06
Jul
09

Dua Orang Datuk menurut Sejarah dan Tambo

120px-Datuakdatuak

Oleh : Hifni H. Nizhamul

Pendahuluan :

Minangkabau lebih dikenal sebagai bentuk kebudayaan dari pada kerajaan yang dikenal dalam sejarah. Tidak ada suatu catatan yang menginformasikan bentuk system pemerintahannya, baik yang menganut system feodal maupun demokratis, selain system kekerabatan yang berstelsel matrilineal. Meskipun catatan sejarah mengatakan bahwa ada kekuasaan asing yang bercokol di Minangkabu datang dari utara (semisal kerajaan dari Aceh), maupun dari selatan ( semisal kerajaan Majapahit), melewati pantai timur dan pantai barat Sumatera.

Pihak asing menaklukkan minangkabau karena ingin menguasai kekayaan yang tersimpan di buminya, seperti emas, batu bara, rempah – rempah. Masing masing penguasa asing itu membawa agama anutan masing – masing dan menyebarkan secara paksa dan juga persuasive. Bagi penduduk asli tentu mereka merasakan pahit getirnya dibawah pengarug asing itu. Sehingga mereka mencoba mengungkapkannya dalam bentuk kata – kata kiasan serta symbol – symbol yang diungkapkan dalam pepatah petitih, yang sebenarnya berisi nasehat dan petuah. Alamlah tempat mereka berguru. Sehingga lahirlah falsafah alam “ alam takambang jadi guru “.

Sesungguhnya kegetiran dibawah pengaruh asing – telah memperkuat keyakinan suku bangsa ini akan rasa persamaan dan kebersamaan sesamanya dalam paham egaliter. Mereka berusaha menghapus masa suram dibawah pengaruh asing tadi. Mereka menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng –dongengan. Selain alasan bahwa, falsafah yang dibawah pengaruh asing itu tidak sesuai dengan falsafah yang mereka pahami.

Tambo juga mengkisahkan tentang peristiwa sejarah, seperti sejarah Melayu, sejarah Majapahit, bahkan juga sejarah Islam,

Ekspedisi Pamalayu dalam versi Tambo :

“ Pamalayu” diartikan banyak sejarawan sebagai perang melawan Melayu. Menurut buku “ Negarakertagama”, yang digubah oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, ekspedisi itu bertujuan menundukkan kerajaan Melayu. Kerajaan Melayu yang bernama kerajaan Darmasraya itu, berupaya diduduki oleh Kerajaan Singosari dibawah Raja Kertanegara untuk melakukan gerakan politik dan militer. Ini yang digambarkan dalam Tambo sebagai ;

Ada Rusa dari laut yang tanduknya bercabang-cabang yang datang membawa balatentaranya atau Anggang dari laut yang telornya jatuh di tanah Minangkabau.

Dua orang Datuk Minangkabau di dalam Sejarah:

Menurut Sejarah, dua orang putri Melayu yang bernama Dara Petak* dan Dara Jingga*, berkunjung ke Singosari, Sebagai tanda persahabatan kedatangan kedua dara ini, diterima oleh Raden Wijaya yang sudah menjadi raja. Raden Wijaya, kemudian mendirikan kerajaan Majapahit. Salah satu putri kerajaan melayu yang bernama Dara Petak, kemudian dijadikan permaisuri oleh Raden wijaya, disamping ia memperistri empat orang putri Kertanegara. Dari Dara Petak ini lahir satu-satunya putera laki-laki Raden Wijaya, yang diberi nama Jayanagara. Sedangkan Dara Jingga, diperistri oleh seorang kerabat Istana. Dara Jingga kembali ke Darmasyraya dalam keadaan hamil. Di Darmasyraya inilah ia melahirkan anak laki-laki yang kemudian dikenal dengan nama “ ADITYAWARMAN”. Ada dugaan yang menghamili Dara Jingga adalah Raden Wijaya, yang setelah lahir bernama “ Adityawarman”.

Kemudian Dara Jingga menikah dengan Wiswarupakumara, seorang pejabat tinggi Majapahit di Darmasyraya. Mungkin dari perkawinannya yang kedua ini, Dara Jingga melahirkan seorang putera lagi yang kemudian bernama Prapatih..

Nama Prapatih ini kemudian muncul dalam tulisan arca Amoghapasa, yang sekarang diletakkan di  Padang Candi dekat Pagaruyuang. Prapatih dan Adityawarman ini, bersama-sama mengembangkan kerajaan di wilayah Minangkabau.

Pitono Hardjowardoyo dan Moens – dalam bukunya Budhisme di Jawa dan Sumatera dalam masa kejayaannya terakhir. Ia menduga bahwa Prapatih itu adalah Perpatih nan Sabatang. Kedua ahli ini menganalisa, bahwa dalam pada arca Amoghapasa tertulis tiga nama, yaitu : Adityawarman (mataningisa), permaisuri (matagini) dan Dewa Tuhan, yang merupakan perupaan kelompok tiga seperti yang dilukiskan ajaran BIRAWA yang dianut oleh Aditiawarman, yaitu Siwa (Wirabhada), Sati (Bhadrakali), dan Daksa.Katanya lebih lanjut bahwa Daksa Prajapati, Dewa Tuhan, dalam perjalanan masa harus menyerahkan takhtanya kepada Siwa, yang dalam hal ini raja bangsa Melayu – menyerahkan kerajaannya kepada kepada Adityawarman sesudah Daksa dikalahkan Siwa. Setealh disadarkan kembali, Daksa dijadikan gana-gananya, (dalam hal ini sesudah Dewa Tuhan Waruyu Prapatih ditaklukkan ia dijadikan Prapatih.

Dua orang Datuk Minangkabau dalam Tambo :

Jika mengambil persamaan dari kelompok tiga ini, yang terdiri dari Datuk Ketemanggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang dan Cati Bilang Pandai, maka kisahnya adalah sebagai berikut :

Bahwa setelah Dara Jingga pulang ke Minangkabau dan melahirkan Adityawarman, ia menikah lagi dengan Wiswarapakumara yang menjadi wakil kerajaan Majapahit mendampingi Sri Maharaja Diraja. Dari Perkawinan kedua ini, Dara Jingga melahirkan Dewa Tuhan Prapatih. Adityawarman dan Prapatih merupakan saudara seibu.

Didalam Tambo dikatakan Datuk Ketemanggungan adalah anak raja. Ketika ibunya menikah lagi dengan Cati Bilang Pandai , lahirlah adik seibunya yang bernama Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dengan demikian dapat diduga bahwa Adityawarman adalah Datuk Ketemanggungan, Prapatih adalah Datuk Perpatih Nan Sabatang, sedangkan Wiswarupakumara adalah Cati Bilang Pandai.

Asmaniar Z. Idris, mengemukakan, bahwa Dara Jingga seperti yang dikisahkan dalam sejarah – mempunyai nama lain dalam Tambo, yaitu Bundokanduang. Dang Tuanku dan Cindurmato ialah Adityawarman dan Prapatih. Perbedaannya adalah dalam Tambo dikisahkan bahwa Dang Tuanku dan Cindur Mato adalah bersaudara satu ayah dengan dua ibu. (lihat “ kerajaan Minangkabau Pagaruyung dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau tahun 1970 di Batusangkar, Asmaniar Z. Idris).

Sumber :

Alam takambang Jadi Guru -  Adat dan kebudayaan Minangkabau , AA. NAVIS

26
Jun
09

Migrasi adat perpatih ke negeri sembilan

muzium_negri.jpg

oleh : Hifni H. Nizhamul

Negeri Sembilan pada asalnya didiami oleh orang-orang asli daripada suku kaum Sakai, Semang dan Jakun. Mereka hidup berpindah randah, memburu, mengutip hasil hutan dan ada yang mula bertani.

Pada permulaan abad ke-14 Masehi, orang-orang Sumatra dari Tanah Minangkabau hijrah ke Negeri Sembilan melalui Melaka. Mereka menmpati wilayah Rembau. Orang Minangkabau ini kemudian berhasil memikiat hati penduduk Asli wilayah rembau ini. Orang minangkabau ini membawa tata cara adat mereka, seperti adat perkawinan yang menganut sistem matrilini. Disini, pada akhirnya berlakulah perkawinan antara orang-orang Minangkabau ini dengan penduduk asli sesuai dengan tata cara adat minangkabau. Keturunan orang – orang minangkabau ini dikenal dengan suku Biduanda.

Dalam sistem kemasyarakatan kala itu, Suku Biduanda memakai  sistem  kekuasan di Minangkabau. Apabila hendak memilih pemimpin/penghulu, mereka hanya akan memilih dari suku Biduan menurut tata cara yang sudah dikenalnya. Mengapa demikian ? Tidak lain, bahwa sistem kepemimpinan didalam masyarakat sudah jelas. Yaitu pewarisan harta pusaka jatuh kepada penguasaan perempuan, sedangkan ” sako “ jatuh kepada kemenakan laki-laki. Mereka menyebutnya adat perpatih.

Suku Biduanda mengakui, bahwa adat pepatih lebih mengedepankan kaum wanita daripada lelaki. Menurutnya, adat ini adalah adat yang terbaik di Negeri Melayu, karena adat ini  mencakupi bebrbagai  aspek. Keutamaan wanita di dalam adat pepatih  lebih kepada mewarisi harta pusaka dan membawa darah keturunan. Berbeda dari kesultanan Melayu yang lain, harta dan darah keturunan di warisi oleh kaum lelaki. Menurut adat pepatih, karena wanita yang mengandungkan dan melahirkan anak,  maka wanitalah yang membawa darah keturunan kepada pewaris iaitu anaknya. Dari segi harta, hanya harta pusaka. Yaitu termasuk tanah dan rumah induk diwarisi oleh wanita. Maksudnya agar kaum wanita tidak terabaikan sekiranya diperlakukan tidak baik oleh suaminya.Namun demikian harta sepencarian adalah milik bersama lelaki dan wanita dan di bahagi mengikut hukum Islam.

Hasil positif daripada pengamalan adat pepatih ini, harta pusaka tidak tergadai kerana tidak boleh dijual malah tetap berada di dalam sesebuah kampung. Biasanya didalam kampung itu terdiri dari, saudara mereka kerana tanah pusaka telah dibahagi dari awal keturunan kepada generasi sekarang. Dalam arti kata lain, di dalam sebuah kawasan, biasanya terdiri dari keluarga dari satu keturunan.

Pepatah mereka berbunyi : ” Bulat air kerana pembentung, bulat manusia kerana muafakat.

Suku Biduanda -  inilah kemudian menjadi pewaris penduduk asal Negeri Sembilan. Migrasi yang berkelanjutan dilakukan oleh orang-orang Minangkabau, umumnya berasal dari luhak di Mingkabau. Migrasi pertama berasal dari Luhak Tanah Datar dan Limapuluh Koto.

Negeri Sembilan semula di bawah naungan kerajaan Melayu Johor. Kemudian suku Biduanda – mendirikan kerajaan Negeri Sembila, dimana  pembesar-pembesar Negeri Sembilan -  dipanggil Penghulu dan kemudiannya Undang. Sebelum mereka menyebut Yang DiPertuan Besar,

Ketibaan (kedeatangan ) Raja Melewar dari Pagar Ruyung, Minangkabau berawasal pada 1773. Ialah yang pertama melembagakan sebuah kerajaan di Negeri Sembilan. Uniknya dari pendirian kerajaan di di Negeri Sembilan ini adalah : bahwa semula ia  Penghulu dari Pagar Ruyung dan kemudian ia  dirajakan di Negeri Sembilan. Sebab itulah raja di Negeri Sembilan ini, tidak  bergelar Sultan tetapi memakai gelaran Yang DiPertuan atau Yamtuan. Asal pendirian Negeri Sembilan adalah oleh Dato’ Pepatih Nan Sebatang. Beliau juga merupakan pengasas bagi adat pepatih yang sangat dikenali umum.

Di Negeri Sembilan terdapat 12 (dua belas) suku-suku atau keluarga.

Suku-suku tersebut seperti berikut:
Suku Biduanda (dondo)
Batu Hampar (Tompar)
Paya Kumbuh (Payo Kumboh)
Mungkal
Tiga Nenek
Seri Melenggang (Somolenggang)
Seri Lemak (Solomak)
Batu Belang
Tanah Datar
Anak Acheh
Anak Melaka
Tiga Batu

Di edit dari Sumber :

http://ms.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Negeri_Sembilan

http://psbjelebu.blogspot.com/2005/06/asal-usul-adat-perpatih.html

12
Jun
09

Filosofi Tari Piring Minang

Sumber : http://www.mediaindonesia.com
Dok.MI/ADE IRWANSYAH

Permainan piring di tangan penari Solok, Minangkabau, adalah peragaan cara membina rumah tangga. Ingin tahu filosofinya?

Begini, menurut pemahaman penduduk Sumatra Barat, gerakan tari piring melambangkan kerja sama ketika warganya berada di sawah. Koreografi ini meniru cara petani bercocok tanam dan menunjukkan ungkapan rasa syukur mereka saat menuai hasil panen yang bakal menghidupi seisi rumah.

Piring di tangan mereka diisi makanan yang lezat untuk dipersembahkan kepada dewa. Tetapi sejak agama Islam masuk, tari piring mempersembahkan sesajennya kepada majelis keramaian dan raja-raja atau pembesar negeri.

Kini, tari piring juga dipakai sebagai bagian dalam pernikahan tradisional karena pengantin dianggap sebagai raja sehari yang layak mendapat penghormatan. Butuh kecakapan memegang piring dan mengatur mimik muka yang tepat saat menarikannya.

Continue reading ‘Filosofi Tari Piring Minang’

12
Jun
09

Silsilah Kerajaan Minangkabau

Seorang netter bernama Elza Rahmi menanyakan tentang  silsilah kerajaan di Sumatera Barat.  Bunyi selengkapnya email tersebut adalah;

Assallamualaikum.Wr.Wb, Yang terhormat para tertua di ranah minang, mohon apabila ada cerita tentang kerajaan Sumatera Barat. hanya sekedar info saja, terima kasih sebelumnya.    Wassallam,   Elza Rahmi Syahri Chaniago

Dari pertanyaannya yang sederhana ini ternyata berkembang berbagai pendapat yang dirangkum oleh ~ padusi ~ menjadi sebuah artikel. Diskusi dialam maya  – memang jauh dari terminologi kedisiplinan ilmu, namun padusi menganggap informasi yang masuk dapat bersifat lebih obyektif .  Informasi yang masuk jauh dari pandangan subyektif atas dasar pesanan – sebagaimana ada yang menduga. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi perantau minang yang kadang – kadang secara tiba – tiba ingin mempelajari adat dan budaya minang.

Continue reading ‘Silsilah Kerajaan Minangkabau’

26
May
09

Aneka ” dendeng ” Minangkabau

1. DENDENG BALADO.

dendeng 1Yang disebut dendeng balado biasanya adalah dendeng tipis yang digoreng garing, lalu disiram dengan sambal berwarna merah.

Proses pembuatannya
Pertama, dari sisi dendengnya. daging sapi diiris tipis-tipis, dibumbui, dijemur sampai kering, kemudian digoreng. Bumbunya sendiri berbeda-beda. Ada yang memakai ketumbar, ada yang tanpa ketumbar.
Versi lain ada yang tidak dijemur. Dagingnya direbus dengan bumbu-bumbu, lalu diiris tipis-tipis, dan langsung digoreng sampai garing.
Kedua, dari sisi sambal – sebagai topping-nya. Yang wajib ada dalam bumbu balado ini adalah garam, bawang merah, cabe merah, perasan jeruk nipis.
Versi lain ada yang menambahkan bawang putih. Kadang-kadang, ada pula yang menumis sebentar bahan-bahan tadi dengan minyak tanak atau minyak kelapa.
Disebut minyak tanak karena dihasilkan dari santan kelapa yang ditanak.

2. DENDENG BATOKOK.

Dendeng baracikSecara harafiah, ditokok berarti dipukul dengan palu. Proses pembuatan dendeng yang satu ini memang harus ditokok-tokok.
Daging sapi mentah, direndam selama dua jam dalam bumbu dan rempah yang cukup kaya, yaitu: bawang merah, bawang putih, daun jeruk nipis, kunyit, lengkuas, jahe, dan garam. Semua bumbu dan rempah itu dihaluskan, lalu ditambah asam jawa yang dilarutkan dalam air. Kemudian daging mentah yang sudah direndam bumbu ini kemudian diiris-iris dengan ketebalan sekitar satu sentimeter, lalu ditokok-tokok dengan batu agar seratnya pecah dan menjadi lebih tipis serta lebar. Ketika menokok-nokok itu, bumbu pun ikut meresap ke dalam serat-serat daging. Lembaran-lembaran daging mentah ini kemudian dibakar di atas bara arang tempurung kelapa. Setelah matang dan sebelum gosong, daging panggang dilumuri dengan minyak tanak.
Topping-nya adalah lado mudo, bawang merah, perasan jeruk nipis, dan garam. Lado mudo dan bawang merahnya tidak digiling halus, sehingga masih tampak lebar-lebar bertaburan di atas dendeng.


3. DENDENG LAMBOK :

dendeng 2Dalam bahasa Minang, lambok berarti lembab. Dendeng lambok inilah yang paling “kacau” atau paling banyak ragamnya. Salah satu elemen pembeda dendeng lambok dari dendeng balado dan dendeng batokok adalah digunakannya tomat hijau sebagai bahan bumbu baladonya.
dendeng lambok dalam bentuk daging sapi rebus dalam bumbu balado yang agak berkuah, sehingga lebih mirip gulai.

4. DENDENG BARACIK.


Dendeng batokokBungkah-bungkah gajebo itu dilumuri bumbu – antara lain ketumbar – dan kemudian dijemur sebentar agar layu, tetapi tidak sampai kering. Daging berbumbu yang sudah layu ini kemudian dibawa ke dapur. Dalam dapur yang panas dan penuh asap, proses pelayuan dendeng berlanjut.
gajebo layu dengan ketebalan sekitar dua milimeter, besarnya sekitar lima kali lima sentimeter itu di iris. Irisan daging digoreng dengan sedikit minyak tanak atau minyak kelapa. wuuachhhh..Tabik salero….???!
Sementara dendengnya digoreng, kita merajang lado mudo, bawang merah, dan tomat. Dendeng yang sudah digoreng setengah kering itu diletakkan di piring, ditaburi semua rajangan, lalu dikucuri dengan perasan asam sundai (mirip jeruk purut, tetapi berukuran besar dan isinya berwarna kuning muda).
Tekstur dendengnya garing di luar, lunak di dalam, dengan aroma daging layu dan ketumbar yang sangat khas. Bagian lemaknya juga memberi sensasi rasa yang sulit digambarkan.

SELAMAT MENIKMATI

15
May
09

sketsa perjalanan sejarah ~ Dapunta Hyang ~ nenek moyang minangkabau

Sejarah Minangkabau

Silsilah

Dalam buku ” Manyigi TAMBO Alam MINANGKABAU ” sebagai studi perbandingan Sejarah yang dilakukan Drs. Md Jamal, maka menarik untuk ditampilkan bahwa beliau berusaha menyusun silsilah ” kerajaan Minankabau di Pariangan “, dalam tahun demi tahun seperti yang terlihat pada image.

Demikianlah asal usul dan penyebaran nenek moyang minangkabau itu, berawal dari Dapunta Hyang yang menginjakkan kakinya di Gunung Merapi. Oleh penduduk disebut ” Sang Sapurba ” ( = dia yang pertama atau dahulu). Mengenai hal ini ada sebuah pepatah (mamangan) yang tersebut, yaitu :

Dari mana titik pelita,

dari tangkung yang berapi,

Dari mana asal ninik kita,

dari puncak gunung Merapi

Continue reading ’sketsa perjalanan sejarah ~ Dapunta Hyang ~ nenek moyang minangkabau’

09
May
09

Bistik Kentang – pusaka kuliner Mande padusi

Karena kami bertempat tinggal di wilayah komunitas China – Orang Keling – dan orang Belanda di Kota Padang, jujur saja menu masakan kami selalu meng – adaptasi – masakan bangsa asing ini.Menu ini selalu kami tampilkan dikala keluarga kami merayakan ulang tahun anggota keluarga kami. Kami ingin ingin berbagai dengan dusanak – dusanak yang singgap di blog ini sebagai penambah wawasan kuliner.

1. Kentang             : 1 kg

2. Daging               : 1/2 kg, pilih yang lembut (lemusir barangkali ya..)

3. Ketimun            : 1/2 kg.

4. Daun Slada      :

5. Bumbu-bumbu : bawang merah, bawang putih, tiga serangkai.

6. Kecap, cuka, tepung maizena secukupnya.

Cara membuatnya :

Continue reading ‘Bistik Kentang – pusaka kuliner Mande padusi’

05
May
09

Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…

Oleh ; Hifni H. Nizhamul berdasarkan tulisan Doni Marlizon

0c77a487img_0086Banyak orang mengenal bahwa, pemangku alam minangkabau adalah Pagaruyuang.  Ada Tambo Pagaruyuang yang menguraikan silsilah kerajaan ini. Tidak banyak yang tahu, bahwa selain Pagaruyung  ada lagi beberapa kerajaan lainnya yang pernah ada  di Minangkabau, seperti kerajaan Koto Batu, kerajaan Bungo Setangkai, kerajaan Bukit Batupatah.

Dari berbagai sumber tentang keberadaan kerajaan tersebut, akan tetapi kekuasaannya tidak bertahan lama. Umumnya penyebab kerajaan itu tidak bertahan lama, antara lain :

Faktor Kepunahan dari keluarga kerajaan:

Sistem kekerabatan Minangkabau menganut system matrilineal, dengan pengambilan garis keturunan dari pihak Ibu. Anak bersuku ke Ibu juga ber sako ke mamak. Sako ini adalah warisan kepemimpinan dalam sistem kekerabatan yang diwariskan kepada kemenakan. Demikian pula halnya pada kepemimpinan  raja maupun penghulu. Kedudukan dan jabatan penghulu dan raja tidak diwarikan kepada anak melainkan kepada kemenakan. Sistem yang berlaku pada minangkabau lama demikian, akhirnya tidak dapat bertahan lama. Penyebab utamanya adalah karena  tidak ada orang yang dapat menggantikan kedudukan raja itu. Kemenakan yang akan menggantikan kedudukannya tidak ada.

Didalam catatan sejarah – pada masa zaman Adityawarman – ada satu keturunan anak sesudahnya, yang menggantikan kedudukannya sebagai Raja. Terjadi pola penyimpangan sistem matrilinial selama 70 tahun, tatkala Adityawarman menguasai Pagaruyung. Adityawarman terbunuh di KUBURAJO pada tahun 1375 dan anaknya di Pagaruyung tahun 1409. Kala itu masyarakat minangkabau tidak menginginkan sistem pemerintahan yang absolut dan tidak suka sistem pewarisan jatuh kepada anak.

Bagaimana dengan Pagaruyuang ? Saat ini kerajaan Pagaruyung adalah satu-satunya kerajaan yang masih bertahan diwilayah Sumbar.  Kemudian ada pula yang mempertanyakan bahwa kerajaan ini tidak memiliki suku sebagaimana suku -suku yang hidup di kalangan masyarakat Minangkabau, yang  hingga kini berjumlah k.l 60 suku. Lalu bagaimana dikatakan bahwa kerajaan pagaruyuang sebagai pemangku alam minang kabau ? Benarkah kerajaan ini sebagai pemangku adat alam minangkabau ?

Ternyata hingga saat ini, masih ada bentuk pemerintahaan kerajaan, seperti yang terdapat di Alam Surambi Sungai Pagu. Sistem pemerintahannya pun Unik seperti dapat di lihat pada uraian selengkapnya yang, kami kutip dari tulisan Doni Marlizon di; web site : Antara – Sumbar, pada Selasa, 17/03/2009 yang lalu.

Continue reading ‘Kerajaan Pagaruyuang ternyata tidak sendirian…’

01
May
09

Etty Sunarti Nuay

Berkaca pada Minyak

etty-nuaySiapa bilang berada jauh di belantara hutan atau di tengah lautan, bisa membuat seseorang jauh dari Yang Mahakuasa? Justru sebaliknya, kebesaran Allah SWT semakin tampak dan Sang Khalik terasa makin dekat. Itulah yang dirasakan wanita geolog pertama Indonesia, Ir Etty Sunarti Nuay.

Begitu dinyatakan lulus sebagai sarjana dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 10 Juni 1973, sesuai bidang ilmunya, ia terjun ke dunia perminyakan. Selama lebih dari 25 tahun ia bekerja di perusahaan pertambangan milik Amerika Serikat, Hufco dan Vico.

Continue reading ‘Etty Sunarti Nuay’

29
Apr
09

~ nasi uduk – kuliner dari tanah Betawi ~

nassi-uduk-1Jenis masakan ini berasal dari ‘tanah Betawi”. Tidak salah kiranya kami menampilkan jenis masakan ini di Ranah Minang, karena ini adalah makanan keluarga yang dapat ditampilkan dalam suasana kebersamaan dan silaturahmi dalam payung rumah tangga kita. Kenikmatan masakan ini adalah rasanya yang legit – gurih – Hemmmm … lamak bana walau makannya tidak perlu berkeringat.

Disarankan untuk dihidangkan pada malam yang panjang – dimana kita berkumpul dengan  anak-anak yang sedang-sedang ” cangok” karena sedang dalam masa pertumbuhan. Kacepak .. kacepong .. begitu mungkin bunyi lidah yang bertalu-talu sambil gigi menggiling butiran – butiran nasi dan keratan ayam yang masuk ke dalam mulut sambil air liur melicinkan jalannya makanan ke tenggorokan.  Akan lebih terasa bila dihidangkan pula dengan minuman hangat di malam panjang itu.

Continue reading ‘~ nasi uduk – kuliner dari tanah Betawi ~’

20
Apr
09

Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia

Resensi Oleh : SURYADI Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB|HARIAN KOMPAS

• Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” •

Penulis: Jeffrey Hadler •

Penerbit: Cornell University Press, Ithaca, London, 2008 •

Tebal: xii + 211 halaman.

Buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini.

Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan dari garis bapak. Ini berbeda dari temuan arkeologis dan sumber tradisi lisan kuno yang masyarakatnya kebanyakan menganut sistem matriarkat (nasab ibu) yang menempatkan kekuasaan di tangan kaum perempuan dan menarik hubungan keturunan dari garis ibu. Continue reading ‘Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia’

12
Apr
09

Feodalisme di Negeri Egaliter

Oleh Ivan Adilla Gelar Bagindo Sulaiman

Mengajar di Fakultas Sastra Universitas Andalas

41e853eegunung_merapi_jam_6_sore-800pxHarian Kompas edisi 29 Agustus 2006 menurunkan berita berjudul “SBY Akan Terima Gelar Adat”. Konon, gelar Yang Dipatuan Maharajo Pamuncak Sari Alam itu diberikan oleh Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau; lembaga adat yang kelahirannya dibidani militer dan pada masa Orde Baru merupakan salah satu pendukung utama Golkar. Pemberian gelar adat untuk orang di luar Minangkabau bukanlah gejala baru. Di tahun 1950-an pernah ada rencana memberikan gelar adat Bundo Kandung kepada Fatmawati, yang saat itu menjadi Ibu Negara. Rencana itu batal setelah AA Navis berhasil meyakinkan pihak militer bahwa gelar yang berasal dari tokoh mitos itu tidak layak disandang oleh Ibu Negara.

Sejak beberapa tahun terakhir, gelar adat telah diberikan kepada Yusril Ihza Mahendra, Taufik Kiemas, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Surya Paloh, dan Anwar Nasution. Begitu pentingkah gelar adat bagi pejabat dan pengusaha negeri ini? Bagi lelaki Minangkabau, gelar adat adalah sebuah kemestian. Pepatah adat mereka mengatakan, ‘ketek banamo, gadang bagala’ (kecil punya nama, setelah dewasa diberi gelar). Setiap lelaki yang sudah menikah tentu diberi gelar adat, yang diumumkan dalam sebuah acara sederhana saat perhelatan kawin. Pemberian gelar itu merupakan pengakuan bahwa mereka kini telah menjadi lelaki dewasa, yang akan diikutsertakan dan diakui hak suaranya dalam musyawarah kaum. Gelar merupakan warisan, bukan hak milik individu. Begitu seseorang meninggal dunia, maka gelar itu harus dikembalikan kepada kaum sebagai pemiliknya. Seseorang tidak berhak mewariskan gelar itu pada orang lain tanpa persetujuan kaum.

Continue reading ‘Feodalisme di Negeri Egaliter’

07
Apr
09

Riwayat Tradisi Uang Jemputan

Pengantar :

Karena sudah menjadi polemik di kalangan masyarakat minangkabau seputar tradisi uang jemputan,  maka ~ padusi ~ mencoba meluruskan  tradisi itu dalam suatu kebiasaan masyarakat yang lebih elegant, dengan mengangkat suatu pandangan seorang pria Minangkabau yang berasal dari Pariaman tentang asal usul tradisi ini. Padusi mengedit pandangan beliau dari sebuah milis orang minangkabau menjadi sebuah artikel yang berjudul ” Riwayat Tradisi Uang Jemputan.

Meskipun demikian,  mengingat praktek tradisi ini tidak semua berlaku di  wilayah Ranah Minangkabau, maka sebagai tradisi, pemberian uang jemputan itu – tetaplah dikatakan sebagai bukan adat. Untuk lebih jelasnya pahamilah pemikiran penulisnya.

Riwayat Tradisi Uang Jemputan

Oleh : Arman Bahar Malin Bandaro

Bedakah masing-masing UANG JEMPUTAN – UANG HILANG ? Umumnya masyarakat yang awam tentang kedua istilah ini menyamakan saja antara “Uang Jemputan ” dengan “Uang Hilang”. Padahal tidak semua orang Pariaman mengerti tentang masalah ini. Di milist RantauNet justru Mak Syamsir Alam yang bukan “Ughang Piaman” lah yang telah menjelaskan dengan tepat dan lugas bahwa tradisi uang jemputan yang hangat di diskusikan di milist itu sebenarnya malah bukan pada lingkup uang jemputan tetapi sebenarnya adalah masuk kedalam ranah “Uang Hilang” dan “Uang Dapua” atau “Uang Asok” . Uang ini benar benar hilang atau tidak akan dikembalikan kepada fihak keluarga anak daro.

Pada awalnya uang jemputan ini berlaku bagi calon menantu yang hanya bergelar Sutan, Bagindo dan Sidi dimana ketiga gelar ini diwariskan menurut nasab atau garis keturunan ayah atau patriachat.

Dengan demikian di Pariaman berlaku 2 macam gelar, yaitu

- yang satu gelar dari ayah

- yang satu lagi gelar dari mamak,

hanya saja gelar dari Mamak, terpakai adalah gelar Datuak dan gelar Malin saja, misalnya dapat kita contohkan pada seorang tokoh minang yang berasal dari Pariaman, yaitu Bapak Harun Zein (Mantan Mentri Agraria dan Gubernur Sumbar). Beliau mendapat gelar Sidi dari ayahnya dan mendapat gelar Datuak Sinaro dari Ninik Mamaknya. Sehingga lengkaplah nama beliau berikut gelarnya Prof. Drs. Sidi Harun Alrasyid Zein Datuak Sinaro (dari persukuan Piliang) .

Lantas siapakah mereka pemegang gelar yang 3 itu?

· Gelar Sutan dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada petinggi atau bangsawan Istano Pagaruyuang yang ditugaskan sebagai wakil raja di Rantau Pasisia Piaman Laweh. Ingat konsep luhak ba-panghulu – Rantau ba Rajo, seperti :

- Rajo Nan Tongga di Kampuang Gadang Pariaman,

- Rajo Rangkayo Basa 2×11 6 Lingkuang di Pakandangan,

- Rajo Sutan Sailan VII Koto Sungai Sariak di Ampalu,

- Rajo Rangkayo Ganto Suaro Kampuang Dalam,

- Rajo Tiku di Tiku dll

· Gelar Bagindo dipakaikan kepada mereka yang bernasab kepada para Petinggi Aceh yang bertugas didaerah Pariaman. Ingatlah bahwa wilayah Pariaman – Tiku pernah dikuasai oleh kerajaan Aceh dizaman kejayaan Sultan Iskandar Muda.

· Gelar Sidi diberikan kepada mereka2 yang bernasab kepada kaum ulama (syayyid), yaitu penyebar agama Islam didaerah Pariaman

Continue reading ‘Riwayat Tradisi Uang Jemputan’

01
Apr
09

Ranji Adat Bersendi Syara’ –Syara’ Bersendi Ktabullah

Oleh : Hifni H. Nizhamul

Apakah yang dimaksud Ranji ? barangkali inilah pemahamam yang wajib diketahui oleh para generasi muda minangkabau. Tidak saja generasi muda – barangkali para orang tua yang besar di Rantau akan bertanya seputar ranji – apa manfaatnya dan seberapa pentingkah sebuah ranji dalam system kekerabatan di minangkabu.

Ranji adalah silsilah garis keturunan yang menguraikan asal muasal keturunan itu dari garis lencang keatas hingga kebawah – semenjak nenek moyang si pemiliki ranji hingga anak cucunya, Secara internasional telah ada software yang dapat merangkum garis keturunan seseorang itu yang  disebut dengn “ Family Tree Maker.

Continue reading ‘Ranji Adat Bersendi Syara’ –Syara’ Bersendi Ktabullah’

01
Apr
09

Mengapa urang minang senang berdagang ?

18dec59cdua-sahabatoleh : Hifni H. Nizhamul

Mengapa “ urang minang” senang berdagang ? Jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada komunitas bangsa Cina, maka jawaban mereka pasti berbeda dengan jawaban urang minang.
Mengapa ? motivasi “urang minang” berdagang karena ingin melawan dunia orang – suatu tema yang mengandung amanat untuk hidup bersaing terus menerus mencapai kemuliaan, kenamaan, kepintaran dan kekayaan.

Bagi bangsa Cina, lintasan yang dilaluinya dalam merambah dunia melebihi lintasan yang dilakukan oleh perantau Minang. Dibelahan dunia manapun kita menemukan bangsa Cina berprofesi sebagai pedagang.Bahkan secara khusus, mereka membuat dan memproduksi keperluan pernak-pernik yang bercirikan khas Negara-negara didunia untuk keperluan turis, suku cadang, dan material lainnya, yang diproduksi dari negaranya.
Filosofi bangsa Cina dalam berdagang pasti berbeda dengan “ urang minang”. Orang Minang berpolakan prinsip bagi hasil pada system anak semang dan induk semang. Sementara bangsa china menganut pola berjenjang.

Continue reading ‘Mengapa urang minang senang berdagang ?’

30
Mar
09

Samba Cangkuak, Air Nasi Rasa Gulai

SIAPA bilang masakan Minang serba berat dan sarat kolesterol. Ini ada resep kuno dari Rambatan, tepi Danau Singkarak. Rasanya seperti gulai santan, tapi tak ada unsur santan yang bisa memicu kolesterol.  Namanya Samba Cangkuak. Tidak jelas kenapa dinamakan demikian. Masakan ini unik karena mengunakan air tajin alias air nasi sebagai pengganti santan. Tentu saja lebih sehat. Cocok untuk memanjakan pencernaan.

Inilah cara membuatnya.

Continue reading ‘Samba Cangkuak, Air Nasi Rasa Gulai’

19
Mar
09

Demokrasi Minang : Upaya Menggeser Mitos Menjadi Realitas

Oleh: Israr Iskandar


Pendahuluan

Dalam  pengetahuan antropologis, Minangkabau termasuk suku bangsa yang serumpun  dengan suku-suku bangsa Melayu lainnya di Nusantara. Hal itu bisa  dilihat  dari segi adanya beberapa kesamaan dalam rumpun bahasa, budaya,  ras,  dan  agama.  [1]  Namun dalam segi-segi tertentu, orang Minangkabau  memandang dirinya memiliki kekhususan atau berbeda dengan masyarakat suku bangsa lainnya. Salah satunya adalah dari aspek budaya politik yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Minang.

Sejak  lama,  Minangkabau  dikenal  sebagai  suku bangsa yang memiliki khazanah   budaya   yang   ekuivalen   dengan  nilai-nilai  demokrasi. Cendekiawan  non-Minang,  seperti  Nurcholish  Madjid  dan Abdurrahman Wahid,  pernah mengafirmasi adanya  demokrasi Minang . Faktor penyebab munculnya  persepsi  itu  adalah  realitas kondisi sosiologis-kultural Minangkabau,  model proses politik lokal yang berlangsung, serta peran  tokoh-tokoh   asal   Minang  dalam  proses  pembentukan  negara-bangsa Indonesia di masa lalu.

Jamak  diketahui,  demokrasi  adalah  konsep berasal dari Yunani kuno. Namun  sejak  Revolusi  Prancis  (1789),  demokrasi berkembang menjadi sebuah  konsep  modern dan kompleks. Sekalipun sebagai suatu perangkat yang   kompleks,  logika  yang  diekspresikan  oleh  demokrasi  modern mengandung  prinsip-prinsip  mendasar,  yaitu  adanya unsur kedaulatan rakyat,  pemerintahan  mayoritas,  perlindungan minoritas, kemerdekaan yang dijamin Undang-undang (UU), partisipasi warga, persamaan hak, dan sebagainya. [2] (Minogue dalam Kuper dan Kuper, 2000: 215).

Walaupun  dikaitkan dengan penyelenggaraan pemerintahan yang baik atau sistem  politik  yang  ideal dan bahkan nyaris  sempurna , akan tetapi demokrasi  sebenarnya  juga  terkait  dengan  gaya  hidup  serta  tata masyarakat  tertentu  yang  mengandung  unsur-unsur moral. Oleh karena itu,  demokrasi  juga  mengandung  nilai-nilai  (values) tertentu yang dianggap  baik  oleh  masyarakat.

Menurut  Henry  B  Mayo,  demokrasi mencakup  beberapa  norma atau nilai, yaitu: penyelesaian perselisihan secara  damai  dan  melembaga; terjadinya perubahan secara damai dalam suatu  masyarakat  yang sedang berubah; pergantian kepemimpinan secara teratur  (reguler);  pembatasan  pemakaian  kekerasan (paksaan) secara minimum; pengakuan dan penghormatan atas keanekaragaman; serta jaminan penegakan keadilan. [3] Demokrasi dalam Khazanah Budaya Lokal . Jika  merujuk pada pengertian demokrasi modern di atas, sebagai bagian dari kebudayaan Melayu, budaya Minangkabau nampaknya memiliki sejumlah nilai-nilai  yang  cocok  dan  sebanding dengan nilai-nilai demokrasi. Secara   kultural,  hal  itu  antara  lain  dapat  ditelusuri  melalui akar-akarnya  dalam  kearifan  tradisional  yang  berupa  ungkapan dan pepatah-petitih  lama,  baik  yang  terdapat  dalam tambo (kisah-kisah sejarah etnik Minangkabau) maupun masyarakat.

Continue reading ‘Demokrasi Minang : Upaya Menggeser Mitos Menjadi Realitas’

10
Mar
09

pangek ayam lado ijau

Banyak rupa-rupa masakan. Bagi yang tidak suka itik untuk dijadikan bahan utama, maka bolehlah aya kita adaptasi dari kulier urang koto gadang. Bundokanduang mencoba menyajikan sebagai resep yang enak dan menimbulkan selera

Continue reading ‘pangek ayam lado ijau’

10
Mar
09

UWOK IKAN PATIN

images200_ikan-bakar1

Resep dari :

M.D.Saib St. Lembang Alam
Asal: Koto Tuo – Balai Gurah – Bukit Tinggi
58 th / Jatibening – Bekasi


1. Bahan :

Ikan Patin k.l berat  500 gram 2 ikua, dipotong 6 termasuk kepala

2. Bumbu-bumbu

– Daun bawang /daun sop 5 tangkai, irih

- Daun ruku-ruku saganggam

- Bawang merah 6 siuang, irih aluih

- Bawang putiah 3 siuang, irih aluih

- Lado merah 10 buah digiliang haluih (kalau nak padeh buliah ditambah jo lado kutu)

- Daun kunyik ampek alai

- Daun limau 4 halai

- Serai limo buah

- Limau ketek-ketek (jeruk limau jano urang di pasa) 3 buah

- Tomat masak duo buah dipotong dadu ketek-ketek

- Garam

- Minyak goreng satu setengah sendok makan

Continue reading ‘UWOK IKAN PATIN’

25
Jan
09

Minangkabau di tahun kabau……

Oleh : Hifni H. Nizhamul

1fbabbad2008-02-06-19-25-21-ws

Saya tersenyum tatkala mengetahui bahwa tahun baru imlek saat ini adalah Tahun Kerbau. Kerbau bagi urang minangkabu menyimpan mitos dan sekaligus misteri. Mengapa ? benarkah asal usul nama etnis minangkabau berasal dari suatu kemenangan dalam pertandingan aduan kerbau di Sijangat itu ?

Apa yang saya ketahui dari seekor kerbau ?

Menurut saya adalah semangat seekor kerbau dalam bekerja dan berusaha. Selain bekerja membajak sawah – kerbau juga dijadikan tenaga penggerak bagi sebuah pedati. Bahkah dapat digunakan sebagai tenaga penggerak di daerah pedesaan untuk keperluan teknologi yang sangat sederhana. Walau demikian – terkadang kerbau dianggap sebagai binatang bodoh – karena melalui cingurnya kerbau dikendalikan oleh sang majikannya. Bahkan matanya ditutup untuk mengelabui jam kerja hewan tambun ini. Namun ia tidak pernah mengeluh. Seandainya kerbau mengeluh – ia hanya melenguh. Suaranya tidaklah senyaring suara anjing atau seekor singa.

Lalu apa hubungannya minangkabau di Tahun Kerbau ?

Continue reading ‘Minangkabau di tahun kabau……’




hifni

Blog Stats

  • 40,814 hits

 

July 2009
M T W T F S S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Cimbuak

cimbuak

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Archives

Flickr Photos

Castle Stalker

footprints

Motivation Lost...  (and then found it in my sock drawer months later)

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory