05
Mei
08

Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro


Oleh : Hifni Hafida

Meskipun sekarang ini acara memandikan CPW/anak daro tidak dilakukan lagi, namun beberapa nagari di Sumbar, acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. CPW/anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian wanita-wanita tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pegantin itu.

Dikota-kota besar, seperti di Jakarta, upacara memandikan calon anak daro juga lazim diselenggarakan. Akan tetapi demi efisiensi waktu dan pertimbangan-pertimbangan lain, acara memandikan calon anak daro digabungkan pelaksanaan dengan upacara memasang inai. Acara memandikan calon anak daro, dilaksanakan secara simulasi tanpa mengguyur si calon anak daro, namun cukup dengan cara memercikkan air yang berisi haruman tujuh kembang itu di beberapa tempat ditubuhnya dengan disertai doa selamat dari pihak yang memercikkan air ke tubuh si CPW/calon anak daro .

Tata cara acara memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro :

Jika acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolis atau simulasi belaka, maka sediakanlah satu ruangan khusus untuk menempatkan sebuah kursi dengan payung kuning terkembang didekatnya.
Pada sat ba`da Magrib, ketika seluruh anggota kerabat telah hadir, maka si CPW/calon anak daro yang telah didandani dengan menggunakan busana khusus, dibawa keluar dari kamarnya, diapit para gadis yang juga menggunakan pakaian adat. Ketika Islam menjadi pegangan didalam pelaksanaan hukum adat, maka pada acara ba inai dan mandi-mandi dilaksanakan dengan warna yang Islami. Yaitu, ketika si calon anak daro keluar dari kamarnya, ia akan disambut oleh kelompok kesenian yang mendendangkan salawat Nabi hingga si calon anak daro ini duduk di kursi yang telah disediakan. Seorang dari anggota keluarga yang laki-laki, biasanya adik atau kakak dari si calon anak daro berdiri dibelakangnya memegang payung kuning.
Mengapa demikian ? tidak lain bahwa saudara laki-laki si calon pengantin suatu saat kelak akan menjadi mamak dikeluarga itu kelak nanti, utamanya bagi anak-anak yang akan dilahirkan oleh calon anak daro itu. Saudara laki merupakan tungganai rumah yang bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kehormatan saudara-saudaranya dan kemenakan-kemenakannya yang wanita.
Setelah itu dua wanita saudara-saudara ibunya berdiri mengapit dikiri kanan si calon anak daro, sambil memegang kain simpai.
Ini maknanya : menurut sistem kekerabatan matrilinial, saudara-saudara ibu yang wanita adalah pewaris pusako yang berkedudukan sama dengan ibu anak daro. Karena itu dia juga berkewajiban untuk melindungi anak daro dari segala aib yang bisa menimbulkan gunjingan yang dapat merusak integritas kaum seperinduan.

Walaupun acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolik, kecuali ayah kandungnya, maka orang-orang yang diminta untuk memandikan dengan cara memercikkan air haruman tujuh macam bunga kepada calon pengantin wanita ini hanya ditentukan untuk wanita-wanita tua dari keluarga terdekat anak daro dan dari pihak bakonya. Jumlahnya harus ganjil. Umpamanya lima, tujuh atau sembilan orang. Dan yang terakhir melakukannya adalah ayah ibunya. Jumlah ganjilnya ini ditetapkan sesuai dengan keyakinan atas kekuasaan Tuhan dalam peristiwa alam, atau karena angka-angka ganjil selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sakral. Seperti ; sembahyang lima waktu, langit berlapis tujuh, sorga yang paling diidamkan oleh seorang Muslim juga sorga ketujuh. Tawaf keliling Ka’bah dan Sa’i pulang balik antara Safa dan Marwa dilaksanakan juga tujuh kali.

Di Minangkabau upacara adat memandikan anak daro dan malam bainai, diselenggarakan dengan berbgai macam cara. Pada beberapa kenagarian, selain calon anak daro dimandikan dengan disiram dengan air yang berisi racikan tujuh kembang, ada pula yang melakukan dengan cara ;
– tubuh calon anak dibaluti dengan tujuh lapis kain basahan yang berbeda-beda warnanya. Satu persatu orang tua menyiramkan air kembang tujuh rupa tubuh calon anak daro. Setiap calon anak daro diguyur dengan air kembang maka satu balutan kain dibuka dari tubuhnya dan demikian seterusnya.
– Jika acara mandi-mandi ini dilaksanakan secara simbolik, maka air haruman tujuh bunga itu dipercikkan ketubuh calon anak daro dengan mempergunakan daun sitawa sidingin. Tumbukan daun ini dikampung-kampung sering dipakai diluar maupun diminum, ia berkhasiat untuk menurunkan panas badan. Karena itu disebut daun sitawa sidingin.
Acara memandikan calon anak daro ini diakhiri oleh guyuran dan siraman dari kedua ibu bapaknya.

Setelah acara memandikan itu selesai, maka kedua orang tuanya itu akan langsung membimbing puterinya melangkah menuju ke pelaminan ditempat mana acara bainai akan dilangsungkan. Perjalanan ini akan ditempuh melewati kain hamparan kuning yang terbentang dari kursi tempat mandi-mandi ke tempat pelaminan.

Rangkaian upacara memandikan calon anak daro, karena mengandung nilai simbolik yang sangat berarti, maka hendak si calon anak daro dengan disaksikan semua hadirin, menjalani prosesi secara serius. Memandikan calon anak daro hingga memasangkan inai pada kuku jari, adalah napak tilas dari awal kehidupannya hingga ia berangkat menuju mahligai rumah tangga. Bagi orang tua-tua dikalangan calon anak daro itu, maka prosesi ini adalah suatu wujud keikhlasan untuk melepas sang anak menuju rumah tangga yang harmonis. Setelah sekian tahun ia membesarkan dan membimbing puterinya dengan penuh kehormatan dan kasih sayang, maka malam itu adalah kesempatan terakhir ia dapat melakukan tugasnya sebagai ibu bapa, karena besok setelah akad nikah maka yang membimbingnya lagi adalah suaminya.
Hamparan kain kuning setelah diinjak dan ditempuh oleh calon anak daro, segera digulung oleh saudara kali-lakinya yang tadi waktu acara mandi-mandi memegang payung kuning. Menggulungan kain kuning itu, mengandung pula harapan-harapan, agar calon anak daro itu, melakukan perkawinan satu kali itu saja seumur hidupnya. Jika perkwinannya berulang nanti, hanya karena maut yang memisahkan mereka.

Jika kita simpulkan maka hakikat upacara adat perkawinan pada zaman kini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengungkapkan kasih sayang keluarga kepada sang dara yang akan meninggalkan masa remajanya,
2. Untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin yang segera akan membina kehidupan baru berumahtangga,
3. Untuk menyucikan diri calon pengantin lahir dan batin sebelum ia melaksanakan acara yang sakral, yaitu akad nikah,
4. Untuk membuat anak gadis kelihatan lebih cantik, segar dan cemerlang selama ia berdandan sebagai anak daro dalam perhelatan-perhelatannya.

Iklan

1 Response to “Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro”


  1. 1 Ester Lisnati
    Oktober 29, 2011 pukul 6:57 am

    Terima kasihhh….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,001,880 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: