30
Apr
08

Acara Malam Bainai


Oleh : Hifni Hafida
Ada lagu minang terkenal berjudul malam bainai, yang melukiskan betapa meriahnya suatu upacara perkawinan di Minangkabau. Secara harfiah “bainai “ artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut “daun inai”  ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku.

Acara bainai, salah satu tradisi yang dilakukan Calon Pengantin Wanita atau anak dara, sebelum ia melangsungkan pernikahannya.  Pada suku Jawa, mereka mentradisikan malam midodareni.
Acara bainai adalah sebuah mustika berharga, karena merupakan ajaran budi pekerti yang luhur. Acara ini bertujuan mendidik anak dara dalam segala bentuk dan gerak dan perilaku untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia dengan senantiasa menghayati budi pekerti yang baik.
Makna pemasangan inai pada jari-jari tangan, dapat digambarkan sebagai berikut.

a. Ibu Jari : Lambang Bundo kandung, perekat rumah tangga, sebagaimana pepatah yang mengatakan :

Bundo kandung limpapeh, rumah gadang

Umbun puro pegangan kunci

Hiasan didalam kampuang, sumarak dalam nagari

Nan gadang basa batuah
Kok hidup tampek baniat
Ka undung-unduang ka madinah
Ka payungan panji sarugo.
Maksudnya : kebahgian rumah tangga ditentukan peran isteri dalam rumah tangganya ;

sorga dibawah telapak kaki ibu.

b. Jari telunjuk : Sebagai penunjuk atas suatu budi pekerti dalam budaya minang yang mentradisikan kepada keluarganya” Tahu nan diampek.
Yaitu : tahu rasa, periksa, malu dan sopan santun
c. Jari tengah : CPW diharap sebagai penengah dalam rumah tangganya dan sebagai tiang penyangga.
Maksudnya sama dengan Sabda Nabi Muhammad SAW :
Wanita adalah tiang rumah tangga. Kalau wanitanya baik maka baiklah rumah tangganya.
Dalam budaya minang berlaku falsafah :
“ Kuat rumah karena sendi
Rusak sendi rumah binasa
Kuat bangsa karena budi
Rusak budi hancurlah bangsa
d. Jari manis : CPW diharap bersikap manis didalam prilaku, tutur kata terhadap pasangannya, sebagaimana cincin yang terpasang di jari manis. Kesempurnaan wanita akan tergambar dari sikap si jari manis, yaitu : Wanita mempunyai kekuatan bathin, getaran dan daya tarik yang kuat dan menentukan terhadap suami sebagai nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ada pendapat yang mengatakan : “jangan dilihatkesuksesan seorang pria, akan tetapi lihat siapa yang membuat sukses seorang pria itu.
e. Kelingking : Gambaran betapa wanita mempunyai qodrat dan kemampuan yang lemah dibanding qodrat kaum laki-laki. , sehingga gerak dan kebebasan wanita tidak sama dengan kaum laki-laki. Dalam rumah tangganya CPW hendaknya bersama suami membina rumah tangga sebagimana pepatah berikut :
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,
Kebukit sama-sama mendaki, ke lurah sama menuruh.

Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan pada malam hari sebelum CPW/calon anak dara melangsungkan upacara akad nikah. Mengapa acara memasang inai pada kuku-kuku tangan calon anak dara , menjadi acara yang berarti dalam upacara adat perkawinan ?

Kebanyakan keluarga di Ranah Minang atau dimanapun mereka berada, ketika mengawinkan anak gadisnya, bukan saja acara ini dianggap sebagai suatu yang sacral, namun dijadikan sebagai ajang silaturahim bagi semua keluarga termasuk kerabat dan tetangga. Mereka berkumpul di rumah yang punya hajat. Sesuai dengan keakraban masyarakat agraris mereka akan ikut membantu menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, baik dalam persiapan di dapur maupun dalam menghias ruangan-ruangan dalam rumah.

Pada acara malam bainai itu, wakil keluarga diberikan kesempatan untuk memberikan doa restunya untuk melepas anak dara yang akan melangsungkan pernikaha itu.

Riwayat acara bainai :
Memasang inai — tidak saja upaya menampilkan kecantikan pada bagian dari anggota tangan anak dara, namun  menurut kepercayaan masyarakat zaman dahulu, kegiatan memerahkan kuku-kuku jari calon anak daro ini juga mengandung arti magis. Ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan untuk melindungi si calon anak dara dari kemungkinan ada manusia yang iri dengan si calon anak daro.

Kuku-kuku yang telah diberi pewarna merah itu,  berarti juga selama ia menjadi ratu sehari, akan tetap terlindung dari segala mara bahaya.

Setelah selesai melakukan pesta-pesta, warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.
Saat kini, kepercayaan kuno yang tak sesuai dengan tauhid Islam ini, sudah ditinggalkan. Sekarang memasang inai, merupakan bagian dari perawatan dan upaya menampilkan asesoris kecantikan anak dara, tidak lebih dari itu. Memerahkan kuku jari, tidak memiliki kekuatan menolak mara bahaya apa pun, karena perlindungan diri dari pengaruh jahat yang mengancam si anak dara, berada pada kekuasan Allah SWT.

Busana pada Malam Bainai

Karena acara malam bainai seringkali digabungkan dengan upacara memandikan si anak dara, maka anak dara mengenakan busana khusus yang disebut ” baju tokah dan bersunting rendah” .

Tokah adalah semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada sehingga bagian-bagian bahu dan lengan sedikit tertutup. Agar suasana upacara adat perkawinan ini menjadi meriah, para hadirin terutama kaum wanita, akan mengenakan baju kurung – khas Minangkabau. Sedangkan kaum pria menggunkan baju teluk belanga.
Dalam acara ini hadir pula teman-teman calon anak dara yang sengaja diberi berpakaian adat Minang untuk lebih menyemarakkan suasana.

Tata cara Bainai

Jika acara memandikan calon anak daro hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, maka acara melekatkan daun pacar atau inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita Minang ini,  dilakukan oleh siapa saja. Termasuk para tamu yang dihormati malam itu, seperti keluarga calon besan misalnya

Di beberapa ke Nagarian di Ranah Minang, acara bainai ini juga dapat dilakukan bersamaan dengan mengikut sertakan calon pengantin pria. Namun kedua calon pengantin (anak daro dan marapulai) tidak dipersandingkan. Jika akan dipersandingkan juga, maka posisi duduk calon pengantin pria (CPP), tidak di sebelah kanan, tetapi di sebelah kiri calon pengantin wanita (CPW). Kuku jari yang diinai sama juga dengan acara mandi-mandi, harus ganjil jumlahnya. Paling banyak sembilan.

Pada kesempatan upacara memasang inai,  setiap orang tua yang diminta untuk melekatkan inai ke jari calon anak dara. Ia memberikan nasehat secara berbisik ke telinga calon anak daro. Bisikan-bisikan itu bisa berlangsung lama, bisa sangat singkat. Nasehat-nasehat yang sangat rahasia mengenai kehidupan berumahtangga, atau bisa juga hanya sekedar gurau agar si calon anak daro tidak cemberut saja dihadapan orang ramai. Pelaksanaan acara akan dipimpin oleh seorang pemandu yang mampu menghidupkan acara ba – inai.
Di daerah Pariaman wanita yang memandu acara disebut uci-uci, untuk daerah nagari lain, pemandu acara mungkin dilakukan oleh amai – amai atau mande-mande sesuai dengan kebiasaan setempat. Seringkali juga pada malam bainai ini acara dimeriahkan dengan menampilkan kesenian-kesenian tradisional Minang.

Di wilayah pesisir meliputi Painan, Padang – Pariaman hingga Lubuk Basung, hiburan yang ditampilkan ialah musik gamat dengan irama musik Melayu serta disertai joget Melayu Deli. Semua acara ini mengundang tamu agar secara spontan tegak menari bersama. Dengan menggunakan selendang-selendang, penari wanita akan mengajak kaum pria agar menari melayu secara bersama.

Beberapa nasehat dan pemaknaan dari pemasangan inai di kuku anak dara sebagaimana yang disampaikan diatas, akan menuntun pasangan penganten baru ini dapat dijalaninya secara kokoh.

Puspiptek Serpong  17 Maret 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,074,817 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: