29
Okt
10

‘ Sengketa Tiada Putus “


oleh Jeff Hadler

Pengantar untuk Edisi Indonesia

Di Sumatra Barat pada pertengahan 1990-an sejarah bukanlah pokok penelitian yang populer. Diskursus pembangunan Soeharto melemahkan penelitian mendalam tentang masa lalu, dan sejarah resmi dipelintir agar sesuai dengan maksud tujuan negara. Disiplin-disiplin elite di universitas-universitas adalah sains, keinsinyuran, dan bidang-bidang yang diperkirakan akan menyumbang pada masa depan cerah suatu bangsa sedang membangun. Masa lalu itu memalukan, menghantui, dan berbahaya, disederhanakan dalam buku-buku teks ke dalam periode-periode kolonialisme suram, revolusi jaya, Orde Lama penindas, dan akhirnya Orde Baru pembebas. Orang-orang Indonesia cerdas membangun masa depan. Peneliti-peneliti asing adalah antropolog dan etnomusikolog. Sejarawan sangat jarang sehingga banyak orang terheran-heran ketika saya memberitahu mereka siapa saya sebenarnya: sejarawan. Antropolog?

Demikian mereka mencoba menolong saya memperbaiki kata. Saya tiba di Padang pada 1994 berbekal satu surat katebelece dari Taufik Abdullah dan satu proposal disertasi dengan studi berpusat rantau mengenai keluarga-keluarga empat laki-laki terkenal Minangkabau. Surat itu terbukti berguna luar biasa. Sedangkan proposal disertasi saya segera putar haluan.
Pada 1985 saya tinggal dengan satu keluarga Minangkabau-Mandailing di Jakarta, bersekolah di SMA 3 Setia Budi, dan terpengaruh oleh sikap perantau terhadap mereka yang ditinggalkan di desa-desa di Sumatra—campuran nostalgia dan cemooh. Patriotisme Minangkabau yang hancur pada era pasca-PRRI berdampak pada bayangan awal saya tentang Sumatra Barat. Selama awal 1960-an rakyat Minangkabau, termasuk keluarga sipangkalan saya, meninggalkan Sumatra Barat menuju Jakarta dan Medan, tidak kembali lagi. Inilah masa rantau cino yang permanen, ketika orang Minangkabau memberikan nama Jawa kepada anak-anak mereka dan mengeluh bahwa di kampung halaman di Sumatra “yang Minang pergi, yang tinggal Kabau”. Restoran-restoran Padang di Jakarta menjamur dan perantau-perantau dari Sumatra ini, orang seberang yang menyembunyikan etnisitas mereka, menyesuaikan diri dengan kehidupan jauh dari dataran tinggi nenek moyang dan ingatan-ingatan yang menyedihkan. Di samping pengalaman-pengalaman perantauan saya sendiri di Jakarta, untuk proposal disertasi saya itu saya membaca karya-karya intelektual Kaum Muda dan novelis-novelis Balai Pustaka. Lewat tulisan-tulisan itu saya pun tiba pada kesimpulan bahwa adat Minangkabau itu bersifat menindas, desa-desa Minangkabau bagaikan cangkang-cangkang kosong tradisionalisme, dari kedua-duanya orang perlu melarikan diri. Kemudian, Cornell University, tempat saya mengejar PhD saya, membiasakan para mahasiswanya pada nasionalisme di atas segala-galanya. Kami secara obsesif berpihak pada orang dan gerakan yang bergerak dari kolonialisme ke revolusi nasionalis. Jadi saya tiba di Sumatra dengan memakai kacamata kuda yang membutakan saya dari apa saja yang tidak mengikuti jalan lurus ke 1945. Untuk proposal saya itu saya berharap menjejaki keadaan keluarga luas Hamka, Haji Agus Salim, Adinegoro, dan Datuk Sutan Maharaja setelah mereka meninggalkan darek (jantung) Minangkabau yang mandek itu, terusir keluar dari suatu pusat kosong yang tidak dapat mempertahankan orang-orang penting dan besar. Dalam proposal awal itu saya bilang hanya butuh satu bulan di Sumatra Barat (berapa lamakah saya mau mengalami penindasan jiwa dan kebosanan di kalangan Kerbau?). Kemudian, dengan mengikuti para perantau pahlawan saya, saya akan pergi ke Medan, kemudian Jakarta, dan akhirnya Leiden, mengulang, dalam riset saya sendiri, perjalanan-perjalanan yang dilakukan oleh para pahlawan nasional era kolonial.

Tapi begitu tiba di Sumatra Barat, langsung saya sadari bahwa sejarah lokal ditandai dengan dinamisme yang tak terduga. Dan saya mulai memahami bahwa ada mesin-mesin sejarah yang sama sekali tidak nasionalis tapi toh pernah dan masih sangat penting: gagasan-gagasan yang berubah-ubah tentang rumah, keluarga, hubungan gender, dan masa kanak-kanak. Jadi saya mengubah rencana riset saya dan saya tidak meninggalkan tempat itu.

Riset pertama saya, dilakukan pada akhir periode Orde Baru, berupaya menjawab satu pertanyaan yang sering diajukan pada saya di Sumatra Barat: mengapakah generasi orang Minangkabau yang lahir pada peralihan abad ke-20 begitu inovatif luar biasa dan secara politis sangat penting? Jawaban atas pertanyaan itu menjadi bagian utama buku ini—fenomena dinamisme budaya Minangkabau terjalin dengan kondisi ketidakpastian yang luas dan tak terhindarkan, dan ketidakpastian itu pada gilirannya adalah akibat faktor-faktor budaya dan sejarah spesifik pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ketika saya mulai berusaha menjawab pertanyaan ini ada juga motivasi politik. Rumah gadang dan keluarga dianggap oleh sebagian besar orang di ranah Minang punya kualitas kekal dan tak berubah. Dengan meneliti “penciptaan tradisi” (invention of tradition, ungkapan Eric Hobsbawm) lokal di belakang kebenaran-kebenaran sakral rumah dan keluarga, saya mau peneliti-peneliti Minangkabau lantas bisa mempertanyakan beberapa mitos sentral negara Orde Baru—bahwa orang Indonesia sangat merindukan otoritas patriarkat yang kuat (seorang Bapak sebagai presiden), sehingga mereka lebih suka musyawarah mufakat daripada debat terbuka, dan bahwa mereka begitu takut pada hal-hal yang asing sehingga mereka bereaksi dengan kekerasan.

Kini, pada 2010, Soeharto memang sudah wafat, tapi momok negara Orde Barunya masih terus hidup, mencoba membuat diri mereka relevan lagi, dan bahkan tampaknya tumbuh pesat. Jadi baik pertanyaan sentral tentang kepahlawanan-kepahlawanan Minangkabau, maupun motivasi sekunder, keduanya haruslah masih bergaung bagi para pembaca. Bagaimanapun adalah kelegaan besar bahwa kini sudah bisa ada diskusi politik secara langsung dan terbuka di Indonesia, padahal dulu kita harus berjingkat-jingkat di seputar undang-undang SARA yang penindas itu. Ada seni Orba untuk memecahkan sandi transkrip-transkrip politik tersembunyi dalam teks-teks yang tampaknya apolitis dan historis. Tapi jauh lebih bagus bisa mengatakan apa yang mau anda katakan, blak-blakan dan terus terang.

Untuk penulisan buku ini saya tahu bahwa saya perlu bergerak melampaui disertasi itu, untuk menarik minat penerbit Amerika dan sidang pembaca yang akan menginginkan lebih banyak daripada sekadar Studi Indonesia. (Menyedihkan bahwa negeri ke-4 terbesar di dunia, pada dan dari dirinya sendiri, tidak cukup menarik buat orang Amerika.) Merevisi buku ini ketika George W. Bush di Gedung Putih memotivasi saya dengan cara yang sama seperti halnya Soeharto—saya marah, merasa agak ditindas (di bawah Bush akademikus yang tidak setuju dengan politiknya dimarginalisasi), dan ingin buku saya menjadi pernyataan melawan gambaran Islam bergaya santri dan monolitik yang digambarkan pemerintahan Bush. Saya menyadari bahwa untuk pembaca-pembaca Amerika, suatu masyarakat Muslim yang terkenal akan kesalehan dan sekaligus penganutan pada tradisi-tradisi pewarisan matrilineal dan residensi matrilokal yang disebut sebagai matriarkat akan terasa menawan dan mengagetkan. Jadi inilah motivasi untuk apa yang telah menjadi naratif kerangka Muslims and Matriarchs: bahwa “masyarakat Muslim” adalah kategori luas yang mencakup praktik-praktik sosial yang bermacam ragam, bahkan termasuk yang biasa dianggap bertentangan dengan unsur-unsur fundamental hukum syariat. Bush berbicara tentang Islam reformis dengan diskursus sama seperti cara Presiden-Presiden terdahulu berbicara tentang komunisme—bahwa ia adalah penyakit ideologis sangat berbahaya dan tak tersembuhkan yang penyebarannya hanya bisa dihentikan dengan penghancuran bagian-bagian yang terinfeksi. Saya memperhatikan Imam Bondjol dan kaum Padri awal abad ke-19 dan menemukan beberapa keserupaan dangkal dengan gerakan Taliban modern di Afghanistan. Minangkabau lantas bagi saya menjadi suatu contoh terbalik yang penting dalam sejarah Muslim. Di Sumatra Barat, reformisme Padri membatasi diri sendiri dan akhirnya menjadi fleksibel, bahkan mau berdamai. Dan matriarkat selamat melalui kolonialisme karena ia terlebih dahulu sudah terideologisasi dan diperkuat waktu menghadapi kritik Padri. Tradisi matriarkat bertahan bukan walaupun ada serangan Padri neo-Wahabi, melainkan karena itu. Dengan formula “adat basandi syarak, syarak basandi adat” pemimpin-pemimpin Padri dan adat berhasil berkompromi dan mempertahankan kekhasan budaya Minangkabau. Intervensi militer Belanda tidak “menyembuhkan” Minangkabau dengan memotong putus infeksi Padri. Konflik itu terselesaikan secara internal dan lewat dialog. Inilah naratif koreksi-diri yang saya yakini perlu didengar pemerintahan Bush. Militer Amerika tidak dibutuhkan sebagai polisi ideologi dunia. Saya sama sekali tidak setuju dengan Taliban (atau fundamentalisme agama jenis mana pun) dan merasa senang kalau mereka lenyap, tapi saya juga percaya bahwa Afghanistan sangat mampu menyelesaikan sendiri konflik internalnya sama seperti Minangkabau dua abad sebelumnya.

Jadi buku ini adalah reaksi terhadap rejim-rejim represif dan suatu upaya untuk mencari contoh-contoh terbalik terhadap monolit-monolit yang disokong negara-negara. Gagasan Soeharto akan budaya Indonesia dan bayangan Bush akan reformisme Islam kedua-duanya ditantang oleh naratif sejarah Minangkabau. Pencapaian keilmuan seringkali butuh politik bertentangan, dan komitmen ideologis, agar bermakna.

Ketika saya menulis pengantar ini, suatu Kongres Kebudayaan Minangkabau yang mengklaim dukungan dari pemerintah daerah dan pusat dijadwalkan akan diadakan di Padang pada akhir 2010. Pemimpin-pemimpin Kongres, sebagian besar perantau berbasis Jakarta yang tidak puas dengan degradasi masyarakat Minangkabau, dengan anggapan masuknya narkotika, pornografi, dan pornoaksi, sedang menunggangi gelombang pasang naik kecenderungan bersyariat yang saya gambarkan pada kesimpulan buku ini.[i] Mereka berharap akan mewujudkan, sebagai prinsip fundamental adat seluruh provinsi, formula “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (ABS-SBK) dan menekankan aspek-aspek patrilineal budaya Minangkabau lewat penekanan atas apa yang mereka istilahkan “bernasab ke ayah”. Seperti saya jelaskan dalam buku ini (h. 47 cat. 25), pemakaian “Kitabullah” adalah inovasi 1950-an. Sampai ketika itu, adat dan syarak saling bergantung. Perencana-perencana Kongres merujuk pada Piagam Bukit Marapalam di masa lalu sebagai momen historis yang mengesahkan keutamaan Kitabullah di atas adat. Karena itulah mereka mengklaim bahwa reformasi mereka atas adat Minangkabau berlandaskan tradisi Minangkabau. Tapi sama seperti formula ABS-SBK itu sendiri, tidak ada catatan kearsipan atau pernyataan apa pun tentang suatu Piagam Bukit Marapalam sebelum pertengahan abad ke-20. Perencana-perencana Kongres dan perantau cerdik pandai yang mendukung mereka punya keprihatinan tulus akan kondisi-kondisi sosial di desa-desa Minangkabau dan akan keselamatan adat dan matriarkat Minangkabau di dalam “negara kesatuan Republik Indonesia” modern. Mereka serupa dengan reformis-reformis Padri dan Kaum Muda di awal abad ke-20 dalam hal hasrat mereka untuk mereformasi adat Minangkabau dan membawanya lebih sesuai dengan syariat. Dengan mengklaim bahwa mereka sedang melanjutkan suatu tradisi kuno, mereka juga membaurkan semacam tradisionalisme Kaum Kuno ke dalam gerakan mereka. Ini akan membuat Kongres itu suatu fenomena yang sangat menarik.

Ada keprihatinan dan penentangan dari budayawan Minangkabau lokal yang khawatir bahwa Kongres akan secara permanen menggerogoti adat. Kalau tesis buku ini tepat mereka tidak perlu khawatir. Kongres Kebudayaan Minangkabau akan menghasilkan arsip menakjubkan dan punya dampak sementara tapi dalam jangka panjang sama sekali tidak akan menimbulkan banyak perubahan.

Mengapa? Karena upaya-upaya melegislasi adat di tingkat provinsi—suatu proyek negara kolonial, Orde Baru, dan kini Kongres ini—selalu gagal. Adat Minangkabau hidup di tingkat nagari. Berbicara tentang budaya Minangkabau seluruh provinsi hampir tidak punya arti. Minangkabau adalah suatu contoh sempurna dari apa yang disebut heterarki—suatu masyarakat atau sistem politik yang didasarkan bukan pada hierarki tapi pada pluralisme dan multiplisitas bentuk-bentuk politik yang lebih kecil dan berulang-ulang.[ii] Dengan nagari dan kampung sebagai politas-politas inti, pejabat-pejabat adat dan keagamaan yang banyak dan tampaknya mubazir, serta konsep-konsep adat yang berubah-ubah dan bersifat lokal, persis itulah yang orang temukan di Minangkabau. Bahkan bayang-bayang terakhir akan otoritas terpusat Minangkabau, Raja Pagaruyung berdaulat dan patriarkal yang samar-samar itu, terbukti adalah kesalahpahaman Belanda atas heterarki Minangkabau. Riset baru di Universitas Andalas telah menemukan Tambo Pagaruyung bukan hanya di tempat yang disangka istana dekat Batusangkar itu tapi banyak Pagaruyung tersebar di seluruh darek.[iii] Tidak ada yang universal atau terpusat dalam tradisi Minangkabau. Mungkin inilah sumber konsep demokrasi Minangkabau yang alamiah yang dipuji-puji dalam tulisan-tulisan Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka. Jelas ini salah satu alasan mengapa upaya-upaya untuk mengodifikasi suatu adat Minangkabau yang universal dan terintisari pasti akan gagal.

Terjemahan ini adalah suatu perbaikan dibandingkan dengan aslinya yang berbahasa Inggris. Pertama, saya bisa mengganti judul asli (yang dipaksakan oleh departemen pemasaran penerbit) dengan judul yang selalu saya inginkan. Sengketa Tiada Putus diambil dari schoolschrift yang menggambarkan “sangketonan tiada poetoes” dalam sebuah perkawinan, dan saya pikir ini adalah metafora sempurna untuk sengketa dan debat tiada putus yang membuat Minangkabau begitu enak dipelajari. Kedua, kami bisa memasukkan kutipan-kutipan asli berbahasa Melayu, bahkan seringkali diperluas melebihi apa yang sudah saya terjemahkan dalam versi Inggris, sehingga pembaca dapat merasakan bahasa berciri khas dan berubah-ubah yang dipakai di Sumatra Barat. Ketika mencari-cari teks-teks asli kami menemukan satu kesalahan penting. Edisi Inggris merujuk kepada Haji Rasul suatu teks mengenai “balatentara nafsu”. Sebetulnya kutipan itu berasal dari Siswawijata A. Moersjidoelwadjid, Tasawwuf Islam (Solo: Moehammadijah, 1927). Kami tidak berhasil mendapatkan buku itu, dan kalau ada pembaca baik hati yang menemukannya saya akan sangat bersyukur kalau anda memberitahukan saya mengenai hal itu.

Proses penerjemahan ini menyenangkan dan saya harus berterimakasih kepada Samsudin Berlian yang harus berusaha keras memahami bahasa Inggris saya yang aneh-aneh, Sugianto Tandra yang menjadi nakhoda handal di ruang kemudi, serta Sijo Sudarsono, Eru Guna[wan], dan Nirwan Dewanto yang semuanya memberikan sumbangsih yang penting.

Jeff Hadler
hadler@berkeley.edu

[i] Dokumentasi untuk Kongres ini bisa ditemukan online di http://www.facebook.com/KONGRES.KEBUDAYAAN.MINANGKABAU.

[ii] Joyce C. White, “Incorporating Heterarchy into Theory on Socio-Political Development: The Case from Southeast Asia”, dalam Heterarchy and the Analysis of Complex Societies, diedit oleh Robert M. Ehrenreich, Carole L. Crumley dan Janet E. Levy, 101-123. Arlington, VA: American Anthropological Association, 1995.

[iii] M. Yusuf, “Kerajaan Pagaruyung dalam Pandangan Tukang Kaba”, dalam Dinamika: Bahasa, Filologi, Sastra, dan Budaya, diedit oleh Fadlillah, Zuriati dan Yusriwal, 99-113. Padang: Andalas University Press, 2005. Banyak riset Pagaruyung mereka masih belum diterbitkan.

Iklan

0 Responses to “‘ Sengketa Tiada Putus “”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,197 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: