Archive for the 'C. ADAT – UNDANG-UNDANG – HUKUM' Category

11
Des
15

12 budaya Larangan bagi perempuan Minang

Pengantar :

12  budaya larangan penting diketahui oleh semua kaum perempuan Minangkabau. Sebagaimana yg tertera dalam tulisan berikut ini. Adanya budaya larangan ini tidak akan melekat bila tidak disosialisasikan kepada Masyarakat.
Dalam upaya itu, kami menulis ulang artikel ini yg kami cuplik secara utuh  dari Sumbar.go.id 
———
Minangkabau adalah etnis yang unik, sebagai etnis/suku yang memegang paham matrilineal, Minangkabau meletakkan perempuan dalam posisi yang sangat istimewa. Di alam Minangkabau, perempuan amat sangat dihormati. Perempuan memiliki tempat dan hak suara di dalam kaum. Pendapatnya didengar, pertimbangannya diperlukan. Perempuan benar-benar mempunyai nilai. Jika kita larikan ke falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullahpenghormatan Minangkabau terhadap perempuan selaras dengan penghormatan syarak/agama Islam terhadap mereka, sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam kitabullah (Al-Qur’an).

Keistimewaan yang diberikan kepada perempuan Minangkabau itu tentu harus diikuti dengan serangkaian usaha untuk menjaganya. Sebab, sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang terjaga dan dipelihara sebaik mungkin. Oleh karena itu, para pendahulu menetapkan aturan atau pendidikan terhadap anak-anak perempuan agar tetap menjaga keistimewaan mereka. Nuansa pendidikan itu disebut dengan sumbang, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sumbang ini terdiri dari 12 poin yang bisa kita bahasakan sebagai 12 budaya terlarang bagi perempuan Minangkabau. Budaya dalam konteks ini berarti kebiasaan yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan Minang demi menjaga warisan budaya dari para pendahulunya.

Sumbang Duduak

Duduk yang sopan bagi perempuan Minang adalah bersimpuh, bukan bersila macam laki-laki, apalagi mencangkung atau menegakkan lutut. Ketika duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha. Jika berboncengan jangan mengangkang.

Sumbang Tagak

Perempuan dilarang berdiri di depan pintu atau di tangga. Jangan berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti. Sumbang berdiri dengan laki-laki yang bukan muhrim.

Sumbang Jalan

Ketika berjalan, perempuan Minang harus berkawan, paling kurang dengan anak kecil. Jangan berjalan tergesa-gesa apalagi mendongkak-dongkak. Jika berjalan dengan laki-laki berjalanlah di belakang. Jangan menghalagi jalan ketika bersama dengan teman sebaya.

Sumbang Kato

Berkatalah dengan lemah lembut, berkatalah sedikit-sedikit agar paham maksudnya, jangan serupa murai batu atau serupa air terjun. Jangan menyela atau memotong perkataan orang, dengarkanlah dulu hingga selesai. Berkata-katalah yang baik.

Sumbang Caliak

Kurang tertib seorang perempuan Minang ketika suka menantang pandangan lawan jenis, alihkanlah pandangan pada yang lain atau menunduk dan melihat ke bawah. Dilarang sering melihat jam ketika ada tamu. Jangan suka mematut diri sendiri.

Sumbang Makan

Jangan makan sambil berdiri, nyampang makan dengan tangan genggamlah nasi dengan ujung jari, bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut lebar-lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat dalam bertambah (batambuah).

Sumbang Pakai

Jangan mengenakan baju yang sempit dan jarang. Tidak boleh yang menampakkan rahasia tubuh apalagi yang tersimbah atas dan bawah. Gunakanlah baju yang longgar, serasikan dengan warna kulit dan kondisi yang tepat, agar rancak dipandang mata.

Sumbang Karajo

Kerjaan perempuan Minang adalah yang ringan serta tidak rumit. Pekerjaan sulit serahkanlah pada kaum laki-laki. Jika kerja di kantor yang rancak adalah menjadi guru.

Sumbang Tanyo

Jangan bertanya macam menguji. Bertanyalah dengan lemah lembut. Simak lebih dahulu baik-baik dan bertanyalah jelas-jelas.

Sumbang Jawek

Ketika menjawab, jawablah dengan baik, jangan jawab asal pertanyaan, jawablah sekadar yang perlu dijawab tinggalkan yang tidak perlu.

Sumbang Bagaua

Jangan bergaul dengan laki-laki jika hanya diri sendiri yang perempuan. Jangan bergaul dengan anak kecil apalagi ketika ikut permainan mereka. Peliharalah lidah dalam bergaul. Ikhlaslah dalam menolong agar senang teman dengan kita.

Sumbang Kurenah

Tidak baik berbisik-bisik saat tengah bersama. Jangan menutup hidung di keramaian. Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak. Jika bercanda, secukupnya saja dan diagak-agak, agar tidak tersinggung orang yang mendengar. Jagalah kepercayaan orang lain, jangan seperti musang yang berbulu ayam.

Keistimewaan tentu harus dijaga dengan usaha yang ekstra. Bagai berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Perempuan Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang dicontohkan itu. Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh. Sebab, ketika perempuan Minang bisa menjaga semua itu. Ketika perempuan Minang mampu menjaga diri dari 12 sumbang yang telah dijelaskan di atas, dari situlah kecantikan sejati akan memancar dan kecantikan itu sampai kapanpun takkan pernah pudar.

17
Apr
15

Bid’ah versi ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Oleh : Marni Malay

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio

“Panakiak pisau sirauik ambiak galah batang lintabuang, salodang ambiak ka niru,Nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru.”

Inilah redaksi lengkap dari falsafah alam takambang jadi guru,yang artinya, air yang setitik rela (ihklas) diterima laksana sebanyak air lautan, tanah yang sekepal (segenggaman tangan) rela diterima laksana sebesar gunung dan alam semesta raya ini dijadikan guru (tempat belajar dan atau pemberi pelajaran).

Falsafah alam takambang jadi guruadalah, “ filsafat hukum alam” dan atau, “ filsafat hukum kodrat”, yang merupakan pandangan hidup (way of life) orang Minangkabau, salah satu suku bangsa rumpun Melayu Nusantara, atau yang sering juga disebut dengan suku bangsa Melayu Minangkabau, yang telah bermukim di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnyaatau juga yang lebih dikenal dengan sebutan,” Ranah Minang”, sejak kira-kira2500-2000 tahun lalu atau antara abat ke 5 -1 SM. Mereka meyakini bahwa falasafah tersebut disamping sebagai pandangan hidup mereka, juga merupakan, “ norma dasar” atau sumber dari segala sumber hukum (Grundnorm) terbentuknya Hukum Adat Minangkabau yang telah diwarisi secara turun-menurun dari nenek moyangnya. Dapat dikatakan kedudukan falsafah tersebut dalam hukum adat Minangkabau tak obahnya seperti falsafah Pancasila di Negara Indonesia.

Malabihan ancak2, mangurangi sio-sio, syarak mangato adat mamakai, artinya jalankan agama sesuai yang dikatakan Alquran dan Sunnah Rasul, tak boleh dilebih-lebihkan, tak boleh dikurangi, tak boleh menghalalkan yang haram, atau sebaliknya, kerjakan perintah –  tinggalkan larangan. Yang tidak dilarang jangan diharamkan pula. Subhanallah !
(ko pandapek ambo, tasarah sanak memahaminya – pen).

Contoh;
Harta warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal pembagiannya adalah menurut Alquran. Akan tetapi kalau anak laki-laki tak mengambil bagian dari harta warisan orang tuanya, itu tidaklah dilarang, tak ada perintah agama yang melarangnya.Bagi laki-laki minang, anak dipangku kemanakan di bimbiang, makanya tidak mau, dan bahkan malu mengambil harta orang tua.

Selanjutnya, dalam hal Harta Pusaka Tinggi, semua anak cucu keturunan datuak A misalnya berhak atas harta itu, dan dahulu kala mereka mengamanatkan; ” di jua tak makan bali – digadai tak makan sando. Kabau tagak kubangan tingga. Maka apakah haram atau dilarang melaksanakan amanat nenek moyang ?    Subhanallah !

Demikian pula dalam hal adat istiadat; lain padang lain hilalang. tak ada ayat yang menyatakan ritual adat itu haram, malahan justru ayat mengukuhkannya.  seperti : …kujadikan manusia berbangsa bangsa supaya mereka saling mengenal……dstnya.
Nah kalau budaya timur memulyakan hari kelahiran Rasullulah meskipun tak ada hadist atau ayat al Quran yang menyuruhnya ataupun melarangnya, dengan dasar apa pula kita bisa mencapnya sebagai bid’ ah ?

Bahwa sebenarnyalah adat istiadat harus relevan dengan Al Quran.
Contoh ; dahulu orang Arab akan langsung tahu kalau di Makkah, ada orang yang pakai sarung dan kopiah berarti dia orang Indonesia. Pakaian itu diperkenalkan secara tidak sengaja oleh Buya HAMKA. Beliau berkeliling keseantero dunia, selalu berpakaian demikian.
Nah,  terbukti justru adat telah membuat orang Arab atau dunia tahu secara gamblang suku bangsa seseorang. Seperti juga misalnya pakaian orang India. Coba kalau dulu Buya HAMKA ikut-ikutan berpakaian gamis ala bangsa Arab, tentulah sampai sekarang orang Arab tidak akan gamblang mengenali orang Indonesia. Lagi pula apa yang dipakai Rasullulah, dipakai pula oleh orang Arab seluruhnya. Jadi pakaian Rasull termasuk pakaian kebudayaan Arab, apakah dianggap sunnah juga ?
Ada yang mengatakan sama saya,  berpakaian seperti Nabi atau orang Arab termasuk sunnah ?

Falsafah alam takambang jadi guru, suatu bukti kecerdasan nenek moyang orang Minang, bahwa andai kata dibolehkan menjual harta pusaka tinggi, maka suatu hari kelak etnis Minangkabau, kelak kemungkinan akan tersingkir dari kampung halamannya ! Mereka hanya tinggal nama saja, bahkan bisa jadi akan jadi jongos dikampungnya sendiri ! Masya Allah.
Dalam pepatah minang dikatakan ; jalan lah di aliah urang lalu, cupak dituka orang panggaleh.
Artinya : jalan hidup ( pedoman) orang Minang sudah diambil alih orang lain dan menggantinya dengan tata cara  pedagang.
Fakta ini telah banyak terjadi pada suku bangsa lain yang membolehkan menjual tanah. Mereka hampir tak punya tanah lagi sebagai tempat berpijak ditanah sendiri.
Mereka bagaijan tikus mati dilumbung padi. Kaya tapi kelaparan (- editor)

Allah berfirman dalam Al Quran agar manusia berfikir, memperhatikan kejadian langit dan bumi serta alam semesta, sebagaimana yg dilakukan oleh Ibrahim dahulu.
Nah,  ini pula yang dilakukan oleh nenek moyang orang Minang dengan; ,” Falsafah Alam takambang jadi guru”.

Bahwa pengetahuan yang dipetik dari berguru kepada alam semesta, telah memberikan keyakinan kepada nenek moyang orang Minangkabau, bahwa semua rahasia penciptaan alam semesta tersimpan dalam sifat-sifat makhluk dan benda di jagat raya ini, dimana berlaku hukum alam, seperti ;
“ api panas dan membakar, air membasahi dan menyuburkan, kayu berpokok, berdahan dan berbuah, lautan berombak, gunung berkabut, ayam berkokok, kambing mengembek, harimau mengaum dan sebagainya.”

Bahwa hukum alam itu, misalnya; api membakar, air membasahi dan seterusnya, merupakan kodrat yang berlaku universal. Secara logika dan kasat mata kebenarannya tidak terbantahkan. Berdasarkan pandangan hidup yang demikian itu, nenek moyang orang Minang telah menyusun dan membentuk Hukum Adat Minangkabau, yaitu norma-norma hukum atau aturan-aturan hukum tidak tertulis, yang mengatur kehidupan orang Minang, dari hal yang sekecil-kecilnya sampai ke yang lebih luas; politik, ekonomi, hukum, sosial dan sebagainya.

Allah berfirman, tentang kejadian dan keberadaan nyamuk, yang secara logika sulit untuk dipahami untuk apa dia diciptakan. Keyakinan kita orang Islam apapun yang dijadikan Allah pasti ada guna dan maksudnya.

Falsafah alam takambang jadi guru ternyata lebih dahulu telah menjawab ayat itu (sebelum masuknya Islam) dengan pepatah ; nan bungkuak paambuih lasuang, nan buto palapeh badia, nan lumpuah pangajuik ayam…dstnya….,
Subhanallah !

Sahabat,

Maka marilah kita jalankan agama kita, sebagai integritas atau jati diri kita , dengan benar.
” Malabihan ancak-ancak, mangurangi sio-sio, 
Maksudnya, jangan mudah terpengaruh oleh hasutan dan tipu daya yang bertentangan dengan Al Qquran dan hadist yang sekarang marak adanya di dunia maya, hati-hatilah !

07
Nov
13

Alam takambang jadi guru

Kali ini saya tidak mengupas filosofi alam takambang jadi guru. Melalinkan sesuatu yang disimbolkan dalam karya seni. Saya mengambilnya dari halaman ‘ UKIRAN MINANGKABAU “. Paparannya seperti tertera dibawah ini.

Alam Takambang Jadi Guru

By ZODIO MEKER

 

Ukiran tradisional Minangkabau, motifnya diambilkan dari keadaan alam sekitarnya (flora dan fauna), dan adapula diantaranya yang mengambil motif bentuk makanan seperti saik galamai, belah ketupat, dan ampiang taserak. Pepatah menyebutkan:

 

Panakiak pisau sirauik, _________Penukik pisau siraut,

ambiak galah batang lintabuang, __ambil galah batang lintabung,

salodang ambiak ka niru, ________salodang ambil untuk nyiru,

satitiak jadikan lauik, ___________setitik jadikan laut,

nan sakapa jadikan gunuang, ____yang sekepal jadikan gunung,

alam takambang jadikan guru  ___alam takambang jadikan guru.

 

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistis atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan (distilasi) sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang dekoratif sehingga kadang-kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya.

 

Hal tersebut terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realistis. Hal ini masih dapat dilihat pada hiasan ukiran yang terdapat pada menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotifkan ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir tradisional Minangkabau motif-motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.

 

 

Pada motif ukir Minangkabau terdapat galuang/ relung dan ragam. Galuang/ relung yaitu berupa lingkaran yang sambung-bersambung sehingga membentuk relung kearah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, dan sapieh (serpih). 

12
Jul
11

Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA

Menyikapi pemberian gelar sasangko adat pada orang yang bukan pada tempatnya, ternyata para Niniak Mamak yang tergabung dalam “Forum Komunikasi Adat dan Kebudayaan Minangkabau” (FKAKM) Jakarta, yang sekarang telah berganti nama menjadi “Lembaga Adat Kebudayaan Minangkabau” (LAKM) Jakarta, telah melakukan kesepakatan sebagaimana yang tersebut dibawah ini.

Mudah-mudahan dapat di jadikan sebagai bahan dalam hal menyikapi apa yang terjadi pada saat ini, yaitu permberian Gelar oleh Niniak Mamak KAN Nan Salapan Suku di Nagari Padang kepada yang tidak berhak atau bukan pada tempatnya, yang  jelas-jelas bertentangan dengan perinsip “Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS_SBK) Syarak Mangato Adat Mamakai.

Kesepakatan itu adalah sebagai berikut Lanjutkan membaca ‘Hasil Musyawarah Ninik Mamak Minangkabau – DKI Jakarta tentang pemberian gelar sasangko adat – NINIK MAMAK MINANGKABAU PROP. DKI JAKARTA’

20
Mei
11

Pohon Keluarga Minangkabau

Oleh : Hifni Hafida

Dalam masyarakat  Indonesia terdapat 3 (tiga) sistem kekerabatan yang membentuk struktur masyarakat suku bangsa, yaitu :

a.  Sistem kekerabatan  Matrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ibu, seperti di Minangkabau,

b. Sistem kekerabatan  Patrilinial, yaitu menarik garis keturunan Ayah,  seperti di Tapanuli, Sumatera Utara, atau Batak,

c.  Berdasarkan Parental, yaitu melalui garis keturunan IBU dan AYAH (kedua-duanya), seperti di Jawa.

Pembagian struktur kemasyarakatan demikian berdasarkan tinjauan territorial dan geneakolog yang dilakukan oleh para peneliti dalam lingkup telaahan antrolopologis  dan budaya. Faktor genekolog membahasnya dari sisi pertalian darah keturunan. Sementara secara teritori mengamati dari sisi kesamaan dalam berprilaku. Orang Minangkabau merasa bersaudara karena terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis Ibu atau Perempuan. Tidak demikian bagi etnis lain, yang mengikatkan tali kekeluarga hanya pada keluarga batih semata. Lanjutkan membaca ‘Pohon Keluarga Minangkabau’

18
Apr
11

“BAGAIMANA PEMBAGIAN PUSAKA TINGGI, SUDAH SESUAIKAH DENGAN SYARIAT ISLAM DI MINANGKABAU?”

Oleh : DR. Mochtar Naim

Di Minangkabau dikenal ada tiga macam harta, yaitu :

* harta pusaka tinggi,

* harta pusaka renda,  dan

* harta milik pribadi, atau harta pencaharian.

Harta Pusaka Tinggi,   biasanya selalu berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, perkolaman, persawahan, perladangan, perkampungan, perhutanan, dsb, bersalin secara kolektif-alami turun temurun menurut garis ibu (matrilineal), menurut jalur kaum, suku ataupun nagari, dan tidak dibagi.

Fungsinya adalah sebagai harta waqaf  : harta waqaf kaum, suku ataupun nagari. Jadi harta pusaka tinggi yang fungsinya sebagai harta waqaf tidak dimakan bagi. Kalau dibagi justeru salah.

Harta pusaka rendah, tadinya adalah harta milik pribadi, berupa barang tidak bergerak, seperti perumahan, persawahan, perladangan, dsb., yang dihibahkan untuk menjadi harta kaum, suku ataupun nagari, untuk tujuan kesejahteraan kolektif, dan tidak dibagi menurut jalur hukum faraidh.

Harta milik pribadi, apapun bentuknya, dan didapatkan dari hasil jerih payah pencaharian oleh seseorang, ketika meninggalnya, dibagi menurut hukum Faraidh.

Bertentangankah ketentuan adat ini dengan syariat Islam?

Jawabnya: Tidak!    Sebab kalau di-ubah,  maka harta pusaka tinggi dibagi secara hukum faraidh, justeru salah dan bersalahan!

Yang dibagi itu adalah harta milik si mayit! ( almarhum/almarhumah). Dan si almarhum  itu, ketika hidupnya, punya tanggung jawab sosial untuk membagi-bagikan harta yang ditinggalkannya itu untuk tujuan sosial secara faraidh.

Mengenai harta pusaka rendah, masih ada lorong untuk bisa berbagi pendapat. Coba angkatkan dalam forum seperti ini.

Jadi baik harta pusaka tinggi, rendah, maupun pencaharian, semua bertujuan sosial.

Dan ini semua sudah ditetapkan oleh Pertemuan para Ninik Mamak, Alim Ulama dan cerdik pandai Minangkabau di Bukittinggi, kalau tidak salah tahun 1956, di mana juga hadir Inyiak H Agus Salim, Syekh Jamil Jambek, Syekh Sulaiman Ar Rasuli Canduang, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Buya Hamka, Dt Palimo Kayo, dsb.

Dari segi ini, belum lagi ada konstitusi dan undang2 dari negara manapun di dunia ini yang mengatur tentang harta kekayaan, Islam telah lebih dahulu mengatur sistem kesejahteraan sosial, yang dimulai dari diri pribadi, keluarga, nagari dan negara, dalam bentuk hukum faraidh, di mana juga dikenal yang namanya harta hibah dan waqaf.

Tegasnya, harta pusaka tinggi adalah milik kaum, suku ataupun nagari yang dimiliki secara kolektif dan berfungsi sebagai harta wakaf. Harta wakaf secara hukum faraidh tidak boleh dibagi. Karena harta pusaka tinggi yang adalah harta bersama kaum/suku/nagari bukanlah milik dari si mayit yang baru meninggal, untuk kemudian lalu dibagi-bagi, tapi harta bersama yang berfungsi sebagai waqaf yang sifatnya sosial itu.

Masalah terkait yang perlu diangkatkan adalah: masalah tanah ulayat.

Dalam Seminar Kebudayaan Minangkabau kemarin,  sudah disepakati untuk dikembalikan kepada kaum/suku/nagari pemilikannya, tetapi yang pengoperasiannya bisa dilanjutkan oleh perusahaan swasta ataupun negara yang sudah mengelolakannya dengan rakyat dalam lingkup kaum/suku/nagari itu berhak mendapatkan bagi hasil yang sepadan dengan nilai tanah itu.

Keterangan :

Tulisan ini ~ padusi ~ kutip dari milist RantauNet yang ditulis oleh DR. Mochtar Naim, berdasarkan pertanyaan Sdr.  NUZIRMAN ST NURDIN. Mudahan-mudahan memberi manfaat bagi kita semua, untuk mengetahui sejauh mana perkembangan harta pusaka, dalam kehidupan masyarakat minangkabau sekarang ini.

03
Agu
10

Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso

Oleh : Ekadj. Dt. Endang Pahlawan

rumah basandi batu,  adat basandi alua jo patuik. mamakai anggo jo tanggo  sarato raso jo pareso

Norma adat dibentuk oleh Tungku Tigo sajarangan : alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso.

Norma ini mengkristal di dalam adat Minangkabau, dan digunakan dalam berbagai pertimbangan adat.

Ketiga hal ini merupakan Tungku bagi proses masaknya adat, sedangkan apinya adalah para pemangku adat. Setiap penghulu adat hendaknya memahami dan menguasai ketiga norma tersebut, sehingga kepemimpinan adat yang dimilikinya dapat menanak rasa keadilan dan kesejahteraan terhadap kaum yang dipimpinnya. Sedangkan bagi anak Minangkabau pada umumnya, pemahaman terhadap alua-patuik, anggo-tanggo, dan raso-pareso berguna untuk menumbuhkan jatidiri dan memahami batasan-batasan hidup dalam bermasyarakat. Pasar jalan karono dilalui. Lanjutkan membaca ‘Alua-Patuik, Anggo-Tanggo, Raso-Pareso’




Pengunjung

  • 990,700 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Mei 2017
S S R K J S M
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

ARSIP

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: