13
Okt
09

Kearifan lokal Wanita Minangkabau


oleh : Hifni H. Nizhamul

DSC00229Diantara lima besar suku bangsa terbesar di Indonesia yang tumbuh di alam NKRI, seperti Jawa, Minangkabau, Batak, Bugis, Madura, maka Minangkabau jelas tetap diperhitungkan sebagai suku bangsa yang unik, egaliter dan demokrasi yang ditegakkan secara konsisten. Kehidupan masyarakatnya jauh dari paham paham feodalisme. Masyarakatnya tumbuh dalam kondisi masyarakat  yang selalu ingin berubah menuju arah perbaikan. Akan tetapi masih ada sistem sosial kemasyarakatan yang tetap belum terkikis habis, yaitu sistem matriarkatnya dan masalah harta pusaka.

Walau mengalami berbagai benturan—dari dalam masyarakat Minang sendiri maupun dari luar, yang ingin menegakkan Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi kitabullah sejak dicanangkan pada pasca Perang Paderi sampai sekarang—namun ternyata sistem matriarkat Minangkabau menunjukkan resistensi dan relatif bertahan.

Mengapa sistem matriarkat dan Islam dapat hidup berdampingan di Ranah Minang? Padahal keduanya mengatur tata aturan yang saling bertolak belakang.

Didalam pengambilan garis keturunan – Islam menetapkan Nasab Ayah sebagai penarikan garis keturunan, sementara pada sistem matrilinial – adat menetapkan Ibu sebagai penarikan garis keturunan.

Begitu kuatnya kedudukan sistem matrilinial, maka solusi yang dilakukan oleh masyarakat minangkabau baik yang ada ranah maupun yang ada di Rantau adalah : melaksanakan sistem matrilinial dengan pola ABS – SBK, yaitu : seorang anak bernasab kepada ayah dan bersuku ke ibu. Dengan demikian kedudukan wanita didalam keluarganya tidak tegeser oleh batasan agama.

Didalam kancah nasional, ketika wanita Indonesia diberi kesempatan untuk berkiprah sehingga dapat menduduki posisi posisi puncak dalam suatu lembaga, namun belum ada wanita minang yang mencapai posisi itu. Sementara adat dan budayanya juga telah  mengedepankan posisi dan peran wanita minang sebagaimana yang diposisikan dalam peran sebagai bundokanduang. Apa yang menyebabkan demikian ?

Berbicara mengenai rumah dan keluarga, tentu terkait erat dengan kaum wanita. Dahulu pada Pasca Perang Paderi, dicoba  menerapkan konsep Islam ‘murni’ di Ranah Minang. Kedudukan wanita Minang dalam keluarga yang sudah lama diatur menurut sistem matriarkat yang melegitimasi garis keturunan melalui kuasa ibu (wanita), pada mulanya sedikit tergoncang.

Akan tetapi mengingat – wanita/perempuan/ibu – yang digambarkan sebagai bundokanduang – sebagai limpapeh (limpapeh/tiang) rumah nan gadang ( rumah tangga), ternyata tidak dapat tergeser begitu saja, hanya oleh karena semata adanya penerapan islam murni tadi. Mengapa demikian ? Diakrenakan  peran sosial wanita minang lebih mengutamakan untuk kepentingan keluarga / rumah tangga, termasuk keluarga besarnya  sebagaimana ia memposisikan dirinya. Bukan bagi kepentingan masyarakat luar.

Secara gamblang, kita memang  tidak melihat peran kemasyarakatan  wanita minang didalam kancah Nasional melebihi kemampuan kodrati wanita.  Katakanlah menjadi kepada Lembaga, Kepala Daerah, dan bahka menjadi orang nomor satu dijajaran keamanan negara. Namun demikian, bukan berarti wanita minangkabau  tidak memiliki nyali sebagai pemimpin seperti yang selalu dipertanyakan oleh kalangan pria minang sendiri. Melainkan karena kesadaran harkat ( kemampuan kodrati) dan martabat (harga diri) wanita minang yang tidak ingin menuntut kesetaraan gender melebihi  keseimbangan hidupnya sebagai wanita yang dimuliakan oleh adat dan budayanya termasuk kaum pria minang sendiri.

Dari sisi kuunggulan atau mungkin juga kelemahannya, dapat dikatakan bahwa wanita minangkabau terlena dengan sanjungan dan penghormatan adat dan budaya yang diberikan kepadanya.

Demi menghargai sikap hidup dan pandangan adat dan budaya bagi wanita minangkabau didalam menjalani peran sosialnya, marilah kita jadikan sikap dan pandangan hidup ini sebagai kearifan lokal wanita Minangkabau.

Apa yang dimaksud dengan kearifan lokal itu ? Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge”atau kecerdasan setempat “local genious”. “Kearifan lokal adalah sikap dan pandangan hidup serta berbagai polakehidupan yang diwujudkan dalam aktivitas keseharian yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka didalam masyarakat.

Kearifan lokal wanita minangkabau diwujudkan dalam kesetaraan gender yang tidak melebihi batasan kodratinya. Misalnya ia tidak akan menjadi kuli bangunan seperti yang dilakukan oleh wanita Bali. Menjadi buruh angkat seperti yang dilakukan oleh wanita Jawa. Meskipun di Minangkabau memiliki prinsip ” tulang salapan karek “, yang akan memberdayakan depalan potong anggota tangan dan kakinya dalam ia bekerja dan berusaha. Tentunya kita tidak ingin kearifan lokal wanita minangkabau akan persis sama di lain tempat. Kearifan lokal dilain tempat dalam kebiasaan yang berbeda tidak bisa disamakan persepsinya untuk berbagai persoalan dan setiap aktivitas.

Saya terusik oleh penyataan Menteri Kesehatan RI, ketika ia menyimpulkan cara penanganan tanggap darurat musibah Gempa Sumbar. Menkes berpendapat bahwa cara wanita minangkabau dalam menghadapi bencana berbeda dg wanita jawa atau sunda. Dia mensinyalir bahwa wanita di jawa/sunda lebih kompak. Contohnya ketika kerjasama membuat dapur umum dalam mengantisipasi musibah gempa. Sementara wanita minang bekerja sendiri sendiri. Untuk kepentingan tanggap darurat, memang kehadiran dapur umum seperti yang ada di Bantul dan Jogya, memang cukup efektif. Tentunya situasi yang diceritakan oleh Menkes itu, tidak bisa mengeneralisir pola dan tatanan wanita minangkabau, yang sikap acuh, tidak bisa kerjasama, dan tidak saling tolong menolong.

Dahulu dalam menjalani aktivitas sosial kemasyarakatan, wanita minangkabau sudah terbiasa dengan pekerjaan yang disebut Alek Randam. Kegiatan alek randam adalah situasi  kegiatan yang bersifat imbauan. Sesama mereka saling mengundang – sesama mereka saling berkerja sama, yang diawali dengan pemberitahuan tentang adanya kegiatan yang hendak dilaksanakan. Demikian pula ketika terjadi musibah/kemalangan. Wujud dari kerja berhamburan terlihat dari kedatangan mereka pergi melayat dengan membawa beberapa liter beras yang dikemas dalam sebuah tempat yang khusus.

Kegiatan alek randam, meliputi kegiatan persiapan hingga kegiatan pelaksanaan. Situasi ini mungkin terjadi karena adanya berita gembira dan suka cita yang harus disyukuri bersama diantara kalangan wanita itu sendiri. Kegiatan itu meliputi ; kegiatan memasak, membuat kueh dan lain-lain.

Kehadiran organisasi Bundokanduang, lebih banyak difungsikan sebagai mitra perpanjangan tangan pemerintah untuk pemberdayaan kekuataan masyarakat dibawah kendali pemerintah daerah. Nyatanya ketika musibah datang menimpa Sumbar pada 30 september 2009, kita tidak mendengar – atau mungkin lenyap peran kelembagaannya.

Barangkali inilah yang ditengarai oleh Ibu Menkes, ketika ia membuat kesimpulan yang agak dangkal untuk menilai ketidak kompakan wanita minangkabau dalam menangani bencana. Sebagai seorang Birokrat tentu ia menilai dari sisi kelembagaan. Akan tetapi dalam penilaian yang obyektif, maka kita menyimpulkan bahwa kepedulian sosial wanita minangkabau memang lebih ditujukan kedalam keluarga ketimbang didalam masyarakat. Ke arifan lokal yang demikian ini bukan berarti bahwa wanita minangkabau itu tidak kompak, tidak peduli terhadap lingkungan tetangganya melainkan situasi yang cheos, tidak bisa mengeneralisir suatu penilaian.

Mudah-mudahan kita dapat membangkitkan kembali semua nilai-nilai atau kearifan-kearifan yang ada dalam masyarakat adat yang selama ini telah mengalami kehancuran dan untuk mewujudkan hal itu semua tak lepas dari partisipasi seluruh elemen yang terkait.***

Iklan

2 Responses to “Kearifan lokal Wanita Minangkabau”


  1. 1 Beryl Causari Syamwil
    Oktober 16, 2009 pukul 1:20 am

    Kritik Ibu Menteri itu sebaiknya diambil hikmahnya, karena itu berdasarkan kondisi dan pengamatan sesaat. Mungkin dia kesal juga melihat gagalnya dapur umum. Mungkin semua local wisdom di kampung sudah pudar, karena kosong ditinggal perantau. Kewajiban moral perantau untuk meng-introspeksi diri juga menaruh perhatian kepada kondisi kampung halaman. Jangan-jangan local wisdom yang kita banggakan, tinggal kenangan. Tak perlu malu atau marah menghadapi kenyataan.

  2. 2 aragar
    April 4, 2012 pukul 6:57 pm

    Marilah awak maranuangkan baa mangko baitu panilaian Ibu Menkes.awak harus introspeksi,alah saatnyu awak baliak ka nagari walau mgkn pasangan iduik awak bukan berasal dari ranah minang.Nagari awak Ranah Minang alah maimbau urang rantau,caliaklah nagari,bangunlah nagari awak basamo samo meskipun awak dirantau.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,197 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: