26
Jul
13

Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem


ImageAdat Minangkabau bersifat Supra System, akan menjelaskan konsep kepemilikan harta pusaka di Minangkabau sebagaimana tergambar dalam  istilah “ jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando ”, yang ditetapkan  dalam pengaturan tanah ulayat demi mempertahankan pusaka tinggi masyarakat hukum adat. Berangkat dari pemikiran demikian, saya mempertanyakan apakah pengaturan harta ini sama dengan sistem yang dianut oleh negara-negara sosialis ?

PERDA No. 6 Tahun 2008 (Sumbar), menyatakan bahwa tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adat Minangkabau  “ jua indak makan bali, gadai ndak makan sando ”. Tanah ulayat meliputi tanah ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat rajo, dan mungkin tanah-tanah yang berstatus ganggam nan bauntuak bagi kalangan padusi/perempuan di ranah Minangkabau

Mengamati perlindungan tanah ulayat di Sumatera Barat, semula saya bertanya, apakah tidak akan menyebabkan semakin sulitnya investor untuk menanamkan modalnya? Setiap pulang kampung, saya tidak melihat gerak pembangunan yang memadai di ranah Minang. Namun demikian, saya mendukung konsep jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando, sebagai pengikat sistem kepemilikan tanah yang kokoh dan bertujuan untuk melindungi warganya. Artinya, meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi jika digadaikan─jaminan. Tanah tidak berada dalam genggaman pemberi gadai.  Inilah konsep pertanahan yang paling ilahiah, karena tidak menimbulkan keserakahan bagi pihak-pihak yang ingin menguasai tanah dengan dalih yang bertentangan dengan aturan adat.  Disinilah keunggulan adat Minangkabau itu demi mempertahankan property keluarga, kaum, suku dan Nagari.

Dengan merujuk pada pendapat Ali Syariati (sosiolog Iran), saat kami mendiskusikannya di milist RantauNet,   Datuk Endang Pahlawan berupaya menjelaskan tentang situasi dan hubungan sosial yang terkait dengan perlindungan masyarakat. Datuk Endang Pahlawan mengutip buku Ali Syariati “ Tugas Cendekiawan Muslim”  yang diterjemahkan oleh Amien Rais, ada dua  profesi tertua di dunia yaitu bertani dan berburu, yang dapat disimplifikasi menjadi reproduksi dan ekstraksi. Di Minangkabau ada istilah manaruko (mengambil apa yang disediakan oleh alam) dan meramu (mengolah untuk mendapatkan hasil). 

Silahkan lanjutkan membaca pada buku :  Padisi ~ Perempuan Mendayung Biduk Ke Hulu

Penulis  :   HIFNI HAFIDA

Nama penerbit : Pustaka Padusi.   No ISBN : 978-602-1936-0-3

Buku dapat dipesan melalui email : Pustakapadusi@yahoo.co.id

Ibu Lina  : telp (021) 70564488, hp : 081291222806, Fac : 021-7564302

Harga untuk Rp 50.000,- belum termasuk ongkos kirim.

Iklan

1 Response to “Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem”


  1. Desember 3, 2013 pukul 4:56 am

    onde mande, jd kalau jua indak,makan pun bali. .tanah ulayat itu milik sia? Slm.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 1,065,195 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2013
S S R K J S M
« Des   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: