” bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang. Amban puruak pegangan kunci. Amban puruak aluang bunian. Pusek jalo kumpulan tali. Hiasan dalam nagari “.

Demikian indah perumpamaan peran seorang bundo, yang mengandung anak keturunannya dalam suatu pertalian darah yang berlanjut secara turun temurun dari garis per-ibuan, yang digambarkan dalam suatu bahasa kalbu, yang dikenal dengan sebutan petatah petitih minang kabau. Seorang bundo bertanggung jawab dalam keluarga karena ia tiang penyanggah rumah tangga (limpapeh). Ia mampu menyelesaikan persoalan rumah tangga (ambun puruak pegangan kunci – ambun puruak aluang bunian). Ia mampu menghimpun keluarga besarnya dalam arti luas – extended family- (pusek jalo kumpulan tali). Ia juga sebagai penjaga adat dan budaya dalam suatu peradaban manusia (sumarak dalam nagari).
Secara indah bundokanduang digambarkan sebagai berikut dalam bahasa yang indah, oleh : AB. Dt. Majo Indo sebagai berikut ;

Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang
Amban puruak pagangan kunci
Amban puruak aluang bunian
Pusek jalo kumpulan tali
Sumarak didalam kampuang
Hiasan dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik

Ka undang-undang ka Madinah
Ka payuang panji ka Sarugo

Limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagari
Hiasan didalam kampuang
Nan tau jo malu dan sopan
Hiasan Kampuang jo halaman
Langkok ka koto jo nagari
Sampai ka balai jo musajik
Panyusun sumarak rumah tanggo
Laku baiek budi baiek
Malu jo sopan tinggi sakali
Baso jo basi dipakaikan
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik
Tiang kokoh budi nan elok
Pasak kunci malu jo sopan
Hiasan dunie jo akiraik
Auih tampek minta aie
Lapa ka tampaek minta nasi

Elok tapian dek nan mudo
Elok Kampuang dek nan tuo
Elok Nagari dek pangulu
Elok musajik dek tuangku
Elok rumah dek bundo kanduang

Muluik manih kucindam murah
Baso baiak gulo di bibie
Muluik manih talempong kato
Sakali rundiang disabuik
Takana juo salamonyo

Masaklah buah kacang padi
Dibawok urang katangah pasa
Padi nan masak batangkai-tangkai
Bundo kanduang tuladan budi
Paham nan indak amuah tajua
Budinyo nan indak amuah tagadai


7 Responses to “~ bundo kanduang ~”


  1. 1 ali syahbana
    September 4, 2008 at 3:00 am

    saya lagi nyari buku karya anda “ILMU JIWA AGAMA” Sampai sekarang saya belum bisa mendapat kannya.
    apakah buku itu sudah tidak beredar lagi? dimana saya bisa mendapat kan buku tersebut.
    saya sangat membutuhkan buku karya anda tersebut. untuk reprensi skripsi saya. tolong imformasinya
    terimakasih sebelumnya.

  2. 2 very
    September 22, 2008 at 1:39 pm

    Semoga perempuan minang kabau dapat memaknai falsafah Bundo Kanduang tersebut dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga tidak meniru budaya bangsa lain yang bertentangan dengan falsafah adat basandi syar’, syara’ basandi kitabbullah, sehingga kita tidak mengenal lagi istilah Bundo Bunduang.

  3. 3 ~padusi~
    September 25, 2008 at 2:41 am

    Terimakasih ananda Very. Karena itulah kami berupaya membangkitkan kembali image wanita minang yang cerdas dan anggun dengan akal dan budi bahasanya. Sesuai dengan ungkapan dalam pepatan minang itu, bahwa padusi minang merupakan limpapeh rumah nan gadang. Akan menyemarahkan ranah kampung halaman. Amiin..

  4. 4 putirenobaiak
    December 10, 2008 at 8:32 am

    salam kenal uni, ambo baraja siko ciek :)

  5. 5 mulyadi putra
    April 22, 2009 at 5:47 pm

    ass. uni, awak biaso dipanggia aldy,
    nak minta kenalan jo uni wak ma.
    lai bulliah kan ni?he3…

  6. 6 ~padusi~
    April 23, 2009 at 3:21 am

    tantu se lai bulieah… dima aldi tingga….

  7. 7 elv_zr
    July 29, 2009 at 11:57 am

    Ketika permaslahan uang japuik dikemukakan, saya yang orang pariaman (walaupun ga asli pariaman, karena papa asli dari kerinci jambi), ingin juga mengatakan bahwa apa yang dikatakan adityajason dan indra mungkin adalah benar. karena saya pernah juga dijelaskan oleh orang tua saya, bahwa adat uang japuik itu sesunggguhnya tidaklah seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang yang mungkin tidak mengerti. Pastinya dari sebuah adat, maka terbangunlah ciri khas suatu kaum. namun, akibat perkembangan zaman, dan kemerosotan moral dari individu masing2 manusia, pada akhirnya adat tersebut menjadi diselewengkan (menyimpang dari yang sesungguhnya). mungkin tidak hya mengenai tradisi uang jemputan saja, namun juga banyak adat-adat lainnya yang saat ini mungkin telah diselewengkan. mungkin yang diperlukan oleh orang Pariaman asli adalah saling pengertian, antar berbagai pihak. jika memang pihak wanita tidak mampu memberi uang jemputan karena keluarganya kurang mampu, maka kewajiban pihak lelaki yang menanggungnya. adat pun seharusnya ada tenggang raso.adat tidak bermaksud untuk mengekang,dan adat pun akan tetap seperti itu, tidak akan pernah berubah jika tidka dirubah oleh kaum nya sendiri yang memakai adat tersebut. jadi, bagi para tetua pun harus seperti itu pula, hendaknya harus dapat membuka wawasan dan harus dapat menjelaskan kepada orang-orang yang tidka mengerti tentang adat yang sebenarnya, agar tidak ada kesalah tafsiran mengenai adat tersebut.

    Mungkin yang ingin saya kritik dari orang Minang itu hanya satu (mungkin tidak semua orang Minang), namun fakta tetap berbicara, bahwa orang minang cenderung menginginkan anaknya harus berjodoh pula dengan orang minang, bahkan harus dengan yang sekampung pula. misalnya orang pariaman harus dengan orang pariaman pula,bahkan harus yang satu kampung pula (karena pariaman itu laweh). bahkan yang terjadi, (sebagai contoh) urang pariaman nan laki-laki harus nikah samo urang pariaman pulo (mungkin ini terlepas dari soal uang jemputan), orang tua berpendapat bahwa anak laki-laki mereka akan jauh dari mereka jika dapat orang luar dari pariaman. dan bahwa mereka takut kalau-kalau adat orang itu (pihak perempuan) tidak sesuai dengan adat pihak laki-laki. seharusnya mereka berfikir lebih luas, kalau antara satu adat dengan adat lainnya di gabungkan, dan sama-sama dijalankan, maka akan terjadilah akulturasi adat. dan itu mungkin akan sangat baik, akibat adanya akulturasi tersebut maka ke dua adat akan dapat dilestarikan. bahkan seorang Dosen Biologi ku mengatakan bahwa jika ada persatuan antar 2 gen yang berbeda, maka hal tersebut akan lebih baik hasilnya. kelestarian 2 jenis akan terjaga, kerentanan terhadap penyakit akan semakin berkurang dan kekayaan genetik juga akan semakin bertambah.

    Satu Contoh lainnya, begitu juga dengan urang darek, harus dengan urang darek pula. bahkan ada alasan klasik lagi yang sebenarnya mungkin cukup masuk akal (tapi sepertinya belum bisa masuk akal buat saya). bahwa laki-laki Darek yang memiliki gelar Datuak yang turun dari mamak nya, harus menikah juga dengan urang kampuang nya, agar dia tidak hilang atau jauh dari kampuang nya. buat aku ini mungkin menjadi tidak adil ketika aku bertemu dengan seorang laki-laki dari daerah darek (tepatnya Kota Padang Panjang), yang memiliki gelar datuak dari suku Pisang. dia pernah berkata bahwa kalau dalam keluarganya (ibu, ayah dan kakak2nya) sendiri tidak mempermasalahkan dia menikah dengan orang manapun, tidak harus dengan orang kampung, yang penting berpendidikan. Tapi sepertinya kalau dari ninik mamaknya, itu tidak berlaku. kemungkinan dia harus dengan orang kampuang nyo. mungkin biar lebih dekat dengan keluarga dan kampuang nyo. ini menjadi tidak adil bagi aku, dan bahkan bagi dia sendiri. karena dia adalah co ku, dan aq bukan urang darek. bahkan dia sendiri merasa tidak adil, ketika dia pernah punya pacar orang jawa dan keluarganya tidak memperbolehkannya. bahkan dia pernah bilang ke orangtuanya dia ingin mencabut gelarnya agar dia bisa menentukan pilihan sendiri. Ini yang tidak adil. Kenapa kebebasan seseorang harus terikat dengan adat dan gelar? bukannya akan lebih baik jika adat yang berbeda itu dapat disatukan, yang tujuan akhirnya untuk pelestarian adat juga.

    Bukankan manusia di dunia ini sama saja? bahkan dari suku manapun? Toh di Mata Tuhan semua manusia sama kan? Itu yang saya tidak setujui, kanapa harus seperti itu, kenapa harus ada perbedaan antar sesama manusia? bahkan perbedaan itu juga ada dalam suku itu sendiri, Suku Minang sendiri.
    Toh asal kita sama kan, Dari Pagaruyuang Juga? Dari Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah NAn sabatang juga khan? hanya bentuk daerah saja yang akhirnya membedakan budaya adan adat kita (walaupun sebenarnya nenek moyang kita tetap sama), bahkan jika melihat ke yang lebih tinggi, asal kita sama kan, dari Tuhan juga?

    dan sepertinya kasus ini juga akan lebih menarik di bahas, selain kasus “uang japuik” tadi…
    Judulnya…, “Kesetaraan Manusia di mata adat dan gelar di Minangkabau”


Leave a Reply




Blog Stats

  • 63,428 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Flickr Photos

My secret room

The best happiness

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory