07
Sep
09

Baganyi…..


untitled-32ol

Written by Ali Nurdin

Kata baganyi diambil dari bahasa minang, mungkin kata lainnya adalah mamanggokmerajuk. Namun pengertiannya belum dapat saya jelaskan pada kesempatan ini, karena merupakan suatu sifat yang hampir dimiliki oleh setiap manusia. Contonya ; apabila seorang anak menginginkan sesuatu dari kedua orang tuanya, namun keinginan itu tidak dipenuhi, maka ia akan berupaya mencari perhatian dengan orang dengan bersikap ekspresif.

Baganyi bukan saja dilakukan oleh anak yang masih kecil, juga ada dilakukan oleh orang dewasa bahkan dalam kehidupan berumah tanggapun sering hal ini terjadi. Jika kita mau melihat apa yang terjadi ditengah keluarga kita sendiri ” ditukiakan pandangan dakek dilayangkan pandangan jauah” pada  ( Bapak dan ibu, keluarga kakak/ adik kita ) atau pada keluarga orang lain, mungkin kita pernah temui dan dengar adanya diantara mereka yang baganyi .

Secara umum pada masa lalu yang sering persoalan baganyi dalam sebuah keluarga itu terjadi pada pihak laki-laki (suami ). Kenapa ?

Saya pernah tanya kepada salah seorang tua dikampung. Mengapa harus seorang suami/bapak yang melakukan baganyi ini. Apakah sudah tidak tercapai komunikasi dalam suatu rumah tangga/keluarga, sehingga sikap ini yang terpaksa dilakukannya.

Seorang tua itu menjawab :  ” Sacara umum kito laki laki diminangkabau dalam barumahtanggo harus bisa menjago martabatnya agar ia tidak mendapat malu. Jika seorang suami belum mampu membangun rumah tangga sendiri, berarti ia hanya menumpang di rumah mertuanya ( orang tua perempuan). Istilah yang disimpulkan oleh kaum lelaki minang sendiri, yaitu : menjadi abu diateh tunggua. Walaupun ia adalah urang sumando yang ditatiang ba’ manatiang minyak didulang.

Kenyataan yang terjadi,  seandainya sang suami itu tidak mampu membangun rumah tangga sendiri karena sang isteri harus menetap dirumah orangtuanya/rumah gadang, maka sikap baganyi  sering kita temui, baik sejak zaman dahulu maupun hingga keluarga minang modren sekarang ini.

Baganyi itu dilakukank, apabika mendapati para suami yang meninggalkan rumah isterinya dan memilih menginap di mesjid/ suarau. .

Bahkan banyak suatu keluarga muda yang membangun rumah sendiri akan tetapi tetap barado ditanah pusako isterinya. Jika perkawinan itu berjalan harmonis, tentu tidak menjadi masalah. Akan tetapi apabila terjadi masalah maka peristiwa rajuk merajuk atau memanggok ini – menjadi hal yang lumrah.

Ketidak harmonisan ditunjukkan bahwa sang suami, ketika ia  tidak pulang ke rumah dalam kurun waktu yang cukup lama. Jika hal ini dibiarkan tanpa ada suatu penyelesaian, maka berakibat bubarnya ikatan perkawinan.

Meskipun sikap baganyie – mamanggok – merajuk, suatu proses unjuk rasa dari sang suami kepada isteri dan keluarga, tentu ada beberapa yang perlu diingat oleh para suami/ rang sumando sebagai berikut :

1.  hendaknya sikap merjauk ini tidak diketahui oleh sang mertua atau kerabat isteri laninnya yang menginterpreatsi adanya pertengkaran.

2.  Merajuk merupakan sikap yang ditunjukkan untuk mengindari KDRT – perbuatan kasar kepada sang isteri.

3.  Hindari pertengkaran didepan anak-anak

Kemana laki-laki ( suami ) pergi jika baganyi ?

Pada masa dahulu, pihak suami/ bapak  yang baganyi atau merajuk pergi keluar dari rumah tangga dengan cara pergi menginap ke mesjid / surau dikampung orang tuanya. Disini ia bergabung dengan para pemuda remaja lainnya dan termasuk di surau itu. Surau tidak saja sebagai rumah ibadah, melainkan sangat banyak fungsinya :  untuk tempat belajar agama dan adat bagi para generasi muda juga berfungsi untuk orang baganyi dan duda.

Trik untuk jemput suami yang baganyi.

Setiap ada penyakit pasti ada obatnya mungkin itulah kata yang tepat bagi wanita yang ditinggal suami yang sedang baganyi.

dalam artikel ini, saya kisahkah bagaimana cara mengakhiri sikap baganyi yang dilakukan oleh seorang suami pada zaman dahulu.

” Pada suatu kali ada seorang perempuan datang menemui Tuanku ( buya ) pada sebuah surau. Dengan wajah yang agak kusut wanita setengah baya ini datang menemui tuanku yang sedang asyik mengajar anak didiknya. Setelah selesai mengajar lantas sang guru menyuruh wanita ini masuk setelah seblum itu disuruh ambil air wudhuk terlebih dahulu sebagaimana biasa yang dipelakukan kepada siapa yang datang bertanya khusus kepadanya.

Tanpa menunggu lama,  Tuanku ( buya ) lansung bertanya kepada wanita yang tengah berada dihadapannya itu :

Tuanku : Apa tujuan ibuk datang kamari ?

Wanita : Minta tolong tuanku

Tuanku : apa kira-kira yang bisa saya bantu

Dengan agak setengah tergegap wanita ini menceritakan prihal tentang dirinya

Wanita : Tolong awak tuanku tunjuak-an jalan baa caronyo ayah anak awak alah 2 minggu indak pulang, wak cubo japuik dek anak samo adik awak, alun juo namuah pulang nyolai baa caronyo lai tuanku.

Tuanku : Sambil menggiling rokok daun nifahnya tuanku ini lansung menjawab, dan betanya kepada wanita itu. Lai tuluih dari hati ibuk untuak manjapuiknyo pulang baliak ? dan Lai kadirubah apo nan manjadi panyabauk suami ibuk baganyi/indak pulang ? katigo lai ndak ado niat jahat dihati ibuk kapado suami jikok inyo babaliak pulang ?

Wanita : Lai tuanku

Tuanku : dima lalok suami ibuk tu kini, apo lai tau ibuk

Wanita : Lai tuanku, kecek anak dan adiak awak disurau dikampuangnyo

Tuanku : kok katigo syarat tu alah bisa ibuk panuhi InsyaAllah suami ibuk bisa baliak pulang karumah ibuk, tapi harus ibuk sendiri nan manjapuiknyo.

Wanita : jadi tuanku

Tuanku : Dangakan elok-elok ambo agiah tahu caronyo, besok hari kamis malam ibuk kiro-kiro jam 11.00 malam mandi dan pakai sampo nan paliang rancak dan harum. Setelah itu cari kawan padusi atau adiak ibu untuk kakawan kasitu, sudah mandi ibuk pakai pakaian agak rancak nan alah diagiah minyak harum ( parfum ), kok bisa sampai tibo ibuk disurau tampeknyo lalok tu muko dan rambut ibuk masih agak lambok. Satibo disitu ibuk lansung bangunkan dia dengan memegang tangannya dan bisikan apa yang mau ibuk bilang kepadanya sambil menggeserkan muka dan rambut ibuk yang masih basah itu, setidak tidaknya bisik ibuk kepadanya ;

” Uda marilah pulang lalok dirumah. Lakukanlah berulang-ulang kali n sampai ia benar sudah bangun dan berdiri dan sesudah itu terserah ibuk…. Insyaallah makbul…..

Cerita pendek diatas terjadi masa lalu. Mungkin saat ini sudah banyak trik lain yang lebih menarik, namun setidak tidaknya dapat sebagai pelajaran dan perbandingan bagi kita dimasa akan datang. Semoga ada manfaatnya… mohon maaf jika disana sini ada kekurangan .

Artikel diedit dari  Cimbuak.net. Wednesday, 30 January 2008

Iklan

3 Responses to “Baganyi…..”


  1. 1 rang guci
    Oktober 9, 2009 pukul 7:33 am

    banganyi = ngambek..gampang kan?

  2. 2 ~padusi~
    Oktober 10, 2009 pukul 12:28 am

    Baganyi sama saja ngambek ala lelaki minang. Jadi tugas padusi untuk membujuk dengan rayuan. Samahalnya seperti anak kecil yang acok baganyi, maka tugas ibu yang membujuk anaknya.

  3. 3 Mandramerantau orapernah bali
    Agustus 17, 2011 pukul 10:42 pm

    Baganyi,ciuman itu obatnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,928 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: