10
Agu
09

` Sekilas adat perpatih di negeri sembilan `


oleh : Hifni Hafida

Adat Perpatih adalah simbol utama yang telah diidentifikasi dengan puak Melayu di Negeri Sembilan dan Minangkabau selama ratusan tahun. Bahkan sejak abad ke-15, adat ini dibawa dari ranah Minangkabau melalui migrasi yang dibawa oleh raja Melawar dari Pagaruyung di Minangkabau Sumatera Barat ke Negeri Sembilan. Raja Melawar ini dijemput oleh Datok-datok Penghulu Luak untuk memerintah Negeri Sembilan kala itu. Peristiwa ini terjadi ketika Negeri Sembilan memutuskan tali kekuasaan dari Kerajaan Johor – Malaysia. Satu angkatan diketuai bersama oleh Panglima Bandan dan Panglim Bandut yang diutus untuk berunding dengan Sultan Muningsyah . Dukungan dari Panglima ini diperlukan – untuk mengantisipasi datangnya ancaman dari Kerajaan Johor kala itu – yang tidak ingin melepaskan Negeri Sembilan sebagai wilayah kekuasaannya.

Raja Melawar merupakan Raja pertama yang memerintah   Negeri Sembilan. Nama Asal baginda adalah Sultan Mahmud yang telah di nobatkan di Penajis, Rembau pada tahun 1773 dengan  memamakai nama  ” Raja Melawar”,  sebelum berangkat ke Sri Menanti. Keberangkatan  Sultan Mahmud dari Pagaruyung – bukan tidak mendapat hambatan dari pihak Nagari Pagaruyung. Sebelum ia berangkat dan berjaya memerintah di Negeri Sembilan – baginda terpaksa terlebih dahulu berperang dan mengalahkan Raja Khatib ( seorang Putera Raja Paragarruyung).  Sebagaimana kita ketahui bahwa Raja Mahmud adalah seorang Penghulu di Negeri Pagaruyung itu.  Menurut rencana Raja Khatib yang akan diutus membuat persediaan keberangkatan selaku Raja Melawar yang telah mengistiharkan / menobatkan  dirinya sebagai Raja .

Demikianlah ketibaan (kedatangan ) Raja Melewar dari Pagar Ruyung, Minangkabau pada 1773 itu melembagakan sebuah kerajaan di Negeri Sembilan. Uniknya dari pendirian kerajaan di di Negeri Sembilan ini adalah : bahwa semula Raja Mahmud hanyalah seorang Penghulu dari Pagar Ruyung – Minangkabau  – kemudian ia  dirajakan di Negeri Sembilan.  Sebab itulah kemudian raja-raja setelah itu  di Negeri Sembilan ini, tidak  bergelar Sultan tetapi memakai gelaran Yang DiPertuan atau Yamtuan.

Dalam masa kejayaannya – Raja Melawar  memerintah di Sri Menanti itu mengembangkan adat istiadat minangkabau ke Negeri Sembilana itu. Baginda kemudian mangkat pada tahun 1795 di Astana Raja dan dimakamkan di Bukit Serajin bersama isterinya.

Dalam Adat Perpatih –  menganut struktur kekerabatan yang matrilineal dengan hak-hak ibu memberikan aturan untuk suksesi dan warisan. Adat ini berkembang di daerah-daerah yang diduduki oleh masyarakat Minangkabau di Sumatra dan Negeri Sembilan. Kita menyaksikan perkembangan yang sangat kompleks sebagai wujud dari persoalan sosial-budaya-sistem politik.  Adat Perpatih ini mencakup hampir semua bidang kehidupan di kalangan orang Melayu di Negeri Sembilan dan Minangkabau, yang mengatur kehidupan politik dan pemerintah untuk hukum keluarga dan hubungan antar-pribadi. Praktek yang berkepanjangan menjadi sebuah konvensi  telah mengubah mental, moral, estetika dan budaya Melayu semesta,  dimana menempatkan penekanan pada tanggung jawab kelompok atau tekanan masyarakat pada setiap persoalan sosial. Sementara hukuman dengan prinsip-prinsip kompensasi  – ditujukan bukan untuk retribusi. Ini akan memisahkan dari  tanggungan Adat di tempat lain.

Negeri Sembilan dan Minangkabau
juga diberkati secara  luar biasa suatu warisan mitos dan legenda- legenda. Bahkan kebanyakan pengamat biasa,  tidak bisa tidak memperhatikan skala yang mengesankan bentuk tanduk terbalik diatap rumah-rumah dan bangunan di kota atau desa.

Kita dapat meihat konstruksi bebas dari bangunan Seri Menanti di Kuala Pilah.  Ini merupakan contoh yang baik dari jenis arsitektur, diukir dan dicat dengan dekorasi mengekspresikan budaya kerajinan yang lembut yang berasal dari Minangkabau. Pengunjung juga sering terpikat oleh adegan pemandangan alam dan komunitas pertanian mereka, yang melimpah dengan warna dan kontras.

Di Negeri Sembilan ada Database diibangun untuk melestarikan kekayaan Adat Perpatih digital. Berbagai materi dalam segala macam format, media, bahasa dan manifestasi, yang berkaitan dengan Adat Perpatih, Negeri Sembilan dan Minangkabau telah dikumpulkan dan dikemas kembali. Bahan tersebut memberikan informasi tentang festival unik, seni pertunjukan rakyat, hukum, hukum adat, terombol, sejarah, sekolah, pohon keluarga, tokoh masyarakat, arsitektur tradisional, cerita, cerita rakyat, lagu, tarian, masakan, perbilangan, kostum, adat, tradisional diterapkan seni, bergerak dan gambar diam, pidato, voice-overs, efek suara, kartun, buku dan majalah, bentuk-bentuk budaya tradisional dan gaya hidup terancam punah, dan kombinasi di atas.

Dengan kata lain, sejumlah besar bahan-bahan penelitian mengenai Adat Perpatih, Negeri Sembilan dan Minangkabau, dalam media campuran jenis dan format, sekarang tersedia. Beberapa item tersebut tidak akan tersedia untuk audiens yang besar sebaliknya. Ketika dunia digital menjadi semakin kompleks, tanggung jawab menjaga aset budaya tersebut menjadi semakin besar. Beragam bahan yang diperlukan untuk meningkatkan dan pujian satu sama lain dan membantu menciptakan sebuah “one-stop pusat referensi ‘untuk Adat Perpatih dan Minangkabau.

Dalam menciptakan database ini, kita membuat lagi ketersediaan koleksi bahan tentang dunia melayu. Di Negeri Sembilan upaya membangun konstruksi digital termasuk upaya memperbaiki kurangnya informasi mengenai lembaga budaya melayu  sangat penting dilakukan. Mereka berharap untuk merangsang penelitian lebih lanjut yang akan membantu memperluas dan memperdalam  Dunia melayu. Komitmen yang kuat untuk terus membangun database baru dan untuk meningkatkan kualitas lama berjalan ke arah mempertahankan kepentingan pengguna terdaftar, dan lebih penting lagi, menarik baru.

Database ini menjadi bermanfaat atas kerja sama dan bantuan dari Muzium Negeri Sembilan, Perpustakaan Umum Bengkulu, dan pemerintah negara bagian Negeri Sembila.  Terima kasih.

Sumber :

http://www.malaycivilization.com/main.asp

– booklet dari Muzium Negeri Sembilan

– Kunjungan penulis ke Muzium  Teratak Prapatih Negeri Sembilan.

Iklan

1 Response to “` Sekilas adat perpatih di negeri sembilan `”


  1. 1 Lia
    Januari 6, 2012 pukul 7:16 pm

    Sebetulnya Raja Melawar dan raja Negeri Sembilan sampai hari ini diberi gelar Yang Dipertuan bukan karena Raja Melawar hanya datuk di Pagaruyung. Mungkin saja dia hanya datuk, tapi Yang Dipertuan memang gelar raja-raja Pagaruyung dari dahulu kala, bukan hanya maharajanya saja yang memerintah dari Pagaruyung, tapi raja-raja kecil lain di berbagai wilayah di bawah Pagaruyung (raja Minangkabau itu banyak, tapi mereka semua kedudukannya di bawah raja Pagaruyung). Sampai hari ini pun raja Pagaruyung bergelar Daulat Yang Dipertuan Besar (DYDB) Sultan Taufik Muhammad Thaib Raja Alam Pagaruyung. Ya, masih ada raja Pagaruyung sampai sekarang, tapi sudah tidak punya kuasa memerintah secara legal, melainkan secara simbolik dalam berbagai upacara adat yang masih kuat dilaksanakan di Ranah Minangkabau. Tapi yang menyandang gelar Raja Alam Pagaruyung hanya satu, yaitu raja Pagaruyung itu sendiri, Sultan Taufik Thaib (nama pendeknya).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,197 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: