01
Apr
09

Ranji ABS – SBK : `Adat Bersendi Syara’ –Syara’ Bersendi Kitabullah`


Oleh : Hifni H. Nizhamul

Apakah yang dimaksud Ranji ? Ranji menguraikan silsilah keturunan dari atas, baik dari  ayah maupun ibu. Jika ia semata mengambil silsilah ayah semata maka disebut silsilah patrilinia. Bila ditarik dari garis ibu – disebut garis matrilinial.

Berkenaan dengan penegakkan ABS – SBK, barangkali Ranji ABS – SBK ini wajib diketahui oleh para generasi muda minangkabau. Tidak saja generasi muda – barangkali para orang tua yang besar di Rantau akan bertanya seputar ranji ini  – apa manfaatnya dan seberapa pentingkah sebuah ranji dalam system kekerabatan di minangkabau berdasarkan Adat Bersendi Syara’ – Syara’ Bersendi Kitabullah.

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa Ranji adalah silsilah garis keturunan yang menguraikan asal muasal keturunan itu dari garis lencang keatas hingga kebawah – semenjak nenek moyang si pemiliki ranji hingga anak cucunya,  maka secara internasional telah ada software yang dapat merangkum garis keturunan seseorang itu yang  disebut dengn “ Family Tree Maker.

Di Minangkabau – sebuah ranji menjadi begitu penting, ketika ia diperlukan untuk membantu penyelesaian masalah – masalah seputar : sako dan pusako, serta tali waris adat.  Ranji bermanfaat bagi penyelesaian kasus dan sengketa adat. Tidak jarang Ranji ini disimpan sebagai benda pusaka. Bahkan dalam satu garis kekerabatan yang lebih luas, Ranji akan menguraikan garis keturunan sa mande – sa paruik – sa jurai – sa kaum. Dalam kelompok yang terkecil kehidupan kekerabatan dipimpin oleh Tungganai – hingga pada kelompok Kaum dipimpin oleh Penghulu Andiko.

Orang Minangkabu akan memelihara asal usulnya berdasarkan Ranji. Jika tidak – mereka bisa dikatakan tidak berkaum. Lebih – lebih bagi penduduk di pesisir pantai – mereka kawatir dikatakan sebagai ” Urang Nieh ” jika mereka tidak bisa menunjukkan asal – usulnya sebagaimana yang diuraikan oleh sebuah Ranji. Dalam hal kemanfaatan Ranji tersebut, maka telah ada kesepahaman di alam Minangkabau, bahwa pusaka tinggi diwariskan sacara adat, ssementara pusako randah (harta pancarian) diwariskan sacara agama. Bahkan tata cara pewarisan demikian telah manjadi Yurisprudensi di Pengadilan Negeri sampai ka Mahkamah Agung.

Apakah yang dimaksud Ranji AB – SBK ?

ABS – SBK adalah singkatan dari Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi kitabullah. Adanya perubahan norma yang berlaku dalam adat minangkabau yang harus berlandaskan syariah islam ini, membawa suatu transformasi nilai-nilai yang harus mengenyampingkan hukum adat yang tidak sesuai hukum syariah islam.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ranji ABS-SBK bertujuan mangukuhkan yang sudah ada dan mempererat yang longgar dimana garis katurunan bertali adat menjadi jembatan pewarisan pusaka tinggi, sementara garis keturunan bertali nasab (ayah) merupakan jembatan pewarisan pusaka randah. Disnilah Ranji ABS-SBK berlaku ibarat memulangkan sirih ke gagangnya serta memulangkan pinang pada tampuaknya.

Sementara itu, yang terpenting didalam pelaksanaan ABS – SBK adalah memberikan pemahaman kapado seluruh anak kemanakan dan anak NAGARI bahwa pemahaman ranji ABS-SBK ini bukanlah untuk mempertentangkan pewarisan pusako tinggi dan pusako randah. Menurut istilah hukumnya Yurisdiksinya masing-masing telah ada. Jika terjadi salah pemahaman, maka disinilah letaknya perselisihan – karena Ranji ABS SBK dipahami secara sepihak.

Ranji ABS – SBK perlu disosialisasikan kepada masyarakat. Direntang panjang dan dihamparkan secara luas ditingkat lembaga formal seperti KAN – LKAM – Sekolah-sekolah serta secara informal melalui jalur jalur non kelembagaan semisal jaringan internet ; portal, situs, web blog dan website. Sehingga adanya sosialisai apa yang dipolakan dalam ranji AB SBK itu akan menjadi pemahaman masyarakat bersama.

Ranji ABS – SBK,  tidak saja ingin mengukuhkan syariah Islam dalam penentuan silsilah keturunan dan system pewarisan, akan tetapi juga untuk mempertahankan harta pusaka tinggi dalam kasus-kasus kepunahan. Seperti yang terlihat dari beberapa Yurisprudensi mengenai Punah dan hubungannya dengan pewarisan, menurut Yurisprudensi Perdata Adat Minangkabau adalah :

1. Suatu kaum dianggap punah apabila tidak ada lagi mempunyai ahli waris laki-laki dan perempuan menurut adat. (Putusan P.T. Bukittinggi tanggal 6 Mei 1968 No. 116/1967 PT BT. Putusan Mahkamah Agung tanggal 13 Agustus 1969 No. 359 K/Sip/1969).

2. Menurut Hukum Adat Minangkabau yang dikatakan punah ialah jika seseorang tidak dapat ditunjukkan/tidak dapat diingat lagi masih ada hubungan darah. (Putusan PT. Bukittinggi tanggal 27 Mei 1968 No. 293/1967 PT BT. Putusan Mahkamah Agung tanggal 14 November 1970 No. 493 K/Sip/1970).

3. Punah berbeda dengan putus ahli waris, karena menurut Hukum Adat  Minangkabau, ahli waris selalu ada menurut tingkatnya yaitu ahli waris bertali darah, bertali adat, nan sejari, nan setampok, nan sejengkal, nan sehasta dan lain-lain. (Putusan PT Bukittinggi tanggal 27 Mei 1968 No. 293/1967 PT BT. Putusan Mahkamah Agung Tanggal 14 November 1970 No. 493 K/Sip/1970).

4. Kenyataan-kenyataan serta perbuatan seseorang terhadap seseorang yang telah punah berupa pengurusan diwaktu sakit, menyelesaikan diwaktu meninggalnya serta membawakan adat berbako terhadap keluarga yang punah dan mengikutsertakan orang yang punah tersebut dalam transaksi-transaksi yang dilakukannya maka kenyaataan-kenyataan tersebut dapat dinilai sebagai adanya hubungan antara seseorang tersebut dengan orang yang punah sebagai kemenakan bertali adat. (Putusan PT Padang tanggal 22 Maret 1972 No. 115/1969 PT PDG. Putusan MA Tanggal 25 November 1975 No. 235 K/Sip/1975).

Kesimpulan dari beberapa Yurisprodensi adalah :

– Adat minangkabau mengenal tingkatan ahli waris sebagai berikut :

a. yang bertali darah, yaitu pewarisan berdasarkan hukum islam

b. yang bertali adat, yaitu pewarisan berdasarkan adat matrilinial,

c. yang setampok, yaitu kerabat terdekat karena sakaum.

d. yang sejengkal, yaitu kerabat terdekat karena sapasukuan

– Tidak ada yang perlu dikawatirkan apabila masyarakat minangkabau mulai menerapkan ranji ABS SBK ini didalam kehidupan berkeluarga sesuai dengan uraian yang tersebut diatas.

Nara sumber : Andiko ST. Mancayo, Anak Nagari Sungai Tarab, Jakarta-Batam

Iklan

1 Response to “Ranji ABS – SBK : `Adat Bersendi Syara’ –Syara’ Bersendi Kitabullah`”


  1. 1 rose
    Agustus 18, 2010 pukul 5:05 am

    susah nak tahu sejarah salasilah keluarga…saya mempunyai susur keluarga dari kerabat minangkabau dan juga memegamg ranji yang bersusur galur dengan putri reno bulan, cinta kaya dan nan baluqih serta beberapa org dato’…agak susah untuk mengetahui sejarah …:(


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,195 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: