12
Jul
11

‘ NAGARI MANICIKA’


Oleh : Hifni Hafida

Kasus pemberian gelar adat oleh KAN Padang telah hampir sebulan berlalu, namun tidak menyurutkan keingintahuan saya untuk mencari informasi tentang hal ini. Jujur saya punya kepentingan. Pertama karena adanya falsafah ABS – SBK yang kita jadikan pedoma dalam beradat dan berbudaya, Kedua, karena sebagai perempuan yang hanya bisa merambah-rambah rumput yang ada diseputar kaki, saya ingin tegaknya semangat  falsafah adat minang dibidang property ‘ jua indak makan bali – gadai indak makan sando ‘ – jangan sampai terkikis oleh kepentingan pihak tertentu.

Itulah ujung dari kekawatiran saya tentang kota ini. Tanah Pusaka Kaum – dikota itu hanya tinggal segelintir. Yang di Pasagadang – pusat saudagar minang zaman dahulu, yang di Alang Laweh – Subarang Padang – Parak gadang, Ranah, dll sudah punah karena dibagi-bagi oleh kaumnya. Hanya Simpang Anam yang masih berada dalam kedudukan ” ganggam nan bauntuak bagi kaum perempuan keturunan Puti Rakena Gading, dibawah kendali Mamak Kepala Warisnya yang masih bertahan. Dan di Simpang 6 itu pula terletak Kampuang Cino dan Kampuang Kaliang serta Kampuang Nieh…Lokasi keberadaan masyarakat heterogen itu.

Saya tak punya daya ketika ingin menyikapi pemberian gelar sasangko adat kepada dua orang pengusaha yang menguasai perekonomian ‘KOTA PADANG”. Dikota inilah berada sebuah ke NAGARIAN PADANG yang lebih tepat saya sebut sebagai ” Nagari MANICIKA ” , yang dihuni oleh warganya yang heterogen yang berasal dari : Malayu, Aceh, Nieh, China, Kaliang. Abaikan isitilah Nagari Manicika ini – jika di kaitkan dengan ke Nagarian Padang yang ingin saya hormati dan dikenal dengan Nagari nan Salapan Suku, Karena disini ada delapan orang Penghulu yang dikenal dengan nama Niniak Mamak nan Nan Salapan Suku.

Saya tak habis pikir – bagaimana saya,  yang pada masa kecil dulu berada dilingkungan masyarakat yang heterogen itu – kami tetap berada pada peran dan posisi masing- masing. Melayu yang ada dikota itu tetaplah orang Minang yang merantau ke Pesisir (Padang) dengan segala adat dan budayanya. Demikian pula Nieh – China – Kaliang adalah masyarakat yang punya komunitas masing-masing – mereka juga perantau. Mereka juga punya adat dan budayanya. Kami menghargai kehidupan mereka masing-masing. Saya dapat menyaksikan – pelaksanaan upacara dan adat masing- masing. Entah itu perhelatan Imlek dengan Barongsai dan Kudo Api-apinya. Begitu pula cara orang Kaliang melaksanakan budaya dan bernuansa Islam dengan kita Melayu dalam acara peringatan hari kelahiran Nabi dengan Berzanzinya.

Ketika gelar sasangko adat Minang – Datuak Rajo Putiah dan Sutan Rangkayo nan Mudo – dilekatkan kepada salah satu etnis yang kuat dalam bidang ekonomi, hati ini benar – benar geram.
Saya menelpon teman masa kecil saya – yang kebetulan saat ini menyebut saya sebagai Mintuonya. Sebuah sebutan bagi Istri Tungganainya di Keluarga besar Puteri Rakena Gading buah perut Putri Saridiam.

Dia menyambut pertanyaan saya dengan gelaknya terbahak-bahak. Katanya : ” apalagi yang mintuo tuntut. Alah salasai dek KAN mah “. Sudah melewati pengkajian yang berlapis. Pemberian gelar itu sudah dipalajari selama 3 tahun ketika yang bersangkutan mengajukan permohonan untuk diberikan gelar sasangko adat pada tahun 2007 yang lalu.
Ha..ha..ha.. tawanya tergelak-gelak membuat saya tambah geram…

Haaahhh.. saya terperangah. Saya berteriak – teriak karena komunikasi HP yang terkendala. Penghulu itu sadar gak sih dengan dampak yang akan ditimbulkan dalam pemberian gelar itu…??? Habis sudah pusaka kaum – karena akan digerogoti oleh Datuak Rajo Putiah itu….??? Bukankah Etnis Datuak Rajo putiah itu  – pernah menuntut tanah pusaka kaum kita untuk dimilikinya hingga berperkara ke Mahkamah Agung…????
Saya berseru : ” Saya ndak punya hak atas tanah itu – tetapi saya sebagai perempuan minang yang ingin menegakkan Adat Bersendi Syara’ – Syara’ bersendi kitabullah saya harus peduli..!?. Saya berpihak kepada kaum perempuan sebagai pengelola tanah kaum – meskipun perempuan di Kaum itu – tidak menyadarinya. Tau tidak – di tanah pusako Rakena Gading itu – kedudukan Bako anak saya berada.
Lebih lanjut saya katakan : ” Tau tidak kamanakan wahai kamanakan Mintuo..?? orang rantau dan orang Jakarta semua protes…!!

” Orang Rantau dan Jakarta mana yang protes… Mintuo ? katanya lagi lagi terbahak-bahak.
Tau ndak urang rantau itu, kalau Kota Padang ini butuh pembangunan. Bagaimana membangkitkan perekonomia. Agar orang – orang nan indak basunek itu – mau kembali menanamkan modalnya di kota Padang ini.. ??? Orang Rantau itu jangan hanya bisa protes saja..!!. Coba pula lah bangun Nagari kita ini….!!! Ekonomi di kota ini dibangun dek mato sipit itu mah.. Begitulah ucapannya yang tak habis-habis dia tertawa terbahak-bahak yang membuat darah saya tambah mendidih. Kok dengan entengnya dia menanggapi masalah ini.

Saya ndak kalah argumentasi. ” Tau ndak kamanakan junjungan ambo….??  Bagaimana mungkin ada datuak kita yang bermata sipit..?? Agamanya palang. Disaat pemetaan kristenisasi itu sudah ada terpampang dihadapan mata…???
Bahkan kami di Rantau juga sudah membuat kesepakatan tidak tertulis,  jika ada perempuan dan pria minang yang berpindah akidah. Diputuskan ‘ dibuang dari adat…!!! Dia itu tidak bisa dijadikan Bundokanduang. Inyolah jadi BUNDUANG. Bagi yang laki-laki tidak bisa dijadikan ninik Mamak di Kaumnyo…

” Iyo..iyo Mintuo .. KAN itu lai tau mah.. Datuak ko iyo ndak basunek, tapi inyo lai ado perhatian ka Nagari awak. Contohnyo. Lah nyo bangun baliak Masjid Gantiang …!!! yang akan cagar budaya.
Saya berucap ” ” Asytag firullah al adzhim…..
Lalu dimana posisi Lembaga Tungku Tigo Sajarangan.?  Bagaiman Pemda sebagai pembina Budaya…????   kata saya. LKAAM… bagaimana ??? Budayawan Minang….???? Bukankah para budayawan bersepakat membela adat matrilinial sehingga Seminar Kebudayaan Minangkabau dianggap akan mencemari adat matrinilial..?? karena ingin menegakkan ABS – SBK.

Hay yai yai..yo… Pemda dan sadonyo jajaran tu bana nan mandukuang. Bahkan kini.. asal Mintuo tau .. Kini lah disadiokan 3 gelar pulo untuak nan lain..  Antah ka sia di agiah .. ambo indak tau… Kini ambo buka rahasio asal Mintuo tau yo. Bia Mintuo tambah marabo.. Gala itu.. akan dilewakan secara besar-besaran bersama sama urang mato sipit nan datang dari Jakarta. Boss boss dari Jakarta juga akan datang. Mereka akan membuat prosesi dari Pangeran Beach Hotel – menuju Kantor KAN – Padang. Melawati Kantor Gubernur / Wagub dan jajaran dinasnya. Dima pulo aparat PEMDA indak tau. Sampai di Kantua KAN –  Disambut oleh Penghulu nan salapan. Prosesi akan diiringi dengan kesenian talempong – randai serta kudo api – api dan Barongsai…
Mintuo ijan marabo ka ambo. Pailah Mintuo ka KAN. Datangilah KAN tuh.. Beko ado nan ulamanyo nan ka manjawek…

Akhirnya.. saya diam… terasa sesak didada ini. Saya ingat alm Wisran Hadi, yang pada akhir hayatnya menuliskan artikel di Haluan yang berjudul ” PANGULU PADANG MANJAGOAN ULA LALOK “.  Atas berita yang dimuat di Singgalang 24 Juni 2011, dihalaman A-12 dalam Laporan Lembaran Khusus untuk pemberian gelar Datuak Rajo Putih dan Sutan Rangkayo nan Mudo itu.
Jangankan saya – seorang budayawan yang sekaliber Wisran Hadi saja, hanya mampunya menulis untuk menyikapi pemberian gelar adat oleh KAN Padang itu. Padahal ia memiliki seorang isteri yang cendekia pula dalam kedudukannya sebagai Ketua Bundokanduang Sumbar. Lalu… apalah saya… ….????

Demikianlah seseorang yang saya sebut kemenakan ini – sebenarnya ia pun telah berjuang pula sebagaimana saya mempermasalahkan pemberian gelar adat itu. Katanya ; ” saya sebenarnya tersingkir dari kebulatan suara dan tekad orang-orang di KAN itu tatkala membahas dan bersikeras dalam pemberian gelar adat ini. Iyo bana.. Nagari awak lah tagadai mah… Jiko Mintuo mau berjuang.. berjuang lah secara kelembagaan. Habis energi kita bila sendirian. Negara dan negeri kita sudah dibeli oleh mereka. Ka baa juo lai…????

Yang saya bisa sikapi secara arif hanyalah, bahwa Ka Nagarian Padang itu memang lain. Adat nan Salingka Nagari ini tidak sama dengan KAN – KAN di Nagari nan lain. Nagari Macinika yang masyarakat  heterogen itu, hanyalah sebagian kecil yang ada didalam 3 kecamatan yang berada di dalam wilayah KAN Padang. Tetapi gaungnya bisa menjadi melebar. Saya tak ingin Melayu dianggap sebagai bagian dari Nagari Macinika itu dianggap seperti ” Tikus yang mati di Lumbung Padi seperti yang dialami oleh suku Betawi “. Istilah ini saya kutip dari seorang teman yang menaruh harapan agar saya tegar menyuarakan kemaslahatan  adat dan budaya. Karena ujung – ujungnya akan menggerogoti status status tanah pusaka kaum yang dilindungi oleh PERDA Ulayat.

Wallahualam,12 Juli 2011

Puspiptek, Serpong,

Iklan

2 Responses to “‘ NAGARI MANICIKA’”


  1. 1 sutan indra kesuma oesman glr sutan suri dirajo
    Januari 18, 2012 pukul 5:29 pm

    Assalamu’alaikum wr wbr,
    Dear Ibu Hifni,
    Saya sangat bangga membaca tulisan yang telah Ibu sajikan dengan cara khas seorang perempuan Minang dalam menghadapi ketidakpatutan yang terjadi akhir-akhir ini di kota Padang. Sebagai putra Padang asli versi Belanda (nenek moyang kami telah menetap di Padang sebelum abad 18), saya sangat…sangat…sangat….. menyesalkan terjadinya pemberian gelar kepada mereka yang tidak pantas untuk menyandangnya. Untuk itulah kita perlu memikirkan cara terbaik agar hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi di kemudian hari. Jika Ibu berkenan, saya dengan senang hati akan mendukung usaha Ibu dalam memperjuangkan kebenaran dan meluruskan penyimpangan yang telah dilakukan oleh para Ninik Mamak kita di KAN Padang.
    Wass wr wbr,
    stiko

  2. 2 Eva Desmira
    Februari 23, 2016 pukul 3:32 am

    Boleh saya share Bunda Hifni


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,001,880 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2011
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: