16
Mar
17

Riwayat Masakan Minang

Sejak kapan masakan minang itu menjadi kekayaan budaya kuliner Minangkabau ? Bagaiman asal usulnya ? Siapa yang pertama membuatnya? Bila pertanyaan ini kita ajukan kepada orang tua-tua kita bahkan seorang ahli masak sekalipun, sebaiknya, simpan sajalah pertanyaan-pertanyaan itu, sebab kemungkinan besar tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti. Seandainyapun kita bertanya pada para ahli kuliner dikancah Nasional, seperti : Tuty Soenardi, Bondan Winarno, dan ibu Sisca (maklum tidak ada yang berasal dari etnis Minang), pasti mereka tidak tahu asal usul masakan minang yang bercita rasa tinggi itu. Bagaimana cara menelusuri sedemikian banyak jumlah makanan khas Minang ini. Namun, hasilnya nihil.

”Saya bertanya kepada induak – induak yang tinggal di daerah Padang Pariaman hingga Pesisir Selatan. Di Bukit Tinggi saya juga bertanya kepada amai-amai yang berjualan masakan di Los Lambuang. Merekapun tak ada yang bisa menjawab.
Namun mengingat menelusuri riwayat masakan Minang ini adalah penting, karena ia adalah kekayaan budaya kuliner etnis Minangkabau, maka selayaknya kita mencoba menelusuri dari hal-hal sebagai berikut ;
* asal usul nenek moyang minangkabau
* karakter masyarakat primitive
* pengaruh asing pada alam Minangkabau

II. ASAL USUL MINANGKABAU DAN PENGARUH ASING DI MINANGKABAU :

Dalam sejarah Indonesia, maka Suku Minangkabau merupakan bagian dari kelompok Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari belahan daratan Asia kurang lebih 500 tahun sebelum masehi. Diperkirakan alur penyebaran nenek moyang dari kelompok melayu muda ini, bermula dari daratan Asia, menuju Thailand , kemudian masuk ke Malaysia Barat dan terus masuk menuju tempat-tempat di Nusantara. Nenek moyang suku Minangkabau. Dari Malaysia barat kemudian, bangsa ini masuk kearah Timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar hingga tiba di dataran tinggi yang disebut negeri Periangan, dilereng Gunung Merapi. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Tambo, sejalan dengan perkembangan penduduk dan kelompok masyarakat ketika itu, nenek moyang etnis Minangkabau mencari tempat pemukinan penduduk dan menemukan tiga lokasi untuk perluasan yang disebut Luhak nan Tigo (darek). Dari Luhak nan Tigo inilah suku Minang menyebar ke seluruh wilayah yang disebut alam Minangkabau.
Persentuhan bangsa yang telah mendiami alam minangkabau dengan bangsa yang berasal dari jazirah Arab, Persia dan India, telah berlangsung jauh sebelum munculnya agama islam. Wilayah minangkabau banyak dikunjungi, karena ketersedian hasil alam berupa ; rempah-rempah khususnya pala dan merica, kapur barus, emas, menyebabkan mereka ingin menguasai wilayah ini. Tidak kurang pula seperti ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Mojopahit, yang juga bermaksud untuk menguasai sumber-sumber hasil alam di wilayah ini.

Adat dan budaya semakin berkembang, selain berasal dari Luhak nan Tigo, kemudian menyebar kewilayah pesisir pantai pulau Sumatera. Wilayah rantau disebut Luhak rantau (luhak nan bungsu). Kedatangan bangsa Arab, India, Persia terjadi ketika pantai barat Sumatera menjadi pelabuhan alternatif perdagangan selain Malaka. Demikian pula pesisir pantai jatuh ke tangan Portugis, ketika perairan Malaka dikuasai oleh bangsa ini.. Interaksi masyarakat pesisir pantai, banyak terjadi dengan kedatangan pedagang pedagang ini. Interaksi social, yaitu hubungan social yang dinamis, baik hubungan antar individu, antar individu dan masyarakat dan antar masyarakat sendiri. Pengaruh timbal balik diperbagai segi kehidupan manusia, melahirkan sesuatu hal yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidup manusia, termasuk dibidang kuliner.
Secara antropologi, setiap masakan menyebar seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada lokalisasi, proses industri yang disesuaikan dengan adapt dan budaya setempat.

 III. Kekayaan budaya kuliner Minangkabau :

Tak terhingga kalimat untuk menggambarkan kekayaan yang dimiliki oleh alam Minangkabau. Memiliki adat dan budaya yang sedemikian kuat. Didukung oleh alam yang indah dan kaya raya dengan hasil alamnya, yang mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup manusianya. Masyarakatnyapun dinamis, namun telah memiliki pedoman hidup yang bersandar pada falsafah alam, dalam pola hubungan serasi antara manusia dan individu dengan alamnya, sehingg alam terkembang jadi guru.
Dibidang kuliner, masyarakat semulanya membutuhkan makanan untuk kekuatan tubuh, yang diperoleh dari bahan makanan yang mengandung karbo hidrat. Mereka menanam padi. Mereka memasak nasi. Kemudian mereka melengkapi dengan lauk pauk yang diperoleh dari binatang ternak yang dipelihara dan hidup di alam.
Resep dasar, yang dapat menyeimbangkan antara cita dan rasa masakan, diracik dengan menggunakan bumbu-bumbu yang mengandung khasiat tertentu.

Kategori Masakan :
Hidangan khas Minang tersedia di seluruh pelosok Nusantara dan Mancanegara. Hampir bisa dipastikan setiap orang pernah mencicipinya. Variasi bahan baku untuk masakan asal Minang ini sungguh banyak. Kita dapat membedakan jenis masakan tersebut dalam kategori sebagai berikut, yaitu :

1. Makanan utama
2. Makanan selingan
3. Kue-kue tradisional
4. Aneka Minuman khas Minang

Cita rasa yang utama di temui pada masakan khas Minang adalah gurih dan pedas. Rasa gurih dan pedas tersebut diperoleh dari santan dan cabai merah yang memang banyak di konsumsi orang Minang.
Rasa gurih dan pedas ini yang berasal dari santan dan cabe, dapat dicampur dengan bahan baku apa saja. Semisal, bahan baku hewani , yaitu ; daging sapi, ayam atau bebek, ikan laut, ikan tambak, termasuk telur ayam. Sementara sayurannya lebih banyak menggunakan kacang panjang, daun singkong, pakis, nangka, buncis, serta petai dan jengkol.

Khasiat Bumbu tradional Minang:
Bumbu dalam masakan Minang memegang peranan penting dalam setiap masakan. Unsur tradisional yang penting dalam setiap masakan itu, adalah :

•Santan : sebagai ciri khas masakan Minang, tidak lain kekayaan hayati yang tumbuh dan subur di Minangkabau. Santan membuat makan olahan apapun juga menjadi gurih – legit. Sangat diyakini pengolahan makanan dengan menggunakan santan akan menghasilkan cita rasa yang luar biasa, seperti bangsa-bangsa Eropa yang menggunakan susu sebagai pencipta rasa gurih masakan.

  • Cabe : mengandung khasiat sebagai multivitamin, yang dapat menghangatkan tubuh dan mengandung anti oksidan. Yang dapat menangkal radikal bebas yang berasal dari lemak-lemak bahan baku makanan ataupun santan yang berpotensi mengandung lemak jenuh.

    • Pemanis masakan berasal dari : bawang merah dan bawang putih ( untuk masakan tertentu).

    • Empat serangkai bumbu utama : jahe, kunyit, lengkuas, serai.
    Bumbu ini mengandung khasiat obat, untuk menetralisir gangguan pencernaan akibat penggunaan cabe merah atau hijau.

    • Untuk pengharum masakan : daun kunyit, daun jeruk dan untuk masakan tertentu (daun salam, daun mangkok ).

    Orang Minang dalam mengolah masakan, tidak pernah pelit dalam memasukkan bumbu dalam sebuah masakan. Mereka meracik masakan dengan bahan dan bumbunya kental dan terasa pekat.
    Berdasarkan unsur tradisionil suatu masakan sebagaimana yang diuraikan diatas, maka manfaat bawang merah dan bawang putih sebagai pembuat gurih masakan, adalah berbanding 2 : 1.
    Bahkan ada yang memberi perbandingan bumbu dan bahan baku dalam masakan minang adalah 3 : 8. Artinya takaran bumbu adalah 3 berbanding 8 dengan takaran bahan baku. Dengan perbandingan takaran ini, dapat dipastikan betapa gurihnya cita dan rasa masakan Minang .
    Di lain daerah, misalnya Jawa atau Sunda, mereka memasukkan gula sebagai penyedap masakan. Pada masakan Minang, tidak pernah menggunakan gula dalam setiap masakannya, baik gula merah maupun gula putih. Gula hanya digunakan untuk membuat kue saja.

IV. Jenis Masakan Sederhana hingga Masakan yang Bercita Rasa Tinggi :
Dari unsur tradional setiap masakan minang sebagaimana yang telah dijelaskan pada butir III, antara lain : pemanis masakan (bawang merah atau bawang putih), empat serangkai bumbu masak (jahe, kunyit, lengkuas, serai), pengharum masakan yang berasal dari (daun kunyit, daun jeruk, daun salam, kadang-kadang daun mangkok), maka masakan Minang dapat menjadi masakan sederhana hingga menjadi masakan yang bercita rasa tinggi.
Jenis masakan asli Minang :
Jenis masakan asli Minang adalah sebagai berikut :
a. Masakan yang dibakar, yaitu : panggang ikan, panggang ayam, sate Padang
b. Masakan yang direbus dengan menggunakan cabe merah : asam padeh ikan, asam padeh daging atau kadang asam padeh ayam.
c. Masakan gurih dari santan ; kalio daging/ayam, gulai ikan/udang/cumi, gulai telur, gulai nangka, gulai kacang panjang, gulai pakis, dll.
d. Rendang : utamanya berbahan dasar daging sapi.
e. Gulai itik ; termasuk masakan asli minang yang berasal dari Nagari Koto Gadang. Masakan ini ditumis kemudian direbus dengan menggunakan cabe hijau.
Ada pula masakan yang merupakan hasil dari akulturasi budaya karena ada pengaruh asing yang datang ke Minangkabau, seperti Arab, India, China, Belanda, yaitu :
a. Slada Padang :
Yang aslinya berasal dari negeri Belanda yang kemudian diolah menjadi masakan yang bercita rasa Minang.
b. Gado – Gado Padang :
yang berasal dari cara pengolahan makanan mentah atau rebusan dari tanah Jawa.
c. Soto Padang :
Soto ini kemungkinan mendapat pengaruh dari soup yang dibawa dari benua Eropa, yaitu Belanda. Berisikan daging dan pergedel kemudian disiram cairan kaldu dengan unsur bumbu tradisional minang.
d. Masakan serba Mie :
Yang berasal dari negeri Cina.
e. Gulai bagar merah dan gulai putih (Karoma – korma?) :
Masakan ini biasanya dihidangkan pada perhelatan besar dalam rangka selamatan atau kenduri. Di Negara asalnya, Jazirah Arab atau India masakan ini hanya menggunakan bumbu yang sangat sederhana yang terdiri dari bahan rempah-rempah, yaitu merica, kayu manis, buah pala, cengkeh dan garda munggu. Masakan itu kemudian masuk ke alam Minangkabu bersamaan dengan masuknya pengaruh asing, baik dalam rangka perdagangan ataupun penyebaran agama islam.
Penyebaran masakan ini selanjutnya diranah Minang, diikuti dengan upaya pe-lokalan. Proses pelokalan masakan ini mungkin sama seperti pelokalan Islam di Minangkabau. Inilah yang mengakibatkan muncul jenis masakan ini, yang ditempat aslinya disebut karee.
Di Minang, jenis masakan karee diolah dengan menggunakan santan dibumbui – tradional masakan Minang disertai rempah- rempah itu, Sedangkan di tempat asalnya tidak menggunakan bumbu tradisional Minang, melainkan menggunakan minyak samin bersama rempah. Sesungguhnya rempah-rempah itu berasal dari Negeri kita.
 

V. Penutup
Mari kita berikan acungan jempol kepada ~padusi~ Minang, yang menemukan bumbu tradional mengolah masakan Minang dari berbagai budaya kuliner nasional maupun asing. Ditangan merekalah masakan itu menjadi bercita rasa tinggi, seperti yang ditampilkan di Restoran-restoran yang bertaraf Internasional, maupun dilingkungan kedai nasi biasa. Demikian pula kaum lelaki minang pun memiliki keahlian dalam masak-memasak.
Dalam setiap kesempatan acara dan kenduri ; Upacara sepanjang kehidupan manusia, Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian, Upacara keselamatan, selalu terhidang aneka ragam masakan tradisional . Diantara semua ragam masakan itu, maka rendang merupakan menu utama disetiap kesempatan
Saling mempengaruhi dalam setiap ragam masakan Minang, merupakan hal yang biasa, seperti hasil suatu kebudayaan. Berbagai macam tradisi, masuk dalam budaya kuliner, yang berasal dari pengaruh asing seperti Arab, India, China, Eropah.
Penyebaran budaya kuliner, diikuti dengan upaya pelokalan. Proses pelokalan masakan menjadi masakan khas Minang mungkin sama seperti pelokalan Islam di Minangkabau. Inilah yang mengakibatkan muncul berbagai jenis masakan di alam Minangkabau.
Penelusuran asal usul masakan dan penyebarannya memang baru sebatas kemungkinan. Pasalnya, sumber-sumber yang ditanyai mengatakan, sejauh ini belum ada penelitian mendalam khusus mengenai masakan kita. Mengapa itu terjadi? Menurut pendapat penulis urang Minang saja belum menganggap makanan sebagai bagian dari kekayaan budaya kuliner Minangkabau. Ada yang berpendapat bahwa ”Makanan masih dianggap sesuatu yang sepele. Jadi, buat apa dipelajari…!! Tidak salah pula kiranya, bila masakan Minang itu dikenal menjadi Masakan Padang. Tempat pijakan “urang Minang meninggalkan kampong halamannya yang berlayar dari Pelabuhan Muara atau Pelabuhan Teluk Bayur yang berada di Kota Padang tercinta.
Bagi penulis dengan adanya pencaplokkan hasil karya, cipta dan rasa anak bangsa, oleh Negara tetangga kita, maka penting bagi kita menelusuri riwayat masakan Minang itu. ”Ini kekayaan yang tidak ternilai harganya”. Budayawan Minang dengan Pemda Sumbar sebagai mediator dan fasilitator harus berupaya menggali kekayaan masakan Minangkabau berikut riwayatnya. Bila masakan Padang ingin disebut Masakan Minang.
”Jika kita bisa mengungkap riwayat atau legenda di balik makanan, mungkin makanan yang biasa saja nilainya akan jauh lebih mahal. ”Kalau memang makanan itu ingin dijual, penggalian informasi dan pengemasan memang perlu dilakukan. Ternyata produk kemasan masakan Minang telah berlangsung sebagaimana yang telah kita ketahui bersama.
Sebagai penutup kata, konon secara filosofi adat dan budaya Minangkabau, Rendang memiliki posisi terhormat dalam setiap hidangan. Rendang yang terdiri dari 4 bahan pokok, mengandung makna, yaitu:
1. Daging (khususnya Sapi), sebagai bahan utama, pelambang Ninik Mamak dan Bundokanduang yang akan memberi kemakmuran pada anak kemenakan dan anak pisang.
2. Kelapa, merupakan lambang Cerdik Pandai (Kaum Intelektual), yang akan merekat kebersamaan kelompok dan individu
3. Cabe, merupakan lambang Alim Ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak (agama),
4 Pemasak (Bumbu), peran funsional setiap individu dalam kehidupan berkelompok danmerupakan unsur yang penting dalam hidup kebersamaan masyarakat Minang.
Mari kita gali setiap hasil dan produk budaya kita disaat dunia semakin global dan perantau Minang semakin sulit pulang keranah Minang.

Puspiptek, Setu, Tangerang Selatan, Banten

11
Des
15

12 budaya Larangan bagi perempuan Minang

Pengantar :

12  budaya larangan penting diketahui oleh semua kaum perempuan Minangkabau. Sebagaimana yg tertera dalam tulisan berikut ini. Adanya budaya larangan ini tidak akan melekat bila tidak disosialisasikan kepada Masyarakat.
Dalam upaya itu, kami menulis ulang artikel ini yg kami cuplik secara utuh  dari Sumbar.go.id 
———
Minangkabau adalah etnis yang unik, sebagai etnis/suku yang memegang paham matrilineal, Minangkabau meletakkan perempuan dalam posisi yang sangat istimewa. Di alam Minangkabau, perempuan amat sangat dihormati. Perempuan memiliki tempat dan hak suara di dalam kaum. Pendapatnya didengar, pertimbangannya diperlukan. Perempuan benar-benar mempunyai nilai. Jika kita larikan ke falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullahpenghormatan Minangkabau terhadap perempuan selaras dengan penghormatan syarak/agama Islam terhadap mereka, sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam kitabullah (Al-Qur’an).

Keistimewaan yang diberikan kepada perempuan Minangkabau itu tentu harus diikuti dengan serangkaian usaha untuk menjaganya. Sebab, sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang terjaga dan dipelihara sebaik mungkin. Oleh karena itu, para pendahulu menetapkan aturan atau pendidikan terhadap anak-anak perempuan agar tetap menjaga keistimewaan mereka. Nuansa pendidikan itu disebut dengan sumbang, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sumbang ini terdiri dari 12 poin yang bisa kita bahasakan sebagai 12 budaya terlarang bagi perempuan Minangkabau. Budaya dalam konteks ini berarti kebiasaan yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan Minang demi menjaga warisan budaya dari para pendahulunya.

Sumbang Duduak

Duduk yang sopan bagi perempuan Minang adalah bersimpuh, bukan bersila macam laki-laki, apalagi mencangkung atau menegakkan lutut. Ketika duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha. Jika berboncengan jangan mengangkang.

Sumbang Tagak

Perempuan dilarang berdiri di depan pintu atau di tangga. Jangan berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti. Sumbang berdiri dengan laki-laki yang bukan muhrim.

Sumbang Jalan

Ketika berjalan, perempuan Minang harus berkawan, paling kurang dengan anak kecil. Jangan berjalan tergesa-gesa apalagi mendongkak-dongkak. Jika berjalan dengan laki-laki berjalanlah di belakang. Jangan menghalagi jalan ketika bersama dengan teman sebaya.

Sumbang Kato

Berkatalah dengan lemah lembut, berkatalah sedikit-sedikit agar paham maksudnya, jangan serupa murai batu atau serupa air terjun. Jangan menyela atau memotong perkataan orang, dengarkanlah dulu hingga selesai. Berkata-katalah yang baik.

Sumbang Caliak

Kurang tertib seorang perempuan Minang ketika suka menantang pandangan lawan jenis, alihkanlah pandangan pada yang lain atau menunduk dan melihat ke bawah. Dilarang sering melihat jam ketika ada tamu. Jangan suka mematut diri sendiri.

Sumbang Makan

Jangan makan sambil berdiri, nyampang makan dengan tangan genggamlah nasi dengan ujung jari, bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut lebar-lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat dalam bertambah (batambuah).

Sumbang Pakai

Jangan mengenakan baju yang sempit dan jarang. Tidak boleh yang menampakkan rahasia tubuh apalagi yang tersimbah atas dan bawah. Gunakanlah baju yang longgar, serasikan dengan warna kulit dan kondisi yang tepat, agar rancak dipandang mata.

Sumbang Karajo

Kerjaan perempuan Minang adalah yang ringan serta tidak rumit. Pekerjaan sulit serahkanlah pada kaum laki-laki. Jika kerja di kantor yang rancak adalah menjadi guru.

Sumbang Tanyo

Jangan bertanya macam menguji. Bertanyalah dengan lemah lembut. Simak lebih dahulu baik-baik dan bertanyalah jelas-jelas.

Sumbang Jawek

Ketika menjawab, jawablah dengan baik, jangan jawab asal pertanyaan, jawablah sekadar yang perlu dijawab tinggalkan yang tidak perlu.

Sumbang Bagaua

Jangan bergaul dengan laki-laki jika hanya diri sendiri yang perempuan. Jangan bergaul dengan anak kecil apalagi ketika ikut permainan mereka. Peliharalah lidah dalam bergaul. Ikhlaslah dalam menolong agar senang teman dengan kita.

Sumbang Kurenah

Tidak baik berbisik-bisik saat tengah bersama. Jangan menutup hidung di keramaian. Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak. Jika bercanda, secukupnya saja dan diagak-agak, agar tidak tersinggung orang yang mendengar. Jagalah kepercayaan orang lain, jangan seperti musang yang berbulu ayam.

Keistimewaan tentu harus dijaga dengan usaha yang ekstra. Bagai berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Perempuan Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang dicontohkan itu. Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh. Sebab, ketika perempuan Minang bisa menjaga semua itu. Ketika perempuan Minang mampu menjaga diri dari 12 sumbang yang telah dijelaskan di atas, dari situlah kecantikan sejati akan memancar dan kecantikan itu sampai kapanpun takkan pernah pudar.

17
Apr
15

Bid’ah versi ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Oleh : Marni Malay

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio

“Panakiak pisau sirauik ambiak galah batang lintabuang, salodang ambiak ka niru,Nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru.”

Inilah redaksi lengkap dari falsafah alam takambang jadi guru,yang artinya, air yang setitik rela (ihklas) diterima laksana sebanyak air lautan, tanah yang sekepal (segenggaman tangan) rela diterima laksana sebesar gunung dan alam semesta raya ini dijadikan guru (tempat belajar dan atau pemberi pelajaran).

Falsafah alam takambang jadi guruadalah, “ filsafat hukum alam” dan atau, “ filsafat hukum kodrat”, yang merupakan pandangan hidup (way of life) orang Minangkabau, salah satu suku bangsa rumpun Melayu Nusantara, atau yang sering juga disebut dengan suku bangsa Melayu Minangkabau, yang telah bermukim di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnyaatau juga yang lebih dikenal dengan sebutan,” Ranah Minang”, sejak kira-kira2500-2000 tahun lalu atau antara abat ke 5 -1 SM. Mereka meyakini bahwa falasafah tersebut disamping sebagai pandangan hidup mereka, juga merupakan, “ norma dasar” atau sumber dari segala sumber hukum (Grundnorm) terbentuknya Hukum Adat Minangkabau yang telah diwarisi secara turun-menurun dari nenek moyangnya. Dapat dikatakan kedudukan falsafah tersebut dalam hukum adat Minangkabau tak obahnya seperti falsafah Pancasila di Negara Indonesia.

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio, syarak mangato adat mamakai, artinya jalankan agama sesuai yang dikatakan Alquran dan Sunnah Rasul, tak boleh dilebih-lebihkan, tak boleh dikurangi, tak boleh menghalalkan yang haram, atau sebaliknya, kerjakan perintah –  tinggalkan larangan. Yang tidak dilarang jangan diharamkan pula. Subhanallah !
(ko pandapek ambo, tasarah sanak memahaminya – pen).

Contoh;
Harta warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal pembagiannya adalah menurut Alquran. Akan tetapi kalau anak laki-laki tak mengambil bagian dari harta warisan orang tuanya, itu tidaklah dilarang, tak ada perintah agama yang melarangnya.Bagi laki-laki minang, anak dipangku kemanakan di bimbiang, makanya tidak mau, dan bahkan malu mengambil harta orang tua.

Selanjutnya, dalam hal Harta Pusaka Tinggi, semua anak cucu keturunan datuak A misalnya berhak atas harta itu, dan dahulu kala mereka mengamanatkan; ” di jua tak makan bali – digadai tak makan sando. Kabau tagak kubangan tingga. Maka apakah haram atau dilarang melaksanakan amanat nenek moyang ?    Subhanallah !

Demikian pula dalam hal adat istiadat; lain padang lain hilalang. tak ada ayat yang menyatakan ritual adat itu haram, malahan justru ayat mengukuhkannya.  seperti : …kujadikan manusia berbangsa bangsa supaya mereka saling mengenal……dstnya.
Nah kalau budaya timur memulyakan hari kelahiran Rasullulah meskipun tak ada hadist atau ayat al Quran yang menyuruhnya ataupun melarangnya, dengan dasar apa pula kita bisa mencapnya sebagai bid’ ah ?

Bahwa sebenarnyalah adat istiadat harus relevan dengan Al Quran.
Contoh ; dahulu orang Arab akan langsung tahu kalau di Makkah, ada orang yang pakai sarung dan kopiah berarti dia orang Indonesia. Pakaian itu diperkenalkan secara tidak sengaja oleh Buya HAMKA. Beliau berkeliling keseantero dunia, selalu berpakaian demikian.
Nah,  terbukti justru adat telah membuat orang Arab atau dunia tahu secara gamblang suku bangsa seseorang. Seperti juga misalnya pakaian orang India. Coba kalau dulu Buya HAMKA ikut-ikutan berpakaian gamis ala bangsa Arab, tentulah sampai sekarang orang Arab tidak akan gamblang mengenali orang Indonesia. Lagi pula apa yang dipakai Rasullulah, dipakai pula oleh orang Arab seluruhnya. Jadi pakaian Rasull termasuk pakaian kebudayaan Arab, apakah dianggap sunnah juga ?
Ada yang mengatakan sama saya,  berpakaian seperti Nabi atau orang Arab termasuk sunnah ?

Falsafah alam takambang jadi guru, suatu bukti kecerdasan nenek moyang orang Minang, bahwa andai kata dibolehkan menjual harta pusaka tinggi, maka suatu hari kelak etnis Minangkabau, kelak kemungkinan akan tersingkir dari kampung halamannya ! Mereka hanya tinggal nama saja, bahkan bisa jadi akan jadi jongos dikampungnya sendiri ! Masya Allah.
Dalam pepatah minang dikatakan ; jalan lah di aliah urang lalu, cupak dituka orang panggaleh.
Artinya : jalan hidup ( pedoman) orang Minang sudah diambil alih orang lain dan menggantinya dengan tata cara  pedagang.
Fakta ini telah banyak terjadi pada suku bangsa lain yang membolehkan menjual tanah. Mereka hampir tak punya tanah lagi sebagai tempat berpijak ditanah sendiri.
Mereka bagaijan tikus mati dilumbung padi. Kaya tapi kelaparan (- editor)

Allah berfirman dalam Al Quran agar manusia berfikir, memperhatikan kejadian langit dan bumi serta alam semesta, sebagaimana yg dilakukan oleh Ibrahim dahulu.
Nah,  ini pula yang dilakukan oleh nenek moyang orang Minang dengan; ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Bahwa pengetahuan yang dipetik dari berguru kepada alam semesta, telah memberikan keyakinan kepada nenek moyang orang Minangkabau, bahwa semua rahasia penciptaan alam semesta tersimpan dalam sifat-sifat makhluk dan benda di jagat raya ini, dimana berlaku hukum alam, seperti ;
“ api panas dan membakar, air membasahi dan menyuburkan, kayu berpokok, berdahan dan berbuah, lautan berombak, gunung berkabut, ayam berkokok, kambing mengembek, harimau mengaum dan sebagainya.”

Bahwa hukum alam itu, misalnya; api membakar, air membasahi dan seterusnya, merupakan kodrat yang berlaku universal. Secara logika dan kasat mata kebenarannya tidak terbantahkan. Berdasarkan pandangan hidup yang demikian itu, nenek moyang orang Minang telah menyusun dan membentuk Hukum Adat Minangkabau, yaitu norma-norma hukum atau aturan-aturan hukum tidak tertulis, yang mengatur kehidupan orang Minang, dari hal yang sekecil-kecilnya sampai ke yang lebih luas; politik, ekonomi, hukum, sosial dan sebagainya.

Allah berfirman, tentang kejadian dan keberadaan nyamuk, yang secara logika sulit untuk dipahami untuk apa dia diciptakan. Keyakinan kita orang Islam apapun yang dijadikan Allah pasti ada guna dan maksudnya.

Falsafah alam takambang jadi guru ternyata lebih dahulu telah menjawab ayat itu (sebelum masuknya Islam) dengan pepatah ; nan bungkuak paambuih lasuang, nan buto palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam…dstnya….,
Subhanallah !

Sahabat,

Maka marilah kita jalankan agama kita, sebagai integritas atau jati diri kita , dengan benar.
” Malabihan ancak-ancak, mangurangi sio-sio, 
Maksudnya, jangan mudah terpengaruh oleh hasutan dan tipu daya yang bertentangan dengan Al Qquran dan hadist yang sekarang marak adanya di dunia maya, hati-hatilah !

18
Mar
15

Suku Mosuo dari Tiongkok

Budaya matrilineal (garis keturunan menurut ibu) tidak hanya dianut oleh Suku Minangkabau. Suku Mosuo di Provinsi Yunnan, Tiongkok juga punya budaya yang sama. Di suku ini, keluarga dipimpin oleh seorang perempuan dan mengambil garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu..

Suku Mosuo, hidup di derah ketinggian sekitar 2600 meter di atas laut, dan berada sekitar Danau Lugu.

Tiga orang dari Suku Mosuo di antaranya Cao Jiang Ping, Gewa Aping, dan Tociz pernah datang pada acara “Matrilineal Seminar,”  dalam rangkaian acara Festival Bundokanduang, di Perpustakaan Induk Universitas Andalas Padang, tanggal 6 Juni tahun 2014 yang

MS Cao Jiang Ping, melalui juru bicara Suwagito Lawer mengatakan, Suku Mosuo memiliki banyak kesamaan dengan Minangkabau. Selain menghormati perempuan dan menjadikannya sebagai seorang pemimpin, juga terdapat persamaan dalam tempat tinggal.

Suku Mosuo tinggal dalam satu rumah terdiri dari 2-3 generasi, bahkan ada yang mencapai 4-5 generasi, dengan jumlah anggota 20-30 orang. Hampir sama dengan penghuni rumah gadang. Bedanya, Suku Mosuo tidak mengenal pasangan suami istri tinggal bersama di suatu rumah tertentu. Di sana, sepasang suami istri hanya bertemu malam hari saja, setelah siang mereka kembali ke rumah masing-masing. Tetapi hal tersebut tidak menimbulkan masalah, karena hubungan suami istri didasari cinta.

“Semua keluarga tinggal satu rumah, dengan demikian tidak ada orangtua yang terlantar,” ujarnya.

Dia menambahkan, Suku Mosuo dipimpin oleh seorang perempuan (nenek atau orang yang dituakan) dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Meski dipimpin perempuan semua anggota keluarga tetap menghormatinya.

Saat ini jumlah anggota Suku Mosuo sekitar 40 000 orang dan hidup secara bersama dengan mata pencarian hampir sama dengan suku lain di Yunnan. Bedanya, daerah mereka dijadikan tempat wisata budaya, maka kesempatan tersebut dijadikan sebagai sumber penghasilan.

“Perempuan Suku Mosuo sangat tangguh dan bisa menjadi pemimpin. Semua harta diatur oleh perempuan,” ujarnya.

Dia mengaku, belum mengetahui, bahwa ada budaya yang sama, seperti yang mereka praktekkan. Setelah mendapat undangan dari Indonesia, mereka merasa penasaran tentang suku Minangkabau.

Perjalanan panjang mereka dari Pinggir Danau Lugu, harus menempuh jalan darat selama lima jam menuju Lincau, dan tiga jam menuju Kuanco menggunakan jalur darat, lalu lima jam menggunakan pesawat menuju Jakarta, lalu ke Ranah Minang.

Rasa penasaran tersebut terobati setelah melihat banyak kesamaan antara adat Minang dengan Suku Mosuo, hanya saja suku tersebut tidak memiliki harta bersama. Sementara harta milik keluarga di urus oleh wanita.

“Mungkin beberapa ratus tahun lalu kita bersaudara,” ujarnya.

Dia menambahkan, suku menganut kepercayaan Daba. Setiap keturunan menganut agama tersebut. Pewarisan agama dilakukan secara lisan, dari generasi ke generasi. Suku Mosuo tidak menutup diri dengan suku lain. Bahkan memboleh kawin dengan agama dan suku lain. Sesuai aturan berlaku di sukunya.

“Meski minoritas kami tidak pernah berperang dengan suku lain,” tuturnya.

Menurutnya, selain menjunjung tinggi peranan perempuan, peran mamak seperti di Minangkabau juga diaplikasikan di Suku Mosuo. Meski demikian, dirinya mengaku tengah berupaya mencegah pengaruh budaya luar.
Beberapa penyebab luntur budaya Mouso adalah, ada wanita Mosuo yang merantau, kemudian sistem patrilineal.

“Karena memiliki banyak kesamaan, saya mengharapkan ada hubungan lanjutan antra Minangkabau dengan Suku Mouso, dan saling berbagi info,” ujarnya. (Penulis : Andika Adi Saputra/Ed1)

08
Agu
14

Ratik Tagak, tradisi di Nagari Pariangan

* Ratik Tagak, Ritual Agama dari Nama Tuhan Hingga Pingsan

Ratusan laki-laki, anak-anak hingga lanjut usia, bersama-sama menunduk, lalu bangkit sembari berteriak, “Allahu, Allahu, Allahu…”. Lalu, sebelum berakhir, tiba-tiba massa mengerumuni seorang pemuda yang tak sadarkan diri, tapi di mulutnya masih berucap Allahu tanpa henti.

Begitulah tradisi ritual ‘Ratik Tagak’ di Nagari Pariangan, Tanah Datar yang dilaksanakan di Pandam Pakuburan Jorong Sikaladi. Pemuka masyarakat dan Lansia setempat berdiri di tempat yang lebih tinggi. Seorang ustazd memandu dengan alat pengeras suara, lalu mereka mulai menggerakkan badannya ke kiri, ke kanan dan merunduk sambil mengucapkan kalimat Allahu.

Aksi itu diikuti oleh warga yang hadir, di tempat yang permukaannnya lebih rendah dari kelompok pemuka masyarakat dan Lansia tadi. Peserta di bagian bawah ini pada umumnya anak-anak dan pemuda. Dengan semangat mereka bergandengan tangan dan menggenggam kedua telapak tanggannya. Kemudian mereka rukuk, tegak, rukuk, begitu seterusnya sampai kelelahan. Gerakan mereka itu seperti menyembah sesuatu dengan diiringi lafaz nama tuhan.

Sesekali berhenti, lalu dilanjutkan lagi, hingga kalimat suci yang disebut telah sampai jumlahnya. Ketika berakhir itulah ada yang tak sadarkan diri. Itu disebut ‘Malalu’.

Pemuda yang ‘Malalu’ tersebut rebah di tanah, tapi dia masih melakukan gerakan seperti yang dilakukan saat berdiri. Bibirnya pucat pasi, di tubuhnya keringat berkucuran. Untuk menyadarkannya, dibantu dengan mengipas hingga dia kembali normal.

Ratik adalah amalan umat Islam di Ranah Minang dengan menyebut nama Allah secara bersama. Disebut Ratik Tagak karena dilakukan sambil tagak (berdiri).

Menurut keterangan Wali Nagari Pariangan April Katik Saidi, tradisi ini turun temurun. Bahkan, dia dan masyarakat setempat tidak tahu kapan mula dari tradisi ini dimulai. Masyarakat setempat sudah menemukan dan menerima tradisi itu dari orang-orang terdahulu.

Acara Ratik Tgak diikuti oleh semua masyarakat Pariangan. Mereka menyebut kegiatan ini sebagai hari raya. Perayaan setelah puasa enam hari pascalebaran Idul Fitri.

“Jadi masyarakat kita di sini ada puasa enam hari setelah idul fitri. Ratik Tagak adalah hari raya untuk puasa enam tersebut,” kata April Katik Saidi kepada ranahberita.com usai acara. April menyebut pelaksanaan agenda tahunan tersebut, selalu di hari Kamis.

Dalam Ratik Tagak, menurut April, peserta menyebut kalimat-kalimat suci, seperti Laillahaillallah dan Allahu. Jumlahnya masing-masing 33 kali kemudian ditambah dengan doa dan kalimat suci lainnya.

Tidak sekedar berdoa dan Ratik Tagak, tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan silaturrahmi antar masyarakat. Usai ritual agama dilakukan, masyarakat makan bersama di lokasi terbuka.

Makanan dibawa oleh kaum ibu dengan ‘tuduang saji’. April mengatakan, ada sekitar 600 tuduang saji berisikan berbagai jenis makanan, mulai dari nasi sampai bua-buahan.

Selain masyarakat yang ada di kampung halaman, ratik tagak juga diikuti oleh perantau. Untuk memeriahkannya, di sepanjang jalan menuju lokasi acara, dipasang marawa. Warga yang hadir terlihat berpakaian rapi, apalagi ‘bundo kanduang’. Mereka sengaja berdandan untuk datang ke lokasi, mulai dari anak gadis sampai nenek-nenek. (Arjuna/Ed5)

Sumber : http://ranahberita.com

08
Des
13

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Lanjutkan membaca ‘Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau’

07
Nov
13

Alam takambang jadi guru

Kali ini saya tidak mengupas filosofi alam takambang jadi guru. Melalinkan sesuatu yang disimbolkan dalam karya seni. Saya mengambilnya dari halaman ‘ UKIRAN MINANGKABAU “. Paparannya seperti tertera dibawah ini.

Alam Takambang Jadi Guru

By ZODIO MEKER

 

Ukiran tradisional Minangkabau, motifnya diambilkan dari keadaan alam sekitarnya (flora dan fauna), dan adapula diantaranya yang mengambil motif bentuk makanan seperti saik galamai, belah ketupat, dan ampiang taserak. Pepatah menyebutkan:

 

Panakiak pisau sirauik, _________Penukik pisau siraut,

ambiak galah batang lintabuang, __ambil galah batang lintabung,

salodang ambiak ka niru, ________salodang ambil untuk nyiru,

satitiak jadikan lauik, ___________setitik jadikan laut,

nan sakapa jadikan gunuang, ____yang sekepal jadikan gunung,

alam takambang jadikan guru  ___alam takambang jadikan guru.

 

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistis atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan (distilasi) sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang dekoratif sehingga kadang-kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya.

 

Hal tersebut terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realistis. Hal ini masih dapat dilihat pada hiasan ukiran yang terdapat pada menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotifkan ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir tradisional Minangkabau motif-motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.

 

 

Pada motif ukir Minangkabau terdapat galuang/ relung dan ragam. Galuang/ relung yaitu berupa lingkaran yang sambung-bersambung sehingga membentuk relung kearah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, dan sapieh (serpih). 




Pengunjung

  • 967,624 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Maret 2017
S S R K J S M
« Des    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: