17
Sep
10

`ROBOHNYA SURAU KAMI (AA. NAVIS) `


Pengantar :

~ padusi ~ sengaja mempostingkan ‘ NOVEL ‘ ini berikut komentar yang tengah berlangsung di situs jejaring sosial Facebook…  Mudahan-mudah menjadi mata bathin kita melihat keadaan Ranah Minang, yang sudah lama ditelaah oleh para budayawan.

Episode 1

Robohnya Surau KamiKalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuanakan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalankampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu.Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yangairnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sanadengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagaigarin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnyasekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas darikolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garinia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir denganpekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalanapa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting,memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalanrokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdansedikit senyum.Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpapenjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segalaapa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papandinding atau lantai di malam hari.Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucianyang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anakberlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifatmasa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkalkebenarannya. Beginilah kisahnya.Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena akusuka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk denganlututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olahada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa,sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek.Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”

“Ajo Sidi.””Ajo Sidi?”Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Danaku ingin ketemu dia lagi.

Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orangdengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibukdengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelakupelakuyang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameoakhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelakuceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan adapula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untukselanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telahmembuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu.Lalu aku tanya Kakek lagi.

“Apa ceritanya, Kek?””Siapa?”

“Ajo Sidi.”

“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.”

“Kakek marah?”

“Marah?

Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lamaaku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya.Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama akumenyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagiKakek, “Bagaimana katanya, Kek?”Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulangbertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudahdisini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkahperbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, diatakkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.”Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga sepertiorang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segalakehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah akumenyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakanmanusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akandikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku,karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Akubangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.Masya Allah kataku bila aku kagum.

Apa salahnya pekerjaanku itu?

Tapi kini aku dikatakanmanusia terkutuk.”Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku,

“Ia katakan Kakek begitu, Kek?”

“Ia tak mengatakan aku terkutuk.

Tapi begitulah kira-kiranya.”Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati

Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Danakhirnya Kakek bercerita lagi.

Episode 1

Robohnya Surau Kami

“Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yangsudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftardosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana adaperang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai HajiSaleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan kedalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada danmenekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnyamenyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, iamelambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. DanTuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. LaluTuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’‘

Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.

’‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.

’‘Ya, Tuhanku.

’‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.

’‘Lain?

’‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.

’‘Lain.

’‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebutnama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan akuselalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.

’‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf,pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapimenurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, di isap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang,Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memujiTuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salahtanya kepadanya.Tapi Tuhan bertanya lagi:

‘Tak ada lagi?

’‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu

.’‘Lain?

’‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku punbersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’‘Masuk kamu.

’Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapaia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percayaTuhan tidak silap.Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di duniaterpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya,karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkanada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. LaluHaji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapisebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian,

‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat,teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurangketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.‘Ini sungguh tidak adil.

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalamkelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpingerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh.

‘Yang penting sekarang, mari kitaberdemonstrasi menghadap Tuhan.

’‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suaramenyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?

’Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yangmenggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya:

‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kamiyang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taatmenyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami.Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kamiEngkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yangtak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agarhukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalamKitab-Mu

.’‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?

’‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya,bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karenafajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwaTuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasiltanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kamiialah menyembah dan memuji Engkau.’‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu merekahafal di luar kepala.’‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’‘Ada, Tuhanku.’‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedangharta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebihsuka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kayaraya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh,tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin.Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka.hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalanyang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannyadi dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja padamalaikat yang menggiring mereka itu.‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masukneraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri,melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilahkesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudarasemuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.”Siapa yang meninggal?” tanyaku kagut.

“Kakek.””Kakek?””Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Iamenggoroh lehernya dengan pisau cukur.””Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yangtercengang-cengang.Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.”Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.”Tidak ia tahu Kakek meninggal?””Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.””Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan AjoSidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, “dan sekarang kemana dia?””Kerja.””Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.”Ya, dia pergi kerja.”

—the end—

Tanggapan dan komentar
 

  • orang menyukai ini.
    •  

      Saafroedin Bahar 

      Sanak Bob Alfiandi, cerpen pak AA Navis ini saya baca sewaktu saya muda dahulu, bersama novel Buya Hamka ‘Tenggelamnya Kapal van der Wijk’ dan ‘Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi’.
      Seluruhnya itu menggugah batin saya, yg saya jadikan motiv…asi pribadi utk ikut membantu menuliskan dan merumuskan ABS SBK yg sudah kita nyatakan sbg jati diri Minangkabau.
      Saya sangat setuju dgn ajaran Islam ttg perlunya konsistensi antara apa yg kita niatkan dalam hati dengan apa yg kita ikrarkan dengan mulut serta apa yg kita amalkan dgn perbuatan. Saya benar-benar berharap agar ABS SBK bukan hanya jadi buah bibir, tetapi juga diamalkan. Untuk itu perlu rumusan yg jelas, jernih, dan dapat diamalkan. Itulah yg ingin dihasilkan KKM 2010.Lihat Selengkapnya
      20 jam yang lalu melalui Facebook Seluler ·
    •  

      Socrates Batam Lama-lama kau mirip navis…bob 

      14 jam yang lalu ·
    •  

      Bob Alfiandi 

      Pak Saaf Yth, Karya Navis ini memiliki multi tafsir. Saya ingin mengajukan tafsir saya sendiri, ini bukan ingin “membunuh sang pengarangnya” . Secara Kultural ideasional, Surau memiliki fungsi mendasar. surau merupakan lembaga sosialisasi… (terutama untuk lelaki), bukan hanya belajar Agama (dimana ABS-SBK dimapankan), tetapi juga Silat dan bekal Hidup lainnya. surau juga merupakan arena belajar merantau bermula. Surau juga tempat dimana relasi sosial (modal sosial), antar lelaki, dibangun dan dimapankan.dst. Intinya, surau salah satu fondasi nagari. Namun, Surau itulah yang Roboh…membaca robohnya surau kami, bagi saya sebagai pembacaan robohnya salah satu fondasi nagari. Bagaimana selanjutnya ABS-SBK di internalisasi? Jika ABS-SBK jati diri Minangkabau, mengapa elite sibuk berebut anggaran untuk kemakmuran diri dan kelompoknya…?Lihat Selengkapnya
      13 jam yang lalu ·
    •  

      Bob Alfiandi 

      ‎@At: Karya Navis itu inspiratif, dan klimaksnya suka mengejutkan dan itu sering ditulis dalam karya tulis yg singkat. contohnya. cerita tentang Si Bangkak. Bangkak adalah individu yg pandir, ikut masuk hutan bersama rombongan Mayor Udin (s…etingnya, dugaan aku, PRRI). Salah satu kelebihan di Bangkak adalah pijatan yang dapat membuat nyaman manusia yang dipijatnya. Mayor Udin suka meminta jasa udin. Termasuk Istrinya, yang cantik, putih dan bahenol (lebay sedikit). Namun, klimaksnya, Udin menembak mati Istri Mayor Udin. apa pasal? karena Udin juga manusia, dia juga mengalami perubahan kimiawi biologis ketika memijat istri Mayor Udin yang cantik, sehingga fikirannya menciptaka setan-setan yang menari menggoda… Bagi udin, untuk membasmi setan di fikirannya, dilakukan dengan membunuh istri Mayor udin, karena beliaulah pangkal bencana sehingga setan ada di fikirannya…cerita ini multitafsir, salah karya sastra “baik” itu mestilah multitafsir, sehingga si pembaca bukan saja dapat dengan bebas membunuh sang pengarang, namun bisa berbeda pendapat/tafsir, atau justru memperkaya karya sastra tersebut…disinilah kelasnya Navis…Lihat Selengkapnya
      12 jam yang lalu ·
    •  

      Bob Alfiandi 

      ‎@At: oh, ambo banyak pegalaman lucu jo “sang pencemeeh sejati” ini. salah satu yg masih ambo ingek. Waktu itu ambo sedang penelitiaan Social Sector Strategy for Capabililty Building (S3CB). Jadi ambo ka berencana meminjam buku2 lamo. Pai l…ah ambo ka Ni Ranti (anaknyo). Ketika sampai di rumahnyo, eh “sang pencemeh” ko sadang santai di beranda rumahnyo. tanpa tedeng aling-aling, inyo batanyo, sia angku?
      Namo Ambo Bob pak. Sia namo gaek? ambo jawek se, “Prof Aziz Saleh pak..langsung disambuiknyo…” lai masih saleh juo inyo..?..ha ha ha ha. “Sampaikan salam ambo yo…itu kalimat penutupnya…Lihat Selengkapnya
      12 jam yang lalu ·
    •  

      Saafroedin Bahar Sanak Bob, sasaran pendidikan watak nan salamo disandang surau – nan tergerus dek perkembangan zaman – bisa dicapai melalui caro dan institusi lain. Dlm gagasan KKM, caro itu adalah malalui pembekalan/pendidikan ABS SBK, dan institusi tu bisa keluarga, kaum, suku atau nagari. 

      12 jam yang lalu melalui Facebook Seluler ·
    •  

      Mia Miau hambluminallah sebaiknya sejalan dengan habluminannas..
      bukan begitu, pak bok ?
      😉 

      sekitar sejam yang lalu melalui Facebook Seluler ·
    •  

      Mia Miau hambluminallah sebaiknya sejalan dengan habluminannas..
      bukan begitu, pak bob ?
      😉 

      sekitar sejam yang lalu melalui Facebook Seluler ·
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,928 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

September 2010
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: