09
Des
09

` bundo kanduang nan mangirok ka langik `


Ditulis dan dianalisa oleh : Zulfadli

(http://tambominangkabau.wordpress.com

Dalam mencermati tambo, beberapa hal yang perlu kita cermati adalah karakter dari bahasa tambo itu dan karakter penulisnya sendiri. Ini mirip metodologinya memperlajari bahasa Arab untuk memahami ayat ayat alquran dan hadist. Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.

OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang terbiasa menggunakan kiasan, perumpamaan dan analogi. Ini telah saya ulas pada frase bugih lamo = kain lama = bekas istri = janda. Selain itu kalau Anda perhatikan di tambo, ada gelar-gelar seperti Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Mualim yang sebenarnya adalah manusia yang diibaratkan memiliki tingkah laku seperti hewan itu.

Untuk menterjemahkan kiasan, salah satu metode yang dipakai adalah mencari frase yang menggunkan kosakata yang sama dengan kalimat yang akan ditafsirkan. Kemungkinan perbedaan tafsiran pasti ada, namun tidaklah akan terlalu besar penyimpangan artinya.

OK,  sekarang saya cuplikkan dua buah kasus, seperti terurai dibawah ini :

1. “Sajak gunuang marapi sagadang talua itiak” (Sejak gunung marapi sebesar telur itik).

Ini maksudnya adalah gunung marapi yang terlihat masih jauh dari tengah laut (dari atas kapal), yang dilihat oleh para imigran pertama nenek moyang orang Minang yang diperkirakan datang dari sekitar India Selatan dan Langgapuri (Ceylon/Srilanka)

2. “Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu mangirok kelangit” (Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu menghilang/terbang/moksa kelangit).

Kalimat ini ditemukan dalam Kaba Cindua Mato. Dalam konteks cerita itu diketahui bahwa pada saat itu Ranah Pagaruyung akan ditaklukkan oleh Tiang Bungkuak (Raja Sungai Ngiang), yang berada di rantau timur. Diperkirakan lokasinya di Jambi/Hilir sungai Batang Hari/Kerajaan Melayu Kuno). Pagaruyung cuma tinggal menunggu kalah saja karenatidak punya tentara. Bahkan sebelum negeri ditaklukkan,  Dang Tuanku telah menceritakan mimpinya bahwa dia sekeluarga tidak akan lama lagi ada didunia.

Kutipannya sebagai berikut :

“Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang

Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.”

Selain analisa diatas, juga dilihat dari konteks bahasa, maka kutipannya sebagai berikut :

Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.

Bundo Kanduang sekeluarga moksa kelangit. Ini adalah kiasan dari meninggal dunia dalam konteks Buddha. Ingat, agama saat itu adalah Buddha.

Jadi terjemahannya, Keluarga Kerajaan Pagaruyung Tewas dalam penaklukan oleh Kerajaan Sungai Ngiang itu yang kala itu dipimpin Tiang Bungkuak.

Iklan

8 Responses to “` bundo kanduang nan mangirok ka langik `”


  1. Juli 4, 2012 pukul 5:40 am

    Benarkah Pagaruyung waktu itu tidak mempunyai tentara? mohon ditelusuri kembali.
    dan kenapa ‘mengirap’ disitu harus diartikan moksa atau meninggal dunia? dan siapa pula yang mengatakan bahwa agama mereka waktu itu adalah Buddha sehingga condong pada istilah moksa dalam menafsirkan kata ‘mengirap’

    dari sebuah sumber dikatakan bahwa Puti Panjang Rambut (Bundo Kanduang) dan keluarganya hijrah ke Lunang-Inderapura, negeri asalnya leluhurnya Hyang Indera Jati.

  2. 2 garadeja
    Oktober 21, 2012 pukul 1:59 am

    ah gak bener ni tambo.klu g tau sejarah minang jgn sembarangan dong buat articel.nanti bikin generasi muda minang mengira seperti itu sejarah kampungnya.tolong dong diralat nanti gua tuntut.mang nya dr mana dasar anda menuliskan articel ini.

  3. 3 adesadewo
    Oktober 24, 2012 pukul 3:14 pm

    dr mn anda mendapat kan sejarah ini tlg anda teliti kembali……..

  4. 4 Mardius koto
    November 25, 2012 pukul 12:37 pm

    Penulisan artikel ini perlu diuji kebenaranya …….
    Bagus juga supaya peneliti sejarah Minangkabau ikut memperjelas kekusutan Sejarah Minangkabau dengan adanya artikel ini

  5. 5 Tan Gindo
    Februari 3, 2013 pukul 4:12 pm

    Saya pernah baca buku ” Kaba Cindua Mato ” cetakan tahun 70 an, penerbitnya kl tidak salah Sa’adiyah Putra padang panjang. ( penulisnya saya lupa, krn buku tsb sudah tidak ada lagi) Dalam buku tsb dituliskan ( buku tsb ditulis dalam bahasa minang ) : “Tibo tibo datang kapa bulek balampu banyak dari langik, ……… yang membawa bundo kanduang, dang tuanku dll. Mereka kemudian diturunkan di lunang. Yang menjadi perhatian saya adalah kalimat ” kapa bulek balampu banyak ” apakah semacam UFO?

  6. 6 ridwandi
    Maret 4, 2013 pukul 4:59 pm

    sejarah minang kabau yang carut marut,harus di rapikan,kalongak kasian generasi yg akan datang….

  7. Juli 7, 2013 pukul 1:15 pm

    maaf uda atau uni yang menulis artikel ini, kayaknya artikel ini banyak yang tidak sesuai dengan kaba asli yang diterima dari generasi kegenarasi. sebab generasi minang selalu mendapat sejarah asli dari nenek moyangnya secara turun temurun, yang menyampaikan kaba itu biasanya dari golongan ninik mamak dari kamanakan yang bersangkutan dan dia bergelar datuak kapalo warih. dan sejarah itu tidak ke sembarang orang diceritakan, karena ada syarat tertentu yang harus dipenuhi. banyak hal yang membuat sejarah minang hanya orang orang tertentu yang mengetahunya. sejarah minang identik dengan ilmu olah kanuragan, itulah salah satu alasan kenapa tidak semua orang mendapat sejarah asli minang.

  8. 8 Dany piliang
    November 6, 2013 pukul 2:51 pm

    “sajak gunuang marapi sagadang talua itiak” maksudnya bukan gunung itu yg sebesar tulur itik…melainkan pola pikir masarakat pribumi itu belum berkembang,karna wktu maharajo dirajo datang..masyarakat pribumi belum mengenal yg namanya raja…perlu di ingat..sebagian besar isi tambo yg asli,itu isinya adalah kiasan..
    termasuk kaba “cindua mato”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,928 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: