05
Mei
08

Persyaratan Dalam Pra Penikahan


Pada masa batimbang tando – pertunangan, ada beberapa hal yang perlu di klarifikasi antara kedua belah pihak, yaitu menyangkut tatacara, persyaratan dan lain-lain yang dilakukan pada saat perhelatan akan diselenggarakan. Dalam mengisi persyaratan ini, tidak berdasarkan untuk meraih kemenangan antara pihak pria dan wanita, akan tetapi demi menjaga kehormatan keluarga, dimana pihak yang bisa mengisi kebutuhan calon mempelai tentu akan medapat penilaian yang baik dimata masing-masing keluarga lain. Variasi tentang hal ini cukup beragam, sama halnya dengan pepatah yang mengatakan ; lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya.

Adapun perysaratan yang lazimnya diisi menjelang upacara pernikahan dilakukan, yaitu :
1. Mahar :
Masyarakat Minangkabu tidak mengenal mas kawin, sebagaiman yang kita kenal dalam praktek adat perkawinan tiap etnis yang ada di Indonesia. Orang Minang memandang lembaga perkawinan pada adat dan budayanya adalah perikatan antara dua keluarga (kerabat) dan bukan semata perjodohan sepasang anak manusia yang berlainan jenis.
Bagi calon mempelai pria (CPP)yang akan datang dan bertempat tinggal di rumah isterinya, berkewajiban menyiapkan mahar – sebagaimana yang diwajibkan dalam agama – ia juga membawa perangkat keperluan mempelai wanita, yang disebut panibo.

2. Panibo – Uang antaran:
Panibo asalnya dari tibo atau tiba. Biasanya panibo itu berbentuk sepasang pakaian lengkap untuk mempelai wanita dan bisa pula disesuaikan dengan kebutuhan pokok bagi wanita, seperti selimut woll tebal untuk didaerah dingin atau selendang bersulam emas hasil karya tangan wanita minang. Pihak pria bisa juga memberikan nilai tertentu kepada pihak wanita disebut dengan uang antaran, jika laki-laki yang mengajukan peminangan. Akan tetapi uang antaran atau panibo ini, diimbangi pula “ pananti”, oleh pihak perempuan dalam bentuk pakaian laki-laki, misalnya seperangkat pakaian pria lengkap, yaitu ; Jas, kemeja, sepatu, dll.

3. Uang jemputan ;
Uang jemputan adalah ukuran materi tertentu berbentuk uang atau barang atau yang disetarakan yang diberikan oleh kerabat Calon Pengantin Wanita (CPW / anak daro) kepada kerabat calon mempelai CPP /marahpulai. Pemberian uang jemputan ini dilakukan oleh keluarga CPW kepada CPP, karena si pria karena memiliki ;
a. Gelar kesarjanaan,
b. gelar turunan, seperti sidi, bagindo dan sutan,
c. Memiliki pengaruh – status social tertentu karena nama, jabatan, dll.
Memberi uang jemputan oleh keluarga pihak wanita kepada keluarga pria tidak dapat dianggap sebagai telah membeli seorang pria bagi anak gadisnya, namun sesungguhnya mereka menjemput si pria tersebut agar bersedia menetap dirumah calon isterinya kelak.

Pada masa tradisi dahulu, suatu keluarga akan menempatkan calon menantunya pada posisi yang disanjung dan dianjung. Artinya, disanjung untuk- dihormati sedangkan dianjung dibawa dengan menggunakan suatu kendaraan, seperti kuda, bendi. Sebenarnya uang jemputan ini merupakan pengganti benda yang disubsitusikan dalam rangka dianjung tadi yang kemudian diwujudkan dalam bentuk hadian berupa uang. Maksudnya sekiranya seorang pria akan diberikan sebuah hadiah berupa kuda atau dijemput dengan bendi, namun kuda atau bendi itu bukanlah fresh money yang dapat dinikmati oleh keluarga besarnya. Oleh sebab itulah ada kecendrungan pihak keluarga wanita memberikan keluarga pria itu – fresh money yang dikenal dengan uang jemputan.
Dalam perkembangannya tradisi jemput menjemput ini, mengandung nilai komersial dan kehormatan yang dibayar dengan uang. Jadilah penilaian seorang pria akan dihargai uang jemputannya dengan harga yang tinggi, semata-mata karena ia memiliki persyaratan tertentu.

4. Uang dapur, dll.
Kadang kala ada pula pihak pria yang merasa malu, jika statusnya dikompensasikan dengan sejumlah uang tertentu. Keluarga pria menyadari pula bahwa akibat dari pelaksanaan perkawinan tentu memerlukan biaya yang tidak sediki, sementara ia juga mempunyai kewajiban untuk meresmikan perkawinan anaknya dilingkungan keluarga atau masyarakat tempat ia bedomisili. Disinilah ia meminta bantuan kepada pihak calon besannya agar memberikan bantuan sebesar nilai tertentu kepada pihak keluarga wanita. Permintaan bantuan ini tidak berdasarkan persyaratan tertentu seperti halnya uang jemputan melainkan semata untuk membiaya perhekatan di keluarganya pula.
Uang dapur biasanya diberikan secara rahasia, mengingat calon mempelai pria merasa malu menerima uang dari kelaurga calon isterinya. Namun mengingat latar belakang ekonomi yang sangat membutuhkan bantuan itu, bisa saja pihak keluarga calon mempelai wanita memberikan bantuan berupan uang – yang saat ini dikenal dengan uang dapur.


8 Responses to “Persyaratan Dalam Pra Penikahan”


  1. 1 Arif
    Agustus 14, 2008 pukul 8:44 am

    Tradisi di atas cukup baik..namun ini bukan lah adat nan sabana adat, sebab tidak semua daerah diminang kabau memiliki tatacara perkawinan atau syarat yang telah disebutkan di atas. Hal ini menjadi kan minang kabau menjadi sesuatu yang berat bagi masyarakat selain minang..Saya sering ditanya sama teman-teman saya …kalau laki-laki diminang itu dibeli ya…dan saya jawab manusia tidak diperjual belikan itu hanya tradisi daerah tertentu yang dinamakan uang jemputan….Dan memang uang jemputan ditempat saya (tanah datar) itu tidak ada…Jadi memang tugas kita bersama mempromosikan dan memberi penjelasan kepada orang lain untuk lebih mengetahui seluk beluk budaya minang kabau…..

  2. 2 ~padusi~
    Agustus 15, 2008 pukul 4:16 am

    Terima kasih atas tanggapannya. Memang lain lubuk lain ilalang. Adat di Minangkabau juga berlaku ” salingka nagari. Jika ada tradisi jemput menjemput, memang hanya berlaku didaerah tertentu saja, khususnya wilayah pesisir Sumbar, meliputi Padang-Pariaman. Dengan akan diberlakukannya ABS-SBK, hal-hal yang membawa mudarat sebaiknya ditinggalkan. Namun bagi sebagaian besar masyarakat Minang ingin mempertahankan tradisi ini atau ada pihak non minang yang ingin memergunakannya, artikel ini dapat dijadikan paduannya. terima kasih sanak. salam ~padusi~

  3. 3 desy
    Februari 17, 2011 pukul 10:44 am

    kenapa adat seperti ini masi dipertahankan,jadi bagaimana dgn pernikahan campuran dimana laki-lakinya berasal dari padang dan perempuannnya non padang,apakah masih harus berlaku

    sekarang ini sudah banyak orang padang yg meninggalakan adat seperti ini karena dinilai terlalu material dan tidak sesuai dengan ajaran dari agama islam yang mengharuskan seorang lelaki yang melamar perempuan bukan sbaliknya,

    kenapa pihak laki-laki yang diuntungkan selalu,,dimana harga diri perempuan harus membeli seorang laki-laki dengan nilai fantastis sesuai derajat dia,apakah seseorang hanya dipandang berdasrkan derajat dia dimata manusia.

    padang sungguh MATRELINIAL,,matre hanya menilai seseorang dari kaya dan ada atau tidaknya uang serahan yang besar,sungguh tidak masuk akal,uang uang dan uang

    • Desember 5, 2012 pukul 8:01 am

      ini hanya aturan dasar..
      tidak ada kewajiban untuk mengikutinya..
      tapi kan dak ada salahnya juga kita sekedar tahu kalau inilah adat istiadat dalam perkawinan di ranah Minang Kabau..
      perlu di lestarikan..
      terima kasih udah berbagi uni..
      menambah pengetahuan saya tentang adat istiadat kito di Minang Kabau..

  4. 5 dumintamol
    Oktober 2, 2013 pukul 2:42 am

    mbak/ buk desi, uang jemputan jangan dianggap sebagai suatu “jual beli”
    uang jemputan tersebut mempunyai banyak makna antara lain salah satunya merupakan/ simbol penghargaan dari keluarga perempuan kepada keluarga pria karena anak kemenakannya (CPP) akan turun dari rumahnya dan menaiki rumah mempelai perempuan (menjadi bagian dari keluarga CPW) dengan kata lain sebagai ubek jariah dari orang tua/ mamak yang telah membesarkan anaknya (CPP) dan uang jemputan itu sendiri bukan menjadi tanggungan orang tua dari CPW sendiri, uang tersebut berasal dari hasil pengumpulan rapat ninik mamak sanak panakan “ringan samo dijinjiang barek samo dipikua”.terimakasih atas perhatian sanak semua.

  5. 6 adan
    Desember 7, 2013 pukul 3:36 am

    saya orang jawa mau menikahi seorang janda wanita padang, apakah persyaratannya nanti jg serumit itu ya..? apa bisa kiranya nanti keluarga cewek saya ajak nikah dgn adat jawa.. mohon jawabannya..

  6. Februari 15, 2014 pukul 2:36 pm

    kalau soal “laro” apakah smua warga padang mengetahuinya? krn di klwr saya ada yg bilang itu adlah “hitung2an ” calon mempelai pria dgn wanita, apakah dy cocok atau tdk, apakah memang ada atuaran ” laro” tersebut? dan bila memang hasilnya jelek dan tetap diteruskan , bisa ganti nama biar cocok, apa benar seperti itu??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 926,826 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: