Archive for the 'D. ADAT DAN TATA CARA PERKAWINAN' Category

05
Mei
08

Adat Perkawinan di Minangkabau

Oleh : Hifni H. Nizhamul

Stelsel matrilineal dengan system kehidupan yang komunal, menempatkan perkawinan menjadi urusan kerabat, mulai dari :
a. Urusan mencari pasangan – manyalangkan mato – maresek,
b. Membuat persetujuan dan pelamaran – pinang meminang,
c. Pertunangan – batimbang tando
d. Perhelatan perkawinan – baralek
e. Hasil perkawinan – system kekerabatan.
Hal ini didasarkan kepada falsafah Minang yang menganggap bahwa manusia dan individu hidup bersama-sama, sehingga masalah rumah tangga menjadi urusan bersama pula. Masalah pribadi sepasang anak manusia yang akan membangun mahligai rumah tangga tidak terlepas dari pengelolaan secara bersama.
Pola perkawinan bersifat eksogami, dimana persatuan sepasang suami dan isteri tidak menjadi lebur dalam satu rumah tangga akan tetapi masing-masing pasangan suami isteri itu tetap berada dalam kaum kerabatnya masing-masing. Didalam struktur eksogami, setiap orang adalah warga kaum dan suku mereka masing-masing, meskipun telah diikat dalam perkawinan dan telah beranak pinak pula. Lanjutkan membaca ‘Adat Perkawinan di Minangkabau’

Iklan
05
Mei
08

Proses Mencari Jodoh

Lembaga perkawinan memerlukan penyesuaian banyak hal. Lembaga perkawinan membentuk kehidupan social baru, yaitu hubungan antara pribadi dengan pribadi lain, antara keluarga dengan keluarga lain, antara kerabat dengan kerabat lain. Latar belakang antara kedua keluarga bisa sangat berbeda, baik cara, kebiasaan, tatacara adat dan budaya, dll. Karena itu syarat utama yang harus dipenuhi dalam perkawinan, kesediaan dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari masing-masing pihak. Pengenalan dan pendekatan untuk dapat mengenal watak masing-masing pribadi dan keluarganya penting sekali untuk memperoleh keserasian atau keharmonisan dalam pergaulan antara keluarga kelak kemudian.
Perkawinan juga menuntut suatu tanggungjawab, antaranya menyangkut nafkah lahir dan batin, jaminan hidup dan tanggungjawab pendidikan anak-anak yang akan dilahirkan. Di Minangkabau membawa konsekwensi, yaitu ketentuan adat, maupun ketentuan agama dalam mengatur hidup dan kehidupan masyarakat Minang, tidak dapat diabaikan begitu saja dalam pelaksanaan perkawinan. Kedua aturan itu harus dipelajari, dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya menurut tatacara perkawinan yang berlaku di Minangkabau. Mengabaikan ketentuan adat maupun ketentuan agama Islam dalam penyelenggaraan perkawinan, akan membawa konsekwensi yang pahit bagi kelanjutan anak keturunan.
Lanjutkan membaca ‘Proses Mencari Jodoh’

05
Mei
08

Persyaratan Dalam Pra Penikahan

Pada masa batimbang tando – pertunangan, ada beberapa hal yang perlu di klarifikasi antara kedua belah pihak, yaitu menyangkut tatacara, persyaratan dan lain-lain yang dilakukan pada saat perhelatan akan diselenggarakan. Dalam mengisi persyaratan ini, tidak berdasarkan untuk meraih kemenangan antara pihak pria dan wanita, akan tetapi demi menjaga kehormatan keluarga, dimana pihak yang bisa mengisi kebutuhan calon mempelai tentu akan medapat penilaian yang baik dimata masing-masing keluarga lain. Variasi tentang hal ini cukup beragam, sama halnya dengan pepatah yang mengatakan ; lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya. Lanjutkan membaca ‘Persyaratan Dalam Pra Penikahan’

05
Mei
08

Meminta Izin – Doa restu (Ma – anta Siriah)

Oleh : Hifni Hafida

Meminta izin untuk memperoleh doa restu, wajib dilakukan calon pengantin pria (CPP) kepada para ninik mamaknya. Seorang pemuda di Minangkabau – menempuh hidup berkeluarga bagaikan berangkat pergi merantau. Ia akan menjadi tamu abadi didalam keluarga besar isterinya kelak. Karena itu ia mesti mendapat bimbingan adat dari orang tua-tua dan para sesepuh dikeluarga besarnya. Bagi seorang pemuda telah ditentukan jodoh dan hari perkawinannya, maka kewajiban yang pertama menurut adat yang harus dilakukan sebelum ia melepas masa bujang ialah; memberi tahu dan mohon doa restu kepada ninik-mamaknya, saudara-saudara ayahnya; kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan kepada orang-orang tua lainnya yang dihormati dalam keluarganya itu. Acara ini pada beberapa daerah di ranah Minang disebut minta izin atau meminta doa restu.
Bagi calon pengantin wanita (CPW), tidak ada kewajiban untuk meminta restu kepada ninik mamaknya, karena sebagai wanita – ia adalah pengikat hubungan antara keluarga didalam perkawinan eksogami itu. Segala sesuatu yang harus dipenuhi dalam tata cara adat dan budaya telah dilaksanakan oleh kaum keluarganya. Seandainya ia telah memperoleh jodoh hasil dari manyalangkan mato – maresek, maka akan ada wakil dari wanita yang telah berkeluarga yang akan menyampaikan kepada ninik mamak didalam kaumnya.

Lanjutkan membaca ‘Meminta Izin – Doa restu (Ma – anta Siriah)’

05
Mei
08

Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro

Oleh : Hifni Hafida

Meskipun sekarang ini acara memandikan CPW/anak daro tidak dilakukan lagi, namun beberapa nagari di Sumbar, acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. CPW/anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian wanita-wanita tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pegantin itu.

Lanjutkan membaca ‘Memandikan Calon Pengantin Wanita/anak daro’

05
Mei
08

Acara Babako –Babaki

Acara babako, adalah tradisi yang mencerminkan kehidupan bergotong royong pada masyarakat Minangkabau, dimana kerabat ayah CPW memberikan barang antaran untuk CPW, yang terdiri seperangakat kebutuhan wanita yang disusun dalam baki baki sesuai dengan jumlah barang yang akan diantara tadi.
Penyelenggaraan acara perkawinan menurut adat di Minangkabau melibatkan seluruh anggota kerabat baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Sungguhpun kewijiban utama penyelenggaraan acara itu berada di tangan para ninik mamak pengantin wanita, namun juga melibatkan kerabat dari pihak ayah. Biasanya jika ada hajad untuk menyelenggarakan perkawinan, maka ibu dari Calon Pengantin Wanita (CPW), akan memberi tahukan pihak saudara suaminya (bako dari CPW), tentang gadisnya telah beroleh jodoh. Selanjutnya ia akan menyampaikan urutan acara dan upacara pra pernikahan, upacara akad nikah. Ia mengundang pihak “induk bako/bako” ( ibu mertuanya – bila masih ada dan saudara suaminya) atau iparnya untuk ikut melepas anaknya menuju jenjang pelaminan. Bagi periparan dan pebesanan sesama Minangkabau, maka dengan sendirinya undangan ini dipahami sebagai permintaan bantuan atau sumbangan bagi anak gadisnya yang akan melakukan pernikahan itu. Ada suatu kiasan yang menyatakan “ sabalun bakilek alah bakalam”, yang artinya bahwa pihak yang diajak berunding dengan sendiri telah mengetahui maksud dan tujuan pembicaraan itu Lanjutkan membaca ‘Acara Babako –Babaki’

30
Apr
08

Acara Malam Bainai

Oleh : Hifni Hafida
Ada lagu minang terkenal berjudul malam bainai, yang melukiskan betapa meriahnya suatu upacara perkawinan di Minangkabau. Secara harfiah “bainai “ artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut “daun inai”  ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku.

Acara bainai, salah satu tradisi yang dilakukan Calon Pengantin Wanita atau anak dara, sebelum ia melangsungkan pernikahannya.  Pada suku Jawa, mereka mentradisikan malam midodareni.
Acara bainai adalah sebuah mustika berharga, karena merupakan ajaran budi pekerti yang luhur. Acara ini bertujuan mendidik anak dara dalam segala bentuk dan gerak dan perilaku untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia dengan senantiasa menghayati budi pekerti yang baik.
Makna pemasangan inai pada jari-jari tangan, dapat digambarkan sebagai berikut.

a. Ibu Jari : Lambang Bundo kandung, perekat rumah tangga, sebagaimana pepatah yang mengatakan :

Bundo kandung limpapeh, rumah gadang

Umbun puro pegangan kunci

Hiasan didalam kampuang, sumarak dalam nagari

Nan gadang basa batuah
Kok hidup tampek baniat
Ka undung-unduang ka madinah
Ka payungan panji sarugo.
Maksudnya : kebahgian rumah tangga ditentukan peran isteri dalam rumah tangganya ;

sorga dibawah telapak kaki ibu.

b. Jari telunjuk : Sebagai penunjuk atas suatu budi pekerti dalam budaya minang yang mentradisikan kepada keluarganya” Tahu nan diampek.
Yaitu : tahu rasa, periksa, malu dan sopan santun
c. Jari tengah : CPW diharap sebagai penengah dalam rumah tangganya dan sebagai tiang penyangga.
Maksudnya sama dengan Sabda Nabi Muhammad SAW :
Wanita adalah tiang rumah tangga. Kalau wanitanya baik maka baiklah rumah tangganya.
Dalam budaya minang berlaku falsafah :
“ Kuat rumah karena sendi
Rusak sendi rumah binasa
Kuat bangsa karena budi
Rusak budi hancurlah bangsa
d. Jari manis : CPW diharap bersikap manis didalam prilaku, tutur kata terhadap pasangannya, sebagaimana cincin yang terpasang di jari manis. Kesempurnaan wanita akan tergambar dari sikap si jari manis, yaitu : Wanita mempunyai kekuatan bathin, getaran dan daya tarik yang kuat dan menentukan terhadap suami sebagai nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ada pendapat yang mengatakan : “jangan dilihatkesuksesan seorang pria, akan tetapi lihat siapa yang membuat sukses seorang pria itu.
e. Kelingking : Gambaran betapa wanita mempunyai qodrat dan kemampuan yang lemah dibanding qodrat kaum laki-laki. , sehingga gerak dan kebebasan wanita tidak sama dengan kaum laki-laki. Dalam rumah tangganya CPW hendaknya bersama suami membina rumah tangga sebagimana pepatah berikut :
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,
Kebukit sama-sama mendaki, ke lurah sama menuruh.

Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan pada malam hari sebelum CPW/calon anak dara melangsungkan upacara akad nikah. Mengapa acara memasang inai pada kuku-kuku tangan calon anak dara , menjadi acara yang berarti dalam upacara adat perkawinan ? Lanjutkan membaca ‘Acara Malam Bainai’




Pengunjung

  • 1,065,364 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Desember 2017
S S R K J S M
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

ARSIP

Flickr Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

%d blogger menyukai ini: