05
Agu
08

Menjadi Pria Idaman


Oleh : Hifni Hfd

Wanita, adalah insan yang juga mempunyai hak menilai dan mengamati tingka laku pria karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu selayaknyanya kaum pria tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata kaumnya. Contohnya, ketika kedudukan wanita minang yang mendapat tempat dihadapan adat dan budaya – seringkali ia memperoleh perlakuan yang jauh dari harapannya. Tidak semua pria menyadari bahwa padusi – lebih-lebih isteri adalah sahabat terdekat. Sahabat didalam keluarga intinya dan sahabat dikaumnya. Pada adat dan budaya Minangkabau, walau terkadang kedudukan seorang suami berada di luar keluarga isterinya, namun adat dan budaya telah menempatkan dan memposisikan dirinya sebagai semenda yang dijaga hatinya – Bak menating air didulang.
Didalam agama, suami menuntun istiri, tidak saja di dunia melainkan membawanya sampai di kealam surga. Karena itulah dalam rangka menuju pembentukan kepribadian menuju masyarakat yang dicita-citakan dan bermartabat, selayaknya kaum priapun memiliki sifat-sifat yang terpuji, dimana ia akan menjadi tiang harapan dan cita-cita dalam pembinaan keluarga. Target dalam meningkatkan peran padusi minang dalam pembentukan kepribadian anak dan generasi muda tentu harus didukung pula oleh kaum prianya. Berikut ini , sifat yang secara umum menjadi idaman kaum wanita pada umumnya . Semoga bermanfaat.

Pertama ; Memilik Visi Kehidupan

Visi, diartikan sebagai sasaran dan target yang semestinya dicapai didalam menjalankan roda kehidupan, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Setiap kaum wanita merindukan pria yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia.
Dalam pembukaan surah An Nisa ayat 1 Allah Swt berfirman:
”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang
telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah
selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.
Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa sering kaum lelaki atau para suami yang lebih senang duduk di palanta atau lapau. Istri dan anak-anak sudah tidak dianggap penting. Ma ota lamak… sambil menghirup bercangkir-cangkir kopi dan menghisap beberapa batang rokok. Ketika mengiringi ota (obrolan), juga ada dengan saluang bunian nan mendayu-dayu.
Sebalik pada lapisan tertentu, adapula seakan bersikap bahwa anak dan isteri tidaklah menjadi tanggung jawabnya. Semua sudah dibereskan oleh keluarga isteri dan ninik mamak dikeluarga isteri. Karena ia adalah bagaikan tamu dirumah isterinya, maka jadilah ia sebagai semenda yang tidak punya cita-cita – bagaimana membangun rumah tangga sejatinya.

Kedua; Lembut dan Melindungi
Dalam sebuah riwayat dikatakan, bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat padusi tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. Menjelaskan, bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki, maka tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya.
Bertitik tolak dari riwayat ini, dapat kita cerna bahwa kaum padusi mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut.
” Wa aasyiruuhunna bil ma ruuf – Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik ( An Nisa: 19). Perhatikanlah ayat itu, yang menggambarkan bahwa sikap seorang suami
yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan
melindungi istri.
Banyak para suami (terjadi pula pada pria minang), yang menganggap istri (dikebanyakan padusi minang) – sebagai sapi perahan. Bukankah, sebahagian diantara mereka (pria) – padusi memiliki harta pusaka yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupan rumah tangganya. Jika terjadi konflik diantara mereka, kemungkinan akan terjadi pula tindakan kasar ini.

Ketiga, Rendah Hati
Lawan dengan sikap rendah hati adalah kesombongan. Berbeda pula dengan rendah diri, yaitu suatu sifat tidak percaya diri. Under confidendial.
Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya.
” Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34).
Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak prerogatif Allah.
Hadis Qurdsi: Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan kedalam neraka. Sombong disini, diartikan menyamakan dirinya dengan kekuasaan Allah. Seperti yang digambarkan pada prilaku Raja Fir’aun.
Kesombongan sangat jauh dan bertentangan dengan kelembutan. Padusi diciptakan sebagai mahluk yang lembut. Ia dikendalikan oleh perasaannya., sedangkan pria dikendalikan oleh akal. Keunggulan pria adalah penggunaan akal sehat, yang berdampingan dengan bahasa hati padusi. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.
Tidak sedikit – pria minang bersifat ongeh. Sifat ini adalah ekses dari falsafah alam mengenai harga diri , yang mengatakan :
“Ingin mulia bertabur urai. Ingin ternama dirikan kemenangan. Ingin pintar rajin berguru. Ingin kaya kuat berusaha”.
Akibatnya nilai yang dicapai pada persaingan itu adalah melawan dunia orang. Sayangnya dalam keseharian, sering terjadi pria minang menafsirkan wujud dari harga diri itu berupa kesombongan, yaitu merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa orang yang telah membangun dan membangkitkan jatidirinya. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan, arahan dan sarang orang lain, termasuk sang istri/padusi. Sungguh banyak pria minang yang ditinggalkan orang untuk diajak berunding, karena prilaku sombong ini. Seketika itu ia menjadi ” sidaun salam yang terbuang disaat makanan dihidangkan dan disantap.

Keempat: Terbuka
Hal yang terpenting dalam sebuah rumah tangga adalah keterbukaan. Terbuka dalam penghasilan, terbuka dalam semua urusan. Dikebanyakan rumah tangga, penghasilan adalah sebuah nilai yang diperlukan dalam pengelolaan rumah tangga. Pada sistem kekerabatan Minangkabau, menciptakan kehidupan berkeluarga diperlukan silatuhami.
Ada beban dan tanggung jawab yang dipikul oleh seorang pria Minang. Yaitu kewajiban membiayai rumah tangga serta kewajiban mengayomi kemenakannya. Dalam pelaksanaannya, mau tidak mau, pria dituntut berterus terang mengenai penghasilannya. Mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap menyembunyikan penghasilan sungguh sangat tidak disukai kaum padusi. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Teguh dalam pendirian
Setiap padusi sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah
satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa (An Nisa :34).

Keenam, Jujur
Ada beberapa kejadian, ketika istri/padusi tersiksa karena sang suami tidak jujur. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang goyang karena ketidak jujuran para suami. Kejujuran adalah sikap yang dirahmati Allah Bahkan sikap jujur adalah sikap orang-orang yang beriman.

Ketujuh, Tegar

Para kaum padusi ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Suami yang cengeng cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Selalu ingin dilayani. Suami yang tidak mau berusaha dan berupaya menghidupi anak isterinya, ia dianggap bagaikan ” urang sumando lapiek buruak. Lebih sekedar buruk rupa karena sesungguhnya ia pria tidak berguna. Sesungguhnya perempuan mana yang tidak menginginkan biduk rumah tangga dikendalikan oleh seorang suami yang mampu mengendalikan biduk dan kapal disaat ada ombank datang menerjang. Jadi persiapkanlah diri agar senantiasa menjadi nakhoda kapal rumah tangganya.

Kedelapan, Rajin

Rajin telah membuat seseorang menjadi produktif. Di Sumatera Barat, begitu banyak sumber daya yang terbuka karena produktivitas kaum pria minang. Profesi yang berkembang secara alami adalah berdagang, bertani, dan menjadi pengrajin, dll. Jangan sampai malas..!! Karena kemalasan sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat mendambakan seorang suami yang rajin. Yang mampu menggali potensi dan sumber kehidupan untuk menghidupi rumah tangganya dan rumah kerabatnya. Ingat..! peran lelaki minang itu ganda, yaitu memangku anak dan membimbing kemenakannya.

Kesepuluh, Sayang Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Seorang ayah harus menentukan jalan hidup sang anak. Ia adalah busur dari suatu anak panah. Kemana ia akan membidikkan anaknya, tergantung pada sang busur, yaitu pria yang bertindak selaku ayah yang sayang pada anaknya.

Kesebelas, Penuh Perhatian

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Apabila ada keluhan dari pihak isteri atau saudara perempuan sekalipun, dengarkanlah dengan penuh perhatian. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri.
Bukankah hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan wanita, karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan.
Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Rapi dan Harum

Wanita mana yang tidak senang, ketika melihat suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. kerapian dan kebersihan adalah bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak.

Catatan padusi : bagaimana menurut Anda, setujukah pendapat ini….

Iklan

0 Responses to “Menjadi Pria Idaman”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,001,880 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: