16
Apr
08

Wirda Hanim


Menghidupkan Kembali Batik Tanah Liek (liat)

. Pada suatu pameran di Jakarta, aku menemukan sebuah stand yang menampilkan produk batik asal Minang. Batik..?? apa ini jiplakan dari batik Jawa. Pertanyaan inilah kusampaikan pada petugas stand itu. Petugas itu bercerita bila ingin mengenal lebih jauh tentang batik asal Sumbar silahkan dating ke alamat home industrinya di daerah Sawasan – Kota Padang.
Kealamat rumah yang diceritakan oleh petugas itu aku dating menemui Ibu Wirda Hanim di rumahnya dibilangan Sawahan. Dinilah aku menjumpai pengusaha wanita itu, yang berusia lebih dari setengah abad. Aku mengamati segala aktivitasnya dan menanyakan beberapa kepadanya.
Ibu Wirda Hanim, kemudian bercerita, sebagai berikut :
Suatu hari pada 1993, Wirda Hanim yang sudah lama tinggal di Kota Padang mengikuti pesta adat di kampung asalnya, Kenagarian Sumani, Kabupaten Tanah Datar. Ia melihat beberapa pria dan wanita memakai selendang batik tanah liat yang dalam bahasa Minang disebut “batik tanah liek”.  Meski selendang tersebut sudah usang dan robek di sana-sini karena lapuk, namun mereka masih memakainya sebagai bagian dari pakaian adat tradisional Minangkabau. Wirda melihat, mereka memakainya dengan sangat hati-hati, seperti menjaganya agar tidak robek. Setelah mencari informasi, barulah ia ketahui bahwa mereka melakukan hal seperti itu karena batik tanah liek sudah langka, sebab tak lagi dibuat orang sejak sekitar 70 tahun lalu.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Walaupun tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat.  Diduga batik ini muncul ketika pengaruh kebudayaan Cina masuk ke wilayah alam Minangkabu. Menurutnya dahulu batik ini dibuat oleh beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin sejak zaman pendudukan Jepang.

“Melihat keadaan seperti itu saya prihatin dan tergugah, timbul keinginan saya untuk memproduksi kain batik tanah liek seperti yang mereka pakai, ibarat pepatah Minang, saya ingin ‘mambangkik batang tarandam’ (mengangkat sesuatu yang sudah hilang-red),” kata Wirda Hanim. Selain itu, katanya keinginan saya ini didukung oleh ibu Roudhah Thaib, budayawan dan Ketua Bundo kanduang Sumbar, katanya.

Melakukan Eksperimen
Saat itu Wirda sudah memiliki usaha kerajinan bordir “Monalisa” di Padang yang ia rintis sejak 1986. Meski begitu, ia sangat awam tentang kerajinan batik, termasuk batik tanah liat. Namun ia tidak patah semangat.
Ia menemui guru batik di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR, sekarang Sekolah Menengak Kejuruan atau SMK) dan meminta membantunya melakukan eksperimen, meniru batik tanah liek dengan bahan sintetis. Meski guru tersebut hanya menyuruh beberapa siswanya, Wirda tetap membiayai mereka untuk membeli kain dan obat-obatan membatik. Namun hasil para siswa ini tidak memuaskannya.

“Sambil menunggu jalan keluarnya, saya tetap mencari dan meniru motif-motif dari kain batik tanah liek kuno di kampung saya, motif kuno tersebut adalah kuda laut dan burung hong, di samping saya juga mengambil motif minang dari ukiran dan pakaian, serta membuat motif-motif baru yang sebagian perpaduan dari motif-motif itu,” katanya.
Enam bulan kemudian Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Sumatera Barat mengadakan pelatihan batik tanah liek untuk 20 orang peserta dari Kabupaten Solok dan Kabupaten Pesisir Selatan. Meski tidak ada ‘jatah’ peserta untuk Kota Padang, Wirda memaksa ikut menjadi peserta dengan biaya sendiri. Namun pelatihan tersebut dinilainya kurang memuaskan. Akhirnya ia pergi ke Yogyakarta untuk untuk belajar membatik di sana. Hanya beberapa hari di Yogyakarta karena tak bisa meninggalkan usaha bordirnya di Padang, Wirda meminta Dewan Batik Yogyakarta mengirimkan seorang pengajar batik ke Padang yang dikontraknya tiga bulan.

Sebelum pengajar batik ini dikirim ke Padang, Wirda menyuruhnya terlebih dulu membuat tiruan batik tanah liek dari contoh batik kuno yang ia bawa. Setelah batik itu selesai, pengajar batik tersebut bersama seorang muda yang dibawanya datang ke Padang dengan dibiayai Wirda.

“Sampai di Padang ternyata ternyata kain batik yang dibuat Bapak tersebut tidak seperti contoh yang saya harapkan, saya kecewa sekali, bahkan setelah dua setengah bulan ia bekerja dengan saya di Padang, tidak satu lembar pun yang berhasil sesuai dengan warna batik tanah liek yang saya inginkan,” kenang Wirda.

Untuk melakukan eksperimen, ia telah menghabiskan dana lebih Rp20 juta yang ia pinjam kepada suaminya, Ruslan Majid, 71 tahun, seorang pedagang. Sebagian besar ia pergunakan untuk membeli kain sutra, obat-obatan batik, dan peralatan membatik. Namun eksperimen yang gagal dengan menghabiskan banyak uang itu tidak membuatnya putus asa.
Seminggu sebelum kontrak dengan pengajar batik dari Yogya tersebut berakhir, Wirda teringat pelajaran membuat warna hiasan kue ketika les membuat kue pengantin dan kue ulang tahun yang pernah diikutinya di Jakarta sebelumnya. Ia melakukan uji coba sendiri dengan warna-warna kimia untuk batik, mencari warna yang sesuai dengan batik tanah liek yang warnanya mirip tanah.
“Saya mencoba ke sepuluh lembar kain yang ukurannya masing-masing dua meter, akhirnya saya mendapatkan warna batik tanah liek, meski dari sepuluh lembar hanya dua lembar yang bagus,” katanya.

Mengambil Tanah Payau Dekat Rumah
Selama melakukan eksperimen Wirda tetap menggaji lima karyawannya khusus batik. Sejak itu ia mulai memproduksi batik tanah liek dari bahan sintetis. Untuk pemasaran ia mengaku banyak mendapat batuan dari Zuraida Hasan Basri Durin, istri Hasan Basri Durin, Gubernur Sumatera Barat waktu itu.
Zuraida mengkampanyekan agar anggota Darma Wanita dan Bundo Kanduang Sumatera Barat memakai batik tanah liek dalam berbagai acara. Bahkan jika tamu dari luar daerah datang Wirda diminta membawa batik tanah liek-nya ke hotel tempat para tamu menginap.
“Para tamu cukup tertarik dan berminat pada batik saya, sejak itu usaha batik saya menjadi membaik,” ujarnya.
Pada tahun 2000,  Wirda diutus Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Barat mengikuti pelatihan pewarnaan alam di Yogyakarta yang diselenggarakan atas bantuan Jaica, Jepang, selama sebulan.
Sejak itulah Wirda kemudian mencoba bahan-bahan alami untuk batik tanah lieknya. Ia bahkan pernah mengambil tanah payau dekat rumahnya, direbus dan diaduk dengan tawas. Akhirnya ia berhasil memproduksi batik tanah liek yang berbahan tanah liat seperti batik aslinya yang ia temui di kampung halamannya di Sumani.
Kini untuk batik berbahan alami, ia tak hanya memakai tanah liat sebagai bahan baku, tetapi juga gambir, kulit rambutan, kulit jengkol, dan kulit bawang. Di rumahnya yang besar berlantai dua yang sekaligus tempat usaha yang sekarang bernama “Citra Monalisa”, 15 karyawannya menghasilkan satu kodi batik tanah liek alami dalam sebulan.
Untuk pembuatan batik tanah liek berbahan benar-benar tanah liat ditambah dengan bahan alami lainnya, hanya ada di Citra Monalisa. Di Sumatera Barat ada tiga usaha kerajinan batik tanah liek, tapi yang lainnya masih memproduksi batik tanah liek dari bahan sintetis.
Selain itu, berbeda dengan motif batik jawa, motif batik Citra Monalisa adalah motif minang, seperti motif siriah dalam carano, kaluak paku, kuciang tidua,lokcan, batuang kayu, tari piring, kipas, dan beberapa motif khas Cina.
Karena pembuatannya eksklusif, batik tanah liek untuk selendang, sarung, dan bahan kemeja tersebut harganya cukup mahal, dari Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per lembar. Pembelinya sebagian besar datang dari Jakarta, Malaysia, dan Jepang yang sebagian besar untuk souvenir.
Atas jasanya membangkitkan kembali kerajinan batik tanah liek dengan berusaha sendiri, Wirda Hanim dianugerahi Upakarti oleh Pemerintah RI pada 2006.

Bermula dari Nol
Wirda Hanim kelahiran Batusangkar 8 Mei 1952 adalah pengusaha yang memulai usahanya dari nol. Sebelum membuat batik tanah liek, ia memulai usaha dengan kerajinan bordir pada 1986 dengan seorang karyawan dan sebuah mesin jahit. Usahanya berkembang dan beberapa tahun kemudian ia sudah memiliki 30 mesin jahit dengan lebih 30 karyawan. Bidang usahanya pun bertambah dengan kerajinan sulaman tangan.
Wirda dan hasil produknya juga sering diikutkan pemerintah daerah melakukan pameran ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Belanda. Kini ia memiliki 50 orang karyawan yang sebagian besar adalah anak-anak putus sekolah dari berbagai daerah di Sumatera Barat, termasuk seorang tenaga ahli dari Pekalongan yang bertugas meramu bahan dasar pewarna alami untuk batik tanah liek. Meski begitu, hanya 20 orang karyawannya yang bekerja di tempat usahanya, selebihnya dibawa ke rumah masing-masing.
Para karyawan ini tak hanya mengerjakan batik tulis tanah liek, tetapi juga batik tulis sintetis, batik cap, menyulam, dan membordir.
“Saya ingin para karyawan saya cepat mengusai keterampilan bordir maupun batik agar mereka cepat mandiri, bahkan saya ingin dari mereka ada yang melanjutkan usaha saya, termasuk mengembangkan batik tanah liek dari bahan alami,” ujarnya.
Ketika menutup pertemuanku dengan ibu Wirda ini, beliau tidak akan memroduksi selendang-selendang batik katun, sambil beliau menunjukkan kepadaku beberapa helai seledang yang berharga 50 ribu – 200 ribu.
“ Jika saya membuat selendang ini lagi, saya benar-benar sangat rugi, diek..katanya. Saat itu yang ada dietalasenya terdapat 20 lembar lagi. Seketika itu pula aku dan beberapa saudaraku segera memborong selendang itu. Pada suatu saat akan menjadi batik langka bukan ? Apalagi menurutnya uang yang dipinjamkan suaminya dulu, sangat sulit baginya untuk melunasinya. saat ini ia mengalami kesulitan dalam mencari modal untuk ” membangkitkan batang nan tarandam “, yang menjadi salah satu produk seni budaya Minang.

Artikel disarikan dari : http://www.padangkini.com/print.php?mode=berita&id=3832 dan kunjungan lansung ke worshop bu Wirda di Sawahan – kota Padang

 

Iklan

15 Responses to “Wirda Hanim”


  1. 1 ari
    April 16, 2008 pukul 5:20 am

    Menarik sekali. Bagaimana saya bisa melihat batik Minang? Apakah memang hanya ada di Sumatera Barat? Saya berharap semoga sudah ada toko atau kolektor batik Minang di Jakarta.

  2. 2 ari
    April 16, 2008 pukul 5:22 am

    kalau memang ada, mungkin ada yang bisa mengkabari saya di ari.suryaputra@gmail.com
    Terima kasih.

  3. 3 ~padusi~
    April 16, 2008 pukul 6:45 am

    sayang sekali dik.. batik itu hanya di jual di kota Padang. Banyak orang yang berburu batik ini ke
    kota ini Pembelinya sebagian besar datang dari Jakarta, Malaysia, dan Jepang yang sebagian besar untuk souvenir. Batik ini digunakan sebagai pelengkap busanan adat belaka.

  4. 4 ari
    April 18, 2008 pukul 2:36 pm

    Sayang ya mbak. Padahal ingin sekali melihat. Teman saya yang medan-melayu saja heran orang minang punya batik. Hehehe…

    Oya, setahu saya sedang ada pameran kain nusantara di JCC. Mungkin kalau beruntung saya bisa menemukannya disana. Itu pun kalau sempat berkunjung.

    Salut untuk blog-nya mbak. Saya bakal sering mampir deh.

  5. 5 ~padusi~
    April 21, 2008 pukul 3:55 am

    Panggil Uni saja ya adinda ari…Batik produksi Ibu Wirda, hanya berupa selendang, karena ini bagian pakaian adat. Seandainya ada kain sarung untuk bawahan, ini semata memenuhi keinginan pelanggan bu Wirda, untuk mengatasi modal dan omzet.
    Jangan lupa kunjungi terus blog ini ya… dik

  6. 6 erika
    April 24, 2008 pukul 1:13 pm

    dulu ambo bagabuang di sanggar tari Indo Jati, Padang. tahun 94 kami ka ikuik festival tari tingkek nasional di Jkt, penata kostum kami sangat ingin panari padusi mamakai batiak tanah liek ko, buliah tambah anggun, skalian mengenalkan batiak urang minang ko. Ambo cari sabalik kota Padang, indak ado nan sarancak punyo amak ambo nan lah lapuak tu. Apo tahun sakitu Ibu Wirda alun menemukan “formula”yang pas utk batiak tanah liek? Rasonyo ambo sempat mancari ka Monalisa

  7. 7 ~padusi~
    April 25, 2008 pukul 1:25 am

    salam erika.. waktu erika ikuik festifal berarti bu wirda baru kabamulai usaho. apo nan beliau caritokan ka ambo, iko memang berkat kegigihannyo untuk menghidupkan karya busana adat. belum tapikia untuk komersial. Karena nan diliek di kampuang beliau waktu itu.. salodang.. tu alah cabiek.. cabiek..Jiko beliau berhasil membuek formula dari tanah liek.. memang patut kito acungkan jempol atas upayo beliau..

  8. 8 suryamengawarni
    Juli 25, 2008 pukul 6:43 am

    Assalamualaikum Ni, ambo kagum jo usaho uni sayang ambo baru tahu tentang perkembangan batik tanah liek, kalau ambo tau dari bulan lalu pasti ambo akan singgah di tampaik uni. Insyaallah suatu saat anak ambo akan datang katampik uni dia juga sangat tertarik dengan usaha dan uni ini. Surya di Jeddah

  9. 9 ~padusi~
    Juli 29, 2008 pukul 3:49 am

    silahkan datang ke butik ibu Wirda di daerah sawahan Padang. Selain itu beliau juga memproduksi bordir halus – hasil karya padusi minang. salam padusi

  10. 10 tahar
    Oktober 24, 2008 pukul 7:44 am

    bisa berikan alamat lengkap ke butik ibu wirda dan bagaimana bisa kontak beliau.
    terimakasih

  11. 11 hartinie
    Maret 17, 2010 pukul 1:24 am

    Bisa berikan alamat workshop ibu wirda, bulan Juli saya dan rombongan dari sekolah akan ke padang dan tertarik dengan batik tanah liek ini

  12. 12 aldo
    Mei 24, 2010 pukul 1:09 pm

    Boleh tahu alamatnya sis?
    Jika berkenan mohon email ke lukman.chakim(at)gmail.com ya sis 🙂

  13. 13 ARUL
    Oktober 13, 2010 pukul 12:24 pm

    APAKAH SEKARANG ANDA MASIH MENCARI BU NUR DAN PAK HAJI ????????

  14. Oktober 3, 2013 pukul 5:01 am

    Heya i am for the first time here. I came across this board
    and I find It truly useful & iit helped me out much.
    I hope to give something back and help others like you aided
    me.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,195 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: