18
Apr
08

ZAKIAH DARADJAT


Pandai, dengan nilai rata-rata 9, matematika malah 9,5, kemauan belajar Zakiah keras. Tiba di Yogyakarta setamat SMA, 1951, ia mendaftar di dua perguruan sekaligus. Keduanya lulus tes, baik di Fakultas Tarbiyah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), maupun di Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia (FH UII). Keduanya ia masuki.
Saat duduk di tingkat III, Zakiah pulang ke desa kelahirannya, Koto Merapak, Bukittinggi, Sumatera Barat. Mendengar ia memborong dua perguruan sekaligus, bekas guru SMP- nya menasihatinya agar memilih satu saja. ”Kamu jangan terlalu memaksa belajar, nanti sakit,” kata ibunya. Dosennya di PTAIN juga pernah mengatakan: kuliah bersamaan di dua tempat itu susah. Akhirnya, si sulung bersaudara 10 itu menurut.

Di tingkat IV Fakultas Tarbiyah, Kiah — demikian panggilan akrabnya — ditawari meneruskan ke Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir. Merasa bingung, ia menyurati orangtuanya. Jawaban Haji Daradjat dan Hajjah Rafiah singkat saja, ”Pergilah. Kami tahu kau bisa menjaga diri.”. Delapan setengah tahun (1956-1964) di Mesir, Zakiah belajar ilmu pendidikan dengan spesialisasi psikoterapi, sampai meraih gelar doktor. Pulang kampung, ia langsung bekerja pada Departemen Agama. Sampai Maret 1984, Zakiah Daradjat menjabat Direktur Pembinaan Agama Islam. Ia satu-satunya wanita anggota DPA.Di samping itu, sudah 20 tahun lebih Zakiah membuka praktek konsultasi psikologi di rumah kediamannya. Rata-rata ia menerima lima pasien setiap petang, terdiri dari kaum ibu, bapak, dan remaja. ”Tidak saya pungut bayaran. Kalau mereka memberi, saya terima,” ujarnya.

Tetapi, wanita berkulit kuning ini lebih dikenal sebagai penceramah. Pada 1960-an, ia bisa berceramah lima atau enam kali sehari. Sering tampil di RRI dan TVRI, Zakiah tiap hari, kecuali Ahad, memberikan kuliah subuh di Radio Elshinta, Jakarta. Di IAIN Jakarta dan Yogyakarta, Zakiah masing-masing menjadi guru besar dan memimpin Fakultas Pasca-Sarjana. Cukup sibuk. ”Tapi saya melakukannya dengan senang,” katanya.

Pendidik terkenal itu risau akan kehidupan remaja sekarang, khususnya tentang kasus kumpul kebo. ”Saya kecewa sekali,” ujarnya. Ia mengaitkan kenakalan remaja dengan kurangnya pengawasan orangtua, terutama ibu. Menurut dia, idealnya seorang ibu berada di rumah 3w5 jam sehari. Kurang dari itu berbahaya, katanya.

Sejak 1969, Zakiah menulis puluhan buku. Antara lain, Kesehatan Mental (Gunung Agung, 1969), Ilmu Jiwa Agama, dan Problema Remaja Indonesia (Bulan Bintang, 1970 dan 1974).

Ia pernah berceramah di 10 tempat secara berantai, dan terkejut melihat sejumlah orang yang selalu hadir mengikutinya. ”Mereka mengatakan ingin selalu dekat saya,” katanya. ”Mereka kebanyakan ibu-ibu.”

Penggemar renang yang kini hanya melakukan jogging dan orhiba ini masih memilih hidup sendiri
Nama : ZAKIAH DARADJAT
Lahir : Bukittinggi, Sumatera Barat, 6 November 1929
Agama :Islam
Pendidikan :
-Standard School Muhammadiyah, Bukittinggi (1944)
-Kuliyatul Mubalighat, Padangpanjang (1947)
-SMA, Bukittinggi (1951)
-Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Yogyakarta (1955)
-Universitas Ein Shams, Kairo, Mesir (doktor, 1964)
-Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Departemen Agama, Jakarta (1976)

Karir :
-Pegawai Biro Perguruan Tinggi Agama Departemen Agama (1964-1967)
-Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum pada Direktorat Perguruan Tinggi Agama (1967-1972)
-Direktur Pendidikan Agama (1972-1974)
-Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam (1977-1984)
-Anggota DPA-RI (1983-198 8)
-Guru Besar IAIN Jakarta (1984-sekarang).

Kegiatan Lain :
-Pimpinan Lembaga Pendidikan Kesehatan Jiwa Universitas Islam Jakarta (1970-1984)
-Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ruhama (1984-sekarang)
-Pimpinan Pendidikan Kesehatan Mental YPI Ruhama (1984- sekarang)

Karya :
-Kesehatan Mental, Gunung Agung, 1969
-Ilmu Jiwa Agama, dan Problem Remaja Indonesia, Bulan Bintang, (1970 dan 1974)

Alamat Rumah :

Jalan Fatmawati 6, Kompleks Wisma Sejahtera, Jakarta Selatan Telp: 763937

Alamat Kantor :
IAIN Jakarta, Jalan Ciputat, Jakarta Selatan Telp 741925

Sumber PDAT Tempo
Prof.Dr. Zakiah Darajat:

Peran Televisi Sebagai Pendidik Harus Dihidupkan Terus
Kapanlagi.com – Acara televisi yang merusak moral masyarakat dan tidak sesuai dengan nilai agama harus dipertimbangkan lagi oleh para pihak penyedia siaran, kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang anak dan keluarga, Prof.Dr. Zakiah Darajat.

“Acara siaran televisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun etika moral masyarakat seharusnya dipertimbangkan lagi oleh para pemilik siaran tersebut, apakah layak atau tidak untuk disiarkan di depan publik,” tegasnya di Jakarta, Rabu.
Ustadzah yang juga psikolog itu mengkhawatirkan akibat buruk dari siaran-siaran yang mengandung unsur kekerasan, seks, dan klenik. Apalagi, siaran tersebut hadir di ruang privat rumah setiap warga yang memiliki televisi, seperti di ruang keluarga dan ruang tidur.
“Penayangan acara mistis yang bisa menumpulkan akal dan logika penonton, ditinjau dari segi agama adalah suatu kesalahan besar,”katanya.
Ia menjelaskan, secara psikologis acara siaran televisi mempunyai pengaruh yang kuat dalam waktu yang lama kepada pikiran penontonnya. Indera pertama yang memiliki pengaruh terkuat pada pikiran adalah penglihatan, kemudian yang kedua adalah pendengaran, dan selanjutnya adalah indera perasa.
Acara televisi yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran penontonnya, menurut dia, memiliki pengaruh yang lebih kuat kepada pikiran penonton dibanding pengaruh media lain.
Zakiah hadir pada rapat dengar pendapat umum antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di gedung DPR, Senayan pada akhir Juni 2004. Saat itu, ia datang mewakili kalangan ulama untuk memberikan pendapat tentang acara siaran televisi.
Ia juga meminta agar para pemilik organisasi televisi tidak hanya mementingkan aspek komersial seperti penayangan iklan yang tidak mendidik, tetapi juga memikirkan peran mencerdaskan masyarakat yang harus dijalankannya.
Selama ini, menurut dia, acara televisi telah berhasil menyediakan informasi dan mendidik masyarakat, tetapi jangan sampai keberhasilan itu dilukai sendiri oleh para insan pertelevisian yang menayangkan acara yang dapat merusak moral.
“Peran televisi sebagai pendidik harus dihidupkan terus, seharusnya televisi bisa menayangkan acara yang dapat membuka wawasan dan menumbuhkan semangat kreativitas, bekerja dan taat beribadah sebagai ganti dari acara yang merusak moral itu,” demikian Zakiah. (*/erl)

Iklan

5 Responses to “ZAKIAH DARADJAT”


  1. 2 lifa mutiara
    Juni 26, 2013 pukul 5:16 pm

    saya sedang mencari buku daradjat yg kebahagiaan dan ketenangan dalam keluarga..sangat butuh

  2. 3 Chandra sugandi meizir
    Juni 3, 2014 pukul 8:54 pm

    Kok diyoutube tidak ada ceramah almarhumah saya mohon infonya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,928 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: