlukan akan turun ke Nagari seperti juga ke Desa yang sifatnya ad hoc dan insidental. Bantuan pada Kepolisian dimintakan kalau sudah tidak bisa ditangani langsung sendiri. Secara internal di Nagari urusan keamanan dan pertahanan dilakukan sendiri oleh Nagari sebagai bahagian dari sistem berNagari. Prinsip yang dipakai adalah: “Padi dikebat dengan daunnya.” Lanjutkan membaca ‘NAGARI SEBAGAI UNIT KESATUAN KEAMANAN DAN PERTAHANAN’

25
Agu
11

Kepada Siapa Kita mesti berguru ?

Oleh : Hifni Hafida

Saya pernah berdiskusi dengan seorang pakar kebudayaan yang berasal dari Madura. Saya ingin mengetahui sejauh mana penanganan  masalah sosial di Minangkabau dengan 2 pilar agama dan adat, bila ditinjau dari kaca mata non etnis Minangkabau. Juga, apakah orang diluar Minang mengetahui kondisi ke KINIAN Minangkabau ??. Ternyata Dia mencermati bahwa etnis Minangkabu mengalami kemunduran dalam beragama, karena 2 pilar Islam yaitu Syariah dan Ilmu Tasawuf yang yang selalu diajarkan oleh ulama Minangkabau zaman dahulu sudah tidak ada penerusnya lagi. Lanjutkan membaca ‘Kepada Siapa Kita mesti berguru ?’

21
Jul
11

Gelar Adat; Legitimasi bagi Keberadaan suatu Kaum

 Oleh : Puti Reno Raudha Thaib

Hak bamiliak
Harato bananpunyo
Badiri adaik diateh sako
Badiri sako diateh pusako
Badiri pusako diateh kaum

Ada gejala perubahan sikap dan pandangan sebagian orang Minangkabau terhadap gelar adat, memandang gelar adat itu sebagai status sosial kebangsawanan atau keningratan seseorang, seperti gelar-gelar di suku lain. Padahal, gelar adat bagi orang Minangkabau adalah fungsi sosial, yang mengemban amanah yang diberikan oleh kaum yang memberi gelar.

Hal ini jelas terlihat, banyak tokoh masyarakat yang sukses batagak gala, dengan upacara malewakan yang meriah. Tetapi sesudah itu, gelar tinggal gelar, bahkan tidak mau memakai gelar itu di belakang namanya.

Gelar menurut adat dan budaya Minangkabau merupakan kehormatan, kebesaran dan marwah suatu kaum. Merupakan legitimasi bagi keberadaan suatu kaum, yang bertautan dengan kepemilikan sako dan pusako kaum. Oleh karena itu, dalam pemberian gelar ada aturan yang sangat ketat. Lanjutkan membaca ‘Gelar Adat; Legitimasi bagi Keberadaan suatu Kaum’

12
Jul
11

Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA

Menyikapi pemberian gelar sasangko adat pada orang yang bukan pada tempatnya, ternyata para Niniak Mamak yang tergabung dalam “Forum Komunikasi Adat dan Kebudayaan Minangkabau” (FKAKM) Jakarta, yang sekarang telah berganti nama menjadi “Lembaga Adat Kebudayaan Minangkabau” (LAKM) Jakarta, telah melakukan kesepakatan sebagaimana yang tersebut dibawah ini.

Mudah-mudahan dapat di jadikan sebagai bahan dalam hal menyikapi apa yang terjadi pada saat ini, yaitu permberian Gelar oleh Niniak Mamak KAN Nan Salapan Suku di Nagari Padang kepada yang tidak berhak atau bukan pada tempatnya, yang  jelas-jelas bertentangan dengan perinsip “Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS_SBK) Syarak Mangato Adat Mamakai.

Kesepakatan itu adalah sebagai berikut Lanjutkan membaca ‘Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA’

12
Jul
11

‘ NAGARI MANICIKA’

Oleh : Hifni Hafida

Kasus pemberian gelar adat oleh KAN Padang telah hampir sebulan berlalu, namun tidak menyurutkan keingintahuan saya untuk mencari informasi tentang hal ini. Jujur saya punya kepentingan. Pertama karena adanya falsafah ABS – SBK yang kita jadikan pedoma dalam beradat dan berbudaya, Kedua, karena sebagai perempuan yang hanya bisa merambah-rambah rumput yang ada diseputar kaki, saya ingin tegaknya semangat  falsafah adat minang dibidang property ‘ jua indak makan bali – gadai indak makan sando ‘ – jangan sampai terkikis oleh kepentingan pihak tertentu.

Itulah ujung dari kekawatiran saya tentang kota ini. Tanah Pusaka Kaum – dikota itu hanya tinggal segelintir. Yang di Pasagadang – pusat saudagar minang zaman dahulu, yang di Alang Laweh – Subarang Padang – Parak gadang, Ranah, dll sudah punah karena dibagi-bagi oleh kaumnya. Hanya Simpang Anam yang masih berada dalam kedudukan ” ganggam nan bauntuak bagi kaum perempuan keturunan Puti Rakena Gading, dibawah kendali Mamak Kepala Warisnya yang masih bertahan. Dan di Simpang 6 itu pula terletak Kampuang Cino dan Kampuang Kaliang serta Kampuang Nieh…Lokasi keberadaan masyarakat heterogen itu.

Saya tak punya daya ketika ingin menyikapi pemberian gelar sasangko adat kepada dua orang pengusaha yang menguasai perekonomian ‘KOTA PADANG”. Dikota inilah berada sebuah ke NAGARIAN PADANG yang lebih tepat saya sebut sebagai ” Nagari MANICIKA ” , yang dihuni oleh warganya yang heterogen yang berasal dari : Malayu, Aceh, Nieh, China, Kaliang. Abaikan isitilah Nagari Manicika ini – jika di kaitkan dengan ke Nagarian Padang yang ingin saya hormati dan dikenal dengan Nagari nan Salapan Suku, Karena disini ada delapan orang Penghulu yang dikenal dengan nama Niniak Mamak nan Nan Salapan Suku. Lanjutkan membaca ‘‘ NAGARI MANICIKA’’

30
Mei
11

Kerajaan Pagaruyung : Hegemoni Melampui Sekat-Sekat Kewilayahan

http://geosejarah.org/index.php?option=com_content&view=article&id=65:kerajaan-pagaruyung-hegemoni-melampaui-sekat-sekat-kewilayahan&catid=34:artikel&Itemid=59

Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau merupakan salah satu kerajaan yang pernah ada dalam khazanah sejarah Minangkabau. Kerajaan yang diperkirakan berdiri pada abad ke-14 di daerah darek Minangkabau, tepatnya berpusat di Pagaruyung, Batusangkar. Kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan sekitar abad ke-15 Masehi, semasa pemerintahan Adityawarman berkuasa (Amran, 1981 : 37 ; Kiram, dkk, 2003 : 11 dan Imran, 2002 : 20). Sebagai sebuah kerajaan besar dizamannya, Kerajaan Pagaruyung sendiri memiliki kerajaan kecil sebagai “wakil raja” untuk memerintah di daerah. Kerajaan-kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung dan langsung diberi otonomi khusus untuk mengurus kepentingan pemerintah dan ekonominya. Lanjutkan membaca ‘Kerajaan Pagaruyung : Hegemoni Melampui Sekat-Sekat Kewilayahan’

23
Mei
11

PEMAHAMAN JENDER DALAM BUDAYA MINANGKABAU

Oleh  : Puti Reno Raudha Thaib.

Pendahuluan

Kalaulah istilah jender itu secara luas dipahamkan sebagai kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, maka masyarakat Minangkabau sudah lama menerapkan kesetaraannya dengan idiom dan penafsiran tersendiri. Kalau kesetaraan secara umum

dimaksudkan; harus adanya pemisahan fungsi dan peranan laki-laki dengan fungsi dan perempuan, maka pemisahan demikian tidak ditemukan di dalam adat Minangkabau. Pemisahan perananan antara fungsi dan kedudukan laki-laki dengan peranan dan fungsi perempuan, tidak pernah secara tegas dinukilkan dalam aturan adat Minangkabau, yang seharusnya dapat ditelusuri melalui pepatahpetitih, mamang, ungkapan atau idiom-idiom budayanya. Peranan dan fungsi yang diberlakukan adat pada perempuan tetap dalam konteks hubungannya dengan kaumnya, keluarganya. Tak pernah perempuan dilihat sebagai seorang individu, sebagaimana pemahaman perempuan dalam pemikiran kesetaraan jender yang umum dikenal saat ini. Lanjutkan membaca ‘PEMAHAMAN JENDER DALAM BUDAYA MINANGKABAU’




Pengunjung

  • 1.238.106 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2020
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: