20
Mei
11

Pohon Keluarga Minangkabau


Oleh : Hifni Hafida

Dalam masyarakat  Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem kekerabatan yang membentuk struktur masyarakat suku bangsa, yaitu :

a.  Sistem kekerabatan  Matrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ibu, seperti di Minangkabau,

b. Sistem kekerabatan  Patrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ayah,  seperti di Tapanuli, Sumatera Utara, atau Batak,

c.  Berdasarkan Parental, yaitu melalui garis keturunan IBU dan AYAH (kedua-duanya), seperti di Jawa.

Pembagian struktur kemasyarakatan demikian berdasarkan tinjauan territorial dan geneakolog yang dilakukan oleh para peneliti dalam lingkup telaahan antrolopologis  dan budaya. Faktor genekolog membahasnya dari sisi pertalian darah keturunan. Sementara secara teritori mengamati dari sisi kesamaan dalam berprilaku. Orang Minangkabau merasa bersaudara karena terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis Ibu atau Perempuan. Tidak demikian bagi etnis lain, yang mengikatkan tali kekeluarga hanya pada keluarga batih semata.

Adakah masyarakat tradisional lain di Indonesia bahkan didunia ini yang memiliki sedemikian meluasnya persaudaraanya, seperti yang dikenal se-ibu, se-nenek, se-perut, se-jurai hingga se-kaum dan se-suku ? Mengurai persaudaraan seperti ini, akan pas bila dibuat sebuah Pohon Keluarga (family tree).

Sa Nagari –  Sa Suku – Sa kaum  – Sa paruik – Sa Nenek – Sa Mande

Pohon keluarga ini selalu dijaga dengan baik. Keturunan matrilinial meluas dalam tingkatan yang terkecil hingga membesar diatasnya bagaikan kumpulan cabang pohon, yaitu sebagai berikut :

* Anak-anak SAMANDE ditarik dari garis ibu. Anggota keluarga Samande sangat menyadari bahwa mereka berasal dari satu rumah gadang.  Pimpinan dari keluarga Samande adalah MAMAK  RUMAH. Tali kekerabatan dalam rumah gadang dari Samande dijaga oleh Mamak. Peranan mamak masa dahulu amat dominan, sebagaimana pepatah yang berbunyi ”Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo ka Pangulu, Pangulu barajo ka mupakaik, Mupakaik barajo ka nan bana, Nan bana ba-diri sandirinyo”.

Pada masa dahulu, tanggung jawab Mamak di Rumah Gadang itu turut membangun rumah untuk kemenakannya yang biayanya berasal dari Harta Pusaka.

* Diatas keluarga sa-mandeh ini, terdapat saudara Sa Nenek – sa Indu kemudian Saparuik atau Sajurai,

* Diatasnya lagi ada beberapa PARUIK yang membentuk KAUM dari garis keturunan ibu, dipimpin oleh PENGHULU KAUM, atau MAMAK KEPALA WARIS.

* Kumpulan beberapa KAUM membentuk kesatuan kerabat yang lebih besar, dinamakan SUKU, dipimpin oleh PENGHULU KAUM atau Penghulu Suku. Kepemimpinan mamak menduduki jabatan penghulu di tengah kaumnya.

Langgo langgi ( sifat dasar) masyarakat hukum adat minangkabau sebagaimana yang tergambar dalam Pohon Keluarga tersebut diatas berada dalam jalur garis per-ibuan (matrilinia). Akan tetapi mereka tetap menempatkan kaum lelakinya sebagai Pemimpin dalam kelompoknya. Siapa yang menjadi pemimpin dalam struktur hukum adat minangkabau  dapat dilihat pada gambar berikut :

Image

Gambar dikutip dari : tulisan Buya H. Mas’oed Abidin

Untuk memelihara “ pohon keluarga “ ini, maka Minangkabau memelihara dan mengdokumentasikan dalam silsilah keluarga yang disebut Ranji. Apakah yang dimaksud Ranji ? Masihkah pohon keluarga ini ada dan diperlukan oleh orang minangkabau sekarang ini ?

Dalam sebuah survey secara acak dilingkungan orang terdekat: keluarga, kerabat, komunitas minangkabau baik yang di Ranah maupun yang di Rantau, diperoleh kesimpulan bahwa dengan berkurangnya pengaruh sistem kekerabatan minangkabau saat kini, tidak banyak lagi  orang minangkabau menggunakan ranji sebagai silsilah asal usulnya. Ranji itu hanya bermanfaat bagi kaum perempuan minang saja.

Apa yang dapat kita simpulkan dari survey itu, ialah sebagai berikut :

1. a. Ranji sebagai penanda asal usul

Meskipun perempuan minang tidak banyak lagi memiliki harta pusaka, atau timbulnya sengketa adat demi mempertahankan harta pusaka, mayoritas masyarakat, masih memerlukan idetifikasi asal keturunan. Asal keturunan itu diidentifikasi  dengan sebutan SUKU tertentu dibelakan namanya. Suku berasal dari silsilah keturunan yang diambil dari garis per-ibuan (matrilinial). Hal ini sejalan dengan prinsip : ber SUKU ke Ibu, Ber NASAB ke Bapak dan ber SAKO ke Mamak.

Orang yang Se SUKU dianggap bersaudara. Garis persukuan ini akan berlanjut dari generasi ke generasi melalui pihak perempuan. Per SUKU an berakhir, pada anak laki-laki. Karena seorang pria minang tidak menurunkan nasab SUKU. Penyebaran Suku-suku ini karena uraian sebuah Ranji.

1. b.   Persaudaraan diluar sako, pusako :

Lingkup persaudaraan dalam silsilah itu,  meliputi saudara satu nenek moyang, yang bisa mencapai tujuh lapisan keatas, bisa juga sampai pada tiga tingkat ke bawah. Persaudaraan, satu jurai dan saudara satu kaum atau satu panghulu, dijaga dan dipelihara turun temurun. Ranji sangat bermanfaat untuk menghimpun anggota kerabat, dalam hal pertalian darah se Suku

Jika mereka tidak memelihara asal usulnya berdasarkan Ranji, mereka bisa dikatakan tidak ber KAUM. Lebih lebih bagi penduduk di pesisir pantai Ranah Minang, yang mengupayakan punya riwayat dan asal usul keluarganya. Mereka kawatir dikatakan sebagai ” Urang Nieh (nias) ” jika mereka tidak bisa menunjukkan asal – usulnya dalam sebuah Ranji.

1. c.    Untuk  menyelesaikan masalah Sako dan Pusako, serta  tali waris adat :

Sebuah ranji menjadi begitu penting, ketika ia diperlukan untuk membantu penyelesaian masalah – masalah seputar : sako dan pusako, serta tali waris adat, termasuk penyelesaian kasus sengketa adat. Apabila masyarakat ingin membuat sebuah Ranji yang valid, Ranji itu disusun dan ditandagani oleh Tungganai atau Mamak Kepala Waris atau Penghulu. Keabsahan Ranji dapat dikukuhkan pula oleh KAN ( Kerapatan Adat Nagari) setempat.

Dalam sistem kekerabatan telah ada fatwa dari Ulama Minangkabau, bahwa setiap warga Minangkabau bersuku ke ibu, bernasab ke bapak, dan bersako ke mamak.

  • Masalah sako :

Sako adalah gelar didalam Kaum, yang diturunkan dari Mamak (paman) kepada kemenakan. Gelar itu berasal dari unsur Urang Ampek jinih dalam suatu Nagari. Gelar gelar ini turun menurun kepada anak lelaki yang dilewakan pada saat akan melansungkan pernikahan. Kaum keluarga juga mempedomani ranji untuk menetapkan suatu gelar di kaum mereka.

  • Masalah pusako :

Harta Pusaka berpindah bukan karena sistem pewarisan yang dikenal dalam hukum Islam dan hukum Nasional. Harta Pusaka berpindah pengurusan dari seorang Perempuan Utama kepada keturunan perempuan didalam Kaum itu, demikian seterusnya dibawah kendali seorang Mamak. Sesuai dengan prinsip “Ganggam nan bauntuak  hiduik bapangadok”.

Jika seorang ibu tidak punya anak perempuan, meskipun ia memiliki anak laki-laki maka ia disebut punah. Namun, meskipun ia dikatakan punah, ia masih memiliki anak dari saudara perempuannya. Baik anak dari saudara satu perut  (ibu), anak dari saudara satu nenek, dst. Inilah Yang dimaksud yang bertali adat, yaitu pewarisan berdasarkan adat matrilinial, yang pengaturannya adalah :

a.  yang setampok, yaitu kerabat terdekat karena sakaum.

b. yang sejengkal, yaitu kerabat terdekat karena sapasukuan

Solusi kekakuan Silsilah Keluarga:

Berkenaan dengan penegakkan Adat Bersendi Syara’ syara’ bersendi kitabullah – yang dituangkan dalam prinsip : Syara’ Mangato Adat Mamakai, sebuah solusi ditawarkan dalam menyusun Ranji. Caranya membuat silsilah berdasarkan Pohon Keluarga dengan menggunakan software tertentu yang dikenal dengan Family Tree Maker. Family Tree Makers  melakukan pencatatan keturunan dari pihak ayah dan pihak Ibu. Family Tree Makers  paling tepat diperkenalkan untuk keperluan ini, yang coba di perkenalkan oleh warga minangkabau dengan sebutan Ranji ABS – SBK.

Apa manfaatnya dan seberapa pentingkah sebuah ranji ABS – SBK itu dalam system kekerabatan di Minangkabau sekarang ini ?.

Adanya suatu transformasi nilai-nilai yang menyeimbangkan hukum adat didalam hukum syariah islam, maka Ranji ABS-SBK ini sangat berguna :

a.     Untuk mangukuhkan silsilah yang sudah dan menambahkan silsilah keluarga dari pihak ayah guna mempererat tali persaudaraan yang longgar.

b.    Garis katurunan bertali adat menjadi jembatan pewarisan pusaka tinggi, sedangkan garis keturunan bertali nasab (ayah) merupakan jembatan bagi pewarisan pusaka rendah.

Ranji ABS-SBK ibarat memulangkan sirih ke gagangnya serta memulangkan pinang pada tampuknya. Yang terpenting didalam pelaksanaan ABS – SBK adalah memberikan pemahaman kapada seluruh masyarakat Minang, baik yang hidup di Ranah Minang maupun di perantauan tentang pentingnya silsilah orang tuanya. Ranji ABS-SBK ini bukanlah untuk mempertentangkan pewarisan pusako tinggi dan pusako randah, Yurisdiksinya system pewarisan itu telah ada sebelumnya. Ranji ABS – SBK,  tidak saja berguna bagi  penerapan syariah Islam mengenai silsilah keturunan dan pewarisan, akan tetapi juga untuk mempertahankan harta pusaka tinggi dalam kasus-kasus kepunahan. Seperti yang terlihat pada beberapa Yurisprudensi mengenai Punah sehubungannya dengan pewarisan.

 Jadi berdasarkan kesimpulan itu, maka tidak ada yang perlu dikawatirkan apabila masyarakat minangkabau mulai menerapkan ranji ABS SBK ini didalam kehidupan berkeluarga sesuai dengan uraian yang tersebut diatas.

Puspiptek, Serpong 1 April 2009

Tulisan ini sudah diterbitkan dalam Buku.
Judul buku : Padusi – Perempuan yang mendayung biduk ke hulu
Penulis : Hifni Hafida
Penerbit : Pustaka Padusi.
No ISBN : 978-602-1936-0-3

Iklan

0 Responses to “Pohon Keluarga Minangkabau”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,001,875 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: