08
Des
13

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pengantar  dari Padusi :

Tulisan Bapak Aswil Nazir ini patut saya angkat. Sebagai hasil pencarian beliau tentang asal usul nenek moyang etnis Minangkabau. Beliau bukan seorang sejarawan melainkan adalah seorang pakar teknologi informatika. Aswil Nazir sangat peduli dengan kehidupan etnisnya sehingga jadilah ia seorang pemerhati adat. 

Salam 

Padusi

Lanjutkan membaca ‘Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau’

07
Nov
13

Alam takambang jadi guru

Kali ini saya tidak mengupas filosofi alam takambang jadi guru. Melalinkan sesuatu yang disimbolkan dalam karya seni. Saya mengambilnya dari halaman ‘ UKIRAN MINANGKABAU “. Paparannya seperti tertera dibawah ini.

Alam Takambang Jadi Guru

By ZODIO MEKER

 

Ukiran tradisional Minangkabau, motifnya diambilkan dari keadaan alam sekitarnya (flora dan fauna), dan adapula diantaranya yang mengambil motif bentuk makanan seperti saik galamai, belah ketupat, dan ampiang taserak. Pepatah menyebutkan:

 

Panakiak pisau sirauik, _________Penukik pisau siraut,

ambiak galah batang lintabuang, __ambil galah batang lintabung,

salodang ambiak ka niru, ________salodang ambil untuk nyiru,

satitiak jadikan lauik, ___________setitik jadikan laut,

nan sakapa jadikan gunuang, ____yang sekepal jadikan gunung,

alam takambang jadikan guru  ___alam takambang jadikan guru.

 

Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ukiran di Minangkabau tidaklah diungkapkan secara realistis atau naturalis tetapi bentuk tersebut digayakan (distilasi) sedemikian rupa sehingga menjadi motif-motif yang dekoratif sehingga kadang-kadang sukar untuk dikenali sesuai dengan nama motifnya.

 

Hal tersebut terjadi setelah berkembangnya agama Islam di Minangkabau. Beberapa ahli berpendapat bahwa seni ukir di Minangkabau pada mulanya dimulai dari corak yang realistis. Hal ini masih dapat dilihat pada hiasan ukiran yang terdapat pada menhir atau nisan yang terdapat di beberapa daerah di Kabupaten 50 Kota yang bermotifkan ular, burung dengan makna simbolisnya. Sedangkan pada seni ukir tradisional Minangkabau motif-motif realis ini sudah tidak ada lagi karena pada umumnya masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam.

 

 

Pada motif ukir Minangkabau terdapat galuang/ relung dan ragam. Galuang/ relung yaitu berupa lingkaran yang sambung-bersambung sehingga membentuk relung kearah pusat lingkaran atau ke luar lingkaran. Pada relung tersebut terdapatlah gagang, daun, bunga, dan sapieh (serpih). 

04
Sep
13

harapanku kepada bumi minang

Oleh  Ust. Abu Sangkan

Ketika sepulang dari Darmasraya Sumatera Barat, hampir sampai di Indarung sekitar 15 km,  ada Truk melintang dan menghalangi jalan di depan kami. disebabkan ban nya meletus tertusuk besi beton, sehingga arus lalu lintas dari dua arah tertutup total.

Sambil menunggu perbaikan selama berjam-jam, rombongan mampir dulu di warung kopi untuk menghangatkan badan dari udara pegunungan.  Aku bilang kepada bu linda (isteri ustad,pen) : ”  pasti ada rahasia Allah yg sangat besar buat kita Nduk. Nggak mungkin Allah merencanakan macet selama ini kalau hanya disuruh beli kerupuk dan kopi ke tukang warung ini.

“  Coba kamu perhatikan, berapa KM panjang antrian mobil dari dua arah, padahal tempat kita menginap tinggal 15 km lagi.

“ Allah tiba-tiba mentakdirkan ban truk itu pecah.

Kita semua kumpul di warung ini. Terdiri  Pak Rizaldi, pak wid, pak Adi, pak daus, pak marzen dan mas udik. Kami mengobrol perkembangan shalat khusyu’ doeloe dan sekarang di bumi Minang !!.

Dulu SC Padang pernah menjadi percontohan dakwah shalat khusyu’ di indonesia. Karena mampu menembus ke pelosok desa terpencil, daerah transmigrasi.<br />Waktu itu kita bangga SC Padang sudah punya mobil operasional tertulis Shalat Center Sumatra Barat.

Minangkabau pernah jaya. Tetapi setelah ditinggal oleh para tokohnya yang mulai sangat sibuk, shalat khusyu semakin lenyap di bumi minang, Setelah itu muncul peristiwa gempa, sehingga semakin hilang shalat khusyu’ di bumi minang secara manajemen, meskipun secara pribadi masih masyarakatnya masih aktif.
Lanjutkan membaca ‘harapanku kepada bumi minang’

26
Jul
13

Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem

ImageAdat Minangkabau bersifat Supra System, akan menjelaskan konsep kepemilikan harta pusaka di Minangkabau sebagaimana tergambar dalam  istilah “ jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando ”, yang ditetapkan  dalam pengaturan tanah ulayat demi mempertahankan pusaka tinggi masyarakat hukum adat. Berangkat dari pemikiran demikian, saya mempertanyakan apakah pengaturan harta ini sama dengan sistem yang dianut oleh negara-negara sosialis ?

PERDA No. 6 Tahun 2008 (Sumbar), menyatakan bahwa tanah ulayat bersifat tetap berdasarkan filosofi adat Minangkabau  “ jua indak makan bali, gadai ndak makan sando ”. Tanah ulayat meliputi tanah ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat rajo, dan mungkin tanah-tanah yang berstatus ganggam nan bauntuak bagi kalangan padusi/perempuan di ranah Minangkabau

Mengamati perlindungan tanah ulayat di Sumatera Barat, semula saya bertanya, apakah tidak akan menyebabkan semakin sulitnya investor untuk menanamkan modalnya? Setiap pulang kampung, saya tidak melihat gerak pembangunan yang memadai di ranah Minang. Namun demikian, saya mendukung konsep jua ndak dimakan bali, gadai ndak makan sando, sebagai pengikat sistem kepemilikan tanah yang kokoh dan bertujuan untuk melindungi warganya. Artinya, meskipun tanah bisa dibeli tetapi tidak bisa dimiliki, apalagi jika digadaikan─jaminan. Tanah tidak berada dalam genggaman pemberi gadai.  Inilah konsep pertanahan yang paling ilahiah, karena tidak menimbulkan keserakahan bagi pihak-pihak yang ingin menguasai tanah dengan dalih yang bertentangan dengan aturan adat.  Disinilah keunggulan adat Minangkabau itu demi mempertahankan property keluarga, kaum, suku dan Nagari.

Dengan merujuk pada pendapat Ali Syariati (sosiolog Iran), saat kami mendiskusikannya di milist RantauNet,   Datuk Endang Pahlawan berupaya menjelaskan tentang situasi dan hubungan sosial yang terkait dengan perlindungan masyarakat. Datuk Endang Pahlawan mengutip buku Ali Syariati “ Tugas Cendekiawan Muslim”  yang diterjemahkan oleh Amien Rais, ada dua  profesi tertua di dunia yaitu bertani dan berburu, yang dapat disimplifikasi menjadi reproduksi dan ekstraksi. Di Minangkabau ada istilah manaruko (mengambil apa yang disediakan oleh alam) dan meramu (mengolah untuk mendapatkan hasil).  Lanjutkan membaca ‘Adat Minangkabau Bersifat Supra Sistem’

03
Des
11

Peran Bako di Kampuang Kami

Oleh : Reni Sisriyanti

 

Betapa besar peran saudara Ayah atau Bako di kampuang kami. Bako , adalah sebutan untuk keluarga dari bapak.  Siapa yang  mengatakan mereka tidak ada perannya ?  Semenjak lahir sampai saat nanti kita dikuburkan – kita tidak akan luput dari peran bako ini. Berikut ini catatan saya mengenai peran bako itu : Lanjutkan membaca ‘Peran Bako di Kampuang Kami’

30
Nov
11

~ Padusi ~ perempuan yang mendayung biduk ke hulu.

 

“Berhentilah Anda  mangayuh biduk ke hilir”. Cobalah sekali-kali mendayung biduk ke hulu air”

Demikian kalimat yang menginspirasi buku ini, yang mencoba mengungkap asal-mula tatanan adat Minang sebagai alam kultural khususnya dari perspektif adat matrilineal. Atas dasar ini pula saya hendak membincang sebuah masalah perihal dunia perempuan, dari sisi naluriah seorang perempuan pula. Masalah tersebut adalah wacana polemis tentang peran sentral kaum perempuan di Minangkabau, Sumatera Barat. Sebagai perempuan yang terlahir di ranah Minang, saya ingin merespon klaim dari segelintir orang yang  mengatakan bahwa adat Minangkabau itu jahiliah adanya?

Kenapa adat Minangkabau memuliakan perempuan? Apa yang diharapkan warga Minangkabau terhadap kaum perempuannya? Bagaimana perempuan Minang menyikapi perubahan zaman?

Selain kebanggaan, buku ini juga banyak mengungkap kerisauan. Sebab, telah muncul sejumlah gejala bahwa Rumah Gadang yang menjadi simbol utama adat Minang yang menjadi kebanggaan orang Minang sedang mengalami ketirisan.

 

Penulis      : Hifni Hafida

Penerbit : Pustaka Padusi.

No ISBN : 978-602-1936-0-3

Buku dapat dipesan melalui Ibu Lina  : telp (021) 70564488, hp : 081291222806,  Fac : 021-7564302

Harga untuk Rp 50.000,- belum termasuk ongkos kirim.

22
Nov
11

“ KAUM MATRILINEAL “

oleh    : Hendri Anas 

 

I. Nasab.

Nasab secara etimologi berarti al qorobah (kerabat), kerabat dinamakan nasab dikarenakan antara dua kata tersebut ada hubungan dan keterkaitan. Ibnus Sikit berkata,”Nasab itu dari sisi ayah dan juga ibu.” Sementara sebagian ahli bahasa mengatakan,”Nasab itu khusus pada ayah, artinya seseorang dinasabkan kepada ayahnya saja dan tidak dinasabkan kepada ibu kecuali pada kondisi-kondisi exceptional.

Sedangkan nasab menurut terminologi, setelah dilakukan banyak penelitian pada berbagai referensi dari madzhab-madzhab fiqih yang empat maka tidak ditemukan tentang definisi terminologi (syar’i) terhadap nasab. Kebanyakan fuqoha mencukupkan makna nasab secara umum yang digunakan pada definisi etimologinya, yaitu bermakna al qorobah baina syakhshoin (kekerabatan diantara dua orang) tanpa memberikan definisi terminologinya.

Makna inilah yang digunakan untuk melegitimasi keberadaan nasab terhadap seorang tertentu atau tidak ada nasab baginya. Diantara berbagai definisi secara umum tersebut ada definisi dari al Baquri yaitu ia nasab adalah al qorobah (Kerabat) yang artinya rahim. Lafazh ini mencakup setiap orang yang ada kekerabatan diantara kamu dengan orang tersebut, baik dekat maupun jauh, dari jalur ayah atau ibu.”

Lanjutkan membaca ‘“ KAUM MATRILINEAL “’




Pengunjung

  • 552,551 hits

Palanta Minang

adat_dan_budaya_copy

Urang Minang

URANG_MINANG_BARU

Cimbuak

cimbuak

” Istana Kunang – Kunang”

http://hyvny.wordpress.com

KALENDER

Juli 2014
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

ARSIP

Flickr Photos

More Photos

Aggregator Blog

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Page Rank

Blog Indonesia

Blog Catalog

Culture Blogs - Blog Catalog Blog Directory

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: