Archive for the 'A. TAMBO DAN SEJARAH MINANGKABAU' Category

08
Des
13

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Lanjutkan membaca ‘Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau’

Iklan
26
Jul
13

Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem

ImageAdat Minangkabau bersifat Supra System, akan menjelaskan konsep kepemilikan harta pusaka di Minangkabau sebagaimana tergambar dalam  istilah “ jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando ”, yang ditetapkan  dalam pengaturan tanah ulayat demi mempertahankan pusaka tinggi masyarakat hukum adat. Berangkat dari pemikiran demikian, saya mempertanyakan apakah pengaturan harta ini sama dengan sistem yang dianut oleh negara-negara sosialis ?

PERDA No. 6 Tahun 2008 (Sumbar), menyatakan bahwa tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adat Minangkabau  “ jua indak makan bali, gadai ndak makan sando ”. Tanah ulayat meliputi tanah ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat rajo, dan mungkin tanah-tanah yang berstatus ganggam nan bauntuak bagi kalangan padusi/perempuan di ranah Minangkabau

Mengamati perlindungan tanah ulayat di Sumatera Barat, semula saya bertanya, apakah tidak akan menyebabkan semakin sulitnya investor untuk menanamkan modalnya? Setiap pulang kampung, saya tidak melihat gerak pembangunan yang memadai di ranah Minang. Namun demikian, saya mendukung konsep jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando, sebagai pengikat sistem kepemilikan tanah yang kokoh dan bertujuan untuk melindungi warganya. Artinya, meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi jika digadaikan─jaminan. Tanah tidak berada dalam genggaman pemberi gadai.  Inilah konsep pertanahan yang paling ilahiah, karena tidak menimbulkan keserakahan bagi pihak-pihak yang ingin menguasai tanah dengan dalih yang bertentangan dengan aturan adat.  Disinilah keunggulan adat Minangkabau itu demi mempertahankan property keluarga, kaum, suku dan Nagari.

Dengan merujuk pada pendapat Ali Syariati (sosiolog Iran), saat kami mendiskusikannya di milist RantauNet,   Datuk Endang Pahlawan berupaya menjelaskan tentang situasi dan hubungan sosial yang terkait dengan perlindungan masyarakat. Datuk Endang Pahlawan mengutip buku Ali Syariati “ Tugas Cendekiawan Muslim”  yang diterjemahkan oleh Amien Rais, ada dua  profesi tertua di dunia yaitu bertani dan berburu, yang dapat disimplifikasi menjadi reproduksi dan ekstraksi. Di Minangkabau ada istilah manaruko (mengambil apa yang disediakan oleh alam) dan meramu (mengolah untuk mendapatkan hasil).  Lanjutkan membaca ‘Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem’

30
Mei
11

Kerajaan Pagaruyung : Hegemoni Melampui Sekat-Sekat Kewilayahan

http://geosejarah.org/index.php?option=com_content&view=article&id=65:kerajaan-pagaruyung-hegemoni-melampaui-sekat-sekat-kewilayahan&catid=34:artikel&Itemid=59

Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau merupakan salah satu kerajaan yang pernah ada dalam khazanah sejarah Minangkabau. Kerajaan yang diperkirakan berdiri pada abad ke-14 di daerah darek Minangkabau, tepatnya berpusat di Pagaruyung, Batusangkar. Kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan sekitar abad ke-15 Masehi, semasa pemerintahan Adityawarman berkuasa (Amran, 1981 : 37 ; Kiram, dkk, 2003 : 11 dan Imran, 2002 : 20). Sebagai sebuah kerajaan besar dizamannya, Kerajaan Pagaruyung sendiri memiliki kerajaan kecil sebagai “wakil raja” untuk memerintah di daerah. Kerajaan-kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung dan langsung diberi otonomi khusus untuk mengurus kepentingan pemerintah dan ekonominya. Lanjutkan membaca ‘Kerajaan Pagaruyung : Hegemoni Melampui Sekat-Sekat Kewilayahan’

13
Des
10

” Kubuang Tigo Baleh “

Daerah Solok dalam Tambo Minangkabau dikenal dengan nama Kubuang Tigo Baleh yang merupakan bagian dari Luhak Tanah Datar. Daerah ini tidak berstatus “Rantau” (daerah yang membayar upeti), malah mempunyai Rantau dan Pesisirnya sendiri.

Daerah Rantaunya adalah Alam Surambi Sungai Pagu (Solok Selatan) dan pesisirnya adalah daerah Padang Luar Kota dan sebagian daerah Pesisir Selatan.

Dalam pepatah adat disebut, Aso Solok duo Salayo, ba-Padang ba-Aia Haji, Pauah Limo Pauah Sambilan, Lubuak Bagaluang Nan Duo Puluah.

Lanjutkan membaca ‘” Kubuang Tigo Baleh “’

20
Apr
10

Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)

Pengantar  oleh : Hifni. H. Nizhamul

Benar atau tidaknya kisah ini, tidak begitu penting. Cerita dari mulut ke mulut menghasilkan ” KABA”. Dalam  dialektika Minangkaba, maka  si Tukang Kaba, akan mengisahkan sesuatu apa yang ia ketahui – ia dengar dan kemudian ia pahami. Kemduian  Kisah  di nukilkan dalam bahasa serta kiasan yang tinggi.

Bertitik tolah dari perangkat hukum adat, yang menempatkan kaum wanita dimuliakan secara adat, maka Bundokanduang selalu menjadi tokoh dalam suatu peristiwa. Bundokanduang  menjadi figur dan di identifikasi sebagai pilar dan tiang utama dalam sistem sosial kemasayarakatan.

Dari berbagai versi tentang bundokanduang, baik dari Pagaruyung maupun dari Lunang, dapat kita simpulkan bahwa Bundokanduang itu ada disetiap ka Nagarian atau wilayah Minangkabau. Jika ada seorang wanita yang memiliki keunggulan – kharismatik – dimuliakan secara adat dalam satu kekerabatan atau didalam suatu trah tertentu, maka Bundokanduang itu tetap akan hidup  sebagai simbol dan orang yang berpengaruh sebagai kharisma wanita minangkabau.

Lanjutkan membaca ‘Mande Rubiah (Sejarah Bundo Kanduang versi Nagari Lunang)’

19
Feb
10

Istilah Minangkabau di era Bit Informasi

pengantar ~ padusi ~

Artikel ini diambil dari Situs Nagari.or.id, berjudul asli ” Minangkabau sebagai Bit Informasi”. Sangat menarik untuk memahami istilah Minangkabau sesungguhnya. Bahwa istilah yang sebelumnya diriwayatkan oleh Tukang Kaba atau Tambo-tambo sebagai istilah yang berasal dari kemenangan masyarakat minang zaman dahulu dalam pertandingan aduan kerbau.  Di era sekarang ini, dimana manusia tidak bisa lagi diajak memhami sesuatu dengan hal yang berbau mithos dan mistik, maka pemahaman istilah minangkabau di era bit informasi sangat perlu disebar luaskan. Untuk memudahkan pemahaman generasi muda maka kami menyadurnya menjadi potongan-potongan artikel  dalam postingan blog ini.

sumber : http://nagari.or.id/?moda=minangkabau yang artikel aslinya tersebut sebagai berikut :

Penduduk yang bermukim di nagari Tanjuang Sungayang dan Nagari Minangkabau di dekat nagari Pagaruyuang di Luhak nan Tuo, Tanah Datar, menyebut sumber mata air artesis di tempat mereka dengan sebutan “minang”.
Minang memiliki beberapa pancuran untuk mengalirkan airnya, sedangkan sumur mata air yang lebih kecil disebut sebagai “luak”.  Kata ini sering diucapkan pula sebagai “luhak”. Sebutan luak atau luhak memiliki pengertian yang sama oleh seluruh penduduk di daerah lainnya di Sumatera Barat.

“Tiada kehidupan tanpa air”, inilah dalil yang berlaku untuk makhluk hidup. Sementara kata minang berasal dari kata ma-inang yang berarti memelihara atau ibu yang memelihara anaknya.

Lanjutkan membaca ‘Istilah Minangkabau di era Bit Informasi’

15
Feb
10

Kronologis terjadinya istilah Minangkabau

Kronologis terjadinya istilah Minangkabau dalam Perspektif masyarakat  Nagari Tanjuang

sumber : http://nagari.or.id/?moda=minangkabau

Tulisan akan memaparkan munculnya kesadaran “Orang” bahwa pada hakekatnya bumi ini adalah sawah yang tanahnya liat/keras dan memerlukan “Kerbau” sebagai alat bantu untuk mengolahnya serta “Minang” sebagai sumber kehidupan “Manusia”.

ini gambar peta 4  nagari binary

Keterangan gambar :
Empat nagari binary yang bertetangga dengan kerajaan/nagari Pagaruyuang. Sebelum kedatangan penjajah Belanda, keempat nagari ini berkelompok secara adat. Setelah perang Padri berakhir, Belanda menyatukannya dengan sebutan kelarasan Tanjuang.

Mn = Lokasi keberadaan minang, sumber aie nan janieh (mata air hexagonal).  Empat nagari binary yang bertetangga dengan kerajaan/nagari Pagarruyuang
1 = Nagari Tanjuang-Sungayang
2 = Nagari Talago-Sungaipatai
3 = Nagari Andaleh-Baruahbukik
4 = Nagari Sawahliek-Singkayan —> nagari inilah kemudian yang berganti nama menjadi Minangkabau

5 = Nagari Pagarruyuang
6 = Nagari Suruaso
7 = Nagari Kototangah
8 = Nagari Tanjuangbarulak

Lanjutkan membaca ‘Kronologis terjadinya istilah Minangkabau’




Pengunjung

  • 1,065,364 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Desember 2017
S S R K J S M
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: