05
Mei
09

Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…


Oleh ; Hifni H. Nizhamul berdasarkan tulisan Doni Marlizon

0c77a487img_0086Banyak orang mengenal bahwa, pemangku alam minangkabau adalah Pagaruyuang.  Ada Tambo Pagaruyuang yang menguraikan silsilah kerajaan ini. Tidak banyak yang tahu, bahwa selain Pagaruyung  ada lagi beberapa kerajaan lainnya yang pernah ada  di Minangkabau, seperti kerajaan Koto Batu, kerajaan Bungo Setangkai, kerajaan Bukit Batupatah.

Dari berbagai sumber tentang keberadaan kerajaan tersebut, akan tetapi kekuasaannya tidak bertahan lama. Umumnya penyebab kerajaan itu tidak bertahan lama, antara lain :

Faktor Kepunahan dari keluarga kerajaan:

Sistem kekerabatan Minangkabau menganut system matrilineal, dengan pengambilan garis keturunan dari pihak Ibu. Anak bersuku ke Ibu juga ber sako ke mamak. Sako ini adalah warisan kepemimpinan dalam sistem kekerabatan yang diwariskan kepada kemenakan. Demikian pula halnya pada kepemimpinan  raja maupun penghulu. Kedudukan dan jabatan penghulu dan raja tidak diwarikan kepada anak melainkan kepada kemenakan. Sistem yang berlaku pada minangkabau lama demikian, akhirnya tidak dapat bertahan lama. Penyebab utamanya adalah karena  tidak ada orang yang dapat menggantikan kedudukan raja itu. Kemenakan yang akan menggantikan kedudukannya tidak ada.

Didalam catatan sejarah – pada masa zaman Adityawarman – ada satu keturunan anak sesudahnya, yang menggantikan kedudukannya sebagai Raja. Terjadi pola penyimpangan sistem matrilinial selama 70 tahun, tatkala Adityawarman menguasai Pagaruyung. Adityawarman terbunuh di KUBURAJO pada tahun 1375 dan anaknya di Pagaruyung tahun 1409. Kala itu masyarakat minangkabau tidak menginginkan sistem pemerintahan yang absolut dan tidak suka sistem pewarisan jatuh kepada anak.

Bagaimana dengan Pagaruyuang ? Saat ini kerajaan Pagaruyung adalah satu-satunya kerajaan yang masih bertahan diwilayah Sumbar.  Kemudian ada pula yang mempertanyakan bahwa kerajaan ini tidak memiliki suku sebagaimana suku -suku yang hidup di kalangan masyarakat Minangkabau, yang  hingga kini berjumlah k.l 60 suku. Lalu bagaimana dikatakan bahwa kerajaan pagaruyuang sebagai pemangku alam minang kabau ? Benarkah kerajaan ini sebagai pemangku adat alam minangkabau ?

Ternyata hingga saat ini, masih ada bentuk pemerintahaan kerajaan, seperti yang terdapat di Alam Surambi Sungai Pagu. Sistem pemerintahannya pun Unik seperti dapat di lihat pada uraian selengkapnya yang, kami kutip dari tulisan Doni Marlizon di; web site : Antara – Sumbar, pada Selasa, 17/03/2009 yang lalu.

Minangkabau secara umum terdiri dua bagian yaitu daerah luhak dan rantau. Pembagian wilayah tersebut telah mempengaruhi corak pemerintahan tradisional lokal yang ada di daerah luhak dan rantau. Masing-masing daerah tersebut memiliki corak pemerintahan yang
berbeda. Daerah luhak biasanya dipimpin oleh seorang penghulu, sedangkan rantau dipimpin oleh raja. Hal itu berkaitan dengan ketentuan adat yang berkembang di Minangkabau, yakni Luhak Ba Panghulu, Rantau Ba Rajo. Artinya, kekuasaan raja hanyalah berlaku di rantau sedangkan di luhak penghulu yang menjabat sebagai kepala pemerintahan.

Salah satu daerah yang berada di luar luhak nan tigo adalah Alam Surambi Sungai Pagu, daerah ini bukanlah daerah rantau. Dengan demikian, ketentuan di atas tidak berlaku di Alam Surambi Sungai Pagu, karena Alam Surambi Sungai Pagu bukan daerah rantau. Daerah ini
disebut sebagai “Ikua Darek Kapalo Rantau. Artinya, tidak termasuk daerah darek dan tidak termasuk pula pada daerah rantau. Daerah ini memiliki corak kekhasan tersendiri karena secara kultural daerahnya berada di bawah pemerintahan tradisional.

Kekhasan corak pemerintahan daerah Alam Surambi Sungai Pagu ini dibuktikan dengan adanya pemerintahan raja yang berempat (rajo nan-4) sebagai elit tradisional selain penghulu. Raja nan-4 tersebut yakni

  • Raja Alam Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah,
  • Raja Adat Yang Dipertuan Besar Tuanku Rajo Bagindo,
  • Raja Ibadat Tuanku Rajo Batuah, dan
  • Rajo Tigo Lareh Tuanku Rajo Malenggang.

Keempat pemimpin tradisional ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan di Alam Surambi Sungai Pagu. Keberadaan pemimpin tradisional ini telah dimulai sejak zaman Islam di Minangkabau dan eksistensinya masih coba dipertahankan sampai sekarang.

Sistem kelarasan yang dianut oleh masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu berbeda dengan sistem kelarasan yang dianut secara umum oleh masyarakat Minangkabau. Sebagaimanan diketahui bahwa alam minangkabau menganut 2 Sistem kelarasan atau disebut Lareh nan Duo ; Bodi Chaniago – Kot Piliang. Masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu tidak menganut sistem kelarasan Bodi Caniago dan juga bukan pengikut kelarasan Koto Piliang. Salah satu kemungkinan adalah mereka menggunakan sistem kelarasan dengan menggabungkan sistem kelarasan Bodi Caniago dengan kelarasan Koto Piliang.

Pepatah Minangkabau yang mengatakan “Pisang Sikalek-kalek hutan, pisang batu nan bagatah, Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah”.

Hal ini terlihat dari corak pemerintahan tradisionalnya yang menggunakan raja dan penghulu secara bersama-sama.

Masing-masing raja nan-4 mewakili suku-suku induk yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu..

  1. Raja Alam Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah berasal dari suku Melayu.
  2. Raja Adat Yang Dipertuan Besar Tuanku Rajo Bagindo berasal dari suku Kampai 24.
  3. Raja Ibadat Tuanku Rajo Batuah berasal dari suku Panai Tigo Ibu, dan
  4. Rajo Tigo Lareh Tuanku Rajo Malenggang berasal dari suku Tigo Lareh
    Bakapanjangan.

Keempat raja yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu memiliki kekuasaan yang sama. Masing-masing raja memiliki fungsi tersendiri. Namun demikian, Rajo Alam Tuanku Rajo Disambah dapat dikatakan sebagai pucuk pimpinan dari tiga raja lainnya.

Hal tersebut terlihat dari gelar yang dipakai oleh Raja Alam Tuanku Rajo Disambah, yaitu Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar.

Ada kesan seolah-olah raja ini sama kedudukannya dengan ketiga raja yang lain. Padahal menurut struktur hirarkienya, posisi Raja Alam Tuanku Rajo Disambah memang menjadi pucuk pimpinan di Alam Surambi Sungai Pagu. Wilayah Surambi Sungai Pagu, dijuluki Nagari 1000 Rumah Gadang. Hal ini dikarenakan, biasanya Raja Alam adalah posisi pucuk dari struktur kepemimpinan tradisional Minangkabau.

Terlepas dari persoalan siapa yang menjadi pucuk pimpinan di antara empat raja di Sungai Pagu yang jelas keberadaan mereka merupakan sesuatu fenomena menarik untuk sebuah kajian ilmiah budaya Minangkabau.(*)

http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?sumbar=artikel&id=149
Selasa, 17/03/2009 19:48 WIB

Iklan

5 Responses to “Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…”


  1. 1 Azhari Anwar
    September 10, 2009 pukul 11:59 pm

    Makin jauah ambo marantau makin takana juo kampuang ranah minang nan iyo sabana rancak nagarinyo, elok panduduaknyo, salasai mambaco artikel iko iyo batamba kacintaan ka ranah minang ko. Kalau ado artikel mengenai urang minang nan marantau ka Malaysia kemudian mambuek sistem kerajaan disinan, tolong bundokanduan sampaikan website nyo. artikel diate mirip mirip jo sistem kerajaan di negeri sembilan Malaysia, kiro kiro apo ado hubungannyo?..kalau iyo samakin bangga ambo jadi urang minang…

  2. Oktober 8, 2009 pukul 12:12 am

    Pernah sekali ke Istana Ini memang kekayaan yang luar biasa
    Indonesia kaya Budaya, salam

  3. 3 PRinCe
    November 25, 2009 pukul 3:09 am

    Adakah yg punya data/informasi dimana saya bisa dapat silsilah kerajaan minangkabau yg membuktikan bahwa di sana menganut sistem matrilineal???

  4. Maret 3, 2010 pukul 12:47 pm

    Mari kito cubo dari kini untuk mengaji balik, apo nan tasirek dari pakaian dan asesoris yang dipakai oleh rang minang dalam menyalanggarokan suatu alek. Mudah-mudahan kok iko nan kito karajokan, urang minang bisa tahu jo nan ampek balik. Tarimo kasih

  5. April 16, 2014 pukul 1:26 am

    ada sesiapa yg mengaku dia keturunan pagar ruyung..sila kedepan..7 gunung emas di sediakn..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,195 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: