04
Sep
13

harapanku kepada bumi minang


Oleh  Ust. Abu Sangkan

Ketika sepulang dari Darmasraya Sumatera Barat, hampir sampai di Indarung sekitar 15 km,  ada Truk melintang dan menghalangi jalan di depan kami. disebabkan ban nya meletus tertusuk besi beton, sehingga arus lalu lintas dari dua arah tertutup total.

Sambil menunggu perbaikan selama berjam-jam, rombongan mampir dulu di warung kopi untuk menghangatkan badan dari udara pegunungan.  Aku bilang kepada bu linda (isteri ustad,pen) : ”  pasti ada rahasia Allah yg sangat besar buat kita Nduk. Nggak mungkin Allah merencanakan macet selama ini kalau hanya disuruh beli kerupuk dan kopi ke tukang warung ini.

“  Coba kamu perhatikan, berapa KM panjang antrian mobil dari dua arah, padahal tempat kita menginap tinggal 15 km lagi.

“ Allah tiba-tiba mentakdirkan ban truk itu pecah.

Kita semua kumpul di warung ini. Terdiri  Pak Rizaldi, pak wid, pak Adi, pak daus, pak marzen dan mas udik. Kami mengobrol perkembangan shalat khusyu’ doeloe dan sekarang di bumi Minang !!.

Dulu SC Padang pernah menjadi percontohan dakwah shalat khusyu’ di indonesia. Karena mampu menembus ke pelosok desa terpencil, daerah transmigrasi.<br />Waktu itu kita bangga SC Padang sudah punya mobil operasional tertulis Shalat Center Sumatra Barat.

Minangkabau pernah jaya. Tetapi setelah ditinggal oleh para tokohnya yang mulai sangat sibuk, shalat khusyu semakin lenyap di bumi minang, Setelah itu muncul peristiwa gempa, sehingga semakin hilang shalat khusyu’ di bumi minang secara manajemen, meskipun secara pribadi masih masyarakatnya masih aktif.

Dalam penantian yg cukup lama itu dan suasana sepi senyap, tiba tiba saya teringat  dan akhirnya kami membicarakan Syekh Khatib Al Minangkabawi, ia seorang waliyullah yang menjadi Imam Masjidil Haram abad 18.  Beliau putera asli minangkabau Sumatra Barat, yang banyak melahirkan ulama-ulama besar dan waliyullah di Indonesia seperti Hadratusy syekh KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Syekhuna Khalil Bangkalan, Karim Amrullah, Haji miskin dll.

Disini, di Bumi Minang ini, saya  baru sadar ternyata seluruh ulama di indonesia adalah satu syekh dan satu sumber ilmu sehingga Islam sampai kepada kita semua. Inilah yang mengispirasi saya meperjuangkan shalat khusyu’. Ada sesuatu yg akan saya tinggalkan sebelum saya mati, yaitu amalan shaleh yg dapat dinikmati oleh generasi kita nanti.

Kita beruntung diamanahkan oleh Allah menghidupkan kembali Al khusyu’ yang sudah hilang, inilah yg disebut lailatul qadar yaitu sebuah amalan yg akan berdampak seribu bulan, yaitu amalan yang bergerak melampaui usia pengamalnya. Subhanallah.

Syekh Khatib sudah meninggalkan kita, tetapi ilmunya masih mengalir sampai sekarang. Ada yang saya takutkan dalam usia 48 tahun ini , saya takut mati, mati seperti kerbau. Apa bedanya bangkaiku dan bangkai kerbau. Anak-anak dan istri akan membuang begitu saja di lobang kubur yg sempit tak ubahnya se ekor kerbau yg mati. Anak-anak akan melupakan dan istri atau suami akan menikah lagi, demikian atasan kita yg pernah kita berbakti sepanjang hidup untuknya pasti akan melupakan kita.

Aku takut mati seperti kerbau, ia hidup untuk bekerja, kawin lalu mati menjadi bangkai.

Usia kita sudah sampai pada proses menua dan sakit-sakitan serta berpacu dgn detak-detak kematian yg tidak  dapat diduga.  Sebentar lagi para tokoh generasi pendahulu sudah pensiun, apa yg akan dibawa pulang ?. Apa hasil dari bekerja dan berbakti kepada perusahaan dan kepada Keluarga, padahal boss anda akan melupakan dan anak-anak serta istri juga tidak akan perduli saat mati nanti.

Masih mendingan orang NU, masih mengenang dgn upacara tahlil, 7 hari, 40 hari,100 hari, 1000 hari, dst.

Nah jika keluarga kita Muhamadyah pasti akan melupakannya, karena menganggap urusan orang mati sdh selesai.  Betul pendapat orang Muhamadiah. Urusan manusia sudah selesai, tinggal apa yg dapat ditinggalkan, agar tidak seperti kerbau mati. Waktu bergerak cepat dan badan semakin mendekat kepada kematian. Kemungkinan masih ada sisa waktu, untuk kita 10 tahun, atau 5 tahun, atau 2 tahun. Wak tu yang sangat sempit bagi kita untuk kembali memperjuangan tugas Al khusyu’.

Setiap hari aku mengontrol detak jantungku, mengontrol darahku, mengontrol otot dan syarafku, karena aku takut sakit, sehingga tugasku menjalankan dakwah tersita tdk dapat lagi menyampaikan pengajaran Al khusyu’.

Waktuku tinggal sedikit hidup di dunia, aku tdk mau konyol dan penuh penyesalan di dikemudian kelak. Takut sakitku bukan takut tidak lama tinggal di dunia, tapi takut kurang puas berjuang memenuhi perintah Allah. Aku ingin gerakan shalat khusyu’ berkembang dgn cepat dgn system manajeman yg baik, dikelola oleh org yg cerdas dan ikhlas karena Allah. Aku tdk mau perjuangan ini di cengkeram oleh hati yg dipenuhi bertujuan mencari materi dan populariaritas. Kita tidak ada waktu lagi, karena usia kita semakin surut.

Perbincangan kami itu semakin larut , terlihat wajah teman-teman merasakan riqqah turun akibat jiwanya menyadari waktu memang semakin mendekat, dan mereka tak mau hidup menjadi bangkai.  Tanpak cahaya di raut mukanya, riqqah makin deras, setiap kalimat wejangan terurai mengikatkan sirr nya dan Sirr Allah.  Seluruhnya tertunduk bersama cahaya Allah meluruhkan hati mereka (inkisar).

Ya.., di bumi Minang harus hidup kembali cahaya khusyu !  Allah hanya ingin di bumi Minan ada wali, sebagaimana yg pernah saya sampaikan seminggu sebelum gempa.  Allah menunggu yg bersedia menerima hati yg bersih untuk menurunkan ilmu-Nya. Allah memperingatkan mereka dengan gempa agar jangan meninggalkan kekhusukannya pada Ilahi.

Allah sayang kepada Bumi para ulama’ yg terdahulu.  Jangan tinggalkan ajaran ulamamu., Syekh Khatib al Minangkabawi akan bersedih jika kehilangan ilmu yg sangat mulia hilang di bumi minang.

Bersamaan wejangan selesai, truk yg menghalangi jalan kembali di buka, kita turun gunung menuju Wisma Indarung. Mereka kembali bersedia menerima amanah karena cahaya riqqah turun kedalam dada mereka.

Penutup :

Semoga luahan hati ustad Abu Sangkan ini. tentang datangnya orang yg mamqu menghidupkan dan mengamalkan ilmu ulama Minangkabau terdahulu tumbuh di ranah Minang kembali hendaknya ,  Aamiin.

padusi = bundokanduang


0 Responses to “harapanku kepada bumi minang”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Pengunjung

  • 926,826 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

September 2013
S S R K J S M
« Jul   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: