20
Apr
09

Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia


Resensi Oleh : SURYADI Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB|HARIAN KOMPAS

• Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” •

Penulis: Jeffrey Hadler •

Penerbit: Cornell University Press, Ithaca, London, 2008 •

Tebal: xii + 211 halaman.

Buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini.

Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan dari garis bapak. Ini berbeda dari temuan arkeologis dan sumber tradisi lisan kuno yang masyarakatnya kebanyakan menganut sistem matriarkat (nasab ibu) yang menempatkan kekuasaan di tangan kaum perempuan dan menarik hubungan keturunan dari garis ibu. Kini satu-satunya kelompok masyarakat matriarkal beragama Islam terbesar di dunia yang masih tersisa adalah etnis Minangkabau. Seperti para peneliti lain, di antaranya PE de Josselin de Jong, Franz von Benda-Beckmann, Christine Dobbin, Elizabeth E Graves, Joel S Kahn, Tsuyoshi Kato, Jane A Drakard, Evelyn Blackwood, Joke van Reenen, Peggy Reeves Sanday, dan Marcell Vellinga, Jeffrey juga sangat tertarik kepada sistem kekeluargaan (kinship) masyarakat Minangkabau yang unik dan khas: mereka menganut sistem matriarkat sekaligus memeluk agama Islam yang patriarkal.

Banyak kajian ilmiah yang telah dibuat mengenai dampak sosial dan psikologis penggabungan kedua sistem yang memiliki prinsip dasar bertentangan itu dalam kebudayaan Minangkabau. HHB Saanin Dt Tan Pariaman dalam Kepribadian Orang Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) menyebut istilah ”keduaan” (split personality) untuk menggambarkan kepribadian Minangkabau yang menurut dia potensial menimbulkan penyakit jiwa tertentu, mulai dari rasa cemas sampai skizofrenia akibat berbagai paradoks yang dihadapi dan dipraktikkan orang Minangkabau. Mochtar Naim (1979) menunjukkan, dialektika antara sistem matriarkat dan Islam menjadi salah satu faktor pendorong munculnya budaya merantau yang kuat di kalangan orang Minangkabau.

Jeffrey menganalisis bagaimana sistem matriarkat Minangkabau mampu melakukan resistensi terhadap serangan dua ideologi asing pada abad ke-19 dan ke-20: Islam dan kolonialisme (Belanda). Di tempat lain di dunia, sistem matriarkat punah karena serbuan berbagai ideologi dari luar dan pernah diramalkan akan terjadi juga di Minangkabau. Ternyata, sebaliknyalah yang terjadi: sistem matriarkat Minangkabau mampu bertahan. Jeffrey bertanya, Why does matriarchy persists?—has been dodged by scores of researchers who have been lured to Minangkabau by the seeming paradox of a matrilineal Muslim society (hal 8).

Alih-alih melakukan studi kasus seperti dilakukan banyak peneliti lain (misalnya Kato 1982; Reenen 1996; dan Sanday 2002), Jeffrey menjawab pertanyaan di atas dengan membandingkan dinamika dan transformasi kebudayaan etnis Minangkabau dan masyarakat matriarkal lain yang juga pernah dikolonisasi Barat, khususnya Negeri Sembilan di Malaysia dan orang Kerala di India.

Konsep rumah dan keluarga Jeffrey membongkar fakta di balik kolonialisme dan nasionalisme dengan memfokuskan pada tema kultural: perubahan konseptualisasi rumah (house) dan keluarga (family); gagasan modernitas yang berhubungan dengan budaya Minangkabau sendiri, agama Islam, dan kebudayaan Eropa; serta persaingan antara kekuasaan dan pendidikan. Dia menggunakan banyak sumber lokal: surat kabar, majalah, buku pelajaran, novel, pamflet, dan tumpukan teks schoolschriften peninggalan mantan siswa Sekolah Radja di Fort de Kock (Bukittinggi) koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden yang jarang dimanfaatkan peneliti lain.

Bab 1 (”Contention Unending”) membahas sejarah ringkas Perang Paderi (1803-1837), yaitu usaha panglima Paderi yang kontroversial Tuanku Imam Bonjol (TIB) menggantikan sistem matriarkat di Minangkabau dengan model masyarakat Islam yang ketat merujuk pada Al Quran dan hadis. TIB berusaha mencari kompromi antara adat Minangkabau dan hukum Islam yang kemudian dikenal sebagai doktrin adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Keputusannya itu membentuk debat berterusan di Minangkabau sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Belanda keluar sebagai pemenang dan menggabungkan Sumatera Barat ke dalam Hindia Belanda.

Bab 2-4 menguraikan perdebatan bentuk fisik rumah, konsep keluarga, dan pendidikan untuk anak-anak. Sepanjang abad ke-19 Minangkabau mengalami transformasi dari masyarakat agraris tradisional yang menempatkan perempuan sebagai pengontrol institusi rumah dan sawah (oleh karenanya mereka memiliki kekuasaan besar) ke masyarakat kolonial tempat negara partiarkal memberi otoritas kepada lelaki untuk berkuasa.

Pemerintahan kolonial memaksakan kekuasaan patriarkal kepada masyarakat Minangkabau. Perempuan Minangkabau dipaksa mengikuti tradisi yang sekarang justru digunakan menentang kuasa mereka sendiri, ”mengikat” mereka di rumah gadang, membatasi akses meraih berbagai peluang baru, dan membatasi ruang gerak mereka.

Bab 5 (”Intimate Contention”) menganalisis berbagai gagasan moral dan peran perempuan Minangkabau awal abad ke-20 ketika kata pergerakan menjadi tren dan partisipasi politik orang Minangkabau meluas di kancah lokal maupun nasional, tetapi sedikit konsensus yang diperoleh. Petisi wanita Koto Gadang untuk bebas memilih jodoh (Mei 1924) adalah contoh derasnya transformasi sosial di Sumatera Barat pada awal abad ke-20.

Bab 6 (”Earthquake”) dan Bab 7 (”Families in Motion”) membahas politisasi budaya Minangkabau dalam dekade 1910-an dan 1920-an, masa ketika kontroversi publik mengenai matriarkat, ideologi Islam reformis, dan gagasan mengenai kemajuan mewarnai dunia pergerakan dan masyarakat Minangkabau. Perempuan Minangkabau pun terseret ke dalam gerakan yang disulut benturan ketiga ideologi itu. Mereka terjun ke dunia jurnalisme dan politik, berenggang dengan tradisi karena ikut ambil bagian dalam budaya migrasi kaum lelaki ke rantau, meninggalkan (dunia) rumah gadang yang menjadi simbol kuasa nasab ibu.

Dalam kesimpulan akhir (”Victorious Buffalo: Resilient Matriarchate”) Jeffrey menulis, konflik dan interaksi antara sistem matriarkat, Islam reformis, dan negara kolonial telah membuat elemen paling esensial dalam kebudayaan Minangkabau mengalami destabilisasi, menyebabkan orang Minangkabau merasa kampung halaman sendiri bukan lagi tempat ”aman”. Kontribusi yang tidak sepadan dibandingkan jumlah mereka yang kecil yang telah diberikan etnis Minangkabau kepada politik nasional Indonesia adalah akibat langsung destabilisasi itu (hal 180).

Pengalaman sejarah telah menempa hidup orang Minangkabau dalam dialektika kritis antara nilai adat, ide Islam reformis, dan gagasan pembaruan Barat. Berkaca pada konflik berdarah selama Perang Paderi dalam menghadapi ketiga ideologi yang bertentangan itu, masyarakat Minangkabau lebih sering menempuh jalur kompromi ketimbang memilih konflik berdarah lagi.

Dalam paragraf terakhir, Jeffrey menulis: ”The history of West Sumatran politics is of recurring defeat. But the story of Minangkabau culture is one of survival” (hal 180). Agaknya kata-kata Jeffrey itu tidaklah berlebihan. Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit Geesteswetenschappen, Universiteit Leiden, Belanda

Iklan

5 Responses to “Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia”


  1. 1 ~padusi~
    April 21, 2009 pukul 7:07 am

    Assalamualaikum Wr. Wb

    Sanak Suryadi serta dusanak sapalanta nan ambo hormati

    Setelah membaca resensi Sanak atas tulisan Jeffrey Hadler, dalam judul buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism”, jika sekiranya berkenan – saya ingin menanggapi hal-hal sebagai berikut :

    1. Pada kenyataannya Minangkabau secara politis – memang berada dalam keter- ombang – ambingan, semenjak suku bangsa ini diobok – obok melalui kolonialisme yang mencapai puncaknya pada saat Perang Paderi. Sekalipun ada piagam Bukik Marapalam yang memproklamirkan ABS – SBK, kenyataannya tetap menimbulkan ambivalensi antara masyarakat yang ingin mempertahankan adat secara murni dengan garis matrilineal dan ABS – SBK yang mendudukan garis patrinilial dalam system kekerabatan.

    2. Bagi saya, yang menimbulkan ketahanan pada system matrinilial sebagaimana yang dipertanyakan oleh Jeffrey Hadler, sekalipun banyak peneliti asing yang menelaahnya, tidak lain karena system kekerabatan hidup jauh sebelum kedatangan islam – yang turun menjadi paham dalam hubungan kemasyarakatan, sehingga sejauh masih bisa ada hal-hal ditolerir oleh pandangan agama, maka system itu tetap dalam masyarakat.

    Jika dikaitkan dengan datangnya masa kolonialisme di Minangkabau pada saat Perang Paderi, menurut pandangan saya berdasarkan informasi dari sejarah yang kami peroleh di sekolah, maka Perang Paderi terjadi karena adanya pertentangan tokoh adat dengan tokoh pembaharuan dibidang agama. Yang dikritisi adalah prilaku keseharian dari tokoh – tokoh adat ketika itu, yang menyangkut moral dan etika.Seperti berjudi – mabok-mabokan atau tindakan lainn yang bertentangan dengan agama.

    NB : Ini ada yang menarik soal perjudian dikala itu – apakah ada persamaan dengan jenis permainan KIM yang dilakukan di Jakarta Fair zaman dulu atau permainan Kim yang dimasyarakatkan pada acara alumni yang sekolah/ Universitas berasal dari Sumbar.

    3. Seandainya berpuluh – puluh peneliti asing datang melakukan kajian atas ketahanan system kekerabatan ini, garis matrilineal itu akan tetap hidup di minangkabau.

    Mengapa ? karena bukan saja adat itu mendarah daging dalam kehidupan masyarakat, akan tetapi pula karena ajaran agama – pula yang mendukung ketahanan garis matrilineal itu – dimana Islam tetap mendahulukan Ibu sebagai insan yang tidak saja dikasihi namun juga dipatuhi.

    4. Saya ingin mengkritisi pernyataan HHB Saanin Dt Tan Pariaman dalam Kepribadian Orang Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) menyebut istilah ”keduaan” (split personality) untuk menggambarkan kepribadian Minangkabau yang menurut dia potensial menimbulkan penyakit jiwa tertentu, mulai dari rasa cemas sampai skizofrenia akibat berbagai paradoks yang dihadapi dan dipraktikkan orang Minangkabau, akibat adanya penggabungan system yaitu : sistem matriarkat sekaligus memeluk agama Islam yang patriarkal.

    Walaupun Pernyataan beliau ini agak berlebihan – barangkali cukuplah disebutkan asal muasal kegalauan dan kedendaman pria minangkabau atas situasi social yang dialaminya. Ketika tanggung jawab menurut agama, menempatkan pria menjadi kepala keluarga– namun ia belum mampu keluar dari posisi sebelumnya yaitu sudah terlanjur diposisikan sebagai orang luar.

    5. Dengan ada pernyataan HHB Saanin Dt Tan Pariaman dalam Kepribadian Orang Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) (butir 4) itu sebagaimana yang Sanak referensikan, menimbul pertanyaan saya ;

    – apakah tradisi merantau itu karena kehendak orang tua/ninik mamak karena ada pepatah yang berbunyi : “ kerakau madang dahulu …… dst,yaitu pergi merantau karena di kampong berguna belum,

    – atau karena suatu cara untuk menghilangkan ketidak sanggupan menghadapi dilemma nya, sehingga menimbulkan kekawatiran berlebihan sebagaimana yang dilansir oleh Dt Tan Pariaman ini.

    Demikianlah tanggapan saya.

    Terlebih terkurangnya mohon dimaafkan.

    Wassalam,

  2. 3 ~padusi~
    April 21, 2009 pukul 7:10 am

    Bls: [R@ntau-Net] Re: Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia
    Monday, April 20, 2009 7:06 PM
    From:
    “Lies Suryadi”
    Add sender to Contacts
    To:
    RantauNet@googlegroups.com

    Uni Evy sarato sanak dipalanta sekalian,

    Saya kira point-point yang Uni Evy sebutkan di bawah benar adanya. Selama ini inti dari berlusin2 studi etnografis yang sudah dilakukan terhadap masyarakat Minangkabau adalah untuk mengetahui bagaimana sih efek penggabungan sistem matriarchate dan Islam yang dipraktekkan oleh komunitas Minangkabau dalam kehidupan mereka? Tentu saja masing2 menekankaan peneliannya pada berbagai aspek–politik, sosial, ekonomi, bahkan juga pskikologi seperti Dt. Tan Pariaman itu.
    Saya coba menanggapi beberapa komentar Uni Evy menurut nomor urut di bawah.

    1. Ambivalensi…. Memang demikian adanya. Saya memaknai KONSEP ABS-SBK itu seumpama GARIS DEMARKASI dalam gencatan sejata sebuah perang. ‘GARIS DEMARKASI’ antara adat dan Islam itu pada hakikatnya tetap sebuah ‘titik api’ yang terus punya potensi untuk bergejolak. selalu ada usaha untuk melanggarnya, tapi pada saat yg sama selalu pula ada usaha untuk mempertahankan ‘garis demarkasi’ itu.

    2. Ketahanan sistem matrilineal Minang. Ya…justru uniknya di Minangkabau bahwa ‘energinya’ datang dari dalam, dari perdebatan di antara sesama orang Minang sendiri. Silang pendapat di antara orang Minang sendirilah yang membuat sistem itu selalu ingin ditinjau kembali di satu pihak tapi di lain pihak ingin dipertahankan. Oleh karena itu tak mengherankan misalnya, Datoe’Sanggoeno Di Radjo pada 1923 menulis buku KITAB PERTJATOERAN ‘ADAT LEMBAGA ALAM MINANGKABAU: AKAN PELAWAN NOOT E.H. RASOEL GL. H. ABDOEL KARIM AMROELLAH, DANAU. JANG DIKELOEARKANNJA DALAM KITAB PERTIMBANGAN ‘ADAT LEMBAGA ORANG ALAM MINANGKABAU DJIID 1 (Fort de Kock: Snelpersdrukkerij Agam).

    3. Pentingnya Ibu sebagai insan yang didahulukan memang cocok antara matrilineal dg Islam. Tapi dari aspek2 yg lain mempelihatkan dikotomi. Oleh sebab itulah mengapa seorang Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tak henti menghujat adat Minangkabau, mengharamkan dirinya balik ke ranah tempat ibundanya dilahirkan, dan memilih mati di Mekah di negeri orang.

    4 &5. Analisis Dt. Tan Pariaman… Beliau ini memang seorang dokter dan psikolog. Tentu saja dia punya metode sendiri untuk penelitian ini. Yang menarik adalah salah satu kesimpulannya bahwa LELAKI MINANG CENDERUNG TIDAK FOKUS PADA SATU BIDANG TERTENTU DALAM MEMILIH PEKERJAAN, MAKSUDNYA, SUKA PINDAH2 PEKERJAAN, KADANG DIKAKOK IKO, SUDAH TU LAH DIKAKOK LO NAN LAIN (indak ado nan maadok), YANG MENURUTNYA ADALAH SALAH SATU REFLEKSI DARI KEGELISAHAN JIWA YANG KHAS MINANG ITU, YANG OLEH SEORANG PSIKOLOG DISEBUT ‘MINANG KOMPLEKS’.
    Saya kira dalam batas tertentu mungkin ada benarnya. Coba lihat refleksi keadaan psikologis lelaki Minang itu dalam lagu-lagu Minang yang sedih itu, misalnya, juga dalam banyak pantun seperti dibahas secara semiotik oleh R.J. Chadwijk, ‘TOPIC IN MINANGKABAU VERNACULAR LITERATURE'(PhD dissertation University of Western Australia, 1986). Coba kita pikirkan apa sebenarnya hakekat pulang basamo yg sangat mentradisi di kalangan perantau Minang? Yang jelas perantau Minang bukan seperti perantau Irlandia. Kalau saya ndak salah ada studi perbandingan antara perantau Minang dan perantau Batak (oleh Usman Pelly?)

    Sekian sedikit komentar dari saya. Mungkin rang cadiak pandai, niniak mamak nan gadang basa bartuah di lapau ko bisa menambahkannya.

    Wassalam,
    Suryadi

  3. 4 ~padusi~
    April 21, 2009 pukul 7:10 am

    Assalamualaikum w.w.

    Baa kaba kini Uni, lai sehat2 sajo? Bgm dengan anak2 nan ikut ujian,
    lai bisa sajo keceknyo? Mudah2an lai yo !

    Sasudah mambaco tanggapan Pak Suryadi thd tulisan uni mengenai
    resistensi matrilinial di Minangkabau, ambo sempat pulu diskusi jo
    baliau sabanta lewat YM, nan kasimpulannyo sbb

    1. Adagium Adat Basandi Syarak-Syarak basandi Kitabullah adalah suatu
    demarkasi antara kaum adat dan kaum agama. Sebagai demarkasi tantu
    sifatnya labil dan sewaktu-waktu dapat berkecamuk lagi. Adagium ini
    bukanlah sintesa yang dapat dijadikan dasar susunan masyarakat Minang
    untuk jangka waktu yang panjang.

    2. Adat dan Agama seperti air dengan minyak, tidak bisa menyatu,
    masing-masing ada pada tempatnya. Membicarakan hubungan antara adat
    dan agama selalu menimbulkan dikotomi yang harus selalu digarisbawahi.

    3. Agama sebagai sistem yang lebih besar seharusnya bisa mengakomodir
    adat, bukan sebaliknya. Apa yang menjadi usur utama adat Minang,
    matrilini, kawin ke luar suku, tanah pusaka, sesungguhnya dapat
    diakomodasi oleh agama Islam dengan melembagakan syariat yang sesuai.

    Baa kolah tu? Mohon tanggapan Uni.

    Wassalam

    Adyan St.Rumah Panjang

  4. Mei 12, 2009 pukul 7:37 am

    Tarimo kasih, Kanda, alah mamuek resensi ambo ko. Sabananyo resensi ko agak dikarek saketek dek Kompas. Nan lengkapnyo mungkin akan muncul di website Melayuonline dan versi Inggrisnyo akan muncul di Journal of Southeast Asia Studies (NUS Singapore).

    Wassalam,
    Suryadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,928 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: