22
Mei
08

SISTEM KEKELUARGA MATRILINIAL


Pengantar :
Artikel ini dikutip dari tulisan Buya H.Mas’oed Abidin, – yang ditulisnya di blog beliau, semoga dapat menjadi referensi bagi siapanpun yang ingin memahami eksistensi wanita dalam adat dan budaya minang serta kedudukan pria sebagai pemegang kendali kaum. Kaum adalah sekelompok masyarakat hukum adat yang seketurunan ibu hingga nenek dari nenek dalam garis lencang keatas. Wanita adalah penerus garis keturunan dan pria adalah penjaganya. Sehingga tidak ada yang perlu dikawatirkan terhadap timbulnya benturan antara adat dan agama, yang keduanya menjadi sendi kehidupan masyarakat Minang kabau. Untuk lebih memudahkan pemahaman dalam mengenal secara mendalam apa yang menjadi landasan ” Sistem kekeluargaan matrilineal “, itu maka kami memilahnya menjadi beberapa bagian pokok tanpa mengurangi isi dan kandungan Buya Mas`oud tersebut. Semoga artikel yang dirilis ini bermanfaar bagi kita yang selalu melestarikan adat dan budaya minang sepanjang masa. Sesuai dengan pepatah minang yang berbunyi ; adat yang indak lakang dek paneh dan indak lapuak dek hujan.
Sungguh luar biasa adat dan budaya Minangkabau ini. Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, waris dan sako-pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.
Menurut Muhammad Radjab (1969) sistem matrilineal mempunyai ciri-cirinya sebagai berikut;
1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku
5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan, sedangkan
6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-lakinya
7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Sistem kekerabatan ini tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang. Bahkan selalu disempurnakan sejalan dengan usaha menyempurnakan sistem adatnya. Terutama dalam mekanisme penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peranan seorang penghulu ataupun ninik mamak dalam kaitan bermamak berkemanakan sangatlah penting.
Bahkan peranan penghulu dan ninik mamak itu boleh dikatakan sebagai faktor penentu dan juga sebagai indikator, apakah mekanisme sistem matrilineal itu berjalan dengan semestinya atau tidak. Jadi keberadaan sistem ini tidak hanya terletak pada kedudukan dan peranan kaum perempuan saja, tetapi punya hubungkait yang sangat kuat dengan institusi ninik mamaknya di dalam sebuah kaum, suku atau klen. Sebagai sebuah sistem, matrilineal dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penafsiran oleh pelakunya; ninik-mamak, kaum perempuan dan anak kemenakan. Akan tetapi sebuah uraian atau perincian yang jelas dari pelaksanaan dari sistem ini, misalnya ketentuan-ketentuan yang pasti dan jelas tentang peranan seorang perempuan dan sanksi hukumnya kalau terjadi pelanggaran, ternyata sampai sekarang belum ada. Artinya tidak dijelaskan secara tegas tentang hukuman jika seorang Minang tidak menjalankan sistem matrilineal tersebut. Sistem itu hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun begitu, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri. Hal seperti dapat dianggap sebagai sebuah kekuatan sistem tersebut yang tetap terjaga sampai sekarang. Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang. Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.
Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak. Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan. Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.
Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan. Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan permainan” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya. Oleh karena itulah institusi ninik-mamak menjadi penting dan bahkan sakral bagi kemenakan dan sangat penting dalam menjaga hak dan kewajiban perempuan. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dengan segala plus minusnya. Keunggulan dari sistem ini adalah, dia tetap bertahan walau sistem patrilineal juga diperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain pula. Sistim matrilieal tidak hanya jadi sebuah “aturan” saja, tetapi telah menjadi semakin kuat menjadi suatu budaya, way of live, kecenderungan yang paling dalam diri dari setiap orang Minangkabau. Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri, yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh kepada anak-anaknya, mereka lebih condong untuk menyerahkannya kepada anak perempuannya. Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya. Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minang walaupun mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun. Sistem matrilineal tampaknya belum akan meluntur sama sekali, walau kondisi-kondisi sosial lainnya sudah banyak yang berubah. Untuk dapat menjalankan sistem itu dengan baik, maka mereka yang akan menjalankan sistem itu haruslah orang Minangkakabu itu sendiri. Untuk dapat menentukan seseorang itu orang Minangkabau atau tidak, ada beberapa ketentuannya, atau syarat-syarat seseorang dapat dikatakan sebagai orang Minangkabau.
Syarat-syarat seseorang dapat dikatakan orang Minangkabau;
1. Basuku (bamamak bakamanakan)
2. Barumah gadang
3. Basasok bajarami
4. Basawah baladang
5. Bapandan pakuburan
6. Batapian tampek mandi
Seseorang yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di dalam berkaum bernagari, dianggap “orang kurang” atau tidak sempurna. Bagi seseorang yang ingin menjadi orang Minang juga dibuka pintunya dengan memenuhi berbagai persyaratan pula. Dalam istilah inggok mancangkam tabang basitumpu. Artinya orang itu harus masuk ke dalam sebuah kaum atau suku, mengikuti seluruh aturan-aturannya. Ada empat aspek penting yang diatur dalam sistem matrilienal;

Iklan

10 Responses to “SISTEM KEKELUARGA MATRILINIAL”


  1. 1 stz
    November 24, 2008 pukul 7:22 am

    pada saat sekarang ini kehidupan sudah sangat modern, tetapi masyarakat Minangkabau masih tetap mematuhi adatnya.

    PEACE uuuuuuuntuk miNANg

  2. 2 ~padusi~
    November 29, 2008 pukul 1:03 pm

    insya Allah … masyarakat minangkabau tetap berjaya dengan adat dan budayanya…. Amiin ya rabbal alamiin. Terima kasih ya atas kunjunganmu ke blog bundokanduang ini.. Wassalam ~padusi~

  3. 3 Vasya
    Januari 22, 2009 pukul 2:56 pm

    Assalamualaikum

    sebelumnya saya mohon maaf …. seandainya pertanyaan saya ini mungkin pertanyaan biasa, namun sangat penting artinya bagi saya sebagai orang minang yg dilahirkan dan dibesarkan di luar Minang kabau, pertanyaan saya adalah : APAKAH KALAU SEORANG ANAK DILAHIRKAN DENGAN AYAH BERASAL DARI MINANG SEDANG IBUNYA BERASAL DR LUAR MINANG INI JUGA TERMASUK ORANG MINANG MENURUT ADAT MINANG KABAU ????

    WASSALAM

    TERIMA KASIH

  4. 4 ~padusi~
    Januari 23, 2009 pukul 3:23 am

    Wa alaikum salam Vasya,

    Menurut adat minangkabau yang menganut sistem matriarkal, maka seorang anak disebut anak minangkabau dengan mengambil garis keturunan ibunya – terutama dalam penentuan suku. artinya kita memiliki asal suku dari ibu kita.
    3. Per – suku – an ini kemudian berkelompok dalam suatu ” KAUM” yang dipimpin oleh seorang Datuk – untuk wilayah darek, seorang penghulu – untuk wilayah pesisir. Bisa juga kaum itu di koordinasikan oleh seorang Mamak Kepala Waris seperti yang berlaku di Kota Padang.(Ini kalau tidak salah lho.
    4. Bagi anak orang minangkabau – maka ia dapat juga dimasukkan dalam suatu KAUM di keluarganya (ayah) dengan cara di lakok kan atau Malakok. Sehingga ia pun akan menjadi anak dalam kaum itu dan diberi suku segala.
    Hal ini bisa saja kan … bahwa KAUM itu adalah kelompok ” Bako”nya – yaitu seluruh kerabat ayahnya.
    5. Dalam rangka ABS – SBK yang sedang hangat dibahas saat ini, disepakati bahwa dalam pengambilan garis keturunan itu adalah :Anak bersuku kepada Ibu dan bernasab kepada ayah – sehingga bagaimanapun ia tetap berstatus ‘ orang Minangkabau”.

    Jadi berdasarkan hal itu – tidak ada yang perlu diragukan anak yang dilahirkan dari ibu yang bukan padusi minang – tetaplah orang Minangkabau.

    Terima kasih Vasya atas kunjunganmu ka blog ini.

    Wassalam,

    ~padusi~

  5. 5 vasya
    Januari 23, 2009 pukul 9:22 am

    Assalamualaikum

    Terima ksaih atas jawaban yg pengasuh berikan kpd kami, jujur saja saya memang tidak dibesarkan di kampuang jadi kami ( adik beradik 7 orang ) smuanya lahir dan dibesarkan dirantau jadi memang gak tau sama sekali ttg adat istiadat di minang kabau, apalagi kami hanya membaca dan mendengar orang2 bercerita ttg adat, namun demikian sebagai orang minang asli saya secara pribadi ingin juga mengetahui ttg adat istiadat minang kabau, terima kasih sekali untuk respon dari pengasuh PADUSI ttg hal ini, ada bbrp hal yg sangat mengganjal dlm hati saya selama ini ttg adat minang kabau, terutama yg saya tanyakan sebelumnya, karena pernah terjadi pada kel kami ttg itu, krn ingin kawin dengan PADUSI dr luar minang kabau maka terjadi sedikit perdebatan, ttg suku dsb nya bahkan sempat terlontar oleh niniak mamak mangatu kawin jo urang indak basuku ????? dan ada lagi terjadi temen dekat saya krn kawin dgn org luar minang, malah anaknya tidak diakui sebagai orang minang kabau !!!! tapi hanya diakui sebagai anaknya ORANG MINAG, nah ini sangat membuat resah hati kami yg dibesarkan dan dilahirkan dirantau, bahkan terlintas dalam benak saya bahwa BUNG HATTA itupun bukan orang minang ???!!! karena BUNDA BELIAU bukanlah berasal dari minang kabau !! dan kenapa orang2 minang mengaku Beliau orang Minang ??? sedangkan MENURUT ADAT MINANG KABAU yg menganut system Matriakat garis keturunan itu diambil dr garis keturunan Ibu, kalau pun dilakok kan itu berarti bukan orang MINAG ASLI bukan ???? banyak tulisan2 ttg BUNG HATTA yg saya baca tp belum pernah saya membaca penjelasan ttg dari mana asal BUNDA Beliau !! dan dari 50 temen2 saya yg berasal dr minang kabau hanya 1 org yg tau ttg masalah ini, silahkan pengasuh padusi mencoba bertanya kpd bbrp pemuda minang ttg ini apakah mereka tau ?? bahkan awalnya saya mengiran ini adalah kebohongan publik untuk org2 minang kabau dan kenapa kita2 hrs bangga dgn melakukan kebohongan ??, setelah saya menulis di bbrp web minang ttg masalah ini baru saya sedikit merasa puas dgn bbrp jawaban yg sama, namun masih ada ganjalan dihati kenapa niniak mamak, cadiak pandai tidak pernah mengulas ttg posisi BUNG HATTA di minang kabau ?? sehingga akan lebih banyak pemuda minang yg tahu masalah yg sebenarnya ttg BUNG HATTA, menurut Agama saya mengakui bahwa BUNG HATTA adalah orang minang asli, namun menurut adat masih ada keraguan yg besar dlm hati saya ???? kalaupun beliau diakui sebagai orang minang itu adalah ASPAL !!! mohon penjelasan Uda2 & Uni2 pengasuh PADUSI agar tidak ada lagi keragu raguan ttg BUNG HATTA ini dalam hati saya ,,,,

    Akhir kata terima kasih yg sebesar besarnya atas smua jawaban yg khusus diberikan buat saya yg tdk mengerti adat istiadat minang kabau selama ini, moga2 dgn sering2nya saya bergabung di web minang ini dan lainnya akan menambah wawasan saya ttg adat minang kabau.

    Wassalam

    Vasya Rasyidin

  6. 6 ~padusi~
    Januari 24, 2009 pukul 5:22 am

    Add Vasya yang baik,

    Alhamdulillah padusi senang berdiskusi dengan Add Vasya, karena kritis dan teliti.
    Sebagai orang minangkabau kita tidak boleh rigid terhadap apa yang menjadi ketentuan adat kita. Adat istiadat kita harus siap menerima reformasi yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Seperti penarikan garis keturunan dimana telah ditentukan saat ini, yaitu :
    – anak mengambil suku ibu dan bernasab kepada ayah.
    – bagi yang tidak punya suku ia dilakokkan kepada suku kaumnya,
    – demikian juga harta pusaka tinggi dianggap sebagai harta wakaf.
    – tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran islam harus dikikis habis.

    Seseorang menjadi orang minang asli atau tidaknya bukan karena beribukan minang, melainkan karena ia berayahkan minang, dengan menunjukkan sikap-sikap sebagai orang minang yaitu : Islam, beradat dan berbudaya minang.

    Padusi mengundang Vasya untuk bergabung dalam milist padusi minang di Bundokanduang@yahoogroups.com. Insya Allah kita berdiskusi di sana.

    Wassalam,

  7. 7 vasya
    Januari 26, 2009 pukul 3:13 pm

    Uni ….

    makasih banget infonya Uni … saya udah gabung di milinglist Bundo Kanduang
    sebenarnya saya ingin bertanya saja Ni, krn saya memang bener2 gak tau ttg adat Minang … mungkin bs jadi perbandingan untuk saya dan anak2 saya kelak, krn walau bgmnpun saya harus memberikan pembelajaran untuk generasi penerus saya nanti.
    krn klo diskusi itu saya tahu ttg Adat minang tapi nyatanya saya gak tau apa2 Uni …..
    jadi saya hanya ingin bertanya dan mungkin nanti pertanyaan saya itu rada2 nyeleneh mohon dimaafkan Ni …. krn selama ini mamak rumah saya gak bisa jadi panutan bagi kami, jadi krn mamak yg salah terbawa smua termasuk adat minang yg kadang banyak hal2 yg berlawanandengan cara berpikir kami yg dilahirkan dan dibesarkan dirantau.
    untung kami ditanamkan dari ortu gak ada kata BAKO, dan kami tau bako itu setelah dewasa bahwa kel dr Ayah adalah BAKO, kami hanya ditanamkan bahwa siapapun dunsanak yg dr pihak Ayah atau Bunda kami adalah sodara !!!
    pernah saya dengar begini Uni : CUCU DIRUMAH URANG …. nah ini bener2 secara pribadi saya tidak setuju dan kata2 itu sampe sekarang masih ada di kampung kita, saya melihat dikampung ( meskipun 5 thn sekali saya pulang kampung ) hubungan BAKO terasa sangat jauh klo kita tinggal dikampung, sedangkan kamirasanya lebih deket sama kel Ayah ketimbang kel Bunda kami, kenapa ??? ya itu tadi Ni, banyak sekali tindakan2 mamak rumah kami yg tidak sesuai dengan cara berpikir kami anak rantau ( maaf ya Ni bukan bangga krn kami anak rantau ) krn kami menilai adat itu neterlux atau street atau lurus2 aja, apalagi bbrp waktu lalu saya plg ke kampg ternyata saya melihat dengan mata kepala saya sendiri ; HUBUNGAN KELUARGA, ADIK BERADIK BISA PUTUS KARENA MEMPEREBUTKAN HARTA, PADAHAL HARTA ITU MILIK ORANG YG BERADA DIRANTAU KAN SEDIH SEKALI NI ” maka dr itu saya coba bertanya tanya disini, moga2 saya mdapat kebenaran dari pengasuh2 yg mungkin lebih bijak dan arif dalam menjawab pertanyaan2 saya.

    Akhir kata terima kasih yg sebesar besarnya atas kebaikan Uni dan pengasuh2 yg lain, dan dapat menimbulkan rasa untuk melihat kampung halaman saya dimasa mendatang

    Wassalam

  8. 8 ali
    Maret 12, 2009 pukul 8:34 am

    saya juga bingung,dalam keluarga kami ada darah minang,salah satu kerabatkami menikah dengan orang minang asli,saya cukup kenal denganya,dari sikap dan perilakunya dalam benak saya itu mungkin gambaran orang minang sejatinya ( sifatnya memangang tidak baik )
    dan saya ambil perbandingan dengan orang minang yg lain masih famili saya sifat tidak jauh beda : 1.kikir,tdk tegas ,suka berbelit2,bila ada hal yg salah dia akan membenarkanya sesui keinginanya,bahkan dalam hal agama mis:1.haji sampai 4 kali,sedangkan saudara dan anaknya sendiri masih banyak yg hidup susah,bukankan lebih baik membantu yg susah dari pada haji yg 2,3 dan 4
    siapakah sebenarnya bunda kandung ini ????
    Bila garis turunan dari ibu,mengapa anak dari laki2 Minang dengan istri non minang juga disebut Orang Minang,Bukan kah ini juga sikap tidak tegas Maaf ( Munafiq )
    Bukan kan islam juga mengajarkan Bahwa garis keturunan dari bapak Mis ali bin abu
    tidak penah Ali binti ibu
    Bila Dalam kehidupan Minang adat basanding Sara dan sebaliknya ( berarti orang Minang yg menerapkan Faham Sekuler Di Nusantara )Bila memang sudah Menerima Islam dengan Kaffah,yah yang tidak sejalan dengan syara kikis abis aja
    Maaf jangan Marah karena dalam darah saya juga mengalir darh minag (tapi tdk pernah saya menyebut diri saya orang minang)karena memang Matrilineal
    Ini hanya saran mohon maaf terlebih dahulu

  9. 9 ~padusi~
    Maret 13, 2009 pukul 6:41 am

    Nanda Ali yang dirahmati Allah, SWT.

    Sangat wajar apa yang menjadi curahan ananda. Hal ini disebabkan oleh :
    1. Ada gambaran yang tidak baik dikeluarga Ananda tentang bagaimana bersikap dan berprilaku yang menyebabkan ananda trauma melihat. Bagi saya hal ini adalah yang manusiawi. Di etnis manapun hal-hal yang manusiawi selalu terjadi. Bisa juga dikalangan muslim sendiri.

    2. Tak kenal maka tak sayang. Maksudnya dalam menghayati filosophi keminangkabau tidak bisa dipelajari sepotong – sepotong. Carilah informasi sebanyak mungkin. Didalam blog ini juga banyak. Ada filsafat alam dimana ” alam takambang jadi guru ” yang menjadi landasan bagi orang minangkabau dalam beradat dan berbudaya.

    3. Tidak benar Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah berpaham sekuler. Karena ABS – SBK ini – justru sebagai upaya mereformasi adat dan budaya yang tidak sesuai dengan ajaran islam, yang terkait dengan masalah : garis keturunan, sistem pewarisan, harta pusaka.

    4. Jika kita bisa memahami bagaimana filosofi orang minangkabau dalam berkeluarga dan bermasyarakat – saya yakin Anandalah generasi yang kelak kemudian akan melestarikan adat minangkabau itu.

    5. Tahukah ananda – kedirian minangkabau itu terletak pada ciri Islam dan Adatnya.

    Jika jawaban ini tidak memuaskan ananda, maka bertanyalah pada kedua orangtuamu. Saya yakin mereka yang akan menunjuk ajari ananda bagaimanakah orang minangkabau sekarang, yaitu :
    anak bersuku ke Ibu (garis matrilinial) dan bernasab kepada ayah ( patrilinial / islam).

    Wassalam,

    ” padusi “

  10. 10 Amrin
    Juni 24, 2009 pukul 5:07 pm

    Teduh rasanya hati membaca tanggapan Uni (Padusi) yang menyejukkan.. seakan menyiram bara api emosi dalam pertanyaan sanak Ali..
    Terima Kasih Uni dan Blog nya…
    membuat saya yang di rantau (jauh dari Indonesia) mengerti arti ke-minang-an yang mengalir dalam darah saya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,934 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: