21
Jul
11

Gelar Adat; Legitimasi bagi Keberadaan suatu Kaum


 Oleh : Puti Reno Raudha Thaib

Hak bamiliak
Harato bananpunyo
Badiri adaik diateh sako
Badiri sako diateh pusako
Badiri pusako diateh kaum

Ada gejala perubahan sikap dan pandangan sebagian orang Minangkabau terhadap gelar adat, memandang gelar adat itu sebagai status sosial kebangsawanan atau keningratan seseorang, seperti gelar-gelar di suku lain. Padahal, gelar adat bagi orang Minangkabau adalah fungsi sosial, yang mengemban amanah yang diberikan oleh kaum yang memberi gelar.

Hal ini jelas terlihat, banyak tokoh masyarakat yang sukses batagak gala, dengan upacara malewakan yang meriah. Tetapi sesudah itu, gelar tinggal gelar, bahkan tidak mau memakai gelar itu di belakang namanya.

Gelar menurut adat dan budaya Minangkabau merupakan kehormatan, kebesaran dan marwah suatu kaum. Merupakan legitimasi bagi keberadaan suatu kaum, yang bertautan dengan kepemilikan sako dan pusako kaum. Oleh karena itu, dalam pemberian gelar ada aturan yang sangat ketat.

Tiga kategori gelar menurut adat dan budaya Minangkabau; pertama, gelar sako: Pengulu, manti, malin dan dubalang disebut juga dengan urang ampek jinih; gelar sako diturunkan secara turun-temurun menurut ranji kaum berdasarkan sistem matrilineal (batali darah). Gelar sako tidak dapat diberikan atau dianugrahkan kepada lelaki di luar kaum pemilik gelar sako tersebut. Dalam pewarisan gelar sako ini didasarkan pada kelarasannya, kelarasan Koto Piliang memakai sistem; Patah tumbuah, iduik bakarilaan. Pewarisan gelar, kelarasan Bodi Caniago memakai sistem; hilang baganti, mati batungkek budi.

Kedua, gelar mudo, gelar yang diberikan kepada laki-laki Minangkabau yang akan memasuki jenjang perkawinan. Dalam adagium adat: Ketek banamo, gadang bagala. Gadang di sini berarti sudah menikah. Gelar ini dapat diberikan oleh: mamak, bako (kaum ayah) atau kaum istri berdasarkan (batali adat). Gelar ini tidak bisa diturunkan kepada anak atau kemenakan secara langsung.

Ketiga, gelar sangsako, gelar kehormatan yang diberikan kepada orang–orang yang berjasa baik (batali suto atau batali ameh),terutama dalam bidang adat dan kebudayaan Minangkabau. Gelar sangsako ini tidak dapat diturunkan kepada anak atau kemenakan dengan adagium adatnya: sahabih kuciang, sahabih ngeong.

Adat  Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) sebagai pedoman dan jalan hidup masyarakat penganut dan pengamal adat dan budaya Minangkabau adalah sesuatu yang final. Artinya, tidak ada kemungkinan lain untuk mengubah, mengganti adagium tersebut sepanjang masyarakat Minangkabau mengamalkan adat budaya dan agamanya. Adat dan budayanya adalah adat dan budaya Minangkabau, agama yang dianutnya adalah agama Islam. Sepanjang sejarahnya ABS-SBK tidak pernah mengalami gugatan dari masyarakat untuk mengamalkannya, bahkan semakin hari sampai sekarang semakin nyata dan terus disempurnakan.

Konsekuensinya tidak ada istilah Minangkabau Islam dan Minangkabau tidak Islam. Minangkabau itu Islam. Tidak ada pembenaran dalam bentuk apa pun yang memberikan peluang bagi sebuah keluarga Minangkabau memeluk agama di luar agama Islam bagi anggota kaumnya. Akibatnya, segala hal yang bersangkutan dengan pranata di dalam perkauman dan kemasyarakatannya, akan mengacu kepada adagium ABS-SBK.

Mengikut aturan pemberian gelar apakah gelar sako, gelar mudo maupun gelar sangsako, tidak dibenarkan memberikan gelar dalam ketiga kategori tersebut kepada orang di luar agama Islam. Kecuali gelar itu gelar gara-gara yang berarti kita telah melecehkan orang yang kita beri gelar tersebut. Sebab, ketiga gelar itu bertautan dengan institusi perkauman. Gelar-gelar tersebut mengemban fungsi dan tanggung jawab sesuai menurut bentuk pertaliannya. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memberikan penghargaan kepada jasawan tidak harus dengan memberi gelar adat.

Mudah-mudahan kita jangan latah dalam mempersendokan adat dan budaya kita, hingga bisa-bisa nanti akan menjadi pisau bermata dua bagi anak cucu kita di kemudian hari. Wassallam. (*)

Pengurus Bundo Kanduang Sumatera Barat

sumber : Rabu, 20/07/2011 – 23:23 WIB  Padang Today

Iklan

2 Responses to “Gelar Adat; Legitimasi bagi Keberadaan suatu Kaum”


  1. Januari 25, 2013 pukul 11:34 am

    Ketentuan untuk memberikan gelar adat kepada pemuda-pemuda yang baru kawin ini, tidak hanya harus berlaku dari rang sumando atau menantu-menantu yang memang berasal dari suku Minangkabau saja, tetapi juga dapat diberikan kepada orang semenda atau menantu yang berasal dari suku lain. Kepada menantu orang Jawa, orang Sunda bahkan kepada menantu orang asing sekalipun. Karena gelar seorang menantu sebenarnya lebih berguna untuk sebutan penghormatan dari pihak keluarga mempelai wanita kepada orang semenda dan menantunya itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,032,928 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2011
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: